NEW
Font size
WorksheetsXI Bab 5 Meneladani Ulama Indonesia yang Mendunia
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Imam Nawawi al-Bantany jika ditelurusi silsilahnya, sampai kepada wali songo, wali yang dimaksud adalah...
Sunan Gresik
Sunan Ampel
Sunan Kudus
Sunan Gunungjati
Sunan Giri
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Dikenal juga dengan nama Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lebih terkenal dengan nama Imam Nawawi al-Bantany. Ayahnya bernama Umar bin ‘Arabi merupakan seorang ulama di Banten. Ibunya bernama Zubaedah.
Sampai saat ini, karya-karya beliau masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah di pesantren. Misalnya kitab Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh dan Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbahâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd. Itu adalah karya tulis dari Sayyidul Hijaz, beliau adalah…
Kenapa Syaikh Nawawi berangkat kembali ke Mekkah setelah pulang ke Nusantara...
Tidak mendapatkan jodoh di kampung halaman
Didorong orangtua untuk berangkat kembali
Selalu diintai Belanda dan dianggap pengikut Pangeran Dipanegoro
Suasana kampung yg tidak betah untuk berdakwah karena banyaknya kemaksiatan
Adanya panggilan untuk kembali dari penguasa tanah Hijaz waktu itu
Syaikh Imam Nawawi Al-Bantany menjadi imam besar Masjidil Haram menggantikan posisi...
Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari
Syekh Ahmad Khatib
Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani
Syaikh Junaid Al Batawi,
Syekh Burhanudin Ulakan
Berikut ini adalah gelar-gelar yang diberikan kepada Imam Nawawi al-Bantany, kecuali....
Sayyid Ulama al-Hijaz
al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq
A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah
Syaikhul Islam al-Kabir
a Imam Ulama al-Haramain
Mulailah Imam Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelis ilmu sendiri di Masjidil Haram. Semakin hari, murid atau santrinya semakin banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia juga, diantaranya adalah pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Setiap tanah yang dipijak, selalu melakukan dakwah, bahkan saat diasingkan ke Cape Town, beliau bahkan diberi gelar oleh Nelson Mandela (Presiden Afrika Selatan) sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. Beliau adalah Syaikh Yusuf al-Makasari. Manakah gambarnya...
Syekh Abdus Samad merupakan tokoh kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara Indonesia. Jumlah karyanya + 20 kitab/buku. Namun, karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan adalah Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin.
Beliau adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Perannya dalam perkembangan Islam di Nusantara tidak dapat diabaikan. Beliau adalah Syekh Nuruddin bin Ali ar-Raniri. Fotonya adaah...
Syekh Abdul Rauf as-Sinkili dapat dikatakan sebagai poros sejumlah ulama Nusantara, dikenal juga dengan nama Syaikh Kuala. Nama beliau diabadikan menjadi nama universitas, yaitu Universitas Syaikh Kuala. Muridnya yang terkenal Syaikh Abdul Muhyi dan Syaikh Burhanudin Ulakan.
Kiai Sholeh Darat menjadi salah satu pengajar di Makkah. Sholeh Darat sebenarnya bernama asli Muhammad Saleh. Dia diperkirakan lahir sekitar tahun 1820 di Desa Kedung Cumpleng, kecamatan Mayong, Jepara. Namun, sosoknya lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat. Nama itu didapat karena dirinya merupakan pengasuh pondok di daerah Darat, Semarang Utara.
Sepanjang hayatnya, beliau tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam (Thailand), Hindi, Arab, dan Persia. Namun, karya tulisnya menggunakan Bahasa Melayu. Beliau adalah Syaikh Hamzah Fansuri.
Syekh Yusuf lahir dari ayah-ibu bernama Abdullah dan Siti Aminah. Nama saat dilahirkan adalah Muhammad Yusuf. Konon, nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, yang merupakan karib keluarga Gallarang Monconglo’E, keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja. Sultan Alaudin yang dimaksud berasal dari kerajaan...
Samudera Pasai
Aceh Darussalam
Ternate dan Tidore
Kutai Martapura
Gowa
Saat Kesultanan Gowa kalah perang dari Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten. Pada periode ini, Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam. Syaikh Yusuf lalu bersahabat dengan putra Mahkota Kerajaan Banten, Pangeran Surya, yang beberapa waktu kemudian menjadi raja bergelar...
Sultan Maulana Hasanudin
Pangeran Pasarean
Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Malik al-Shalih
Sultan Alauddin Riayat Syah
Tanggal lahir Syekh Nuruddin tidak diketahui dengan jelas. Beliau diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir. Pada tahun 1637 M, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di daerah tersebut sampai tahun 1644 M. Kota Ranir termasuk ke dalam wilayah negara...
Persia
Cina
Sri Lanka
India
Nusantara
Nama populernya adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Singkil, Aceh). Tahun lahirnya adalah 1024 H/1615 M, sementara wafatnya di Aceh Tahun 1105 H/1693 M). Beliau adalah ulama besar Aceh, dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatra dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah...
Tengku Cik Ditiro
Tengku Umar
Tengku Cik Muhibbudin
Tengku Rasya
Tengku Syiah Kuala
Berikut ini adalah murid-murid Mbah Soleh Darat, kecuali....
Berikut ini adalah keteladanan dari sosok pribadi Mbah Soleh Darat, kecuali....
Pengembaraan ilmunya melalui guru atau ulama yang sudah masyhur.
berguru kepada ulama yang bukan sekedar dalam ilmunya, tetapi juga memiliki sangat baik amal ibadah dan akhlak yang dimiliki guru-gurunya.
Belajar kepada ulama lokal dan mengembangkan ilmu hanya di sekitaran wilayah jawa Timur
Tidak puas hanya menimba ilmu ulama dari Nusantara, tetapi sampai ke mancanegara, khususnya negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Beliau juga mendidik wanita-wanita muslim, terbukti beliau berhasil melambungkan nama RA. Kartini menjadi tokoh emansipasi wanita.
Nama populernya Syekh Hamzah Fansuri, atau Hamzah al-Fansuri. Nama al-Fansuri sendiri berasal dari Arabisasi kata Pancur, sebuah kota kecil di pantai Barat Sumatra yang kini terletak antara Singkil (Aceh) dan Sibolga (Sumatra Utara). Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia merupakan bahasa penting pada abad ke-16. Saat itu, di Barus sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya dapat dianggap contoh terbaik ragam bahasa Melayu.
