WorksheetsULANGAN HARIAN BAB CERPEN
Total questions: 20
Worksheet time: 2hrs 30mins
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan.
“Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin membicarakan masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan.”
“Maksud ibu apa?.”
“Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap Diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.”
Karakter tokoh Pak Usman dalam kutipan cerpen di atas memiliki sifat…
Pendendam
Keras kepala dan mudah marah
Tidak bisa membedakan urusan dinas dan pribadi
Ingin menang sendiri
Egois
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan.
“Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin membicarakan masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan.”
“Maksud ibu apa?.”
“Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap Diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.”
Bagaimana gambaran karakter tokoh Diah dalam cerpen di atas?
Kuat menerima cobaan
Gampang putus a
Mudah putus asa
lemah dan penuh penderitaan
Trauma dalam menjalani kehidupannya
Keras kepala
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan.
“Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin membicarakan masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan.”
“Maksud ibu apa?.”
“Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap Diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.”
Sifat tokoh larasati berdasarkan kutipan di atas adalah…
Sabar dan penyayang
Angkuh dan disiplin
Tegas dan pemberani
Penakut
Keras kepala
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan.
“Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin membicarakan masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan.”
“Maksud ibu apa?.”
“Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap Diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.”
Kedudukan tokoh Pak usman dan
Larasati dalam kutipan cerpen di atas
adalah…
Tokoh antagonis, tokoh penengah
Tokoh protagonist, tokoh penengah
Tokoh antagonis, tokoh protagonis
Tokoh protagonis, tokoh protagonis
Tokoh antagonis, tokoh antagonis
Hari ini aku Masih berjalan. Lagi-lagi jalan kaki. Aku berjalan seorang diri, menuju sebuah kota tempat yang terkasihku menanti. Ah, aku tahu, masa-masa resesi seperti ini, harga serba melonjak. Itu kata abangku. Ia kerja di bank swasta. Kautahu, bank swasta bukan milik Hindia Belanda. Kudengar bank tersebut milik seorang Yahudi. Aku berjalan sudah setengah jam. Demi menghemat beberapa sen kupikir. Namun, ah, lelah ini aku yakin akan hilang Kritika aku bertemu dengan kekasihku.
Jalanan agak lengang. Tumben sekali. Apakah ada sesuatu? Aku berjalan making cepat dengan sesekali melihat jam di tangan. Aku heran bukan kepalang, hari ini padahal hari Jumat. Masih pagi Paula, kenapa kota menjadi begitu sepi begini. Semua orang taksatu pun menunjukkan batang hidungnya. Aneh kupikir. Apakah resesi Dunia sudah menimbulakn efek seperti ini?
Matahari sudah mulai menunjukkan kuasannya. Aku mulai berpeluh. Punggungku sdah gatal rasanya oleh keringat. Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata taksemenyaman yang Koh Samin katakana. Ternyata taklebih dari karung goni rasanya baju ini kalau sudah dipakai
Kalimat yang menunjukkan nilai sejarah pada kutipan teks tersebut adalah?
Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata taksenyaman yang Koh Samin katakan
Aku berjalan seorang diri, menuju sebuah kota tempat yang terkasihku menanti.
Kautahu, bank swasta bukan milik Hindia Belanda.
Namun, ah, lelah ini aku yakin akan hilang ketika bertemu dengan kekasihku.
Aku heran bukan kepalang, hari ini padahal hari Jumat.
Hari ini aku Masih berjalan. Lagi-lagi jalan kaki. Aku berjalan seorang diri, menuju sebuah kota tempat yang terkasihku menanti. Ah, aku tahu, masa-masa resesi seperti ini, harga serba melonjak. Itu kata abangku. Ia kerja di bank swasta. Kautahu, bank swasta bukan milik Hindia Belanda. Kudengar bank tersebut milik seorang Yahudi. Aku berjalan sudah setengah jam. Demi menghemat beberapa sen kupikir. Namun, ah, lelah ini aku yakin akan hilang Kritika aku bertemu dengan kekasihku.
Jalanan agak lengang. Tumben sekali. Apakah ada sesuatu? Aku berjalan making cepat dengan sesekali melihat jam di tangan. Aku heran bukan kepalang, hari ini padahal hari Jumat. Masih pagi Paula, kenapa kota menjadi begitu sepi begini. Semua orang taksatu pun menunjukkan batang hidungnya. Aneh kupikir. Apakah resesi Dunia sudah menimbulakn efek seperti ini?
Matahari sudah mulai menunjukkan kuasannya. Aku mulai berpeluh. Punggungku sdah gatal rasanya oleh keringat. Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata taksemenyaman yang Koh Samin katakana. Ternyata taklebih dari karung goni rasanya baju ini kalau sudah dipakai
Kalimat yang menunjukkan bahwa latar waktu pada kutipan cerpen tersebut terjadi pada siang hari adalah...
Aku berjalan makin cepat dengan sesekali melihat jam tangan.
Apakah resesi dunia sudah menimbulkan efek seperti ini.
Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata taksenyaman yang Koh Samin katakan
Ternyata taklebih dari karung goni rasanya baju ini kalau sudah dipakai
Matahari sudah mulai menunjukkan kuasannya.
Hari ini aku Masih berjalan. Lagi-lagi jalan kaki. Aku berjalan seorang diri, menuju sebuah kota tempat yang terkasihku menanti. Ah, aku tahu, masa-masa resesi seperti ini, harga serba melonjak. Itu kata abangku. Ia kerja di bank swasta. Kautahu, bank swasta bukan milik Hindia Belanda. Kudengar bank tersebut milik seorang Yahudi. Aku berjalan sudah setengah jam. Demi menghemat beberapa sen kupikir. Namun, ah, lelah ini aku yakin akan hilang Kritika aku bertemu dengan kekasihku.
Jalanan agak lengang. Tumben sekali. Apakah ada sesuatu? Aku berjalan making cepat dengan sesekali melihat jam di tangan. Aku heran bukan kepalang, hari ini padahal hari Jumat. Masih pagi Paula, kenapa kota menjadi begitu sepi begini. Semua orang taksatu pun menunjukkan batang hidungnya. Aneh kupikir. Apakah resesi Dunia sudah menimbulakn efek seperti ini?
Matahari sudah mulai menunjukkan kuasannya. Aku mulai berpeluh. Punggungku sdah gatal rasanya oleh keringat. Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata taksemenyaman yang Koh Samin katakana. Ternyata taklebih dari karung goni rasanya baju ini kalau sudah dipakai
Sudut pandang yang digunakan pada kutipan cerpen tersebut adalah...
Orang pertama pelaku utama
Orang pertama pelaku sampingan
Orang kedua
Orang ketika serbatahu
Orang ketika pengamat
Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut adalah
Nilai agama
NIlai Pendidikan
Nilai Moral
Nilai sosial
Nilai Budaya
Pada saat itu aku sedang bersembunyi di salah satu rumah warga untuk menghindari orang-orang Belanda yang sedang mencari para pembelot. Ketika mereka masuk ke rumah ini, para penghuni dengan beraninya menyembunyikan aku dan mengatakan kalau tidak ada siapa-siapa di tempat ini, mereka tidak percaya begitu saja dan mulai mengobrak-abrik rumah ini. Aku mulai panik dan memilih bersembunyi di dalam tong yang cukup muat untuk menyembunyikanku.
Unsur intrinsik yang terdapat pada penggalan cerpen tersebut adalah...
Alur
Latar
Tema
Tokoh
Penokohan
Berikut ini yang bukan merupakan ciri-ciri cerpen adalah
Memiliki konflik yang sangat kompleks
Jumlah kata kurang dari 10.000 kata
Memunculkan kesan tunggal
Memiliki konflik sederhana
Bersifat fiksi/rekaan
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apa lagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu, atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya, dan kalau diwenter warnanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat Pasar Johar, tidak jauh dari setasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melawan rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah, untuk pakan ternak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah, kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Sudut pandang yang digunakan pada kutipan cerpen di atas adalah
Orang pertama pelaku utama
Orang pertama pelaku sampingan
Orang ketika serba tahu
orang ketiga pengamat
Orang pertama serbatahu
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apa lagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu, atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya, dan kalau diwenter warnanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat Pasar Johar, tidak jauh dari setasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melawan rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah, untuk pakan ternak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah, kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Karakter Gito dalm kutipan teks tersebut adalah...
Pantang menyerah
pasrah pada nasib
banyak menuntut
acuh takacuh
tidak peduli
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apa lagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu, atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya, dan kalau diwenter warnanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat Pasar Johar, tidak jauh dari setasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melawan rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah, untuk pakan ternak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah, kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Berdasarkan kutipan tersebut, cerpen tersebut menunjukkan suasana...
Sedih
Menegangkan
kecewa
Mengharukan
Menakutkan
Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, sekolah dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.
Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apa lagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu, atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot.
Pakaian Gito, demikian juga pakaian teman-temannya, serba compang-camping, penuh tambalan, demikian pula pakaian para guru. Semua pakaian sudah luntur warnanya, dan kalau di wenter warnanya bisa tampak agak cerah, tapi dalam waktu singkat luntur lagi.
Gito tahu cara menangkal kelaparan. Kalau mau, dia bisa menangkap ikan di sungai tidak jauh dari rumahnya. Pada waktu pulang dari sekolah, kadang-kadang Gito lewat Pasar Johar, tidak jauh dari setasiun jurusan Pati, Juana, Rembang, dan jurusan Pecangakan, Jepara. Di pasar itu dia bisa memunguti remah-remah gula jawa, gula yang bermanfaat untuk melawan rasa lapar.
Tidak jauh dari rumahnya ada pabrik bungkil kacang tanah, untuk pakan ternak. Kadang-kadang Gito juga memunguti remah-remah bungkil kacang tanah, meskipun dia tahu bungkil kacang tanah bisa menyebabkan sakit perut dan gondongen, leher bisa membengkak sampai besar.
Di rumah, kalau beras padi habis, ayah, ibu, dan Gito, satu-satunya anak ayah dan ibunya, makan beras jagung, dan kalau beras jagung habis, mereka makan ketela pohung.
Nilai yang terkandung dalam cerita tersebut adalah...
nilai sosial
nilai moral
nilai estetika
nilai budaya
nilai agama
Di bawah ini yang merupakan judul cerpen adalah...
Si Kancil yang Cerdik
Malin Kundang
Bidadari Baik Hati
Laskar Pelangi
Berdoa Kepada Pohon
Pilihlah yang termasuk jenis majas personifikasi
Dunia ini akan hancur lebur berkeping-keping karena ulahnya
Siapa yang tidak ingin hidup bahagia?
Gemerlap bintang bersinar ceria menerangi duniaku
Indonesia itu kaya sampai rakyatnya menahan lapar di negerinya sendiri
Sang dewi malam terlihat sangat sempurna
Namaku Maung Lodra. Usiaku sudah sangat tua. Selama ratusan tahun aku melintasi zaman demi zaman, mengarungi ruang dan waktu. Aku berasal dari masa yang jauh dan barangkali tak terperikan bagi manusia-manusia zaman kini. Lebih dari seribu tahun silam di barat Jawadwipa ini berdiri sebuah kerajaan agung. Di Galuh itulah aku bermula. Pada saat itu yang berkuasa di sana Prabu Linggasakti.
Seorang empu menatah ragaku sesuai pesanan seorang pangeran. Jadilah aku arca harimau perunggu yang tengah merunduk waspada seukuran kucing dewasa. Aku lalu diberi singgasana sebuah meja jati pinggala berlapis candani di dalam kamar sang pangeran yang wangi dupa. Sejak itu aku menjadi saksi berbagai perkara dalam lintasan sejarah. Mataku melihat semuanya. Di tubuhku tersimpan berlaksa ingatan akan keping-keping peristiwa yang terpatri seiring perjalananku menembus zaman.
Aku ada di sana tatkala sang pangeran bercinta gila-gilaan di atas balai-balai berlapik sutra nilakandi dengan putri rupawan yang masih sepupunya. Turut kudengar kisah-kisah sedih dan gembira yang diceritakan wanodya itu di antara tangis dan tawa.
Namun, sang pangeran kemudian jatuh cinta kepada ibu tirinya dan berupaya menggodanya. Tentu saja itu sama dengan bunuh diri. Sang pangeran malang dihukum pancung oleh ayahnya yang berkuasa. Aku pun berpindah dari tangan ke tangan.
Hampir tiga abad kemudian aku dimiliki seorang maharaja. Prabu Guru Darmasiksa memerintah dua negara bersaudara yang dipersatukan, yakni Galuh dan Sunda. Beliau berkuasa dengan adil selama seratus dua puluh dua tahun hingga wafat pada awal abad ketiga belas Saka. Pada masa pemerintahannya, tak hanya manusia, binatang, tetumbuhan, dan lelembut, tetapi air, angin, cahaya, udara, dan bumi pun merasa senang dalam pengayomannya.
Latar sejarah apakah yang ada dalm kutipan teks tersebut
Kerajaan Galuh
Penjajahan Jepang
Penjajahan Portugis
revolusi industri
pemberontakan partai komunis
Namaku Maung Lodra. Usiaku sudah sangat tua. Selama ratusan tahun aku melintasi zaman demi zaman, mengarungi ruang dan waktu. Aku berasal dari masa yang jauh dan barangkali tak terperikan bagi manusia-manusia zaman kini. Lebih dari seribu tahun silam di barat Jawadwipa ini berdiri sebuah kerajaan agung. Di Galuh itulah aku bermula. Pada saat itu yang berkuasa di sana Prabu Linggasakti.
Seorang empu menatah ragaku sesuai pesanan seorang pangeran. Jadilah aku arca harimau perunggu yang tengah merunduk waspada seukuran kucing dewasa. Aku lalu diberi singgasana sebuah meja jati pinggala berlapis candani di dalam kamar sang pangeran yang wangi dupa. Sejak itu aku menjadi saksi berbagai perkara dalam lintasan sejarah. Mataku melihat semuanya. Di tubuhku tersimpan berlaksa ingatan akan keping-keping peristiwa yang terpatri seiring perjalananku menembus zaman.
Aku ada di sana tatkala sang pangeran bercinta gila-gilaan di atas balai-balai berlapik sutra nilakandi dengan putri rupawan yang masih sepupunya. Turut kudengar kisah-kisah sedih dan gembira yang diceritakan wanodya itu di antara tangis dan tawa.
Namun, sang pangeran kemudian jatuh cinta kepada ibu tirinya dan berupaya menggodanya. Tentu saja itu sama dengan bunuh diri. Sang pangeran malang dihukum pancung oleh ayahnya yang berkuasa. Aku pun berpindah dari tangan ke tangan.
Hampir tiga abad kemudian aku dimiliki seorang maharaja. Prabu Guru Darmasiksa memerintah dua negara bersaudara yang dipersatukan, yakni Galuh dan Sunda. Beliau berkuasa dengan adil selama seratus dua puluh dua tahun hingga wafat pada awal abad ketiga belas Saka. Pada masa pemerintahannya, tak hanya manusia, binatang, tetumbuhan, dan lelembut, tetapi air, angin, cahaya, udara, dan bumi pun merasa senang dalam pengayomannya.
Siapakah tokoh aku pada kutipan cerpen tersebut...
sang pangeran
ibu tiri pangeran
maharaja
prabu Guru darmasiksa
Arca Harimau Perunggu
Dalam kutipan tersebut terdapat tokoh Prabu Guru Darmasiksa. Karakter tokoh yang tercantum pada kutipan tersebut adalah...
adil dan mengayomi
kejam dan semena-mena
otoriter dan keras kepala
melakukan segala cara untuk mecapai tujuan
Sabar dan tidak mudah menyerah
Dunia ini berontak melihat pertikaian antara penjajah dan pribumi.
Kutipan tersebut termask jenis majas...
Hiperbola
Personifikasi
Asosiasi
Metafora
Litotes
