NEW
Font size
WorksheetsQuiz Soal Latihan ASAS X -Hikayat
Total questions: 25
Worksheet time: 13mins
Berikut ciri-ciri hikayat kecuali….
cerita bersifat istana sentris
gambaran cerita sesuai realita sehari-hari
pralogis atau tidak masuk akal
cerita berbingkai
mengandung kemustahilan
Perhatikan kutipan hikayat berikut!
Diambilnya pisau, lalu ditorehnya gendang itu. Maka Putri Ratna Sari keluar dari gendang itu.
Karakteristik hikayat yang terlihat pada penggalan teks di atas yaitu...
kemustahilan
kesaktian
anonim
istana sentris
bahasa
Bacalah kutipan cerita berikut!
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.
Bahasa yang terdapat dalam kutipan cerita tersebut menunjukkan ciri sastra Melayu klasik adalah ....
diam dan tuan
daripadanya dan merebut
raja dan tamasya
rimba dan akal
hamba dan buraksa
Perhatikan kutipan hikayat berikut!
Kata yang empunya cerita, adalah seekor kera duduk menjadi raja dalam suatu hutan. Setelah beberapa lamanya memerintah, raja itu pun tualah. Lalu bangun seekor kera yang muda daripada keturunannya juga, mengalahkannya. Kera itu pun larilah mengasingkan diri ke pinggir laut, dan di situ ia diam pada sebatang pohon ara yang tumbuh di tepi pantai. Pada Suatu hari, sedang ia duduk memakan buah-buahan ara, tiba-tiba terlepas sebiji dari tangannya, jatuh ke dalam air. Amat merdu terdengar buah jatuh itu, lalu dipetiknya beberapa buah, dijatuh-jatuhkannya dengan sengaja. Sejak waktu itu menjadi suatu kesenangan baginya melempar-lempar buah ke dalam laut.
Isi kutipan hikayat tersebut adalah ....
Seekor kera menjadi raja karena diberi tahta oleh ayahnya.
Seekor kera mencari makan di pinggir pantai.
Seekor kera mengasingkan diri ke pinggir laut karena kalah.
Seekor kera tua yang menyerahkan tahta kepada anaknya.
Seekor kera yang sedang menyepi di pinggir pantai.
Perhatikan kutipan hikayat berikut!
Alkisah ada seorang raja di negeri Babil bernama Gemetar Syah. Maka, pada suatu hari baginda itu pergi berburu. Maka ia pun bertemu dengan seekor kijang beranak muda. Apabila kijang itu melihat orang banyak datang, maka ia pun larilah meninggalkan anaknya. Maka, baginda pun terlalu kasihan melihat anak kijang itu. Maka, pada hati raja,”Jikalau tiada ibunya menyusui dia, tiadalah hidup anak kijang itu. Sayang pula aku akan dia! Hendak kubawa pulang akan permainan anakku!” Seraya baginda bertitah,”Hai perdana menteriku pergi apalah engkau cari akan ibu kijang itu. Jikalau tidak dapat olehmu, tiadalah aku kembali.”
Maka, sembah perdana menteri Kiasi,”Ya Tuanku! Amat muskil mencari dan menangkap binatang liar itu.” Setelah raja mendengar sembah perdana menteri itu, maka titah baginda,”Jikalau demikian katamu, baiklah aku pergi sendiri.” Maka sembah perdana menteri,”Ya , Tuanku Syah Alam! Mengapa tuanku bertitah demikian? Jikalau duli yang mahamulia.”
latar yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
siang hari, di istana
siang hari, di taman
siang hari, di hutan
malam hari, di hutan
malam hari, di istana
Perhatikan kutipan hikayat berikut!
Alkisah ada seorang raja di negeri Babil bernama Gemetar Syah. Maka, pada suatu hari baginda itu pergi berburu. Maka ia pun bertemu dengan seekor kijang beranak muda. Apabila kijang itu melihat orang banyak datang, maka ia pun larilah meninggalkan anaknya. Maka, baginda pun terlalu kasihan melihat anak kijang itu. Maka, pada hati raja,”Jikalau tiada ibunya menyusui dia, tiadalah hidup anak kijang itu. Sayang pula aku akan dia! Hendak kubawa pulang akan permainan anakku!” Seraya baginda bertitah,”Hai perdana menteriku pergi apalah engkau cari akan ibu kijang itu. Jikalau tidak dapat olehmu, tiadalah aku kembali.”
Maka, sembah perdana menteri Kiasi,”Ya Tuanku! Amat muskil mencari dan menangkap binatang liar itu.” Setelah raja mendengar sembah perdana menteri itu, maka titah baginda,”Jikalau demikian katamu, baiklah aku pergi sendiri.” Maka sembah perdana menteri,”Ya , Tuanku Syah Alam! Mengapa tuanku bertitah demikian? Jikalau duli yang mahamulia.”
Isi kutipan hikayat tersebut adalah ....
Ketakutan seekor kijang karena diburu
Kisah hidup seorang raja yang hidup berbahagia.
Ketaatan perdana menteri kepada rajanya.
Seorang raja yang menyayangi binatang
Seorang raja sedang berburu binatang
Bacalah kutipan hikayat “Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak” berikut!
Siang-malam Datu Mabrur bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau.
Karakter Datu Mabrur adalah ....
pantang menyerah
kerja keras
egois
berani
dermawan
Bacalah kutipan “Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak” berikut!
Mendengar jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum. Dengan hati-hati, dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut.
Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja Ikan Todak itu mengering! Kulitnya licin kembali seperti semula, seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan ekornya dengan gembira.
Keterkaitan pesan moral yang terdapat pada kutipan hikayat tersebut dengan kondisi masyarakat pada saat ini adalah ....
anjuran untuk mampu melakukan pengobatan
perlu murah senyum dengan orang lain
tidak boleh menyakiti orang lain
percaya kepada sebuah keajaiban
saling tolong menolong antarsesama
Bacalah kutipan hikayat “Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak” berikut!
“Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.”
Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, “Diamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu kakanda berikan pada tuan.”.
Masalah yang dihadapi tokoh Si Miskin pada kutipan hikayat tersebut adalah ...
istrinya hamil tiga bulan
istrinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja
terketuk hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja tiada ia mau beranak
istrinya hendak membunuhnya
orang kampung tidak mau memberi saat meminta-minta
Bacalah kutipan hikayat “Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak” berikut!
“Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.”
Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, “Diamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu kakanda berikan pada tuan.”.
Karakter tokoh Si Miskin pada hikayat tersebut adalah ...
egois
keras kepala
pemberani
pemarah
penyayang
Bacalah penggalan hikayat berikut dengan saksama!
Pengganti Hang Tuah di keraton adalah Hang Jebat. Sesungguhnya, ia menaruh dendam atas keputusan raja yang dijatuhkan kepada sahabatnya, Hang Tuah. Karena setia kepada sahabatnya, Hang Jebat mengamuk di keraton. Putri-putri dan dayang-dayang diperlakukan kurang sopan sehingga banyak jugalah orang yang mati karena kerisnya, yang diberikan Hang Tuah kepadanya. Tiada seorang pun yang berani mendinginkan sehingga raja sendiri pun terlibat pula dalam kesulitan dan ketakutan.
Dari kutipan cerita di atas kita dapat mengetahui bahwa Hang Jebat berwatak ….
pemberani
baik budi
sombong
kasar
setia
Bacalah kutipan hikayat berikut ini!
Tuan puteri memandang ke dayang kipas itu. Kesepuluhnya menyembah, lalu mengundurkan diri mengisut ke belakang perlahan-lahan. Bangkitlah Mak Inang, lalu duduk di tepi tilak tujuh bertindih, lalu mengumpulkan bunga melur yang terselit-selit di suara tuan puteri itu.
Sudut pandang yang digunakan pada kutipan hikayat di atas adalah ….
orang pertama
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua
orang ketiga
Bacalah kutipan hikayat berikut ini!
Kutipan Hikayat
Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat, iya menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda dan berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Kutipan Cerpen
Kemudian, aku pergi ke ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Kuhanyut dalam renungan pada malam sepi ini, merasakan dua hati yang saling melukai, antara sesal dan sedih. Dua rasa yang sejenis, tetapi memiliki arti masing-masing yang sangat mendalam. Sekali lagi aku menorehkan pena di hadapan lembaran kertas putih. Lilin kecil yang memercikkan api jingga menemaniku saat itu. Bersama itu, aku berdiam diri sambil menulis sebuah kisahku hari itu. Perlahan aku memejamkan mata dan bunyi rekaman lama terdengar.
Persamaan hikayat dan cerpen sebagaimana kutipan di atas adalah ....
baik hikayat maupun cerpen, sama-sama berupa narasi fiktif
baik hikayat maupun cerpen, sama-sama terkandung nilai kasih sayang
baik hikayat maupun cerpen sama-sama menceritakan pengarangnya
baik hikayat maupun cerpen sama-sama mengisahkan kehidupan zaman dulu
baik hikayat maupun cerpen selalu bertokoh manusia
Bacalah kutipan hikayat berikut ini!
Kutipan Hikayat
Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat, iya menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda dan berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Kutipan Cerpen
Kemudian, aku pergi ke ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Kuhanyut dalam renungan pada malam sepi ini, merasakan dua hati yang saling melukai, antara sesal dan sedih. Dua rasa yang sejenis, tetapi memiliki arti masing-masing yang sangat mendalam. Sekali lagi aku menorehkan pena di hadapan lembaran kertas putih. Lilin kecil yang memercikkan api jingga menemaniku saat itu. Bersama itu, aku berdiam diri sambil menulis sebuah kisahku hari itu. Perlahan aku memejamkan mata dan bunyi rekaman lama terdengar.
Perbedaan hikayat dan cerpen pada kutipan di atas adalah ....
hikayat menggunakan gaya bahasa majas, cerpen tidak
hikayat isinya selalu terdapat dalam kehidupan sehari-hari, cerpen tidak mungkin terjadi
hikayat mengandung nilai moral, sedangkan cerpen nilai pendidikan
hikayat menggunakan tokoh raja, cerpen manusia umum yang ada di masyarakat
hikayat menggunakan sudut pandang orang pertama, cerpen orang ketiga
Bacalah penggalan hikayat “Bunga Kemuning” berikut!
Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka.
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat di atas yaitu...
nilai moral
nilai agama
nilai budaya
nilai pendidikan
nilai sosial
Cermati kutipan hikayat berikut!
Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya.
Bukti yang mendukung bahwa kutipan tersebut terkandung nilai moral adalah ….
Raja mencari hadiah untuk anak-anaknya.
Membelikan tanda mata untuk anak-anaknya.
Mencari hadiah yang terbaik untuk anaknya
Anak berdatangan menyambut Raja sepulang mencari hadiah.
seorang anak membuatkan teh untuk ayahnya sepulang bepergian.
Bacalah kutipan hikayat berikut!
Syahdan akan Permaisuri Kuripan pun ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baik parasnya. Maka kata Permaisuri, “Kakang Aji, ingin pula rasanya kita ini peroleh anak.” Maka kata Nata, “Sungguh seperti kata Tuan; Kakanda pun demikianlah juga bila gerangan Kakang ini beroleh putera dengan pun Yayi, akan jadi ganti pun Kakanda di dalam dunia ini, kalau-kalau kita berdua dikehendaki oleh sang yang sukma, kembali ke kayangan kita.” “Maka kata Permaisuri, Kakang Aji marilah sata memuja pada segala Dewa-Dewa memohonkan kalau-kalau dianugrahkan oleh Dewata mulia raja akan kita akan anak ini.”
Nilai agama yang terkandung dalam penggalan naskah sastra Melayu klasik tersebut adalah ….
ingin dianugerahi seorang anak yang cantik atau ganteng
memuja pada dewa-dewa agar dianugerahi seorang anak
berkomunikasi secara sopan terhadap suami atau istri
berdoa kepada Tuhan agar diberikan kebahagiaan
akan kembali ke kayangan jika dianugerahi seorang anak
Bacalah penggalan hikayat “Bunga Kemuning” berikut!
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat di atas yaitu ....
nilai moral
nilai ekonomi
nilai budaya
nilai pendidikan
nilai sosial
Bacalah penggalan hikayat “Bunga Kemuning” berikut!
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Kata arkais yang bercetak miring pada penggalan hikayat di atas memiliki makna...
diusir
diminta
diperintah
diizinkan
diharapkan
Bacalah penggalan hikayat berikut!
(1)Setelah sudahlah baginda bertitah demikian itu maka anaknda Cendera Hasan pun menangislah terlalu sangat. (2)Seraya tersedu-sedu bunyi tangisnya, ia mengeluarkan kata,”Aduh Ayah dan Bunda, sebelum lagi anaknda bercerai dengan ayah dan bunda ke dua, anaknda minta halalkan air susu bunda dari dunia sampai ke akhirat. (3)Apakah untung anaknda yang malang ini, yang tiada serupa pula dengan makhluk yang banyak? (4)Apatah gunanya pula anaknda ini telah dilahirkan Allah Subhanahu wataala, maka anaknda patut merasai dan menanggung azab dan kesukaran pada taiap-tiap masa dan ketika di dalam sepanjang umur anaknda ini? (5)Wahai ayah dan bunda, menerima kasihlah anaknda kepada ayah dan bunda, serta anaknda minta halalkan barang suatu penat dan kesukaran sebab telah memeliharakan anaknda ini.
Konjungsi yang menyatakan urutan waktu pada kutipan hikayat di atas adalah terdapat pada nomor....
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (5)
(1) dan (5)
Bacalah penggalan hikayat “Pengembara yang Lapar” berikut!
(1) “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan bercakap besar pula. (2) Aku pun lapar juga. (3) Bagi aku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” Awang bersuara. (4) Kendi dan Buyung tertawa mendengar kata-kata Awang. (5) “Dengan nasi sepinggan, mana boleh kenyang?
Majas metafora pada kalimat di atas ditandai dengan nomor...
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Bacalah penggalan hikayat berikut!
Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si bungkuk air itu dalam.
Kata yang bercetak miring pada penggalan hikayat di atas menggunakan majas...
alegori
perumpamaan simile
antonomasia
metafora
penjelasan
Bacalah penggalan hikayat berikut!
Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman. “Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.” kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.” tanya Abu Nawas. “ Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.” kata Baginda.
Majas yang terdapat dalam kalimat bercetak miring pada kutipan hikayat di atas adalah...
metafora
alegori
antonomasia
personifikasi
simile
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
[...] Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampung halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya hingga seluruh pandangnnya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. [...] ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu mengutitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum suaminya.
Konjungsi yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
saat dan tetapi
saat dan namun
ketika dan tetapi
sebelum dan setelah
ketika dan selanjutnya
Bacalah kutipan cerita berikut ini!
Suami istri yang berasal dari raja kayangan jadi miskin karena dikutuk oleh Batara Indera. Mereka terlantar di suatu negeri dan keduanya sangat dibenci orang. Setiap kali mengemis di pasar dan kampung, mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh karena itu, mereka kemudian tinggal di hutan dengan memakan batang kayu dan buah-buahan. Mereka pun akhirnya berbadan kurus, [....]
Majas yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang pada kutipan cerita tersebut adalah ....
bagai pinang dibelah dua
saat dan namun
sehidup semati
tinggal kulit belulang
disaksikan oleh hutan belantara
