Font size
WorksheetsSemoga Lulus Uda Ocep
Total questions: 200
Worksheet time: 3hrs 20mins
Pemadam kebakaran yang menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) harus mengetahui jenis api yang dapat dipadamkan oleh alat tersebut. Apa jenis api yang dapat dipadamkan dengan APAR jenis karbon dioksida (CO2)?
Api cair
Api gas
Api listrik
Api padat
Api padat dan cair
Apa yang harus dilakukan pertama kali oleh seorang petugas pemadam kebakaran saat tiba di lokasi kebakaran?
Memastikan seluruh personel aman
Langsung masuk ke dalam gedung untuk memadamkan api
Mengidentifikasi sumber api dan menyusun strategi pemadaman
Menggunakan alat pemadam api untuk memadamkan api
Melakukan evakuasi terhadap warga sekitar
Bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan pemadam api jenis busa?
Menyemprotkan busa ke atas api dengan jarak dekat
Menyemprotkan busa ke api secara langsung dari bawah
Menggunakan busa secara horizontal untuk menutup api
Menyemprotkan busa ke api dari jarak jauh dengan sudut tinggi
Menggunakan busa pada api jenis listrik
Salah satu faktor penyebab kebakaran di gedung adalah adanya kabel listrik yang rusak. Apa tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah kebakaran akibat kabel listrik?
Menambah isolasi kabel dengan bahan yang mudah terbakar
Memasang kabel dengan daya lebih besar dari yang direkomendasikan
Melakukan pemeriksaan rutin terhadap instalasi listrik
Menempatkan kabel listrik di luar gedung
Menggunakan kabel listrik tanpa pelindung
Dalam skenario kebakaran yang melibatkan bahan kimia, petugas pemadam kebakaran harus berhati-hati. Apa yang menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam memadamkan kebakaran bahan kimia?
Jenis bahan kimia yang terbakar
Lokasi kebakaran di area terbuka
Kecepatan angin pada saat kebakaran terjadi
Tinggi bangunan yang terbakar
Jumlah personel yang tersedia
Saat terjebak dalam kebakaran dan tidak bisa keluar dari ruangan, langkah pertama yang harus diambil adalah:
Mencoba mencari jalan keluar meskipun terbakar
Menunggu sampai api padam dengan sendirinya
Menutup celah-celah pintu dan ventilasi dengan kain basah
Membuka jendela untuk mencari jalan keluar
Berteriak agar orang lain mengetahui posisi Anda
Bagaimana cara terbaik untuk menangani kebakaran yang melibatkan bahan cair yang mudah terbakar?
Menggunakan air untuk memadamkan api
Menggunakan busa pemadam atau bahan yang mengurangi oksigen
Meninggalkan area kebakaran tanpa tindakan lebih lanjut
Menyemprotkan air ke api dengan intensitas tinggi
Menggunakan pemadam api jenis air
Apa yang harus dilakukan petugas pemadam kebakaran jika menghadapi kebakaran listrik?
Memadamkan api dengan air
Memadamkan api dengan busa
Memadamkan api dengan karbon dioksida (CO2)
Memadamkan api dengan alat pemadam api biasa
Menunggu sampai listrik padam dan api berhenti dengan sendirinya
Apa yang menjadi prioritas utama dalam evakuasi orang-orang dari gedung yang terbakar?
Memastikan semua barang berharga diselamatkan terlebih dahulu
Memastikan api segera dipadamkan
Memastikan bahwa semua orang yang berada di dalam gedung dievakuasi dengan cepat dan aman
Menghubungi pihak berwenang setelah api padam
Mencegah orang-orang panik dengan cara apapun
Saat kebakaran terjadi di ruang tertutup, asap yang dihasilkan berbahaya. Apa yang harus dilakukan untuk menghindari inhalasi asap?
Menggunakan masker pelindung atau kain basah di sekitar hidung dan mulut
Berlari menuju pintu keluar secepat mungkin
Mencari tempat berlindung di ruangan terbuka
Menggunakan bahan kimia untuk mengurangi asap
Menunggu bantuan datang dan menghindari tindakan apapun
Pada saat pemadaman kebakaran menggunakan alat pemadam api, petugas harus memahami sifat api yang akan dipadamkan. Api jenis apa yang bisa dipadamkan dengan menggunakan alat pemadam api jenis air?
Api padat dan gas
Api gas dan cair
Api cair dan listrik
Api padat dan cair
Api listrik dan padat
Bagaimana cara yang benar dalam menggunakan alat pemadam api jenis CO2 pada kebakaran listrik?
Arahkan pemadam CO2 langsung ke sumber api
Menyemprotkan CO2 dari jarak jauh dan dengan sudut tinggi
Menyemprotkan CO2 ke arah bawah api
Arahkan pemadam CO2 ke kabel dan peralatan yang terbakar
Menggunakan alat pemadam CO2 tanpa pengaturan jarak yang tepat
Dalam pemadaman kebakaran, petugas harus memastikan keselamatan diri. Salah satu cara penting adalah menggunakan alat pelindung diri (APD). Apa fungsi utama helm pemadam kebakaran?
Melindungi petugas dari panas api secara langsung
Memberikan perlindungan terhadap cedera kepala akibat benda jatuh
Menyediakan ventilasi untuk pernapasan selama operasi
Membantu meningkatkan daya tahan fisik petugas
Menjaga suhu tubuh agar tetap stabil
Apabila ada kebakaran yang melibatkan gas berbahaya, langkah pertama yang harus dilakukan oleh pemadam kebakaran adalah:
Memadamkan api dengan air
Menghentikan aliran gas yang terbakar
Menyemprotkan busa ke api
Menggunakan alat pemadam api jenis CO2
Menghubungi petugas kesehatan
Pada kebakaran dengan bahan kimia, pemadam kebakaran harus memilih alat pemadam yang sesuai. Alat pemadam apa yang digunakan untuk kebakaran bahan kimia jenis A, B, dan C?
Air
Karbon dioksida (CO2)
Busa
Dry chemical powder
Foam
Dalam situasi kebakaran di ruang tertutup dengan banyak asap, prioritas utama yang harus dilakukan oleh petugas adalah:
Menyemprotkan air ke seluruh ruangan
Memastikan semua orang di luar ruangan dalam keadaan aman
Mengurangi asap dengan membuka ventilasi
Mencari titik api dan memadamkannya segera
Menggunakan masker untuk melindungi pernapasan
kebakaran terjadi di gedung bertingkat, strategi pemadaman yang tepat adalah:
Menyemprotkan air dari luar gedung
Menggunakan alat pemadam api jenis CO2 di seluruh lantai
Menghentikan aktivitas listrik di gedung
Menyemprotkan air dengan arah vertikal dari atas ke bawah
Memastikan evakuasi penduduk sebelum melakukan pemadaman
Salah satu tantangan besar dalam kebakaran hutan adalah keterbatasan sumber daya. Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi tantangan ini?
Mengandalkan pasokan air dari sumber yang dekat
Memindahkan api ke wilayah yang lebih aman
Menggunakan alat pemadam api yang lebih besar
Memaksimalkan teknik pemadaman dengan alat seadanya
Menggunakan bahan kimia untuk memadamkan api
Pemadam kebakaran yang melibatkan bahan bakar minyak harus dihadapi dengan hati-hati. Apa yang harus dilakukan oleh pemadam kebakaran ketika menghadapi api yang melibatkan minyak?
Menyemprotkan air ke api dengan intensitas tinggi
Menyemprotkan busa pemadam untuk menutupi api
Menggunakan CO2 dari jarak jauh
Menghentikan aliran bahan bakar terlebih dahulu
Memasukkan bahan kimia untuk mengurangi panas
Apa yang harus dilakukan petugas pemadam kebakaran setelah api berhasil dipadamkan untuk mencegah kebakaran kembali muncul?
Melakukan pengecekan area sekitar untuk mencari api yang tersisa
Langsung meninggalkan lokasi kebakaran
Menggunakan air secara terus menerus untuk memastikan api padam
Mengabaikan sisa api karena sudah terkontrol
Membiarkan area kebakaran terbuka untuk ventilasi lebih baik
Apa yang harus dilakukan jika kebakaran terjadi di area dengan banyak bahan kimia yang mudah terbakar, seperti di laboratorium?
Menggunakan alat pemadam air
Menggunakan busa pemadam untuk menutupi api
Menggunakan alat pemadam CO2
Menyemprotkan air dengan tekanan tinggi
Mengabaikan kebakaran dan memindahkan bahan kimia lainnya
Kebakaran pada bahan padat biasanya akan berkembang lebih cepat dalam kondisi tertentu. Apa yang dapat mempercepat perkembangan kebakaran pada bahan padat?
Kelembaban tinggi
Temperatur rendah
Keberadaan oksigen yang cukup
Alat pemadam yang tidak sesuai
Penggunaan air secara berlebihan
Apa yang seharusnya dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran jika terjadi kebakaran di lokasi dengan banyak bahan mudah terbakar dan kebocoran gas?
Langsung masuk ke lokasi tanpa mengecek kebocoran gas
Memadamkan api dengan air terlebih dahulu
Menghentikan aliran gas sebelum melakukan pemadaman
Menggunakan busa pemadam untuk menutupi api
Meninggalkan lokasi jika api sudah besar
Apa yang menjadi prioritas utama dalam melakukan evakuasi di tengah kebakaran?
Menyelamatkan properti terlebih dahulu
Menyelamatkan diri sendiri tanpa memperhatikan orang lain
Memastikan bahwa semua orang telah dievakuasi dengan aman
Menghentikan kebakaran sesegera mungkin
Menunggu tim pemadam kebakaran datang
Kebakaran yang terjadi di atas permukaan air, seperti di laut atau danau, membutuhkan metode pemadaman yang berbeda. Metode mana yang paling efektif untuk kebakaran di air?
Menggunakan alat pemadam jenis air
Menyemprotkan busa ke area yang terbakar
Menggunakan alat pemadam jenis CO2
Memanfaatkan sumber daya darat untuk pemadaman
Menggunakan alat pemadam kimia khusus
Dalam menghadapi kebakaran besar, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh petugas pemadam kebakaran adalah:
Kecepatan dalam memadamkan api tanpa memperhatikan keselamatan
Menggunakan semua jenis alat pemadam api secara bersamaan
Mencari sumber api terlebih dahulu
Memastikan adanya jalur keluar bagi petugas
Menunggu instruksi lebih lanjut sebelum bergerak
Jika kebakaran terjadi di ruang penyimpanan bahan kimia berbahaya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Menyemprotkan air ke seluruh ruangan
Menggunakan busa pemadam untuk menutupi api
Menghentikan aliran bahan kimia yang terbakar
Membuka jendela untuk ventilasi udara
Menunggu tim pemadam kebakaran datang
Alat pemadam api yang digunakan pada kebakaran jenis A (kayu, kertas, dan bahan sejenis) adalah:
Alat pemadam jenis air
Alat pemadam jenis CO2
Alat pemadam jenis busa
Alat pemadam jenis kimia kering
Alat pemadam jenis foam
Apa yang harus diperhatikan oleh petugas pemadam kebakaran saat melakukan pemadaman api di area yang terkena hujan lebat?
Memastikan peralatan pemadam berfungsi dengan baik
Menggunakan alat pemadam jenis CO2 yang lebih aman
Menunggu hujan berhenti sebelum melanjutkan pemadaman
Menggunakan alat pemadam api jenis air dengan tekanan lebih tinggi
Mengandalkan bantuan dari penduduk setempat
Segitiga API (Api, Bahan, dan Oksigen) menggambarkan tiga elemen yang diperlukan untuk terjadinya kebakaran. Jika salah satu elemen ini dihilangkan, maka kebakaran dapat dipadamkan. Manakah dari berikut ini yang benar tentang segitiga API?
Api, bahan, dan oksigen adalah elemen yang saling berinteraksi untuk menghasilkan api
Api tidak perlu bahan atau oksigen untuk menyebar
Bahan yang mudah terbakar dapat memadamkan api jika tidak ada oksigen
Oksigen tidak berperan penting dalam terciptanya api
Api dapat bertahan meskipun bahan dan oksigen tidak ada
Untuk memadamkan api dengan menggunakan prinsip segitiga API, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah:
Menambahkan bahan bakar untuk memperbesar api
Menghilangkan oksigen dari area kebakaran
Menyiramkan air ke api untuk mendinginkannya
Membakar lebih banyak bahan agar api menyebar
Meninggalkan area kebakaran
Bagaimana cara menghilangkan salah satu elemen dari segitiga API dalam menghadapi kebakaran di tempat yang mengandung bahan kimia?
Menyiram api dengan air sebanyak mungkin
Menggunakan busa pemadam untuk mengurangi oksigen
Menambah oksigen untuk mempercepat pemadaman
Menggunakan bahan kimia lain untuk menambah api
Membiarkan api mereda dengan sendirinya
Apabila kebakaran terjadi pada suatu gudang yang berisi bahan yang mudah terbakar, manakah dari langkah-langkah berikut yang akan paling efektif untuk memadamkan api berdasarkan segitiga API?
Menyemprotkan air ke semua area kebakaran
Menghentikan aliran listrik untuk mengurangi sumber api
Menghilangkan bahan bakar dengan cara memindahkannya
Membiarkan api terbakar dengan sendirinya
Menambah oksigen untuk mempercepat pemadaman
Teori segitiga API digunakan dalam kebakaran untuk menunjukkan hubungan antara tiga elemen penting. Apa yang terjadi jika dua elemen dihilangkan?
Api akan tetap menyebar dengan cepat
Kebakaran dapat dipadamka
Api akan semakin besar
Kebakaran akan meluas
Tidak ada perubahan dalam kebakaran
Jika kebakaran terjadi di area yang mengandung banyak gas mudah terbakar, langkah pertama yang seharusnya diambil menurut segitiga API adalah:
Menyemprotkan air ke seluruh area kebakaran
Menghentikan aliran gas
Membiarkan gas terbakar habis
Menggunakan alat pemadam jenis CO2
Menggunakan alat pemadam busa
Segitiga API menjelaskan bahwa api membutuhkan tiga elemen untuk terjadinya kebakaran. Manakah dari elemen berikut yang dapat dihilangkan untuk mencegah kebakaran pada bahan padat?
Menghilangkan bahan yang mudah terbakar
Menambah oksigen untuk mempercepat api
Meningkatkan suhu sekitar bahan
Menggunakan air untuk meningkatkan panas
Menyemprotkan bahan kimia untuk memperbesar api
Kebakaran jenis B (bahan cair yang mudah terbakar) memerlukan penanganan yang tepat. Mana dari berikut ini yang paling efektif untuk mengurangi elemen dari segitiga API dalam kebakaran jenis ini?
Menggunakan air dalam jumlah banyak
Menggunakan busa pemadam untuk menutupi cairan yang terbakar
Menambah bahan bakar untuk memperbesar api
Menggunakan alat pemadam kimia kering
Membiarkan cairan terbakar habis dengan sendirinya
Dalam menghadapi kebakaran di ruang tertutup, salah satu langkah pertama yang perlu dilakukan adalah:
Menyemprotkan air sebanyak mungkin
Menambah bahan bakar untuk mempercepat pemadaman
Membuka pintu dan jendela untuk memberi oksigen
Menghentikan pasokan oksigen untuk memperlambat kebakaran
Meninggalkan ruangan
Jika api pada bahan yang mudah terbakar sedang berlangsung, salah satu cara efektif untuk memadamkan kebakaran berdasarkan teori segitiga API adalah:
Menghentikan pasokan bahan bakar
Meningkatkan suhu untuk memperbesar api
Menambah oksigen ke area kebakaran
Menggunakan air dengan tekanan tinggi
Menunggu api padam dengan sendirinya
Sarana pemadam kebakaran yang paling efektif untuk memadamkan kebakaran skala kecil di ruang tertutup adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis busa
Busa pemadam kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis karbon dioksida (CO2)
Hidrant
Mesin pompa pemadam kebakaran
Dalam kondisi darurat, peralatan pemadam kebakaran yang digunakan untuk memadamkan api besar yang sudah meluas di luar gedung adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR)
Mesin pompa pemadam kebakaran
Selang pemadam kebakaran
Hidrant
Alat pemadam api jenis busa
Apa fungsi dari hidrant dalam sistem pemadam kebakaran?
Menyediakan aliran gas untuk memadamkan api
Mengalirkan air dari sumber air utama ke selang pemadam kebakaran
Menyediakan oksigen untuk membantu proses pembakaran
Meningkatkan suhu untuk memperbesar api
Membantu memberikan tanda lokasi kebakaran
Dalam situasi kebakaran yang terjadi di gedung bertingkat, alat pemadam kebakaran yang paling tepat untuk digunakan adalah:
Selang air dengan pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis busa
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis karbon dioksida (CO2)
Hidrant gedung
Helikopter pemadam kebakaran
Untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh bahan cair yang mudah terbakar, sarana pemadam kebakaran yang paling efektif adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis busa
Mesin pompa air
Busa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis air
Alat pemadam api jenis karbon dioksida (CO2)
Alat pemadam api jenis gas karbon dioksida (CO2) sangat efektif digunakan pada kebakaran jenis:
Kebakaran pada bahan kayu
Kebakaran pada bahan minyak
Kebakaran pada peralatan listrik
Kebakaran pada bahan kimia
Kebakaran pada bahan padat
Jika terjadi kebakaran pada ruang mesin yang penuh dengan kabel listrik, sarana pemadam kebakaran yang paling tepat adalah:
Busa pemadam
Air dengan selang pemadam
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis CO2
Mesin pompa pemadam kebakaran
Hidrant
Di suatu gedung tinggi, terdapat api yang sudah meluas. Sarana pemadam kebakaran yang digunakan untuk mengalirkan air dari sumber utama ke titik kebakaran adalah:
Mesin pompa pemadam kebakaran
Selang pemadam kebakaran
Hidrant gedung
Alat pemadam api ringan (APAR)
Alat pemadam api jenis gas
Untuk kebakaran yang disebabkan oleh bahan cair dan gas mudah terbakar, metode yang paling tepat adalah:
Menggunakan alat pemadam api jenis air
Menggunakan busa pemadam kebakaran
Menggunakan alat pemadam api jenis CO2
Menggunakan mesin pompa air
Menambah oksigen untuk mempercepat pemadaman
Alat pemadam kebakaran yang digunakan untuk memadamkan kebakaran yang melibatkan peralatan listrik adalah:
Busa pemadam
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis air
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis CO2
Hidrant gedung
Pentingnya pemeliharaan berkala pada peralatan pemadam kebakaran, seperti mesin pompa dan selang pemadam, adalah untuk:
Menghindari kebocoran bahan bakar
Menjamin peralatan selalu siap digunakan
Meningkatkan daya tekan air.
Menjaga kebersihan mesin
Mengurangi biaya operasional
Sarana pemadam kebakaran yang digunakan untuk mengatasi kebakaran pada bahan padat seperti kayu dan kertas adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis busa
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis air
Alat pemadam api jenis CO2
Hidrant
Pada kebakaran yang terjadi di ruangan dengan banyak alat elektronik, pemadam kebakaran yang paling aman untuk digunakan adalah:
Busa pemadam
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis air
Alat pemadam api jenis CO2
Mesin pompa pemadam
Hidrant
Untuk kebakaran besar yang melibatkan banyak bangunan atau area terbuka, alat pemadam yang biasanya digunakan adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR)
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam jenis gas
Hidrant
Alat pemadam api jenis busa
Saat terjadi kebakaran di sebuah gedung tinggi, fasilitas pemadam kebakaran yang dapat digunakan untuk menghubungkan sumber air ke sistem pemadam di atas lantai tinggi adalah:
Mesin pompa pemadam kebakaran
Hidrant gedung
Selang pemadam kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR)
Tangga pemadam kebakaran
Di dalam mobil pemadam kebakaran, terdapat alat yang digunakan untuk menarik air dari sumber eksternal seperti sungai atau danau. Alat ini disebut:
Hidrant
Pompa portable
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api jenis CO2
Selang pemadam kebakaran
Untuk mencegah kebakaran pada bahan kimia berbahaya, sarana pemadam yang efektif adalah:
Alat pemadam api jenis air
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api jenis CO2
Alat pemadam api jenis kimia kering
Mesin pompa pemadam kebakaran
Di lingkungan industri, peralatan pemadam kebakaran yang paling tepat digunakan untuk kebakaran yang melibatkan alat-alat listrik bertegangan tinggi adalah:
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis CO2
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis busa
Selang pemadam kebakaran
Hidrant
Alat pemadam kebakaran yang paling sesuai untuk kebakaran pada bahan cair mudah terbakar seperti minyak adalah:
Alat pemadam api jenis air
Alat pemadam api jenis busa
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis CO2
Alat pemadam api jenis kimia kering
Peralatan pemadam kebakaran yang digunakan untuk mengatasi kebakaran dengan api yang menyebar sangat cepat dan melibatkan banyak area adalah:
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api ringan (APAR) jenis air
Hidrant
Alat pemadam api jenis CO2
Salah satu jenis alat pemadam kebakaran yang digunakan untuk kebakaran di ruang tertutup dengan kandungan oksigen rendah adalah:
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis kimia kering
Selang pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis CO2
Alat pemadam api jenis busa
Pada situasi kebakaran yang melibatkan barang-barang yang mudah meledak, pemadam kebakaran yang ideal untuk digunakan adalah:
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api jenis air
Alat pemadam api jenis kimia kering
Alat pemadam api jenis CO2
Mesin pompa pemadam kebakaran
Peralatan yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran untuk menghubungkan sumber air dengan sistem pemadam kebakaran di gedung adalah:
Mesin pompa pemadam kebakaran
Selang pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis busa
Hidrant
Tangga pemadam kebakaran
Untuk mengatasi kebakaran yang melibatkan cairan yang mudah terbakar, alat pemadam kebakaran yang digunakan sebaiknya adalah:
Alat pemadam api jenis CO2
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api jenis air
Mesin pompa pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis kimia kering
Alat yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran untuk mengangkat dan memindahkan beban atau puing-puing pasca kebakaran adalah:
Mesin pemadam kebakaran
Tangga pemadam kebakaran
Alat pemadam api jenis CO2
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api kimia kering
Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam memilih alat pemadam kebakaran adalah:
Ukuran dan berat alat
Kemudahan dalam penggunaan
Ketersediaan suku cadang
Kesesuaian dengan jenis kebakaran
Semua jawaban benar
Di kawasan industri, pemadam kebakaran yang digunakan untuk memadamkan api yang melibatkan bahan kimia berbahaya adalah:
Alat pemadam api jenis busa
Alat pemadam api jenis kimia kering
Alat pemadam api jenis CO2
Mesin pompa pemadam kebakaran
Selang pemadam kebakaran
Selang pemadam kebakaran yang digunakan harus memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya adalah:
Memiliki panjang minimal 50 meter
Dapat menahan tekanan air tinggi
Hanya digunakan sekali
Terbuat dari plastik keras
Tidak perlu diuji secara berkala
Pada saat terjadi kebakaran, petugas pemadam kebakaran harus memastikan terlebih dahulu bahwa:
Semua alat pemadam kebakaran telah dipastikan berfungsi
Semua korban sudah dievakuasi
Api tidak semakin besar
Koneksi listrik dihentikan
Semua pintu gedung dibuka
Untuk melindungi petugas pemadam kebakaran dari bahaya asap beracun atau panas tinggi saat pemadaman, peralatan yang wajib digunakan adalah:
Helm dan pelindung mata
Pakaian pelindung api dan masker oksigen
Rompi pelindung
Alat pemadam api jenis CO2
Mesin pompa pemadam kebakaran
Salah satu langkah pertama yang harus dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran dalam memastikan kesiapsiagaan adalah:
Mengidentifikasi potensi kebakaran
Memastikan alat pemadam kebakaran siap digunakan
Melakukan latihan pemadaman secara berkala
Menghitung anggaran untuk pemadaman
Menyusun laporan evaluasi kebakaran
Dalam rangka menjaga kesiapsiagaan, petugas pemadam kebakaran wajib melakukan:
Pengawasan terhadap fasilitas penyimpanan bahan berbahaya
Pembersihan gedung setiap hari
Mengumpulkan data statistik kebakaran
Pemadaman kebakaran setiap minggu
Pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
Apabila terjadi kebakaran besar di suatu gedung, hal pertama yang harus dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran adalah:
Memastikan seluruh penghuni gedung sudah keluar
Mengidentifikasi jenis kebakaran
Memulai pemadaman dengan menggunakan alat pemadam
Melakukan evakuasi terhadap korban kebakaran
Menghubungi pihak medis untuk pertolongan
Salah satu metode yang digunakan untuk menguji kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran adalah:
Latihan simulasi kebakaran secara periodik
Pemberian reward kepada petugas yang bekerja cepat
Pengujian alat pemadam kebakaran setiap 3 bulan sekali
Pemeriksaan secara visual terhadap bangunan
Penyuluhan kepada masyarakat
Salah satu bentuk kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran dalam menghadapi kebakaran besar adalah dengan memiliki:
Dokumentasi kebakaran yang lengkap
Protokol evakuasi yang jelas
Daftar bahan yang terbakar
Tempat istirahat bagi petugas
Kegiatan hiburan untuk petugas
Untuk mempersiapkan petugas pemadam kebakaran dalam menghadapi berbagai skenario kebakaran, langkah yang penting dilakukan adalah:
Memberikan instruksi tertulis kepada semua petugas
Menyediakan berbagai alat pemadam kebakaran
Mengadakan latihan kebakaran dengan simulasi yang realistis
Membuat anggaran untuk pembelian alat pemadam kebakaran
Mengadakan kegiatan sosial di luar jam kerja
Kesiapsiagaan aparatur pemadam kebakaran juga mencakup koordinasi dengan pihak lain. Dalam hal ini, pihak yang paling penting untuk diajak berkoordinasi adalah:
Lembaga pendidikan setempat
Tim medis dan rumah sakit
Karyawan perusahaan
Pemerintah daerah
Media massa
Selain peralatan, salah satu faktor yang mendukung kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran adalah:
Pengetahuan dan keterampilan dalam teknik pemadaman
Waktu kerja yang lebih lama
Pembayaran gaji yang lebih tinggi
Membatasi waktu latihan pemadaman
Penurunan jumlah petugas
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesiapsiagaan adalah memelihara hubungan yang baik dengan:
Semua pihak terkait, seperti instansi pemerintah dan masyarakat
Hanya dengan sesama petugas pemadam kebakaran
Pihak penyedia alat pemadam
Hanya dengan pihak rumah sakit
Pihak kepolisian saja
Evaluasi kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran dilakukan secara:
Secara ad hoc tanpa jadwal tertentu
Hanya pada akhir tahun
Berkala dan terjadwal
Hanya pada saat ada kebakaran besar
Berdasarkan permintaan masyarakat
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran adalah dengan melakukan:
Tes tertulis
Latihan kebakaran dengan simulasi skenario nyata
Pemantauan media massa
Diskusi kelompok
Wawancara dengan pemilik gedung
Kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran membutuhkan sistem komunikasi yang baik. Dalam hal ini, sistem komunikasi harus:
Hanya menggunakan komunikasi suara
Tersedia dalam berbagai bentuk, termasuk radio, telepon, dan sinyal visual
Terbatas pada komunikasi langsung
Mengutamakan komunikasi tertulis
Tidak perlu dilengkapi dengan perangkat cadangan
Dalam mempersiapkan petugas pemadam kebakaran, pelatihan yang harus dilakukan secara teratur termasuk:
Pelatihan pemadaman kebakaran, pertolongan pertama, dan evakuasi
Pelatihan hanya mengenai penggunaan alat pemadam
Pelatihan teoritis tentang risiko kebakaran saja
Pelatihan tentang cara mengisi formulir administrasi
Pelatihan tentang dasar-dasar hukum pemadam kebakaran
Kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran juga mencakup pengetahuan tentang:
Peraturan dan standar keselamatan kebakaran
Hanya alat-alat pemadam kebakaran
Pengelolaan gedung dan fasilitas
Teknik pertolongan pertama pada kecelakaan saja
Hanya pelatihan komunikasi dengan masyarakat
Dalam menghadapi kebakaran dengan bahan kimia, kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran termasuk dalam hal:
Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai
Pemadaman dengan air biasa
Mengabaikan bahan kimia berbahaya
Mengandalkan alat pemadam standar
Menunggu instruksi dari pihak lain
Salah satu langkah yang perlu diambil untuk menjaga kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran dalam melakukan evakuasi adalah:
Menyusun rencana evakuasi yang terperinci dan mudah dipahami
Menunda evakuasi hingga kebakaran meluas
Menghentikan evakuasi jika ada korban kebakaran
Melakukan evakuasi tanpa melihat arah angin
Mengabaikan jalur evakuasi yang sudah ditentukan
Salah satu hal yang perlu dipastikan dalam kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran adalah:
Pemadaman dilakukan dengan menggunakan bahan kimia
Petugas terlatih dalam penggunaan alat komunikasi
Penanganan kebakaran dilakukan tanpa koordinasi
Evakuasi hanya dilakukan oleh satu petugas
Semua petugas mengabaikan standar keselamatan
Salah satu hal yang harus dipastikan dalam kesiapsiagaan petugas pemadam kebakaran untuk melakukan penyelamatan adalah:
Memiliki pengetahuan tentang teknik pertolongan pertama
Mengandalkan satu alat pemadam kebakaran
Menunggu instruksi dari pihak luar untuk bertindak
Tidak perlu mempersiapkan rencana evakuasi
Melakukan pemadaman tanpa evaluasi terlebih dahulu
Untuk menjaga kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran besar, salah satu hal yang penting dilakukan adalah:
Memiliki sistem cadangan pasokan air yang dapat diandalkan
Menggunakan air dari saluran pembuangan
Menggunakan air hanya untuk pemadaman kecil
Menunda pemadaman kebakaran jika ada hujan
Membatasi akses alat pemadam kebakaran
Salah satu prinsip dalam kesiapsiagaan pemadam kebakaran adalah:
Menunda intervensi hingga kebakaran meluas
Mengabaikan potensi kebakaran yang ada
Menjaga kelengkapan alat pemadam dan alat pelindung diri
Membatasi latihan hanya untuk petugas senior
Tidak perlu berkoordinasi dengan instansi lain
Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) digunakan oleh petugas pemadam kebakaran untuk:
Melindungi petugas dari asap dan gas beracun
Memberikan penerangan di area kebakaran
Memadamkan api lebih efektif
Meningkatkan kekuatan fisik petugas
Mengurangi kepanikan petugas
Sebelum menggunakan SCBA, petugas pemadam kebakaran harus memastikan:
SCBA dalam kondisi baik dan terisi penuh
SCBA dalam keadaan kotor agar dapat digunakan dengan cepat
SCBA hanya digunakan pada kebakaran kecil
SCBA digunakan hanya pada malam hari
SCBA hanya digunakan jika ada petunjuk darurat
Dalam penggunaan SCBA, penting bagi petugas untuk memeriksa komponen berikut, kecuali:
Masker dan tabung udara
Regulator dan tekanan udara
Cairan pemadam kebakaran
Sabuk pengaman dan sistem penyimpanan
Selang dan konektor
Petugas pemadam kebakaran yang menggunakan SCBA harus memiliki pelatihan khusus dalam hal:
Menggunakan alat pemadam api ringan (APAR)
Mengoperasikan kendaraan pemadam kebakaran
Menggunakan alat komunikasi radio
Teknik evakuasi korban kebakaran
Penggunaan dan perawatan SCBA
Untuk memastikan keselamatan selama penggunaan SCBA, petugas pemadam kebakaran harus:
Menggunakan SCBA hanya di area yang berasap tipis
Memastikan waktu penggunaan SCBA sesuai dengan kapasitas tabung udara
Menggunakan SCBA tanpa batasan waktu
Membiarkan SCBA dalam kondisi terpasang selama kebakaran berlangsung
Tidak perlu mengatur ulang SCBA setelah setiap penggunaan
Setelah menggunakan SCBA dalam operasi pemadaman, petugas harus:
Mengabaikan pembersihan SCBA dan langsung menyimpannya
Memeriksa dan membersihkan SCBA sebelum menyimpannya
Menyimpan SCBA di tempat yang lembap
Menggunakan SCBA lagi tanpa memeriksa kondisinya
Membiarkan SCBA dalam kondisi tidak terawat
SCBA dilengkapi dengan alat pengukur tekanan udara. Tujuan dari alat ini adalah untuk:
Mengukur suhu udara di sekitar kebakaran
Menunjukkan jumlah udara yang tersisa di dalam tabung
Menghitung jumlah api yang dapat dipadamkan
Menentukan jenis gas berbahaya di area kebakaran
Menunjukkan tingkat kekuatan pemadam kebakaran
Jika seorang petugas pemadam kebakaran merasa pusing atau sesak napas saat menggunakan SCBA, maka petugas tersebut harus:
Mengabaikan gejala tersebut dan terus melanjutkan tugas
Segera melaporkan ke komandan tim dan mencari tempat yang aman untuk mengganti tabung udara
Tetap bekerja meskipun merasa tidak nyaman
Mengurangi kecepatan pekerjaan untuk menghindari kelelahan
Berhenti bekerja dan mencari obat penghilang rasa pusing
Penggunaan SCBA yang tidak tepat dapat mengakibatkan:
Meningkatkan kemampuan pemadaman kebakaran
Mempercepat proses evakuasi
Cedera atau bahkan kematian akibat paparan gas berbahaya
Meningkatkan kinerja petugas dalam kebakaran
Tidak ada dampak yang signifikan
Agar SCBA berfungsi dengan baik dalam operasi pemadaman, petugas harus selalu memeriksa:
Ketersediaan air di sekitar area kebakaran
Ketersediaan perlengkapan medis di lokasi kebakaran
Kondisi fisik petugas lain di sekitar kebakaran
Kondisi SCBA, termasuk tabung udara, masker, dan selang
Kecepatan kendaraan pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran yang menggunakan SCBA harus memahami prinsip dasar penggunaannya, yaitu:
SCBA digunakan hanya untuk kebakaran hutan
SCBA digunakan untuk melindungi petugas dari asap dan gas berbahaya di area kebakaran
SCBA berfungsi untuk memadamkan api secara langsung
SCBA hanya digunakan jika ada korban kebakaran
SCBA digunakan untuk memberikan oksigen kepada korban kebakaran
Setelah selesai menggunakan SCBA dalam operasi pemadaman kebakaran,
petugas harus:
Langsung menyimpan SCBA tanpa melakukan pemeriksaan
Melaporkan kepada atasan tentang kondisi SCBA
Membersihkan dan memeriksa SCBA untuk memastikan kelayakan pakai
Mengabaikan kebersihan SCBA karena sudah selesai digunakan
Hanya menyimpan SCBA jika digunakan dalam waktu lebih dari 2 jam
Pada saat menggunakan SCBA, petugas pemadam kebakaran harus memastikan
agar:
Selalu bergerak dengan cepat tanpa memperhatikan keadaan sekitar
Masker dan selang SCBA terpasang dengan baik dan rapat
Menggunakan SCBA hanya pada malam hari
SCBA dipakai hanya di area kebakaran dengan api besar
Memastikan SCBA terpasang dengan benar hanya di tempat yang aman
Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa SCBA harus segera diganti oleh
petugas pemadam kebakaran adalah:
Tanda lampu indikator menunjukkan tabung penuh
Petugas merasa udara semakin dingin
Indikator tekanan menunjukkan level rendah
Selang SCBA mulai basah
Masker terasa terlalu ketat
Untuk memaksimalkan efektivitas SCBA dalam situasi darurat, petugas harus:
Menggunakan SCBA hanya saat api terlihat besar
Memastikan SCBA digunakan dengan pelatihan yang memadai dan memeriksa kelayakan
alat
Menggunakan SCBA hanya di luar ruangan
Tidak perlu memeriksa tekanan udara dalam tabung selama operasi
Mengabaikan masalah SCBA jika tidak ada korban dalam kebakaran
Apa yang harus dilakukan petugas pemadam kebakaran jika SCBA mengalami
kerusakan saat di lapangan?
Terus menggunakan SCBA yang rusak
Melaporkan kerusakan SCBA dan segera mengganti alat
Menggunakan SCBA meskipun ada indikasi kerusakan ringan
Mengabaikan kerusakan dan fokus pada pemadaman api
Memperbaiki SCBA sendiri tanpa melapor ke atasan
Manakah yang bukan merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan
saat menggunakan SCBA?
Tekanan udara yang tersisa dalam tabung
Ketinggian dan cuaca di sekitar kebakaran
Ukuran masker dan kenyamanannya
Waktu penggunaan SCBA yang telah berlalu
Lokasi api dan dampaknya terhadap kinerja SCBA
SCBA dapat digunakan dalam berbagai kondisi berbahaya. Namun, alat ini tidak
efektif apabila:
Masker tidak pas di wajah petugas
Petugas mengenakan pakaian pelindung kebakaran
Petugas tidak menggunakan alat pemadam api lainnya
Petugas beristirahat saat menggunakan SCBA
SCBA dipasang dengan benar pada tabung
Petugas pemadam kebakaran yang menggunakan SCBA harus menyadari
bahwa:
SCBA akan memberikan udara bersih tanpa batas waktu
SCBA hanya efektif di area kebakaran besar
SCBA harus diganti setelah beberapa jam penggunaan
Waktu penggunaan SCBA bergantung pada jumlah udara di dalam tabung
SCBA hanya digunakan untuk kebakaran hutan
Untuk memastikan SCBA dapat digunakan kembali setelah pemakaian, petugas
harus:
Menggunakan SCBA tanpa mencuci atau memeriksa alat
Menyimpan SCBA dalam ruangan yang lembap
Membiarkan SCBA tidak terpakai selama beberapa bulan
Memeriksa, membersihkan, dan merawat SCBA setelah digunakan
Menyimpan SCBA tanpa memeriksa kondisi tekanan udara
Dalam melaksanakan operasi pemadam kebakaran, prioritas pertama yang
harus diperhatikan oleh petugas pemadam kebakaran adalah:
Memadamkan api secepat mungkin
Menyelamatkan korban yang terjebak di dalam kebakaran
Menyusun laporan pasca kebakaran
Menyimpan peralatan pemadam kebakaran di tempat yang aman
Menggunakan alat pemadam api yang paling canggih
Petugas pemadam kebakaran harus selalu memastikan bahwa setiap langkah
dalam operasional pemadaman kebakaran dilakukan dengan:
Kecepatan dan tanpa persiapan
Mengabaikan keselamatan diri sendiri
Menggunakan semua peralatan yang tersedia, tanpa mempertimbangkan jenis kebakaran
Perencanaan yang matang dan koordinasi yang baik dengan tim
Fokus hanya pada pemadaman api tanpa memperhatikan korban
Pada saat memadamkan kebakaran di gedung bertingkat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Memastikan petugas lain sudah tiba di lokasi
Menyebarkan kabel air ke lantai atas
Mengecek kondisi api dan sumber kebakaran
Memastikan jalur evakuasi terbuka dan aman
Menggunakan peralatan pemadam otomatis
Petugas pemadam kebakaran yang melakukan penyelamatan korban harus memastikan bahwa:
Korban dapat berjalan sendiri tanpa bantuan
Korban dipindahkan dengan cara yang tidak menambah cedera
Korban segera diberikan oksigen tanpa memeriksa kondisinya
Semua korban diselamatkan dalam waktu yang sangat singkat
Korban yang mengalami cedera ringan tidak perlu mendapat perhatian
Apabila terjadi kebakaran di ruang tertutup dengan asap pekat, petugas pemadam kebakaran harus:
Masuk tanpa pelindung untuk mengidentifikasi sumber api
Menggunakan alat pemadam api standar
Memastikan SCBA digunakan dengan benar dan mematuhi prosedur keamanan
Langsung membuka pintu dan membiarkan asap keluar
Mengabaikan keselamatan diri jika kebakaran cukup besar
Dalam menghadapi kebakaran kelas B (cairan yang mudah terbakar), petugas pemadam kebakaran harus menggunakan:
Air dalam jumlah banyak
Alat pemadam api jenis air bertekanan tinggi
Alat pemadam api jenis foam atau busa
Pasir atau bahan yang mudah terbakar
Hanya memadamkan api dengan alat manual
Saat terjadi kebakaran di area pabrik yang menyimpan bahan kimia berbahaya, petugas pemadam kebakaran perlu mengetahui:
Jenis bahan kimia yang terbakar dan prosedur penanganannya
Memadamkan api tanpa memikirkan bahan kimia yang ada
Mencoba memadamkan api dengan cara yang sama seperti kebakaran lainnya
Memastikan kebakaran segera dipadamkan tanpa mencari tahu potensi bahan kimia
Tidak perlu memperhatikan jenis bahan kimia karena semua bahan dapat dipadamkan dengan air
Dalam situasi kebakaran, jika petugas pemadam kebakaran mendapati korban dalam keadaan pingsan, langkah pertama yang harus diambil adalah:
Membawa korban segera ke rumah sakit
Memberikan bantuan pernapasan atau CPR jika diperlukan
Meninggalkan korban untuk memadamkan api terlebih dahulu
Menunggu bantuan medis tanpa melakukan tindakan apapun
Membiarkan korban untuk melanjutkan aktivitasnya setelah api dipadamkan
ada saat evakuasi korban dari area kebakaran, petugas harus memastikan bahwa:
Semua korban dievakuasi dengan menggunakan mobil pemadam
Korban diangkat secara tergesa-gesa untuk mempercepat proses evakuasi
Korban dipindahkan dengan cara yang aman dan sesuai dengan kondisi fisiknya
Hanya korban yang mengalami luka berat yang dievakuasi terlebih dahulu
Korban yang berada di luar area kebakaran tidak perlu dievakuasi
Jika terjadi kebakaran di gedung yang memiliki beberapa pintu keluar, petugas pemadam kebakaran harus:
Menggunakan pintu yang paling dekat dengan api
Memilih pintu keluar yang tidak terkunci dan aman untuk digunakan
Menggunakan pintu keluar utama tanpa memeriksa pintu lainnya
Memaksa pintu keluar meskipun tertutup dan terhalang api
Tidak memperhatikan pintu keluar, karena yang terpenting adalah memadamkan api
Pada saat melakukan pemadaman kebakaran di ruang tertutup dengan asap pekat, petugas harus selalu menggunakan:
Helm dan pakaian pelindung standar
SCBA (Self Contained Breathing Apparatus) untuk perlindungan pernapasan
Masker gas biasa yang digunakan untuk debu
Sepatu pelindung untuk melindungi kaki
Pakaian pelindung ringan yang mudah bergerak
Dalam situasi kebakaran di gedung tinggi, penggunaan tangga dalam proses evakuasi harus:
Digunakan untuk mencapai lantai yang lebih tinggi secara langsung tanpa memeriksa kestabilan tangga
Hanya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dan bukan oleh warga
Tidak digunakan jika kebakaran sudah meluas di lantai atas
Digunakan secara paralel dengan helikopter untuk evakuasi massal
Dibuka dan dipasang oleh petugas yang terlatih untuk mencegah kecelakaan
Saat melaksanakan pemadaman kebakaran di hutan, petugas pemadam kebakaran perlu memperhatikan:
Kecepatan pemadaman tanpa memperhatikan arah angin
Kondisi cuaca dan arah angin yang dapat memperburuk kebakaran
Menggunakan air sebanyak mungkin tanpa memikirkan sumber air
Menggunakan bahan kimia berbahaya untuk mempercepat pemadaman
Meninggalkan kebakaran jika sudah mencapai area yang luas
Jika terjadi kebakaran pada kendaraan bermotor, langkah pertama yang harus dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran adalah:
Menggunakan air untuk segera memadamkan api
Membuka pintu mobil untuk mengecek apakah ada korban
Menggunakan alat pemadam api berbahan kimia kering atau CO2
Menunggu bantuan dari petugas pemadam kebakaran lainnya
Mengalihkan kendaraan ke tempat aman
Selama pemadaman kebakaran di area pabrik yang memiliki banyak tabung gas, petugas pemadam kebakaran harus:
Memadamkan api dengan cepat tanpa memperhatikan risiko ledakan
Menghentikan aliran gas dan memindahkan tabung-tabung ke luar area
Meninggalkan area kebakaran karena berisiko terlalu besar
Menggunakan air untuk menurunkan suhu tabung gas
Menggunakan alat pemadam yang mengarah langsung ke tabung gas
Salah satu aspek yang penting dalam pemadaman kebakaran adalah:
Menggunakan alat pemadam api tanpa melibatkan tim
Memastikan pemadaman dilakukan dengan tenaga yang sedikit
Pengendalian api yang efektif tanpa mengorbankan keselamatan diri
Memastikan pemadaman dilakukan hanya pada satu titik api
Mengabaikan komunikasi dengan pihak lain selama pemadaman
Setelah kebakaran berhasil dipadamkan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran adalah:
Meninggalkan lokasi kebakaran dan melanjutkan aktivitas lainnya
Melakukan penyelidikan terhadap penyebab kebakaran
Membakar sisa api untuk memastikan kebakaran benar-benar padam
Membiarkan area kebakaran terbuka tanpa pemeriksaan lebih lanjut
Tidak melakukan apa-apa, karena kebakaran sudah selesai
Dalam pemadaman kebakaran di gedung bertingkat tinggi, alat yang paling efisien untuk digunakan adalah:
Tangga standar yang tersedia
Alat pemadam api dengan kapasitas besar
Tangga lipat portabel
Tangga pemadam api yang dioperasikan oleh petugas terlatih
Drone pemadam kebakaran
Apa yang menjadi prioritas utama dalam pemadaman kebakaran di area dengan potensi ledakan bahan peledak?
Menggunakan alat pemadam berbahan kimia kering untuk memadamkan api
Mengisolasi area tersebut dan memindahkan bahan peledak ke tempat yang aman
Memanggil unit spesialis bahan peledak
Menunggu kedatangan tim pemadam kebakaran yang lebih besar
Memadamkan api dengan air bertekanan tinggi
Pada saat melaksanakan pemadaman kebakaran di rumah sakit, yang harus diprioritaskan adalah:
Memadamkan api di ruang administrasi
Menyelamatkan pasien dan staf rumah sakit terlebih dahulu
Memastikan semua alat pemadam tersedia di setiap ruangan
Memastikan kebakaran tidak meluas ke ruang lain
Memastikan ruang perawatan intensif tetap aman
Salah satu prinsip dalam pemadaman kebakaran adalah mengenali kelas-kelas kebakaran. Kelas kebakaran yang melibatkan logam yang mudah terbakar (seperti magnesium atau titanium) disebut dengan:
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Kelas K
Bagaimana cara yang benar untuk memadamkan api di tumpahan minyak di luar ruangan?
Menggunakan air bertekanan tinggi
Menggunakan busa pemadam (foam) untuk memadamkan api
Menggunakan alat pemadam berbahan kimia kering
Menggunakan pasir atau tanah untuk menutup tumpahan
Memindahkan api menggunakan alat pemadam bertekanan tinggi
Dalam keadaan darurat yang melibatkan kebakaran di sebuah gedung, peran komunikasi yang efektif antara tim pemadam kebakaran sangat penting untuk:
Menyebarkan laporan kebakaran ke pihak berwenang
Memastikan tidak ada kebakaran lanjutan
Mengatur strategi pemadaman dan evakuasi secara terkoordinasi
Memindahkan peralatan pemadam kebakaran ke tempat aman
Melakukan investigasi terhadap penyebab kebakaran
Jika seorang petugas pemadam kebakaran mengalami kelelahan akibat tugas yang berlarut-larut, tindakan yang harus dilakukan adalah:
Melanjutkan tugas dan tetap bekerja
Menghentikan sementara tugas dan mengambil waktu istirahat
Mempercepat pemadaman untuk menyelesaikan tugas
Menggunakan peralatan lebih berat untuk mempercepat pemadaman
Menyerahkan tugas kepada anggota tim tanpa koordinasi
Tali yang digunakan dalam operasi pemadaman kebakaran dan penyelamatan harus memenuhi standar tertentu. Salah satu kriteria utama tali yang digunakan adalah:
Tali yang elastis dan lentur
Tali yang tidak menyerap air
Tali yang memiliki kekuatan tarik tinggi dan tahan terhadap gesekan
Tali yang ringan dan mudah dipotong
Tali yang bisa mudah terbakar
Dalam penyelamatan korban dari gedung bertingkat dengan menggunakan tali, salah satu teknik yang sering digunakan adalah:
Teknik tarik langsung menggunakan tali
Teknik evakuasi melalui tangga lurus
Teknik pengikatan tubuh korban dengan tali menggunakan simpul pengikat tubuh
Teknik merendam korban dalam air
Teknik pemotongan bagian bangunan yang terbakar
Dalam penyelamatan dengan menggunakan tali, salah satu simpul yang paling sering digunakan untuk mengikat korban atau petugas adalah:
Simpul mati
Simpul pengikat tubuh (figure-eight knot)
Simpul pita
Simpul perahu
Simpul tali berganda
Saat menggunakan tali untuk penyelamatan, jika tali harus menahan beban yang sangat berat, faktor yang harus diperhatikan dalam memilih tali adalah:
Kelenturan dan elastisitas tali
Warna tali agar mudah terlihat di malam hari
Kekuatan tarik dan ketahanan terhadap kondisi cuaca ekstrem
Panjang tali yang fleksibel
Kualitas bahan pembuat tali yang mudah terbakar
Ketika melakukan penyelamatan menggunakan tali, jika korban terjebak di ketinggian yang tinggi, salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan korban dengan aman adalah:
Menggunakan teknik gendong
Menggunakan teknik vertikal rescue dengan pengikatan tali pada tubuh
Menggunakan alat pemadam api
Mendorong korban ke arah bawah
Menarik korban menggunakan alat berat
Dalam teknik penyelamatan dengan tali, peralatan tambahan yang sering digunakan untuk membantu evakuasi adalah:
Ransel dan alat pemadam api
Pakaian pelindung
Karabiner dan alat pengunci tali
Alat pernapasan
Alat komunikasi
Jika terjadi kebakaran di gedung bertingkat tinggi, dan petugas pemadam kebakaran perlu menggunakan tali untuk menyelamatkan korban dari lantai atas, hal pertama yang harus dilakukan adalah:
Menghubungi pihak penyelamat luar gedung untuk menunggu bantuan
Menyiapkan tali yang cukup panjang dan karabiner
Memastikan seluruh korban berada di area aman
Memotong sebagian bagian gedung untuk mempermudah evakuasi
Memadamkan api sebelum melakukan penyelamatan
Apa yang dimaksud dengan "sistem tali kendali" dalam operasi penyelamatan?
Penggunaan tali untuk mengikat korban di lokasi yang aman
Penggunaan tali untuk mengontrol arah evakuasi korban atau petugas
Penggunaan tali untuk mencegah korban jatuh selama evakuasi
Penggunaan tali untuk menurunkan beban berat ke bawah
Penggunaan tali untuk menarik petugas keluar dari area berbahaya
Ketika menggunakan tali untuk penyelamatan di area yang terhalang atau sempit, salah satu hal yang harus dipertimbangkan adalah:
Ukuran tali yang panjang dan mudah ditarik
Tali harus terbuat dari bahan yang ringan dan mudah dipotong
Menyesuaikan teknik penyelamatan dengan kondisi medan dan ruang
Penggunaan tali yang mengandung bahan kimia khusus
Tali harus memiliki warna cerah agar mudah terlihat
Ketika menggunakan tali dalam penyelamatan, jika kondisi cuaca buruk seperti hujan lebat atau angin kencang, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Memastikan tali tetap kering dan tidak terpengaruh cuaca
Mengganti tali yang digunakan dengan tali yang lebih ringan
Menggunakan tali yang lebih pendek
Menunggu cuaca membaik sebelum melanjutkan penyelamatan
Menggunakan alat pelindung tubuh untuk menghindari cuaca buruk
Pada saat melakukan penyelamatan korban dengan tali dari ketinggian, jika tali terputus saat korban sedang diturunkan, langkah pertama yang harus diambil adalah:
Menaikkan korban kembali ke atas menggunakan tali cadangan
Memastikan korban dalam posisi aman dan menggunakan alat bantu lain untuk menurunkan korban
Menggunakan tali yang lebih kuat untuk melanjutkan proses evakuasi
Membiarkan korban sampai petugas penyelamat lainnya datang
Segera memadamkan api yang ada di sekitar
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan simpul dalam penyelamatan dengan tali adalah:
Jumlah simpul yang digunakan dalam satu tali
Tujuan penyelamatan dan kekuatan yang dibutuhkan
Panjang tali yang tersedia
Kecepatan dalam melakukan evakuasi
Warna tali yang digunakan
Salah satu teknik yang digunakan dalam penyelamatan korban dengan tali adalah "double rope technique". Teknik ini digunakan untuk:
Memastikan tali yang digunakan tidak akan terputus
Mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk evakuasi
Menjaga posisi korban tetap aman selama evakuasi
Mempermudah pengikatan korban pada titik pengaman
Menurunkan korban secara cepat tanpa banyak risiko
Salah satu langkah yang harus dilakukan setelah menyelamatkan korban menggunakan tali adalah:
Membiarkan korban di lokasi sementara menunggu bantuan medis
Mengevaluasi kondisi korban dan memberikan pertolongan pertama jika diperlukan
Meninggalkan korban untuk menghindari resiko lebih lanjut
Melanjutkan penyelamatan korban lain tanpa memeriksa kondisi korban pertama
Memastikan korban tetap terikat pada tali sampai tim medis datang
Pada saat melakukan penyelamatan korban menggunakan tali di area berbahaya, seperti di dekat api atau gas beracun, petugas pemadam kebakaran harus:
Menggunakan pakaian pelindung dan masker pernapasan untuk menghindari paparan berbahaya
Menghindari penggunaan tali sama sekali untuk menghindari risiko tambahan
Memastikan tali yang digunakan bebas dari kontaminasi berbahaya
Menggunakan alat pemadam api untuk memastikan area aman terlebih dahulu
Melakukan evakuasi tanpa memperhatikan kondisi lingkungan
Dalam operasi penyelamatan dengan tali, simpul "bowline knot" sering digunakan karena:
Simpul ini sangat mudah dipasang dan dilepas
Simpul ini bisa digunakan untuk mengikat benda berat
Simpul ini lebih kuat daripada simpul lainnya
Simpul ini menghasilkan ikatan yang sangat kencang dan aman
Simpul ini tidak memerlukan keterampilan khusus untuk mengikatnya
Jika seorang petugas pemadam kebakaran terjebak di ketinggian saat proses evakuasi menggunakan tali, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Meninggalkan peralatan untuk memudahkan mobilitas
Menghubungi tim penyelamat untuk meminta bantuan segera
Menunggu di tempat dan berharap cuaca membaik
Menggunakan alat pemadam untuk mencoba menyelamatkan diri
Mencoba menurunkan diri dengan tali tanpa bantuan
Saat menggunakan teknik tali untuk penyelamatan, jenis simpul yang paling sering digunakan untuk mengikat korban pada tali adalah:
Simpul jambul
Simpul mati
Simpul bowline
Simpul tali dua
Simpul sejajar
Apa yang harus dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran setelah menggunakan tali untuk menurunkan korban ke bawah dengan aman?
Melepas tali dan meninggalkan lokasi
Memastikan korban sudah dalam posisi aman dan menghubungi tim medis
Meninggalkan korban dan melanjutkan evakuasi korban lain
Melakukan pemeriksaan ulang terhadap kondisi korban
Memastikan korban tetap terikat pada tali sampai tim medis datang
Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan tali dalam penyelamatan adalah:
Pemilihan jenis simpul yang paling cepat dibuat
Menghindari penggunaan tali jika kondisi cuaca buruk
Menjaga tali tetap kering dan bebas dari kerusakan
Menggunakan tali dengan warna yang terang
Menghindari penggunaan tali ganda
Jika tali yang digunakan dalam penyelamatan terbelit atau tersangkut, apa yang harus dilakukan oleh petugas?
Meninggalkan tali dan mencari alternatif lain
Segera memotong tali dan menggunakan yang baru
Menghentikan operasi dan menunggu bantuan
Mengidentifikasi lokasi dan jenis belitan untuk melepaskan tali secara aman
Menurunkan korban lebih cepat untuk menghindari penundaan
Dalam situasi penyelamatan dengan tali, apakah yang dimaksud dengan "penurunan kendali"?
Penurunan korban dengan kecepatan tinggi untuk mengurangi waktu evakuasi
Penurunan korban yang dilakukan dengan hati-hati dan terkontrol agar aman
Menggunakan tali ganda untuk memastikan penurunan yang lebih cepat
Penurunan korban tanpa menggunakan alat pengaman tambahan
Menggunakan peralatan yang tidak memerlukan keterampilan tinggi
Saat melakukan evakuasi dengan tali dari lokasi yang sulit dijangkau, teknik yang digunakan untuk mencegah risiko korban terguncang atau terluka adalah:
Penggunaan teknik drop straight tanpa pengamanan tambahan
Penurunan dengan kecepatan tinggi untuk efisiensi waktu
Penggunaan teknik penurunan kendali dengan pengawasan penuh
Menggunakan tali yang lebih panjang untuk penurunan yang lebih jauh
Tidak menggunakan tali dan memilih metode evakuasi lainnya
Dalam penyelamatan korban yang terjebak di tempat sempit, tali harus diikat dengan cara yang:
Menarik korban langsung ke atas
Mengikat korban dengan tali yang sangat ketat untuk mencegah pergerakan
Membuat simpul ganda untuk kekuatan lebih besar
Membuat simpul yang memungkinkan pergerakan untuk memudahkan evakuasi
Tidak menggunakan tali dan menggunakan alat bantu lainnya
ka tali yang digunakan dalam penyelamatan tampak mengalami kerusakan setelah digunakan beberapa kali, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Melanjutkan penggunaannya sampai tali putus
Memeriksa tali dengan teliti untuk menentukan apakah bisa digunakan kembali
Menggunakan tali untuk menyelamatkan korban lain dengan hati-hati
Menyimpan tali untuk penggunaan berikutnya
Mengganti tali dengan yang baru untuk keselamatan lebih lanjut
Dalam memberikan pertolongan pertama pada korban yang pingsan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Memastikan jalan napas terbuka dan memeriksa denyut nadi
Memberikan air minum untuk membangunkan korban
Mencoba membangunkan korban dengan tepukan keras
Mengangkat korban dengan cepat agar segera sadar
Menghubungi tim medis tanpa melakukan tindakan apa pun
Jika korban mengalami luka bakar derajat dua, yang perlu dilakukan sebagai pertolongan pertama adalah:
Menutup luka dengan kain bersih dan memberikan salep antibiotik
Mendinginkan luka dengan air dingin selama minimal 10 menit
Menutup luka dengan pembalut yang rapat
Membiarkan luka terbuka tanpa penanganan lebih lanjut
Mengoleskan mentega atau minyak pada luka bakar
Jika seorang korban kecelakaan mengalami patah tulang pada lengan dan kesakitan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Membiarkan lengan dalam posisi semula dan meminta korban untuk bergerak
Menyusun patah tulang kembali ke tempat semula tanpa bantuan alat
Menstabilkan lengan dengan belat atau benda yang keras untuk mencegah pergerakan
Memijat area yang patah untuk mengurangi rasa sakit
Menunggu hingga korban dapat berdiri dan berjalan sendiri
Jika seorang korban mengalami kesulitan bernapas akibat asma, langkah pertama dalam memberikan pertolongan pertama adalah:
Memberikan korban air minum untuk membantu pernapasan
Mengalihkan perhatian korban ke hal-hal yang menyenangkan
Memberikan obat inhaler atau bronkodilator jika tersedia dan memungkinkan
Menyuruh korban untuk tidur agar istirahat
Memberikan korban makanan ringan
Korban yang terjatuh dari ketinggian mengalami pendarahan hebat di bagian paha. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Mengangkat kaki korban untuk mengurangi perdarahan
Menekan area luka dengan kain bersih atau perban untuk menghentikan pendarahan
Memberikan korban cairan untuk menghindari dehidrasi
Mengoleskan salep pada luka untuk mempercepat penyembuhan
Membiarkan korban untuk beristirahat dan menunggu tim medis
Saat memberikan pertolongan pertama pada korban tenggelam, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Menyuruh korban untuk bangkit sendiri
Memberikan resusitasi jantung paru (RJP) jika korban tidak bernapas
Membawa korban ke rumah sakit tanpa tindakan lain
Memberikan air minum untuk korban agar sadar
Mengikat korban dengan tali untuk mencegah tenggelam
ika seorang korban mengalami kejang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Menahan tubuh korban agar tidak bergerak
Menghindari memasukkan benda apa pun ke dalam mulut korban
Menyuruh korban untuk tenang dan berbicara padanya
Memberikan minuman untuk menenangkan korban
Menjatuhkan korban agar tidak terluka
Jika korban mengalami syok setelah kecelakaan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Memberikan korban makanan dan minuman
Memastikan korban dalam posisi terlentang dengan kaki terangkat
Menyuntikkan obat untuk meredakan syok
Memberikan oksigen kepada korban jika tersedia
Mencegah korban bergerak dan menunggu tim medis datang
Dalam memberikan pertolongan pertama pada korban yang mengalami cedera kepala, yang perlu dihindari adalah:
Menghentikan pendarahan dengan kain bersih
Memastikan korban tidak bergerak dan menunggu tim medis
Memberikan korban minuman hangat untuk menenangkan
Memindahkan korban kecuali dalam keadaan darurat
Melakukan perawatan luka dengan antiseptik
Jika korban mengalami kecelakaan lalu lintas dan terjebak di dalam kendaraan, langkah pertama yang harus dilakukan oleh petugas pertolongan adalah:
Membuka pintu kendaraan dan menarik korban keluar
Memastikan adanya kebocoran bahan bakar dan segera memadamkan api jika ada
Memberikan air kepada korban untuk mencegah dehidrasi
Mencegah korban bergerak dan menunggu bantuan medis
Memberikan pertolongan dengan cara membuka jalan napas korban
Pada korban kecelakaan yang mengalami luka besar dan pendarahan hebat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah:
Menunggu sampai pendarahan berhenti sendiri
Memberikan korban makanan dan minuman
Menggunakan kain bersih untuk menekan dan menghentikan pendarahan
Memberikan obat pereda rasa sakit pada luka
Menyuntikkan cairan untuk menghindari dehidrasi
Jika korban kecelakaan mengalami luka dalam dengan darah yang keluar sangat banyak, yang harus dilakukan adalah:
Menutup luka dengan perban steril dan memberikan tekanan langsung
Menyuntikkan antibiotik untuk mencegah infeksi
Memijat luka untuk mempercepat pembekuan darah
Mengangkat bagian tubuh yang terluka di atas kepala
Memberikan korban makanan ringan
Saat memberikan pertolongan pada korban tenggelam, jika korban tidak bernapas, langkah yang harus dilakukan adalah:
Memberikan napas buatan dengan metode pernapasan mulut ke mulut
Mengangkat korban dan menenangkan dia agar segera sadar
Memberikan korban air untuk menstabilkan pernapasannya
Memijat dada korban untuk memperlancar pernapasan
Membiarkan korban untuk bernapas kembali secara alami
Ketika memberikan pertolongan pertama pada korban yang mengalami keracunan gas, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Membiarkan korban tetap berada di tempat kejadian
Membawa korban ke luar dari area yang terkontaminasi gas dan memastikan ventilasi yang baik
Memberikan korban air untuk membersihkan mulutnya
Memberikan obat penawar untuk gas beracun
Mengikat korban untuk mencegah pergerakan lebih lanjut
Dalam situasi kecelakaan, jika korban mengalami kesulitan bernafas dan tampak cemas, pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah:
Meminta korban untuk duduk tegak dan tetap tenang
Memberikan korban minum air untuk mencegah dehidrasi
Menghindari memberikan korban obat-obatan
Membaringkan korban di posisi terlentang
Memberikan obat penenang
Jika seorang korban kecelakaan mengalami patah tulang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Menggerakkan tulang yang patah untuk mengurangi rasa sakit
Mengistirahatkan dan menstabilkan posisi tulang patah sebelum mengangkut korban
Memberikan obat penghilang rasa sakit
Memberikan korban makanan dan minuman
Meninggalkan korban untuk mencari bantuan medis
Apa yang perlu dilakukan apabila korban mengalami luka bakar ringan akibat kontak dengan api?
Menyiramkan air dingin pada luka bakar
Menutupi luka bakar dengan kain bersih dan memberikan obat salep
Memberikan korban minuman panas untuk mengurangi rasa sakit
Memijat area yang terbakar untuk meredakan peradangan
Mengoleskan minyak pada luka bakar
Jika korban mengalami luka dengan benda tajam yang menembus tubuh, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Menarik benda tajam dengan hati-hati
Menekan luka dengan kain bersih untuk menghentikan pendarahan
Memijat area luka untuk mengurangi peradangan
Memberikan air dingin pada luka
Mencuci luka dengan alkohol
Apa yang harus dilakukan pada korban yang mengalami hipotermia (kedinginan ekstrem)?
Memberikan minuman panas untuk menghangatkan tubuh
Menutup tubuh korban dengan selimut dan memberi panas tubuh
Membiarkan korban beristirahat di luar ruangan
Menyiram tubuh korban dengan air panas
Memberikan korban makanan berlemak
Jika korban terhirup gas berbahaya atau karbon monoksida, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Menunggu di lokasi dan memeriksa korban secara manual
Membawa korban ke tempat terbuka atau area yang memiliki ventilasi yang baik
Memberikan korban minuman untuk mempercepat pemulihan
Menyiram tubuh korban dengan air dingin
Memberikan korban makanan untuk meningkatkan energi
Korban kecelakaan yang mengalami luka lecet akibat terjatuh harus segera:
Membersihkan luka dengan air hangat dan memberikan salep
Menutupi luka dengan kain kering tanpa membersihkan
Menggunakan obat antibiotik untuk menghindari infeksi
Membiarkan luka terbuka tanpa perawatan
Mengompres luka dengan es untuk mengurangi rasa sakit
Pada korban yang mengalami dehidrasi ringan akibat keracunan makanan, apa yang harus dilakukan sebagai pertolongan pertama?
Memberikan banyak air secara cepat untuk menggantikan cairan tubuh
Memberikan korban cairan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang
Memberikan korban makanan berat
Memberikan minuman manis untuk meningkatkan energi
Menenangkan korban dan membiarkannya beristirahat
Jika korban mengalami luka gigitan hewan, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Menyiram luka dengan air mengalir dan membersihkannya
Menutup luka dengan kain bersih tanpa membersihkan
Memberikan korban obat pereda nyeri
Menjaga luka tetap kering dan membiarkannya
Mengoleskan salep antibiotik pada luka
Saat memberikan pertolongan pertama kepada korban yang terjatuh dan kehilangan kesadaran, namun masih bernapas, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Membaringkan korban dalam posisi terlentang dengan kepala sedikit terangkat
Membaringkan korban dalam posisi tengkurap
Memberikan korban minum
Memindahkan korban ke tempat yang lebih aman tanpa memperhatikan kondisi fisik
Menekan dada korban untuk mengembalikan kesadaran
Jika korban kebakaran mengalami luka bakar tingkat dua, langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Menutupi luka bakar dengan kain kering
Menyiram luka bakar dengan air dingin selama 10-20 menit
Memberikan obat penghilang rasa sakit
Mengoleskan salep untuk mempercepat penyembuhan
Memijat luka untuk meredakan rasa sakit
Jika korban kebakaran memiliki luka bakar di area wajah dan mulut, tindakan pertama yang tepat adalah:
Memberikan korban air dingin dengan menggunakan kain basah
Menutupi luka bakar dengan kain bersih dan menunggu bantuan
Memberikan korban salep antibiotik untuk mencegah infeksi
Mengoleskan minyak pada luka untuk mempercepat pemulihan
Menyiramkan air panas pada luka untuk meredakan rasa sakit
Apakah yang dimaksud dengan "sistem komunikasi yang efektif" dalam situasi darurat pemadam kebakaran?
Menggunakan radio komunikasi untuk memberi tahu korban tentang langkah evakuasi
Menggunakan sirene sebagai satu-satunya bentuk peringatan
Menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi dengan korban
Mengandalkan komunikasi suara tanpa alat bantu apapun
Memastikan bahwa semua komunikasi dilakukan oleh satu orang saja
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam dan pegawai Perangkat Daerah yang Menyelenggarakan Sub Urusan Kebakaran untuk melaksanakan tugas sehari-hari:
Pakaian Dinas Harian (PDH)
Pakaian Dinas Lapangan (PDL)
Pakaian Dinas Upacara (PDU)
Pakaian Siaga
Pakaian Penyelamatan
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam dan pegawai Perangkat Daerah yang Menyelenggarakan Sub Urusan Kebakaran untuk melaksanakan tugas lapangan:
PDH
PDL
PDU
Pakaian Siaga
Pakaian Teknik
Pakaian yang digunakan pada saat menghadiri upacara:
PDH
PDL
PDU
Pakaian Penyelamatan
Pakaian Benkel
Pakaian digunakan oleh Pemadam pada saat melaksanakan tugas siaga dan tugas piket:
PDH
PDL
PDU
Pakaian Siaga
Pakaian Teknik
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam pada saat melaksanakan tugas perbengkelan:
PDH
PDL
PDU
Pakaian Siaga
Pakaian Teknik
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam pada saat melakukan operasi pemadaman dan penyelamatan pada saat kebakaran:
Pakaian Tahan Panas
Pakaian Tahan Api
PDU
PDH
PDL
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam pada saat melakukan operasi pemadaman dan penyelamatan pada kebakaran dengan kondisi tertentu sesuai dengan kebutuhan:
PDH
PDL
PDU
Pakaian Teknik
Pakaian Tahan Api
Pakaian yang digunakan oleh Pemadam pada saat melakukan operasi Pemadaman dan penyelamatan pada saat kebakaran bahan berbahaya beracun kebakaran sesuai dengan tingkatannya
PDH
PDL
PDU
Pakaian Tahan Api
Pakaian Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun Kebakaran
Peralatan yang digunakan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan dalam menjalankan tugas dan fungsi yang meliputi peralatan pencegahan, pengendalian, pemadaman, penyelamatan, penanganan bahan berbahaya beracun kebakaran, inspeksi peralatan proteksi kebakaran, investigasi kejadian kebakaran, pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran, serta alat pelindung diri, disebut:
Sarana
Prasarana
Alat
Mesin
APAR
Segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya sub urusan kebakaran di daerah, disebut
Sarana
Prasarana
Alat
Mesin
Kantor
Standardisasi Sarana pemadam Kebakaran dalam tahap PENCEGAHAN, meliputi
sistem hydrant kota;
groundtank/reservoir air
alat pemadam api ringan
pompa pemadam kebakaran portable
Semua Benar
Standardisasi Sarana pemadam Kebakaran dalam tahap PEMADAMAN & PENGENDALIAN adalah sebagai berikut, kecuali:
mobil pemadam Kebakaran pompa/fire boat/kapal pemadam
selang pemadam Kebakaran
pipa cabang pemadam Kebakaran (y connection).
pemancar pemadam Kebakaran (nozzle)
groundtank/reservoir air
Standardisasi Sarana pemadam Kebakaran dalam penanganan bahan berbahaya dan beracun Kebakaran, kecuali
pakaian bahan berbahaya dan beracun;
gas detector
peralatan decontaminasi
helm keselamatan (safety helm)
Termasuk alat perlindungan diri petugas pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, kecuali:
jaket tahan panas (fire jacket
jaket tahan api (fire jacket dan trouser);
masker pemadam Kebakaran (fire masker
self contained breathing apparatur (SCBA);
Selang Air
Mutu Pelayanan Dasar meliputi tingkat waktu tanggap (response time) ............ menit sejak diterimanya informasi/laporan sampai tiba di lokasi dan siap memberikan layanan penyelamatan dan evakuasi;
15
14
13
12
11
