wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Kuis Deteksi Infeksi Cairan Tubuh

Total questions: 104

Worksheet time: 52mins

Name
Class
Date
1.

Pemeriksaan apa yang paling tepat untuk mendeteksi infeksi pada cairan serebrospinal (CSF)?

a)

Pemeriksaan kadar glukosa

b)

Pemeriksaan sitologi

c)

Kultur bakteri

d)

Pemeriksaan kadar protein

2.

Cairan pleura transudatif biasanya disebabkan oleh kondisi berikut, kecuali:

a)

Gagal jantung

b)

Sindrom nefrotik

c)

Sirosis hati

d)

Tuberkulosis pleura

3.

Parameter apa yang digunakan untuk membedakan cairan pleura transudatif dari eksudatif?

a)

Kadar glukosa

b)

Rasio protein cairan pleura terhadap serum

c)

Warna cairan

d)

Jumlah sel darah merah

4.

Pemeriksaan cairan sinovial untuk gout ditandai oleh temuan:

a)

Kristal kalsium pirofosfat

b)

Kristal urat monosodium

c)

Peningkatan sel darah merah

d)

Peningkatan protein

5.

Penurunan kadar glukosa pada cairan serebrospinal (CSF) sering disebabkan oleh:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi bakteri

c)

Infeksi parasit

d)

Trauma kepala

6.

Pemeriksaan cairan tubuh dengan metode sitologi digunakan untuk:

a)

Mendeteksi infeksi bakteri

b)

Mendeteksi infeksi virus

c)

Mendeteksi sel-sel ganas

d)

Mendeteksi kristal

7.

Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan dugaan infeksi tuberkulosis akan menunjukkan:

a)

Rasio protein cairan pleura terhadap serum <0,5

b)

Rasio protein cairan pleura terhadap serum >0,5

c)

Tidak ada peningkatan leukosit

d)

Penurunan kadar protein

8.

Cairan tubuh normal yang biasanya tidak mengandung sel darah merah adalah:

a)

Cairan pleura

b)

Cairan peritoneal

c)

Cairan serebrospinal (CSF)

d)

Cairan sinovial

9.

Cairan asites eksudatif sering ditemukan pada:

a)

Gagal jantung

b)

Sindrom nefrotik

c)

Keganasan intra-abdominal

d)

Sirosis hati

10.

Kadar LDH cairan pleura yang tinggi menunjukkan:

a)

Cairan transudatif

b)

Cairan eksudatif

c)

Cairan normal

d)

Tidak dapat ditentukan

11.

Warna cairan pleura yang keruh biasanya menandakan:

a)

Empiema

b)

Gagal jantung

c)

Sirosis hati

d)

Hipoalbuminemia

12.

Pemeriksaan kristal kalsium pirofosfat dilakukan pada kasus:

a)

Gout

b)

Pseudogout

c)

Osteoartritis

d)

Rheumatoid arthritis

13.

Pemeriksaan Rivalt digunakan untuk:

a)

Menilai adanya cairan transudatif atau eksudatif

b)

Mendeteksi infeksi bakteri pada cairan pleura

c)

Menganalisis komponen biokimia cairan tubuh

d)

Mendeteksi keganasan pada cairan pleura

14.

Cairan serebrospinal pada meningitis virus biasanya menunjukkan:

a)

Peningkatan neutrofil

b)

Peningkatan limfosit

c)

Penurunan kadar glukosa

d)

Peningkatan protein >500 mg/dL

15.

Cairan sinovial dengan viskositas rendah biasanya ditemukan pada:

a)

Gout

b)

Osteoartritis

c)

Infeksi bakteri

d)

Trauma sendi

16.

Tes Rivalta positif menunjukkan:

a)

Cairan transudatif

b)

Cairan eksudatif

c)

Cairan normal

d)

Cairan dengan dominasi eritrosit

17.

Pemeriksaan cairan pleura pada pasien gagal jantung akan menunjukkan:

a)

Kadar protein cairan pleura >3 g/dL

b)

Rasio LDH cairan pleura terhadap serum <0,6

c)

Cairan pleura keruh

d)

Penin

18.

Pemeriksaan cairan pleura pada pasien gagal jantung akan menunjukkan:

a)

Kadar protein cairan pleura >3 g/dL

b)

Rasio LDH cairan pleura terhadap serum <0,6

c)

Cairan pleura keruh

d)

Peningkatan jumlah neutrofil

19.

Pemeriksaan cairan tubuh yang paling tepat untuk mendeteksi kanker adalah:

a)

Analisis sitologi

b)

Kultur bakteri

c)

Pemeriksaan biokimia

d)

Pemeriksaan mikroskopis biasa

20.

Parameter yang paling menentukan infeksi bakteri pada cairan serebrospinal adalah:

a)

Penurunan kadar glukosa

b)

Peningkatan kadar protein

c)

Peningkatan neutrofil

d)

Hasil kultur positif

21.

Cairan asites dengan kadar albumin yang rendah menunjukkan:

a)

Sirosis hati

b)

Gagal jantung

c)

Keganasan

d)

Sindrom nefrotik

22.

Pemeriksaan mikroskopis cairan sinovial pada pasien gout biasanya menunjukkan:

a)

Kristal biru birefringent dengan mikroskop polarisasi

b)

Kristal hijau birefringent dengan mikroskop polarisasi

c)

Kristal kuning birefringent dengan mikroskop polarisasi

d)

Tidak ada kristal

23.

Cairan pleura eksudatif biasanya ditandai oleh:

a)

Protein cairan pleura <2,5 g/dL

b)

Rasio protein cairan pleura terhadap serum <0,5

c)

Rasio LDH cairan pleura terhadap serum >0,6

d)

Warna cairan jernih

24.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan eosinofil dapat disebabkan oleh:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi parasit

c)

Infeksi bakteri

d)

Tumor otak

25.

Cairan tubuh yang berwarna merah muda atau merah terang sering disebabkan oleh:

a)

Kehadiran bilirubin

b)

Kehadiran hemoglobin

c)

Kehadiran lipid

d)

Kehadiran protein

26.

Cairan pleura yang berwarna seperti susu biasanya menunjukkan:

a)

Hemotoraks

b)

Empiema

c)

Chylothorax

d)

Transudasi protein

27.

Cairan asites dengan penurunan kadar glukosa biasanya terjadi pada:

a)

Peritonitis bakteri spontan

b)

Sirosis hati

c)

Gagal jantung

d)

Sindrom nefrotik

28.

Pemeriksaan kultur cairan tubuh paling sering dilakukan pada:

a)

Cairan pleura

b)

Cairan sinovial

c)

Cairan serebrospinal

d)

Semua cairan tubuh di atas

29.

Cairan tubuh yang memiliki viskositas tinggi secara normal adalah:

a)

Cairan pleura

b)

Cairan sinovial

c)

Cairan peritoneal

d)

Cairan serebrospinal

30.

Cairan tubuh yang normalnya bersifat steril adalah, kecuali:

a)

Cairan serebrospinal

b)

Cairan pleura

c)

Cairan sinovial

d)

Cairan saliva

31.

Warna kuning pekat pada cairan pleura biasanya menunjukkan:

a)

Chylothorax

b)

Empiema

c)

Hemotoraks

d)

Kehadiran bilirubin

32.

Cairan tubuh dengan dominasi neutrofil pada pemeriksaan mikroskopis sering ditemukan pada:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi virus

c)

Infeksi parasit

d)

Infeksi jamur

33.

Rasio albumin serum dan cairan asites (SAAG) digunakan untuk:

a)

Menilai keganasan pada asites

b)

Membedakan asites transudatif dan eksudatif

c)

Menentukan keberadaan infeksi pada asites

d)

Menentukan sumber perdarahan pada asites

34.

Cairan serebrospinal normal memiliki karakteristik berikut, kecuali:

a)

Jernih

b)

Glukosa lebih rendah dibandingkan serum

c)

Protein rendah

d)

Tidak ada leukosit

35.

Cairan sinovial normal akan memiliki karakteristik berikut, kecuali:

a)

Tidak berwarna atau sedikit kuning

b)

Viskositas tinggi

c)

Tidak mengandung sel darah merah

d)

Mengandung bakteri

36.

Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan empyema sering menunjukkan:

a)

Cairan transudatif

b)

pH cairan <7,2

c)

Glukosa cairan >60 mg/dL

d)

Warna jernih

37.

Cairan pleura dengan dominasi limfosit paling mungkin ditemukan pada:

a)

Tuberkulosis pleura

b)

Gagal jantung

c)

Pneumonia bakterial

d)

Trauma toraks

38.

Cairan tubuh dengan kadar kolesterol tinggi sering menunjukkan:

a)

Hemotoraks

b)

Pseudochylothorax

c)

Chylothorax

d)

Empyema

39.

Pemeriksaan cairan tubuh dengan metode Gram stain berguna untuk:

a)

Menilai jumlah protein

b)

Menentukan jenis bakteri penyebab infeksi

c)

Menilai viskositas cairan

d)

Mendeteksi keberadaan kristal

40.

Pemeriksaan glukosa cairan pleura penting untuk:

a)

Menentukan status transudatif atau eksudatif

b)

Mendeteksi adanya keganasan

c)

Mendeteksi infeksi bakteri atau empyema

d)

Menentukan kadar protein cairan

41.

Cairan tubuh dengan kadar protein lebih dari 3 g/dL biasanya bersifat:

a)

Eksudatif

b)

Transudatif

c)

Normal

d)

Hipotonik

42.

Cairan serebrospinal dengan dominasi monosit sering ditemukan pada:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi virus

c)

Infeksi tuberkulosis

d)

Infeksi parasit

43.

Pemeriksaan sitologi cairan pleura biasanya dilakukan untuk:

a)

Menilai tingkat infeksi

b)

Menentukan adanya keganasan

c)

Menilai kadar glukosa

d)

Menilai viskositas cairan

44.

Cairan tubuh dengan peningkatan kadar amilase sering ditemukan pada:

a)

Peritonitis sekunder

b)

Pankreatitis

c)

Tuberkulosis peritoneal

d)

Sirosis hati

45.

Cairan tubuh dengan pH yang sangat rendah (<7,2) sering ditemukan pada:

a)

Infeksi bakteri

b)

Sirosis hati

c)

Gagal jantung

d)

Sindrom nefrotik

46.

Cairan pleura transudatif biasanya berwarna:

a)

Kuning pekat

b)

Jernih atau sedikit kuning

c)

Hijau

d)

Keruh

47.

Pemeriksaan trigliserida pada cairan pleura digunakan untuk mendeteksi:

a)

Chylothorax

b)

Empyema

c)

Tuberkulosis pleura

d)

Hemotoraks

48.

Cairan asites pada sirosis hati biasanya menunjukkan:

a)

Glukosa rendah

b)

Kadar albumin cairan rendah

c)

Rasio LDH cairan terhadap serum >0,6

d)

Cairan eksudatif

49.

Pemeriksaan LDH cairan tubuh berguna untuk:

a)

Membedakan transudat dari eksudat

b)

Menentukan kadar glukosa

c)

Menilai infeksi jamur

d)

Menentukan kadar protein

50.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein dan penurunan glukosa paling mungkin disebabkan oleh:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi bakteri

c)

Infeksi pa

51.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein dan penurunan glukosa paling mungkin disebabkan oleh:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi bakteri

c)

Infeksi parasit

d)

Trauma kepala

52.

Cairan pleura dengan hasil Rivalta positif menunjukkan:

a)

Transudat

b)

Eksudat

c)

Cairan normal

d)

Cairan hemoragik

53.

Cairan tubuh dengan warna keruh atau purulen paling sering ditemukan pada:

a)

Chylothorax

b)

Empyema

c)

Tuberkulosis

d)

Gagal jantung

54.

Pemeriksaan cytospin pada cairan tubuh digunakan untuk:

a)

Menilai kadar glukosa

b)

Mendeteksi sel-sel ganas

c)

Menentukan pH cairan

d)

Mengidentifikasi bakteri

55.

Cairan tubuh dengan kadar glukosa rendah dan dominasi neutrofil menunjukkan:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi bakteri

c)

Keganasan

d)

Perdarahan

56.

Cairan tubuh yang berwarna hijau sering disebabkan oleh:

a)

Kehadiran bilirubin

b)

Infeksi Pseudomonas

c)

Kehadiran hemoglobin

d)

Kehadiran lipid

57.

Cairan serebrospinal pada meningitis jamur biasanya menunjukkan:

a)

Glukosa normal

b)

Peningkatan neutrofil

c)

Peningkatan limfosit

d)

Penurunan protein

58.

Cairan asites pada peritonitis bakteri spontan (PBS) biasanya memiliki:

a)

Neutrofil <250/μL

b)

Neutrofil >250/μL

c)

Glukosa normal

d)

Kadar albumin cairan tinggi

59.

Cairan pleura dengan warna merah terang menunjukkan:

a)

Hemotoraks

b)

Empyema

c)

Chylothorax

d)

Infeksi tuberkulosis

60.

Pemeriksaan apa yang paling tepat untuk mendeteksi adanya infeksi jamur pada cairan serebrospinal?

a)

Kultur jamur

b)

Gram stain

c)

Sitologi

d)

Pemeriksaan protein

61.

Cairan tubuh dengan kadar trigliserida >110 mg/dL mengindikasikan:

a)

Pseudochylothorax

b)

Chylothorax

c)

Empyema

d)

Transudasi protein

62.

Cairan tubuh yang berwarna kuning pekat sering menunjukkan adanya:

a)

Lipid

b)

Bilirubin

c)

Hemoglobin

d)

Protein tinggi

63.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan tekanan saat pungsi lumbal sering ditemukan pada:

a)

Meningitis bakteri

b)

Meningitis virus

c)

Hidrosefalus

d)

Trauma kepala

64.

Cairan pleura dengan rasio protein cairan terhadap serum >0,5 mengindikasikan:

a)

Cairan transudatif

b)

Cairan eksudatif

c)

Cairan normal

d)

Cairan hemoragik

65.

Cairan tubuh yang bersifat transudatif biasanya disebabkan oleh:

a)

Infeksi bakteri

b)

Gangguan tekanan hidrostatik atau onkotik

c)

Keganasan

d)

Trauma

66.

Cairan serebrospinal dengan warna xantochromic menunjukkan:

a)

Kehadiran lipid

b)

Kehadiran bilirubin

c)

Kehadiran leukosit

d)

Kehadiran bakteri

67.

Cairan sinovial dengan viskositas rendah paling sering disebabkan oleh:

a)

Infeksi bakteri

b)

Trauma

c)

Rheumatoid arthritis

d)

Gout

68.

Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan dugaan TBC pleura akan menunjukkan:

a)

Cairan transudatif

b)

Peningkatan limfosit

c)

Kadar glukosa tinggi

d)

Cairan jernih

69.

an pleura pada pasien dengan dugaan TBC pleura akan menunjukkan:

a)

Cairan transudatif

b)

Peningkatan limfosit

c)

Kadar glukosa tinggi

d)

Cairan jernih

70.

Cairan asites eksudatif paling sering ditemukan pada:

a)

Gagal jantung

b)

Sirosis hati

c)

Keganasan intra-abdominal

d)

Sindrom nefrotik

71.

Pemeriksaan Rivalta negatif menunjukkan:

a)

Cairan eksudatif

b)

Cairan transudatif

c)

Cairan purulen

d)

Cairan hemoragik

72.

Cairan pleura yang disebabkan oleh gagal jantung memiliki karakteristik:

a)

Rasio LDH cairan terhadap serum >0,6

b)

Protein cairan pleura >3 g/dL

c)

Cairan jernih atau sedikit kuning

d)

Cairan purulen

73.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan limfosit dan kadar protein tinggi tanpa penurunan glukosa sering ditemukan pada:

a)

Meningitis bakteri

b)

Meningitis virus

c)

Meningitis jamur

d)

Meningitis tuberkulosis

74.

Pemeriksaan cairan pleura untuk deteksi awal keganasan sering menggunakan:

a)

Kultur bakteri

b)

Sitologi

c)

Analisis protein

d)

Pemeriksaan glukosa

75.

Cairan asites dengan kadar amilase tinggi sering ditemukan pada:

a)

Keganasan

b)

Peritonitis bakteri spontan

c)

Pankreatitis

d)

Sirosis hati

76.

Cairan sinovial pada rheumatoid arthritis biasanya menunjukkan:

a)

Dominasi neutrofil

b)

Dominasi limfosit

c)

Tidak ada sel inflamasi

d)

Kehadiran kristal urat

77.

Cairan pleura dengan kadar glukosa rendah sering ditemukan pada:

a)

Gagal jantung

b)

Empyema

c)

Sindrom nefrotik

d)

Sirosis hati

78.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan eosinofil biasanya disebabkan oleh:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi parasit

c)

Infeksi virus

d)

Trauma kepala

79.

Cairan tubuh yang normalnya memiliki pH sekitar 7,35-7,45 adalah:

a)

Cairan serebrospinal

b)

Cairan pleura

c)

Cairan sinovial

d)

Cairan saliva

80.

Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pewarnaan India Ink digunakan untuk mendeteksi:

a)

Bakteri Gram-positif

b)

Jamur Cryptococcus

c)

Virus

d)

Parasit

81.

Cairan pleura dengan kadar protein tinggi dan warna keruh sering disebabkan oleh:

a)

Gagal jantung

b)

Tuberkulosis pleura

c)

Sindrom nefrotik

d)

Trauma toraks

82.

Cairan sinovial dengan kristal urat monosodium ditemukan pada:

a)

Pseudogout

b)

Gout

c)

Rheumatoid arthritis

d)

Osteoartritis

83.

Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein >500 mg/dL sering menunjukkan:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi virus

c)

Infeksi jamur

d)

Trauma kepala

84.

Cairan asites yang menunjukkan neutrofil >250/μL biasanya disebabkan oleh:

a)

Peritonitis bakteri spontan

b)

Keganasan

c)

Sirosis hati tanpa infeksi

d)

Sindrom nefrotik

85.

Cairan pleura yang normal tidak mengandung:

a)

Sel mesotelial

b)

Protein

c)

Sel darah merah

d)

Glukosa

86.

Cairan tubuh dengan warna putih seperti susu sering disebabkan oleh:

a)

Empyema

b)

Chylothorax

c)

Tuberkulosis

d)

Hemotoraks

87.

Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis biasanya menunjukkan:

a)

Dominasi neutrofil

b)

Dominasi limfosit

c)

Kadar protein rendah

d)

Kadar glukosa normal

88.

Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis biasanya menunjukkan:

a)

Dominasi neutrofil

b)

Dominasi limfosit

c)

Kadar protein rendah

d)

Kadar glukosa normal

89.

Cairan tubuh dengan viskositas sangat rendah biasanya menunjukkan:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi virus

c)

Kehadiran lipid

d)

Kadar glukosa tinggi

90.

Cairan pleura yang menunjukkan kadar glukosa sangat rendah (<30 mg/dL) sering disebabkan oleh:

a)

Empyema

b)

Chylothorax

c)

Transudasi protein

d)

Hemotoraks

91.

Cairan serebrospinal yang berwarna merah jernih pada pemeriksaan awal biasanya menunjukkan:

a)

Hemolisis

b)

Xantochromia

c)

Trauma saat pungsi lumbal

d)

Kehadiran lipid

92.

Cairan sinovial pada osteoartritis biasanya memiliki karakteristik:

a)

Dominasi limfosit

b)

Dominasi neutrofil

c)

Sedikit sel inflamasi

d)

Cairan keruh

93.

Cairan asites dengan kadar SAAG (Serum Ascites Albumin Gradient) <1,1 g/dL menunjukkan:

a)

Gagal jantung

b)

Peritonitis tuberkulosis

c)

Sirosis hati

d)

Sindrom nefrotik

94.

Pemeriksaan Rivalt digunakan terutama untuk membedakan:

a)

Chylothorax dan pseudochylothorax

b)

Cairan eksudatif dan transudatif

c)

Cairan pleura dan cairan peritoneal

d)

Infeksi bakteri dan virus

95.

Cairan tubuh dengan kadar trigliserida sangat tinggi (>200 mg/dL) biasanya ditemukan pada:

a)

Hemotoraks

b)

Pseudochylothorax

c)

Chylothorax

d)

Empyema

96.

Cairan serebrospinal dengan kadar glukosa yang sangat rendah (<20 mg/dL) menunjukkan:

a)

Infeksi virus

b)

Infeksi bakteri

c)

Trauma kepala

d)

Gangguan metabolik

97.

Cairan pleura dengan dominasi limfosit biasanya menunjukkan:

a)

Infeksi bakteri akut

b)

Tuberkulosis pleura

c)

Chylothorax

d)

Empyema

98.

Cairan sinovial pada pseudogout biasanya mengandung:

a)

Kristal urat monosodium

b)

Kristal kalsium pirofosfat

c)

Kristal kolesterol

d)

Tidak ada kristal

99.

Cairan tubuh yang mengandung eritrosit >10.000/μL menunjukkan:

a)

Hemotoraks

b)

Empyema

c)

Chylothorax

d)

Tuberkulosis pleura

100.

Cairan asites dengan kadar glukosa rendah sering disebabkan oleh:

a)

Gagal jantung

b)

Peritonitis bakteri spontan

c)

Sirosis hati tanpa komplikasi

d)

Sindrom nefrotik

101.

Cairan pleura dengan pH <7,2 menunjukkan:

a)

Cairan normal

b)

Infeksi berat atau empiema

c)

Transudat

d)

Hemotoraks

102.

Cairan serebrospinal yang keruh biasanya menunjukkan:

a)

Infeksi bakteri

b)

Infeksi virus

c)

Infeksi parasit

d)

Trauma kepala

103.

Cairan tubuh yang normalnya mengandung kadar glukosa setara dengan 60-70% glukosa serum adalah:

a)

Cairan pleura

b)

Cairan serebrospinal

c)

Cairan sinovial

d)

Cairan saliva

104.

Cairan tubuh dengan warna hijau sering ditemukan pada:

a)

Infeksi bakteri Pseudomonas

b)

Hemotoraks

c)

Chylothorax

d)

Empyema