Font size
WorksheetsKuis Deteksi Infeksi Cairan Tubuh
Total questions: 104
Worksheet time: 52mins
Pemeriksaan apa yang paling tepat untuk mendeteksi infeksi pada cairan serebrospinal (CSF)?
Pemeriksaan kadar glukosa
Pemeriksaan sitologi
Kultur bakteri
Pemeriksaan kadar protein
Cairan pleura transudatif biasanya disebabkan oleh kondisi berikut, kecuali:
Gagal jantung
Sindrom nefrotik
Sirosis hati
Tuberkulosis pleura
Parameter apa yang digunakan untuk membedakan cairan pleura transudatif dari eksudatif?
Kadar glukosa
Rasio protein cairan pleura terhadap serum
Warna cairan
Jumlah sel darah merah
Pemeriksaan cairan sinovial untuk gout ditandai oleh temuan:
Kristal kalsium pirofosfat
Kristal urat monosodium
Peningkatan sel darah merah
Peningkatan protein
Penurunan kadar glukosa pada cairan serebrospinal (CSF) sering disebabkan oleh:
Infeksi virus
Infeksi bakteri
Infeksi parasit
Trauma kepala
Pemeriksaan cairan tubuh dengan metode sitologi digunakan untuk:
Mendeteksi infeksi bakteri
Mendeteksi infeksi virus
Mendeteksi sel-sel ganas
Mendeteksi kristal
Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan dugaan infeksi tuberkulosis akan menunjukkan:
Rasio protein cairan pleura terhadap serum <0,5
Rasio protein cairan pleura terhadap serum >0,5
Tidak ada peningkatan leukosit
Penurunan kadar protein
Cairan tubuh normal yang biasanya tidak mengandung sel darah merah adalah:
Cairan pleura
Cairan peritoneal
Cairan serebrospinal (CSF)
Cairan sinovial
Cairan asites eksudatif sering ditemukan pada:
Gagal jantung
Sindrom nefrotik
Keganasan intra-abdominal
Sirosis hati
Kadar LDH cairan pleura yang tinggi menunjukkan:
Cairan transudatif
Cairan eksudatif
Cairan normal
Tidak dapat ditentukan
Warna cairan pleura yang keruh biasanya menandakan:
Empiema
Gagal jantung
Sirosis hati
Hipoalbuminemia
Pemeriksaan kristal kalsium pirofosfat dilakukan pada kasus:
Gout
Pseudogout
Osteoartritis
Rheumatoid arthritis
Pemeriksaan Rivalt digunakan untuk:
Menilai adanya cairan transudatif atau eksudatif
Mendeteksi infeksi bakteri pada cairan pleura
Menganalisis komponen biokimia cairan tubuh
Mendeteksi keganasan pada cairan pleura
Cairan serebrospinal pada meningitis virus biasanya menunjukkan:
Peningkatan neutrofil
Peningkatan limfosit
Penurunan kadar glukosa
Peningkatan protein >500 mg/dL
Cairan sinovial dengan viskositas rendah biasanya ditemukan pada:
Gout
Osteoartritis
Infeksi bakteri
Trauma sendi
Tes Rivalta positif menunjukkan:
Cairan transudatif
Cairan eksudatif
Cairan normal
Cairan dengan dominasi eritrosit
Pemeriksaan cairan pleura pada pasien gagal jantung akan menunjukkan:
Kadar protein cairan pleura >3 g/dL
Rasio LDH cairan pleura terhadap serum <0,6
Cairan pleura keruh
Penin
Pemeriksaan cairan pleura pada pasien gagal jantung akan menunjukkan:
Kadar protein cairan pleura >3 g/dL
Rasio LDH cairan pleura terhadap serum <0,6
Cairan pleura keruh
Peningkatan jumlah neutrofil
Pemeriksaan cairan tubuh yang paling tepat untuk mendeteksi kanker adalah:
Analisis sitologi
Kultur bakteri
Pemeriksaan biokimia
Pemeriksaan mikroskopis biasa
Parameter yang paling menentukan infeksi bakteri pada cairan serebrospinal adalah:
Penurunan kadar glukosa
Peningkatan kadar protein
Peningkatan neutrofil
Hasil kultur positif
Cairan asites dengan kadar albumin yang rendah menunjukkan:
Sirosis hati
Gagal jantung
Keganasan
Sindrom nefrotik
Pemeriksaan mikroskopis cairan sinovial pada pasien gout biasanya menunjukkan:
Kristal biru birefringent dengan mikroskop polarisasi
Kristal hijau birefringent dengan mikroskop polarisasi
Kristal kuning birefringent dengan mikroskop polarisasi
Tidak ada kristal
Cairan pleura eksudatif biasanya ditandai oleh:
Protein cairan pleura <2,5 g/dL
Rasio protein cairan pleura terhadap serum <0,5
Rasio LDH cairan pleura terhadap serum >0,6
Warna cairan jernih
Cairan serebrospinal dengan peningkatan eosinofil dapat disebabkan oleh:
Infeksi virus
Infeksi parasit
Infeksi bakteri
Tumor otak
Cairan tubuh yang berwarna merah muda atau merah terang sering disebabkan oleh:
Kehadiran bilirubin
Kehadiran hemoglobin
Kehadiran lipid
Kehadiran protein
Cairan pleura yang berwarna seperti susu biasanya menunjukkan:
Hemotoraks
Empiema
Chylothorax
Transudasi protein
Cairan asites dengan penurunan kadar glukosa biasanya terjadi pada:
Peritonitis bakteri spontan
Sirosis hati
Gagal jantung
Sindrom nefrotik
Pemeriksaan kultur cairan tubuh paling sering dilakukan pada:
Cairan pleura
Cairan sinovial
Cairan serebrospinal
Semua cairan tubuh di atas
Cairan tubuh yang memiliki viskositas tinggi secara normal adalah:
Cairan pleura
Cairan sinovial
Cairan peritoneal
Cairan serebrospinal
Cairan tubuh yang normalnya bersifat steril adalah, kecuali:
Cairan serebrospinal
Cairan pleura
Cairan sinovial
Cairan saliva
Warna kuning pekat pada cairan pleura biasanya menunjukkan:
Chylothorax
Empiema
Hemotoraks
Kehadiran bilirubin
Cairan tubuh dengan dominasi neutrofil pada pemeriksaan mikroskopis sering ditemukan pada:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Infeksi parasit
Infeksi jamur
Rasio albumin serum dan cairan asites (SAAG) digunakan untuk:
Menilai keganasan pada asites
Membedakan asites transudatif dan eksudatif
Menentukan keberadaan infeksi pada asites
Menentukan sumber perdarahan pada asites
Cairan serebrospinal normal memiliki karakteristik berikut, kecuali:
Jernih
Glukosa lebih rendah dibandingkan serum
Protein rendah
Tidak ada leukosit
Cairan sinovial normal akan memiliki karakteristik berikut, kecuali:
Tidak berwarna atau sedikit kuning
Viskositas tinggi
Tidak mengandung sel darah merah
Mengandung bakteri
Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan empyema sering menunjukkan:
Cairan transudatif
pH cairan <7,2
Glukosa cairan >60 mg/dL
Warna jernih
Cairan pleura dengan dominasi limfosit paling mungkin ditemukan pada:
Tuberkulosis pleura
Gagal jantung
Pneumonia bakterial
Trauma toraks
Cairan tubuh dengan kadar kolesterol tinggi sering menunjukkan:
Hemotoraks
Pseudochylothorax
Chylothorax
Empyema
Pemeriksaan cairan tubuh dengan metode Gram stain berguna untuk:
Menilai jumlah protein
Menentukan jenis bakteri penyebab infeksi
Menilai viskositas cairan
Mendeteksi keberadaan kristal
Pemeriksaan glukosa cairan pleura penting untuk:
Menentukan status transudatif atau eksudatif
Mendeteksi adanya keganasan
Mendeteksi infeksi bakteri atau empyema
Menentukan kadar protein cairan
Cairan tubuh dengan kadar protein lebih dari 3 g/dL biasanya bersifat:
Eksudatif
Transudatif
Normal
Hipotonik
Cairan serebrospinal dengan dominasi monosit sering ditemukan pada:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Infeksi tuberkulosis
Infeksi parasit
Pemeriksaan sitologi cairan pleura biasanya dilakukan untuk:
Menilai tingkat infeksi
Menentukan adanya keganasan
Menilai kadar glukosa
Menilai viskositas cairan
Cairan tubuh dengan peningkatan kadar amilase sering ditemukan pada:
Peritonitis sekunder
Pankreatitis
Tuberkulosis peritoneal
Sirosis hati
Cairan tubuh dengan pH yang sangat rendah (<7,2) sering ditemukan pada:
Infeksi bakteri
Sirosis hati
Gagal jantung
Sindrom nefrotik
Cairan pleura transudatif biasanya berwarna:
Kuning pekat
Jernih atau sedikit kuning
Hijau
Keruh
Pemeriksaan trigliserida pada cairan pleura digunakan untuk mendeteksi:
Chylothorax
Empyema
Tuberkulosis pleura
Hemotoraks
Cairan asites pada sirosis hati biasanya menunjukkan:
Glukosa rendah
Kadar albumin cairan rendah
Rasio LDH cairan terhadap serum >0,6
Cairan eksudatif
Pemeriksaan LDH cairan tubuh berguna untuk:
Membedakan transudat dari eksudat
Menentukan kadar glukosa
Menilai infeksi jamur
Menentukan kadar protein
Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein dan penurunan glukosa paling mungkin disebabkan oleh:
Infeksi virus
Infeksi bakteri
Infeksi pa
Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein dan penurunan glukosa paling mungkin disebabkan oleh:
Infeksi virus
Infeksi bakteri
Infeksi parasit
Trauma kepala
Cairan pleura dengan hasil Rivalta positif menunjukkan:
Transudat
Eksudat
Cairan normal
Cairan hemoragik
Cairan tubuh dengan warna keruh atau purulen paling sering ditemukan pada:
Chylothorax
Empyema
Tuberkulosis
Gagal jantung
Pemeriksaan cytospin pada cairan tubuh digunakan untuk:
Menilai kadar glukosa
Mendeteksi sel-sel ganas
Menentukan pH cairan
Mengidentifikasi bakteri
Cairan tubuh dengan kadar glukosa rendah dan dominasi neutrofil menunjukkan:
Infeksi virus
Infeksi bakteri
Keganasan
Perdarahan
Cairan tubuh yang berwarna hijau sering disebabkan oleh:
Kehadiran bilirubin
Infeksi Pseudomonas
Kehadiran hemoglobin
Kehadiran lipid
Cairan serebrospinal pada meningitis jamur biasanya menunjukkan:
Glukosa normal
Peningkatan neutrofil
Peningkatan limfosit
Penurunan protein
Cairan asites pada peritonitis bakteri spontan (PBS) biasanya memiliki:
Neutrofil <250/μL
Neutrofil >250/μL
Glukosa normal
Kadar albumin cairan tinggi
Cairan pleura dengan warna merah terang menunjukkan:
Hemotoraks
Empyema
Chylothorax
Infeksi tuberkulosis
Pemeriksaan apa yang paling tepat untuk mendeteksi adanya infeksi jamur pada cairan serebrospinal?
Kultur jamur
Gram stain
Sitologi
Pemeriksaan protein
Cairan tubuh dengan kadar trigliserida >110 mg/dL mengindikasikan:
Pseudochylothorax
Chylothorax
Empyema
Transudasi protein
Cairan tubuh yang berwarna kuning pekat sering menunjukkan adanya:
Lipid
Bilirubin
Hemoglobin
Protein tinggi
Cairan serebrospinal dengan peningkatan tekanan saat pungsi lumbal sering ditemukan pada:
Meningitis bakteri
Meningitis virus
Hidrosefalus
Trauma kepala
Cairan pleura dengan rasio protein cairan terhadap serum >0,5 mengindikasikan:
Cairan transudatif
Cairan eksudatif
Cairan normal
Cairan hemoragik
Cairan tubuh yang bersifat transudatif biasanya disebabkan oleh:
Infeksi bakteri
Gangguan tekanan hidrostatik atau onkotik
Keganasan
Trauma
Cairan serebrospinal dengan warna xantochromic menunjukkan:
Kehadiran lipid
Kehadiran bilirubin
Kehadiran leukosit
Kehadiran bakteri
Cairan sinovial dengan viskositas rendah paling sering disebabkan oleh:
Infeksi bakteri
Trauma
Rheumatoid arthritis
Gout
Pemeriksaan cairan pleura pada pasien dengan dugaan TBC pleura akan menunjukkan:
Cairan transudatif
Peningkatan limfosit
Kadar glukosa tinggi
Cairan jernih
an pleura pada pasien dengan dugaan TBC pleura akan menunjukkan:
Cairan transudatif
Peningkatan limfosit
Kadar glukosa tinggi
Cairan jernih
Cairan asites eksudatif paling sering ditemukan pada:
Gagal jantung
Sirosis hati
Keganasan intra-abdominal
Sindrom nefrotik
Pemeriksaan Rivalta negatif menunjukkan:
Cairan eksudatif
Cairan transudatif
Cairan purulen
Cairan hemoragik
Cairan pleura yang disebabkan oleh gagal jantung memiliki karakteristik:
Rasio LDH cairan terhadap serum >0,6
Protein cairan pleura >3 g/dL
Cairan jernih atau sedikit kuning
Cairan purulen
Cairan serebrospinal dengan peningkatan limfosit dan kadar protein tinggi tanpa penurunan glukosa sering ditemukan pada:
Meningitis bakteri
Meningitis virus
Meningitis jamur
Meningitis tuberkulosis
Pemeriksaan cairan pleura untuk deteksi awal keganasan sering menggunakan:
Kultur bakteri
Sitologi
Analisis protein
Pemeriksaan glukosa
Cairan asites dengan kadar amilase tinggi sering ditemukan pada:
Keganasan
Peritonitis bakteri spontan
Pankreatitis
Sirosis hati
Cairan sinovial pada rheumatoid arthritis biasanya menunjukkan:
Dominasi neutrofil
Dominasi limfosit
Tidak ada sel inflamasi
Kehadiran kristal urat
Cairan pleura dengan kadar glukosa rendah sering ditemukan pada:
Gagal jantung
Empyema
Sindrom nefrotik
Sirosis hati
Cairan serebrospinal dengan peningkatan eosinofil biasanya disebabkan oleh:
Infeksi bakteri
Infeksi parasit
Infeksi virus
Trauma kepala
Cairan tubuh yang normalnya memiliki pH sekitar 7,35-7,45 adalah:
Cairan serebrospinal
Cairan pleura
Cairan sinovial
Cairan saliva
Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pewarnaan India Ink digunakan untuk mendeteksi:
Bakteri Gram-positif
Jamur Cryptococcus
Virus
Parasit
Cairan pleura dengan kadar protein tinggi dan warna keruh sering disebabkan oleh:
Gagal jantung
Tuberkulosis pleura
Sindrom nefrotik
Trauma toraks
Cairan sinovial dengan kristal urat monosodium ditemukan pada:
Pseudogout
Gout
Rheumatoid arthritis
Osteoartritis
Cairan serebrospinal dengan peningkatan protein >500 mg/dL sering menunjukkan:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Infeksi jamur
Trauma kepala
Cairan asites yang menunjukkan neutrofil >250/μL biasanya disebabkan oleh:
Peritonitis bakteri spontan
Keganasan
Sirosis hati tanpa infeksi
Sindrom nefrotik
Cairan pleura yang normal tidak mengandung:
Sel mesotelial
Protein
Sel darah merah
Glukosa
Cairan tubuh dengan warna putih seperti susu sering disebabkan oleh:
Empyema
Chylothorax
Tuberkulosis
Hemotoraks
Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis biasanya menunjukkan:
Dominasi neutrofil
Dominasi limfosit
Kadar protein rendah
Kadar glukosa normal
Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis biasanya menunjukkan:
Dominasi neutrofil
Dominasi limfosit
Kadar protein rendah
Kadar glukosa normal
Cairan tubuh dengan viskositas sangat rendah biasanya menunjukkan:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Kehadiran lipid
Kadar glukosa tinggi
Cairan pleura yang menunjukkan kadar glukosa sangat rendah (<30 mg/dL) sering disebabkan oleh:
Empyema
Chylothorax
Transudasi protein
Hemotoraks
Cairan serebrospinal yang berwarna merah jernih pada pemeriksaan awal biasanya menunjukkan:
Hemolisis
Xantochromia
Trauma saat pungsi lumbal
Kehadiran lipid
Cairan sinovial pada osteoartritis biasanya memiliki karakteristik:
Dominasi limfosit
Dominasi neutrofil
Sedikit sel inflamasi
Cairan keruh
Cairan asites dengan kadar SAAG (Serum Ascites Albumin Gradient) <1,1 g/dL menunjukkan:
Gagal jantung
Peritonitis tuberkulosis
Sirosis hati
Sindrom nefrotik
Pemeriksaan Rivalt digunakan terutama untuk membedakan:
Chylothorax dan pseudochylothorax
Cairan eksudatif dan transudatif
Cairan pleura dan cairan peritoneal
Infeksi bakteri dan virus
Cairan tubuh dengan kadar trigliserida sangat tinggi (>200 mg/dL) biasanya ditemukan pada:
Hemotoraks
Pseudochylothorax
Chylothorax
Empyema
Cairan serebrospinal dengan kadar glukosa yang sangat rendah (<20 mg/dL) menunjukkan:
Infeksi virus
Infeksi bakteri
Trauma kepala
Gangguan metabolik
Cairan pleura dengan dominasi limfosit biasanya menunjukkan:
Infeksi bakteri akut
Tuberkulosis pleura
Chylothorax
Empyema
Cairan sinovial pada pseudogout biasanya mengandung:
Kristal urat monosodium
Kristal kalsium pirofosfat
Kristal kolesterol
Tidak ada kristal
Cairan tubuh yang mengandung eritrosit >10.000/μL menunjukkan:
Hemotoraks
Empyema
Chylothorax
Tuberkulosis pleura
Cairan asites dengan kadar glukosa rendah sering disebabkan oleh:
Gagal jantung
Peritonitis bakteri spontan
Sirosis hati tanpa komplikasi
Sindrom nefrotik
Cairan pleura dengan pH <7,2 menunjukkan:
Cairan normal
Infeksi berat atau empiema
Transudat
Hemotoraks
Cairan serebrospinal yang keruh biasanya menunjukkan:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Infeksi parasit
Trauma kepala
Cairan tubuh yang normalnya mengandung kadar glukosa setara dengan 60-70% glukosa serum adalah:
Cairan pleura
Cairan serebrospinal
Cairan sinovial
Cairan saliva
Cairan tubuh dengan warna hijau sering ditemukan pada:
Infeksi bakteri Pseudomonas
Hemotoraks
Chylothorax
Empyema
