wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS ILMU SHARF

Total questions: 20

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

Dalam mempelajari Bahasa Arab, penting untuk mendalami tata bahasa Arab, termasuk ilmu Sharf. Ilmu ini memungkinkan seseorang memahami perubahan bentuk kata. Contoh penerapan ilmu Sharf adalah pada kata kerja فعل, yang dapat berubah menjadi يفعل, فعل, فاعل, مفعول, افعل, dan لا تفعل.
Apa manfaat utama mempelajari ilmu Sharf dalam pembelajaran Bahasa Arab?

 

a)

Ilmu Sharf tidak mempengaruhi kemampuan berbicara dalam Bahasa Arab.

b)

Mempelajari Sharf hanya penting untuk pelajar tingkat lanjut.

c)

Penting untuk memahami perubahan bentuk kata dan membentuk kalimat yang benar dalam Bahasa Arab.

d)

Ilmu Sharf tidak berhubungan dengan tata bahasa Arab.

2.

Dalam klasifikasi Fi’il, terdapat dua jenis, yaitu Tsulasi dan Ruba’i. Fi’il Tsulasi sendiri dibagi menjadi dua macam, yakni Fi’il Tsulasi Mujarrod dan Fi’il Tsulasi Mazid.
Apa yang membedakan Fi’il Tsulasi Mujarrod dengan Fi’il Tsulasi Mazid?

a)

Keduanya memiliki tambahan huruf yang sama.

b)

Fi’il Tsulasi Mujarrod tidak memiliki tambahan huruf, sedangkan Fi’il Mazid memiliki tambahan huruf.

c)

Fi’il Tsulasi Mujarrod memiliki tambahan huruf, sedangkan Fi’il Mazid tidak memiliki tambahan huruf.

d)

Fi’il Tsulasi Mujarrod dan Fi’il Mazid adalah istilah yang sama

3.

Macam-Macam Fi’il terbagi menjadi 3:
Fi’il Madhi, menunjukkan arti yang sudah berlalu. Contoh: Dia sudah berkata: قال Fi’il Mudhari’, menunjukkan arti yang sedang atau akan terjadi. Contoh: Dia sedang berkata: يقول, dia akan berkata: سيقول Fi’il Amar, menunjukkan arti perintah. Contoh: Belajarlah: تَعَلَّمْ, berkatalah: قُلْ

Apa yang membedakan Fi’il Mudhari’ dengan Fi’il Amar?

a)

Fi’il Mudhari’ menunjukkan tindakan yang sedang berlangsung atau akan terjadi, sedangkan Fi’il Amar digunakan untuk memberikan perintah.

b)

Fi’il Mudhari’ digunakan untuk memberikan perintah, sedangkan Fi’il Amar menunjukkan tindakan yang akan datang.

c)

Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar memiliki fungsi yang sama dalam kalimat.

d)

Fi’il Mudhari’ menunjukkan tindakan yang telah selesai, sedangkan Fi’il Amar menunjukkan tindakan yang sedang berlangsung.

 

4.

Isim ditinjau dari ketentuannya ada 7 macam, yaitu:
Isim Nakirah النَّكِرَةُ كُلُّ إِسْمٍ شَائِعٍ فِى جِنْسِهِ لَايَحْتَصُّ بِهِ وَاحِدٌ دُوْنَ أخِرِ Isim Ma’rifat الإسم المعرفة هو كل اسم يدل على معيَّن Isim Alam Isim alam ialah isim yang digunakan untuk nama dari sesuatu yang lebih khusus, tertentu, terbatas dan mutlak hanya kepada yang berhak. Isim Isyarat Isim isyarat ialah isim yang menunjuk kepada manusia, binatang, dan benda dengan cara menunjuk kepada fisiknya. Di antaranya: هذا, هذه, هذان, هتان, هؤلاء, ذاك........ الخ. Isim Maushul Isim maushul ialah isim mabni yang berada ditengah-tengah jumlah yang disertai dengan kalimat maushul (penghubung). Munada Munada ialah Isim nakiroh yang kemudian berhukum makrifat ketika kemasukan huruf nida’.
Apa perbedaan antara Isim Isyarat dan Munada?

a)

Isim Isyarat dan Munada adalah sinonim yang sama.

b)

Isim Isyarat menunjukkan sesuatu, sedangkan Munada digunakan untuk memanggil.

c)

Isim Isyarat hanya digunakan dalam bahasa Inggris, sedangkan Munada dalam bahasa Arab.

d)

Isim Isyarat digunakan untuk memanggil, sedangkan Munada menunjukkan sesuatu.

5.

Kata objek dalam bahasa Arab dapat disebut dengan maf’ul bih. Adapun pengertian maf’ul bih sendiri adalah: Isim yang dibaca nashob dan dikenai pekerjaan langsung oleh fa’il tanpa adanya perantara, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif). Contohnya: فهمت الدرس (kalam mutsbat) dan لم أفهم الدرس (kalam manfi).
Apa perbedaan antara Fi’il Lazim dan Fi’il Muta’addi?

a)

Apa perbedaan utama antara Fi’il Lazim dan Fi’il Muta’addi?

b)

Keduanya memerlukan objek yang sama.

c)

Fi’il Lazim tidak memerlukan objek, Fi’il Muta’addi memerlukan objek

d)

Fi’il Lazim memerlukan objek, Fi’il Muta’addi tidak memerlukan objek.

 

6.

Pengertian Fi’il Mabni Ma’lum Fi’il Ma’lum الفعل المعلوم (kata kerja aktif), Fi’il Ma’lum adalah fi’il yang disebutkan fa’ilnya. Para ulama’ memberi pengertian pada fi’il yang mabni ma’lum/fa’il dengan 2 (dua) pengertian, yakni: مَاكَانَ اَوَّلُهُ مَفْتُوْحًا, yaitu: setiap fi’il madli yang huruf pertamanya dibaca fathah. مَاكَانَ اَوَّلُهُ مُتَحَرِّكٍ مِنْهُ مَفْتُوْحًا, yaitu: setiap fi’il madli yang huruf pertamanya huruf yang berharokat (sekalipun bukan huruf awal) berupa harokat fathah.

Apa perbedaan antara Fi’il Mabni Ma’lum dan Fi’il Mabni Majhul?

a)

Fi’il Mabni Ma’lum menunjukkan subjek yang menerima tindakan, sedangkan Fi’il Mabni Majhul menunjukkan subjek yang melakukan tindakan.

b)

Keduanya menunjukkan subjek yang melakukan tindakan, tetapi dalam konteks yang berbeda.

c)

Fi’il Mabni Ma’lum dan Fi’il Mabni Majhul tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

d)

Fi’il Mabni Ma’lum menunjukkan subjek yang melakukan tindakan, sedangkan Fi’il Mabni Majhul menunjukkan subjek yang menerima tindakan.

 

7.

Arti Sharf secara bahasa memiliki arti perubahan, Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman : وتصريف الرياح (البقرة 164) Artinya: Pengisaran angin (Al-Baqarah: 164) Tashrif disini memiliki arti perubahan angin dari satu kondisi ke kondisi lain, dari satu arah ke arah yang lain.
Sedangkan secara istilah, Ilmu sharf adalah ilmu yang menerangkan tata cara merubah suatu kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan makna yang berbeda-beda, contohnya: merubah kata كتب (telah menulis) menjadi يكتب (sedang menulis), كاتب (penulis), dan lain-lain.
Apa pengertian Ilmu Sharf dalam pembelajaran Bahasa Arab?

a)
Ilmu Sharf adalah ilmu tentang tata bahasa Inggris.
b)
Ilmu Sharf adalah ilmu yang menerangkan tata cara merubah suatu kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam Bahasa Arab.
c)
Ilmu Sharf menjelaskan cara menulis kalimat dalam Bahasa Arab.
d)
Ilmu Sharf adalah ilmu yang membahas sejarah Bahasa Arab.
8.

Kalimah isim memiliki berbagai bentuk, termasuk isim shahih akhir dan isim maqshur. Isim shahih akhir memiliki huruf terakhir yang tidak berupa huruf illat dan tidak berupa alif mamdudah, seperti (مَرْأَةٌ), (كِتاَبٌ), dan (قَلَمٌ). Di sisi lain, isim maqshur memiliki huruf terakhir yang berupa alif lazimah, baik dalam bentuk alif atau ya’, seperti (العَصَا) atau (مُوسَى).
Adapun isim mamdud adalah isim mu’rab yang huruf terakhirnya berupa hamzah dan sebelum hamzah itu terdapat alif zaidah, contohnya (سَماءُ) dan (صَحْرَاءُ).
Apa ciri-ciri isim maqshur?

a)
Huruf terakhir berupa hamzah.
b)
Huruf terakhir berupa alif mamdudah.
c)
Huruf terakhir berupa alif lazimah, baik dalam bentuk alif atau ya'.
d)
Huruf terakhir berupa huruf illat.
9.

Isim mamdud terbagi menjadi dua, yaitu qiyasi dan sama'i.
1. Isim Mamdud Qiyasi: Isim mamdud qiyasi memiliki beberapa macam, seperti masdar fi'il mazid yang huruf pertamanya berupa hamzah, contohnya (آتَى إِيْتاَءً), dan lafal yang menunjukkan pada suara, yaitu dari masdar yang mengikuti wazan (فَعَلَ يَفْعُلُ), seperti (رَغاَ الْبَعِيْرُ يَرْغُو رَغاَءً).

 2. Isim Mamdud Sama’i. Isim mamdud yang sama’i adalah isim mamdud selain ketujuh tempat di atas, yaitu dari isim yang telah datang berupa isim mamdud, sehingga lafal itu dujaga dan tidak boleh diqiyaskan, seperti (فَتاَءُ), (سَناَءُ), (غَناَءُ) dan (ثَرَاءُ).
Apakah isim mamdud qiyasi selalu diakhiri dengan huruf tertentu?

a)

Isim mamdud qiyasi dapat diakhiri dengan berbagai huruf tanpa batasan.

b)

Ya, isim mamdud qiyasi selalu diakhiri dengan huruf tertentu.

c)

Ya, isim mamdud qiyasi diakhiri dengan huruf vokal saja.

d)

Tidak, isim mamdud qiyasi tidak memiliki akhiran khusus.

10.

Isim Nakirah ialah setiap isim yang jenisnya bersifat umum yang tidak menentukan sesuatu perkara dan lainnya. Dalam versi lain, isim nakirah ialah isim yang tidak menunjuk atas sesuatu, tidak tentu, kabur, jenisnya bersifat umum, seperti lafadz: إنسان, أسد, زهرة.
Definisi isim nakirah yang paling mudah dipahami ialah setiap isim yang layak dimasuki alif dan lam, seperti lafadz رَجُلٌ menjadi اَلرَّجُلُ, إِمْرَأَةٌ menjadi اَلمَرْأَةُ. Atau setiap isim yang menduduki tempat isim yang layak dimasuki alif dan lam, seperti lafadz ذُوْ yang bermakna memiliki. Lafadz ذُوْ yang bermakna memiliki adalah isim nakirah yang tidak menerima al, tetapi menempati tempat lafadz صاَحِبٌ = pemilik, sedangkan lafadz صاَحِبٌ dapat menerima al, sehingga menjadi الصَّاحِبُ.
Apa yang dimaksud dengan isim nakirah?

a)
Isim nakirah hanya merujuk kepada benda mati.
b)
Isim nakirah adalah isim yang bersifat umum dan tidak spesifik.
c)
Isim nakirah adalah isim yang spesifik dan jelas.
d)
Isim nakirah adalah isim yang selalu diawali dengan huruf kapital.
11.

Menurut jenisnya, kata benda dalam bahasa Arab dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu isim mudzakar (jenis laki-laki) dan isim muannats (jenis perempuan).
Apakah barang atau benda yang tidak memiliki kehidupan (benda mati) dapat dimasukkan ke dalam jenis mudzakar?

a)
Tidak, benda mati hanya termasuk dalam jenis muannats.
b)
Ya, semua benda mati adalah jenis perempuan.
c)
Tidak, benda mati tidak memiliki jenis dalam bahasa Arab.
d)
Ya, benda mati dapat dimasukkan ke dalam jenis mudzakar.
12.

Di dalam fi’il muta’addi, antara fa’il dan maf’ul bih saling terkait, sebab yang menerima akibat dari perbuatan fa’il adalah maf’ul bih. Sedangkan kedudukan fi’il hanya menjadi pengantarnya saja. Dengan demikian yang dimaksud dengan fi’il muta’addi adalah fi’il yang membutuhkan adanya objek/mafuul, agar dapat dipahami arti maupun maksudnya secara utuh. Sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kata kerja transitif. Misalnya: فَهِمَ زَيْدٌ الدَّرْسَ (Zaid memahami pelajaran). Adapun hukum fi’il muta’addi adalah menashobkan terhadap maf’ul bih yg tidak menjadi naibul fa’il.

Apa yang dimaksud dengan fi'il muta'addi dalam konteks bahasa Indonesia?

a)
Fi'il muta'addi adalah kata kerja intransitif yang tidak memerlukan objek.
b)
Fi'il muta'addi adalah kata kerja transitif yang membutuhkan objek untuk memahami maknanya.
c)
Fi'il muta'addi adalah kata kerja yang hanya memiliki subjek tanpa objek.
d)
Fi'il muta'addi adalah istilah untuk kata benda dalam bahasa Indonesia.
13.

Fi'il Majhul di bentuk dari Fi’il ma’lum dengan perubahan sebagai berikut:
Huruf pertama menjadi dhammah.Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berharokat kasrah untuk fi’il madhy dan menjadi berharokat fathah untuk fi’il mudhari.

Apa yang dimaksud dengan majhul dalam konteks perubahan Fi’il ma’lum?

a)
Fi'il Majhul adalah bentuk kata kerja yang tidak mengalami perubahan.
b)
Fi'il Majhul adalah bentuk kata kerja yang menyebutkan pelakunya.
c)
Fi'il Majhul adalah bentuk kata kerja yang tidak menyebutkan pelakunya.
d)
Fi'il Majhul adalah bentuk kata kerja yang hanya digunakan dalam fi'il mudhari.
14.

Fi’il ruba’i mazid adalah kalimah yang fi’il madzinya memuat huruf lebih dari empat dengan perincian yang empat berupa huruf asal sedang yang lain berupa huruf tambahan. Secara garis besar fi’il ruba’i dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Fi’il ruba’i mazid khumasi Kalimah yang fi’il madzinya terdiri dari lima huruf yang empat berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf tambahan. Contoh: تَجَلْبَبَ
2. Fi’il ruba’i mazid sudasi Kalimah yang fi’il madzinya memuat 6 huruf, yang empat berupa huruf asal dan yang dua berupa huruf tambahan.
Apa yang membedakan Fi’il ruba’i mazid khumasi dengan Fi’il ruba’i mazid sudasi?

a)
Fi’il ruba’i mazid khumasi dan sudasi keduanya memiliki 5 huruf.
b)
Fi’il ruba’i mazid khumasi memiliki 5 huruf, sedangkan fi’il ruba’i mazid sudasi memiliki 6 huruf.
c)
Fi’il ruba’i mazid khumasi memiliki 4 huruf, sedangkan fi’il ruba’i mazid sudasi memiliki 5 huruf.
d)
Fi’il ruba’i mazid khumasi memiliki 6 huruf, sedangkan fi’il ruba’i mazid sudasi memiliki 7 huruf.
15.

Naibul fa’il merupakan isim marfu’ yang letaknya setelah fi’il mabni majhul dan berfungsi menempati posisinya fa’il yang dihilangkan. Adapun alasan dihilangkannya adalah sudah dapat dipahami, tidak diketahui, ataupun kuatir dengannya. Misalnya : العَدُوُّ أصله هَزَمَ جَيْشُنَا العَدُوَّ هُزِمَ
Apa yang dimaksud dengan naibul fa’il?

a)
Naibul fa’il adalah pengganti fa’il yang dihilangkan dalam kalimat pasif.
b)
Naibul fa’il adalah subjek utama dalam kalimat aktif.
c)
Naibul fa’il adalah kata kerja yang tidak terikat.
d)
Naibul fa’il adalah istilah untuk kalimat yang tidak memiliki subjek.
16.

Perhatikan percakapan berikut!

Ahmad: هَلْ قَرَأْتَ الكُتُبَ الجَدِيدَةَ فِي المَكْتَبَةِ؟

Fatimah: نَعَمْ، قَرَأْتُ ثَلاَثَةَ كُتُبٍ عَنِ التَّارِيْخِ الإِسْلاَمِيِّ

Kata yang bergaris bawah (كُتُبٍ) merupakan bentuk jamak taksir dari kata كِتَابٌ. Mengapa bentuk jamak ini disebut jamak taksir?

a)

Karena bentuknya berubah dari kata tunggal dan jumlahnya lebih dari dua

b)

Karena jumlahnya selalu pasti tiga buah dan tidak bisa lebih dari itu

c)

Karena selalu menggunakan tambahan huruf ب dan ت di akhir kata

d)

Karena hanya digunakan untuk menyebutkan benda mati saja, bukan makhluk

17.

Seorang guru bahasa Arab menuliskan beberapa kata di papan tulis:

  1. رِجَالٌ ← رَجُلٌ

  2. طُلاَّبٌ ← طَالِبٌ

  3. أَقْلاَمٌ ← قَلَمٌ

  4. بُيُوتٌ ← بَيْتٌ

Berdasarkan pola perubahan kata di atas, kesimpulan yang PALING TEPAT tentang jamak taksir adalah...

a)

Semua kata benda dalam bahasa Arab selalu membentuk jamak dengan pola yang sama

b)

Jamak taksir tidak memiliki pola khusus dan harus dihafal satu per satu agar memahami bentuk wazan dan perubahan kata dari masing-masing

c)

Jamak taksir memiliki berbagai pola (wazan) dan kata tunggalnya mengalami perubahan bentuk yang tidak dapat diprediksi dengan aturan sederhana

d)

Jamak taksir hanya berlaku untuk kata benda yang terdiri dari tiga huruf saja

18.

Seorang ustadz menulis pola tashghir di papan tulis: :

( lihat tabel)

Berdasarkan tabel di atas, kesimpulan yang PALING TEPAT mengenai pola pembentukan tashghir adalah...

a)

Semua kata dalam bahasa Arab dibentuk dengan menambahkan huruf ya sukun

b)

Pola tashghir bergantung pada jumlah huruf kata asli dan strukturnya

c)

Tashghir hanya dapat dibentuk dari kata benda yang berasal dari bahasa Arab

d)

Setiap kata tashghir selalu menggunakan dhammah di huruf pertamanya saja

19.

Perhatikan dialog antara ibu dan anak berikut!

Ibu: يَا بُنَيَّ، أَيْنَ كُتَيِّبُكَ الصَّغِيرُ؟

Anak: هُوَ فِي حُجَيْرَتِي يَا أُمِّي

Kata بُنَيَّ dan كُتَيِّب dalam dialog di atas merupakan bentuk tashghir. Apa fungsi utama penggunaan tashghir dalam konteks percakapan tersebut?

a)

Untuk menunjukkan bahwa benda atau orang tersebut berukuran sangat besar sekali

b)

Untuk menyatakan rasa sayang, kelembutan atau merendahkan sesuatu yang kecil

c)

Untuk membuat kata menjadi lebih panjang dan rumit dalam pengucapannya

d)

Untuk mengubah kata benda menjadi kata kerja dalam bahasa Arab modern

20.

Perhatikan percakapan berikut!

Ali: مِنْ أَيْنَ أَنْتَ يَا أَحْمَدُ؟

Ahmad: أَنَا إِنْدُونِيسِيٌّ مِنْ جَاوَى الشَّرْقِيَّةِ

Ali: مَاشَاءَ اللهُ، أَنَا مِصْرِيٌّ مِنَ القَاهِرَةِ

Kata إِنْدُونِيسِيٌّ dan مِصْرِيٌّ dalam dialog di atas merupakan bentuk nasab. Apa fungsi utama penggunaan nasab dalam konteks tersebut?

a)

Untuk menyatakan penisbatan atau penghubungan seseorang kepada tempat asal

b)

Untuk menunjukkan kepemilikan seseorang terhadap benda atau harta yang dimiliki

c)

Untuk membuat kata menjadi bentuk jamak dari kata tunggal dalam bahasa Arab

d)

Untuk mengubah kata benda menjadi kata sifat yang menunjukkan warna tertentu