NEW
Font size
WorksheetsFIX UAS DINAMIKA
Total questions: 79
Worksheet time: 1hrs 19mins
Apa yang dimaksud dengan etika profesi fisioterapi?
Hanya mengikuti peraturan pemerintah
Prinsip moral yang mengatur perilaku fisioterapis
Hanya berkaitan dengan teknik fisioterapi
Tidak ada hubungannya dengan praktik klinis
Salah satu prinsip dasar profesionalisme dalam fisioterapi adalah:
Mengutamakan keuntungan pribadi
Mematuhi kode etik profesi
Melakukan terapi tanpa izin pasien
Mengabaikan keselamatan pasien
Apa tujuan utama dari keselamatan pasien dalam praktik fisioterapi?
Meningkatkan profit rumah sakit
Mengurangi biaya perawatan
Melindungi pasien dari cedera dan komplikasi
Meningkatkan jumlah pasien
Elemen penting dalam menjaga keselamatan pasien adalah:
Meminimalkan interaksi dengan pasien
Mengabaikan keluhan pasien
Komunikasi yang efektif dan jelas
Menggunakan alat yang tidak terstandarisasi
Dalam konteks etika, apa yang harus dilakukan fisioterapis jika menghadapi dilema moral?
Mengabaikan masalah tersebut
Meminta pendapat rekan sejawat atau atasan
Bertindak sesuai keinginan pribadi
Melaporkan ke pihak berwenang tanpa pertimbangan
Apa yang dimaksud dengan 'informed consent' dalam praktik fisioterapi?
Persetujuan yang diberikan tanpa penjelasan
Persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan informasi yang cukup tentang prosedur
Persetujuan yang diberikan secara lisan saja
Tidak perlu mendapatkan persetujuan dari pasien
Mengapa penting bagi fisioterapis untuk memahami hukum kesehatan?
Agar bisa menghindari tanggung jawab hukum
Untuk memberikan pelayanan sesuai dengan peraturan yang berlaku
Untuk meningkatkan pendapatan pribadi
Agar bisa beroperasi tanpa pengawasan
Apa yang menjadi fokus utama dalam pendekatan patient-centered care?
Kepentingan rumah sakit
Kesejahteraan dan kebutuhan pasien
Keuntungan finansial dari terapi
Kemandekan proses terapi
Salah satu cara untuk meningkatkan keselamatan pasien adalah dengan:
Mengabaikan protokol keselamatan
Melakukan evaluasi risiko secara rutin
Mengurangi komunikasi antar tim medis
Menyimpan catatan terapi secara sembarangan
Apa yang harus dilakukan fisioterapis sebelum memulai terapi pada pasien baru?
Langsung melakukan terapi tanpa pemeriksaan awal
Melakukan penilaian menyeluruh dan mendapatkan persetujuan pasien
Hanya melakukan wawancara singkat saja
Tidak perlu melakukan penilaian sama sekali
Apa dampak dari pelanggaran etika dalam praktik fisioterapi?
Meningkatnya kepercayaan pasien
Tindakan disipliner atau hukum terhadap fisioterapis
Tidak ada dampak sama sekali
Meningkatnya kepuasan kerja
Keselamatan pasien dapat ditingkatkan melalui:
Pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan
Mengurangi interaksi dengan pasien
Penanganan kasus tanpa prosedur standar
Penggunaan alat yang tidak
Salah satu aspek penting dari komunikasi efektif dalam fisioterapi adalah:
Menggunakan istilah medis yang kompleks
Mendengarkan keluhan dan kebutuhan pasien
Berbicara cepat agar waktu efisien
Tidak memberikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya
Apa yang dimaksud dengan 'accountability' dalam konteks profesionalisme fisioterapi?
Menyalahkan orang lain atas kesalahan
Bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan klinis
Menghindari tanggung jawab
Tidak melaporkan kesalahan kepada atasan
Dalam hal pengelolaan risiko, apa langkah pertama yang harus diambil oleh fisioterapis?
Mengabaikan potensi risiko
Melakukan identifikasi risiko secara menyeluruh
Menyusun laporan tanpa analisis risiko
Mengandalkan pengalaman pribadi saja
Mengapa penting bagi fisioterapis untuk menghormati kerahasiaan informasi pasien?
Agar tidak ada tindakan hukum terhadap mereka
Untuk membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan
Karena itu adalah prosedur administratif semata
Karena tidak ada konsekuensi jika dilanggar
Apa tindakan yang tepat jika seorang pasien menolak terapi?
Memaksa pasien untuk menjalani terapi
Mencatat penolakan dan menjelaskan konsekuensi dari penolakan tersebut
Mengabaikan keputusan pasien dan tetap melakukan terapi
Menyalahkan pasien atas kemunduran kondisi mereka
Fisioterapis harus memiliki sikap profesionalisme dalam hal berikut, kecuali:
Menjaga integritas pribadi dan profesional
Mematuhi kode etik profesi
Menyebarkan informasi palsu untuk keuntungan pribadi
Berkomunikasi secara jelas dengan tim medis lainnya
Apa tujuan dari program pelatihan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan?
Meningkatkan biaya operasional rumah sakit
Mengurangi insiden cedera dan meningkatkan kualitas perawatan
Menyediakan pelatihan bagi staf hanya untuk kepentingan administratif
Meningkatkan jumlah kunjungan dokter ke rumah sakit
Apa yang harus dilakukan fisioterapis jika mereka melihat rekan sejawat melakukan praktik yang tidak etis?
Mengabaikannya
Melaporkan kepada atasan atau lembaga berwenang
Menghadapi rekan tersebut secara langsung
Mencari keuntungan dari situasi tersebut
Salah satu komponen dari keselamatan pasien adalah:
Penggunaan alat yang tidak terstandarisasi
Pemberian informasi yang jelas kepada pasien
Mengabaikan keluhan pasien
Mengurangi waktu perawatan
Apa yang dimaksud dengan 'kode etik' dalam profesi fisioterapi?
Aturan yang hanya berlaku untuk dokter
Pedoman moral dan profesional untuk fisioterapis
Hanya berkaitan dengan administrasi rumah sakit
Tidak ada relevansinya dengan praktik klinis
Mengapa dokumentasi terapi penting dalam praktik fisioterapi?
Untuk memenuhi persyaratan administratif saja
Sebagai bukti tindakan dan pertanggungjawaban terhadap pasien
Agar bisa menghindari audit
Untuk menambah beban kerja fisioterapis
Salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi antara fisioterapis dan pasien adalah dengan:
Menggunakan bahasa medis yang kompleks
Mendengarkan dengan aktif dan memberikan umpan balik
Berbicara tanpa henti tentang prosedur
Mengabaikan pertanyaan pasien
Apa yang harus dilakukan jika seorang pasien mengalami reaksi negatif terhadap terapi?
Melanjutkan terapi tanpa perubahan
Menghentikan terapi dan mengevaluasi kondisi pasien
Menyalahkan pasien atas reaksi tersebut
Tidak mencatat kejadian tersebut
Salah satu prinsip dalam memberikan pelayanan yang aman adalah:
Mengabaikan standar prosedur operasional
Memastikan semua peralatan dalam kondisi baik sebelum digunakan
Melakukan terapi tanpa persetujuan pasien
Tidak melakukan evaluasi risiko
Apa yang menjadi tanggung jawab utama fisioterapis dalam menjaga keselamatan pasien?
Hanya fokus pada teknik terapi
Memastikan lingkungan terapi aman dan nyaman
Mengabaikan keluhan pasien
Menyediakan informasi yang tidak akurat
Dalam konteks etika, apa yang dimaksud dengan 'beneficence'?
Kewajiban untuk tidak merugikan pasien
Kewajiban untuk melakukan tindakan yang menguntungkan pasien
Kewajiban untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien
Kewajiban untuk melaporkan kesalahan kepada atasan
Apa yang dimaksud dengan 'non-maleficence' dalam praktik fisioterapi?
Kewajiban untuk memberikan manfaat kepada pasien
Kewajiban untuk tidak melakukan kerugian atau bahaya kepada pasien
Kewajiban untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien
Kewajiban untuk melaporkan kesalahan kepada atasan
Salah satu cara untuk memastikan bahwa prosedur terapi dilakukan dengan aman adalah dengan:
Menggunakan alat usang tanpa pemeriksaan
Mematuhi protokol dan pedoman keselamatan yang telah ditetapkan
Mengabaikan pelatihan berkelanjutan
Melakukan terapi tanpa pengawasan
Dalam hal pengelolaan risiko, apa langkah kedua setelah identifikasi risiko?
Mengabaikan risiko tersebut
Melakukan penilaian terhadap dampak risiko
Mencatat semua risiko tanpa tindakan lebih lanjut
Menyebarluaskan informasi tentang risiko kepada publik
Mengapa penting bagi fisioterapis untuk terus memperbarui pengetahuan mereka tentang etika dan hukum kesehatan?
Agar bisa menghindari masalah hukum
Untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai standar terkini
Agar bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan baru
Karena itu adalah persyaratan administratif semata
Apa konsekuensi dari pelanggaran kode etik oleh seorang fisioterapis?
Tidak ada konsekuensi sama sekali
Tindakan disipliner atau pencabutan lisensi praktik
Meningkatnya reputasi di kalangan rekan sejawat
Peningkatan jumlah pasien yang datang ke klinik
Salah satu tujuan dari pelatihan keselamatan pasien adalah untuk:
Meningkatkan biaya operasional rumah sakit
Mengurangi insiden kesalahan medis dan cedera pada pasien
Menyediakan pelatihan bagi staf hanya untuk kepentingan administratif
Meningkatkan jumlah kunjungan dokter ke rumah sakit
Dalam praktik fisioterapi, pentingnya menjaga kerahasiaan informasi pasien adalah untuk:
Meningkatkan efisiensi administrasi rumah sakit
Membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan
Mempermudah proses dokumentasi
Tidak ada relevansinya dengan praktik klinis
Apa langkah pertama dalam menangani keluhan pasien?
Mengabaikan keluhan tersebut
Mendengarkan dengan seksama dan menunjukkan empati
Memberikan solusi langsung tanpa mendengarkan keluhan
Membuat catatan tanpa berkomunikasi dengan pasien
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan fisioterapi adalah melalui:
Pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan
Pengurangan interaksi dengan pasien
Penanganan kasus tanpa prosedur standar
Penggunaan alat yang tidak teruji
Peraturan Menteri Kesehatan No. 65 Tahun 2015 mengatur tentang:
Standar pendidikan fisioterapi
Standar pelayanan fisioterapi
Standar pengelolaan rumah sakit
Standar pengawasan fisioterapi
Standar pelayanan fisioterapi yang diatur dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 bertujuan untuk:
Mengoptimalkan kesejahteraan tenaga kesehatan
Menjamin kualitas layanan fisioterapi
Menyederhanakan proses pelayanan
Mengurangi biaya perawatan fisioterapi
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, tindakan fisioterapi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi sebagai:
Terapis okupasi
Dokter spesialis
Fisioterapis terdaftar
Perawat bersertifikat
Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, evaluasi hasil intervensi fisioterapi dilakukan berdasarkan:
Waktu dan biaya perawatan
Kepuasan pasien
Tujuan intervensi fisioterapi yang telah ditetapkan
Instruksi dokter spesialis
Menurut Permenkes No. 65 Tahun 2015, setiap layanan fisioterapi harus memiliki standar prosedur operasional (SPO) untuk menjamin:
Efisiensi biaya
Konsistensi pelayanan
Fleksibilitas metode
Kecepatan layanan
Standar Pelayanan Fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 menyebutkan bahwa penetapan rencana intervensi fisioterapi harus mempertimbangkan:
Kondisi finansial pasien
Diagnosis medis dan masalah fungsional pasien
Lokasi geografis pelayanan
Preferensi keluarga pasien
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, pelayanan fisioterapi dapat diberikan dalam bentuk:
Hanya di rumah sakit
Hanya di puskesmas
Di rumah sakit, puskesmas, dan praktik mandiri
Hanya di klinik fisioterapi swasta
Permenkes No. 65 Tahun 2015 mengatur bahwa dokumentasi layanan fisioterapi harus mencakup:
Hanya diagnosis medis pasien
Hanya hasil pemeriksaan laboratorium
Catatan penilaian subyektif, objektif, diagnosis fisioterapi, dan rencana perawatan
Catatan keuangan pasien
Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, siapa yang berhak menetapkan standar pelayanan fisioterapi di fasilitas kesehatan?
Fisioterapis senior
Direktur rumah sakit
Kementerian Kesehatan
Asosiasi Profesi Fisioterapi
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, intervensi fisioterapi hanya boleh diberikan setelah:
Adanya rujukan dari dokter
Pemeriksaan fisioterapi dan diagnosis fisioterapi
Persetujuan asuransi
Pembayaran biaya perawatan
Standar pelayanan fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 juga mengatur mengenai frekuensi layanan. Berapa kali fisioterapi dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien?
Sekali dalam seminggu
Tergantung rekomendasi fisioterapis
Berdasarkan keputusan manajemen rumah sakit
Maksimal dua kali dalam sebulan
Permenkes No. 65 Tahun 2015 mengatur bahwa hasil layanan fisioterapi harus didokumentasikan untuk keperluan:
Administratif dan keperluan hukum
Analisis keuangan rumah sakit
Tujuan pemasaran
Kepentingan pihak ketiga
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, intervensi fisioterapi harus dilakukan berdasarkan evaluasi komprehensif yang mencakup:
Hanya pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dan laboratorium
Pemeriksaan subyektif, objektif, dan fungsional
Instruksi medis dari dokter
Pelayanan fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 ditujukan untuk pasien dengan masalah:
Penyakit internal
Gangguan sistem muskuloskeletal, neurologis, dan kardiovaskular
Penyakit infeksi
Gangguan mental
Permenkes No. 65 Tahun 2015 mewajibkan adanya SPO (Standar Prosedur Operasional) yang mencakup tahapan mulai dari:
Pendaftaran hingga pembayaran
Pemberian layanan hingga rehabilitasi
Pemeriksaan awal hingga evaluasi akhir
Rujukan hingga penyelesaian administrasi
Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, disebutkan bahwa tenaga fisioterapi yang melakukan tindakan harus memiliki kompetensi berdasarkan:
Pengalaman kerja
Sertifikasi dan pendidikan formal
Pelatihan internal rumah sakit
Rekomendasi dari rekan sejawat
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, rencana intervensi fisioterapi harus ditinjau dan diperbarui sesuai dengan:
Kondisi ekonomi pasien
Perkembangan klinis dan respons terapi
Masukan keluarga pasien
Ketersediaan alat fisioterapi
Salah satu prinsip dasar dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 adalah bahwa layanan fisioterapi harus berbasis:
Biaya yang terjangkau
Bukti ilmiah (evidence-based practice)
Pengalaman praktisi
Rekomendasi pasien
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, apa yang menjadi dasar dalam menetapkan prioritas masalah pasien dalam intervensi fisioterapi?
Permintaan pasien
Tingkat keparahan gejala dan gangguan fungsional
Durasi perawatan
Ketersediaan waktu fisioterapis
Menurut Permenkes No. 65 Tahun 2015, jika seorang pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa sesi fisioterapi, tindakan yang harus dilakukan fisioterapis adalah:
Melanjutkan terapi yang sama
Melakukan evaluasi ulang dan mengubah rencana intervensi
Menghentikan perawatan
Mengajukan rujukan ke spesialis lain
Peraturan Menteri Kesehatan No. 80 Tahun 2013 mengatur tentang:
Pendidikan fisioterapi
Standar pelayanan kesehatan
Penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapis
Pengawasan praktik fisioterapi oleh dokter
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis wajib memiliki izin praktik yang diterbitkan oleh:
Kementerian Kesehatan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Asosiasi Fisioterapi
Rumah sakit tempat bekerja
Salah satu syarat bagi fisioterapis untuk memperoleh Surat Izin Praktik Fisioterapis (SIPF) adalah:
Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun
Lulus uji kompetensi fisioterapis
Mengikuti pelatihan dasar pelayanan kesehatan
Memiliki gelar magister fisioterapi
Permenkes No. 80 Tahun 2013 menyebutkan bahwa Surat Izin Praktik Fisioterapis berlaku selama:
2 tahun
3 tahun
5 tahun
Selamanya
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang melakukan praktik tanpa memiliki Surat Izin Praktik dapat dikenai sanksi berupa:
Peringatan tertulis
Penutupan praktik
Sanksi pidana atau denda administratif
Penurunan jabatan
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, praktik fisioterapi dapat dilakukan di semua tempat berikut ini, kecuali:
Klinik swasta
Rumah pasien
Pusat kebugaran (gym)
Kantor asuransi kesehatan
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, berapa jumlah SIPF yang dapat dimiliki seorang fisioterapis untuk praktik di beberapa tempat?
Hanya satu
Dua
Tiga
Tidak ada batasan
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, seorang fisioterapis yang pindah tempat praktik harus:
Mengajukan permohonan SIPF baru
Menginformasikan ke Asosiasi Fisioterapi
Melaporkan ke pemerintah setempat
Melakukan sertifikasi ulang
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, tindakan fisioterapis yang dapat dilakukan secara mandiri adalah:
Diagnosa medis pasien
Intervensi fisioterapi berdasarkan asesmen fisioterapi
Pemberian obat untuk manajemen nyeri
Merujuk pasien ke dokter spesialis
Fisioterapis dapat memberikan layanan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga sesuai dengan Permenkes No. 80 Tahun 2013 dalam bentuk:
Pelatihan lanjutan
Konseling tentang manajemen nyeri dan pencegahan cedera
Penyuluhan massal di komunitas
Intervensi psikologis
Sesuai dengan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang terlibat dalam praktik harus mencatat dan melaporkan hasil intervensinya kepada:
Pasien
Asosiasi Fisioterapis
Pimpinan institusi pelayanan kesehatan
Dokter yang merujuk
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, pengawasan terhadap praktik fisioterapis dilakukan oleh:
Kementerian Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Organisasi Profesi Fisioterapi
Asosiasi Rumah Sakit Indonesia
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, Surat Izin Praktik Fisioterapis (SIPF) dapat dicabut jika:
Fisioterapis pindah tempat praktik
Fisioterapis tidak memperpanjang izin dalam waktu yang ditentukan
Fisioterapis melakukan kesalahan administratif kecil
Fisioterapis menjalankan praktik dengan izin yang telah kadaluwarsa
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, seorang fisioterapis bertanggung jawab penuh terhadap:
Manajemen rumah sakit
Hasil intervensi fisioterapi dan kesejahteraan pasien
Administrasi keuangan pasien
Prosedur medis invasif
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, jika seorang fisioterapis melakukan pelanggaran etika profesi, maka kasus tersebut akan diproses oleh:
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Organisasi Profesi Fisioterapi
Kementerian Kesehatan
Dewan Fisioterapis Nasional
Fisioterapis yang melakukan praktik di rumah pasien berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013 harus:
Memiliki Surat Tugas dari Dinas Kesehatan
Mempunyai SIPF dan mematuhi standar pelayanan kesehatan
Menyetujui perjanjian kerja dengan rumah sakit
Mendapatkan persetujuan dari keluarga pasien
Dalam Permenkes No. 80 Tahun 2013, disebutkan bahwa seorang fisioterapis harus bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya dalam hal:
Merujuk pasien
Menetapkan diagnosa medis
Memutuskan intervensi obat
Menetapkan tarif layanan fisioterapi
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, apa yang menjadi dasar bagi seorang fisioterapis dalam menentukan intervensi untuk pasien?
Permintaan keluarga pasien
Hasil asesmen fisioterapis
Instruksi dokter
Rekomendasi dari rekan sejawat
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis wajib melakukan pelaporan berkala terkait kegiatan praktik kepada:
Dokter rujukan
Organisasi Profesi
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Pasien
Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang telah memiliki SIPF wajib memperbarui izin praktiknya dalam jangka waktu:
2 tahun
3 tahun
5 tahun
7 tahun
Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, sanksi yang dapat dikenakan kepada fisioterapis yang melanggar kode etik adalah:
Peringatan lisan
Pencabutan SIPF
Penundaan praktik selama 6 bulan
Pelatihan ulang
Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi terhadap hasil layanan fisioterapi?
Fisioterapis yang bersangkutan
Manajer rumah sakit
Tim medis multidisiplin
Kementerian Kesehatan
