wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

FIX UAS DINAMIKA

Total questions: 79

Worksheet time: 1hrs 19mins

Name
Class
Date
1.

Apa yang dimaksud dengan etika profesi fisioterapi?

a)

Hanya mengikuti peraturan pemerintah

b)

Prinsip moral yang mengatur perilaku fisioterapis

c)

Hanya berkaitan dengan teknik fisioterapi

d)

Tidak ada hubungannya dengan praktik klinis

2.

Salah satu prinsip dasar profesionalisme dalam fisioterapi adalah:

a)

Mengutamakan keuntungan pribadi

b)

Mematuhi kode etik profesi

c)

Melakukan terapi tanpa izin pasien

d)

Mengabaikan keselamatan pasien

3.

Apa tujuan utama dari keselamatan pasien dalam praktik fisioterapi?

a)

Meningkatkan profit rumah sakit

b)

Mengurangi biaya perawatan

c)

Melindungi pasien dari cedera dan komplikasi

d)

Meningkatkan jumlah pasien

4.

Elemen penting dalam menjaga keselamatan pasien adalah:

a)

Meminimalkan interaksi dengan pasien

b)

Mengabaikan keluhan pasien

c)

Komunikasi yang efektif dan jelas

d)

Menggunakan alat yang tidak terstandarisasi

5.

Dalam konteks etika, apa yang harus dilakukan fisioterapis jika menghadapi dilema moral?

a)

Mengabaikan masalah tersebut

b)

Meminta pendapat rekan sejawat atau atasan

c)

Bertindak sesuai keinginan pribadi

d)

Melaporkan ke pihak berwenang tanpa pertimbangan

6.

Apa yang dimaksud dengan 'informed consent' dalam praktik fisioterapi?

a)

Persetujuan yang diberikan tanpa penjelasan

b)

Persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan informasi yang cukup tentang prosedur

c)

Persetujuan yang diberikan secara lisan saja

d)

Tidak perlu mendapatkan persetujuan dari pasien

7.

Mengapa penting bagi fisioterapis untuk memahami hukum kesehatan?

a)

Agar bisa menghindari tanggung jawab hukum

b)

Untuk memberikan pelayanan sesuai dengan peraturan yang berlaku

c)

Untuk meningkatkan pendapatan pribadi

d)

Agar bisa beroperasi tanpa pengawasan

8.

Apa yang menjadi fokus utama dalam pendekatan patient-centered care?

a)

Kepentingan rumah sakit

b)

Kesejahteraan dan kebutuhan pasien

c)

Keuntungan finansial dari terapi

d)

Kemandekan proses terapi

9.

Salah satu cara untuk meningkatkan keselamatan pasien adalah dengan:

a)

Mengabaikan protokol keselamatan

b)

Melakukan evaluasi risiko secara rutin

c)

Mengurangi komunikasi antar tim medis

d)

Menyimpan catatan terapi secara sembarangan

10.

Apa yang harus dilakukan fisioterapis sebelum memulai terapi pada pasien baru?

a)

Langsung melakukan terapi tanpa pemeriksaan awal

b)

Melakukan penilaian menyeluruh dan mendapatkan persetujuan pasien

c)

Hanya melakukan wawancara singkat saja

d)

Tidak perlu melakukan penilaian sama sekali

11.

Apa dampak dari pelanggaran etika dalam praktik fisioterapi?

a)

Meningkatnya kepercayaan pasien

b)

Tindakan disipliner atau hukum terhadap fisioterapis

c)

Tidak ada dampak sama sekali

d)

Meningkatnya kepuasan kerja

12.

Keselamatan pasien dapat ditingkatkan melalui:

a)

Pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan

b)

Mengurangi interaksi dengan pasien

c)

Penanganan kasus tanpa prosedur standar

d)

Penggunaan alat yang tidak

13.

Salah satu aspek penting dari komunikasi efektif dalam fisioterapi adalah:

a)

Menggunakan istilah medis yang kompleks

b)

Mendengarkan keluhan dan kebutuhan pasien

c)

Berbicara cepat agar waktu efisien

d)

Tidak memberikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya

14.

Apa yang dimaksud dengan 'accountability' dalam konteks profesionalisme fisioterapi?

a)

Menyalahkan orang lain atas kesalahan

b)

Bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan klinis

c)

Menghindari tanggung jawab

d)

Tidak melaporkan kesalahan kepada atasan

15.

Dalam hal pengelolaan risiko, apa langkah pertama yang harus diambil oleh fisioterapis?

a)

Mengabaikan potensi risiko

b)

Melakukan identifikasi risiko secara menyeluruh

c)

Menyusun laporan tanpa analisis risiko

d)

Mengandalkan pengalaman pribadi saja

16.

Mengapa penting bagi fisioterapis untuk menghormati kerahasiaan informasi pasien?

a)

Agar tidak ada tindakan hukum terhadap mereka

b)

Untuk membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan

c)

Karena itu adalah prosedur administratif semata

d)

Karena tidak ada konsekuensi jika dilanggar

17.

Apa tindakan yang tepat jika seorang pasien menolak terapi?

a)

Memaksa pasien untuk menjalani terapi

b)

Mencatat penolakan dan menjelaskan konsekuensi dari penolakan tersebut

c)

Mengabaikan keputusan pasien dan tetap melakukan terapi

d)

Menyalahkan pasien atas kemunduran kondisi mereka

18.

Fisioterapis harus memiliki sikap profesionalisme dalam hal berikut, kecuali:

a)

Menjaga integritas pribadi dan profesional

b)

Mematuhi kode etik profesi

c)

Menyebarkan informasi palsu untuk keuntungan pribadi

d)

Berkomunikasi secara jelas dengan tim medis lainnya

19.

Apa tujuan dari program pelatihan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan?

a)

Meningkatkan biaya operasional rumah sakit

b)

Mengurangi insiden cedera dan meningkatkan kualitas perawatan

c)

Menyediakan pelatihan bagi staf hanya untuk kepentingan administratif

d)

Meningkatkan jumlah kunjungan dokter ke rumah sakit

20.

Apa yang harus dilakukan fisioterapis jika mereka melihat rekan sejawat melakukan praktik yang tidak etis?

a)

Mengabaikannya

b)

Melaporkan kepada atasan atau lembaga berwenang

c)

Menghadapi rekan tersebut secara langsung

d)

Mencari keuntungan dari situasi tersebut

21.

Salah satu komponen dari keselamatan pasien adalah:

a)

Penggunaan alat yang tidak terstandarisasi

b)

Pemberian informasi yang jelas kepada pasien

c)

Mengabaikan keluhan pasien

d)

Mengurangi waktu perawatan

22.

Apa yang dimaksud dengan 'kode etik' dalam profesi fisioterapi?

a)

Aturan yang hanya berlaku untuk dokter

b)

Pedoman moral dan profesional untuk fisioterapis

c)

Hanya berkaitan dengan administrasi rumah sakit

d)

Tidak ada relevansinya dengan praktik klinis

23.

Mengapa dokumentasi terapi penting dalam praktik fisioterapi?

a)

Untuk memenuhi persyaratan administratif saja

b)

Sebagai bukti tindakan dan pertanggungjawaban terhadap pasien

c)

Agar bisa menghindari audit

d)

Untuk menambah beban kerja fisioterapis

24.

Salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi antara fisioterapis dan pasien adalah dengan:

a)

Menggunakan bahasa medis yang kompleks

b)

Mendengarkan dengan aktif dan memberikan umpan balik

c)

Berbicara tanpa henti tentang prosedur

d)

Mengabaikan pertanyaan pasien

25.

Apa yang harus dilakukan jika seorang pasien mengalami reaksi negatif terhadap terapi?

a)

Melanjutkan terapi tanpa perubahan

b)

Menghentikan terapi dan mengevaluasi kondisi pasien

c)

Menyalahkan pasien atas reaksi tersebut

d)

Tidak mencatat kejadian tersebut

26.

Salah satu prinsip dalam memberikan pelayanan yang aman adalah:

a)

Mengabaikan standar prosedur operasional

b)

Memastikan semua peralatan dalam kondisi baik sebelum digunakan

c)

Melakukan terapi tanpa persetujuan pasien

d)

Tidak melakukan evaluasi risiko

27.

Apa yang menjadi tanggung jawab utama fisioterapis dalam menjaga keselamatan pasien?

a)

Hanya fokus pada teknik terapi

b)

Memastikan lingkungan terapi aman dan nyaman

c)

Mengabaikan keluhan pasien

d)

Menyediakan informasi yang tidak akurat

28.

Dalam konteks etika, apa yang dimaksud dengan 'beneficence'?

a)

Kewajiban untuk tidak merugikan pasien

b)

Kewajiban untuk melakukan tindakan yang menguntungkan pasien

c)

Kewajiban untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien

d)

Kewajiban untuk melaporkan kesalahan kepada atasan

29.

Apa yang dimaksud dengan 'non-maleficence' dalam praktik fisioterapi?

a)

Kewajiban untuk memberikan manfaat kepada pasien

b)

Kewajiban untuk tidak melakukan kerugian atau bahaya kepada pasien

c)

Kewajiban untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien

d)

Kewajiban untuk melaporkan kesalahan kepada atasan

30.

Salah satu cara untuk memastikan bahwa prosedur terapi dilakukan dengan aman adalah dengan:

a)

Menggunakan alat usang tanpa pemeriksaan

b)

Mematuhi protokol dan pedoman keselamatan yang telah ditetapkan

c)

Mengabaikan pelatihan berkelanjutan

d)

Melakukan terapi tanpa pengawasan

31.

Dalam hal pengelolaan risiko, apa langkah kedua setelah identifikasi risiko?

a)

Mengabaikan risiko tersebut

b)

Melakukan penilaian terhadap dampak risiko

c)

Mencatat semua risiko tanpa tindakan lebih lanjut

d)

Menyebarluaskan informasi tentang risiko kepada publik

32.

Mengapa penting bagi fisioterapis untuk terus memperbarui pengetahuan mereka tentang etika dan hukum kesehatan?

a)

Agar bisa menghindari masalah hukum

b)

Untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai standar terkini

c)

Agar bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan baru

d)

Karena itu adalah persyaratan administratif semata

33.

Apa konsekuensi dari pelanggaran kode etik oleh seorang fisioterapis?

a)

Tidak ada konsekuensi sama sekali

b)

Tindakan disipliner atau pencabutan lisensi praktik

c)

Meningkatnya reputasi di kalangan rekan sejawat

d)

Peningkatan jumlah pasien yang datang ke klinik

34.

Salah satu tujuan dari pelatihan keselamatan pasien adalah untuk:

a)

Meningkatkan biaya operasional rumah sakit

b)

Mengurangi insiden kesalahan medis dan cedera pada pasien

c)

Menyediakan pelatihan bagi staf hanya untuk kepentingan administratif

d)

Meningkatkan jumlah kunjungan dokter ke rumah sakit

35.

Dalam praktik fisioterapi, pentingnya menjaga kerahasiaan informasi pasien adalah untuk:

a)

Meningkatkan efisiensi administrasi rumah sakit

b)

Membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan kesehatan

c)

Mempermudah proses dokumentasi

d)

Tidak ada relevansinya dengan praktik klinis

36.

Apa langkah pertama dalam menangani keluhan pasien?

a)

Mengabaikan keluhan tersebut

b)

Mendengarkan dengan seksama dan menunjukkan empati

c)

Memberikan solusi langsung tanpa mendengarkan keluhan

d)

Membuat catatan tanpa berkomunikasi dengan pasien

37.

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan fisioterapi adalah melalui:

a)

Pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan

b)

Pengurangan interaksi dengan pasien

c)

Penanganan kasus tanpa prosedur standar

d)

Penggunaan alat yang tidak teruji

38.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 65 Tahun 2015 mengatur tentang:

a)

Standar pendidikan fisioterapi

b)

Standar pelayanan fisioterapi

c)

Standar pengelolaan rumah sakit

d)

Standar pengawasan fisioterapi

39.

Standar pelayanan fisioterapi yang diatur dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 bertujuan untuk:

a)

Mengoptimalkan kesejahteraan tenaga kesehatan

b)

Menjamin kualitas layanan fisioterapi

c)

Menyederhanakan proses pelayanan

d)

Mengurangi biaya perawatan fisioterapi

40.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, tindakan fisioterapi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi sebagai:

a)

Terapis okupasi

b)

Dokter spesialis

c)

Fisioterapis terdaftar

d)

Perawat bersertifikat

41.

Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, evaluasi hasil intervensi fisioterapi dilakukan berdasarkan:

a)

Waktu dan biaya perawatan

b)

Kepuasan pasien

c)

Tujuan intervensi fisioterapi yang telah ditetapkan

d)

Instruksi dokter spesialis

42.

Menurut Permenkes No. 65 Tahun 2015, setiap layanan fisioterapi harus memiliki standar prosedur operasional (SPO) untuk menjamin:

a)

Efisiensi biaya

b)

Konsistensi pelayanan

c)

Fleksibilitas metode

d)

Kecepatan layanan

43.

Standar Pelayanan Fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 menyebutkan bahwa penetapan rencana intervensi fisioterapi harus mempertimbangkan:

a)

Kondisi finansial pasien

b)

Diagnosis medis dan masalah fungsional pasien

c)

Lokasi geografis pelayanan

d)

Preferensi keluarga pasien

44.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, pelayanan fisioterapi dapat diberikan dalam bentuk:

a)

Hanya di rumah sakit

b)

Hanya di puskesmas

c)

Di rumah sakit, puskesmas, dan praktik mandiri

d)

Hanya di klinik fisioterapi swasta

45.

Permenkes No. 65 Tahun 2015 mengatur bahwa dokumentasi layanan fisioterapi harus mencakup:

a)

Hanya diagnosis medis pasien

b)

Hanya hasil pemeriksaan laboratorium

c)

Catatan penilaian subyektif, objektif, diagnosis fisioterapi, dan rencana perawatan

d)

Catatan keuangan pasien

46.

Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, siapa yang berhak menetapkan standar pelayanan fisioterapi di fasilitas kesehatan?

a)

Fisioterapis senior

b)

Direktur rumah sakit

c)

Kementerian Kesehatan

d)

Asosiasi Profesi Fisioterapi

47.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, intervensi fisioterapi hanya boleh diberikan setelah:

a)

Adanya rujukan dari dokter

b)

Pemeriksaan fisioterapi dan diagnosis fisioterapi

c)

Persetujuan asuransi

d)

Pembayaran biaya perawatan

48.

Standar pelayanan fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 juga mengatur mengenai frekuensi layanan. Berapa kali fisioterapi dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien?

a)

Sekali dalam seminggu

b)

Tergantung rekomendasi fisioterapis

c)

Berdasarkan keputusan manajemen rumah sakit

d)

Maksimal dua kali dalam sebulan

49.

Permenkes No. 65 Tahun 2015 mengatur bahwa hasil layanan fisioterapi harus didokumentasikan untuk keperluan:

a)

Administratif dan keperluan hukum

b)

Analisis keuangan rumah sakit

c)

Tujuan pemasaran

d)

Kepentingan pihak ketiga

50.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, intervensi fisioterapi harus dilakukan berdasarkan evaluasi komprehensif yang mencakup:

a)

Hanya pemeriksaan fisik

b)

Pemeriksaan fisik dan laboratorium

c)

Pemeriksaan subyektif, objektif, dan fungsional

d)

Instruksi medis dari dokter

51.

Pelayanan fisioterapi dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 ditujukan untuk pasien dengan masalah:

a)

Penyakit internal

b)

Gangguan sistem muskuloskeletal, neurologis, dan kardiovaskular

c)

Penyakit infeksi

d)

Gangguan mental

52.

Permenkes No. 65 Tahun 2015 mewajibkan adanya SPO (Standar Prosedur Operasional) yang mencakup tahapan mulai dari:

a)

Pendaftaran hingga pembayaran

b)

Pemberian layanan hingga rehabilitasi

c)

Pemeriksaan awal hingga evaluasi akhir

d)

Rujukan hingga penyelesaian administrasi

53.

Dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015, disebutkan bahwa tenaga fisioterapi yang melakukan tindakan harus memiliki kompetensi berdasarkan:

a)

Pengalaman kerja

b)

Sertifikasi dan pendidikan formal

c)

Pelatihan internal rumah sakit

d)

Rekomendasi dari rekan sejawat

54.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, rencana intervensi fisioterapi harus ditinjau dan diperbarui sesuai dengan:

a)

Kondisi ekonomi pasien

b)

Perkembangan klinis dan respons terapi

c)

Masukan keluarga pasien

d)

Ketersediaan alat fisioterapi

55.

Salah satu prinsip dasar dalam Permenkes No. 65 Tahun 2015 adalah bahwa layanan fisioterapi harus berbasis:

a)

Biaya yang terjangkau

b)

Bukti ilmiah (evidence-based practice)

c)

Pengalaman praktisi

d)

Rekomendasi pasien

56.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, apa yang menjadi dasar dalam menetapkan prioritas masalah pasien dalam intervensi fisioterapi?

a)

Permintaan pasien

b)

Tingkat keparahan gejala dan gangguan fungsional

c)

Durasi perawatan

d)

Ketersediaan waktu fisioterapis

57.

Menurut Permenkes No. 65 Tahun 2015, jika seorang pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa sesi fisioterapi, tindakan yang harus dilakukan fisioterapis adalah:

a)

Melanjutkan terapi yang sama

b)

Melakukan evaluasi ulang dan mengubah rencana intervensi

c)

Menghentikan perawatan

d)

Mengajukan rujukan ke spesialis lain

58.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 80 Tahun 2013 mengatur tentang:

a)

Pendidikan fisioterapi

b)

Standar pelayanan kesehatan

c)

Penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapis

d)

Pengawasan praktik fisioterapi oleh dokter

59.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis wajib memiliki izin praktik yang diterbitkan oleh:

a)

Kementerian Kesehatan

b)

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

c)

Asosiasi Fisioterapi

d)

Rumah sakit tempat bekerja

60.

Salah satu syarat bagi fisioterapis untuk memperoleh Surat Izin Praktik Fisioterapis (SIPF) adalah:

a)

Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun

b)

Lulus uji kompetensi fisioterapis

c)

Mengikuti pelatihan dasar pelayanan kesehatan

d)

Memiliki gelar magister fisioterapi

61.

Permenkes No. 80 Tahun 2013 menyebutkan bahwa Surat Izin Praktik Fisioterapis berlaku selama:

a)

2 tahun

b)

3 tahun

c)

5 tahun

d)

Selamanya

62.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang melakukan praktik tanpa memiliki Surat Izin Praktik dapat dikenai sanksi berupa:

a)

Peringatan tertulis

b)

Penutupan praktik

c)

Sanksi pidana atau denda administratif

d)

Penurunan jabatan

63.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, praktik fisioterapi dapat dilakukan di semua tempat berikut ini, kecuali:

a)

Klinik swasta

b)

Rumah pasien

c)

Pusat kebugaran (gym)

d)

Kantor asuransi kesehatan

64.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, berapa jumlah SIPF yang dapat dimiliki seorang fisioterapis untuk praktik di beberapa tempat?

a)

Hanya satu

b)

Dua

c)

Tiga

d)

Tidak ada batasan

65.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, seorang fisioterapis yang pindah tempat praktik harus:

a)

Mengajukan permohonan SIPF baru

b)

Menginformasikan ke Asosiasi Fisioterapi

c)

Melaporkan ke pemerintah setempat

d)

Melakukan sertifikasi ulang

66.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, tindakan fisioterapis yang dapat dilakukan secara mandiri adalah:

a)

Diagnosa medis pasien

b)

Intervensi fisioterapi berdasarkan asesmen fisioterapi

c)

Pemberian obat untuk manajemen nyeri

d)

Merujuk pasien ke dokter spesialis

67.

Fisioterapis dapat memberikan layanan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga sesuai dengan Permenkes No. 80 Tahun 2013 dalam bentuk:

a)

Pelatihan lanjutan

b)

Konseling tentang manajemen nyeri dan pencegahan cedera

c)

Penyuluhan massal di komunitas

d)

Intervensi psikologis

68.

Sesuai dengan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang terlibat dalam praktik harus mencatat dan melaporkan hasil intervensinya kepada:

a)

Pasien

b)

Asosiasi Fisioterapis

c)

Pimpinan institusi pelayanan kesehatan

d)

Dokter yang merujuk

69.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, pengawasan terhadap praktik fisioterapis dilakukan oleh:

a)

Kementerian Kesehatan

b)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

c)

Organisasi Profesi Fisioterapi

d)

Asosiasi Rumah Sakit Indonesia

70.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, Surat Izin Praktik Fisioterapis (SIPF) dapat dicabut jika:

a)

Fisioterapis pindah tempat praktik

b)

Fisioterapis tidak memperpanjang izin dalam waktu yang ditentukan

c)

Fisioterapis melakukan kesalahan administratif kecil

d)

Fisioterapis menjalankan praktik dengan izin yang telah kadaluwarsa

71.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, seorang fisioterapis bertanggung jawab penuh terhadap:

a)

Manajemen rumah sakit

b)

Hasil intervensi fisioterapi dan kesejahteraan pasien

c)

Administrasi keuangan pasien

d)

Prosedur medis invasif

72.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, jika seorang fisioterapis melakukan pelanggaran etika profesi, maka kasus tersebut akan diproses oleh:

a)

Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)

b)

Organisasi Profesi Fisioterapi

c)

Kementerian Kesehatan

d)

Dewan Fisioterapis Nasional

73.

Fisioterapis yang melakukan praktik di rumah pasien berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013 harus:

a)

Memiliki Surat Tugas dari Dinas Kesehatan

b)

Mempunyai SIPF dan mematuhi standar pelayanan kesehatan

c)

Menyetujui perjanjian kerja dengan rumah sakit

d)

Mendapatkan persetujuan dari keluarga pasien

74.

Dalam Permenkes No. 80 Tahun 2013, disebutkan bahwa seorang fisioterapis harus bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya dalam hal:

a)

Merujuk pasien

b)

Menetapkan diagnosa medis

c)

Memutuskan intervensi obat

d)

Menetapkan tarif layanan fisioterapi

75.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, apa yang menjadi dasar bagi seorang fisioterapis dalam menentukan intervensi untuk pasien?

a)

Permintaan keluarga pasien

b)

Hasil asesmen fisioterapis

c)

Instruksi dokter

d)

Rekomendasi dari rekan sejawat

76.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis wajib melakukan pelaporan berkala terkait kegiatan praktik kepada:

a)

Dokter rujukan

b)

Organisasi Profesi

c)

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

d)

Pasien

77.

Berdasarkan Permenkes No. 80 Tahun 2013, fisioterapis yang telah memiliki SIPF wajib memperbarui izin praktiknya dalam jangka waktu:

a)

2 tahun

b)

3 tahun

c)

5 tahun

d)

7 tahun

78.

Menurut Permenkes No. 80 Tahun 2013, sanksi yang dapat dikenakan kepada fisioterapis yang melanggar kode etik adalah:

a)

Peringatan lisan

b)

Pencabutan SIPF

c)

Penundaan praktik selama 6 bulan

d)

Pelatihan ulang

79.

Berdasarkan Permenkes No. 65 Tahun 2015, siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi terhadap hasil layanan fisioterapi?

a)

Fisioterapis yang bersangkutan

b)

Manajer rumah sakit

c)

Tim medis multidisiplin

d)

Kementerian Kesehatan