WorksheetsRTRL
Total questions: 100
Worksheet time: 8hrs 20mins
Apa yang menjadi fokus penelitian dalam penyusunan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) pada tahun 2011-2013?
Perhitungan panjang jalan nasional
Nilai-nilai kapasitas dasar (C0) dan Ekuivalensi Mobil Penumpang (EMP)
Penghitungan lebar jalan perkotaan
Distribusi kendaraan berat pada jalan tol
Berapa jumlah pedoman yang tercakup dalam PKJI?
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Apa saja tipe alinemen yang digunakan untuk Jalan Bebas Hambatan (JBH) dan Jalan Luar Kota (JLK)?
Alinemen datar dan alinemen berbukit saja
Alinemen berbukit dan alinemen pegunungan saja
Alinemen datar, alinemen bukit, dan alinemen gunung
Alinemen datar saja
Mengapa kendaraan tidak bermotor dan sepeda motor tidak diperhitungkan pada Jalan Bebas Hambatan (JBH)?
Karena kecepatan kendaraan bermotor lebih tinggi
Karena tidak diperbolehkan menggunakan JBH
Karena tidak memengaruhi perhitungan kapasitas
Karena hanya sedikit pengguna jalan tersebut
Kapasitas jalan (C) dihitung berdasarkan kapasitas dasar (C0) yang dikoreksi oleh faktor-faktor yang merepresentasikan...
Jumlah kendaraan yang melintas
Deviasi geometri jalan dan lalu lintas terhadap kondisi ideal
Kecepatan tempuh kendaraan bermotor
Waktu tempuh rata-rata pengguna jalan
Suatu segmen jalan harus dipisahkan menjadi dua atau lebih segmen jika...
Jumlah kendaraan pada arus puncak melebihi kapasitas jalan
Terdapat perbedaan karakteristik yang signifikan, seperti lebar jalur dan tipe alinemen
Jalan berada di daerah perkotaan
Kecepatan rata-rata kendaraan berkurang drastis
Kinerja lalu lintas suatu segmen jalan dinyatakan melalui...
Arus lalu lintas rencana dan jarak pandang
Lebar jalur dan tipe bahu jalan
Waktu tempuh rata-rata kendaraan dan kapasitas jalan
Nilai derajat kejenuhan (Dj) dan kecepatan tempuh (Vt)
Nilai DJ sebesar 0,85 digunakan sebagai...
Indikator waktu tempuh rata-rata kendaraan
Ukuran kapasitas ideal jalan
Batasan kinerja jalan yang baik atau buruk
Parameter perhitungan arus lalu lintas
Apa yang perlu dilakukan jika suatu segmen jalan memiliki nilai DJ >0,85?
Mengurangi jumlah kendaraan yang melintas
Menambahkan lajur atau menerapkan manajemen lalu lintas
Menghentikan aktivitas lalu lintas selama jam puncak
Meningkatkan kecepatan kendaraan yang melintas
Kinerja lalu lintas di persimpangan diukur berdasarkan arus lalu lintas yang...
Diukur selama periode satu jam
Direkam sepanjang hari kerja
Disesuaikan dengan kapasitas maksimum jalan
Ditentukan dari kapasitas dasar (C0)
Kecepatan tempuh (Vt) merupakan ukuran kinerja kualitas pelayanan jalan yang dapat dikonversi menjadi...
Derajat kejenuhan (Dj)
Waktu tempuh (Wt)
Kapasitas jalan (C)
Jumlah lajur yang tersedia
Nilai Dj dengan Vt yang tinggi menunjukkan...
Kualitas pelayanan jalan yang sangat baik
Tingkat kejenuhan jalan yang rendah
Waktu tempuh kendaraan yang lama
Perluasan kapasitas jalan
Kriteria umum yang digunakan untuk menilai kinerja lalu lintas di persimpangan adalah...
Kecepatan tempuh kendaraan besar
Nilai DJ ≤0,85
Jumlah kendaraan per jam
Jumlah lajur yang tersedia
Untuk menilai kondisi pelayanan suatu simpang APILL, parameter tambahan yang digunakan meliputi...
Kecepatan tempuh, panjang jalan, dan jumlah kendaraan
Waktu tempuh, kapasitas jalan, dan peluang antrian
Derajat kejenuhan (DJ), volume kendaraan, dan lebar jalur
Panjang antrian (PA), rasio kendaraan berhenti (NKH), dan tundaan (T)
Data arus lalu lintas rencana digunakan untuk...
Menghitung arus lalu lintas pada jam sibuk sore
Menetapkan lebar jalur atau jumlah lajur lalu lintas
Mengukur kapasitas jalan yang sudah terpakai
Memperkirakan jumlah kendaraan per hari
Nilai faktor jam sibuk (FJS) berkisar antara...
0,08–0,11
0,80–0,95
0,07–0,12
0,08–0,15
Kendaraan dalam klasifikasi PKJI tidak memasukkan jenis kendaraan...
Sepeda Motor (SM)
Bus Besar (BB)
Kendaraan Tidak Bermotor (KTB)
Mobil Penumpang (MP)
Pada jaringan jalan kota, kendaraan BB dan TB umumnya...
Dikategorikan sebagai Kendaraan Sedang (KS)
Tidak diperhitungkan dalam evaluasi kapasitas
Diakomodasi sepenuhnya dalam jam sibuk
Menjadi hambatan utama dalam perhitungan DJ
Pedoman Kapasitas Jalan Perkotaan digunakan untuk jalan dengan tipe...
2/2-TT, 4/2-T, 6/2-T, dan 8/2-T
2/2-TT, 3/3-T, dan 6/2-T
4/4-T, 6/6-T, dan 8/8-T
2/2-T, 3/3-T, dan 8/2-T
Pedoman Kapasitas Simpang APILL mencakup evaluasi kinerja lalu lintas dengan parameter berikut, kecuali...
Derajat kejenuhan (Dj)
Kecepatan tempuh (Vt)
Tundaan (T)
Panjang antrian (PA)
Kinerja lalu lintas pada bagian jalinan tunggal selain DJ juga diukur menggunakan...
Panjang antrian dan peluang antrian
Kecepatan tempuh (vT) dan waktu tempuh (Wt)
Tundaan dan rasio kendaraan berhenti
Kapasitas jalan dan volume kendaraan
jumlah kendaraan bermotor yang melalui suatu segmen jalan per jam, dengan satuan kendaraan per jam (kend/jam) atau satuan mobil penumpang per jam (SMP/jam) pengertian dari ...
arus jenuh
arus jenuh dasar
arus lalu lintas jam perencanaan
arus lalu lintas
kegiatan di samping segmen jalan yang mempengaruhi kinerja lalu lintas, yaitu pejalan kaki,
penghentian kendaraan umum atau kendaraan lainnya, kendaraan keluar masuk lahan di
samping jalan, dan keberadaan kendaraan lambat/fisik
hambatan jalan
hambatan kanan kiri
hambatan samping
hambatan kanan
jalan yang jalur lalu lintasnya terdiri dari 4 (empat) lajur, 2 (dua)2 lajur untuk masing-masing
arah lalu lintas dan dilengkapi median disebut
jalan empat lajur dua arah terbagi
jalan empat lajur dua arah tak terbagi
jalan empat lajur dua arah
jalan dua lajur dua arah terbagi
lebar jalan yang diperkeras dan digunakan oleh lalu lintas kendaraan 1 (satu) arah, diukur dari
batas marka menerus tepi jalan sebelah dalam di salah satu sisi jalan sampai ke batas sisi
dalam marka menerus tepi jalan di sisi yang lainnya, tidak termasuk bahu jalan (meter) disebut
lebar efektif
lebar lajur
lebar jalan
lebar jalur
bangunan dalam ruang jalan yang ditinggikan atau direndahkan yang berfungsi memisahkan
arah arus lalu lintas yang berlawanan adalah
trotoar
median
kreb
marka
satuan untuk arus lalu lintas dimana arus berbagai kendaraan yang berbeda telah diubah
menjadi arus mobil penumpang dengan menggunakan nilai ekuivalen mobil penumpang
satuan mobil penumpang
satuan mobil kendaraan
satuan mobil
satuan kendaraan
Segmen jalan pada JBH harus dipisahkan jika terjadi perubahan signifikan pada...
Volume lalu lintas per jam
Tipe jalan, tipe alinemen, dan tipe medan
Kecepatan kendaraan dan tundaan lalu lintas
Panjang jalan dan lebar bahu jalan
Faktor koreksi kapasitas JBH meliputi...
Koreksi terhadap lebar bahu jalan dan panjang segmen jalan
Koreksi terhadap lebar lajur dan komposisi lalu lintas
Koreksi terhadap derajat kejenuhan dan tundaan lalu lintas
Koreksi terhadap jumlah simpang dan alur kendaraan
Dalam kapasitas JBH, lebar bahu jalan...
Tidak diperhitungkan dalam kapasitas tetapi memenuhi persyaratan keselamatan jalan ...
Diperhitungkan dalam kapasitas untuk segmen dengan lalu lintas padat
Digunakan untuk menentukan derajat kejenuhan (DJ)
Menjadi faktor utama dalam menentukan tipe alinemen
Tipe alinemen jalan dibedakan menjadi...
Datar, menanjak, dan terjal
Datar, bukit, dan gunung
Rata, miring, dan curam
Horizontal, vertikal, dan kombinasi
Tipe alinemen dalam analisis kapasitas jalan ditetapkan berdasarkan...
Tipe alinemen dalam analisis kapasitas jalan ditetapkan berdasarkan...
Panjang segmen jalan dan volume kendaraan
Derajat kelengkungan alinemen vertikal dan horizontal
Derajat kelengkungan alinemen vertikal dan horizontal
Derajat kelengkungan alinemen vertikal (θV) dihitung berdasarkan...
Jumlah total sudut belokan pada tikungan dibagi panjang segmen jalan
Jumlah total kenaikan vertikal tanjakan dibagi panjang segmen jalan
Jumlah total kenaikan vertikal tanjakan dibagi panjang segmen jalan
Jumlah total kenaikan vertikal tanjakan dibagi panjang segmen jalan
Kriteria tipe medan berbeda dengan tipe alinemen karena tipe medan ditentukan berdasarkan...
Jumlah tikungan horizontal di sepanjang segmen jalan
Kemiringan medan sisi jalan pada arah tegak lurus sumbu jalan
Kemiringan medan sisi jalan pada arah tegak lurus sumbu jalan
Kemiringan medan sisi jalan pada arah tegak lurus sumbu jalan
Apa fungsi nilai EMP dalam analisis kapasitas jalan?
Menetapkan tipe jalan yang sesuai
Mengkonversi volume lalu lintas dari satuan kend/jam ke SMP/jam
Mengukur derajat kelengkungan jalan
Menentukan umur desain peningkatan jalan
Data masukan untuk perencanaan jalan baru meliputi…
Data geometri eksisting dan umur desain peningkatan
Data arus lalu lintas eksisting dan pengaturan lalu lintas eksisting
Data EMP berdasarkan volume lalu lintas
Data lalu lintas rencana dan data lingkungan jalan
Jika kriteria desain belum terpenuhi dalam prosedur perencanaan, langkah apa yang dilakukan selanjutnya?
Lanjutkan ke langkah F untuk menetapkan keluaran
Lakukan iterasi pada langkah-langkah sebelumnya
Ubah data masukan pada langkah A
Akhiri proses perencanaan
Langkah terakhir dalam prosedur perencanaan jalan baru jika kriteria desain telah terpenuhi adalah…
Mengulang proses dari awal
Menetapkan tipe jalan peningkatan
Menetapkan keluaran (Langkah F)
Menghitung ulang nilai vB dan DJ
Apa alasan utama untuk melakukan peningkatan jalan lama?
Data masukan tidak memadai
Tidak ada tipe jalan yang sesuai
Volume lalu lintas terlalu rendah
Kinerja lalu lintas eksisting tidak memenuhi kriteria desain
Apa tujuan utama dari penggunaan APILL dalam pengaturan lalu lintas simpang?
Meningkatkan kecepatan kendaraan
Meminimalkan konflik lalu lintas
Mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan
Menghilangkan arus belok kanan
Pemilihan jenis persimpangan baru harus didasarkan pada analisis apa?
Kecepatan rata-rata kendaraan
Jumlah kendaraan yang melintas
Jarak antar persimpangan
Biaya siklus hidup (BSH)
Simpang APILL dapat berupa pertemuan antara tipe jalan berikut, kecuali
Tipe jalan 2/2-TT
Tipe jalan 4/2-T
Tipe jalan 10/4-T
Tipe jalan 8/2-T
Jika derajat kejenuhan (DJ) pada simpang APILL melebihi 0,85, tindakan yang perlu dilakukan adalah
Menghapus lampu lalu lintas
Mengurangi jumlah fase dalam APILL
Meningkatkan pengaturan APILL atau fisik simpang
Menutup simpang tersebut
Apa yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih tipe simpang APILL?
Biaya pembangunan yang murah
Estetika desain simpang
Kinerja lalu lintas, keselamatan, dan dampak lingkungan
Tingkat konsumsi bahan bakar kendaraan
Rekayasa lalu lintas pada simpang APILL dapat mengurangi kecelakaan melalui cara berikut, kecuali
Menambah jumlah kendaraan yang melintas
Penyediaan fasilitas fisik seperti kanalisasi
Pengaturan fase APILL yang lebih optimal
Penetapan tipe pendekat terlindung
Faktor yang mempengaruhi kapasitas simpang APILL adalah sebagai berikut, kecuali
Arus jenuh (J)
Total waktu hijau dalam satu siklus (wH)
Waktu siklus (s)
Jumlah lampu penerangan jalan (pj)
Pengaturan arus belok kanan yang terpisah pada APILL dilakukan jika arusnya melebihi
50 SMP/jam
100 SMP/jam
150 SMP/jam
200 SMP/jam
Lampu kuning dalam sistem APILL berfungsi untuk
Memperingati arus yang sedang bergerak bahwa fase akan berakhir
Menghentikan kendaraan yang melaju terlalu cepat
Menandakan kendaraan boleh melaju meskipun lampu merah menyala
Mengatur belok kanan agar tetap berjalan bersamaan dengan arus lurus
Dalam analisis kapasitas pendekat dengan arus lalu lintas yang berangkat pada fase berbeda, bagaimana pendekatan yang harus dilakukan?
Semua fase pendekat harus dianalisis bersama-sama
Setiap fase pendekat dianalisis secara terpisah
Hanya fase pendekat utama yang perlu dianalisis
Analisis dilakukan hanya berdasarkan arus lurus saja
Dalam menentukan lebar masuk (LM) untuk pendekat tanpa pulau lalu lintas, kapan arus belok kiri bisa membentuk lajur sendiri?
Ketika LBKiJT kurang dari 2 meter.
Jika LBKiJT lebih dari 2 meter.
Saat arus belok kiri menyatu dengan arus lurus.
Jika arus belok kiri dihitung terpisah dari arus lainnya
Jika LBKiJT kurang dari 2 meter, bagaimana analisis lebar efektif (LE) dilakukan?
Arus belok kiri dianggap dapat mendahului antrian kendaraan lurus
Arus belok kiri dihitung secara terpisah dari arus lainnya
Arus belok kiri dianggap menyatu dengan arus lurus
Lebar efektif dihitung hanya berdasarkan lebar masuk (LM)
Apa yang menjadi faktor utama dalam menentukan nilai arus jenuh (J)?
Faktor koreksi kondisi eksisting terhadap kondisi ideal
Kecepatan rata-rata kendaraan
Lebar pendekat saja tanpa faktor koreksi
Hanya berdasarkan ukuran kota dan kondisi lalu lintas
Jika gerakan belok kanan lebih besar dari 250 SMP/jam, apa yang harus dilakukan?
Tidak ada perubahan pada fase isyarat
Fase isyarat terlindung harus dipertimbangkan
Semua arus lalu lintas harus dihentikan sementara
Fase isyarat harus dikurangi durasinya
Dalam pendekat terlindung, bagaimana arus jenuh dasar (J0) ditentukan?
Dengan persamaan J0 = 600 × LE
Dengan mengukur jumlah kendaraan yang lewat setiap jam
Dengan menghitung rasio kendaraan belok kanan dan lurus
Dengan menganalisis hanya pada saat isyarat hijau
Apa yang menjadi pertimbangan dalam penentuan arus jenuh kombinasi jika suatu pendekat memiliki isyarat hijau lebih dari satu fase?
Waktu hijau masing-masing fase harus dihitung secara proporsional
Arus jenuh dari setiap fase dihitung secara independen tanpa kombinasi
Hanya fase utama yang diperhitungkan dalam analisis
Faktor koreksi tidak berpengaruh dalam kombinasi arus jenuh
Apa tujuan dari waktu merah semua (wMS) dalam simpang APILL?
Menghentikan semua kendaraan di persimpangan
Memberikan kesempatan kendaraan terakhir melewati titik konflik
Mempercepat laju kendaraan yang belok kanan
Mengurangi panjang antrian kendaraan
Apa tujuan utama dari penggunaan rumus Webster (1966) dalam perhitungan waktu siklus?
Meminimumkan tundaan total
Menyesuaikan arus lalu lintas dengan panjang kendaraan
Meningkatkan kapasitas jalan
Menentukan panjang lintasan keberangkatan
Nilai faktor perencanaan jam (K) untuk jalan perkotaan berkisar antara:
5% - 10%
7% - 12%
10% - 15%
12% - 20%
dalam simpang APILL,Apa yang harus dilakukan jika nilai Derajat Kejenuhan (DJ) melebihi 0,85?
Meningkatkan jumlah fase isyarat dan memperpendek waktu hijau
Menghapus simpang APILL dan menggantinya dengan bundaran
Menghitung ulang kapasitas tanpa melakukan perubahan desain
Melakukan perubahan rencana fase dan waktu isyarat serta lebar pendekat
Tujuan utama evaluasi kondisi operasional suatu simpang APILL adalah untuk
Menentukan waktu hijau yang optimal
Menilai kapasitas, derajat kejenuhan, panjang antrian, dan tundaan
Menetapkan waktu isyarat berdasarkan rumus Webster
Mempercepat arus lalu lintas dengan mengurangi fase isyarat
Bagaimana cara cepat menilai hasil analisis kapasitas simpang APILL?
Melihat nilai DJ dan membandingkannya dengan kondisi lalu lintas masa pelayanan
Menghitung ulang LHRT untuk setiap pendekat
Menentukan EMP untuk setiap fase lalu lintas
Menggunakan nilai EMP yang berbeda pada setiap simpang
Prosedur perhitungan kapasitas simpang APILL dilakukan dengan enam langkah utama. Jika tujuan analisis adalah menilai kinerja lalu lintas, maka proses analisis diakhiri pada:
Langkah C
Langkah D
Langkah E
Langkah F
Pada analisis kapasitas simpang, sudut perpotongan simpang dianggap sekitar...
45°
60°
90°
120°
Jenis simpang yang diperhitungkan dalam analisis kapasitas adalah...
Simpang-3 dan Simpang-4
Simpang-5 dan Simpang-6
Bundaran dan Flyover
Semua tipe persimpangan
Faktor apa yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan tipe simpang?
LHRT dan Faktor K
DJ ≤0,85 dan T terkecil
Persyaratan teknis geometri simpang
Semua jawaban benar
Persamaan yang digunakan untuk menghitung kapasitas simpang adalah..
C = C0 × FLP × FM × FUK × FHS × FBKi × FBKa × FRmi
qJP = LHRT × K
C = (FLP + FM + FUK + FHS) ÷ (FBKi + FBKa + FRmi)
K = C × LHRT × qJP
Tujuan utama dari analisis kapasitas simpang adalah untuk menilai...
Luas trotoar
Kapasitas, derajat kejenuhan (DJ), dan tundaan (T)
Batas kecepatan kendaraan
Marka jalan yang diperlukan
Jika nilai DJ dalam suatu simpang lebih dari 0,85, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah..
Tidak perlu dilakukan perubahan karena masih aman
Mengurangi jumlah jalur lalu lintas
Melakukan perubahan rencana simpang, seperti menyesuaikan waktu isyarat atau memperlebar pendekat
Menutup simpang tersebut untuk kendaraan tertentu
Langkah pertama dalam prosedur analisis kapasitas simpang adalah...
Menetapkan kapasitas simpang
Menetapkan data masukan
Menganalisis kinerja lalu lintas
Melakukan perubahan rencana simpang
Faktor koreksi yang memperhitungkan hambatan samping dalam kapasitas simpang adalah.
FLP
FHBS
FHS
FBKa
Pemilihan jenis persimpangan baru didasarkan pada...
Analisis BSH
Keputusan subjektif
Preferensi pengemudi
Ketersediaan lahan
Faktor koreksi yang mempertimbangkan ukuran kota dalam analisis kapasitas simpang adalah...
FM
FLP
FUK
FBKa
Simpang ideal dalam analisis kapasitas memiliki lebar lajur pendekat rata-rata sebesar...
2,50 m
2,75 m
3,00 m
3,25 m
Bagian jalinan dibagi menjadi dua tipe utama, yaitu:
Bagian jalinan tunggal dan bagian jalinan majemuk
Bagian jalinan kecil dan bagian jalinan besar
Bagian jalinan utama dan bagian jalinan sekunder
Bagian jalinan atas dan bawah
Apa yang dapat meningkatkan kapasitas bagian jalinan bundaran?
Mempersempit lebar dan panjang jalinan
Memperlebar dan memperpanjang bagian jalinan
Membatasi jumlah kendaraan yang masuk ke bundaran
Menambah jumlah lajur tanpa memperbesar lebar jalinan
Mengapa radius lebih besar dari 30-40 meter sebaiknya dihindari pada bundaran?
Radius besar meningkatkan risiko kendaraan kehilangan kendali
Radius kecil lebih mudah dibangun dan lebih murah
Radius besar dapat menyebabkan kendaraan masuk dengan kecepatan tinggi, meningkatkan risiko kecelakaan
Radius besar mempercepat kendaraan keluar sehingga menimbulkan kepadatan di pintu keluar
Salah satu faktor yang digunakan dalam pemilihan tipe bundaran adalah:
Jumlah lampu lalu lintas di sekitar bundaran
Luas keseluruhan area bundaran
LHRT, Faktor K, dan DJ ≤ 0,85
Ketinggian permukaan jalan
Apa fungsi dari pulau lalu lintas tengah pada bundaran?
Menyediakan ruang untuk parkir sementara
Menjadi tempat berhenti kendaraan yang mengalami kerusakan
Membantu pengendara melihat simpang dengan lebih jelas
Menjadi jalur khusus bagi pejalan kaki
Salah satu kriteria desain bagian jalinan tunggal adalah mempertimbangkan
Kecepatan maksimum kendaraan
Faktor K dan DJ ≤ 0,85
Jumlah kendaraan yang melintas dalam satu hari penuh
Ukuran trotoar di sekitar persimpangan
Apa tujuan dari pemasangan pulau lalu lintas di masing-masing lengan bundaran?
Mengarahkan kendaraan masuk agar sudut menjalin lebih kecil
Mempercepat kendaraan masuk ke bundaran
Mengurangi jumlah kendaraan yang boleh melintas
Menjadi tempat beristirahat bagi pengendara
Rasio yang menjadi acuan dalam perhitungan kapasitas bagian jalinan adalah:
WE/W𝑊 dan W𝑊/L𝑊
WP/LW dan WL/WJ
JL/LB dan DJ/LHRT
K/LB dan DJ/K
lebar lajur jalan yang tersedia setelah dikurangi oleh ruang parkir atau penghalang lainnya
yang menutupi lajur lalu lintas, dalam meter ?
lebar jalur efektif
lebar masuk rata-rata
lebar lajur efektif
lebar lajur
Perhitungan kapasitas dan ukuran kinerja bagian jalinan dibedakan untuk dua tujuan utama, yaitu:
Analisis desain dan analisis biaya
Analisis operasional dan analisis desain
Analisis lalu lintas dan analisis geometrik
Analisis lingkungan dan analisis kapasitas
Sasaran utama dari analisis operasional suatu bagian jalinan adalah menilai variabel berikut, kecuali:
C (kapasitas)
DJ (derajat kejenuhan)
Pa (probabilitas antrean)
BI (biaya infrastruktur)
Dalam PKJI, untuk desain bundaran baru, pemilihan tipe bundaran dapat menggunakan bantuan:
Tabel 14-3 dan diagram dalam Gambar 14-11 sampai Gambar 14-13
Tabel 7-7 dan diagram dalam Gambar 7-1
Tabel 10-5 dan grafik pada Gambar 10-12
Tabel 5-2 dan analisis kinerja lalu lintas
Formulir SWEAV-I digunakan untuk mencatat data
Geometrik dan arus lalu lintas bagian jalinan bundaran
Geometrik dan arus lalu lintas bagian jalinan tunggal
Parameter geometrik kapasitas bundaran
Evaluasi lingkungan di sekitar jalan
Sketsa dari geometri lokasi dicatat dalam
Formulir RWEAV-I atau SWEAV-I
Formulir LHRT-1
Formulir qJP-2
Formulir BSH-3
Pendekat dan denah keluar dalam sketsa lalu lintas biasanya diberi notasi
1, 2, 3, dan 4
P, Q, R, dan S
A, B, C, dan D
X, Y, Z, dan W
Nilai faktor jam perencanaan (K) untuk konversi LHRT menjadi kendaraan per jam harus dicatat pada:
Baris 1 formulir SWEAV-I atau RWEAV-I
Kolom 7 tabel analisis kinerja lalu lintas
Diagram lalu lintas dalam Gambar 7-12
Kolom 9 formulir perencanaan bundaran
Konversi arus lalu lintas ke dalam SMP/jam dilakukan dengan
Menggunakan faktor konversi LHRT
Mengalikan arus dalam kend/jam dengan EMP
Menggunakan nilai rata-rata dari jumlah kendaraan
Mengestimasi berdasarkan data tahun sebelumnya
Rasio jalinan (PW) dihitung dengan membandingkan arus jalinan total dengan
Arus kendaraan tidak bermotor
Arus total lalu lintas (qTOT)
Arus masuk bundaran (qMASUK)
Arus total pendekat (qJP)
Formulir yang digunakan untuk menghitung arus masuk bundaran (qMASUK) adalah:
SWEAV-II
SWEAV-I
RWEAV-II
RWEAV-I
Jika nilai derajat kejenuhan (DJ) melebihi 0,85, maka
Jalan belum perlu dirancang ulang atau ditingkatkan
Tidak perlu ada perubahan desain jalan
Jalan perlu dirancang ulang atau ditingkatkan
Arus lalu lintas tetap stabil
Formulir yang digunakan untuk menetapkan kapasitas bagian jalinan adalah
SWEAV-I dan RWEAV-I
SWEAV-II dan RWEAV-II
SWEAV-I dan RWEAV-II
SWEAV-I dan SWEAV-II
Salah satu cara meningkatkan kapasitas simpang jika nilai DJ melebihi 0,85 adalah
Mengurangi jumlah pendekat
Menambah lebar pendekat
Mengurangi jumlah jalur lalu lintas
Meningkatkan jumlah kendaraan tidak bermotor
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio kendaraan tidak bermotor adalah
PW = qW/qTOT
RKTB = qKTB/qKB
DJ = 0,5 × (1 + (1 − DJ)0,5)
Pa = qTOT/qMASUK
Untuk menghitung rasio kendaraan tidak bermotor, arus total kendaraan tidak bermotor dibagi dengan
qTOT
qMASUK
Arus total lalu lintas dalam kend/jam
Kapasitas dasar (C0)
Usaha Pemindahan Orang Atau Barang dari Lokasi Asal (Origin) ke Lokasi Tujuan (Destination) untuk keperluan tertentu dan dengan Menggunakan alat tertentu pula adalah pengertian...
Transportasi
Transisi
Tranformasi
Transmigrasi
Transplantasi
Dalam hierarki pengguna jalan, urutan prioritas yang benar dari tertinggi ke terendah adalah:
Pejalan kaki, pesepeda, angkutan umum, kendaraan pribadi
Angkutan umum, pejalan kaki, pesepeda, kendaraan pribad
Kendaraan pribadi, angkutan umum, pesepeda, pejalan kaki
Pesepeda, pejalan kaki, angkutan umum, kendaraan pribadi
Manakah dari berikut ini yang merupakan contoh implementasi prioritas untuk angkutan umum?
Menambah lajur untuk kendaraan pribadi
Memperluas area parkir di pusat kota
Membuat jalur khusus bus (bus lanes)
Meningkatkan batas kecepatan di jalan raya
