NEW
Font size
WorksheetsCerpen
Total questions: 30
Worksheet time: 34mins
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sebuah mobil colt berplat nomor merah berhenti persis di depan kedai kasur Alin. Murni berdebar-debar, kalau-kalau orang yang turun dari mobil itu utusan hotel yang memesan tiga puluh kasur single itu. Ia berusaha tersenyum dan menyembunyikan giginya yang terlalu menonjol ke depan. Orang berpakaian pegawai itu juga tersenyum membalas.
"Maaf, Bu. Saya pegawai ketertiban Balaikota. Apakah racun api Ibu masih baik? Boleh saya periksa?"
Kata tercetak miring tersebut mengandung makna ...
Bangunan tempat memproduksi barang
Bangunan tempat berjualan
Bangunan tempat menitipkan barang
Bangunan tempat menumpuk barang
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor …
(1)
(2)
(3)
(4)
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah ...
Mentari meredup
Ketika kerumunan tidak bersama
Mentari di sebelah barat
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ya, kediaman keluarga Sastro Suwiryo yang menempati lahan seluas 200 meter persegi di Desa Kasongan pinggiran Yogyakarta itu bisa dibilang tenang dan tentram sebelumnya. Malam itu sudah hampir setengah jam isak tangis terdengar mengalahkan lagu malam yang dinyanyikan oleh angin dan lambaian pohon kelapa belakang rumah. Rembulan purnama yang tengah asyik menemani orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyak juga tidak disapa oleh isak tangis itu.
“ Bapak, bangun, Pak.”
“ Ada apa, Bu? Malam-malam begini kok bangun? Kok kelihatannya ada yang serius.”
Dikutip dari: Agung Webe, “Arjuna Tidak Mencari Cinta” dalam Arjuna Tidak Mencari Cinta, Bekasi, Soul Journey, 2016.
Kalimat bercetak tebal dalam kutipan cerpen tersebut mengandung majas ...
Hiperbola
Metafora
Personifikasi
Metonimia
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
(1) Setelah aku tidur di rumah nenek selama tiga hari, senyum nenek semakin lebar dan beliau mengucapkan, "Terima kasih cucuku, kamu telah memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku." (2) Dan disuruh semua anaknya berkumpul. (3) Setelah semua berkumpul, nenek menutup mata untuk selama-lamanya. (4) Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi berdenyut.
Sumber: Nasihat Terindah, karya lrwan Ahmad Rozaki
Kalimat langsung pada kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat nomor ...
1
2
3
4
Setiap saat anak-anak selalu bemain di lapangan. Anak laki-laki bermain sepakbola, anak perempuan bermain lompat tali. Semua tampak gembira kecuali tuning. Ia hanya memerhatikan kami dari balik
pohon besar. “Kenapa Tuning tidak kita ajak main?” usulku. Isna langsung melotot, “ Apa kamu mau ketularan kutu rambutnya?” “belum ingusnya yang menjijikan itu,” tambah Heppy. Teman-teman ramai komentar, semua menjelek-jelekan Tuning. Sejak itu, aku tidak berani usul lagi untuk mengajak Tuning bermain bersama.
Konflik pada cerita anak tersebut adalah …
Tokoh aku dijauhi teman-temanya.
Tuning tidak diajak bermain oleh teman-temannya karena penyakitan.
Teman-teman Tuning membenci karena penyakitan
Tokoh aku malu bermain dengan Tuning.
Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kabisuan mulut disumpal ujung selimut.
Makna kata langut dan kemelut dalam kutipan cerpen tersebut menyimbolkan …
Kesedihan dan penderitaan
Kehampaan dan kesendirian
Kehilangan dan kesedihan
Kesedihan dan penyesalan
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor …
1
3
4
5
Aji : "Maafkan salahku, Mir!"
Amir : "Tidak!"
Aji : "AKu memang salah telah mengambil dia darimu."
Amir : "Aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapanpun."
Watak tokoh Amir yang tidak tepat adalah ....
egois
keras kepala
pemaaf
Pemarah
Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyangan memikul berbagai jenis makhluk laut yang harus sudah tersaji di meja pualam stanplat pada pukul lima, sehingga pukul enam sudah bisa di serbu ibu-ibu. Artinya, setelah kami laluasa untuk sekolah. (Sang Pemimpi Andrea Hirata)
Amanat yang terdapat pada cuplikan novel di atas adalah ....
Bekarjalah terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.
Setiap ibu rumah tangga harus memasak demi keluarganya.
Perbanyaklah makan ikan agar menjdi anak yang pandai di sekolah.
Bekarja harus tepat waktu agar mudah untuk mendapat rezeki.
“ Ya Allah, Gusti Allah, Bude,” Surastri terisak. “Kami semua mengira Bude sudah meniggal, ternyata Bude Humaini masih hidup. Alhamdulillah.”
Para mahasiswi yang kos di rumah sewa itu akhirnya tahu. Ternyata selama ini Astuti menyimpan bebannya sampai rapat. Tempat mengadunya hanya satu, yaitu Tuhan di atas sana. Mengaji membaca Al quran setiap malam yang dilakukan sampai menangis adalah cara yang dipilihnya dalam memohon Tuhan untuk mengembalikan ibunya. Segenap penghuni kos itu terhenyak, ketika mereka membayangkan, bagaimana kira-kira yang mereka rasakan jika merekalah yang mengalami peristiwa itu.
Watak Astuti dalam kutipan tersebut adalah …….
Pendiam
Sabar
Lemah hati
Teguh Hati
Tetapi rasa gundah gulanaku kali ini bukan lagi karena mengenang Bang Rizani.Aku telah melepas kepergiannya dengan segala kesucian hati dan kejernihan asa. Aku tidak mungkin membohongi naluri keperempuananku. Sepuluh tahun menyendiri bukan waktu yang sekejap. Aku merasa bagaikan sepotong pualam yang tidak boleh tergores sedikitpun agar selalu berharga di mata banyak orang
Nilai moral yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dalam kutipan tersebut adalah ………
Seorang istrinya selalu mengenang suaminya yang telah meninggal.
Seorang istri yang setia sampai mati terhadap suaminya.
Seorang wanita ibarat sepotong pualam yang sewaktu-waktu dapat pecah.
Seorang wanita yang telah ditinggal mati suaminya dapat menjaga diri.
“Kemungkinan rambut Anda rontok setelah dikemoterapi,” kata dokter dengan lembut. “Saya siap, Dok. Demi kesehatan saya, Dok,” jawaban Fati.
“Oh iya, ketika obat kemoterapi disuntikkan, pada umumnya pasien merasa sakit,” lanjut dokter.
“Saya paham, Dok. Saya ingin sembuh.”
“Kalau begitu, selamat istirahat.”
Dokter meninggalkan ruang tempat Fati dirawat menuju ruang sebelah untuk memeriksa pasien-pasien lain.
Sikap terpuji dari tokoh Fati adalah ….
Kemauan keras untuk kemoterapi
Semangat untuk sembuh
Kemauan keras untuk disuntik
Semangat untuk berobat ke dokter
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah.…
Mentari meredup
Mentari di sebelah barat
Ketika kerumunan tidak bersama
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Astaga, siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Namun, hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai supir taksi.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah…
Kehati-hatian seseorang terhadap keadaan sekelilingnya
Ketakutan yang timbul akibat pengalaman masa lalu
Jangan berprasangka buruk hanya karena melihat penampilannya
Ketidakpercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya
Ketakutan melihat orang jahat
Kalau begitu mengapa Syarifudin meninggal pada hari kedua, setelah dia disunat? Darah tak banyak keluar dari lukanya. Syarifudin kan juga penurut. Pendiam. Setengah bulan, hampir, dia mengurung diri karena kau mengatakan kelakuan abangnya sehari sebelum disunat itu. Aku tidak percaya jika hanya oleh melompat-lompat dan berkejaran setengah malam penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai percaya desas-desus itu bahwa kau orang yang tamak. Orang yang kikir. Penghisap. Lintah darat. Inilah ganjarannya! Aku mulai percaya desas-desus itu, tentang dukun-dukun yang mengilu luka sunatan anak-anak kita. Aku mulai yakin, mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu.
Berdasarkan cuplikan cerpen di atas, mengandung makna yang bernilai di dalamnya. Nilai apa yang tekandung dalam cerpen tersebut?
Agama
Moral
Politik
Budaya
Sosial
Sejuk. Mentari menyambut hariku begitu hangat. Sampai-sampai berat rasanya untuk bangun dari tidurku, butiran embun yang membasahi atap tenda pun sudah mulai menghilang. Kicauan burung dan suara angin menyertai keindahan pelarianku. Jauh dari bisingnya kendaraan dan hiruk pikuk ibu kota, membuatku merasa hidup itu perlu apresiasi, pengahargaan terhadap diri sendiri karena telah berhasil menaklukan gengsi. Sembari menyeduh air untuk membuat kopi, dihadapanku ada dua tenda yang masih tertutup pintunya, entah penghuninya sedang menuju puncak atau masih tertidur nyenyak. Pendakianku sengaja tidak mencari puncak melainkan cukup sampai batas vegetasi saja, sebab aku sadar hanya mendaki seorang diri tanpa pendamping yang biasanya selalu ku ajak tiap kali aku mendaki.
Latar yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah?
pagi hari, di gunung, sepi
pagi hari, di jalan raya, sepi
siang hari, di terminal, ricuh
sore hari, di gedung tua, sepi
malam hari, di rumah, sepi
Bu Kustiyah bertekad bulat menghadiri resepsi pernikahan putra Pak Hargi. Tidak bisa tidak. Apapun hambatannya. Berapapun biayanya. Ini sudah menjadi niatnya sejak lama. Bahwa suatu saat nanti, kalau Pak Gi mantu ataupun ngunduh mantu, ia akan datang untuk mengucapkan selamat. Menyatakan kegembiraan. Menunjukan bahwa ia tetap menghormati Pak Gi, biarpun zaman sudah berubah.
Adanya kosakata daerah pada teks tersebut misalnya ... .
bertekad
resepsi
mantu
zaman
1) Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tak dimaui? 2) Tanyakan pertanyaan ini padanya. 3) Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan melancarkan jawabnya. 4) Konon dia lahir tanpa diminta. 5) Korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan. 6) Hasil sebuah hubungan gelap yang dilaknat warga dan Tuhan. 7) Perempuan yang saat ini disebut "ibunya" bukanlah ibu yang sebenarnya. 8) Dia hanya inang yang berkasihan lalu bergantian menyusui lapar mulut dua orang bayi; bayi berwajah penyok yang dibuang orang di pinggir kampung.
Pada kutipan cerpen tersebut, kalimat deskriptif ditunjukkan dengan nomor ... .
1
4
6
8
1) “Aku tak ingin kehilangan sahabat, Airin. Banyak yang menghentikan surat mereka ketika tahu aku lumpuh.” 2) “Mana mungkin aku begitu...!” Mata Airin terasa panas oleh gumpalan air yang mendesak keluar. Ia terharu melihat keadaan Dayu, sementtara semangatnya tetap berkobar walaupun dengan kondisi seperti itu. “Aku tetap sahabatmu, Dayu. Bahkan aku akan tambah sayang padamu setelah bertemu.” 3) “Sudahlah.” Dayu memegang tangan Airin. “Kenalkan, ini pamanku.” 4) Airin mendorong kursi Dayu, berjalan di atas pasir putih yang lembut. 5) Matahari hampir mencelupkan tubuh emasnya ke laut yang tampak kecoklatan karena langit mulai redup. Rambut Airin yang cepak tak bisa berkibar-kibar seperti rambut Dayu.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
Berbuat baiklah kepada orang lain meskipun orang itu menyakiti kita.
Janganlah menjadi orang yang hanya pandai meminta sesuatu.
Berikan sedekah kepada orang yang layak menerimanya.
Berusahalah untuk saling memahami keadaan orang lain.
Lagi dan lagi, pagi ini di usianya yang sudah 40 tahun Lisa masih tampak sibuk melakukan hal aneh bersama Roy di meja kecil ruang tamu yang disediakan khusus. Meja beralas taplak hitam polos itu diletakkan di bagian pinggir ruang tamu agak ke sudut ruangan. Ada secawan air yang selalu diisi bunga mawar segar, lilin cukup besar yang selalu dinyalakan setiap melakukan ritual, dupa yang beraroma cukup khas dan beberapa benda lain yang kesannya cukup mistis.
Unsur intrinsik yang menonjol pada kutipan cerita pendek tercebut adalah ....
latar
alur
sudut pandang
penokohan
“Mohammad San, inilah rumahku,” Toshihiko berkata ketika kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana. Lalu berteriak, “Ibu! Ibu! Inilah tamu yang kita tunggu. Lihatlah, seorang Indonesia yang tersesat di kebun anggur Katsunuma. Bukankah ini suatu kegormatan bagi kita?”
Pendeskripsian watak Toshihiko dalam cerpen tersebut adalah ....
jalan pikiran tokoh
reaksi tokoh terhadap kejadian
dialog tokoh
pandangan tokoh lain
1) Udara segar, belum terkontaminasi polusi pabrik dan asap kendaraan bermotor, serta hijau daun masih asri warnanya. 2) Hanya sesekali tersentuh debu-debu jalan yang ingin menghampiri sekadar bercerita sedikit. 3) Terkadang kupu-kupu berputar-putar mengitari taman di sudut desa yang sering aku kunjungi demi hanya melepaskan lelah setelah berhari-hari sibuk dengan aktivitas sekolah. 4) Ya, kupikir inilah tempat yang paling bisa menghiburku dari setiap masalah. 5) Teman yang paling bisa mengerti perasaanku bila seseorang memaksakan keputusan mereka.
Kalimat pada kutipan cerpen tersebut yang mengandung majas personifikasi ditunjukkan oleh kalimat nomor....
1) dan 2)
1) dan 5)
2) dan 3)
2) dan 4)
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi disetiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedungnya itu.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat ....
Pemberani
Baik
Egois
Sombong
Bacalah penggalan cerpen berikut!
Pagi ini Ibu menyuruhku berbelanja sedikit lebih banyak. Ada warga asing yang datang. Home stay. Orang Jepang. Sebetulnya dari mana pun itu aku tak peduli. Ada atau tidaknya orang baru di sekitarku, aku tak pernah menghiraukan. Toh mereka pun tak akan merasakan keberadaanku. Hari-hariku selain membantu Ibu kuhabiskan di dalam kamar. Menatap lambaian pepohonan kelapa dari balik jendela.
Latar suasana penggalan cerpen tersebut adalah ....
Terharu
Sunyi
Sedih
Senang
"Kamu kenapa, Du?" tanya kakek dengan sedih. "Maafkan Badu, Kek, tadi Badu makan mangga yang masih kecil-kecil dan akhirnya Badu sakit perut," kata Badu sambil terisak. "Sudahlah. Du, lain kali tunggulah sampai mangga itu ranum, baru Badu boleh memetiknya.
Amanat penggalan cerpen di atas adalah ....
janganlah makan mangga yang masih kecil
jangan memetik mangga sembarangan
kita harus menuruti nasihat orang tua
jangan melawan orang tua
(1)Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. (2)Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. (3)Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. (4)Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. (5)Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. (6)”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. (7)Ia beranjak menuju meja belajarnya. (8)Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. (9)Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. (10)Tangannya mulai mencorat-coret. (11)Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari terdapat pada kalimat nomor ....
(5)
(6)
(7)
(8)
(1)Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. (2)Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. (3)Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. (4)Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. (5)Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. (6)”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. (7)Ia beranjak menuju meja belajarnya. (8)Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. (9)Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. (10)Tangannya mulai mencorat-coret. (11)Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa watak Andi sombong ditunjukkan kalimat nomor ....
(5)
(6)
(7)
(8)
(1)Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. (2)Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. (3)Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. (4)Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. (5)Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. (6)”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. (7)Ia beranjak menuju meja belajarnya. (8)Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. (9)Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. (10)Tangannya mulai mencorat-coret. (11)Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Amanat kutipan cerpen di atas adalah ....
Usahakan selalu memberi hadiah kepada teman orang tua!
Temanilah ibumu saat duduk-duduk di beranda!
Matikan lampu jika sudah tidak diperlukan!
Jangan menyusahkan orang tua hanya karena ingin memberi hadiah teman!
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
sore hari, terminal
siang hari, terminal
siang hari, perjalanan
pagi hari, rumah
