WorksheetsQuiz Hubbuddunya dkk AA X
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Allah SWT berfirman:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan serta anak-anak..." (QS. Al-Hadid: 20).
Dalam kisah Qarun (QS. Al-Qashash: 76-82), ia menolak nasihat orang-orang saleh dan mengklaim bahwa kekayaannya adalah hasil dari ilmunya sendiri.
Jika seseorang memiliki kekayaan berlimpah dan merasa bahwa usahanya sepenuhnya karena kerja kerasnya, tanpa keterlibatan Allah, sikapnya lebih tepat disebut sebagai:
Hubbud dunya karena mencintai harta dunia secara berlebihan tanpa mempertimbangkan akhirat
Ujub karena merasa kehebatannya sendiri yang membuatnya sukses tanpa menyandarkan diri kepada Allah
Sombong karena menolak nasihat dan merasa lebih tinggi dari orang lain
Hasad karena ingin agar hanya dirinya yang memiliki kelebihan, bukan orang lain
Riya karena ingin menunjukkan keberhasilannya di hadapan manusia dengan pamer harta
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim).
Jika seseorang merasa bahwa amalnya sangat banyak dan berpikir bahwa dirinya lebih saleh dibanding orang lain, namun ia tetap menerima nasihat dengan baik, maka sikapnya lebih cenderung kepada:
Sombong, karena merasa lebih tinggi dibanding orang lain dalam ibadahnya
Ujub, karena terlalu mengandalkan amalnya sendiri dan merasa sudah cukup saleh
Riya, karena ia ingin amalnya dilihat oleh orang lain agar mendapat pujian
Hasad, karena ia tidak ingin orang lain lebih saleh darinya
Hubbud dunya, karena ia ingin memanfaatkan ibadah untuk mendapatkan duniawi
Dalam sebuah komunitas, seseorang merasa tidak nyaman melihat temannya mendapatkan penghormatan lebih tinggi darinya. Ia tidak berbuat apa-apa untuk menjatuhkan temannya, tetapi dalam hatinya ia merasa lega jika temannya mengalami kegagalan. Sikap ini lebih tepat mencerminkan:
Hasad, karena tidak senang melihat orang lain mendapatkan keutamaan
Riya, karena ingin dipandang lebih baik dibanding temannya
Ujub, karena merasa dirinya lebih pantas dihormati
Sombong, karena meremehkan temannya yang sukses
Hubbud dunya, karena terobsesi dengan penghormatan duniawi
Seorang ustaz mengingatkan, "Ada orang yang shalat tahajud sendirian di rumahnya. Tapi, ketika ia tahu bahwa banyak orang yang mengetahui kebiasaannya, ia merasa semakin semangat beribadah agar namanya tetap dihormati."
Sikap ini lebih tepat disebut sebagai:
Ujub, karena merasa amalnya sudah cukup untuk menyelamatkan dirinya
Riya, karena motivasi ibadahnya mulai bergantung pada pujian manusia
Hasad, karena ingin menjadi satu-satunya yang dikenal saleh
Hubbud dunya, karena ingin mendapatkan status sosial melalui ibadah
Sombong, karena merasa dirinya lebih saleh dari orang lain
Seorang pedagang sangat sukses dan dikenal jujur. Namun, dalam hatinya ia berpikir, "Aku berhasil karena aku lebih pintar dan lebih rajin dibanding orang lain."
Sikap ini lebih cenderung kepada:
Hubbud dunya, karena sangat mencintai keberhasilannya di dunia
Hasad, karena ingin menjadi satu-satunya yang sukses
Ujub, karena merasa kehebatannya sendiri yang membuatnya sukses
Riya, karena ingin dipuji atas kesuksesannya
Sombong, karena meremehkan pedagang lain
Seorang ulama berkata:
"Seseorang yang sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain, sedangkan seseorang yang riya ingin orang lain menganggapnya lebih baik."
Dalam konteks ini, mana pernyataan yang paling tepat dalam membedakan riya dan sombong?
Riya adalah memperindah amal di hadapan manusia, sedangkan sombong bisa terjadi meskipun tidak ada orang lain yang melihat
Seseorang yang sombong selalu menolak nasihat, sedangkan riya justru ingin dipuji atas kebaikannya
Riya lebih berbahaya daripada sombong karena bisa menyelinap ke dalam amal ibadah yang tampaknya tulus
Sombong adalah kesalahan batiniah, sedangkan riya hanya terjadi jika amalnya terlihat oleh orang lain
Orang yang riya biasanya juga sombong, tetapi orang yang sombong belum tentu riya
Seorang Da'i merasa kesal karena masjid di seberang lebih ramai daripada masjid tempat ia berdakwah. Dalam hatinya ia berpikir, "Seharusnya orang-orang datang ke tempatku, karena ilmunyaku lebih dalam."
Situasi ini lebih tepat mencerminkan:
Ujub, karena merasa ilmunya lebih tinggi dari orang lain
Hasad, karena ingin agar masjid lain tidak lebih ramai daripada tempatnya
Riya, karena ingin mendapatkan pengakuan sebagai dai yang lebih populer
Sombong, karena menolak menerima kenyataan bahwa orang lain juga bisa sukses
Hubbud dunya, karena menjadikan jumlah jamaah sebagai uku
Seorang ilmuwan Islam menguasai banyak kitab klasik dan selalu menjawab pertanyaan dengan dalil yang kuat. Suatu hari, seorang murid memberikan pendapat berbeda yang juga didukung dalil kuat, tetapi sang ilmuwan menolaknya mentah-mentah sambil berpikir, "Ilmunya belum sebanding denganku untuk mengoreksi pendapatku." Sikap ini lebih cenderung kepada:
Ujub, karena merasa ilmunya sudah sempurna dan tidak butuh masukan
Sombong, karena meremehkan orang lain dan menolak kebenaran
Hasad, karena tidak ingin ada murid yang menyamai keilmuannya
Riya, karena ingin tetap dipandang sebagai orang paling berilmu
Hubbud dunya, karena menjadikan reputasi akademiknya sebagai tujuan utama
Seseorang aktif berinfak dalam jumlah besar untuk membangun pesantren. Ia melakukannya dengan ikhlas, tetapi dalam hatinya ada harapan agar ia dikenal sebagai dermawan dan bisa mendapatkan pengaruh sosial yang lebih luas. Situasi ini lebih tepat mencerminkan:
Riya, karena berharap pujian dari manusia melalui infaknya
Hubbud dunya, karena menjadikan amal saleh sebagai alat untuk memperoleh kedudukan duniawi
Ujub, karena merasa bahwa amalnya lebih besar dibanding orang lain
Hasad, karena ingin menjadi satu-satunya orang yang dikenal sebagai donatur utama
Sombong, karena merasa lebih pantas dihormati karena infaknya
Seorang lulusan terbaik dari universitas ternama mendapatkan pekerjaan prestisius. Ketika melihat teman-temannya masih berjuang mencari pekerjaan, ia berpikir, "Aku mendapatkan semua ini karena kerja kerasku dan kecerdasanku. Kalau mereka lebih rajin, mereka juga bisa sukses seperti aku." Sikap ini lebih tepat disebut sebagai:
Ujub, karena merasa kesuksesannya sepenuhnya hasil dari kehebatan dirinya sendiri
Sombong, karena meremehkan perjuangan orang lain yang belum sukses
Hasad, karena tidak ingin orang lain menyamai tingkat keberhasilannya
Riya, karena ingin menunjukkan superioritasnya dalam pencapaian akademik
Hubbud dunya, karena menjadikan status dan karier sebagai tujuan utama hidup
