NEW
Font size
WorksheetsLatihan PTS Bahasa Indonesia SMK
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Bacalah penggalan cerpen berikut untuk menjawab pertanyaan!
"Lima tahun sudah Rina merantau ke kota. Setiap hari ia bekerja keras sebagai pembantu rumah tangga, menghemat setiap rupiah untuk dikirimkan ke desa. Malam ini, sambil memandang foto ibunya yang sudah renta, ia tersenyum getir. Gajinya baru saja dipotong lagi karena tuduhan tak berdasar. 'Tak apa,' bisiknya, 'yang penting Ibu bisa beli obat.'"
Tema yang paling tepat untuk penggalan cerpen di atas adalah...
Kesenangan dalam bekerja
Konflik antarpekerja
Pengorbanan seorang anak untuk orang tua
Keindahan kehidupan kota
Persahabatan di perantauan
Bacalah penggalan cerpen berikut untuk menjawab pertanyaan!
"Lima tahun sudah Rina merantau ke kota. Setiap hari ia bekerja keras sebagai pembantu rumah tangga, menghemat setiap rupiah untuk dikirimkan ke desa. Malam ini, sambil memandang foto ibunya yang sudah renta, ia tersenyum getir. Gajinya baru saja dipotong lagi karena tuduhan tak berdasar. 'Tak apa,' bisiknya, 'yang penting Ibu bisa beli obat.'"
Pesan yang ingin disampaikan penulis melalui cerpen tersebut adalah...
Foto keluarga dapat menghilangkan rasa lelah
Pekerja rumah tangga selalu diperlakukan tidak adil
Merantau adalah pilihan yang salah
Seorang anak rela berkorban demi kebahagiaan orang tua
Hidup di kota penuh dengan kesenangan
Bacalah puisi berikut untuk menjawab pertanyaan!
"Senja di Pelabuhan
Kau datang lagi, seperti janji
Menghantar dingin yang merayap pelan
Memeluk tubuh letihku
Dengan bayang-bayangmu yang panjang
Perahu-perahu tak lagi bersandar
Hanya angin yang masih setia
Membisikkan nama-nama yang telah pergi
Dan ombak pun menangis sunyi"
(Karya: Chairil Anwar)
Diksi (pilihan kata) yang menunjukkan kesan kesepian dalam puisi tersebut adalah...
“Hanya angin yang masih setia”
"bayang-bayangmu yang panjang"
"Menghantar dingin"
"Kau datang lagi"
"ombak pun menangis sunyi"
Bacalah puisi berikut untuk menjawab pertanyaan!
"Senja di Pelabuhan
Kau datang lagi, seperti janji
Menghantar dingin yang merayap pelan
Memeluk tubuh letihku
Dengan bayang-bayangmu yang panjang
Perahu-perahu tak lagi bersandar
Hanya angin yang masih setia
Membisikkan nama-nama yang telah pergi
Dan ombak pun menangis sunyi"
(Karya: Chairil Anwar)
Majas yang dominan digunakan dalam puisi tersebut adalah...
Asosiasi
Metafora
Litotes
Hiperbola
Personifikasi
Bacalah puisi berikut dengan saksama, kemudian pilihlah jawaban yang paling tepat menggambarkan suasana dalam puisi tersebut!
"Senja di Pelabuhan"
Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Suasana yang tergambar dalam puisi tersebut adalah...
Sepi – karena tidak ada aktivitas dan kehidupan
Penuh harapan – karena ada kapal yang akan berlayar
Menakutkan – karena suasana gelap dan mencekam
Romantis – karena bercerita tentang cinta
Riang – karena menggambarkan keramaian Pelabuhan
Pilihlah jawaban yang paling tepat untuk melengkapi dialog yang rumpang!
Naskah Drama “Konflik di Bengkel”
Tokoh:
Aris (mekanik senior)
Budi (mekanik junior)
Adegan:
(Di bengkel otomotif, Budi terlihat bingung menghadapi mesin yang sedang diperbaiki)
Aris: "Sudah dua jam kamu kerjakan mesin itu, kenapa belum selesai juga?"
Budi: "Maaf Pak, saya masih kesulitan menemukan masalahnya..."
Aris: "_________________________"
Dialog yang paling tepat untuk melengkapi ucapan Aris adalah...
“Kalau tidak mampu ya jangan beli”
"Besok jangan datang lagi ya!"
"Kamu memang tidak berbakat jadi mekanik!"
"Coba periksa sistem pengapiannya dulu, biasanya masalah ada di situ."
"Ya sudah, pulang saja kalau begitu!"
Ciri utama yang membedakan drama dengan puisi dan prosa adalah...
Menggunakan dialog dan tindakan secara langsung
Selalu ditulis dalam bentuk bait dan rima
Menceritakan kisah panjang dengan deskripsi detail
Hanya terdiri dari ungkapan perasaan pribadi
Tidak memiliki alur cerita
Bacalah kutipan drama berikut dengan cermat untuk menjawab pertanyaan!
Latar: Ruang keluarga di rumah Pak Budi, malam hari
Tokoh:
· Pak Budi (ayah, 50 tahun)
· Ibu Sinta (ibu, 45 tahun)
· Rina (anak sulung, 22 tahun)
· Doni (anak bungsu, 17 tahun)
Adegan:
(Rina sedang memegang surat penerimaan kerja di luar kota, sambil gugup menghadapi ayahnya)
Rina: "Ayah, Ibu... aku diterima kerja di Jakarta. Gajinya lumayan, bisa membantu adik-adik sekolah."
Pak Budi: (menghempaskan koran ke meja) "Tidak boleh! Anak perempuan tidak pantas hidup sendiri di kota besar!"
Ibu Sinta: (menghela napas) "Budi, biarkan dia mencoba. Rina sudah dewasa..."
Pak Budi: "Diam! Aku yang menentukan apa yang terbaik untuk anak-anakku!"
Doni: (berbisik pada Rina) "Kak, jangan dengarkan Ayah. Aku mendukungmu."
Rina: (dengan air mata) "Tapi Ayah, ini kesempatan emas. Aku janji akan berhati-hati."
Pak Budi: "Sudah! Pokoknya tidak boleh! Lebih baik kau membantu ibumu di warung!"
Watak Pak Budi dalam drama tersebut adalah...
Progresif - karena mendukung kemajuan anaknya
Peduli - karena ingin yang terbaik untuk keluarga
Otoriter - karena memaksakan kehendak tanpa kompromi
Pluralis - karena menghargai perbedaan pendapat
Pengecut - karena takut kehilangan anak
Bacalah kutipan drama berikut dengan cermat untuk menjawab pertanyaan !
Latar: Ruang keluarga di rumah Pak Budi, malam hari
Tokoh:
· Pak Budi (ayah, 50 tahun)
· Ibu Sinta (ibu, 45 tahun)
· Rina (anak sulung, 22 tahun)
· Doni (anak bungsu, 17 tahun)
Adegan:
(Rina sedang memegang surat penerimaan kerja di luar kota, sambil gugup menghadapi ayahnya)
Rina: "Ayah, Ibu... aku diterima kerja di Jakarta. Gajinya lumayan, bisa membantu adik-adik sekolah."
Pak Budi: (menghempaskan koran ke meja) "Tidak boleh! Anak perempuan tidak pantas hidup sendiri di kota besar!"
Ibu Sinta: (menghela napas) "Budi, biarkan dia mencoba. Rina sudah dewasa..."
Pak Budi: "Diam! Aku yang menentukan apa yang terbaik untuk anak-anakku!"
Doni: (berbisik pada Rina) "Kak, jangan dengarkan Ayah. Aku mendukungmu."
Rina: (dengan air mata) "Tapi Ayah, ini kesempatan emas. Aku janji akan berhati-hati."
Pak Budi: "Sudah! Pokoknya tidak boleh! Lebih baik kau membantu ibumu di warung!"
Watak Rina yang tergambar dari percakapan tersebut adalah...
Pemberontak - karena ingin melawan orang tua
Penakut - karena menangis menghadapi ayahnya
Egois - karena hanya memikirkan dirinya sendiri
Pembohong - karena menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati
Mandiri - karena berani merantau untuk masa depan
Perhatikan kutipan puisi berikut:
"Di jalan penuh duri, aku tetap melangkah, meraih mimpi di ujung senja."
Makna kiasan "meraih mimpi di ujung senja" adalah….
Berjalan di sore hari
Menghentikan perjuangan
Mencari sesuatu di senja hari
Menghindari tantangan hidup
Berusaha mencapai tujuan di akhir kehidupan
Perhatikan kutipan puisi berikut:
“Di bawah purnama yang sendu, daun-daungugur satu per satu.”
Unsur intrinsik yang terlihat dalam kutipantersebut adalah....
Tema
Suasana
Latar tempat
Sudut pandang
Alur
Jika Anda diminta membuat puisi bertema "persahabatan," bait pertama yang paling sesuai adalah....
"Di lembah sepi, aku berjalan sendiri."
“Senja tak lagi memeluk mimpi."
“Tanganmu erat menggenggam langkahku yang lelah."
"Langit malam penuh taburan bintang."
"Daun gugur menandai perpisahan."
Bacalah kutipan berikut:
"Kami hanya debu,
Tertiup ke sana ke mari tanpa arah,
Namun kami juga badai,
Menghancurkan tembok yang menindas kami."
Dalam konteks pergerakan sosial, bagaimana interpretasi Anda terhadap simbol "debu" dan "badai" dalam puisi tersebut?
Debu melambangkan kelemahan, badai melambangkan kekuatan kolektif
Debu melambangkan kebebasan, badai melambangkan anarki
Debu melambangkan kehancuran, badai melambangkan perlawanan
Debu melambangkan ketidakberdayaan, badai melambangkan kekacauan
Debu melambangkan masa lalu, badai melambangkan masa depan
Perhatikan kutipan naskah drama berikut:
"Ibu: Mengapa kamu meninggalkan kuliah begitu saja?
Andi: Karena aku lelah menjadi apa yang Ibu inginkan, bukan diriku sendiri."
Unsur intrinsik yang paling menonjol dalam kutipan tersebut adalah....
Latar tempat
Konflik
Sudut Pandang
Amanat
Alur
Jika Anda diminta membuat dialog pendek untuk drama bertema "kesetiaan dalam persahabatan," dialog berikut yang paling tepat adalah...
"Aku tidak akan meninggalkanmu, bahkan saat dunia melawan kita."
"Kamu memang teman terbaik, tapi aku harus berjalan sendiri sekarang."
"Mungkin persahabatan kita tidak berarti lagi."
"Aku harap kita tetap bersama, meski hanya dalam kenangan."
"Kamu tahu aku selalu mendukungmu, selama itu menguntungkanku."
Perhatikan kutipan naskah drama berikut:
"Rina: Ayah, aku ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ini kesempatan yang baik untuk masa depanku."
Pak Budi: "Tidak! Kamu harus tetap di sini dan membantu keluarga!"
Unsur intrinsik yang paling terlihat dalam kutipan tersebut adalah....
Alur
Amanat
Karakter
Dialog
Konflik
Jika Anda diminta membuat puisi bertema "cinta," bait pertama yang paling sesuai adalah....
"Kisah kita terukir dalam waktu."
"Di antara bintang, kita bertemu."
"Cinta adalah perjalanan tanpa akhir."
"Kau adalah cahaya dalam gelapku."
"Hati ini bergetar saat kau tersenyum."
Perhatikan kutipan puisi berikut:
"Di tengah malam yang sunyi, bintang-bintang berbisik lembut, mengingatkan kita akan cinta yang abadi."
Makna kiasan "cinta yang abadi" dalam puisi tersebut adalah….
Cinta yang datang dan pergi
Cinta yang tidak akan pernah pudar
Cinta yang hanya diungkapkan dengan kata-kata
Cinta yang hanya ada di malam hari
Cinta yang penuh dengan kesedihan
Bacalah kutipan drama berikut dengan cermat untuk menjawab pertanyaan!
Latar: Ruang keluarga di rumah Pak Budi, malam hari
Tokoh:
· Pak Budi (ayah, 50 tahun)
· Ibu Sinta (ibu, 45 tahun)
· Rina (anak sulung, 22 tahun)
· Doni (anak bungsu, 17 tahun)
Adegan:
(Rina sedang memegang surat penerimaan kerja di luar kota, sambil gugup menghadapi ayahnya)
Rina: "Ayah, Ibu... aku diterima kerja di Jakarta. Gajinya lumayan, bisa membantu adik-adik sekolah."
Pak Budi: (menghempaskan koran ke meja) "Tidak boleh! Anak perempuan tidak pantas hidup sendiri di kota besar!"
Ibu Sinta: (menghela napas) "Budi, biarkan dia mencoba. Rina sudah dewasa..."
Pak Budi: "Diam! Aku yang menentukan apa yang terbaik untuk anak-anakku!"
Doni: (berbisik pada Rina) "Kak, jangan dengarkan Ayah. Aku mendukungmu."
Rina: (dengan air mata) "Tapi Ayah, ini kesempatan emas. Aku janji akan berhati-hati."
Pak Budi: "Sudah! Pokoknya tidak boleh! Lebih baik kau membantu ibumu di warung!"
Konflik utama dalampenggalan teks tersebut adalah...
Rina bingung memilih pekerjaan di Jakarta atau membantu ibu di warung.
Pertengkaran antara Pak Budi dan Doni
Doni tidak setuju dengan sikap Rina yang ingin merantau.
Ibu Sinta mendukung Rina sepenuhnya tanpa syarat.
Pertentangan antara Rina dan ayahnya mengenai keputusan Rina bekerja di Jakarta.
Bacalah kutipan drama berikut dengan cermat untuk menjawab pertanyaan!
Latar: Ruang keluarga di rumah Pak Budi, malam hari
Tokoh:
· Pak Budi (ayah, 50 tahun)
· Ibu Sinta (ibu, 45 tahun)
· Rina (anak sulung, 22 tahun)
· Doni (anak bungsu, 17 tahun)
Adegan:
(Rina sedang memegang surat penerimaan kerja di luar kota, sambil gugup menghadapi ayahnya)
Rina: "Ayah, Ibu... aku diterima kerja di Jakarta. Gajinya lumayan, bisa membantu adik-adik sekolah."
Pak Budi: (menghempaskan koran ke meja) "Tidak boleh! Anak perempuan tidak pantas hidup sendiri di kota besar!"
Ibu Sinta: (menghela napas) "Budi, biarkan dia mencoba. Rina sudah dewasa..."
Pak Budi: "Diam! Aku yang menentukan apa yang terbaik untuk anak-anakku!"
Doni: (berbisik pada Rina) "Kak, jangan dengarkan Ayah. Aku mendukungmu."
Rina: (dengan air mata) "Tapi Ayah, ini kesempatan emas. Aku janji akan berhati-hati."
Pak Budi: "Sudah! Pokoknya tidak boleh! Lebih baik kau membantu ibumu di warung!"
Konflik eksternal dalam teks ini ditunjukkan melalui...
Perdebatan Rina dengan dirinya sendiri tentang risiko merantau.
Pertengkaran fisik antara Pak Budi dan Doni.
Perbedaan pendapat antara anggota keluarga (Rina vs. Pak Budi).
Kritik tetangga terhadap rencana Rina.
Ibu Sinta menangis karena tidak ingin Rina pergi.
