Font size
WorksheetsUlangan Bersama Bahasa Indonesia - Drama
Total questions: 45
Worksheet time: 1hrs 28mins
Van Dijk : "Tadi kan bilang, bahwa isrimu cantik, bukan? Cantik sekali dan kau cinta
sekali".
Pedagang : "Ya".
Van Dijk : "Kau juga mengatakan padaku bahwa kau lebih cinta kepadanya daripada
nyawamu sendiri. Masih ingat?".
Pedagang : "Ya !".
Van Dijk : "Baik..baik, nyawamu akan kuselamatkan, asal istrimu kau serahkan
padaku. Bagaimana, setuju?".
Pedagang : "Setuju major, setuju".
Van Dijk : "Tadi kau bilang kalau istrimu tak bisa dibeli, kini kau berikan untuk
membeli nyawamu. Begitu mudah, begitu enteng!".
(Bunga-bunga Bangsa, Emil Sanosa)
Watak tokoh Van Dijk dalam penggalan drama di atas adalah .......
Penyabar
Pemarah
Tegas
Jahat
Van Dijk : "Tadi kan bilang, bahwa isrimu cantik, bukan? Cantik sekali dan kau cinta
seka".
Pedagang : "ya".
Van Dijk : "Kau juga mengatakan padaku bahwa kau lebih cinta kepadanya daripada
nyawamu sendiri. Masih ingat?".
Pedagang : "Ya !".
Van Dijk : "Baik..baik, nyawamu akan kuselamatkan, asal istrimu kau serahkan
padaku. Bagaimana, setuju?".
Pedagang : "Setuju major, setuju".
Van Dijk : "Tadi kau bilang kalau istrimu tak bisa dibeli, kini kau berikan untuk
membeli nyawamu. Begitu mudah, begitu enteng!".
(Bunga-bunga Bangsa, Emil Sanosa)
Konflik dalam penggalan drama tersebut adalah …
Van Dijk ingin merebut istri pedagang yang cantik
Pedagang marah kepada Van Dijk karena istrinya ingin direbut
Van Dijk ingin membunuh pedagang
Pedagang yang takut kepada Van Dijk
Tina : "Tuhan menakdirkan semua nasib manusia, kita hanya menjalani".
Ibu : "Nah, pikiran begitu itu yang tak ku sukai, kau sudah ditakdirkan punya
suami buta, tak adakah niatmu, tidak adakah usahamu untuk
mengubah takdir itu? Sebab takdir itu baru jatuh setelah manusia
berusaha. Tina, kau bukan anakku jika kau tidak berani melawan
takdir yang pahit".
Tina : "Aku sudah berusaha, Abas juga sudah berusaha, dan inilah hasilnya. Dan
kami dapat membiayai diri sendiri untuk hidup sehari-hari.
Ibu : ….
Konflik yang terjadi antara tokoh Tina dan Ibu adalah ….
Pasrah menjalani takdir
Pandangan mengenai takdir
Nasib merupakan takdir
Usaha melawan takdir
Tina : "Tuhan menakdirkan semua nasib manusia, kita hanya menjalani".
Ibu : "Nah, pikiran begitu itu yang tak ku sukai, kau sudah ditakdirkan punya
suami buta, tak adakah niatmu, tidak adakah usahamu untuk
mengubah takdir itu? Sebab takdir itu baru jatuh setelah manusia
berusaha. Tina, kau bukan anakku jika kau tidak berani melawan
takdir yang pahit".
Tina : "Aku sudah berusaha, Abas juga sudah berusaha, dan inilah hasilnya. Dan
kami dapat membiayai diri sendiri untuk hidup sehari-hari.
Ibu : ….
Kalimat yang tepat untuk mengisi dialog yang rumpang tersebut adalah ….
Sekarang berani kau membantah ibumu.
Terserah apa maumu.
Maksud ibu bukan seperti itu Tina.
Apa hanya itu usaha kalian untuk merubah takdir hidup kalian?
Urutan struktur dialog dalam drama yang tepat adalah....
Komplikasi, resolusi, konklusi
Orientasi, komplikasi, resolusi
Prolog, klimaks, epilog
Orientasi, konflik, peleraian
Bagian pengantar dari sebuah drama untuk masuk kedalam cerita, disebut.....
Orientasi
Epilog
Dialog
Prolog
Identifikasi jenis drama dari kutipan berikut: "Sebuah drama yang menggambarkan perjuangan seorang pahlawan melawan kekuatan jahat untuk menyelamatkan dunia".
Drama Tragedi
Drama Komedi
Drama Farsa
Drama Pahlawan
Dialog adalah....
Bagian dari naskah drama yang berupa interaksi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.
Bagian pengantar dari sebuah drama untuk masuk kedalam cerita.
Bagian penutup dari sebuah pementasan drama yang berisi kesimpulan.
Bagian pembuka dari suatu drama yang berisi pengenalan tokoh.
Apa yang dimaksud dengan puncak atau klimaks dalam drama?
Bagian di mana masalah dan konflik mulai muncul.
Bagian di mana cerita mencapai titik tertinggi konflik atau ketegangan.
Bagian di mana masalah dan konflik mulai terpecahkan.
Bagian di mana cerita mencapai penyelesaian atau akhir yang memuaskan.
Watak tokoh dalam drama dapat ditampilkan melalui
beberapa hal berikut, kecuali…
Gerak
Bloking
Dialog
Ekspresi
Karakter utama yang keputusannya bisa menentukan alur cerita, kerap digambarkan sebagai tokoh pemilik sifat positif, dan menghadapi banyak kendala atau konflik adalah...
(a)
Jenis karakter dalam drama yang berperan sebagai tokoh jahat adalah...
(a)
Bagian pengantar dari sebuah drama untuk masuk kedalam cerita, disebut (a)
Struktur drama bagian penutup disebut (a)
Jenis drama yang menonjolkan gerakan tanpa kata-kata disebut ...
(a)
Ayu : "Sudah malam lo Sis, kita harus segera pulang".
Siska : "Sudahlah Yu, tenang saja toh ini baru jam sembilan lebih sedikit. Jalanan masih ramai".
Ayu : "Ih, sudah malam begini kok tenang. Kan kita perempuan, masak pulang sampai larut malam. Tidak enak kan dengan tetangga. Nanti mereka mengira kita suka keluyuran malam".
Siska : (Dengan sikap tenang) "Sudah, nanti saya antar kamu. Memang repot, kita ini perempuan tidak wajar kalau pulang terlalu malam. Kita pun tidak berani melanggar aturan tidak tertulis di masyarakat kita ini".
Penggalan drama di atas mengandung nilai...
Sosial
Moral
Budaya
Pendidikan
Bacalah penggalan drama berikut ini!
Bu Ida : "Terima kasih, Fa".
Rifa: "Sebentar, Bu. Saya ambilkan uang kembaliannya".
Bu Ida: "Sudah, ambil saja untukmu".
Rifa: "Ah, yang benar Bu?"
Bu Ida: "Ya, saya suka cara kamu melayani konsumen di kantin sekolah ini".
Rifa: "Makasih Bu".
Isi naskah dalam drama di atas adalah.....
Pelayanan petugas kantin sekolah
Kantin sebagai tempat berlatih berdagang
Hubungan antara guru dan siswa di sekolah
Penghargaan konsumen kepada pelayan kantin
Bacalah teks drama berikut!
Cindua Mato : "Raja Mudo adik Bundo Kandung sendiri. Kalau terjadi pertengkaran lalu menimbulkan peperangan, siapa yang akan malu? Perang saudara itu tidak akan pernah selesai turun-temurun".
Bundo Kandung: "Aku sudah berada di balik semua. Jika kau takut, katakan saja. Perang bukan barang baru bagi kerajaan".
Cindua Mato: "Mengapa Bundo Kandung sampai hati ingin mengacaukan perkawinan Putri Bungsu? Bukankah yang kawin itu anak Bundo Kandung juga? Jika perang dilaksanakan, kemudian salah seorang mati terbunuh, apakah kita tega? Dan bagaimana kata ayahnya nanti, jika kedua anaknya saling membunuh? Aku ingin membuka sedikit selubung hati kita yang tertutup selama ini".
Watak tokoh Cindua Mato pada penggalan teks tersebut adalah ...
Sabar dan bijaksana
Pendendam dan emosional
Sabar dan emosional
Emosional dan penyayang
Cermati percakapan dalam drama berikut!
Amir : "Di, kita berangkat sekolah sekarang". (Amir bangkit di depan pintu, kemudian Dodi mendekat).
Dodi : "Maaf Mir, tunggu sebentar". (Dodi menyuruh Amir duduk).
Amir : "Sebentar, apa lagi yang akan kau kerjakan?".
Dodi : "Biasa, mengisi dua kolam mandi setiap hari".
Amanat cuplikan drama di atas yakni ….
Selesaikan pekerjaan di rumah dengan baik.
Berangkat sekolah harus lebih pagi.
Jadilah anak yang rajin.
Bekerjalah sebaik mungkin.
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Maya : "Pokoknya, Ibu harus setuju!".
Ibu : (Menarik napas panjang kecewa) "Dengan apa Ibu membayarnya?".
Maya : (Terkejut dan gugup) "Kan masih lama, Ibu".
Ibu : "Biaya kursus cukup besar, Maya".
Maya : [ …............................................ ]
Ibu : (Dengan tersenyum) "Nah, begitu. Ini baru putri Ibu".
Dialog yang sempurna untuk melengkapi percapakan rumpang kutipan drama tersebut yakni …
"Baiklah Ibu akan beli yang baru".
"Iya deh, Maya turuti nasihat Ibu".
"Maya, kita kini lagi kesulitan".
"Coba ibu pikirkan dulu".
Tuliskan langkah-langkah menulis naskah drama?
Berdasarkan fungsinya, ada berapakah tokoh dalam sebuah drama dan jelaskan!
Sebutkan unsur-unsur yang terdapat dalam drama dan penjelasannya!
Cermatilah kutipan drama berikut.
Samba : "Saya sudah Ielah. Saya lapar".
Kliwon : "Saya juga Ielah".
Inah : "Kamu kira saya tidak. Saya juga lelah".
Sumi : ( ... )
Yati: "Oh tidak. Kulit saya semakin hitam".
Oto : "Saya ingin mati saja. Tolong saya ibu".
Sarjo: "Sudahlah. lni salah kita karena kita terlambat".
Slamet : "Ayah saya pernah bilang. Kita harus menjalani hukuman atas kesalahan kita".
Semua : "Ah ...".
Kutipan teks drama tersebut dapat digolongkan ke dalam jenis? Sertakan alasanmu!
Seberapa penting peranan dialog dalam naskah drama? Sebutkan alasannya!
Cermati drama berikut!
Jangan Bawa Barang Dagangan Kami, Pak.
Waktu menunjukkan pukul 10.00. Beberapa petugas tramtib secara tiba-tiba datang untuk menertibkan dagangan para pedagang. Tentu saja para pedagang ketakutan. Sebagian lari tunggang langgang sambal membawa barang dagangannya. Namun, ada sebagian yang memberanikan diri menghalang-halangi petugas yang akan mengambil barang dagangannya.
Pedagang 1: (merebut barang dagangan yang sudah diambil petugas) Pak, tolong dagangan saya jangan diambil. Kasihanilah saya, Pak. Kasihanilah kami semua.
Pedagang 2: (berlutut dengan menengadahkan tangan). Kasihanilah saya, Pak. Jangan diambil dagangan saya. Tolong, Pak, jangan ambil dagangan saya.
Petugas 1 : (menunjuk ke para pedagang) Semuanya memang bandel. Harusnya kan tempat ini sudah bersih dari pedagang dua minggu lalu. Tapi mengapa sampai sekarang juga belum mau pindah?
Pedagang 2: Ya, Pak, kami semua mengaku salah. Tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk beres-beres. Kami akan segera pindah.
Petugas 1 : Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kami sebagai petugas menjalankan perintah demi ketertiban bersama. Kami tidak sewenang-wenang. Sudah banyak waktu yang diberikan petugas kepada Bapak dan Ibu. Dan perlu Bapak Ibu ketahui. Bapak dan Ibu para pedagang kan tidak diusir, tetapi ditata, diberikan tempat yang layak. Coba lihat tempat berjualan di sini, becek, sering kena banjir, dan kelihatan kumuh. Selain itu, kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuat kemacetan.
Pedagang 1: Ya, Pak. Kami semua menyadari. Sekali lagi kami mengaku salah. Biarkan kami beres-beres. Mulai hari ini kami berjanji untuk memindahkan barang dagangan ke tempat yang sudah disediakan.
Pedagang 2: Iya, Pak. Kami janji. Dalam waktu beberapa hari, kami akan pindah semua.
Petugas 1 : Baiklah kalau begitu. Ini kesempatan terakhir yang diberikan petugas. Kalau minggu depan masih ada yang belum mau pindah, terpaksa barang dagangan Bapak Ibu kami bawa.
Pedagang 1: (menyalami petugas) Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak. Kami tidak akan melanggar lagi. Kami akan patuh pada aturan.
Tema drama tersebut adalah .…
kritik sosial
dekadensi moral
tempat berdagang
kemarahan petugas
kebaikan petugas
Cermati drama berikut!
Jangan Bawa Barang Dagangan Kami, Pak.
Waktu menunjukkan pukul 10.00. Beberapa petugas tramtib secara tiba-tiba datang untuk menertibkan dagangan para pedagang. Tentu saja para pedagang ketakutan. Sebagian lari tunggang langgang sambal membawa barang dagangannya. Namun, ada sebagian yang memberanikan diri menghalang-halangi petugas yang akan mengambil barang dagangannya.
Pedagang 1: (merebut barang dagangan yang sudah diambil petugas) Pak, tolong dagangan saya jangan diambil. Kasihanilah saya, Pak. Kasihanilah kami semua.
Pedagang 2: (berlutut dengan menengadahkan tangan). Kasihanilah saya, Pak. Jangan diambil dagangan saya. Tolong, Pak, jangan ambil dagangan saya.
Petugas 1 : (menunjuk ke para pedagang) Semuanya memang bandel. Harusnya kan tempat ini sudah bersih dari pedagang dua minggu lalu. Tapi mengapa sampai sekarang juga belum mau pindah?
Pedagang 2: Ya, Pak, kami semua mengaku salah. Tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk beres-beres. Kami akan segera pindah.
Petugas 1 : Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kami sebagai petugas menjalankan perintah demi ketertiban bersama. Kami tidak sewenang-wenang. Sudah banyak waktu yang diberikan petugas kepada Bapak dan Ibu. Dan perlu Bapak Ibu ketahui. Bapak dan Ibu para pedagang kan tidak diusir, tetapi ditata, diberikan tempat yang layak. Coba lihat tempat berjualan di sini, becek, sering kena banjir, dan kelihatan kumuh. Selain itu, kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuat kemacetan.
Pedagang 1: Ya, Pak. Kami semua menyadari. Sekali lagi kami mengaku salah. Biarkan kami beres-beres. Mulai hari ini kami berjanji untuk memindahkan barang dagangan ke tempat yang sudah disediakan.
Pedagang 2: Iya, Pak. Kami janji. Dalam waktu beberapa hari, kami akan pindah semua.
Petugas 1 : Baiklah kalau begitu. Ini kesempatan terakhir yang diberikan petugas. Kalau minggu depan masih ada yang belum mau pindah, terpaksa barang dagangan Bapak Ibu kami bawa.
Pedagang 1: (menyalami petugas) Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak. Kami tidak akan melanggar lagi. Kami akan patuh pada aturan.
Petugas akan mengambil paksa barang dagangan pedagang karena …
A. Pedagang berjualan di tempat yang tidak diperbolehkan.
Waktu memindahkan barang dagangan sudah habis.
Pedagang melawan petugas pada saat petugas datang.
Tempat untuk berjualan pedagang sering banjir dan kumuh.
Petugas merasa geram dengan ulah para pedagang.
Cermati drama berikut!
Jangan Bawa Barang Dagangan Kami, Pak.
Waktu menunjukkan pukul 10.00. Beberapa petugas tramtib secara tiba-tiba datang untuk menertibkan dagangan para pedagang. Tentu saja para pedagang ketakutan. Sebagian lari tunggang langgang sambal membawa barang dagangannya. Namun, ada sebagian yang memberanikan diri menghalang-halangi petugas yang akan mengambil barang dagangannya.
Pedagang 1: (merebut barang dagangan yang sudah diambil petugas) Pak, tolong dagangan saya jangan diambil. Kasihanilah saya, Pak. Kasihanilah kami semua.
Pedagang 2: (berlutut dengan menengadahkan tangan). Kasihanilah saya, Pak. Jangan diambil dagangan saya. Tolong, Pak, jangan ambil dagangan saya.
Petugas 1 : (menunjuk ke para pedagang) Semuanya memang bandel. Harusnya kan tempat ini sudah bersih dari pedagang dua minggu lalu. Tapi mengapa sampai sekarang juga belum mau pindah?
Pedagang 2: Ya, Pak, kami semua mengaku salah. Tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk beres-beres. Kami akan segera pindah.
Petugas 1 : Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kami sebagai petugas menjalankan perintah demi ketertiban bersama. Kami tidak sewenang-wenang. Sudah banyak waktu yang diberikan petugas kepada Bapak dan Ibu. Dan perlu Bapak Ibu ketahui. Bapak dan Ibu para pedagang kan tidak diusir, tetapi ditata, diberikan tempat yang layak. Coba lihat tempat berjualan di sini, becek, sering kena banjir, dan kelihatan kumuh. Selain itu, kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuat kemacetan.
Pedagang 1: Ya, Pak. Kami semua menyadari. Sekali lagi kami mengaku salah. Biarkan kami beres-beres. Mulai hari ini kami berjanji untuk memindahkan barang dagangan ke tempat yang sudah disediakan.
Pedagang 2: Iya, Pak. Kami janji. Dalam waktu beberapa hari, kami akan pindah semua.
Petugas 1 : Baiklah kalau begitu. Ini kesempatan terakhir yang diberikan petugas. Kalau minggu depan masih ada yang belum mau pindah, terpaksa barang dagangan Bapak Ibu kami bawa.
Pedagang 1: (menyalami petugas) Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak. Kami tidak akan melanggar lagi. Kami akan patuh pada aturan.
Suasana yang tergambar dalam drama tersebut adalah …
mencekam
menakutkan
menyeramkan
sepi
tegang
Cermati drama tersebut!
Jangan Bawa Barang Dagangan Kami, Pak.
Waktu menunjukkan pukul 10.00. Beberapa petugas tramtib secara tiba-tiba datang untuk menertibkan dagangan para pedagang. Tentu saja para pedagang ketakutan. Sebagian lari tunggang langgang sambal membawa barang dagangannya. Namun, ada sebagian yang memberanikan diri menghalang-halangi petugas yang akan mengambil barang dagangannya.
Pedagang 1: (merebut barang dagangan yang sudah diambil petugas) Pak, tolong dagangan saya jangan diambil. Kasihanilah saya, Pak. Kasihanilah kami semua.
Pedagang 2: (berlutut dengan menengadahkan tangan). Kasihanilah saya, Pak. Jangan diambil dagangan saya. Tolong, Pak, jangan ambil dagangan saya.
Petugas 1 : (menunjuk ke para pedagang) Semuanya memang bandel. Harusnya kan tempat ini sudah bersih dari pedagang dua minggu lalu. Tapi mengapa sampai sekarang juga belum mau pindah?
Pedagang 2: Ya, Pak, kami semua mengaku salah. Tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk beres-beres. Kami akan segera pindah.
Petugas 1 : Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kami sebagai petugas menjalankan perintah demi ketertiban bersama. Kami tidak sewenang-wenang. Sudah banyak waktu yang diberikan petugas kepada Bapak dan Ibu. Dan perlu Bapak Ibu ketahui. Bapak dan Ibu para pedagang kan tidak diusir, tetapi ditata, diberikan tempat yang layak. Coba lihat tempat berjualan di sini, becek, sering kena banjir, dan kelihatan kumuh. Selain itu, kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuat kemacetan.
Pedagang 1: Ya, Pak. Kami semua menyadari. Sekali lagi kami mengaku salah. Biarkan kami beres-beres. Mulai hari ini kami berjanji untuk memindahkan barang dagangan ke tempat yang sudah disediakan.
Pedagang 2: Iya, Pak. Kami janji. Dalam waktu beberapa hari, kami akan pindah semua.
Petugas 1 : Baiklah kalau begitu. Ini kesempatan terakhir yang diberikan petugas. Kalau minggu depan masih ada yang belum mau pindah, terpaksa barang dagangan Bapak Ibu kami bawa.
Pedagang 1: (menyalami petugas) Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak. Kami tidak akan melanggar lagi. Kami akan patuh pada aturan.
Pernyataan yang sesuai dengan isi drama tersebut adalah …
Tempat berjualan pedagang akan dipindahkan ke tempat yang nyaman.
Tempat berjualan para pedagang yang ditempati ramai pembeli.
Petugas tidak sabar menghadapi pedagang kaki lima yang membandel.
Petugas terpaksa menyita barang dagangan pedagang.
Pedagang tidak ingin dipindahkan ke tempat yang baru.
Cermati drama berikut!
Jangan Bawa Barang Dagangan Kami, Pak.
Waktu menunjukkan pukul 10.00. Beberapa petugas tramtib secara tiba-tiba datang untuk menertibkan dagangan para pedagang. Tentu saja para pedagang ketakutan. Sebagian lari tunggang langgang sambal membawa barang dagangannya. Namun, ada sebagian yang memberanikan diri menghalang-halangi petugas yang akan mengambil barang dagangannya.
Pedagang 1: (merebut barang dagangan yang sudah diambil petugas) Pak, tolong dagangan saya jangan diambil. Kasihanilah saya, Pak. Kasihanilah kami semua.
Pedagang 2: (berlutut dengan menengadahkan tangan). Kasihanilah saya, Pak. Jangan diambil dagangan saya. Tolong, Pak, jangan ambil dagangan saya.
Petugas 1 : (menunjuk ke para pedagang) Semuanya memang bandel. Harusnya kan tempat ini sudah bersih dari pedagang dua minggu lalu. Tapi mengapa sampai sekarang juga belum mau pindah?
Pedagang 2: Ya, Pak, kami semua mengaku salah. Tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk beres-beres. Kami akan segera pindah.
Petugas 1 : Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kami sebagai petugas menjalankan perintah demi ketertiban bersama. Kami tidak sewenang-wenang. Sudah banyak waktu yang diberikan petugas kepada Bapak dan Ibu. Dan perlu Bapak Ibu ketahui. Bapak dan Ibu para pedagang kan tidak diusir, tetapi ditata, diberikan tempat yang layak. Coba lihat tempat berjualan di sini, becek, sering kena banjir, dan kelihatan kumuh. Selain itu, kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuat kemacetan.
Pedagang 1: Ya, Pak. Kami semua menyadari. Sekali lagi kami mengaku salah. Biarkan kami beres-beres. Mulai hari ini kami berjanji untuk memindahkan barang dagangan ke tempat yang sudah disediakan.
Pedagang 2: Iya, Pak. Kami janji. Dalam waktu beberapa hari, kami akan pindah semua.
Petugas 1 : Baiklah kalau begitu. Ini kesempatan terakhir yang diberikan petugas. Kalau minggu depan masih ada yang belum mau pindah, terpaksa barang dagangan Bapak Ibu kami bawa.
Pedagang 1: (menyalami petugas) Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak. Kami tidak akan melanggar lagi. Kami akan patuh pada aturan.
Latar tempat yang tepat sesuai dengan drama tersebut adalah …
di tepi sungai
di pinggir jalan raya
di pasar
di tengah jalan
di sekitar perkampungan
Cermati drama berikut!
Jalan Lingkar
Suasana rapat yang semula berjalan lancar tiba-tiba menjadi gaduh begitu Pak Joni masuk. Ia berteriak lantang dengan mengeluarkan argumen yang tidak masuk akal.
Pak Joni: (Tangan kanan mengepal sambal diangkat ke atas) Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Arman: (Mendekati Pak Joni). Tenang, Pak Joni. Sabar-sabar, semua sudah kita musyawarahkan bersama. Mari kita bicarakan baik-baik. Warga sudah sepakat dengan ganti untung yang akan diberikan pemerintah.
Pak Joni: Tidak bisa. Sekali tidak bisa, sampai kapan pun tetap tidak bisa. Dan saya tidak pernah diajak musyawarah tentang Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Toni: Pak Joni, semua warga di sini diundang untuk diajak musyawarah. Tak ada warga yang tidak diundang. Termasuk Bapak juga diundang. Hanya sejak rapat pertama sampai ada kesepakatan, Bapak sepertinya tidak pernah datang.
Pak Lukas: Betul, Pak Joni. Semua warga diundang untuk ikut musyawarah, termasuk Bapak. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Toni tadi, Bapak tidak pernah hadir di sini.
Pak Joni: Saya tidak datang karena memang saya tidak setuju dari awal. Ini adalah tanah leluhur saya, tanah leluhur orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan tanah leluhur yang saya tempati sejak kecil. Maka, saya minta batalkan kesepakatan ini.
Pak Arman: Pak Joni, ini bukan masalah kesepakatan. Akan tetapi, lebih dari itu. Kesediaan kita satu kampung untuk pindah itu termasuk cara kita mendukung program pemerintah. Pemerintah akan membangun jalan lingkar yang melewati perkampungan kita. Hasilnya juga akan kita nikmati. Dinikmati oleh banyak orang, oleh masyarakat.
Pak Joni: Saya tetap tidak setuju. Silakan kalau semuanya mau pindah. Saya tetap akan mempertahankan tanah leluhur saya.
Pak Arman: Pak Joni, coba pikirkan baik-baik. Kalau Bapak bersikeras tidak mau pindah, maka Pak Joni sendiri yang rugi.
Hal yang menjadi permasalahan dalam drama tersebut adalah ….
ganti rugi yang tidak sesuai
waktu kepindahan ke tempat lain
adanya keterpaksaan dari warga
warga tidak diundang musyawarah
tidak mau meninggalkan tanah kelahiran
Cermati drama berikut!
Jalan Lingkar
Suasana rapat yang semula berjalan lancar tiba-tiba menjadi gaduh begitu Pak Joni masuk. Ia berteriak lantang dengan mengeluarkan argumen yang tidak masuk akal.
Pak Joni: (Tangan kanan mengepal sambal diangkat ke atas) Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Arman: (Mendekati Pak Joni). Tenang, Pak Joni. Sabar-sabar, semua sudah kita musyawarahkan Bersama. Mari kita bicarakan baik-baik. Warga sudah sepakat dengan ganti untung yang akan diberikan pemerintah.
Pak Joni: Tidak bisa. Sekali tidak bisa, sampai kapan pun tetap tidak bisa. Dan saya tidak pernah diajak musyawarah tentang Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Toni: Pak Joni, semua warga di sini diundang untuk diajak musyawarah. Tak ada warga yang tidak diundang. Termasuk Bapak juga diundang. Hanya sejak rapat pertama sampai ada kesepakatan, Bapak sepertinya tidak pernah datang.
Pak Lukas: Betul, Pak Joni. Semua warga diundang untuk ikut musyawarah, termasuk Bapak. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Toni tadi, Bapak tidak pernah hadir di sini.
Pak Joni: Saya tidak datang karena memang saya tidak setuju dari awal. Ini adalah tanah leluhur saya, tanah leluhur orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan tanah leluhur yang saya tempati sejak kecil. Maka, saya minta batalkan kesepakatan ini.
Pak Arman: Pak Joni, ini bukan masalah kesepakatan. Akan tetapi, lebih dari itu. Kesediaan kita satu kampung untuk pindah itu termasuk cara kita mendukung program pemerintah. Pemerintah akan membangun jalan lingkar yang melewati perkampungan kita. Hasilnya juga akan kita nikmati. Dinikmati oleh banyak orang, oleh masyarakat.
Pak Joni: Saya tetap tidak setuju. Silakan kalau semuanya mau pindah. Saya tetap akan mempertahankan tanah leluhur saya.
Pak Arman: Pak Joni, coba pikirkan baik-baik. Kalau Bapak bersikeras tidak mau pindah, maka Pak Joni sendiri yang rugi.
Watak Pak Joni yang tidak sesuai dengan drama tersebut adalah ….
keras kepala
mau menang sendiri
memegang adat
susah diatur
tidak taat pimpinan
Cermati drama berikut!
Jalan Lingkar
Suasana rapat yang semula berjalan lancar tiba-tiba menjadi gaduh begitu Pak Joni masuk. Ia berteriak lantang dengan mengeluarkan argumen yang tidak masuk akal.
Pak Joni: (Tangan kanan mengepal sambal diangkat ke atas) Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Arman: (Mendekati Pak Joni). Tenang, Pak Joni. Sabar-sabar, semua sudah kita musyawarahkan Bersama. Mari kita bicarakan baik-baik. Warga sudah sepakat dengan ganti untung yang akan diberikan pemerintah.
Pak Joni: Tidak bisa. Sekali tidak bisa, sampai kapan pun tetap tidak bisa. Dan saya tidak pernah diajak musyawarah tentang Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Toni: Pak Joni, semua warga di sini diundang untuk diajak musyawarah. Tak ada warga yang tidak diundang. Termasuk Bapak juga diundang. Hanya sejak rapat pertama sampai ada kesepakatan, Bapak sepertinya tidak pernah datang.
Pak Lukas: Betul, Pak Joni. Semua warga diundang untuk ikut musyawarah, termasuk Bapak. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Toni tadi, Bapak tidak pernah hadir di sini.
Pak Joni: Saya tidak datang karena memang saya tidak setuju dari awal. Ini adalah tanah leluhur saya, tanah leluhur orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan tanah leluhur yang saya tempati sejak kecil. Maka, saya minta batalkan kesepakatan ini.
Pak Arman: Pak Joni, ini bukan masalah kesepakatan. Akan tetapi, lebih dari itu. Kesediaan kita satu kampung untuk pindah itu termasuk cara kita mendukung program pemerintah. Pemerintah akan membangun jalan lingkar yang melewati perkampungan kita. Hasilnya juga akan kita nikmati. Dinikmati oleh banyak orang, oleh masyarakat.
Pak Joni: Saya tetap tidak setuju. Silakan kalau semuanya mau pindah. Saya tetap akan mempertahankan tanah leluhur saya.
Pak Arman: Pak Joni, coba pikirkan baik-baik. Kalau Bapak bersikeras tidak mau pindah, maka Pak Joni sendiri yang rugi.
Warga akan dipindah ke tempat lain karena .…
tempat tinggal warga akan dibangun jalan tol untuk kepentingan umum.
tempat tinggal warga yang ditempati sekarang sudah tidak layak lagi.
pemerintah akan membangun jalan lingkar melewati perkampungan warga.
pemerintah akan membangun perkampungan warga yang lebih baik lagi.
ada program pemerintah yang harus segera dikerjakan dalam waktu dekat.
Cermati drama berikut!
Jalan Lingkar
Suasana rapat yang semula berjalan lancar tiba-tiba menjadi gaduh begitu Pak Joni masuk. Ia berteriak lantang dengan mengeluarkan argumen yang tidak masuk akal.
Pak Joni: (Tangan kanan mengepal sambal diangkat ke atas) Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Arman: (Mendekati Pak Joni). Tenang, Pak Joni. Sabar-sabar, semua sudah kita musyawarahkan Bersama. Mari kita bicarakan baik-baik. Warga sudah sepakat dengan ganti untung yang akan diberikan pemerintah.
Pak Joni: Tidak bisa. Sekali tidak bisa, sampai kapan pun tetap tidak bisa. Dan saya tidak pernah diajak musyawarah tentang Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Toni: Pak Joni, semua warga di sini diundang untuk diajak musyawarah. Tak ada warga yang tidak diundang. Termasuk Bapak juga diundang. Hanya sejak rapat pertama sampai ada kesepakatan, Bapak sepertinya tidak pernah datang.
Pak Lukas: Betul, Pak Joni. Semua warga diundang untuk ikut musyawarah, termasuk Bapak. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Toni tadi, Bapak tidak pernah hadir di sini.
Pak Joni: Saya tidak datang karena memang saya tidak setuju dari awal. Ini adalah tanah leluhur saya, tanah leluhur orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan tanah leluhur yang saya tempati sejak kecil. Maka, saya minta batalkan kesepakatan ini.
Pak Arman: Pak Joni, ini bukan masalah kesepakatan. Akan tetapi, lebih dari itu. Kesediaan kita satu kampung untuk pindah itu termasuk cara kita mendukung program pemerintah. Pemerintah akan membangun jalan lingkar yang melewati perkampungan kita. Hasilnya juga akan kita nikmati. Dinikmati oleh banyak orang, oleh masyarakat.
Pak Joni: Saya tetap tidak setuju. Silakan kalau semuanya mau pindah. Saya tetap akan mempertahankan tanah leluhur saya.
Pak Arman: Pak Joni, coba pikirkan baik-baik. Kalau Bapak bersikeras tidak mau pindah, maka Pak Joni sendiri yang rugi.
Untuk menunjukkan nilai moral dalam drama tersebut, presentator dapat menyampaikan argumentasi dengan kalimat …
Seharusnya Pak Arman tidak perlu menenangkan Pak Joni karena ia sangat keras kepala.
Sebagai masyarakat, seharusnya Pak Joni berpikir terlebih dahulu dengan kepala dingin karena jika mengambil keputusan yang salah, ia akan merugi.
Pak Joni benar, sikap tegasnya patut dijadikan contoh oleh masyarakat lain agar tidak mudah disepelekan.
Seharusnya, Pak Toni dan Pak Lukas tidak perlu menasihati Pak Joni karena Pak Joni tetap berpendirian pada prinsipnya.
Pemerintah seharusnya tidak perlu menunggu kesepakaan dari para warga.
Cermati drama berikut!
Jalan Lingkar
Suasana rapat yang semula berjalan lancar tiba-tiba menjadi gaduh begitu Pak Joni masuk. Ia berteriak lantang dengan mengeluarkan argumen yang tidak masuk akal.
Pak Joni: (Tangan kanan mengepal sambal diangkat ke atas) Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Arman: (Mendekati Pak Joni). Tenang, Pak Joni. Sabar-sabar, semua sudah kita musyawarahkan Bersama. Mari kita bicarakan baik-baik. Warga sudah sepakat dengan ganti untung yang akan diberikan pemerintah.
Pak Joni: Tidak bisa. Sekali tidak bisa, sampai kapan pun tetap tidak bisa. Dan saya tidak pernah diajak musyawarah tentang Pokoknya saya tidak setuju. Saya adalah warga asli sini. Sejak kecil saya sudah di sini. Sayalah yang paling mengerti suasana kampung ini.
Pak Toni: Pak Joni, semua warga di sini diundang untuk diajak musyawarah. Tak ada warga yang tidak diundang. Termasuk Bapak juga diundang. Hanya sejak rapat pertama sampai ada kesepakatan, Bapak sepertinya tidak pernah datang.
Pak Lukas: Betul, Pak Joni. Semua warga diundang untuk ikut musyawarah, termasuk Bapak. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Toni tadi, Bapak tidak pernah hadir di sini.
Pak Joni: Saya tidak datang karena memang saya tidak setuju dari awal. Ini adalah tanah leluhur saya, tanah leluhur orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan tanah leluhur yang saya tempati sejak kecil. Maka, saya minta batalkan kesepakatan ini.
Pak Arman: Pak Joni, ini bukan masalah kesepakatan. Akan tetapi, lebih dari itu. Kesediaan kita satu kampung untuk pindah itu termasuk cara kita mendukung program pemerintah. Pemerintah akan membangun jalan lingkar yang melewati perkampungan kita. Hasilnya juga akan kita nikmati. Dinikmati oleh banyak orang, oleh masyarakat.
Pak Joni: Saya tetap tidak setuju. Silakan kalau semuanya mau pindah. Saya tetap akan mempertahankan tanah leluhur saya.
Pak Arman: Pak Joni, coba pikirkan baik-baik. Kalau Bapak bersikeras tidak mau pindah, maka Pak Joni sendiri yang rugi.
Peristiwa yang akan terjadi seandainya seluruh warga bersikap seperti Pak Joni adalah …
Program yang sudah dicanangkan pemerintah tidak terlaksana.
Warga tidak jadi pindah ke tempat baru yang lebih layak.
Seluruh warga tidak akan mendapatkan uang ganti untung.
Program pemerintah menjadi terhambat pelaksanaannya.
Warga yang akan rugi karena program itu untuk kebaikan bersama.
Cermati drama berikut!
Di Desa Saja, Bang
Sore itu, Siam dan istrinya, Siti, duduk-duduk di teras rumah. Suasana tampak tenang. Cuaca sangat cerah. Ini adalah kepulangan Siam yang pertama sejak ia bekerja di kota.
Siam : Siti, sudah enam bulan Abang bekerja di kota. Sekarang sedikit banyak Abang sudah bisa mandiri. Abang sudah tidak numpang lagi di rumah teman. Sekarang Abang sudah kontrak rumah sendiri. Mulai minggu depan, dirimu dan anak-anak akan Abang boyong ke kota.
Siti : Tidak usah, Bang. Biarlah aku dan anak-anak di desa saja. Abang sajalah yang sesekali pulang menengok anak-anak.
Siam : Tidak, Siti. Abang sudah bisa menghidupi diri abang sendiri, kamu, dan juga anak-anak. Tidak perlu khawatir, Siti. Kita akan lebih tenang di sana.
Siti : Bang, di sini ada Ibu yang harus aku jaga. Ibu sudah tua. Tidak mungkin Ibu sendirian di rumah. Kalaupun harus diajak, belum tentu Ibu mau. Di mana pun orang tua akan lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri sekalipun rumahnya itu menurut banyak orang tidak layak.
Siam : (Merenung) Hmmm, bagaimana kalau ibu kita titipkan sama Umi? Tentu dia mau.
Siti : Jangan, Bang. Aku sendiri yang harus merawat Ibu. Abang kan tahu kalau Ibu cocoknya sama aku. Kasihan kalau tinggal sama Umi.
Siam : Siti, masak Abang harus di kota sendirian terus. Akibatnya, Abang harus menghidupi dua keluarga. Abang sendiri dan kamu sama anak-anak. Kan jadinya malah boros.
Siti : Bang, … .
Siam : Usul tentang apa, Siti?
Siti : Bagaimana kalau Abang bekerja di kota tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu. Misalnya, setahun dua tahun. Abang ngumpulin uang dari hasil kerja, nanti hasilnya dibeliin mobil untuk angkutan di desa. Kan sama, Bang. Jadi, Abang tidak perlu repot-repot kerja jauh di kota.
Nilai yang dominan dalam drama tersebut adalah .…
sosial
moral
religi
etika
ekonomi
Cermati drama berikut!
Di Desa Saja, Bang
Sore itu, Siam dan istrinya, Siti, duduk-duduk di teras rumah. Suasana tampak tenang. Cuaca sangat cerah. Ini adalah kepulangan Siam yang pertama sejak ia bekerja di kota.
Siam : Siti, sudah enam bulan Abang bekerja di kota. Sekarang sedikit banyak Abang sudah bisa mandiri. Abang sudah tidak numpang lagi di rumah teman. Sekarang Abang sudah kontrak rumah sendiri. Mulai minggu depan, dirimu dan anak-anak akan Abang boyong ke kota.
Siti : Tidak usah, Bang. Biarlah aku dan anak-anak di desa saja. Abang sajalah yang sesekali pulang menengok anak-anak.
Siam : Tidak, Siti. Abang sudah bisa menghidupi diri abang sendiri, kamu, dan juga anak-anak. Tidak perlu khawatir, Siti. Kita akan lebih tenang di sana.
Siti : Bang, di sini ada Ibu yang harus aku jaga. Ibu sudah tua. Tidak mungkin Ibu sendirian di rumah. Kalaupun harus diajak, belum tentu Ibu mau. Di mana pun orang tua akan lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri sekalipun rumahnya itu menurut banyak orang tidak layak.
Siam : (Merenung) Hmmm, bagaimana kalau ibu kita titipkan sama Umi? Tentu dia mau.
Siti : Jangan, Bang. Aku sendiri yang harus merawat Ibu. Abang kan tahu kalua Ibu cocoknya sama aku. Kasihan kalau tinggal sama Umi.
Siam : Siti, masak Abang harus di kota sendirian terus. Akibatnya, Abang harus menghidupi dua keluarga. Abang sendiri dan kamu sama anak-anak. Kan jadinya malah boros.
Siti : Bang, … .
Siam : Usul tentang apa, Siti?
Siti : Bagaimana kalua Abang bekerja di kota tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu. Misanya, setahun dua tahun. Abang ngumpulin uang dari hasil kerja, nanti hasilnya dibeliin mobil untuk angkutan di desa. Kan sama, Bang. Jadi, Abang tidak perlu repot-repot kerja jauh di kota.
Pernyataan yang sesuai dengan drama tersebut adalah …
Tokoh Siam memaksa istrinya bekerja di kota.
Siti tidak bersedia mengikuti suaminya tinggal di kota.
Siti merasa kasihan jika ibunya tetap tinggal di desa
Siam menolak usulan Siti agar tetap tinggal di desa.
Siam merasa belum mampu mencukupi kebutuhan keluarganya.
Cermati drama berikut!
Di Desa Saja, Bang
Sore itu, Siam dan istrinya, Siti, duduk-duduk di teras rumah. Suasana tampak tenang. Cuaca sangat cerah. Ini adalah kepulangan Siam yang pertama sejak ia bekerja di kota.
Siam : Siti, sudah enam bulan Abang bekerja di kota. Sekarang sedikit banyak Abang sudah bisa mandiri. Abang sudah tidak numpang lagi di rumah teman. Sekarang Abang sudah kontrak rumah sendiri. Mulai minggu depan, dirimu dan anak-anak akan Abang boyong ke kota.
Siti : Tidak usah, Bang. Biarlah aku dan anak-anak di desa saja. Abang sajalah yang sesekali pulang menengok anak-anak.
Siam : Tidak, Siti. Abang sudah bisa menghidupi diri abang sendiri, kamu, dan juga anak-anak. Tidak perlu khawatir, Siti. Kita akan lebih tenang di sana.
Siti : Bang, di sini ada Ibu yang harus aku jaga. Ibu sudah tua. Tidak mungkin Ibu sendirian di rumah. Kalaupun harus diajak, belum tentu Ibu mau. Di mana pun orang tua akan lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri sekalipun rumahnya itu menurut banyak orang tidak layak.
Siam : (Merenung) Hmmm, bagaimana kalau ibu kita titipkan sama Umi? Tentu dia mau.
Siti : Jangan, Bang. Aku sendiri yang harus merawat Ibu. Abang kan tahu kalua Ibu cocoknya sama aku. Kasihan kalau tinggal sama Umi.
Siam : Siti, masak Abang harus di kota sendirian terus. Akibatnya, Abang harus menghidupi dua keluarga. Abang sendiri dan kamu sama anak-anak. Kan jadinya malah boros.
Siti : Bang, … .
Siam : Usul tentang apa, Siti?
Siti : Bagaimana kalau Abang bekerja di kota tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu. Misalnya, setahun dua tahun. Abang ngumpulin uang dari hasil kerja, nanti hasilnya dibeliin mobil untuk angkutan di desa. Kan sama, Bang. Jadi, Abang tidak perlu repot-repot kerja jauh di kota.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang dalam drama tersebut adalah …
boleh aku kasih usul ya?
boleh aku kasih usul ya?
aku mengusulkan yang terbaik untuk kita.
kenapa Abang bilang jadi boros?
aku ga suka Abang bicara seperti itu.
Cermati drama berikut!
Di Desa Saja, Bang
Sore itu, Siam dan istrinya, Siti, duduk-duduk di teras rumah. Suasana tampak tenang. Cuaca sangat cerah. Ini adalah kepulangan Siam yang pertama sejak ia bekerja di kota.
Siam : Siti, sudah enam bulan Abang bekerja di kota. Sekarang sedikit banyak Abang sudah bisa mandiri. Abang sudah tidak numpang lagi di rumah teman. Sekarang Abang sudah kontrak rumah sendiri. Mulai minggu depan, dirimu dan anak-anak akan Abang boyong ke kota.
Siti : Tidak usah, Bang. Biarlah aku dan anak-anak di desa saja. Abang sajalah yang sesekali pulang menengok anak-anak.
Siam : Tidak, Siti. Abang sudah bisa menghidupi diri abang sendiri, kamu, dan juga anak-anak. Tidak perlu khawatir, Siti. Kita akan lebih tenang di sana.
Siti : Bang, di sini ada Ibu yang harus aku jaga. Ibu sudah tua. Tidak mungkin Ibu sendirian di rumah. Kalaupun harus diajak, belum tentu Ibu mau. Di mana pun orang tua akan lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri sekalipun rumahnya itu menurut banyak orang tidak layak.
Siam : (Merenung) Hmmm, bagaimana kalau ibu kita titipkan sama Umi? Tentu dia mau.
Siti : Jangan, Bang. Aku sendiri yang harus merawat Ibu. Abang kan tahu kalua Ibu cocoknya sama aku. Kasihan kalau tinggal sama Umi.
Siam : Siti, masak Abang harus di kota sendirian terus. Akibatnya, Abang harus menghidupi dua keluarga. Abang sendiri dan kamu sama anak-anak. Kan jadinya malah boros.
Siti : Bang, … .
Siam : Usul tentang apa, Siti?
Siti : Bagaimana kalau Abang bekerja di kota tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu. Misalnya, setahun dua tahun. Abang ngumpulin uang dari hasil kerja, nanti hasilnya dibeliin mobil untuk angkutan di desa. Kan sama, Bang. Jadi, Abang tidak perlu repot-repot kerja jauh di kota.
Mengapa Siam berkeinginan mengajak keluarganya tinggal di kota?
Siam percaya diri sudah mampu menghidupi keluarganya.
Siam sudah memiliki rumah sendiri di kota.
Siam mendapatkan gaji yang sangat besar di kota.
Siam sudah merasa nyaman tinggal di kota.
Siam ingin menyekolahkan anaknya di kota.
Cermati drama berikut!
Di Desa Saja, Bang
Sore itu, Siam dan istrinya, Siti, duduk-duduk di teras rumah. Suasana tampak tenang. Cuaca sangat cerah. Ini adalah kepulangan Siam yang pertama sejak ia bekerja di kota.
Siam : Siti, sudah enam bulan Abang bekerja di kota. Sekarang sedikit banyak Abang sudah bisa mandiri. Abang sudah tidak numpang lagi di rumah teman. Sekarang Abang sudah kontrak rumah sendiri. Mulai minggu depan, dirimu dan anak-anak akan Abang boyong ke kota.
Siti : Tidak usah, Bang. Biarlah aku dan anak-anak di desa saja. Abang sajalah yang sesekali pulang menengok anak-anak.
Siam : Tidak, Siti. Abang sudah bisa menghidupi diri abang sendiri, kamu, dan juga anak-anak. Tidak perlu khawatir, Siti. Kita akan lebih tenang di sana.
Siti : Bang, di sini ada Ibu yang harus aku jaga. Ibu sudah tua. Tidak mungkin Ibu sendirian di rumah. Kalaupun harus diajak, belum tentu Ibu mau. Di mana pun orang tua akan lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri sekalipun rumahnya itu menurut banyak orang tidak layak.
Siam : (Merenung) Hmmm, bagaimana kalau ibu kita titipkan sama Umi? Tentu dia mau.
Siti : Jangan, Bang. Aku sendiri yang harus merawat Ibu. Abang kan tahu kalua Ibu cocoknya sama aku. Kasihan kalau tinggal sama Umi.
Siam : Siti, masak Abang harus di kota sendirian terus. Akibatnya, Abang harus menghidupi dua keluarga. Abang sendiri dan kamu sama anak-anak. Kan jadinya malah boros.
Siti : Bang, … .
Siam : Usul tentang apa, Siti?
Siti : Bagaimana kalau Abang bekerja di kota tidak selamanya, tapi untuk sementara waktu. Misalnya, setahun dua tahun. Abang ngumpulin uang dari hasil kerja, nanti hasilnya dibeliin mobil untuk angkutan di desa. Kan sama, Bang. Jadi, Abang tidak perlu repot-repot kerja jauh di kota.
Mengapa menurut Siti, ibunya tidak mungkin mau diajak ke kota?
Ibunya akan tinggal bersama Umi di desa.
Ibunya menolak tinggal bersama keluar
Siam belum memiliki rumah sendiri di kota.
Ibunya lebih nyaman tinggal sendirian di desa.
Ibunya merasa nyaman tinggal di rumahnya sendiri.
Cermati kutipan drama berikut!
Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari suatu pemukiman kaum gelandangan. Lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng-kaleng mentega dan susu kosong. Lampu-lampu tomplok. Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek. Ani dan Ina, dalam kain terlilit tidak rapih, dan kutang berwarna, asyik dandan dengan masing-masing di tangannya sebuah cermin retak. Sekali-kali kedengaran suara gemuruh di atas jembatan, tanda kendaraan berat lewat. Suara gemuruh lagi.
Kakek : Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Pincang : (Tertawa) Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Kakek : Apa?
Pincang : Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Kakek : (Menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengaduk isi kaleng mentega di atas tungku) Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Ani : Lalu?
Kakek : Hendaknya, peraturan itu diturutlah.
Ani tertawa terbahak-bahak.
Kakek : Kalau begitu apa guna larangan?
Ani : Untuk dilanggar.
Kakek : Dan kalau sudah dilanggar?
Ani : Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, terus mengaduk masakannya. Suara gemuruh lagi.
Pincang : Kali ini, suara itu adalah suara guruh.
Ani : (Tersentak) Apa?!
Pincang : (Tertawa) Itu neng, geluduk. Biasanya itu tanda, tak lama lagi hujan turun.
Ani kesal. Ia pergi ke tepi bawah jembatan, melihat ke langit. Diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit. Suara geluduk.
Ani : Sialan! Ina!
Ina : Apa, kak?
Ani : Percuma dandanan!
Ina : Ah, belum tentu juga hujan turun.
Suara Geluduk Lagi.
Ani : (Kesal) Belum tentu, hah! Apa kau pawang hujan? Dengarkan baik-baik: Yang belum tentu adalah –kalau hujan benar-benar turun– kita bisa makan malam ini.
Pincang : Sekedar pengisi perut saja. Ini juga hampir masak.
Ani : (Tolak pinggang di hadapan pincang) Banyak-banyak terima kasih, Bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kau pungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam ½ busuk, campur bawang-prei ½ busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…
Latar suasana dalam kutipan drama tersebut adalah ….
sepi
ramai
semrawut
kumuh
sibuk
Cermati kutipan drama berikut!
Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari suatu pemukiman kaum gelandangan. Lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng-kaleng mentega dan susu kosong. Lampu-lampu tomplok. Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek. Ani dan Ina, dalam kain terlilit tidak rapih, dan kutang berwarna, asyik dandan dengan masing-masing di tangannya sebuah cermin retak. Sekali-kali kedengaran suara gemuruh di atas jembatan, tanda kendaraan berat lewat. Suara gemuruh lagi.
Kakek : Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Pincang : (Tertawa) Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Kakek : Apa?
Pincang : Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Kakek : (Menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengaduk isi kaleng mentega di atas tungku) Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Ani : Lalu?
Kakek : Hendaknya, peraturan itu diturutlah.
Ani tertawa terbahak-bahak.
Kakek : Kalau begitu apa guna larangan?
Ani : Untuk dilanggar.
Kakek : Dan kalau sudah dilanggar?
Ani : Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, terus mengaduk masakannya. Suara gemuruh lagi.
Pincang : Kali ini, suara itu adalah suara guruh.
Ani : (Tersentak) Apa?!
Pincang : (Tertawa) Itu neng, geluduk. Biasanya itu tanda, tak lama lagi hujan turun.
Ani kesal. Ia pergi ke tepi bawah jembatan, melihat ke langit. Diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit. Suara geluduk.
Ani : Sialan! Ina!
Ina : Apa, kak?
Ani : Percuma dandanan!
Ina : Ah, belum tentu juga hujan turun.
Suara Geluduk Lagi.
Ani : (Kesal) Belum tentu, hah! Apa kau pawang hujan? Dengarkan baik-baik: Yang belum tentu adalah –kalau hujan benar-benar turun– kita bisa makan malam ini.
Pincang : Sekedar pengisi perut saja. Ini juga hampir masak.
Ani : (Tolak pinggang di hadapan pincang) Banyak-banyak terima kasih, Bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kau pungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam ½ busuk, campur bawang-prei ½ busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…
Watak tokoh Ani dalam kutipan drama tersebut adalah ....
pemarah
pemalas
pecundang
pemimpi
penakut
Cermati kutipan drama berikut!
Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari suatu pemukiman kaum gelandangan. Lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng-kaleng mentega dan susu kosong. Lampu-lampu tomplok. Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek. Ani dan Ina, dalam kain terlilit tidak rapih, dan kutang berwarna, asyik dandan dengan masing-masing di tangannya sebuah cermin retak. Sekali-kali kedengaran suara gemuruh di atas jembatan, tanda kendaraan berat lewat. Suara gemuruh lagi.
Kakek : Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Pincang : (Tertawa) Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Kakek : Apa?
Pincang : Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Kakek : (Menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengaduk isi kaleng mentega di atas tungku) Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Ani : Lalu?
Kakek : Hendaknya, peraturan itu diturutlah.
Ani tertawa terbahak-bahak.
Kakek : Kalau begitu apa guna larangan?
Ani : Untuk dilanggar.
Kakek : Dan kalau sudah dilanggar?
Ani : Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, terus mengaduk masakannya. Suara gemuruh lagi.
Pincang : Kali ini, suara itu adalah suara guruh.
Ani : (Tersentak) Apa?!
Pincang : (Tertawa) Itu neng, geluduk. Biasanya itu tanda, tak lama lagi hujan turun.
Ani kesal. Ia pergi ke tepi bawah jembatan, melihat ke langit. Diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit. Suara geluduk.
Ani : Sialan! Ina!
Ina : Apa, kak?
Ani : Percuma dandanan!
Ina : Ah, belum tentu juga hujan turun.
Suara Geluduk Lagi.
Ani : (Kesal) Belum tentu, hah! Apa kau pawang hujan? Dengarkan baik-baik: Yang belum tentu adalah –kalau hujan benar-benar turun– kita bisa makan malam ini.
Pincang : Sekedar pengisi perut saja. Ini juga hampir masak.
Ani : (Tolak pinggang di hadapan pincang) Banyak-banyak terima kasih, Bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kau pungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam ½ busuk, campur bawang-prei ½ busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…
Hal yang menjadi permasalahan dalam kutipan drama tersebut adalah …
Kehidupan masyarakat yang serba kekurangan.
Masyarakat yang hidup di kolong jembatan.
Kaum gelandangan yang tinggal di kolong jembatan.
Kegaduhan di pemukiman kaum gelandangan.
Peraturan yang selalu dilanggar oleh masyarakat.
Cermati kutipan drama berikut!
Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari suatu pemukiman kaum gelandangan. Lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng-kaleng mentega dan susu kosong. Lampu-lampu tomplok. Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek. Ani dan Ina, dalam kain terlilit tidak rapih, dan kutang berwarna, asyik dandan dengan masing-masing di tangannya sebuah cermin retak. Sekali-kali kedengaran suara gemuruh di atas jembatan, tanda kendaraan berat lewat. Suara gemuruh lagi.
Kakek : Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Pincang : (Tertawa) Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Kakek : Apa?
Pincang : Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Kakek : (Menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengaduk isi kaleng mentega di atas tungku) Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Ani : Lalu?
Kakek : Hendaknya, peraturan itu diturutlah.
Ani tertawa terbahak-bahak.
Kakek : Kalau begitu apa guna larangan?
Ani : Untuk dilanggar.
Kakek : Dan kalau sudah dilanggar?
Ani : Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, terus mengaduk masakannya. Suara gemuruh lagi.
Pincang : Kali ini, suara itu adalah suara guruh.
Ani : (Tersentak) Apa?!
Pincang : (Tertawa) Itu neng, geluduk. Biasanya itu tanda, tak lama lagi hujan turun.
Ani kesal. Ia pergi ke tepi bawah jembatan, melihat ke langit. Diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit. Suara geluduk.
Ani : Sialan! Ina!
Ina : Apa, kak?
Ani : Percuma dandanan!
Ina : Ah, belum tentu juga hujan turun.
Suara Geluduk Lagi.
Ani : (Kesal) Belum tentu, hah! Apa kau pawang hujan? Dengarkan baik-baik: Yang belum tentu adalah –kalau hujan benar-benar turun– kita bisa makan malam ini.
Pincang : Sekedar pengisi perut saja. Ini juga hampir masak.
Ani : (Tolak pinggang di hadapan pincang) Banyak-banyak terima kasih, Bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kau pungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam ½ busuk, campur bawang-prei ½ busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…
Nilai yang dominan dalam kutipan drama tersebut adalah .…
agama
budaya
moral
sosial
politik
1. Cermati kutipan drama tersebut!
Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar. Pemandangan biasa dari suatu pemukiman kaum gelandangan. Lewat senja. Tikar-tikar robek. Papan-papan. Perabot-perabot bekas rusak. Kaleng-kaleng mentega dan susu kosong. Lampu-lampu tomplok. Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek. Ani dan Ina, dalam kain terlilit tidak rapih, dan kutang berwarna, asyik dandan dengan masing-masing di tangannya sebuah cermin retak. Sekali-kali kedengaran suara gemuruh di atas jembatan, tanda kendaraan berat lewat. Suara gemuruh lagi.
Kakek : Rupa-rupanya, mau hujan lebat.
Pincang : (Tertawa) Itu kereta-gandengan lewat, kek!
Kakek : Apa?
Pincang : Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.
Kakek : (Menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengaduk isi kaleng mentega di atas tungku) Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.
Ani : Lalu?
Kakek : Hendaknya, peraturan itu diturutlah.
Ani tertawa terbahak-bahak.
Kakek : Kalau begitu apa guna larangan?
Ani : Untuk dilanggar.
Kakek : Dan kalau sudah dilanggar?
Ani : Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, terus mengaduk masakannya. Suara gemuruh lagi.
Pincang : Kali ini, suara itu adalah suara guruh.
Ani : (Tersentak) Apa?!
Pincang : (Tertawa) Itu neng, geluduk. Biasanya itu tanda, tak lama lagi hujan turun.
Ani kesal. Ia pergi ke tepi bawah jembatan, melihat ke langit. Diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit. Suara geluduk.
Ani : Sialan! Ina!
Ina : Apa, kak?
Ani : Percuma dandanan!
Ina : Ah, belum tentu juga hujan turun.
Suara Geluduk Lagi.
Ani : (Kesal) Belum tentu, hah! Apa kau pawang hujan? Dengarkan baik-baik: Yang belum tentu adalah –kalau hujan benar-benar turun– kita bisa makan malam ini.
Pincang : Sekedar pengisi perut saja. Ini juga hampir masak.
Ani : (Tolak pinggang di hadapan pincang) Banyak-banyak terima kasih, Bang! Aku sudah bosan dengan labu-siammu yang kau pungut tiap hari dari tong-tong sampah di tepi pasar sana. Labu-siam ½ busuk, campur bawang-prei ½ busuk, campur ubi dan jagung apek, -- bah! Aku bosan! Tidak, malam ini aku benar-benar ingin makan yang enak. Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas…
Mengapa Kakek khawatir kalau jembatan sampai roboh?
Karena pemerintah melarang truk gandeng melewati jembatan.
Karena Kakek akan kehilangan tempat tinggal.
Karena banyak peraturan pemerintah yang dilanggar masyarakat.
Karena pemerintah harus membuat anggaran pembangunan jembatan.
Karena Kakek tinggal di kolong jembatan.
