NEW
Font size
WorksheetsRuang Harmoni, Moderasi, dan Toleransi
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
1. Bagaimana menjembatani kesenjangan antara generasi muda (dominan di Instagram/TikTok) dan tua (Facebook) dalam diskusi toleransi?
a) Memisahkan kampanye untuk masing-masing kelompok.
b) Tidak perlu, karena generasi tua tidak relevan di media sosial.
c) Membuat konten hybrid yang memadukan format populer dengan nilai-nilai lintas
generasi.
d) Generasi muda dan tua sudah sepaham tentang toleransi.
2. Jika WhatsApp digunakan oleh 92.1% pengguna, bagaimana dampaknya terhadap ruang
diskusi toleransi?
a) Group WhatsApp rentan menjadi echo chamber karena homogenitas anggota.
b) WhatsApp mengurangi polarisasi karena fitur end-to-end encryption.
c) Pengguna WhatsApp lebih toleran karena usia pengguna yang dewasa.
d) Tidak ada dampak signifikan terhadap toleransi.
3. Apa implikasi dari ketimpangan konsumsi konten (hiburan 76% vs. edukasi 8.95%) bagi
upaya promosi moderasi beragama?
a) Konten hiburan justru lebih efektif menyebarkan nilai toleransi.
b) Masyarakat sudah otomatis toleran tanpa perlu konten edukasi.
c) Pesan moderasi sulit tersampaikan jika kalah bersaing dengan konten viral.
d) Ketimpangan ini hanya terjadi di Indonesia.
4. Mengapa memposting "foto keberagaman" disebut sebagai upaya aktif menciptakan
harmoni, padahal bisa bersifat simbolis?
a) Karena bisa menjadi bumerang jika tidak disertai aksi nyata.
b) Karena foto lebih efektif daripada diskusi mendalam.
c) Karena media sosial hanya bisa menampilkan hal-hal permukaan.
d) Karena algoritma lebih menyukai konten visual.
5. Jika rata-rata waktu penggunaan media sosial 3 jam 18 menit per hari, apa risiko terbesar
bagi pembentukan sikap toleransi?
a) Tidak ada risiko selama konten yang dikonsumsi positif.
b) Pengguna jadi lebih terbuka karena banyak membaca.
c) Media sosial mengurangi waktu untuk beribadah.
d) Pengguna terpapar informasi tanpa kedalaman kritik (clickbait, hoaks).
6. Bagaimana menjelaskan fenomena "toleransi performatif" (hanya simbolik di media sosial) vs. toleransi riil dalam kehidupan nyata?
a) Media sosial adalah cerminan sempurna realitas sosial.
b) Kegiatan online sering tidak diikuti refleksi mendalam atau aksi struktural.
c) Toleransi performatif lebih efektif daripada edukasi formal.
d) Tidak ada bedanya antara online dan offline.
7. Jika "kisah inspiratif" hanya dikonsumsi minoritas, apakah pendekatan storytelling masih
relevan untuk kampanye toleransi?
a) Semua kisah inspiratif pasti menjangkau banyak orang.
b) Tidak, karena masyarakat hanya mau hiburan.
c) Storytelling hanya efektif untuk generasi tua.
d) Ya, tapi perlu dikemas dengan format populer (e.g., reel, podcast) dan target audiens
spesifik.
8. Jika konten berita viral dikonsumsi 62% pengguna, bagaimana kaitannya dengan
maraknya ujaran kebencian?
a) Berita viral sering memicu polarisasi karena emosi dibangun untuk engagement.
b) Berita viral selalu diverifikasi faktanya sebelum tersebar.
c) Pengguna media sosial sudah melek literasi digital.
d) Tidak ada korelasi antara berita viral dan ujaran kebencian.
9. Apa risiko ketika keberagaman hanya dipamerkan sebagai "estetika visual" (foto-foto)
tanpa dialog substansial?
a) Foto lebih powerful daripada kata-kata.
b) Keberagaman jadi komoditas kosong yang dieksploitasi untuk pencitraan.
c) Tidak ada risiko selama pesan positif tersampaikan.
d) Media sosial tidak bisa digunakan untuk dialog mendalam.
10. Jika 62% pengguna mengonsumsi konten berita viral, apakah ini menunjukkan kegagalan literasi digital atau strategi komunikasi pesan toleransi?
a) Keduanya: literasi rendah dan pesan toleransi kurang menarik secara visual/naratif.
b) Masyarakat memang lebih suka konflik daripada damai.
c) Berita viral selalu mengandung kebenaran.
d) Tidak ada hubungan antara viralitas dan toleransi.
