wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS FKI

Total questions: 39

Worksheet time: 39mins

Name
Class
Date
1.
Nama Lengkap
4 lines
2.
NIM
4 lines
3.
Nomor HP
4 lines
4.
Apa prinsip utama dari paradigma teosentris dalam kesatuan ilmu?
a)
a. Dualisme antara wahyu dan akal
b)
b. Integrasi antara wahyu, akal, dan pengalaman
c)
c. Pemisahan ilmu agama dan ilmu umum
d)
d. Dominasi akal atas wahyu
5.
Bagaimana paradigma teosentris UIN Walisongo memahami relasi antara ilmu agama dan ilmu umum?
a)
a. Ilmu agama lebih tinggi derajatnya daripada ilmu umum
b)
b. Ilmu umum dapat berdiri sendiri tanpa wahyu
c)
c. Ilmu agama dan ilmu umum saling melengkapi dalam kesatuan tujuan
d)
d. Ilmu umum tidak relevan dengan konsep wahyu
6.
Dalam konteks metodologi, paradigma kesatuan ilmu mengedepankan pendekatan yang bersifat:
a)
a. Sekuler dan pragmatis
b)
b. Transformatif berbasis nilai-nilai agama
c)
c. Monodisipliner tanpa integrasi
d)
d. Tradisional tanpa inovasi
7.
Paradigma teosentris di UIN Walisongo merefleksikan hubungan antara ilmu dan tujuan hidup manusia, yaitu:
a)
A. Pemenuhan kebutuhan duniawi semata
b)
b. Menggapai kebahagiaan akhirat tanpa ilmu dunia
c)
c. Menyelaraskan kemajuan dunia dan akhirat
d)
d. Memisahkan dunia dan akhirat dalam setiap aspek
8.
Integrasi ilmu dalam paradigma UIN Walisongo berorientasi pada:
a)
a. Hanya pengembangan akademik kampus
b)
b. Kepentingan ekonomi global
c)
c. Kemaslahatan umat dan lingkungan
d)
d. Eksklusivitas ajaran Islam
9.
Salah satu alasan penting paradigma kesatuan ilmu adalah:
a)
a. Mengkritisi model pendidikan Barat yang sekuler
b)
b. Menghapuskan pendekatan empiris dalam keilmuan
c)
c. Membatasi studi ilmu agama dalam konteks sosial
d)
d. Menyamakan metode Islam dengan sains Barat
10.
Apa peran utama wahyu dalam paradigma kesatuan ilmu?
a)
a. Sebagai alat eksperimen empiris
b)
b. Sebagai pengarah nilai-nilai moral dan etika ilmu
c)
c. Sebagai hasil akal manusia yang diterima secara mutlak
d)
d. Sebagai metode penelitian ilmiah modern
11.
Dalam paradigma kesatuan ilmu, ilmu empiris dianggap valid jika:
a)
a. Tidak bertentangan dengan nilai-nilai wahyu
b)
b. Hanya berlandaskan akal dan pengalaman manusia
c)
c. Tidak memperhatikan dampak sosial
d)
d. Mengutamakan hasil tanpa etika
12.
Paradigma kesatuan ilmu di UIN Walisongo memiliki keunikan dalam:
a)
a. Meninggalkan tradisi keilmuan Islam klasik
b)
b. Menggabungkan nilai-nilai lokal dengan wawasan global
c)
c. Menolak pengaruh budaya global dalam pendidikan
d)
d. Memisahkan filsafat dan ilmu agama
13.
Sebuah penelitian yang sejalan dengan paradigma kesatuan ilmu akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut, kecuali:
a)
a. Berorientasi pada nilai kemanusiaan
b)
b. Memisahkan moral dari keilmuan
c)
c. Berkontribusi pada solusi masalah umat
d)
d. Terintegrasi dengan nilai-nilai agama
14.
Ilmu yang dihasilkan dalam paradigma Islamisasi ilmu modern harus memiliki nilai:
a)
a. Etis dan spiritual sesuai ajaran Islam
b)
b. Bebas nilai untuk menjamin objektivitas
c)
c. Praktis tanpa memperhatikan moralitas
d)
d. Netral terhadap agama
15.
Salah satu pendekatan konkret Islamisasi ilmu modern di UIN Walisongo adalah:
a)
a. Menghapuskan ilmu umum dalam kurikulum
b)
b. Integrasi ilmu agama dan ilmu umum dalam pembelajaran
c)
c. Mengadopsi metodologi Barat tanpa modifikasi
d)
d. Menekankan ilmu agama saja
16.
Apa tantangan utama dalam implementasi Islamisasi ilmu modern?
a)
a. Resistensi terhadap nilai-nilai sekuler
b)
b. Kurangnya metode empiris dalam ilmu agama
c)
c. Ketiadaan kurikulum di UIN Walisongo
d)
d. Penolakan akal sebagai sumber ilmu
17.
Salah satu contoh implementasi Islamisasi ilmu modern adalah:
a)
a. Studi lingkungan berbasis konsep khalifah fil ardh
b)
b. Pemisahan tegas antara agama dan ilmu sains
c)
c. Mengutamakan teori ekonomi Barat dalam pembelajaran
d)
d. Penghapusan mata kuliah umum di kampus
18.
Bagaimana UIN Walisongo mengintegrasikan Islamisasi ilmu dalam penelitian?
a)
a. Dengan mengutamakan pendekatan sekuler
b)
b. Melalui riset interdisipliner yang menggabungkan perspektif agama dan ilmu empiris
c)
c. Dengan menghilangkan elemen empiris dari penelitian
d)
d. Fokus pada riset berbasis sains murni
19.
Dalam seminar Unity of Science, seorang mahasiswa mencatat bahwa gagasan Islamisasi ilmu modern di UIN Walisongo bertujuan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Namun, ia bingung bagaimana wahyu (ilmu agama) dapat dipahami sebagai sumber ilmu. Pilihan yang tepat untuk menjelaskan hal ini adalah:
a)
a. Wahyu memberikan nilai dan tujuan etis bagi semua disiplin ilmu.
b)
b. Wahyu menggantikan akal sebagai satu-satunya sumber ilmu.
c)
c. Wahyu hanya relevan dalam konteks ilmu agama.
d)
d. Wahyu bertujuan untuk membatasi ruang lingkup ilmu modern.
20.
Ketika Ahmad membahas penelitian hukumnya, ia dihadapkan pada kritik bahwa pendekatannya terlalu teoretis dan kurang empiris. Dosen pembimbingnya menyarankan untuk menyeimbangkan wahyu, akal, dan pengalaman empiris. Apa langkah yang paling relevan untuk diterapkan Nadia?
a)
a. Mengabaikan data empiris dan fokus pada kajian tekstual Al-Qur’an.
b)
b. Menggunakan wahyu sebagai inspirasi dan data empiris sebagai validasi.
c)
c. Mengutamakan analisis empiris tanpa mempertimbangkan wahyu.
d)
d. Mengintegrasikan nilai Islam dalam konteks teori Barat tanpa modifikasi.
21.
Dalam diskusi kelompok, seorang mahasiswa bertanya mengapa Islamisasi ilmu perlu diterapkan dalam kajian lingkungan. Nadia menjelaskan bahwa konsep khalifah fil ardh relevan untuk:
a)
a. Mengajarkan manusia cara memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal.
b)
b. Memberikan panduan etis untuk menjaga keberlanjutan bumi sebagai amanah Allah.
c)
c. Membatasi eksplorasi lingkungan hanya pada wilayah hukum Islam.
d)
d. Memisahkan isu lingkungan dari konteks spiritual.
22.
Seorang dosen menyatakan bahwa dalam epistemologi Islam, akal memiliki fungsi penting. Ketika ditanya dalam ujian, ia menjawab bahwa akal digunakan untuk:
a)
a. Menentukan kebenaran mutlak tanpa perlu merujuk wahyu.
b)
b. Mengabaikan wahyu dalam kajian empiris.
c)
c. Memahami wahyu dan menerapkannya dalam konteks ilmiah.
d)
d. Mengganti wahyu sebagai pedoman utama ilmu.
23.
Apa tujuan utama dari humanisasi ilmu-ilmu keislaman dalam konteks integrasi ilmu di UIN Walisongo?
a)
a. Mengganti nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kemanusiaan modern.
b)
b. Menghubungkan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan dan tantangan sosial kontemporer.
c)
c. Memisahkan agama dari peran sosialnya.
d)
d. Menekankan aspek ritual saja dalam ilmu-ilmu keislaman.
24.
Dalam pandangan humanisasi ilmu, sains dan agama seharusnya:
a)
a. Dipisahkan untuk fokus pada tujuan masing-masing.
b)
b. Diintegrasikan untuk menjawab tantangan sosial secara holistik.
c)
c. Dibatasi pada ranah teoretis saja.
d)
d. Digunakan untuk menegaskan keunggulan salah satu pihak.
25.
Apa prinsip utama yang mendasari humanisasi ilmu di UIN Walisongo?
a)
a. Wahyu adalah satu-satunya sumber ilmu.
b)
b. Fokus pada pengembangan spiritual saja.
c)
c. Menghindari keterlibatan agama dalam isu sosial.
d)
d. Nilai-nilai Islam dapat diterapkan untuk menjawab persoalan sosial manusia.
26.
Dalam integrasi humanisasi ilmu, wahyu bertindak sebagai:
a)
a. Penentu tunggal kebenaran ilmiah.
b)
b. Pedoman etis yang mengarahkan penelitian untuk kemaslahatan manusia.
c)
c. Pengganti metode empiris dalam semua penelitian.
d)
d. Sumber yang membatasi ruang lingkup kajian ilmu.
27.
Dalam diskusi kelas, Faris menyatakan bahwa paradigma humanisasi ilmu bisa diaplikasikan untuk mengatasi masalah keadilan sosial. Manakah langkah yang paling sesuai?
a)
a. Memaksimalkan eksploitasi sumber daya untuk kemakmuran ekonomi.
b)
b. Menggunakan hukum Islam untuk kelompok tertentu saja.
c)
c. Menyesuaikan nilai Islam dengan standar sekuler global.
d)
d. Mengintegrasikan nilai keadilan Islam dalam kebijakan publik.
28.
Dalam bimbingan skripsi, dosennya bertanya bagaimana wahyu bisa membimbing penelitian empiris. Jawaban mahasiswa yang benar adalah:
a)
a. Wahyu memberikan prinsip dasar yang relevan untuk arah penelitian.
b)
b. Wahyu menggantikan data empiris dalam penelitian.
c)
c. Wahyu hanya relevan untuk kajian teoretis.
d)
d. Wahyu membatasi penelitian pada isu agama saja.
29.
Dalam sebuah refleksi, seseorang menyadari bahwa humanisasi ilmu mendorong mahasiswa untuk:
a)
a. Mengutamakan aspek ibadah dalam kehidupan akademik.
b)
b. Menggunakan ilmu sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
c)
c. Membatasi aplikasi ilmu pada kebutuhan spiritual saja.
d)
d. Menolak teori ilmiah yang berasal dari luar Islam.
30.
Dalam logo UIN Walisongo, gunungan memiliki bentuk menyerupai jantung manusia. Apa makna filosofis dari bentuk ini?
a)
a. Simbol hubungan manusia dengan sesama.
b)
b. Pengingat bahwa hati manusia harus selalu ingat kepada Allah.
c)
c. Representasi harmoni antara manusia dan alam.
d)
d. Penanda hubungan horizontal dalam kehidupan sosial.
31.
Lima sisi pada gunungan logo UIN Walisongo melambangkan:
a)
a. Lima rukun Islam.
b)
b. Lima pilar pengembangan keilmuan.
c)
c. Lima sila Pancasila.
d)
d. Lima nilai Walisongo
32.
Ornamen geometris dalam logo UIN Walisongo mewakili aspek spiritualisasi ilmu-ilmu modern. Apa dampak dari spiritualisasi ini?
a)
a. Memisahkan nilai-nilai agama dari ilmu modern.
b)
b. Mengintegrasikan nilai spiritual dalam sains dan teknologi.
c)
c. Mengembangkan teknologi berbasis tradisi Nusantara.
d)
d. Menegaskan bahwa ilmu modern sepenuhnya independen dari agama.
33.
Apa makna dari tulisan “UIN” yang terbentuk dalam logo?
a)
a. Identitas perguruan tinggi berbasis kajian kitab klasik.
b)
b. Simbol semangat menyala untuk penelitian dan pengabdian masyarakat.
c)
c. Representasi utama Walisongo dalam sejarah Islam Nusantara.
d)
d. Lambang keharmonisan antara ilmu-ilmu agama dan umum.
34.
Seorang mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo bernama Fikri ditugaskan untuk menulis makalah tentang Islamisasi ilmu hukum. Dalam prosesnya, ia menemukan bahwa Islamisasi ilmu tidak hanya tentang "memasukkan nilai-nilai Islam" ke dalam disiplin modern, tetapi juga melibatkan kritik terhadap epistemologi Barat. Fikri membaca karya Ismail Raji al-Faruqi yang menyatakan bahwa Islamisasi ilmu mencakup: Pemisahan aspek sekuler yang bertentangan dengan Islam.Integrasi nilai Islam dengan ilmu modern.Pembentukan teori baru berbasis Islam. Dalam konteks hukum, Fikri menyimpulkan bahwa salah satu tantangan utama adalah membangun teori keadilan berbasis maqashid syari'ah yang mampu menjawab tantangan hukum global. Menurut Anda, apakah langkah awal yang sebaiknya dilakukan Fikri agar Islamisasi ilmu hukum dapat diterapkan di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum?
a)
A. Membandingkan konsep keadilan dalam maqashid syari’ah dengan teori keadilan menurut John Rawls.
b)
B. Menulis makalah yang mengkritik semua pemikiran hukum Barat tanpa membangun alternatif.
c)
C. Mengusulkan revisi kurikulum fakultas untuk memasukkan kajian epistemologi hukum Islam tanpa studi banding.
d)
D. Menggunakan pendekatan pragmatis dengan fokus pada penerapan langsung nilai syari’ah tanpa teori.
35.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum sering menghadapi dilema saat belajar teori-teori hukum modern seperti positivisme hukum yang menekankan "separation thesis" (pemisahan hukum dan moralitas). Dalam seminar, seorang dosen menantang mahasiswa untuk merekonstruksi teori positivisme hukum agar sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah, dengan mempertimbangkan pendekatan Islamisasi ilmu. Apa langkah terbaik yang dapat diambil mahasiswa untuk menjawab tantangan ini?
a)
A. Mengintegrasikan maqashid syari'ah sebagai "moral compass" dalam pembentukan norma hukum positif.
b)
B. Menolak positivisme hukum sepenuhnya dan menggantinya dengan teori-teori hukum Islam tradisional.
c)
C. Mengabaikan nilai-nilai maqashid syari’ah demi menjaga keuniversalan hukum modern.
d)
D. Menggunakan teori positivisme tanpa modifikasi untuk memahami sistem hukum negara Indonesia.
36.
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum diberikan tugas untuk menjelaskan hubungan antara humanisasi hukum Islam dan pemikiran Filsafat Emile Durkheim tentang solidaritas sosial. Seorang mahasiswa, Lina, menyatakan bahwa humanisasi hukum Islam dapat menciptakan harmoni sosial yang sejalan dengan solidaritas mekanik dan organik menurut Durkheim. Apa langkah yang dapat diambil Lina untuk memperkuat argumennya?
a)
A. Menjelaskan bagaimana hukum Islam mendorong solidaritas dalam komunitas melalui nilai-nilai kemanusiaan.
b)
B. Menggunakan teori Durkheim tanpa relevansi dengan konteks hukum Islam.
c)
C. Mengkritik hukum Islam tradisional tanpa memberikan solusi berbasis maqashid syari’ah.
d)
D. Mengabaikan teori Durkheim karena dianggap tidak relevan dengan Islam.
37.
Ahmad, seorang mahasiswa, mengajukan gagasan bahwa humanisasi hukum Islam harus mempertimbangkan hak asasi manusia (HAM) sebagai bagian dari maqashid syari'ah. Namun, dalam diskusi, temannya mengkritik gagasan ini karena dianggap terlalu “modern” dan bertentangan dengan nilai-nilai syari’ah. Bagaimana Ahmad dapat membela gagasannya?
a)
A. Menggunakan pendekatan HAM secara universal tanpa mengaitkannya dengan Islam.
b)
B. Menolak gagasan HAM dan menggantinya dengan konsep tradisional Islam.
c)
C. Menunjukkan bahwa maqashid syari’ah melindungi hak asasi manusia seperti hak hidup, kehormatan, dan harta.
d)
D. Mengabaikan kritik dan tetap berfokus pada pendekatan modern.
38.
Seorang dosen meminta mahasiswa untuk menjelaskan bagaimana humanisasi hukum Islam dapat diterapkan dalam hukum pidana Islam. Salah satu mahasiswa, Dina, mengusulkan bahwa penerapan hudud harus mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi pelaku dan dampak hukuman terhadap masyarakat. Apakah usulan Dina mencerminkan prinsip humanisasi ilmu keislaman?
a)
A. Ya, karena humanisasi ilmu berarti menolak hukum hudud sepenuhnya.
b)
B. Tidak, karena hukum hudud bersifat tetap dan tidak perlu disesuaikan.
c)
C. Ya, karena mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi sejalan dengan maqashid syari’ah.
d)
D. Tidak, karena hukum pidana Islam tidak memerlukan pendekatan humanisasi.
39.
Dalam diskusi kelas, dosen menantang mahasiswa untuk menjelaskan integrasi ilmu fikih dan sosiologi dalam konteks Unity of Science. Seorang mahasiswa bernama Rina menyatakan bahwa hukum Islam terkait wakaf dapat diperkaya dengan data sosiologi untuk memahami kebutuhan masyarakat modern. Namun, beberapa mahasiswa lain berpendapat bahwa pendekatan sosiologi tidak relevan dalam studi fikih. Bagaimana Rina dapat membenarkan pandangannya sesuai paradigma Unity of Science?
a)
A. Dengan menggantikan fikih Islam sepenuhnya dengan teori sosiologi modern.
b)
B. Dengan menegaskan bahwa pendekatan fikih harus tetap literal tanpa menggunakan data sosiologi.
c)
C. Dengan mengabaikan data sosiologi dan hanya fokus pada teks fikih klasik.
d)
D. Dengan menjelaskan bahwa sosiologi memberikan data empiris yang membantu hukum Islam memenuhi tujuan maqashid syari’ah.