NEW
Font size
WorksheetsUrban Afterhours 5
Total questions: 17
Worksheet time: 6mins
Apa yang dimaksud dengan “tempat ketiga” dalam konteks perencanaan kota?
Tempat tinggal alternatif untuk masyarakat urban
Ruang selain rumah (tempat pertama) dan kantor (tempat kedua) yang digunakan untuk bersosialisasi dan membangun komunitas
Kantor cabang dari pusat pemerintahan daerah
Kawasan komersial berorientasi kendaraan pribadi
Mengapa keberadaan tempat ketiga penting bagi kualitas hidup masyarakat perkotaan?
Mengurangi beban transportasi publik
Menyediakan ruang untuk ekspansi properti swasta
Mendorong interaksi sosial, inklusivitas, dan rasa memiliki terhadap kota
Menjadi pusat kegiatan ekonomi formal
Contoh dari “tempat ketiga” di lingkungan perkotaan adalah:
Apartemen pribadi
Coworking space dengan akses terbatas
Taman kota, kafe komunitas, dan ruang publik yang inklusif
Gedung pemerintahan dan kantor dinas
Apa tantangan utama dalam pengembangan tempat ketiga di kota-kota Indonesia?
Kelebihan ruang publik
Minimnya investasi swasta di sektor properti
Kurangnya peraturan tentang pembangunan vertikal
Komersialisasi ruang dan eksklusi sosial dalam pengelolaan ruang publik
Siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah “third place” dalam literatur urban?
Richard Florida
Ray Oldenburg
Jane Jacobs
Jan Gehl
Peran tempat ketiga dalam mendukung resilience city adalah:
Menyediakan layanan kesehatan darurat
Menjadi pusat evakuasi bencana
Memfasilitasi jaringan sosial dan solidaritas warga dalam menghadapi krisis
Mengurangi laju urbanisasi
Dalam diskusi Urban Afterhours 5, tempat ketiga dibahas sebagai solusi atas:
Kemacetan lalu lintas di pusat kota
Dualitas hidup rumah-kantor yang memisahkan manusia dari ruang sosial kota
Kekurangan hunian vertikal
Kebutuhan akan pusat perbelanjaan baru
Dalam bukunya The Great Good Place, Ray Oldenburg menyebutkan beberapa karakteristik tempat ketiga. Manakah dari berikut ini bukan ciri tempat ketiga menurut Oldenburg?
Netralitas dalam status sosial
Kehadiran makanan dan minuman sebagai pemikat utama
Aksesibilitas dan keterbukaan bagi umum
Percakapan sebagai aktivitas utama
Dalam studi urbanisme kritis, “temporariness” atau sifat sementara dalam ruang kota seringkali diasosiasikan dengan:
Kepastian hukum dalam penggunaan ruang publik
Praktik ruang oleh komunitas marjinal atau tak terinstitusionalisasi
Stabilitas ekonomi kawasan
Rencana tata ruang jangka panjang
Dalam tradisi pemikiran Henri Lefebvre, tempat ketiga bisa dipahami sebagai bagian dari “ruang representasi”. Apa makna istilah tersebut?
Ruang yang dikonstruksi oleh negara melalui kebijakan spasial
Ruang yang direpresentasikan secara teknokratik dalam peta
Ruang yang dialami dan dijalani secara simbolik dan emosional oleh masyarakat
Ruang yang tunduk pada kapital dan pasar bebas
Dalam konteks neoliberalisme urban, tempat ketiga sering mengalami proses “privatisasi ruang publik”. Konsep ini sejalan dengan kritik dari:
Saskia Sassen tentang kota global
Rem Koolhaas tentang Junkspace
Michel Foucault tentang disiplin ruang
David Harvey tentang akumulasi melalui perampasan
“Ruang liminal” sering disinggung dalam kajian antropologi urban sebagai:
Ruang transisi di mana norma dan struktur formal dikendurkan
Ruang eksklusif yang hanya bisa diakses oleh kelas menengah ke atas
Ruang dengan fungsi administratif yang jelas
Ruang yang dirancang arsitek secara fungsional dan preskriptif
Dalam konteks Global South, seperti kota-kota di Indonesia, tempat ketiga sering berkembang secara informal. Ini sejalan dengan konsep “insurgent urbanism” yang dikenalkan oleh:
James Holston
Jane Jacobs
Mike Davis
Ananya Roy
Dalam buku Kota Rumah Kita, Marco Kusumawijaya menyatakan bahwa kota seharusnya dipahami sebagai:
Ruang produksi dan konsumsi massal
Instrumen pertumbuhan ekonomi nasional
Entitas administratif yang dikontrol oleh pemerintah daerah
Rumah bersama yang dikelola secara partisipatif
Dalam banyak tulisannya, Marco mengkritik ruang kota yang terlalu didikte oleh logika kapitalisme. Bagaimana ia menggambarkan akibatnya terhadap ruang ketiga?
Ruang ketiga dikomodifikasi menjadi ruang konsumsi seperti kafe eksklusif dan mall
Ruang ketiga menjadi lebih banyak dan terbuka
Ruang ketiga diambil alih oleh pemerintah untuk pengawasan
Ruang ketiga hilang sepenuhnya dan diganti dengan ruang kerja
Kenapa banyak ruang ketiga di Indonesia hadir secara informal?
Karena rencana tata ruang sering lupa soal ruang nongkrong
Karena warga kreatif dan “gak kehabisan akal”
Karena ruang formal sering jadi eksklusif atau bayar
Karena kombinasi semua hal di atas
Kalau ruang ketiga di Indonesia hilang karena pembangunan gedung baru, yang biasanya terjadi adalah…
Warga cari tempat lain, kadang lebih seru
Nongkrong pindah ke parkiran
Protes sambil ngopi bareng
Semua benar, karena ruang ketiga gak bisa dimatikan — hanya berpindah
