Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Pemahaman Lafaz dalam Al-Qur'an (Mujmal,Mubyan,Mudarif, Musytrk)

Total questions: 30

Worksheet time: 15mins

Name
Class
Date
1.

Lafaz dalam nash syar'i yang maknanya masih global dan memerlukan penjelasan disebut …

a)

Mubayyan

b)

Mutlak

c)

Mujmal

d)

Khusus

2.

Contoh lafaz dalam Al-Qur'an yang termasuk mujmal adalah …

a)

Kutiba 'alaikumus shiyām

b)

Wa aqīmū aṣ-ṣalāh

c)

Hajjul-baiti manisṭaṭā'a

d)

Washalū kamā ra'aytumūnī uṣallī

3.

Al-Mubayyan secara bahasa berarti …

a)

Tertulis

b)

Terhapus

c)

Diperjelas

d)

Disamarkan

4.

Lafaz "salat" dalam perintah Al-Qur'an sebelum dijelaskan oleh Nabi termasuk dalam kategori …

a)

Mubayyan

b)

Mujmal

c)

Mantuq

d)

Mutasyabih

5.

Hadis Nabi ﷺ tentang cara salat: "Shallū kamā ra'aytumūnī uṣallī" menjadikan lafaz "salat" menjadi …

a)

Mujmal

b)

Majaz

c)

Mubayyan

d)

Muthlaq

6.

Lafaz mujmal tidak dapat langsung diamalkan kecuali …

a)

Dirincikan oleh pendapat ulama

b)

Disepakati oleh ijma'

c)

Diperjelas oleh dalil lain

d)

Dihapus oleh nasakh

7.

Salah satu hikmah adanya lafaz mujmal dalam Al-Qur'an adalah …

a)

Agar manusia bingung

b)

Untuk menghapus hukum lama

c)

Memberikan ruang ijtihad bagi ulama

d)

Menghalangi pemahaman umat

8.

Berikut ini adalah pasangan lafaz mujmal dan penjelasannya yang tepat, kecuali …

a)

Salat - hadis tentang tata cara salat

b)

Zakat - ayat tentang haul dan nisab

c)

Haji - hadis tentang manasik

d)

Riba - ijma' ulama tafsir

9.

Lafaz mubayyan adalah lafaz yang …

a)

Masih memerlukan penafsiran

b)

Telah dijelaskan dan bisa diamalkan

c)

Belum memiliki makna

d)

Mengandung banyak tafsir

10.

Perbedaan utama antara mujmal dan mubayyan terletak pada …

a)

Jumlah kata

b)

Kejelasan makna

c)

Penempatan dalam ayat

d)

Bahasa yang digunakan

11.

Seorang siswa membaca ayat: "Wa aqīmū aṣ-ṣalāh wa ātū az-zakāh" (QS. Al-Baqarah: 43) Ia berkata bahwa ia telah melaksanakan salat karena ayat ini memerintahkannya, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara salat yang benar. Apa analisis yang tepat terhadap situasi ini menurut kaidah ushul fikih?

a)

Ayat tersebut mubayyan karena perintahnya jelas

b)

Ayat tersebut mujmal dan butuh penjelasan dari hadis

c)

Ayat tersebut mutasyabih karena sulit dipahami

d)

Ayat tersebut batil karena bertentangan dengan praktik

12.

Dalam suatu forum kajian, dua orang berbeda pendapat: Orang A berkata: "Ayat Al-Qur'an semuanya jelas, tidak ada yang samar." Orang B membantah: "Ada bagian Al-Qur'an yang memerlukan penjelasan dari hadis." Berdasarkan konsep mujmal dan mubayyan, siapakah yang lebih tepat menurut ushul fikih?

a)

Orang A, karena Al-Qur'an sempurna dan tidak butuh tafsir

b)

Orang B, karena ada lafaz mujmal yang dijelaskan oleh hadis

c)

Keduanya salah, karena Al-Qur'an tidak perlu dijelaskan

d)

Keduanya benar, karena perbedaan hanya perspektif

13.

Dikatakan bahwa lafaz "salat" adalah mujmal dalam Al-Qur'an dan menjadi mubayyan dengan sunnah Nabi ﷺ. Apa konsekuensi hukum dari perubahan status lafaz tersebut terhadap praktik ibadah?

a)

Salat boleh dilakukan dengan cara apa pun karena bersifat umum

b)

Sunnah tidak wajib diikuti karena hanya penjelasan

c)

Tata cara salat harus mengikuti sunnah sebagai penjelas

d)

Salat tidak wajib karena tidak disebut detail dalam Al-Qur'an

14.

Dalam memahami lafaz mujmal, ulama berbeda pendapat tentang metode penjelasannya. Apa dampak dari perbedaan ini terhadap hukum-hukum furu' (cabang)?

a)

Tidak ada dampak karena hukum tetap satu

b)

Menyebabkan variasi fatwa dan ijtihad dalam fiqih

c)

Menghapus fungsi Al-Qur'an sebagai sumber hukum

d)

Membatalkan keabsahan ijtihad para imam mazhab

15.

Apa kesimpulan yang tepat dari analisis tersebut terhadap metode istinbath hukum Islam?

a)

Hukum hanya diambil dari ayat yang jelas

b)

Hadis tidak boleh dijadikan sumber hukum

c)

Interaksi antar dalil memperkaya metodologi hukum

d)

Ayat mujmal lebih lemah dari pada hadis shahih

16.

Ayat di atas memuat lafaz "salat" dan "zakat" tanpa menjelaskan tata caranya. Dalam kajian ushul fikih, ayat tersebut dikategorikan sebagai:

a)

Ayat yang mutasyabih

b)

Ayat mubayyan karena perintahnya langsung

c)

Ayat mujmal karena makna praktisnya belum dijelaskan

d)

Ayat nasikh karena telah dihapus dengan hadis

17.

Hadis ini berfungsi dalam ilmu ushul fikih sebagai …

a)

Dalil tambahan yang opsional

b)

Penjelas (mubayyin) terhadap lafaz mujmal dalam Al-Qur'an

c)

Pembatal hukum salat dalam Al-Qur'an

d)

Dalil qath'i untuk semua ibadah

18.

Lafaz "haji" dalam ayat di atas dianggap mujmal karena:

a)

Tidak menyebut jumlah hari haji

b)

Tidak menjelaskan rukun, waktu, dan tata cara haji

c)

Tidak memerintahkan tawaf dan sa'i

d)

Tidak menyebut nama kota Makkah

19.

Fungsi hadis ini dalam konteks ushul fikih terhadap ayat tentang haji adalah …

a)

Nasakh terhadap ayat sebelumnya

b)

Penjelas (mubayyin) dari lafaz mujmal

c)

Qiyas terhadap hukum safar

d)

Pembatal hukum lama

20.

Mengapa ayat di atas digolongkan sebagai mujmal menurut ulama ushul fikih?

a)

Karena tidak menyebut jenis hukuman

b)

Karena tidak menjelaskan batas minimal pencurian dan bagian tangan yang dipotong

c)

Karena tidak menyebut alat potong

d)

Karena tidak berlaku pada zaman sekarang

21.

Muradif (مترادف) dalam ilmu Ushul Fikih berarti...

a)

Satu lafaz memiliki banyak makna berbeda

b)

Banyak lafaz memiliki makna sama atau hampir sama

c)

Lafaz yang maknanya bertentangan

d)

Lafaz yang jarang digunakan

e)

Lafaz yang hanya digunakan dalam Al-Qur’an

22.

Manakah yang merupakan contoh muradif (مترادف)?

a)

‘Ain (عين) → mata, emas, mata air

b)

Zakah (زكاة) → sedekah

c)

Qur’ (قرء) → suci/haid

d)

Qarinah (قرينة) → indikasi

e)

Iddah (عدة) → masa tunggu

23.

Musytarak (مشترك) adalah...

a)

Satu lafaz dengan satu makna

b)

. Banyak lafaz dengan makna yang sama

c)

Satu lafaz dengan banyak makna berbeda

d)

Lafaz yang sudah tidak dipakai

e)

Lafaz yang hanya bermakna majaz

24.

Perbedaan utama muradif (مترادف) dengan musytarak (مشترك) terletak pada...

a)

Bentuk lafaznya

b)

Banyaknya arti pada satu lafaz

c)

Jumlah huruf yang digunakan

d)

Keterikatan dengan qarinah

e)

Letaknya dalam mushaf

25.

Apa dampak musytarak (مشترك) dalam istinbath hukum?

a)

Tidak menimbulkan perbedaan

  

b)

Selalu menghasilkan hukum pasti

c)

Dapat menimbulkan perbedaan pendapat

d)

Tidak pernah dipakai dalam Al-Qur’an

e)

Menghapus hukum sebelumnya

26.

Contoh kata Qur’ (قرء) yang bisa berarti haid (حيض) atau suci (طهر) adalah...

a)

Musytarak (مشترك)

b)

Muradif (مترادف)

c)

Majaz

d)

Qiyas

e)

Khusus

27.

Dalam memahami musytarak (مشترك), ulama memerlukan...

a)

Qiyas (قياس)

b)

Qarinah (قرينة)

c)

Ijma’ (إجماع)

d)

Istihsan (استحسان)

e)

‘Urf (عرف)

28.

Mengapa muradif (مترادف) tidak menimbulkan perbedaan hukum?

a)

Karena jarang digunakan

b)

Karena maknanya sama

c)

Karena berasal dari bahasa asing

d)

Karena memiliki banyak arti

e)

Karena tidak ditemukan dalam hadis

29.

Dalam sebuah ayat, kata “عين (ain)” digunakan. Jelaskan proses penentuan makna yang tepat menurut kaidah Ushul Fikih, lalu tentukan hukum yang mungkin berbeda jika makna yang dipilih adalah “mata” atau “mata air”.

a)

Dengan qarinah konteks, hukum bisa berbeda sesuai makna lafaz.

b)

Semua makna bisa digunakan secara bersamaan

c)

. Tidak perlu menentukan makna, cukup gunakan arti umum.

d)

Makna ditentukan berdasarkan pendapat mayoritas tanpa analisis.

e)

Makna harus diabaikan karena tidak mempengaruhi hukum.

30.

Jika sebuah lafaz memiliki banyak sinonim (muradif), bagaimana ahli ushul memutuskan mana yang digunakan dalam istinbath hukum?

a)

Memilih kata yang paling sering muncul dalam hadis.

b)

Mengambil kata yang memiliki nilai balaghah lebih tinggi.

c)

Memilih berdasarkan kesesuaian konteks nash

d)

Menggunakan semua sinonim sekaligus

e)

Memilih secara acak karena maknanya sama.