Font size
WorksheetsTO BPN AGUSTUS 2025
Total questions: 145
Worksheet time: 1hrs 13mins
Seorang wanita, 42 tahun, dengan riwayat penyakit Grave direncanakan menjalani subtotal tiroidektomi. Pemeriksaan lab menunjukkan kadar T3&T4 masih tinggi. Pasien masih mengalami takikardia saat istirahat. Apa langkah yang paling tepat dilakukan sebelum operasi elektif?
lanjutkan jadwal operasi karena kondisi pasien stabil secara hemodinamik
memberikan profil uracil dan beta blocker sampai eutiroid tercapai sebelum operasi
melakukan plasmapharesis preoperatif
menghentikan antitiroid sehari sebelum operasi
memberikan dosis tinggi levotiroksin perioperatif
Seorang wanita, 36 tahun dengan riwayat hipertiroidisme menjalani tiroidektomi 6 jam pasca operasi, dia mengalami demam 40 derajat, takikardia 160 kali/menit, agitasi, dan hipotensi. Tidak ditemukan kekakuan otot atau peningkatan Ck serum. Apa diagnnosis yang paling mungkin?
Malignant hypertermia
Sepsis berat
Thyroid storm
Hiperkalemia
Reaksi transfusi akut
Pasien dengan thyroid storm, ditatalaksana di ICU, adalah menurunkan kadar hormon tiroid aktif dan mengontrol gejala simpatis. Apa urutan farmakologis yang paling sesuai?
Profil tiouracil diikuti oleh pemberian Iodida
Pemberian iodida terlebih dahulu baru profil tiouracil
Deksamethasone diikuti oleh b blocker
Furosemide diikuti oleh beta blocker
Dopamin infus diikuti oleh levotiroksin
Seorang pria 45 tahun 2 jam pasca total tiroidektomi, tiba-tiba mengalami stridor dan dyspnea berat. Pemeriksaan leher menunjukkan pembengkakakn di area luka operasi. Tindakan awal?
Intubasi trakea dengan bronkoskopi serat optik
Berikan oksigen 100%, dan lakukan TC segera
segera buka luka operasi dan evakuasi hematoma
Lakukan cricotiroidotomi bedside
Lakukan pemeriksaan CT leher sebelum tindakan lebih lanjut
Seorang pria dengan BB 160 kg, dan tinggi 170 cm, akan menjalani operasi. Obat yang diberikan adalah rocuronium. Bagaimana prinsip poenghitungan dosis obat ini pada pasien obesitas?
TBW
Adjusted BW
Ideal BW
Dosis diperbanyak 50% dari standar
Tidak ada perbandingan dosis dibandingkan pasien normal
Pasien pria obesitas dengan IMT 40kg/m2 akan menjalani blok epidural untuk operasi lutut, saat perencanaan anestesi, mempertimbangkan volume anestesi lokal. Bagaimana karakteristik kebutuhan anestesi lokal pada pasien ini dibanding pasien non obesitas?
Dosis > tinggi karena jaringan adiposa luas
Dosis > rendah et causa volume CSF menurun
Tidak ada perbedaan dosis
Dosis bergantung total body weight
Harus diberikan 2x lipat dari standar
Pria 65 tahun datang ke IGD dalam kondisi tidak sadar, hipotermia, bradikardia, hiponatremia, gagal nafas. Riwayat sebelumnya adalah hipotiroidisme yang tidak terkontrol. Terapi paling tepat untuk kondisi ini?
Levotiroksin oral dosis tinggi
Triiodotironine (T3), IV + steroid
Profil Triuracil IV
Propanolol oral
Pemberian dekstrosa 50% bolus
Pria dengan hipotiroidisme yang baru didiagnosis menjalani operasi hernia inguinalis dengan anestesi umum. Pasca operasi, pasien menunjukkan hipoventilasi dan kesulitan dalam ekstubasi. Faktor fisiologis yang paling berperan menyebabkan komplikasi ini?
Peningkatan refleks chemoreceptor
Gangguan metabolisme obat
Hipercelangia
peningkatan CO
hiperglikemia
Obat Anestesi Lokal yang mempunyai onset cepat (fast) jika diberikan secara Epidural adalah ;
Ropivacaine
Bupivacaine
Lidocaine
Levobupivacaine
Benzocaine
Pasien 56 tahun, dengan rencana Tindakan Cholecystectomy, pada pemeriksaan fisik
dijumpai TD 175/110 mmHg, laju jantung 98x/menit, RR 16x/menit. Pasien mempunyai
Riwayat Hipertensi di diagnosa oleh dokter jantung dan tidak berobat/minum obat teratur.
Resiko yang jarang terjadi pada pasien ini adalah ?
Komplikasi yang jarang timbul adalah Miokard Infark, gangguan fungsi ginjal dan stroke
Diastolik lebih menentukan berat risiko akibat anestesia atau tindakan pembedahan
Pasien hipertensi preoperative berhubungan dengan hipotensi pasca operasi
Tekanan darah tidak dipengaruhi emosi, aktivitas fisik dan kecemasan
LVH bukan merupakan predictor utama komplikasi kardiovaskular
Pasien Wanita 64 tahun dilakukan laparotomy miomektomi dengan general anestesi, terdapat kelainan tulang belakang sehingga tidak mungkin dilakukan regional block, pasien dengan Riwayat hipertensi, preoperative TD 145/90 mmHg terkontrol. Saat durante operasi TD 180/100 mmHg, beberapa kemungkinan yang terjadi adalah :
Kedalaman anestesi yang inadekuat
Metaprolol, esmolol dan labetolol dapat diberikan intraoperative
Nitrogliserin dapat mencegah iskemia miokard
a dan b benar
semua benar
Pasien laki – laki multitaruma dengan Hb 4 gr/dL dengan tranfusi 2000 cc preoperative, kemudian dilakukan laparatomi dengan anestesi umum akibat internal bleeding dan ditambahkan lagi PRC 1500 cc. Pasca operasi pasien timbul komplikasi hipotermia dengan suhu 34,5 C. Hal yang dapat terjadi pada pasien ini adalah :
Keadaan yang timbul akibat perdarahan hebat disertai anestesi umum
Kondisi ini menurunkan reaksi fibrinolysis
PTT dan aPPT akan meningkat jika suhu dinaikkan diatas 37 C
Asidosis yang terjadi dapat memperburuk reaksi koagulopathi
b dan d benar
Pasien laki-laki 40 thn, dengan GCS 10, edema serebri akut dan Fraktur Depress os Frontal pasca KLL 8 jam lalu, sedang dilakukan optimalisasi sambal menunggu dilakukan Tindakan kraniotomi dekompressi. Pasien diberikan Mannitol 125 cc untuk penatalaksaan peningkatan tekanan intracranial akut. Hal yang dapat timbul pada pasien ini adalah :
Plasma osmolaritas bisa meningkat
Efek Mannitol mulai setelah 60 menit dan berlangsung(durasi) selama 12 jam
Efek terhadap ICP tidak dose dependent
Mannitol tidak bisa mencegah gagal ginjal perioperative
Tidak menyebabkan gangguan metabolism jika diberikan dengan dosis dibawah 4 gr/KgBB
Golongan obat beta adrenergic blocker yang bersifat simpatomimetik adalah
Metoprolol
Acebutolol
Bisoprolol
Propanolol
Esmolo
Pasien laki-laki 70 tahun, dirawat di ICU dengan CKD dan direncanakan Tindakan Renal Replacement Therapy. Komplikasi yang dapat timbul pada pasien ini adalah :
Transient Trombocytopenia
Hiperkalemia
Hipertensi
Ascites
Hipokarbia
Pasien Wanita, 55 tahun, dengan aneurisma pecah, post pemasangan AV Shunt, TD 155/90 mmHg, HR 92x/menit, Hb 8,2 gr/dL, Ureum 110 mg/dL, Creatinin 6,8 direncanakan operasi emergensi untuk menghentikan perdarahan. Tindakan yang tepat pada penatalaksanaan pasien ini adalah :
Ringer Lactat lebih dipertimbangkan untuk mencegah hyperchloremia pada pasien
Nacl 0,9 % merupakan kontraindikasi pada pasien hiperkalemia
Perdarahan hanya bisa digantikan dengan darah, tidak bisa digantikan koloid
Hb preoperative sebaiknya dinaikkan sampai 10 gr/dL
Semua Benar
Pasien Wanita, 65 tahun direncanakan Transvaginal Hysterektomi dengan Posisi Lithotomi. Hal yang dapat terjadi akibat posisi lithotomi pada pasien ini adalah :
Posisi ini dapat menjadi predisposisi atelektasis
Mengangkat kaki akan menaikkan cardiac output
Penurunan kaki secara tiba tiba pasca operasi menyebabkan venous return meningkat mendadak dan berbahaya
b dan c benar
semua benar
Pasien laki-laki, 70 tahun, pasca operasi TUR dirawat di HCU dijumpai tanda-tanda TURP Syndrome 6 jam kemudian. Hal yang dapat menyebabkan hal ini adalah :
Absorpsi cairan irrigasi lebih dari 1 L
Insidennya < 5% pada TURP
Ditandai aritmia, hipertensi dan kejang
Berhubungan dengan volume prostat yang direseksi
Insiden lebih tinggi pada reseksi Tumor Buli
Hal yang dapat menyebabkan peningkatan Peak Inspiratory Pressure (PIP) tanpa perubahan plateau pressure (PP) adalah :
Bronkospasme
Endotracheal Tube tertekuk (kinked)
Tension Pneumothoraks
a dan b benar
semua benar
Pasien Pasca Cardiac Arrest dengan ROSC di lakukan pemasangan Kateter Vena Sentral untuk tujuan memantau saturasi oksigen Vena Sentral (ScVO2) secara kontinu. Tujuan memantau ScVO2 adalah :
Memantau oksigen consumption yang diperlukan oleh jantung
ScVO2 dikatakan normal jika diatas 50 %
ScVO2 diatas 65 % menunjukkan Shunting arterial dan vena
Penurunan ScVO2 menunjukkan oxygen delivery yang inadekuat
Semua Benar
Indikator terjadinya bronkospasme durante operasi pada saat anestesia umum adalah :
Penurunan peak airway pressure
Timbul suara corakan vesikuler kasar di bagian basal paru
Penuruan tidal volume dari volume ekshalasi
Penurunan Gelombang Capnograph
c dan d benar
Sindrom antikolinergik sentral merupakan perubahan sistem saraf yang bervariasi dari penurunan kesadaran hingga halusinasi yang diakibatkan oleh reaksi overdosis obat-obatan antikolinergik. Berikut merupakan manifestasi klinis lainnya dari sindrom tersebut :
hipersalivasi
takikardia
hipotermia
diplopia
pucat
Obat antidotum yang efektif digunakan dalam kasus sindrom antikolinergik sentral adalah :
neostigmine
pyridostigmine
edrophonium
physostigmine
sulfas atropine
Paparan berkepanjangan dari anestesi inhalasi nitrogen oksida secara sistemik di antaranya depresii sumsum tulang belakang, yaitu
anemia megaloblastik
anemia aplastic
idiopatik trombositopenia purpura
trombositopenik trombotik purpura
chronic myeloid leukemia
Seorang anak laki-laki 7 tahun dengan berat badan 30 kg direncanakan eksisi tumor jinak di antebrachii dextra. Saat ini belum terpasang iv line pada pasien. Induksi dilakukan dengan menggunakan anestesi inhalasi. Sebutkan faktor yang mempengaruhi ambilan (uptake) anestesi inhalasi
cardiac output, solubilitas darah, koofisien partisi
solubilitas darah, aliran darah alveolus, cardiac ouput
perbedaan tekanan parsial udara alveolar dan darah vena, cardiac output, pulmonary shunt
solubilitas darah, pulmonary shunt, koofisien partisi
solubilitas darah, aliran darah alveolus, perbedaan tekanan parsial udara alveolar dan darah vena
Mekanisme kerja anestesi inhalasi melalui reseptor-reseptor berikut
α2 agonis
NMDA
reseptor β1
kolinergik muskarinik
sistem sarah otonom
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventricular preload di antaranya adalah distribusi aliran darah, dimana distribusi aliran darah tidak dipengaruhi oleh hal di bawah berikut
postur
tekanan intrathoraks
tekanan pericardial
tonus vena
ejeksi fraksi
Seorang anak laki-laki usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg, direncanakan odontectomy. Pasien dengan keluhan bibir kebiruan, jari tabuh dan cepat lelah. Diketahui pasien mengalami penyakit jantung bawaan. Kronik hipoksemia yang dialami oleh pasien dengan penyakit jantung bawaan akan mengakibatkan kondisi berikut
trombosis
eritrositosis
pansitopenia
polisitemia vera
hiperkoagubilitas
Seorang anak laki-laki usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg direncanakan odontectomy.
Pasien dengan keluhan bibir kebiruan, jari tabuh dan cepat lelah. Diketahui pasien
mengalami penyakit jantung bawaan. Tindakan phlebotomy direkomendasikan pada kasus
tersebut apabila :
Terjadi polisitemia vera yang lama
Kadar hematocrit 60%
Sindrom hiperviskositas dan hematocrit > 65%
Terjadi gagal ginjal akut akibat hipoperfusi organ
Dehidrasi berat
Perempuan 30 tahun dengan riwayat asma persisten ringan dilakukan rencana Modified Radical Mastectomy dengan general anestesi intubasi. Dilakukan induksi dengan fentanyl, propofol dan atracurium. Intraoperative terjadi desaturasi 86% dan terdengar wheezing pada auskultasi paru. Penyebab lainnya yang dapat menyerupai bronkospasme akibat serangan asma adalah:
active inspiratory efforts
pneumothorax
water trap pada corrugate
hydrothorax
kebocoran ballon ETT
Laki-laki 54 tahun dengan diagnose fraktur costae anterior 5,6,7,8 dextra direncanakan platting costae. Diketahui riwayat merokok > 2 bungkus perhari selama 20 tahun. Tanda vital preinduksi TD 140/87 mmHg, HR 98 x/i, RR 24 x/i, SpO2 94% dengan nasal kanul 4 lpm. Intraoperative setelah insisi terjadi desaturasi hingga 88%. Pada pasien dengan PPOK, operasi upper abdominal akan mengakibatkan penurunan FRC >30%. Berikut merupakan penyebab komplikasi awal pasca operasi pada kasus di atas:
nafas dalam dengan batuk tidak efektif
peningkatan sigh breath
manajemen nyeri continue dengan opioid based
efek anestesi telah habis
penggunaan regional anestesi untuk manajemen nyeri
Perempuan 30 tahun dengan riwayat asma persisten ringan dilakukan rencana Modified Radical Mastectomy dengan general anestesi intubasi. Dilakukan induksi dengan fentanyl, propofol dan atracurium. Intraoperative terjadi desaturasi 86% dan terdengar wheezing pada auskultasi paru. Aferen vagal pada bronkus sensitive terhadap histamine, stimulus noxius multiple dan instrumentasi. Aktivasi reflex vagal ini akan mengakibatkan apa dan dimediasi oleh?
bronkokonstriksi dan intracellular cyclic guanosine monophosphate (cGMP)
bronkokonstriksi dan dan N-metyl-D-aspartate (NMDA)
bronkokonstriksi dan histamine oleh mast cell
bronkodilatasi dan histamine oleh mast cell
bronkodilatasi dan bradikinin
Laki-laki 42 tahun dengan keluhan sesak nafas dan batuk berdahak sejak 2 bulan terakhir, pasien dengan diagnose TB paru direncanakan thoracotomy akibat giant bullae. Tanda vital preinduksi TD 120/87 mmHg, HR 98 x/i, RR 24 x/i, SpO2 96% dengan nasal kanul 4 lpm. Anestesi inhalasi yang tidak dikontraindikasikan pada kasus ini adalah:
halotan
xenon
sevofluran
desfluran
nitric oksida
Seorang Laki-laki 68 tahun menjalani prosedur coronary artery bypass grafting (CABG).
Kondisi praanestesi tekanan darah 125/89 mmHg, frekuensi nadi 68 x/menit, Sp.O2 99%.
Setelah dilakukan induksi, pasien mengalami hipotensi menjadi 78/35 mmHg. Anda berpikir
hal tersebut sebagai akibat perfusi ke koroner yang tidak adekuat. Manakah yang merupakan
determinan langsung dari kondisi hipoperfusi di atas?
Selisih antara tekanan diastolik aorta dan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri
Selisih antara tekanan arteri rerata dan tekanan atrium kanan
Selisih antara tekanan sistolik aorta dan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri
Frekuensi nadi
Curah jantung
Seorang laki-laki 65 tahun dengan riwayat hipertensi dan stenosis aorta moderate sedang
menjalani anestesi umum untuk open repair aneurisma aorta abdominal. Setelah dilakukan
induksi dengan fentanyl dan propofol, tekanan darahnya turun menjadi 82/55 mmHg dan
frekuensi nadi 50 x/menit. Telah dilakukan bolus cairan namun tidak terjadi perbaikan
hemodinamik Intervensi apa yang efektif untuk mengembalikan perfusi koroner dan tekanan
darah sistemik pada kondisi di atas?
Pemberian phenylephrine
Meningkatkan dosis sevoflurane
Inisisasi infus esmolol
Pemberian hidralazine
Memposisikan trendelenburg
Seorang wanita 55 tahun dengan kondisi fraksi ejeksi yang masih baik menjalani repair katup mitral. Setelah separasi dari mesin pintas jantung-paru, pasien mengalami hipotensi, peningkatan tekanan arteri pulmonal, dan penurunan curah jantung. Pemeriksaan TEE menunjukkan ventrikel kanan dilatasi dengan pergeseran septum ke kiri. Tindakan apa yang tepat untuk menungkatkan hemodinamik pasien tersebut di atas?
Memberikan inhalasi nitric oxide
Memberikan esmolol
Bolus cairan untuk meningkatkan preload
Meningkatkan PEEP
Memberikan calcium channel blocker
Seorang laki-laki 52 tahun menjalani prosedur coronary artery bypass grafting (CABG). Pada saat episode pintas jantung-paru, tekanan arteri rerata turun menjadi 45 mmHg meskipun flow main pump cukup adekuat. Perfusionis menginformasikan bahwa resistensi vaskular sistemik turun Manakah tindakan yang paling tepat untuk meningkatkan perfusi pada kasus di atas?
Meningkatkan dosis norepinephrine
Meningkatkan kecepatan flow main pump
Memberikan manitol
Menurunkan suhu pasien
Menurunkan fraksi oksigen
Seorang laki-laki 68 tahun dengan kardiomiopati dan fraksi ejeksi ventrikel kiri 30% akan menjalani pembedahan vaskular. Saat dilakukan induksi dengan etomidate, tekanan arteri rerata turun dari 95 menjadi 65 mmHg. Apa mekanisme fisiologis yang menyebabkan hipotensi pada pasien di atas?
Kegagalan respon simpatik yang dimediasi baroreseptor
Peningkatan kontraktilitas myocardium secara mendadak
Penurunan resistensi vaskuler sistemik akibat stimulasi adrenal
Peningkatan preload sebagai akibat vasokonstriksi
Penurunan tiba-tiba tonus parasimpatis saat induksi
Seorang perempuan 68 tahun dengan kardiomiopati obstruktif hipertrofi menjalani
laminektomi dekompresi segmen lumbal. Saat operasi, pasien mengalami takikardi dan
hipotensi setelah kehilangan darah dan restriksi cairan Strategi apa yang tepat untuk
tatalaksana hemodinamik pada pasien di atas?
Memberikan phenylephrine dan beta blocker
Meningkatkan input cairan
Memberikan inotropik
Memberikan vasodilator
Meningkatkan PEEP
Seorang laki-laki 58 tahun dengan coronary arteries disease (CAD) triple-vessel disease dijadwalkan untuk prosedur prosedur coronary artery bypass grafting (CABG). Ekhokardiografi preoperasi menunjukkan adanya hipokinesia di dinding inferior. Pendekatan anestesi intraoperatif apa yang tepat untuk menurunkan kebutuhan oksigen myocard sekaligus menjaga perfusi koroner tetap baik?
Menjaga tetap normotensi dan mencegah takikardi
Menjaga curah jantung dengan pemberian beta blocker
Melakukan permissive hypotension
Menggunakan kombinasi regional anestesi untuk menurunkan resistensi vaskular sistemik
Melakukan hipoksia intermiten untuk prekondisioning myocard
Seorang laki – laki 67 tahun dengan recent myocard infarction menjalani penggantian katup aorta. Setelah dilakukan induksi, tekanan darah turun drastis dan terjadi peningkatan depresi segmen ST. Apa faktor anestesi yang menjadi penyebab perburukan iskemia myocard pada kasus di atas?
Penurunan tekanan perfusi koroner akibat hipotensi sistemik
Depresi myocard akibat pemberian opioid
Peningkatan aktivasi simpatik akibat laringoskopi
Penurunan preload akibat vasokonstriksi
Peningkatan konten oksigen karena preoksigenasi
Seorang wanita 64 tahun dengan riwayat atrial fibrilasi terkontrol menjalani prosedur carotid endarterectomy. Pada saat dilakukan clamping karotis, denyut nadinya melambat sampai 38 x/menit dan tekanan darah turun menjadi 73/45 mmHg. Apa mekanisme fisiologis yang terjadi pada pasien di atas?
Reflek bradikardi akibat aktivasi baroreseptor dari stimulasi sinus karotis
Depresi myocard akibat toksisitas anestesi lokal
Peningkatan simpatis akibat rangsang pembedahan
Aktivasi vagal akibat dosis anestesi inhalasi yang terlalu tinggi
Emboli coroner akibat plak karotis
Seorang laki – laki 64 tahun dengan riwayat coronary arterial disease (CAD) menjalani pembedahan elektif non-kardiak. Pasien mendapatkan pengobatan beta blocker dan statin. Pada saat operasi, frekuensi nadi meningkat hingga 110 x/menit dan terlihat depresi segmen ST. Apa tindakan yang dapat memperbaiki ketidakseimbangan oksigenasi myocard pada pasien di atas?
Pemberian esmolol untuk menurunkan frekuensi nadi dan kebutuhan oksigen
Meningkatkan sevoflurane untuk meningkatkan vasodilatasi koroner
Memberikan nitrogliserin untuk menurunkan preload
Memberikan atropine untuk meningkatkan perfusi
Memberikan dopamine untuk meningkatkan curah jantung
Seorang laki-laki berusia 62 tahun akan menjalani cholecystectomy per laparoskopi. Pada pemeriksaan preoperasi didapatkan pasien sesak bila aktivitas sedang dan rontgen thorax menunjukkan gambaran emfisematous dan sela iga kesan melebar. Bagaimana strategi ventilasi yang sesuai untuk pasien di atas?
Waktu ekspirasi diperpanjang dengan frekuensi respirasi rendah
Volume tidal tinggi dengan frekuensi respirasi rendah
Frekuensi respirasi tinggi dengan PEEP minimal
Rasio I:E = 1:1
Ventilasi semenit ditngkatkan dengan PEEP 0
Seorang laki-laki 55 tahun sedang menjalani thoracotomy untuk reseksi paru. Pasien diposisikan lateral decubitus dan dilakukan anestesi GA dengan double lumen ETT. Saat operasi dan dilakukan ventilasi satu paru, saturasi turun menjadi 85%. Manuver apa yang tepat untuk meningkatkan oksigenasinya?
Meningkatkan fraksi oksigen
Meningkatkan volume tidal sampai 10 ml/kg
Hiperventilasi
Mengembalikan ventilasi dua paru
Memposisikan supine
Pasien Wanita 48 tahun dengan komorbid asma dan prediksi kesulitan intubasi akibat protrusi mandibula menjalani pembedahan eksplorasi batu CBD. Sesaat setelah dilakukan intubasi, tekanan puncak jalan nafas meningkat dan terdengar wheezing di kedua paru saat auskultasi. Langkah apa yang anda lakukan untuk tatalaksana kondisi di atas?
Mendalamkan anestesi dan memanjangkan ekspirasi
Meningkatkan ventilasi semenit
Menurunkan volume tidal dan memberikan loop diuretic
Menurunkan rasio I:E dan meningkatkan PEEP
Menurunkan frekuensi nafas dan meningkatkan PEEP
Seorang laki-laki 55 tahun menjalani operasi odontektomi multiple dengan GA. Pasien mempunyai komorbid obesitas dan obstructive sleep apnea syndrome. Operasi berjalan dengan lancar. Saat dilakukan pengawasan di ruang pemulihan, pasien sempat sadar namun menjadi somnolen. Saturasi di monitor turun menjadi 90% dan saat dilakukan pemeriksaan analisis gas darah PaO2 80 mmHg dan PaCO2 65 mmHg. Apa tatalaksana yang sebaiknya anda lakukan untuk kondisi pasien di atas?
Memberikan ventilasi tekanan positif non invasif
Memberikan nalokson untuk
Melakukan intubasi endotrakheal
Memberikan furosemide untuk mengurangi kongesti paru
Memberikan obat induksi dan pelumpuh otot
Pasien laki-laki 45 tahun terdiagnosis bullous emphysema. Setelah dilakukan pemeriksaan
praoperasi, pasien dijadwalkan untuk dilakukan video-assisted thoracoscopic surgery.
Strategi ventilasi apa yang tepat untuk mencegah komplikasi intraoperatif pada pasien di
atas?
Menggunakan volume tidal rendah dan permissive hypercapnea
Menggunakan PEEP tinggi
Meningkatkan frekuensi nafas untuk menjaga tetap normocapnea
Menggunakan I:E = 1:1
Memberikan tekanan ispirasi 30 cmH2O
Seorang laki-laki 58 tahun menjalani operasi pneumectomy atas indikasi karsinoma paru.
Pasien dilakukan anestesi GA dengan ETT dobel lumen. Saat dilakukan ventilasi satu paru,
saturasi turun dari awalnya 98% dengan fraksi oksigen 50% menjadi 85%, kemudian diikuti
dengan penurunan darah hingga 82/45 mmHg. Mekanisme apa yang paling mungkin terjadi
pada pasien di atas?
Peningkatan right-to left shunt dari paru yang tidak terventilasi
Tension pneumothorak pada paru yang tidak terventilasi
Cardiac tamponade akibat manipulasi operasi
Auto PEEP akibat bronkhospasme
Emboli paru akibat DVT
Seorang wanita usia 37 tahun menjalani operasi mastektomi atas indikasi karsinoma
mammae. Pasien dilakukan GA intubasi dengan rumatan anestesi inhalasi desflurane dalam
oksigen 40%. Saat operasi, tekanan jalan nafas tiba-tiba meningkat dan terdengar wheezing
saat dilakukan auskultasi. Tindakan apa yang anda lakukan untuk mengatasi kondisi di atas?
Mengganti anestesi inhalasi ke sevoflurane dan memberikan beta agonis
Memberikan furosemide dan meningkatkan ventilasi semenit
Mengganti ETT dengan ukuran yang lebih kecil
Memberikan nalokson dan merubah ke TIVA
Melakukan bronchoscopy via fiberoptic
Seorang laki-laki 23 tahun dengan nasal septum deviasi menjalani pembedahan septoplasty.
Pasien dilakukan anestesi umum dengan posisi supine saat operasi. Perubahan fisiologis apa
pada posisi operasi di atas yang dapat menyebabkan penurunan oksigenasi?
Diafragma terdorong ke cephalad sehingga FRC turun
Peningkatan gradien perfusi paru
Penurunan TLC akibat pelumpuh otot
Peningkatan volume alveoli intrathoracal
Peningkatan reaktivitas jalan nafas akibat anestesi inhalasi
Seoramg Wanita 50 tahun menjalani laparoskopi cholecystectomy atas indikasi cholelithiasis.
Pasien tidak mempunyai komorbid dan dilakukan anestesi umum. Saat operasi saturasi pasien
turun dan tidak membaik meskipun fraksi oksigen sudah ditingkatkan. Ventilator mesin
anestesi menunjukkan peningkatan tekanan puncak dan plateu. Komplikasi apa yang paling
mungkin untuk kondisi pasien di atas?
Penurunan komplians paru akibat pneumoperitoneum
Peningkatan resistensi jalan nafas akibat ETT kinkin
Peningkatan shunt akibat posisi
Mismatch V/Q akibat penurunan curah jantung
Overdistensi alveolar yang menyebabkan barotrauma
Pasien laki-laki 38 tahun menjalani prosedur thoracotomy lobectomy karena karsinoma paru.
Setelah induksi, pasien dilakukan laringoskopi intubasi pemasangan ETT dobel lumen
dengan lumen bronchial kanan. Setelah terpasang, dilanjutkan pengecekan auskultasi sudah
sesuai. Setelah pasien diposisikan lateral, dilakukan auskultasi ulang namun suara dasar
vesikuler hanya terdengar di sisi kanan paru. Apa langkah anda selanjutnya pada kondisi di
atas?
Reposisi ETT dengan panduan fiberoptik
Melanjutkan tindakan anestesi dengan ventilasi satu paru
Memberikan pelumpuh otot dan mendalamkan anestesi
Menaikkan PEEP
Memasukkan bronchial blocker
seorang laki - laki berusia 45 tahun mengalami penurunan tekanan darah akibat syok yang
disebabkan karena perdarahan, salah satu mekanisme kompensasi tubuh apabila terjadi alirandarah yang kurang maksimal di ginjal adalah terjadinya aktivasi RAAS. Bagian fungsional
ginjal yang berfungsi untuk sekresi renin adalah
Nefron
Tubulus kontortus proksimal
Aparatus juxtaglomerolus
Tubulus kontortus distal
Glomerolus
seorang laki - laki berusia 55 tahun mengalami kecelakan, didapatkan TD 80/60 mmHg, nadi
118x/menit, Suhu 36,3C, RR 20x/menit, salah satu mekanisme kompensasi yang dilakukan
saat mengalami keadaan diatas adalah aktifasi dari RAAS Dibawah ini manakah yang bukan
termasuk peranan angiotensin 2 pada sistem ginjal
Peningkatan Reabsorbsi Natrium pada ginjal
Vasokonstriksi Arteriol
Sekresi ADH
Peningkatan parasimpatis
Reabsorbsi Kalium
Seorang laki – laki berusia 57 tahun, dengan Riwayat hipertensi, merokok, diabetes mellitus dan Riwayat GERD, pasien ini rutin mengkonsumsi metformin 3x500mg, glimepiride 1x2mg, dan Amlodipin 1x10mg, dari hasil laboratorium didapatkan fungsi ginjal dalam batas normal, akan menjalani operasi ORIF Humerus dan clavicula, secara elektif dan direncanakan menggunakan General Anestesi Berdasarkan faktor resiko yang ada pasien ini termasuk AKI risk indeks kelas berapa?
I
II
II
IV
V
Pasien berusia 49 tahun dirawat di ICU dengan kondisi sepsis, produksi urin dirasa semakin lama semakin berkurang, pasien diduga mengalami AKI dengan kadar ureum 88 mg/dL, Creatinin 1,9 mg/dL Obat – Obatan atau zat dibawah ini yang dapat menyebabkan direct tubular Injury adalah
Aminoglikosida
Fentanyl
Propofol
Rocuronium
Atracurium
Seorang laki – laki berusia 50 tahun dengan keadaan overload, namun pada hasil pemeriksaan elektrolit didapatkan kondisi Hipokalemia, dan dipertimbangkan untuk diberikan diuretik hemat kalium , dibawah ini yang termasuk diuretic hemat kalium adalah
Furosemid
Acetazolamid
Manitol
Tiazid
Spironoloakton
Seorang wanita berusia 62 tahun dengan riwayat Ca mamae, post kemoterapi, di rencanakan menjalani operasi ORIF Clavicula, namun pada saat dilakukan evaluasi hasil laboratorium didapatkan fungsi Creatinin Clearence 18 Tingkat keparahan AKI berdasarkan fungsi glomerulus termasuk kedalam kategori
Decrease Kidney reserve
Mild Kidney Impairment
Moderate Kidney Impairment
Kidney Failure
End stage renal disease
Seorang laki – laki berusia 66 tahun, didapatkan keadaan Hipertensi kronis dan diabetes yang tidak terkontrol, pasien juga belakangan ini sering mengeluhkan cepat lelah, lemas, dan letih, produksi air kencing dirasa semakin lama semakin sedikit, dan mulai muncul bengkak pada kedua tungkai bawah, pasien direncanakan untuk dilakukan renal replacement terapi, Dibawah ini yang tidak termasuk dalam indikasi dilakukan Renal Replacement Terapi adalah
Overload Cairan
Hipertensi
Asidosis Berat
Hiperkalemia Berat
Drug Toxicity
seorang laki - laki berusia 45 tahun mengalami penurunan tekanan darah akibat syok yang disebabkan karena perdarahan, salah satu mekanisme kompensasi tubuh apabila terjadi aliran darah yang kurang maksimal di ginjal adalah terjadinya aktivasi RAAS. Dibawah ini salah satu peran yang dilakukan Renin pada RAAS adalah
Mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I
Mengaktifkan angiotensin I menjadi angiotensin II
Mengaktifkan Angiotensin II menjadi angiotensin III
Memicu angiotensin II untuk memproduksi Aldosteron
Memicu produksi Hormon ADH
Tuan A, perawatan di ICU selama 5 hari karena riwayat trauma abdomen. Komorbiditas seperti hipertensi, diabetes, alergi dan asma disangkal. saat perawatan hari ke 6, didapatkan pasien mengalami hipotensi, dan oliguria. MAP yang harus dipertahankan untuk menjaga autoregulasi ginjal
80 – 180 mmHg
90 – 180 mmHg
100 – 180 mmHg
80 – 170 mmHg
90 – 170 mmHg
Seorang pasien laki laki berusia 50 tahun, dengan Berat badan 50 kg didiagnosa Didiagnosa
gangren pedis yang sedang mengalami kondisi sepsis, saat ini sedang dirawat diruangan
intensif, setelah dilakukan evaluasi urin selama 15 jam didapatkan jumlahnya 300 cc,
Berdasarkan kriteria KDIGO, pasien ini masuk kedalam AKI stadium?
V
IV
III
II
I
Seorang laki-laki 45 tahun, didapatkan kecelakaan lalu lintas dan mendapatkan
perdarahan hebat di area abdomen. setelah masuk 2 liter kristaloid, dan mempersiapkan darah
anda menyiapkan cairan koloid HES untuk resusitasi lanjutan. Berapa dosis maksimal cairan
HES yang diperbolehkan untuk diberikan?
20-50 cc/kgbb dalam 24 jam
30-50 cc/kgbb dalam 24 jam
20-40 cc/kgbb dalam 24 jam
20-40 cc/Kgbb dalam 12 jam
30-50 cc/kgbb dalam 12 jam
seorang perempuan 33 tahun didapatkan kelemahan pada kedua tungkai, disertai badan yang
lemas. dari pemeriksaan elektrolit didapatkan Na 125, K 2.1 dan Cl 97. Pada pemeriksaan
EKG dapat ditemukan gambaran berikut, kecuali:
Pelebaran QRS Kompleks
Peningkatan U wave prominen
Pemanjangan PR Interval
T inverted
ST depresi
Seorang laki - laki 65 tahun, dengan CKD dan Nephrolithiasis sedang menjalani hemodialisa
1 hari preoperasi untuk tindakan PCNL. saat dilakukan visite pre operasi post HD didapatkan
pasien mengalami penurunan kesadaran dan cenderung mengantuk. dari pemeriksaan CT
scan kepala post HD didapatkan adanya Edema cerebri. Setelah dievaluasi ulang 6 jam
kemudian, pasien kembali sadar penuh. kondisi yang paling mungkin terjadi pada pasien
adalah:
Transient ischemic attack
Dialysis disequilibrium syndrome
Uremic Syndrome
Hiponatremia berat
Hipokalemia berat
Pasien 40 tahun datang ke IGD tidak sadarkan diri, keluarga pasien mengatakan sebelum
tidak sadarkan diri, pasien sempat kejang dan diketahui mual dan muntah sejak
kemarin.Pemeriksaan lab didapatkan Na+, 131 mEq/L; K+, 4.8 mEq/L; Cl–, 104 mEq/L Mg
0.5 mEq/L, Ca 10.5 mg/dL
Penatalaksanaan pada pasien dapat dilakukan:
A. Pemberian MgSO4 1 sampai 2 g selama 10 sampai 60 menit
B. Pemberian diuresis osmotic
C. Memberikan Ca Glukonas 20%
D. Rehidrasi dan brisk diuresis
E. Pemasangan mechanical ventilation
Seorang perempuan 47 tahun, menjalani perawatan di ICU setelah operasi total tiroidektomi.
selama 24 jam perawatan, pasien mengalami gelisah, disertai dengan kekakuan pada
ekstremitas, dan adanya kaku pada otot rahang, dari EKG didapatkan prolong QT interval.
Penatalaksanaan yang tepat pada kasus diatas adalah
A. Calcium gluconate 30 ml dengan 10% larutan
B. 5 ml calcium klorida dengan 10% larutan
C. 10 ml calcium chloride dengan 10% larutan
D. 25 ml calcium gluconate 10% larutan
E. 30 ml calcium gluconate dengan 10% larutan
Seorang pasien laki-laki 71 tahun mengeluhkan mati rasa pada bagian betis medial setelah
menjalani operasi TURP dengan pemasangan strap pada bagian medial kaki selama 3 jam.
Kemungkinan cedera saraf yang diderita pada pasien adalah?
A. Nervus femoralis
B. Nervus peroneus communis
C. Nervus saphena
D. Nervus sciatica
E. Nervus obturatorius
Seorang laki - laki 71 tahun menjalani operasi TURP karena mengalami BPH dengan volume
90 cc. anestesi memulai tindakan dengan spinal anesthesia dengan regimen hiperbarik
bupivacaine. selama 2 jam berlangsung operasi, pasien menjadi sulit dibangunkan,disertai
dengan hipotensi dan kejang. Penatalaksanaan awal yang dilakukan adalah
A. Memberikan midazolam 2-4 mg intravena
B. Restriksi cairan intravena
C. Intubasi dan secure airway
D. pemberian cairan NaCl 3% intravena
E. Manitol 15%
Laki laki 54 tahun sedang menjalani operasi TURBT Elektif karena didapatkan adanya batu
pada kandung kemih. pasien menjalani operasi dengan general anestesi. Saat dilakukan insisi
oleh operator, kaki pasien bergerak seperti menendang Gerakan jerking movement yang
terjadi, kemungkinan karena terkena saraf
A. Nervus femoralis
B. Nervus peroneus communis
C. Nervus saphena
D. Nervus sciatica
E. Nervus obturatorius
Laki-laki 60 tahun menjalani perawatan ICU karena sesak dan penurunan kesadaran.
didapatkan Ur 188 dan Cr 8, pasien direncanakan untuk secure airway dan hemodialisa.
dibawah ini adalah gangguan elektrolit yang dapat terjadi pada kasus CKD, kecuali
A. Hipernatremia
B. Hiperkalemia
C. Hiperfosfatemia
D. Hipomagnesemia
E. Hipermagnesemia
Laki laki 62 tahun dengan post operasi craniotomy evakuasi SDH, pada hari ke 3 perawatan,
kesan kesadaran menurun. diuresis pasien 2.8cc/kgbb/jam, disertai dengan suhu 38.8C dan
peningkatan HR di 133x/menit. dari elektrolit didapatkan Na 125 meq/L , K 3.1 meq/L dan
CL 101 meq/L, GDS 342 mg/dl, Hasil elektrolit urinalisis didapatkan Na 158 meq/L Apa
kondisi yang paling mungkin terjadi pada kondisi pasien di atas?
A. Cerebral Salt Wasting Syndrome (CSW)
B. Syndrome of inappropriate antidiuresis (SIADH)
C. Diabetes Insipidus (DI)
D. Ketoasidosis Diabetik (KAD)
E. Efek samping obat Manitol Intravena
Anak laki-laki, 3 tahun, 15 kg, lahir preterm usia 35 minggu, akan menjalani miringotomi
bilateral. Pasien direncanakan untuk induksi inhalasi dengan sevoflurane dan ventilasi
spontan. Sirkuit pernapasan manakah yang optimal?
A. Mapleson tipe A.
B. Mapleson tipe B.
C. Mapleson tipe C.
D. Mapleson tipe D.
E. Bain
Anak laki-laki, 3 tahun, 15 kg, lahir preterm usia 35 minggu, akan menjalani miringotomi
bilateral. Pasien direncanakan untuk induksi inhalasi dengan sevoflurane dan ventilasi
spontan. Manakah diantara ini yang merupakan keuntungan dari circle system dibanding
sirkuit Mapleson?
A. Circle system lebih portable disbanding Mapleson
B. Katup unidireksional pada circle system mengizinkan aliran gas segar yang lebih
rendah
C. Circle system lebih murah
D. Circle system membutuhkan usaha nafas lebih rendah
E. Circle system menyebabkan kehilangan panas dan kelembaban yang lebih tingg
Anak laki-laki, 3 tahun, 15 kg, lahir preterm usia 35 minggu, akan menjalani miringotomi
bilateral. Pasien direncanakan untuk induksi inhalasi dengan sevoflurane dan ventilasi
spontan Manakah di antara berikut ini yang paling dapat diandalkan untuk mencegah
rebreathing CO₂?
A. Ventilasi terkontrol melalui sistem lingkaran dengan aliran gas segar setara
setengah dari minute ventilation.
B. Ventilasi terkontrol melalui sirkuit Mapleson A dengan aliran gas segar setara dengan
minute ventilation.
C. Ventilasi spontan melalui sirkuit Mapleson D dengan aliran gas segar setara setengah dari
minute ventilation.
D. Ventilasi spontan melalui sirkuit Mapleson A dengan aliran gas segar setara setengah dari
minute ventilation.
E. Ventilasi spontan menggunakan sirkuit Bain dengan aliran gas segar setara minute
ventilation.
Wanita s, 30 tahun, 60 kg menjalani laparoskopi kolesistektomi. Pasien ini telah menjalani
anestesi umum sebelumnya untuk operasi artroskopi lutut. Tidak ada masalah terkait anestesi
sebelumnya baik pada pasien ini maupun keluarganya. Melihat dari kapnografi berikut, apa
yang paling mungkin menyebabkan peningkatan inspirasi CO2 40 menit setelah operasi
dimulai?
A. Absorber CO2 jenuh.
B. Aliran gas segar terlalu rendah.
C. Artefak kapnografi (terdapat air pada sampel sel).
D. Kebocoran pada cabang inspirasi dari sistem lingkaran.
E. Absorbsi akibat insuflasi CO2
Wanita, 45 tahun, akan menjalani laparoskopi kolesistektomi. Pasien merokok 1 pak per hari
selama 20 tahun. Tanda-tanda vital sebagai berikut, nadi 74 x/menit, tekanan darah 134/77
mmHg, suhu 37,60C, dan saturasi oksigen 95%. Pemeriksaan fisik dalam batas normal.
Pasien menjalani induksi yang dengan. Namun, kapnografinya menunjukkan adanya
kenaikan grafik perlahan
A. Aspirasi.
B. Intubasi endobrokial.
C. Bronkospasme.
D. Obstruksi airway.
E. Variasi normal.
Wanita, 45 tahun, akan menjalani laparoskopi kolesistektomi. Pasien merokok 1 pak per hari
selama 20 tahun. Tanda-tanda vital sebagai berikut, nadi 74 x/menit, tekanan darah 134/77
mmHg, suhu 37,60C, dan saturasi oksigen 95%. Pemeriksaan fisik dalam batas normal.
Pasien menjalani induksi yang dengan. Namun, kapnografinya menunjukkan adanya kenaikan grafik perlahan
A. Meningkatkan FiO2.
B. Meningkatkan waktu inspirasi.
C. Meningkatkan waktu ekspirasi.
D. Meningkatkan frekuensi napas.
E. Meningkatkan tslope
Seorang wanita berusia 46 tahun dijadwalkan untuk menjalani laminektomi dan fusi servikal.
Dokter bedah meminta pemantauan motor evoked potential. Manakah diantara ini yang
secara akurat mendeskripsikan perbedaan antara motor evoked potential dan somatosensory
evoked potential?
A. Somatosensory evoked potential lebih sensitif terhadap anestesi volatil.
B. Motor evoked potential mengukur impuls yang melalui traktus kortikospinalis.
C. Tingkat depresi twitch yang minimal merupakan kontraindikasi saat mengukur motor
evoked potential.
D. Somatosensory evoked potential bermanfaat dalam mendeteksi gangguan arteri spinal
anterior.
E. Somatosensory evoked potential lebih akurat dalam memprediksi defisit motorik
pascaoperasi
Wanita, 46 tahun, 110 kg, dijadwalkan menjalani laminektomi dan fusi servikal. Riwayat
penyakit dahulu hipertensi, fibromyalgia, asma, dan refluks gastroesofageal. Selama
intraoperative akan dilakukan pemantauan somatosensory evoked potentials. Pemeliharaan
anestesi menggunakan remifentanil 0,2 µg/kg/menit, 50 % nitrous oxide dalam 50 % oksigen,
dan propofol 100 µg/kg/menit. Rata-rata MAP 100 mmHg. Dokter bedah saraf melaporkan
perdarahan intraoperatif yang signifikan dan meminta agar tekanan darah pasien diturunkan.
Langkah paling tepat selanjutnya adalah?
A. Memberikan metoprolol intravena.
B. Menambahkan sevoflurane ke dalam campuran gas inspirasi
C. Memperdalam anestesi dengan ketamin intravena.
D. Memulai infus nicardipine.
E. Memulai infus dexmedetomidine 0,5 µg/kg/jam.
Sepasang kembar identik mengalami kecelakaan motor hingga mengalami cedera ortopedik
multipel. Salah satu pasien memiliki BMI 42, namun nampak sehat. Sedangakan saudara
kembarnya kakheksia alkoholik dengan riwayat hipertensi porta dan asites. Diputuskan untuk
dilakukan rapid-sequence induction dengan propofol untuk kedua saudara kembar tersebut.
Manakah diantara ini yang merupakan jawaban terbaik terkait dosis kedua pasien tersebut?
A. Dosis (mg/kg) sama untuk kedua pasien.
B. Dosis (mg/kg) propofol harus ditingkatkan untuk kedua pasien.
C. Dosis (mg/kg) propofol harus diturunkan untuk kedua pasien.
D. Berdasarkan mg/kg, dosis propofol harus dikurangi pada pasien obesitas dibandingkan
dengan pasien alkoholik.
E. Berdasarkan mg/kg, dosis propofol harus ditingkatkan pada pasien obesitas dibandingkan
dengan pasien alkoholik.
Sepasang kembar identik mengalami kecelakaan motor hingga mengalami cedera ortopedik
multipel. Salah satu pasien memiliki BMI 42, namun nampak sehat. Sedangakan saudara
kembarnya kakheksia alkoholik dengan riwayat hipertensi porta dan asites. Setelah intubasi,
dilakukan pemeliharaan menggunakan rocuronium infus. Manakah diantara ini dosis
pemeliharaan untuk relaksasi otot yang paling tepat?
A. Dosis kedua pasien berdasarkan LBW (lean body weight).
B. Dosis kedua pasien berdasarkan TBW ((true body weight).
C. Dosis pasien obesitas berdasarkan TBW dan pasien sirosis berdasarkan LBW.
D. Dosis pasien obesitas berdasarkan LBW dan pasien sirosis berdasarkan TBW.
E. Dosis pasien obesitas berdasarkan ABW (adjusted body weight) dan pasien sirosis
berdasarkan TBW.
Sepasang kembar identik mengalami kecelakaan motor hingga mengalami cedera ortopedik
multipel. Salah satu pasien memiliki BMI 42, namun nampak sehat. Sedangakan saudara
kembarnya kakheksia alkoholik dengan riwayat hipertensi porta dan asites. Pemeliharaan
anestesi menggunakan agen inhalasi. Untuk memastikan pasien segera bangun dari anestesi
di akhir operasi, manakah pilihan terbaik diantara ini?
A. Menggunakan agen dengan solubilitas rendah di darah dan jaringan, seperti
desflurane, untuk pasien obesitas.
B. Menggunakan agen dengan solubilitas tinggi di darah dan jaringan, seperti halothane,
untuk pasien sirosis.
C. Menggunakan agen yang cepat dimetabolisme, seperti halothane, untuk pasien obesitas.
D. Menggunakan agen yang cepat dimetabolisme, seperti halothane, untuk pasien sirosis.
E. Menggunakan agen dengan solubilitas rendah di darah dan jaringan serta cepat
dimetabolisme pada kedua pasien.
Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dijadwalkan untuk repair atrial septal defect (ASD)
dengan left-to-right shunt. Di ruang operasi, tanda-tanda vital pra-induksi dalam batas
normal, dan induksi inhalasi dengan sevoflurane dan oksigen berjalan lancar. Dial
sevoflurane diatur di 2%, namun di monitor nampak konsentrasi inspirasi sevoflurane (FiSevo)
0,5%. Manakah di bawah ini yang menjadi penyebab perbedaan tersebut?
A. Aliran gas segar yang rendah.
B. Volume sirkuit pernapasan yang kecil.
C. Kapasitas absorbsi sirkuit pernapasan yang rendah.
D. Mismatch ventilasi/perfusi (V/Q).
E. Dead space yang tinggi.
Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dijadwalkan untuk repair atrial septal defect (ASD)
dengan left-to-right shunt. Di ruang operasi, tanda-tanda vital pra-induksi dalam batas
normal, dan induksi inhalasi dengan sevoflurane dan oksigen berjalan lancar. Tipe shunt
manakah yang paling mungkin menurunkan kecepatan peningkatan FA/FI pada sevoflurane,
yang dapat memperlambat induksi inhalasi?
A. 10% left-to-right shunt.
B. 20% left-to-right shunt.
C. 20% right-to-left shunt.
D. 10% right-to-left shunt.
E. Bidirectional shunt (dominant left-to-right)
Laki-laki, 65 tahun, 68 kg, menjalani reseksi kolon dengan anestesi umum. Untuk
mengurangi kebutuhan opioid postoperative, diberikan infus lidokain 2 mg/menit
intraoperatif dan dilanjutkan di PACU. 1 jam paskaoperasi, Anda mendapat laporan perawat
bahwa pasien hipoksemia dan somnolen. Saturasi oksigen terbaca 94% dengan masker simpel
6 lpm. Analisa gas darah arteri menunjukkan hasil : pH 7,26, PCO2 56 mmHg, pO2 82
mmHg, dan HCO3 26 mEq/L. Manakah di antara pernyataan berikut ini yang benar?
A. Berdasarkan dosis yang diberikan, kemungkinan terjadinya local anesthetic toxicity
sangat kecil.
B. Hiperkarbia dapat memperberat local anesthetic systemic toxicity.
C. Lidokain menginhibisi kanal sodium kardiak lebih lama dibandingkan dengan bupivakain
karena lidokain butuh waktu lebih lama untuk melepas ikatan dengan kanal.
D. Hipoksemia memiliki efek minimal pada local anesthetic systemic toxicity.
E. Tanda-tanda kardiovasukular dari local anesthetic systemic toxicity jarang mendahului
tanda-tanda sistem saraf pusat.
Laki-laki, 65 tahun, 68 kg, menjalani reseksi kolon dengan anestesi umum. Untuk
mengurangi kebutuhan opioid postoperative, diberikan infus lidokain 2 mg/menit
intraoperatif dan dilanjutkan di PACU. 1 jam paskaoperasi, Anda mendapat laporan perawat
bahwa pasien hipoksemia dan somnolen. Ketika Anda periksa, pasien menjadi gelisah, dan
kemudian kejang general. Nadi meningkat dari 80 menjadi 95 x/menit, dan SpO2 tetap di
94% dengan frekuensi napas 12 x/menit. Tekanan darah 122/70 mmHg. Apa langkah
berikutnya yang paling sesuai?
A. Berikan bolus intralipid 20%
B. Berikan propofol 100 mg.
C. Intubasi dengan ventilasi tekanan positif.
D. Berikan midazolam untuk menghentikan kejang.
E. Mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Wanita, 25 tahun, 100 kg, telah menjalani laparoskopi kolesistektomi dan tiba-tiba henti
jantung saat emergence. Pemeliharaan anestesi menggunakan desflurane, fentanyl, dan
rokuronium. Lima menit sebelum henti jantung, pasien telah mendapat antagonis blok
neuromuskular dengan neostigmin 4 mg dan atropine 0.8mg. Elektrokardiogram
menunjukkan asistol. Manakah penyebab paling mungkin dalam diagnosis banding Anda?
A. Sindroma pemanjangan QT.
B. Pemberian atropin tidak adekuat.
C. Neuropati otonom.
D. Kompromi jalan napas
E. Hipoksemia.
Laki-laki, 20 tahun, 108 kg, akan menjalani ORIF femur bilateral akibat kecelakaan lalu
lintas. Riwayat penyakit dahulu didapatkan asma yang terkontrol dengan inhaler salbutamol
bila perlu. Riwayat operasi tonsilektomi saat usia 6 tahun dan laparoskopi apendektomi
2 tahun lalu. Tekanan darah 94/68 mmHg, frekuensi nadi 112 x/menit, dan frekuensi napas
20 x/menit. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin 11,2 g/dL. Foto toraks
memperlihatkan fraktur iga kanan nomor 6–8. Agen inhalasi mana yang akan Anda gunakan
untuk pemeliharaan anestesi pada kasus tersebut beserta dengan alasannya?
A. Desflurane, karena lebih sedikit menyebabkan penurunan tekanan darah disbanding
sevoflurane
B. Sevoflurane, karena lebih jarang mencetuskan bronkospasme disbanding
desflurane
C. Desflurane, karena memiliki kelarutan dalam darah lebih besar daripada sevoflurane
D. Sevoflurane, karena metabolisme lebih besar disbanding desflurane
E. Desflurane, karena lebih sedikit menyebabkan depresi nafas disbanding sevoflurane
Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke klinik nyeri untuk pengelolaan nyeri neuropatik
pada ekstremitas atas kanan akibat kompleks regional pain syndrome (CRPS). Doktermelakukan blok ganglion stellatum kanan. Beberapa saat setelah prosedur, pasien melaporkan
pandangannya agak kabur dan merasa kelopak matanya turun. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan miosis, ptosis ringan, dan anhidrosis di sisi wajah yang sama.
Manakah dari temuan berikut ini yang paling mungkin menjelaskan kondisi pasien tersebut?
A. Cedera nervus optikus akibat penyebaran anestesi ke intracranial
B. Toksisitas lokal anestetik pada sistem saraf pusat
C. Aktivasi simpatis berlebihan pada pleksus brakialis
D. Blokade saraf simpatis yang menyebabkan sindrom Horner
E. Reaksi alergi sistemik terhadap agen anestesi local
Seorang laki-laki berusia 34 tahun menjalani prosedur bedah minor di ekstremitas bawah
dengan anestesi lokal menggunakan prilokain. Sekitar 1 jam setelah prosedur, pasien
mengeluh pusing, lemas, dan sesak napas ringan. Pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen
88% pada pulse oximeter, namun pasien tidak tampak sianosis yang jelas. Pemeriksaan gas
darah menunjukkan PaO₂ normal, namun kadar methemoglobin meningkat signifikan.
Manakah dari pernyataan berikut yang paling menjelaskan kondisi pasien ini?
A. Prilokain dimetabolisme menjadi senyawa ortotoluidin yang menyebabkan
methemoglobinemia
B. Reaksi alergi terhadap prilokain menyebabkan spasme bronkus dan hipoksia
C. Efek samping prilokain menyebabkan penurunan produksi hemoglobin
D. Prilokain meningkatkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen secara berlebihan
E. Prilokain menghambat enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase sehingga menyebabkan
hemolisis
Seorang pria berusia 56 tahun menjalani operasi urologi dalam posisi litotomi dengan teknik anestesi spinal kontinu menggunakan lidokain hiperbarik 5% melalui mikrokateter berukuran 28G. Beberapa jam setelah operasi, pasien mengeluh kesemutan, kelemahan, dan mati rasa pada kedua tungkai bawah, disertai dengan kesulitan berkemih dan tidak dapat mengontrol defekasi. Pemeriksaan neurologis menunjukkan penurunan refleks, hipestesia pada daerah perineum (saddle anesthesia), serta kelemahan ekstremitas bawah bilateral. MRI menunjukkan edema dan kemungkinan kerusakan pada akar-akar saraf lumbosakral. Komplikasi manakah yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
A. Hematoma spinal
B. Abses epidural
C. Sindrom cauda equina akibat toksisitas lokal anestetik
D. Mielitis transversa
E. Cedera medula spinalis pars torakal
Seorang pria usia 68 tahun menjalani operasi bypass arteri koroner (CABG) tanpa komplikasi
intraoperatif. Dua hari pascaoperasi, pasien mengalami palpitasi, denyut jantung tidak teratur,
dan sesak ringan. EKG menunjukkan fibrilasi atrium dengan respons ventrikel cepat. Dokter
mengonfirmasi bahwa ini adalah episode fibrilasi atrium pascabedah jantung, yang diketahui
dapat memperpanjang lama rawat inap dan meningkatkan morbiditas kardiovaskular.
Manakah intervensi berikut yang paling tepat digunakan secara profilaksis untuk mengurangi
kejadian komplikasi tersebut?
A. Digoksin intravena rutin pada hari ke-1 pascaoperasi
B. Pemberian amiodaron, beta blocker, atau magnesium secara terkontrol
C. Terapi antikoagulan agresif pada seluruh pasien bedah jantung
D. Pemberian diuretik dosis tinggi untuk mencegah overload cairan
E. Pemasangan pacemaker sementara untuk semua pasien CABG
Seorang pria berusia 60 tahun datang ke IGD dengan keluhan palpitasi yang tiba-tiba
dirasakan sejak 30 menit lalu. EKG menunjukkan takikardia supraventrikular. Dokter
merencanakan pemberian adenosin intravena untuk kardioversi farmakologis. Ternyata pasien
memiliki riwayat asma bronkial, meskipun saat ini tidak sedang mengalami serangan.
Manakah dari pilihan berikut yang paling tepat dilakukan oleh dokter sebelum memberikan
adenosin?
A. Melanjutkan pemberian adenosin karena tidak ada gejala asma saat ini
B. Menunda pemberian adenosin dan memberikan verapamil sebagai alternatif
C. Memberikan bronkodilator sebelum adenosin untuk mencegah bronkospasme
D. Memberikan adenosin dalam dosis setengah dari standar
E. Melakukan nebulisasi rutin setelah pemberian adenosin
Seorang anak laki-laki usia 7 tahun dengan leukemia limfoblastik akut telah menjalani
transplantasi sumsum tulang dan direncanakan menerima transfusi trombosit karena
trombositopenia berat. Dokter memutuskan untuk menggunakan trombosit teriradiasi untuk
transfusi. Apakah alasan paling tepat penggunaan trombosit teriradiasi pada pasien ini?
A. Mencegah reaksi alergi terhadap protein donor
B. Menghindari penularan virus melalui transfusi
C. Menurunkan risiko demam pasca transfusi
D. Mencegah graft-versus-host disease
E. Meningkatkan umur simpan trombosit dalam tubuh pasien
Seorang pria berusia 65 tahun dengan riwayat pemasangan katup jantung mekanik sedang
menjalani pengobatan rutin dengan warfarin. Ia dijadwalkan menjalani operasi elektif
penggantian pinggul (hip replacement). INR preoperatif menunjukkan nilai 2,8. Dokter bedah
meminta agar dilakukan persiapan koagulasi sebelum operasi.
Untuk mencegah perdarahan, manakah dari pernyataan berikut yang paling sesuai dalam
penatalaksanaan pasien ini?
A. Operasi dapat langsung dilakukan karena INR masih di bawah 3,0
B. Warfarin dihentikan 5 hari sebelum operasi, dan bridging dengan heparin
C. Aspirin ditambahkan sebelum operasi untuk menurunkan risiko trombosis
D. Tidak perlu menghentikan warfarin, cukup berikan vitamin K preoperatif
E. INR harus diturunkan hingga <1,0 sebelum semua jenis prosedur bedah
Seorang wanita G2P1 usia 34 tahun menjalani seksio sesarea elektif karena plasenta previa
totalis. Prosedur dilakukan dengan anestesi spinal. Setelah bayi lahir dan plasenta berhasil
dilepaskan, pasien diberikan oksitosin 10 unit secara bolus intravena cepat. Sesaat kemudian,pasien tampak gelisah, mengeluh pusing dan mual. Tekanan darah turun dari 120/75 mmHg
menjadi 80/50 mmHg dan denyut jantung meningkat menjadi 115 kali/menit.
Mengapa terjadi perubahan hemodinamik mendadak pada kasus ini?
A. Oksitosin menyebabkan stimulasi vagal
B. Efek simpatolitik oksitosin menyebabkan tonus vaskular turun
C. Efek relaksan langsung oksitosin pada otot polos vaskular
D. Aktivasi baroreseptor pusat oleh oksitosin menurunkan curah jantung
E. Penurunan tekanan darah karena kontraksi uterus berlebihan
Seorang wanita usia 58 tahun menjalani operasi mastektomi radikal dengan anestesi umum.
Pemanasan aktif tidak diberikan selama prosedur berlangsung. Di ruang pemulihan, pasien
tampak menggigil hebat dan merasa sangat tidak nyaman. Hasil monitor menunjukkan
tekanan darah 150/90 mmHg dan denyut jantung 115 kali/menit. Dokter mencatat bahwa
waktu bangun dari anestesi lebih lama dari biasanya.
Manakah pernyataan berikut yang paling menjelaskan kondisi pasien ini?
A. Hipotermia menurunkan kelarutan anestesi inhalasi dalam darah, memperlambat
pemulihan
B. Hipotermia meningkatkan metabolisme obat anestesi, menyebabkan pasien cepat
sadar
C. Hipotermia meningkatkan kerja sistem parasimpatis, menyebabkan lambat bangun
D. Hipotermia menurunkan metabolisme obat, memperpanjang efek anestesi dan
relaksan otot
E. Hipotermia menyebabkan vasodilatasi perifer, mengurangi klirens obat karena perfusi
organ turun
Seorang pria usia 68 tahun dijadwalkan menjalani operasi hernia inguinalis elektif. Dalam
evaluasi praoperatif diketahui bahwa pasien rutin mengonsumsi naproksen 500 mg dua kali
sehari selama 1 bulan terakhir karena nyeri punggung bawah. Ia juga mengonsumsi aspirin
dosis rendah setiap hari pasca infark miokard 3 tahun lalu, dan menggunakan prednison 5
mg/hari untuk rheumatoid arthritis. Dua tahun lalu, pasien pernah dirawat karena perdarahan
tukak duodenum. Manakah kombinasi berikut yang merupakan faktor resiko terkuat untuk
komplikasi gastrointestinal akibat NSAID pada pasien ini?
A. Usia tua dan rheumatoid arthritis
B. Penggunaan jangka pendek naproksen dan riwayat GERD
C. Konsumsi aspirin, kortikosteroid, dan riwayat tukak sebelumnya
D. Penggunaan PPI bersamaan dan aktivitas fisik berat
E. Pasca infark miokard
Seorang anak laki-laki usia 5 tahun dirawat di ICU pasca operasi jantung kongenital.
Terpasang kanulasi arteri femoralis kiri untuk keperluan pemantauan tekanan darah dan
pemeriksaan gas darah. Dua hari kemudian, dicurigai adanya penurunan perfusi ekstremitas
bawah kiri. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan tanda-tanda iskemia tulang dan gangguan
mobilisasi sendi panggul kiri. Komplikasi mana berikut ini yang paling mungkin berkaitan dengan kanulasi arteri
femoralis pada pasien ini?
A. Trombosis vena dalam (DVT) ekstremitas bawah
B. Aseptic necrosis pada kepala femur
C. Osteomielitis tulang femur
D. Ruptur arteri iliaca kiri distal
E. Hematoma retropelvis
Seorang pria usia 60 tahun dirawat di ICU karena syok hipovolemik akibat fraktur multipel.
Dokter memutuskan untuk melakukan kanulasi vena sentral untuk resusitasi cairan,
pemberian vasopressor dan pemantauan vena sentral. Dokter mempertimbangkan lokasi akses
vena sentral yang meminimalkan risiko infeksi selama penggunaan jangka panjang. Sehari
setelah pemasangan terjadi komplikasi cylothorax.
Lokasi kanulasi manakah yang paling berisiko terjadi komplikasi tersebut?
A. Vena femoralis
B. Vena jugularis interna kiri
C. Vena subklavia
D. Vena jugularis eksterna
E. Vena jugularis interna kanan
Seorang pasien laki-laki usia 72 tahun dengan gagal jantung berat dirawat di ICU dan
dipasang kateter arteri pulmonalis (Swan-Ganz) untuk pemantauan hemodinamik. Saat
dilakukan pengukuran tekanan wedge (PAWP), operator mencatat adanya resistensi saat
mengembuskan balon dan mencoba inflasi untuk mendapatkan nilai wedge. Beberapa menit
kemudian, pasien mengalami hemoptisis hebat, desaturasi mendadak, dan hipotensi..
Manakah komplikasi berikut yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
A. Pneumotoraks akibat penetrasi paru oleh kateter
B. Emboli udara dari sistem infus kateter
C. Ruptur arteri pulmonalis
D. Hemotoraks akibat perforasi vena subklavia
E. Diseksi aorta torakalis oleh kateter pulmonalis
Seorang pria usia 62 tahun menjalani operasi artroskopi bahu kanan dengan posisi beach chair di bawah anestesi umum. Untuk mengurangi perdarahan lapangan operasi, digunakan teknik hipotensi terkontrol, dengan target tekanan darah sistolik 90 mmHg. Sekitar 30 menit setelah induksi anestesi, pasien menunjukkan penurunan saturasi regional oksigen otak (rSO₂) pada pemantauan NIRS. Tidak ada perubahan hemodinamik yang mencolok, dan prosedur berlanjut hingga selesai. Beberapa jam pascaoperasi, pasien mengalami kelemahan ekstremitas kiri dan disartria ringan. Penyebab komplikasi berikut ini yang paling mungkin terjadi akibat posisi dan teknik anestesi yang digunakan adalah?
A. Cedera pleksus brakialis karena posisi tangan saat operasi
B. Emboli udara karena tekanan negatif vena di posisi duduk
C. Iskemia serebral akibat hipoperfusi otak
D. Stroke hemoragik akibat peningkatan tekanan perfusi otak
E. Trombosis vena dalam pada ekstremitas bawah
Seorang wanita usia 58 tahun dijadwalkan menjalani kolesistektomi laparoskopik elektif. Ia
memiliki riwayat skleroderma dan GERD berat, dengan keluhan regurgitasi makanan hampirsetiap malam. Selama evaluasi preoperatif, pasien tampak kooperatif dan tidak menunjukkan gangguan neurologis. Prosedur akan dilakukan dengan anestesi umum. Tindakan manakah yang paling tepat dilakukan untuk mengurangi risiko aspirasi paru pada pasien ini saat induksi anestesi?
A. Memberikan oksigen 100% dan induksi dengan anestesi inhalasi perlahan
B. Menggunakan rapid sequence induction dengan cricoid pressure
C. Memberikan obat penenang oral 1 jam sebelum induksi
D. Melakukan preoksigenasi minimal 30 detik dan ventilasi manual setelah induksi
posisi head up
E. Melakukan intubasi nasal dan pemberian obat antiemetik pascainduksi
Seorang pria usia 45 tahun dengan abses submandibul menjalani anestesi umum untuk
drainase abses. Intubasi dilakukan secara sadar karena prediksi sulit intubasi. Saat usaha
intubasi, pasien mengalami laringospasme dengan retraksi dinding dada, suara napas
mengorok, dan saturasi O₂ menurun drastis. Ventilasi bag-mask tidak berhasil. Diberikan
suksinilkolin, tetapi ventilasi tetap gagal karena obstruksi jalan napas atas.
Tindakan yang paling tepat untuk menyelamatkan jalan napas pasien ini adalah?
A. Ulangi dosis suksinilkolin dan berikan tekanan positif lebih kuat
B. Lakukan pemasangan LMA untuk ventilasi
C. Lakukan manuver Larson
D. Lakukan krikotirotomi darurat
E. Berikan steroid intravena dan tunggu efek relaksasi jalan napas
Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dengan tetralogy of Fallot datang ke IGD karena
mengalami kelemahan mendadak pada ekstremitas kanan dan sulit bicara. Tekanan darah
124/56 mmHg, nadi 108x/menit, laju napas 20x/menit tidak sesak, saturasi perifer 70%.
Pemeriksaan lab menunjukkan hematokrit 70%, pasien tampak dehidrasi ringan. Tidak ada
riwayat perdarahan atau infeksi.Tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini
adalah?
A. Lakukan flebotomi segera untuk menurunkan hematokrit
B. Lakukan MRI otak segera
C. Berikan cairan intravena untuk koreksi dehidrasi terlebih dahulu
D. Oksigenasi dan observasi saja
E. Mulai aspirin dosis rendah sebagai profilaksis trombosis
Seorang pria usia 68 tahun dengan riwayat PPOK berat dijadwalkan menjalani operasi reseksi
kolon elektif. Ia memiliki riwayat eksaserbasi berulang dan sering mengalami batuk
berdahak. Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan nilai FEV₁ sebesar 45% dari nilai prediksi.
Saat ini pasien stabil namun masih mengalami sedikit wheezing dan sesekali batuk berdahak
putih. Tindakan preoperatif manakah yang paling penting dilakukan untuk menurunkan risiko
komplikasi paru pascaoperasi pada pasien ini?
A. Menunda operasi hingga FEV₁ meningkat di atas 50%
B. Memberikan antibiotik profilaksis 3 hari sebelum operasi
C. Memberikan bronkodilator, terapi oksigen, dan fisioterapi dada
D. Memberikan steroid sistemik dosis tinggi menjelang operasi
E. Mengganti anestesi umum dengan anestesi spinal
Seorang pria usia 55 tahun menjalani operasi lobektomi paru kiri dengan anestesi umum
menggunakan double-lumen tube (DLT) untuk ventilasi paru tunggal. Selama prosedur
berlangsung lancar. Namun, setelah operasi selesai dan saat ekstubasi akan dilakukan, DLT
tidak dapat ditarik keluar, meskipun balon sudah dideflasi dengan benar dan pasien dalam
posisi netral.
Apa penyebab paling mungkin dari kesulitan ekstubasi ini?
A. Spasme laring pascaoperasi yang menyebabkan tahanan mekanis
B. Overinflasi balon trakeal yang belum sepenuhnya dideflasi
C. Edema jalan napas akibat durasi operasi yang lama
D. DLT secara tidak sengaja terjahit atau tert-staple pada bronkus saat prosedur
E. Migrasi DLT ke sisi kanan bronkus utama
Seorang pria usia 60 tahun dengan gagal ginjal akut dirawat di ICU dan memulai
hemodialisis intermiten pertama kali. Sekitar 30 menit setelah dialisis dimulai, pasien
mengeluh pusing, kemudian mengalami penurunan kesadaran, agitasi, dan gerakan kejang
ringan. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah stabil, tidak ada hipoglikemia, dan tidak
terdapat tanda-tanda stroke. Komplikasi manakah yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
A. Kehilangan glukosa dalam jumlah besar akibat dialisis
B. Emboli udara akibat sirkuit dialisis
C. Dialysis disequilibrium syndrome (DDS)
D. Hipoksemia akibat reaksi leukosit terhadap membran dialisis
E. Neutropenia akibat hemolisis dalam sirkuit
Seorang pria 45 tahun dirawat pascaoperasi reseksi kolon karena kanker. Pasien tampak
lemah namun stabil secara hemodinamik. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar
hemoglobin 6,8 g/dL. Tidak ditemukan perdarahan aktif atau tanda-tanda hipoksia berat.
Apa tindakan yang paling tepat terkait kebutuhan transfusi RBC pada pasien ini?
A. Segera transfusi RBC karena Hb <10 g/dL
B. Tunda transfusi, karena pasien masih stabil dan tidak perdarahan aktif
C. Evaluasi ulang kondisi klinis, transfusi dapat diberikan karena Hb <7 g/dL
D. Lakukan transfusi jika Hb <8 g/dL secara rutin untuk semua pasien pascaoperasi
E. Lakukan transfusi hanya jika pasien menerima transfusi autologous sebelumnya
Seorang pria 59 tahun dengan sirosis hati menjalani operasi laparoskopi karena kolesistitis
akut. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan INR 2,2, aPTT 48 detik (normal 25–35), dan
kadar fibrinogen 72 mg/dL. Saat operasi, pasien mengalami perdarahan mikrovaskular.
Apa terapi transfusi yang paling tepat untuk pasien ini?
A. FFP saja cukup karena aPTT memanjang
B. Berikan albumin dan cairan kristaloid untuk memperbaiki koagulasi
C. Berikan FFP untuk koagulasi dan cryoprecipitate karena fibrinogen rendah
D. Hanya cryoprecipitate, karena FFP tidak efektif untuk perdarahan mikrovaskular
E. Tidak perlu intervensi karena perdarahan mikrovaskular umumnya berhenti sendiri
Seorang pria 45 tahun mengalami trauma abdomen dengan perdarahan masif. Ia sudah
mendapatkan 8 unit RBC dalam waktu 2 jam. Pemeriksaan menunjukkan INR 2,1 dan pasien
tampak hipovolemik. Apa strategi transfusi plasma yang paling sesuai dalam kasus ini?
A. Tidak perlu FFP karena sudah diberikan cukup RBC
B. Berikan FFP untuk menggantikan faktor koagulasi dan volume
C. Tunggu hingga INR >3 sebelum memberikan FFP
D. Transfusi trombosit lebih penting daripada FFP pada tahap ini
E. Berikan albumin untuk mengatasi hipovolemia dan koagulopati
Seorang wanita 62 tahun dirawat karena anemia berat dan menerima transfusi 2 kantong
PRC. Sekitar 2 jam setelah transfusi, ia mengeluh sesak napas. Pemeriksaan menunjukkan
tekanan darah normal, rales di kedua lapang paru, saturasi O₂ 89%, dan tidak ada
peningkatan tekanan vena jugularis. BNP dalam batas normal, dan echocardiography tidak menunjukkan tanda-
tanda kelebihan cairan. Diagnosis paling mungkin berdasarkan gejala pasien adalah:
A. Transfusion-associated circulatory overload (TACO)
B. Anaphylactic transfusion reaction
C. Hemolytic transfusion reaction
D. Transfusion-related acute lung injury (TRALI)
E. Bacterial sepsis akibat transfusi
Seorang pria 70 tahun dengan riwayat gagal jantung kongestif mendapat transfusi 3 unit
PRC dalam 6 jam. Satu jam setelah transfusi terakhir, ia mengalami sesak napas akut,
tekanan darah meningkat, JVP meningkat, dan terdapat rales bilateral. Echocardiography
menunjukkan dilatasi ventrikel kiri dan regurgitasi mitral ringan.
Apa diagnosis yang paling mungkin?
A. TRALI
B. Acute myocardial infarction
C. TACO
D. Bronkospasme pasca-transfusi
E. ARDS (acute respiratory distress syndrome)
Seorang pasien menjalani transfusi plasma segar beku dan mengalami edema paru
nonkardiogenik dalam 3 jam pasca transfusi. Penelusuran reaksi transfusi menemukan
adanya antibodi IgG anti-leukosit dari donor. Apa mekanisme utama terjadinya TRALI berdasarkan konsep terkini?
A. Kelebihan volume intravaskular
B. Aktivasi neutrofil dan endotelial yang menyebabkan cedera vaskular paru
C. Reaksi hemolitik akut terhadap sel darah merah donor
D. Agregasi trombosit dalam pembuluh paru
E. Peningkatan histamin akibat reaksi alergi ringan
Seorang pasien laki-laki 65 tahun mengalami TRALI setelah transfusi plasma. Pasien
membutuhkan ventilasi mekanik dan dirawat di ICU. Tim transfusi rumah sakit diminta
menindaklanjuti kasus ini. Apa langkah manajemen dan pelaporan yang paling sesuai?
A. Berikan antibiotik spektrum luas karena TRALI disebabkan oleh infeksi bakteri
B. Transfusi plasma yang sama bisa digunakan ulang jika diberikan perlahan
C. Lakukan terapi suportif dan laporkan kasus ke layanan transfusi rumah sakit
D. Hindari semua transfusi darah di masa depan karena pasien berisiko tinggi TRALI ulang
E. Transfusi furosemid dan kortikosteroid dosis tinggi adalah terapi spesifik utama
Seorang pria 40 tahun, sehat tanpa komorbid, menjalani operasi elektif besar dan
kehilangan sekitar 400 mL darah. Hematokrit awal adalah 42%. Saat ini, pasien stabil secara
hemodinamik dan tidak menunjukkan tanda-tanda hipoksia atau takikardia. Apa langkah penanganan yang paling tepat pada tahap ini?
A. Segera transfusi 1 unit PRC untuk mencegah anemia
B. Berikan kristaloid 3-4 kali volume darah yang hilang
C. Transfusi RBC jika hemoglobin <10 g/dL
D. Berikan transfusi hanya jika hematokrit <24%
E. Ganti darah hilang dengan transfusi plasma
Seorang wanita 85 kg dengan hematokrit preoperatif 35% menjalani histerektomi dengan
perdarahan intraoperatif bertahap. Dokter ingin mengetahui kapan transfusi harus
dipertimbangkan jika target hematokrit minimum adalah 30%.
Berdasarkan perhitungan volume darah dan RBCV, transfusi harus mulai dipertimbangkan
setelah kehilangan darah melebihi:
A. 300 mL
B. 500 mL
C. 800 mL
D. 1200 mL
E. 1500 mL
Seorang pria 72 tahun dengan riwayat penyakit jantung koroner sedang menjalani
operasi vaskular besar. Hb saat ini adalah 7,2 g/dL, dan ia menunjukkan takikardia
persisten serta saturasi vena campuran (SvO₂) yang menurun. Apa langkah terbaik dalam pengelolaan transfusi pasien ini?
A. Tidak perlu transfusi karena Hb >7 g/dL
B. Transfusi dilakukan hanya jika Hb <6 g/dL
C. Transfusi dibenarkan karena pasien menunjukkan tanda-tanda hipoksia jaringan
D. Transfusi dilakukan hanya jika hematokrit <24%
E. Hindari transfusi karena pasien tua lebih sensitif terhadap volume overload
Seorang wanita 30 tahun, golongan darah A, memerlukan transfusi PRC. Karena stok
terbatas, petugas ingin memberikan darah golongan B.
Apa risiko paling serius jika darah golongan B diberikan pada pasien ini?
A. Tidak ada risiko karena semua golongan darah kompatibel
B. Reaksi alergi ringan seperti urtikaria
C. Hemolisis akut akibat antibodi anti-B dalam sirkulasi pasien
D. Reaksi delayed hemolytic karena antibodi IgG
E. Reaksi hipersensitivitas tipe IV
Seorang pria 50 tahun mengalami perdarahan hebat akibat trauma dan menerima transfusi
darah darurat. Beberapa menit setelah transfusi dimulai, ia mengalami nyeri punggung
hebat, demam tinggi, dan hemoglobinuria. Pemeriksaan menunjukkan terjadi hemolisis
intravaskular. Apa penyebab paling mungkin dari kondisi ini?
A. Respons imun lambat terhadap antigen minor
B. Alergi ringan terhadap protein donor
C. Transfusi Rh-inkompatibel yang menyebabkan anemia
D. Reaksi hemolitik akut akibat inkompatibilitas ABO
E. Reaksi transfusi tertunda karena antibodi IgG non-ABO
Seorang dokter muda sedang mempelajari produk darah yang disimpan dengan larutan
CPDA-1. Ia ingin tahu bagaimana larutan ini membantu menjaga viabilitas darah yang
disimpan. Manakah dari komponen berikut yang bukan bagian dari CPDA-1 dan bukan
fungsinya dalam penyimpanan darah?
A. Citrate – mengikat kalsium untuk mencegah pembekuan
B. Phosphate – menjaga stabilitas pH sebagai buffer
C. Dextrose – menyediakan energi untuk metabolisme sel darah
D. Adenosine – digunakan untuk sintesis ATP
E. Albumin – mencegah hemolisis selama penyimpanan
Seorang pasien trauma membutuhkan transfusi komponen darah secara masif. Tim medis
menggunakan protokol transfusi 1:1:1 (PRC:FFP:Trombosit).
Apa alasan utama pendekatan ini digunakan dalam trauma resusitasi?
A. Untuk menghindari hiperkalemia
B. Untuk mencegah anemia kronik
C. Untuk menjaga keseimbangan volume, hemoglobin, dan koagulasi
D. Untuk meningkatkan tekanan darah secara instan
E. Untuk mencegah reaksi alergi terhadap plasma
Seorang pasien pria usia 60 tahun menjalani operasi aorta dan menerima 5 unit PRBC
intraoperatif. Setelah transfusi, suhu tubuh pasien turun menjadi 34°C, dan saturasi oksigen
menurun meskipun PaO₂ normal.
Apa mekanisme fisiologis paling mungkin dari hipoksia jaringan pasien ini?
A. Penurunan produksi eritropoietin akibat transfusi PRBC
B. Peningkatan 2,3-DPG menyebabkan hipoksia
C. Hipotermia dan rendahnya 2,3-DPG menyebabkan pergeseran kurva disosiasi ke kanan
D. Hipotermia dan rendahnya 2,3-DPG menyebabkan pergeseran kurva disosiasi ke
kiri
E. Hipotermia menyebabkan hemolisis akut PRBC
Seorang pria dengan leukemia akut memiliki trombosit 15.000/μL tanpa perdarahan aktif. Iadijadwalkan menjalani biopsi tulang belakang. Apa tindakan yang paling sesuai sebelum prosedur?
A. Tidak perlu transfusi karena trombosit >10.000
B. Berikan 1 unit PRBC karena anemia lebih penting
C. Berikan FFP untuk mencegah perdarahan
D. Berikan trombosit profilaksis karena risiko perdarahan prosedural
E. Transfusi granulosit karena pasien imunosupresif
Seorang pasien dengan neutropenia berat akibat kemoterapi mengalami sepsis berat yang
tidak membaik meskipun sudah mendapat antibiotik spektrum luas.
Apa indikasi dan alternatif terbaik dalam kasus ini?
A. Berikan trombosit karena pasien sedang infeksi
B. Lanjutkan antibiotik tanpa transfusi karena risiko infeksi
C. Transfusi granulosit harian karena infeksi tidak membaik
D. Transfusi leukosit Rh-inkompatibel untuk reaksi imun
E. Berikan FFP untuk memperbaiki fungsi neutrofil
Seorang pria 40 tahun dirawat karena trauma berat dan mendapat transfusi 12 unit PRBC
dalam 6 jam. Tiba-tiba ia mengalami hipotensi dan EKG menunjukkan prolongasi QT.
Apa komplikasi metabolik yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?
A. Hiperkalemia
B. Hipokalsemia akibat toksisitas sitrat
C. Hipermagnesemia
D. Asidosis metabolik
E. Hiperfosfatemia
Seorang pasien menjalani operasi besar dengan perdarahan hebat dan transfusi PRBC 10
unit. Pasien menunjukkan perdarahan difus dari luka operasi. Pemeriksaan menunjukkan
trombositopenia dan peningkatan INR.
Apa penyebab paling umum dari perdarahan ini setelah transfusi masif?
A. Syok septik
B. Asidosis metabolik
C. Trombositopenia dilusional
D. Hipotermia
E. Reaksi hemolitik tertunda
Pasien perempuan 60 tahun menjalani operasi ortopedi besar dan menerima 10 unit PRBC.
Hasil analisis gas darah menunjukkan pH 7,52, pCO₂ 35, dan HCO₃⁻ 38. Tidak ditemukan
tanda-tanda hiperventilasi. Apa mekanisme yang paling mungkin menjelaskan kondisi asam-basa pasien ini?
A. Akumulasi laktat dari hipoperfusi
B. Retensi karbon dioksida
C. Produksi bikarbonat dari metabolisme sitrat dan laktat
D. Eliminasi asam oleh ginjal
E. Kerusakan fungsi hati
Anda mempunyai pasien dengan cedera kepala berat yang dirawat di ICU. Pasien ini
mempunyai peningkatan tekanan intrakranial yang resisten dengan terapi lain. Anda
mempertimbangkan untuk melakukan koma barbiturat. Manakah sifat barbiturat yang
menguntungkan untuk pasien ini?
A. Barbiturat tidak menyebabkan burst-suppresion yang dapat menyebabkan iskemia
B. Barbiturat mempertahankan nafas spontan dengan dosis induksi
C. Barbiturat mempunyai context-sensitive half life yang sangat singkat
D. Barbiturat meningkatkan laju metabolik otak sehingga mencegah iskemia
E. Barbiturat menyebabkan vasokonstriksi serebral dan menurunkan aliran darah otak
Seorang pasien wanita, usia 40 tahun, datang untuk menjalani operasi appendektomi elektif.
Pasien dengan riwayat hipertensi dan glaukoma. Obat-obatan apa di bawah ini yang berpotensi
memperburuk komorbid pasien?
A. Fentanyl, vecuronium
B. Nitrous oxide, neostigmine
C. Ketamine, atropine
D. Propofol, suksinilkolin
E. Midazolam, thiopental
Seorang pasien berusia 8 tahun sedang menjalani operasi strabismus. Ketika operator sedang
melakukan traksi otot rektus medialis, denyut jantung pasien turun hingga 40 kali per menit.
Tindakan yang harus dilakukan segera adalah:
A. Turunkan gas anestesi karena anestesi terlalu dalam
B. Berikan epinefrin 10 mcg bolus untuk meningkatkan laju nadi
C. Naikkan fraksi oksigen hingga 100%
D. Segera cek pulsasi dan lakukan RJP jika tidak teraba
E. Minta operator untuk menghentikan traksi otot sementara
Seorang pasien dijadwalkan untuk operasi FESS (Functional Endoscopic Sinus Surgery).
Pasien tidak memiliki komorbid lain dan anda nilai dengan ASA 1. Teknik yang dapat
mengurangi perdarahan pada operasi ini:
A. Pemberian asam traneksamat 1 jam sebelum operasi
B. Pemberian kokain intranasal
C. Menggunakan kompres lidokain 2% dengan lidi kasa
D. Rumatan anestesi dengan sevoflurane 1.2 MAC
E. Posisi operasi sedikit tredelenburg
Seorang pasien berusia 45 tahun dengan struma multinodular besar dijadwalkan operasi
tiroidektomi. Komplikasi pascaoperasi yang dapat muncul pada operasi ini:
A. Stridor akibat cedera pada nervus laringeus rekuren
B. Obstruksi jalan nafas berat akibat hematoma
C. Kesemutan dan kejang pada ekstrimitas akibat hipokalsemia
D. Hiperpireksia, takikardia, perubahan kesadaran akibat badai tiroid
E. Semua benar
Seorang pasien berusia 37 tahun akan menjalani MRI whole spine. Pasien mempunyai
ketakutan terhadap tempat tertutup dan terlihat cemas. Pasien mengatakan kalau tidur
mengorok dan diduga menderita OSA. Obat sedasi yang dapat anda berikan selama prosedur
yang tidak mendepresi nafas pasien adalah:
A. Propofol
B. Midazolam
C. Dexmedetomidine
D. Remifentanil
E. Vecuronium
Seorang pasien sedang menjalani operasi koreksi skoliosis. Selama operasi, dokter bedah
meminta tekanan darah diturunkan. Perdarahan yang terjadi sekitar 2000 ml dengan lama
operasi 10 jam. Pascaoperasi, pasien mengeluh tidak bisa melihat. Yang merupakan faktor
risiko dari komplikasi tersebut adalah:
A. Hipotensi intraoperasi
B. Durasi operasi yang panjang
C. Anemia
D. Glaukoma preoperasi
E. Semua benar
Seorang pasien wanita mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami patah tulang terbuka radius, ulna, dan tibia kanan. Setelah penanganan awal di IGD didapatkan tidak ada tanda cidera kepala, perdarahan aktif dapat dikontrol, tidak ada tanda syok, dan hemodinamik stabil. Hasil pemeriksaan Hb pasien 10.2 g/dL. Pasien dikonsulkan oleh tim orthopedi untuk prosedur ORIF saat itu juga. Pasien direncanakan pembiusan dengan anestesi umum dengan rapid- sequence induction (RSI) dan pelumpuh otot suksinilkolin. Berikut ini prinsip rapid-sequence induction (RSI) yang harus diperhatikan dalam pembiusan kasus di atas untuk mengurangi resiko Mendelson syndrome, kecuali?
A. Kombinasi metoclopramide dan ranitidine efektif menurunkan resiko pneumonia aspirasi
B. Dosis penuh induksi propofol harus langsung diberikan secara bolus, kecuali status
kardiovaskular tidak stabil
C. Sellick maneuver dilakukan menunggu setelah pasien kehilangan kesadaran akibat
induksi propofol
D. Pelumpuh otot langsung diberikan setelah propofol tanpa menunggu pasien kehilangan
kesadaran
E. Sellick maneuver dilepaskan setelah balon ETT dikembangkan dan posisi ETT dikonfirmasi
pasti intratrakea
Seorang pasien wanita mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami patah tulang terbuka radius, ulna, dan tibia kanan. Setelah penanganan awal di IGD didapatkan tidak ada tanda cidera kepala, perdarahan aktif dapat dikontrol, tidak ada tanda syok, dan hemodinamik stabil. Hasil pemeriksaan Hb pasien 10.2 g/dL. Pasien dikonsulkan oleh tim orthopedi untuk prosedur ORIF saat itu juga. Pasien direncanakan pembiusan dengan anestesi umum dengan rapid-sequence induction (RSI) dan pelumpuh otot suksinilkolin. Jika saat rapid-sequence induction (RSI) digunakan succinylcholine, pernyataan yang benar terkait succinylcholine adalah
A. Bekerja sebagai antagonis kompetitif reseptor ACh
B. Onset cepat dan durasi panjang
C. Dimetabolisme oleh acetylcholinesterase
D. Pemberian bersama neostigmine dapat memperpanjang efek succinylcholine
E. Resiko hiperkalemia akibat succinylcholine paling tinggi pada 48 jam pertama kasus luka
bakar dan cidera medulla spinalis
Seorang pasien wanita mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami patah tulang terbuka radius, ulna, dan tibia kanan. Setelah penanganan awal di IGD didapatkan tidak ada tanda cidera kepala, perdarahan aktif dapat dikontrol, tidak ada tanda syok, dan hemodinamik stabil. Hasil pemeriksaan Hb pasien 10.2 g/dL. Pasien dikonsulkan oleh tim orthopedi untuk prosedur ORIF saat itu juga. Pasien direncanakan pembiusan dengan anestesi umum dengan rapid- sequence induction (RSI) dan pelumpuh otot suksinilkolin. Jika pasien akan diberikan analgesia kontinyu sepanjang operasi dan durasi operasi diperkirakan > 2 jam, obat dengan contex-sensitive half-time yang paling terpengaruh dengan durasi operasi adalah?
A. Alfentanil
B. Dexmedetomidine
C. Sufentanil
D. Fentanyl
E. Remifentanil
Seorang pasien wanita mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami patah tulang terbuka radius, ulna, dan tibia kanan. Setelah penanganan awal di IGD didapatkan tidak ada tanda cidera kepala, perdarahan aktif dapat dikontrol, tidak ada tanda syok, dan hemodinamik stabil. Hasil pemeriksaan Hb pasien 10.2 g/dL. Pasien dikonsulkan oleh tim orthopedi untuk prosedur ORIF saat itu juga. Pasien direncanakan pembiusan dengan anestesi umum dengan rapid- sequence induction (RSI) dan pelumpuh otot suksinilkolin. Rumatan anestesia dilakukan dengan TIVA propofol dan remifentanil. Berikut pernyataan yang benar terkait TIVA propofol adalah, kecuali?
A. Pulih sadar dari propofol relatif cepat tanpa gejala residu sistem saraf pusat yang signifikan
B. Propofol menghasilkan efek depresi medulla spinalis yang sama seperti efek gas
anestesi
C. Kejadian mual dan muntah pascabedah lebih rendah dengan penggunaan TIVA propofol
D. Dosis maintenance anestesia propofol menurun jika diberikan bersama opioid kerja singkat
intermiten atau kontinyu
E. Resiko propofol infusion syndrome meningkat pada pemberian propofol kontinyu > 75
microgram/kg/mnt yang lebih dari 24 jam
Seorang pasien wanita mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami patah tulang terbuka
radius, ulna, dan tibia kanan. Setelah penanganan awal di IGD didapatkan tidak ada tanda
cidera kepala, perdarahan aktif dapat dikontrol, tidak ada tanda syok, dan hemodinamik stabil.
Hasil pemeriksaan Hb pasien 10.2 g/dL. Pasien dikonsulkan oleh tim orthopedi untuk prosedur
ORIF saat itu juga. Pasien direncanakan pembiusan dengan anestesi umum dengan rapid-
sequence induction (RSI) dan pelumpuh otot suksinilkolin. Rumatan anestesia dilakukan
dengan TIVA propofol dan remifentanil. Berikut pernyataan yang benar terkait remifentanil,
kecuali?
A. Pemberian dosis besar dan cepat dapat mencetuskan rigiditas dinding dada
B. Pemberian dosis besar beresiko kejadian hyperalgesia
C. Pemberian dosis besar selama intraoperatif beresiko meningkatkan kebutuhan opioid untuk
analgesia pascaoperatif
D. Dimetabolisme oleh nonspecific esterase
E. Gangguan fungsi hati memerlukan penyesuaian dosis
Sebuah kamar bedah sedang disiapkan untuk pembedahan tulang panjang pada seorang anak
laki-laki, usia 3 tahun, status fisik ASA 1. Akses intravena belum dapat terpasang dan pasien
dalam keadaan menangis dan gelisah. Induksi anestesia diputuskan dengan anestesi inhalasi.
Pada kamar bedah tersedia nitrous oxide, halothane, sevoflurane, dan isoflurane. Manakah
prinsip atau kondisi berikut yang tidak menghasilkan induksi yang lebih cepat?
A. Memanfaatkan prinsip second gas effect dengan menambahkan nitrous oxide
B. Memanfaatkan prinsip concentration effect dengan meningkatkan konsentrasi sevoflurane
C. Mengganti induksi hanya dengan nitrous oxide karena memiliki koefisien blood/gas
yang lebih rendah daripada sevoflurane
D. Meningkatkan ventilasi selama induksi dengan mengambilalih ventilasi spontan menjadi
ventilasi terkontrol
E. Mengganti eksternal sirkuit yang volumenya lebih kecil dan meningkatkan kecepatan FGF
Sebuah kamar bedah sedang disiapkan untuk pembedahan tulang panjang pada seorang anak laki-laki, usia 3 tahun, status fisik ASA 1. Akses intravena belum dapat terpasang dan pasien dalam keadaan menangis dan gelisah. Induksi anestesia diputuskan dengan anestesi inhalasi. Pada kamar bedah tersedia nitrous oxide, halothane, sevoflurane, dan isoflurane. Pembiusan berjalan menggunakan sevoflurane, dengan O2:nitrous oxide 1:2. Prosedur berjalan tanpa penyulit. Diakhir pembiusan sevoflurane dan nitrous oxide langsung dihentikan dan ventilasi dialihkan menjadi room air. Tidak berapa lama SpO2 di monitor turun dari 98% sampai 84%. Kejadian di atas paling mungkin dijelaskan sebagai?
A. Anemic hypoxia
B. Hypoxic hypoxia
C. Cytotoxic hypoxia
D. Diffusion hypoxia
E. Histotoxic hypoxia
Sebuah kamar bedah sedang disiapkan untuk pembedahan tulang panjang pada seorang anak laki-laki, usia 3 tahun, status fisik ASA 1. Akses intravena belum dapat terpasang dan pasien dalam keadaan menangis dan gelisah. Induksi anestesia diputuskan dengan anestesi inhalasi. Pada kamar bedah tersedia nitrous oxide, halothane, sevoflurane, dan isoflurane. Pembiusanberjalan menggunakan sevoflurane, dengan O2:nitrous oxide 1:2. Prosedur berjalan tanpa penyulit. Diakhir pembiusan sevoflurane dan nitrous oxide langsung dihentikan dan ventilasi dialihkan menjadi room air. Tidak berapa lama SpO2 di monitor turun dari 98% sampai 84%. Kejadian di atas dapat dicegah dengan?
A. Mengganti perdarahan dengan produk darah selama bedah
B. Memberikan vasopressor untuk meningkatkan SVR dan memperbaiki perfusi
C. Melakukan hiperventilasi dengan meningkatkan laju napas dan volume tidal
D. Memberikan ventilasi dengan fraksi oksigen tinggi sejak nitrous oxide dimatikan
E. Memberikan bolus cairan untuk memperbaiki volume intravaskular dan perfusi
