NEW
Font size
WorksheetsPOST TEST OTBC PAMA MTBU - SAFETY
Total questions: 60
Worksheet time: 30mins
Suatu usaha untuk menciptakan keadaan lingkungan kerja yang aman (bebas dari kecelakaan) sehat dan nyaman atau Mutu suatu keadaan aman atau kebebasan dari bahaya dan kecelakaan di sebut
Safety
Kecelakaan
Bahaya
Resiko
UNDANG-UNDANG NO. 01 TAHUN 1970 mengatur tentang?
Keselamatan Kerja
Kesehatan Kerja
Pedoman pelaksanaan kaidah Teknik pertambangan yang baik
pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batu bara
KEPMEN ESDM 1827K / 30 / MEM / TAHUN 2018
mengatur tentang?
Keselamatan Kerja
Kesehatan Kerja
Pedoman pelaksanaan kaidah Teknik pertambangan yang baik
Pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batu bara
Dalam menjaga keselamatan kerja, diperlukan Pengawasan terhadap 4M1E meliputi?
Mesin, Metode, Material, Manusia, Lingkungan
Manusia, Mesin, Metode, Metalurgi, Lingkungan
Manusia, Mesin, Metode, Material, Economy
Manusia, Mesin, Metode, Material, Engine
Berikut ini, pernyataan yang kurang tepat mengenai keselamatan kerja, adalah
Keselamatan kerja merupakan tanggung jawab semua orang (dari pimpinan perusahaan sampai dengan bawahan).
Keselamatan kerja dilakukan setiap detik/waktu dimana saja.
Keselamatan kerja merupakan keadaan yang bebas dari segala bahaya dan bukannya bekerja dengan bahaya atau kecelakaan
Keselamatan merupakan tanggung jawab SHE Dept Head saja
Suatu kejadian yang tidak direncanakan, tidak diduga dan tidak diinginkan. Dapat terjadi sewaktu-waktu dan mempunyai sifat yang merugikan terhadap manusia maupun terhadap alat-alat dan material, merupakan :
Insiden
Bahaya
Resiko
Danger
Teori yang menggambarkan hubungan antara berbagai tingkat insiden kecelakaan di tempat kerja, menunjukkan bahwa untuk setiap kecelakaan fatal, terdapat sejumlah besar insiden yang lebih kecil, seperti kecelakaan ringan, near miss (hampir celaka), dan tindakan serta kondisi tidak aman. Merupakan definisi dari
Teori Domino
Teori Piramida Insiden
Teori Keselamatan Kerja
Teori Terjadinya Insiden
Kode X pada gambar disamping, merupakan jumlah dari ?
Fatal / LTI
Luka Ringan
Property Damage
Nearmiss
Kode X pada gambar, merujuk pada jumlah?
Nearmiss
Property Damage
KTA/TTA
Luka Ringan
Dalam piramida Insiden, berapa jumlah Luka Ringan?
10
15
5
3
Teori yang menggambarkan kecelakaan terjadi akibat serangkaian faktor yang saling berkaitan di mana satu faktor memicu yang lain hingga menyebabkan kecelakaan. Teori ini mengidentifikasi beberapa faktor penyebab kecelakaan kerja, yang jika dihilangkan, dapat mencegah terjadinya kecelakaan. Teori tersebut disebut
Teori Piramida Insiden
Teori Domino
Teori Kecelakaan Kerja
Teori Bahaya dan Resiko
Dalam Teori Domino, angka 1 merujuk pada
KURANGNYA KENDALI (LACK OF CONTROL)
FAKTOR ORANG & PEKERJAAN (PERSONAL & JOB FACTOR)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Dalam Teori Domino, angka 2 merujuk pada
KURANGNYA KENDALI (LACK OF CONTROL)
FAKTOR ORANG & PEKERJAAN (PERSONAL & JOB FACTOR)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Dalam Teori Domino, angka 3 merujuk pada
KURANGNYA KENDALI (LACK OF CONTROL)
FAKTOR ORANG & PEKERJAAN (PERSONAL & JOB FACTOR)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Dalam Teori Domino, angka 4 merujuk pada
KURANGNYA KENDALI (LACK OF CONTROL)
FAKTOR ORANG & PEKERJAAN (PERSONAL & JOB FACTOR)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Dalam Teori Domino, angka 5 merujuk pada
CIDERA (INJURY)
FAKTOR ORANG & PEKERJAAN (PERSONAL & JOB FACTOR)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Dalam Teori Domino, angka 6 merujuk pada
CIDERA (INJURY)
BIAYA (COST)
TINDAKAN & KONDISI TIDAK AMAN (UNSAFE ACTS & CONDITIONS)
INSIDEN (INCIDENT)
Kurangnya pengetahuan atau ketrampilan, Kurangnya motivasi atau sikap terhadap pekerjaan, Ketidakmampuan fisik atau mental dalam Teori Domino Termasuk dalam faktor
KTA dan TTA (Sebab Langsung)
Faktor Pribadi dan Pekerjaan (Sebab Dasar)
Kurangnya Kendali
Faktor Pengawasan
Perilaku atau tindakan pekerja yang menyimpang dari prosedur keselamatan yang telah ditetapkan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja disebut
Tindakan Tidak Aman
Kondisi Tidak Aman
Resiko
Bahaya
Situasi atau keadaan di lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, cedera, atau penyakit akibat kerja disebut
Tindakan Tidak Aman
Kondisi Tidak Aman
Nearmiss
LTI
Berobat,waktu,cacat,barang, pertolongan pertama, Kerusakan peralatan / bahan-bahan dll, dalam biaya akibat kecelakaan termasuk dalam kategori
Biaya Langsung
Biaya tidak langsung
Biaya Operasional
Owning Cost
Waktu, Produksi,Penganti Tenaga kerja,asuransi,nilai kepercayaan perusahaan dan biaya lainnya, dalam biaya akibat kecelakaan termasuk dalam kategori
Biaya Langsung
Biaya tidak langsung
Biaya Operasional
Owning Cost
Biaya yang timbul akibat kecelakaan kerja yang terlihat atau mudah diidentifikasi secara langsung, disebut
Biaya Langsung
Biaya tidak langsung
Biaya Operasional
Owning Cost
Biaya yang timbul akibat kecelakaan kerja sifatnya tersembunyi dan sulit diukur, namun secara signifikan lebih besar daripada biaya langsung yang terlihat, disebut
Biaya Langsung
Biaya tidak langsung
Biaya Operasional
Owning Cost
Pada kecelakaan penyelidikan/pekerjaan pertambangan dalam waktu antara “Mulai masuk sampai selesai bekerja“ digolongkan dalam kecelakaan tambang disebut
Kecelakaan Tambang
Resiko
Bahaya
Accident
Kecelakaan Tambang menurut KEPMEN ESDM 1827K / 30 / MEM / 2018
harus memenuhi 5(lima) unsur sebagai berikut, kecuali
Benar-benar terjadi, yaitu tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tanpa unsur kesengajaan dan terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.
mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh kepala teknik tambang (KTT) atau penanggungjawab teknik dan lingkungan (PTL);
akibat kegiatan usaha pertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian atau akibat kegiatan penunjang lainnya; dan terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberi izin;
Terjadi akibat unsur kesengajaan, dilingkungan kerja area pertambangan, dan mendapatkan izin dari KTT
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 (satu) hari dan kurang dari 3 (tiga) minggu,termasuk hari minggu dan hari libur. disebut
Cidera Ringan
Cidera Berat
Mati
LTI
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampu melakukan tugas semula selama sama dengan atau lebih dari 3 (tiga) minggu termasuk hari minggu dan hari libur;
dan Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang cacat tetap (invalid) disebut
Cidera Ringan
Cidera Berat
Mati
LTI
Faktor Penyebab terjadinya Insiden, 88% disebabkan
KTA
TTA
Nasib
Bahaya
Faktor Penyebab terjadinya Insiden, 10% disebabkan
KTA
TTA
Nasib
Bahaya
Metode menjaga tiga titik kontak dengan tangga pada satu waktu, yaitu dua tangan dan satu kaki, atau dua kaki dan satu tangan saat naik turun tangga vertikal dalam keselamatan kerja disebut
Three Body Contact
Tree Body Contact
2 Body Contact
Bebas asal selamat
Api terbentuk akibat reaksi kimia dari 3 unsur, dibawah ini yang Bukan unsur segitiga api adalah
Panas
Oksigen
Bahan Mudah terbakar
Air
Jenis kebakaran yang disebabkan oleh benda padat non-logam yang mudah terbakar, seperti kayu, kertas, kain, dan plastik termasuk kategori
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Jenis kebakaran yang disebabkan oleh bahan cair yang mudah terbakar seperti bensin, minyak, cat, atau pelarut termasuk kategori
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Kebakaran yang disebabkan oleh peralatan listrik atau elektronik yang sedang beroperasi termasuk kategori
Kelas A
Kelas B
Kelas C
Kelas D
Teknik atau prosedur penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang benar untuk memadamkan api adalah PASS, yakni :
Pull, Aim, Squeeze, Sweep
Pull, Ami, Squeeze, Sweep
Pull, Aim, Squence, Sweep
Pull, Aim, Squeeze, Sheep
Suatu sistem yang didesign untuk mencegah dan memadamkan terjadinya kebakaran di area engine, kombinasi antara perangkat sistem pendeteksi dini dan perangkat sistem penindakan yang mampu bekerja secara manual dan secara otomatis.
Fire suppression system
APAR
Emergency Shutdown
Emergency Steering
Warna dasar merah pada rambu-rambu mengartikan
Larangan
Perintah
Peringatan
Informasi
Warna dasar kuning pada rambu-rambu mengartikan
Larangan
Perintah
Peringatan
Informasi
Area yang telah ditentukan di suatu lokasi, seperti gedung atau tempat kerja, sebagai tempat berkumpul sementara bagi orang-orang yang dievakuasi saat terjadi keadaan darurat, seperti kebakaran atau bencana alam
Assembly Point
Darurat
Emergency Drill
Emergency Point
Simulasi tanggap darurat atau kegiatan latihan yang dirancang untuk melatih karyawan dalam menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi di tempat kerja, seperti kebakaran, insiden, atau longsor disebut
Emergency Drill
Emergency Exit
Assembly Point
Muster Point
Dalam Teknik Penilaian Resiko pada PSMS, maka menggunakan rumus berikut :
Resiko = Probability (Kemungkinan) x Severity (Keparahan) x Frequency (Keseringan)
Resiko = Procedure (Prosedur) x Severity (Keparahan / Dampak) x Frequency (Keseringan)
Resiko = Probability (Kemungkinan) x Section (Seksi)) x Frequency (Keseringan)
Resiko = Probability (Kemungkinan) x Severity (Keparahan / Dampak) x FCI
Besarnya kesempatan terjadinya suatu cidera, kerusakan atau kerugian akibat bahaya tersebut disebut
Probability (Kemungkinan)
Severity (Keparahan)
Frequency (Keseringan)
Resiko
Tingkat keparahan yang mungkin terjadi jika bahaya tersebut menimbulkan insiden disebut
Probability (Kemungkinan)
Severity (Keparahan)
Frequency (Keseringan)
Resiko
Seberapa sering bahaya tersebut ditemui / muncul di lokasi kerja dan seberapa banyak orang terkena dampak kondisi bahaya tsb disebut
Probability (Kemungkinan)
Severity (Keparahan)
Frequency (Keseringan)
Resiko
Dalam matriks Resiko, Kode Bahaya AA memiliki nilai potensi Resiko antara
75 < 125
80 < 130
30 < 90
90 < 100
Dalam matriks Resiko, Kode Bahaya A memiliki nilai potensi Resiko antara
75 < 125
18 < 31
2 < 17
32 < 74
Dalam mengendalikan Resiko, dikenal istilah Eliminasi. Apa yang dimagsud eliminasi?
Modifikasi terhadap metode proses atau bahan untuk menghilangkan seluruh bahaya. (100%)
Mengganti material, bahan atau proses dengan yang lebih sedikit bahayanya. ( ± 75% )
Mengisolasi bahaya dari manusia dengan alat pengaman, atau dengan ruangan atau pemisahan waktu. (± 50%)
Mengatur waktu atau kondisi pemaparan resiko (± 30% )
Dalam mengendalikan Resiko, dikenal istilah Isolasi. Apa yang dimagsud Isolasi?
Modifikasi terhadap metode proses atau bahan untuk menghilangkan seluruh bahaya. (100%)
Mengganti material, bahan atau proses dengan yang lebih sedikit bahayanya. ( ± 75% )
Mengisolasi bahaya dari manusia dengan alat pengaman, atau dengan ruangan atau pemisahan waktu. (± 50%)
Mengatur waktu atau kondisi pemaparan resiko (± 30% )
Dalam mengendalikan Resiko, dikenal istilah Subtitusi. Apa yang dimagsud Subtitusi?
Modifikasi terhadap metode proses atau bahan untuk menghilangkan seluruh bahaya. (100%)
Mengganti material, bahan atau proses dengan yang lebih sedikit bahayanya. ( ± 75% )
Mengisolasi bahaya dari manusia dengan alat pengaman, atau dengan ruangan atau pemisahan waktu. (± 50%)
Mengatur waktu atau kondisi pemaparan resiko (± 30% )
Dalam mengendalikan Resiko, dikenal istilah Training. Apa yang dimagsud Training?
Meningkatkan kemampuan sehingga menjadikan tugas tersebut menjadi berkurang bahayanya bagi orang yang terlibat. (± 20% )
Mengganti material, bahan atau proses dengan yang lebih sedikit bahayanya. ( ± 75% )
Mengisolasi bahaya dari manusia dengan alat pengaman, atau dengan ruangan atau pemisahan waktu. (± 50%)
Mengatur waktu atau kondisi pemaparan resiko (± 30% )
Dalam Mengendalikan Resiko dilakukan treatment sebagai berikut, kecuali
Elimininasi, Subtitusi
Isolasi, Administrasi
Training, APD
Reboisasi
Dalam PSMS Rejuvenate, Urutan Hirarki Pengendalian Resiko yang benar adalah
Rekayasa Engineering, Administrasi, Praktek Kerja, APD
APD, Rekayasa Engineering, Administrasi, Praktek Kerja,
Praktek Kerja, Rekayasa Engineering, Administrasi, APD
Administrasi, Rekayasa Engineering, Praktek Kerja, APD
Dalam PSMS Rejuvenate, Pengendalian Resiko meliputi Eliminasi, Subtitusi, Isolasi masuk dalam Hirarki Pengendalian Resiko :
Rekayasa Engineering
Administrasi
Praktek Kerja
APD
Setiap benda, bahan, kegiatan atau kondisi yang memiliki potensi menyebabkan cedera, kerusakan atau kerugian disebut
Resiko
Bahaya
Hirarki Pengendalian Resiko
IBPR
Kesempatan atau kemungkinan bertemunya dua atau lebih bahaya yang mengakibatkan sejumlah kerugian, disebut
Resiko
Bahaya
Hirarki Pengendalian Resiko
IBPR
Proses sistematis untuk mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja, menilai tingkat risiko yang terkait, dan menerapkan langkah-langkah pengendalian untuk mengurangi atau menghilangkan risiko tersebut disebut
IBPR / HIRA
Resiko
Bahaya
Insiden
IBPR merupakan singkatan dari
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Rencana
Identifikasi Benda dan Penilaian Resiko
Identifikasi Bahaya dan Penamaan Resiko
HIRA adalah singkatan dari
Hazard Identification and Risk Assessment
Hazard Identik and Risk Assessment
Hazard Identification and Risk Asking
Haze Identification and Risk Assessment
Pasca kejadian Insiden, akan dilakukan Investigasi Insiden. Yang bertujuan untuk?
Mencari akar penyebab dan menentukan PICA supaya kejadian tidak berulang
Mencari siapa yang salah
Mencari siapa yang terlibat
Sebagai pelengkap berkas porkara pelaporan insiden
