Worksheetssoal lcci mapsi 23 agustus 2025
Total questions: 40
Worksheet time: 22mins
1. Idul adha adalah hari raya besar umat Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Zulhijah. Pada hari itu umat Islam yang mampu dianjurkan menyembelih hewan kurban, seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta. Ibadah kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah Swt. serta sarana berbagi dengan fakir miskin. Hewan yang akan dikurbankan harus memenuhi syarat, antara lain sehat, tidak cacat, dan cukup umur. Berdasarkan bacaan di atas, tujuan utama berkurban adalah…
menambah jumlah hewan yang disembelih di masyarakat
menunjukkan kemampuan ekonomi seseorang
Mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berbagi kepada sesama
Memeriahkan suasana Idul adha dengan banyak daging
Dalam syariat Islam, hewan yang dijadikan kurban harus memenuhi syarat tertentu. Untuk unta minimal berusia 5 tahun, sapi atau kerbau minimal 2 tahun, dan kambing atau domba minimal 1 tahun. Penyembelihan kurban dilakukan setelah salat Iduladha sampai hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Zulhijah. Jika seseorang menyembelih hewan sebelum salat Iduladha, maka sembelihannya tidak sah sebagai kurban. Menurut bacaan di atas, kapan waktu yang tepat untuk menyembelih hewan kurban?
Sebelum salat Iduladha agar daging cepat dibagikan
Setelah salat Iduladha hingga 13 Zulhijah
Hanya pada tanggal 10 Zulhijah saja
Sejak malam takbiran Iduladha hingga 10 Zulhijah
3. Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. menjadi teladan dalam ibadah kurban. Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai bentuk ketaatan penuh. Namun Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kisah ini mengajarkan bahwa yang dinilai Allah adalah keikhlasan dan kepatuhan, bukan besar kecilnya hewan yang disembelih. Pelajaran utama dari kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. adalah…
Pentingnya memiliki harta yang banyak
Keikhlasan dan kepatuhan total kepada perintah Allah Swt.
Keberanian dalam menyembelih hewan besar
Kewajiban berkurban bagi seluruh umat Islam
4. Dinasti Bani Umayyah berdiri setelah berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin, tepatnya ketika Muawiyah bin Abi Sufyan diangkat menjadi khalifah pada tahun 661 M. Pusat pemerintahan berada di Damaskus, Suriah. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, wilayah Islam meluas hingga ke Afrika Utara, Spanyol, Persia, bahkan sebagian India. Dinasti ini berkuasa selama kurang lebih 90 tahun. Berdasarkan bacaan di atas, siapa pendiri Dinasti Bani Umayyah?
Umar bin Khattab
Muawiyah bin Abi Sufyan
Yazid bin Muawiyah
Abdul Malik bin Marwan
5. Salah satu keberhasilan besar Dinasti Bani Umayyah adalah meluasnya wilayah Islam. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, pasukan Islam berhasil menaklukkan Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Selain itu, wilayah Afrika Utara juga berhasil dikuasai. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Bani Umayyah memiliki kekuatan militer yang kuat. Siapakah panglima yang berhasil menaklukkan Andalusia pada masa Bani Umayyah?
Musa bin Nushair
Khalid bin Walid
Thariq bin Ziyad
Abu Ubaidah bin Jarrah
6. Selain keberhasilan dalam perluasan wilayah, Bani Umayyah juga mengalami kemajuan dalam bidang administrasi. Khalifah Abdul Malik bin Marwan dikenal sebagai tokoh yang membakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan dan mencetak mata uang sendiri. Langkah ini memperkuat identitas politik dan budaya Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah. Apa kebijakan penting yang dilakukan Abdul Malik bin Marwan?
Membukukan Al-Qur’an
Menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi
Mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad
Memindahkan pusat pemerintahan ke Kairo
7. Meskipun banyak mengalami kejayaan, Dinasti Bani Umayyah juga menghadapi berbagai masalah. Pertentangan politik, munculnya kelompok oposisi seperti kaum Syiah dan Khawarij, serta kesenjangan sosial antara bangsa Arab dan non-Arab membuat kekuasaan mereka melemah. Pada akhirnya, Dinasti Bani Umayyah runtuh pada tahun 750 M setelah kekalahan Khalifah Marwan II dalam Pertempuran Zab. Apa penyebab utama runtuhnya Dinasti Bani Umayyah?
Penyerangan dari pasukan Mongol
Pertentangan politik dan kesenjangan sosial
Wabah penyakit yang melanda Damaskus
Perpindahan pusat pemerintahan ke Baghdad
8. Dalam membaca Al-Qur’an, terdapat tanda-tanda waqaf yang berfungsi sebagai petunjuk untuk berhenti atau melanjutkan bacaan. Salah satu tanda waqaf adalah م (waqaf lazim), yaitu tanda berhenti yang wajib dilakukan karena jika dibaca bersambung dapat merusak makna ayat. Misalnya pada surah al-Baqarah ayat 2: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ. Pada bacaan tersebut, tanda م muncul setelah kata فِيهِ, sehingga pembaca diwajibkan berhenti agar tidak menimbulkan kesalahpahaman makna. Berdasarkan bacaan di atas, apa makna dari tanda waqaf م (waqaf lazim)?
Tanda boleh berhenti atau boleh melanjutkan bacaan
Tanda harus berhenti karena jika diteruskan akan merusak makna
Tanda berhenti sebentar tanpa bernapas
Tanda yang menunjukkan akhir surah
Selain tanda waqaf lazim, ada pula tanda ج (jaiz) yang berarti pembaca boleh berhenti atau boleh melanjutkan bacaan, keduanya tidak mengubah makna. Misalnya dalam surah al-Kautsar ayat 1: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ج فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. Pada ayat ini, pembaca boleh berhenti pada kata الْكَوْثَرَ atau langsung menyambung bacaan, keduanya diperbolehkan. Berdasarkan bacaan di atas, apa arti dari tanda waqaf ج (jaiz)?
Wajib berhenti
Lebih baik berhenti
Boleh berhenti atau boleh melanjutkan bacaan
Tidak boleh berhenti sama sekali
Tanda waqaf lainnya adalah لا (laa) yang berarti jangan berhenti. Jika pembaca berhenti di tempat ini, makna ayat dapat menjadi rancu atau tidak sempurna. Contohnya terdapat pada surah al-Fatihah ayat 7: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ لا. Pada tanda ini, pembaca tidak boleh berhenti setelah kata الضَّالِّينَ, karena dapat merusak kesempurnaan ayat. Berdasarkan bacaan di atas, tanda waqaf لا (laa) berarti…
Disunnahkan berhenti
Wajib berhenti
Jangan berhenti di situ
Boleh berhenti atau melanjutkan
Dalam mushaf Al-Qur’an, terdapat juga tanda waqaf قلى (qif lahu) yang artinya lebih baik berhenti. Tanda ini menunjukkan bahwa jika pembaca berhenti, makna akan lebih jelas, meskipun sebenarnya boleh juga dilanjutkan. Contohnya terdapat pada surah al-Baqarah ayat 2: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ قلى فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ. Dengan berhenti pada tanda ini, pembaca akan lebih memahami maksud ayat. Berdasarkan bacaan di atas, tanda waqaf قلى (qif lahu) berarti…
Wajib berhenti
Lebih baik berhenti, tetapi boleh dilanjutkan
Jangan berhenti sama sekali
Hanya digunakan di akhir ayat
Tanda waqaf صلى (ṣilah) memiliki arti lebih baik dilanjutkan. Meskipun jika pembaca berhenti tidak menjadi kesalahan, tetapi makna ayat akan lebih sempurna jika dibaca sambung. Misalnya dalam surah al-Ikhlas ayat 1: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ صلى اللَّهُ الصَّمَدُ. Jika dibaca sambung, makna ayat menjadi lebih jelas.
Berdasarkan bacaan di atas, tanda waqaf صلى (ṣilah) berarti…
Lebih baik melanjutkan bacaan, tetapi boleh berhenti
Wajib berhenti
Tidak boleh berhenti sama sekali
Menandakan akhir surah
Dalam ajaran Islam, setiap muslim wajib mengimani adanya malaikat Allah Swt. Jumlah malaikat yang wajib diketahui ada sepuluh, masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Malaikat-malaikat ini selalu taat kepada Allah, tidak pernah membangkang, dan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh ketaatan. Misalnya, malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, sementara malaikat Mikail bertugas mengatur rezeki dan menurunkan hujan. Berdasarkan bacaan di atas, apa tugas malaikat Jibril?
Meniup sangkakala pada hari kiamat
Mencabut nyawa manusia
Menyampaikan wahyu kepada nabi dan rasul
Mencatat amal perbuatan manusia
Selain malaikat Jibril, terdapat malaikat Mikail yang memiliki tugas penting, yaitu mengatur rezeki bagi seluruh makhluk Allah. Bentuk rezeki ini tidak hanya berupa makanan dan minuman, tetapi juga hujan yang diturunkan dari langit agar bumi tetap subur dan dapat ditanami. Oleh karena itu, keberadaan malaikat Mikail sangat penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi. Berdasarkan bacaan di atas, apa tugas malaikat Mikail?
Mencatat amal baik manusia
Mengatur rezeki dan menurunkan hujan
Menyiksa orang kafir di dalam neraka
Menjaga pintu surga
Malaikat Izrail memiliki tugas yang sangat berat, yaitu mencabut nyawa semua makhluk yang bernyawa, baik manusia, hewan, maupun jin. Ketika ajal seseorang sudah tiba, Izrail melaksanakan perintah Allah tanpa menunda atau mempercepat. Karena itu, manusia diajarkan untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan memperbanyak amal saleh. Berdasarkan bacaan di atas, siapa malaikat yang bertugas mencabut nyawa?
izrail
izrafil
raqib
malik
Malaikat Israfil memiliki tugas meniup sangkakala pada hari kiamat. Tiupan sangkakala pertama akan mematikan seluruh makhluk hidup, kemudian dengan tiupan kedua, seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya untuk dikumpulkan di padang Mahsyar. Tugas ini menunjukkan bahwa Israfil berperan penting dalam peristiwa besar hari akhir. Berdasarkan bacaan di atas, apa tugas malaikat Israfil?
Menyampaikan wahyu kepada nabi
Menjaga pintu surga
Meniup sangkakala pada hari kiamat
Mencatat amal buruk manusia
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu ditemani oleh dua malaikat pencatat amal, yaitu Raqib dan Atid. Malaikat Raqib bertugas mencatat amal baik manusia, sedangkan malaikat Atid mencatat amal buruk. Catatan ini kelak akan diberikan kepada manusia pada hari kiamat sebagai bukti perbuatannya selama hidup di dunia. Berdasarkan bacaan di atas, siapa malaikat yang mencatat amal baik?
raqib
atid
malik
ridwan
Allah Swt. menurunkan kitab-kitab-Nya sebagai pedoman hidup manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia. Kitab-kitab Allah berisi perintah, larangan, serta petunjuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Ada empat kitab yang wajib diimani oleh umat Islam, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Setiap kitab diturunkan kepada nabi yang diutus untuk membimbing umatnya.
Berdasarkan bacaan di atas, berapa jumlah kitab Allah yang wajib diimani oleh umat Islam?
tiga
empat
lima
enam
Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Kitab ini berisi hukum-hukum Allah yang harus ditaati oleh Bani Israil. Namun, dalam perjalanannya, sebagian pengikut Nabi Musa mengubah isi kitab Taurat sehingga tidak lagi murni seperti aslinya. Hal ini menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam ajaran agama mereka. Berdasarkan bacaan di atas, kepada siapa kitab Taurat diturunkan?
Nabi Isa a.s.
Nabi Musa a.s.
Nabi Daud a.s.
. Nabi Muhammad Saw.
Selain Taurat, Allah juga menurunkan kitab Zabur kepada Nabi Daud a.s. Kitab ini berisi puji-pujian kepada Allah dan hikmah kehidupan. Zabur berbeda dengan kitab-kitab lainnya karena isinya lebih banyak berupa doa, nyanyian rohani, dan nasihat ketuhanan. Namun, sebagian umat juga mengubah isi kitab ini sehingga tidak terjaga keasliannya. Berdasarkan bacaan di atas, apa isi utama dari kitab Zabur?
Kisah-kisah umat terdahulu
Puji-pujian dan doa kepada Allah
Hukum-hukum syariat
Petunjuk tentang kenabian Muhammad
Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Kitab ini mengajarkan tentang kebaikan, kasih sayang, dan menyuruh umatnya agar hanya menyembah Allah Swt. Namun, setelah Nabi Isa wafat, ajaran Injil banyak yang diubah oleh manusia sehingga muncul berbagai sekte dalam agama Nasrani.
Berdasarkan bacaan di atas, apa ajaran utama dari kitab Injil?
Menyembah berhala
Menyembah Allah Swt.
Mengubah hukum-hukum Taurat
Menolak kenabian Nabi Musa
Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun melalui perantara malaikat Jibril. Keistimewaan Al-Qur’an adalah terjaga keasliannya hingga akhir zaman karena Allah sendiri yang menjamin pemeliharaannya. Berdasarkan bacaan di atas, apa keistimewaan Al-Qur’an dibandingkan kitab sebelumnya?
Ditulis oleh sahabat Nabi Muhammad Saw.
Diturunkan sekaligus dalam satu malam
Terjaga keasliannya sampai akhir zaman
Tidak pernah diterjemahkan ke bahasa lain
Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal, dan mampu melaksanakannya. Selain puasa wajib, ada juga puasa sunnah yang dianjurkan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Arafah, dan puasa Syawal. Berdasarkan bacaan di atas, apa tujuan utama berpuasa?
Menjaga kesehatan tubuh
Melatih menahan lapar dan haus
Ibadah kepada Allah Swt.
Membiasakan hidup hemat
Puasa Ramadhan hukumnya fardu ‘ain, artinya wajib bagi setiap muslim yang sudah memenuhi syarat. Sementara itu, puasa sunnah dikerjakan untuk mendapatkan tambahan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan. Rasulullah Saw. bersabda bahwa orang yang melaksanakan puasa Ramadhan lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Apa keutamaan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal?
Diampuni dosa-dosanya
Pahalanya seperti puasa setahun penuh
Dijauhkan dari siksa kubur
Dijamin masuk surga tanpa hisab
Selain puasa Syawal, ada pula puasa sunnah Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu sehari sebelum Idul Adha. Rasulullah Saw. bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Berdasarkan bacaan di atas, apa manfaat puasa Arafah
Menghapus dosa dua tahun
Menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang
Pahalanya seperti berhaji
Menyempurnakan ibadah qurban
Selain makan dan minum, ada hal lain yang membatalkan puasa, yaitu keluar darah haid dan nifas bagi perempuan. Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan berpuasa. Mereka wajib mengganti puasa tersebut di hari lain setelah suci. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan kemudahan bagi umatnya dalam beribadah. Berdasarkan bacaan di atas, apa kewajiban perempuan yang tidak berpuasa karena haid atau nifas?
Membayar fidyah
Mengganti puasa di hari lain setelah suci
Tidak perlu mengganti puasa
Hanya membaca doa khusus
Dalam ilmu tajwid, salah satu hukum bacaan yang sangat penting adalah hukum nun mati (نْ) dan tanwin ( ـً / ـٍ / ـٌ ). Hukum ini berlaku ketika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf tertentu. Ada empat macam hukum bacaan nun mati/tanwin, yaitu idgham, ikhfa, iqlab, dan izhar. Dengan memahami hukum bacaan ini, seorang muslim dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid.
Berdasarkan bacaan di atas, berapakah jumlah hukum bacaan nun mati dan tanwin?
tiga
empat
lima
enam
Izhar artinya jelas. Dalam hukum bacaan tajwid, izhar terjadi apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf izhar, yaitu: ء (hamzah), هـ (ha), ع (‘ain), ح (ha), غ (ghain), dan خ (kha). Jika terjadi pertemuan tersebut, maka nun mati/tanwin harus dibaca jelas tanpa dengung.
Contoh bacaan izhar adalah: مِنْهُ (minhu).
Huruf apakah yang menjadi penyebab bacaan di atas disebut izhar?
ع dan غ
ه
ن
م
Idgham artinya melebur. Hukum idgham terjadi jika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf ي ر م ل و ن (ya, ra, mim, lam, wau, nun). Hukum idgham terbagi menjadi dua, yaitu idgham bighunnah (dengan dengung) dan idgham bila ghunnah (tanpa dengung).
Bacaan “مِنْ رَبِّهِمْ” (min rabbihim) termasuk contoh hukum idgham. Idgham apakah yang terjadi pada bacaan tersebut?
Idgham bighunnah
Idgham bila ghunnah
Ikhfa
Iqlab
Ikhfa artinya menyamarkan. Ikhfa terjadi jika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari 15 huruf, contohnya adalah huruf ta. Pada bacaan ikhfa, suara nun mati atau tanwin dibaca samar disertai dengung.
Contoh bacaan ikhfa adalah: مِنْ تَحْتِهَا (min tahtiha).
Apa ciri khas bacaan ikhfa?
Dibaca jelas tanpa dengung
Dilebur tanpa dengung
Samar dan berdengung
Berubah menjadi huruf mim
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Swt. memiliki sifat As-Samī‘, yaitu Maha Mendengar. Tidak ada satu pun bisikan, doa, atau suara sekecil apa pun yang luput dari pendengaran Allah Swt. Oleh karena itu, seorang hamba seharusnya selalu berhati-hati dalam berbicara, tidak berkata kasar, dan memperbanyak doa karena Allah selalu mendengar setiap ucapan dan permohonan hamba-Nya.
Berdasarkan bacaan di atas, apa makna dari As-Samī‘?
Maha Mengetahui
Maha Melihat
Maha Mendengar
Maha Kuasa
Sifat Allah Al-‘Alīm artinya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Pengetahuan Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu, bahkan yang ada di dalam hati manusia pun Allah mengetahuinya. Dengan meyakini sifat Al-‘Alīm, seorang muslim akan berusaha berbuat jujur, tidak berkhianat, dan selalu berhati-hati dalam tindakannya, karena semua amal perbuatannya pasti diketahui Allah.
Apa pengaruh beriman kepada sifat Al-‘Alīm dalam kehidupan sehari-hari?
Selalu berbuat jujur dan berhati-hati
Selalu berdoa dengan suara keras
Tidak perlu takut melakukan dosa
Hanya berbuat baik di depan orang lain
Allah Swt. memiliki sifat Al-Baṣīr, yang artinya Allah Maha Melihat. Penglihatan Allah meliputi segala sesuatu di alam semesta, baik yang besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi. Dengan memahami sifat ini, seorang muslim tidak akan berani melakukan perbuatan maksiat meskipun tidak ada orang lain yang melihat, karena ia yakin Allah selalu mengawasi.
Apa contoh sikap seseorang yang meyakini sifat Al-Baṣīr?
Berbuat curang ketika ujian saat tidak diawasi guru
Membantu orang lain meskipun tidak ada yang melihat
Menyembunyikan kebaikan agar tidak diketahui orang
Beribadah hanya ketika di masjid
As-Samī‘, Al-‘Alīm, dan Al-Baṣīr merupakan tiga dari Asmaul Husna yang harus diyakini oleh setiap muslim. Ketiganya menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki kesempurnaan sifat yang tidak dimiliki makhluk. Seorang muslim yang mengimani Asmaul Husna tersebut akan semakin mantap dalam beribadah, karena ia sadar bahwa semua perkataan, perbuatan, dan isi hatinya senantiasa didengar, diketahui, dan dilihat oleh Allah Swt. Apa hikmah beriman kepada As-Samī‘, Al-‘Alīm, dan Al-Baṣīr?
Hidup lebih bebas karena Allah Maha Pengampun
Berani melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi
Selalu merasa diawasi dan termotivasi berbuat baik
Tidak perlu berusaha karena Allah sudah tahu segalanya
Keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui secara mendalam (Al-Khobīr) membuat seorang muslim sadar bahwa semua isi hatinya, niat, dan tujuan dalam berbuat baik atau buruk, pasti diketahui Allah. Oleh karena itu, seorang muslim tidak hanya memperhatikan amal lahiriah, tetapi juga memperbaiki niat agar ikhlas semata-mata karena Allah.
Apa pengaruh beriman kepada Al-Khobīr dalam kehidupan sehari-hari?
Tidak peduli dengan niat, yang penting amalnya terlihat baik
Selalu berusaha menjaga niat ikhlas dalam beramal
Hanya berbuat baik jika ada orang lain yang melihat
Tidak perlu berusaha karena Allah sudah tahu isi hati
Seorang siswa bernama Ahmad selalu membantu temannya belajar. Ia melakukannya bukan karena ingin dipuji, tetapi karena menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui niat setiap hamba. Ahmad yakin bahwa sekecil apa pun amal yang ia lakukan tidak akan sia-sia jika diniatkan karena Allah. Sikap Ahmad ini menunjukkan bahwa ia mengamalkan iman kepada sifat Allah Al-Khobīr.
Apa yang menjadi teladan dari kisah Ahmad?
Berbuat baik agar mendapat penghargaan
Membantu teman karena ingin populer di sekolah
Ikhlas dalam beramal karena Allah Maha Mengetahui niat
Menyembunyikan amal agar tidak diketahui guru
ada berapa nabi ulul azmi
(a)
malaikat penjaga pintu neraka
(a)
ilmuan pada zaman abasiyah yang terkenal dalam bidang kedokteran dan matematikanya, dia juga seorang filsuf dan memiliki 2 kitab yang terkenal salah satunya adalah kita as-sifa yang memiliki arti penyembuh, siapakh ilmuan tersebut
(a)
ilmuan bidang astronomi yang dikenal oleh banyak orang pada zaman abbasiyah, dia telah menulis beberapa kitab tentang ilmu matematika, perbintangan dan pengukuran peta
(a)
