NEW
Font size
WorksheetsSoal Neurologi
Total questions: 65
Worksheet time: 33mins
Seorang wanita 70 tahun datang dengan kebingungan akut, mengantuk, serta gangguan gerakan bola mata vertikal. Pemeriksaan kognitif menunjukkan defisit memori episodik. MRI otak menunjukkan infark bilateral talamus paramedian tanpa keterlibatan korteks. Lesi ini paling khas disebabkan oleh oklusi arteri?
Arteri serebri posterior segmen P2 unilateral
Arteri basilaris distal
Arteri Percheron
Arteri karotis interna
Arteri talamogenikulat unilateral
Seorang perempuan, 35 tahun, datang ke IGD dengan keluhan nyeri kepala hebat sejak 2 hari lalu yang semakin memburuk. Nyeri bersifat difus, menetap,
tidak membaik dengan analgesik, dan memburuk saat batuk. Pasien juga mengeluhkan pandangan kabur, mual-muntah, serta sempat mengalami episode kejang general tonic-clonic di rumah. Riwayat medis menunjukkan penggunaan kontrasepsi oral selama 2 tahun terakhir. Tidak ada riwayat trauma atau keganasan. CT dengan kontras memperlihatkan Empty Delta Sign. Diagnosis yang sesuai adalah?
Trombosis Sinus Sagital Superior
Stroke iskemik ACA
Perdarahan subdural
Meningioma falx cerebri
Hidrosefalus non komunikans
Wanita 65 tahun dibawa ke IGD dengan kelemahan mendadak pada sisi tubuh kanan 2 jam, Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 170/90 mmHg. GCS 15, NIHSS 12 . Pada CT scan kepala non kontras : arteri serebri media kanan tampak lebih padat / hiperdens dibanding sisi kontralateral (MCA hyperdense sign), tanpa tanda perdarahan. Tindakan selanjutnya yang tepat adalah?
Berikan manitol segera
Tunda terapi hingga ada infark jelas
Aktifkan Code Stroke untuk terapi reperfusi
Observasi ketat tanpa intervensi
CT perfusi 48 jam kemudian
Seorang perempuan berusia 32 tahun datang ke poliklinik saraf dengan keluhan utama sering merasa pusing berputar sejak 6 bulan terakhir. Ia mengalami
sedikitnya 6 episode vertigo, masing-masing berlangsung antara 30 menit hingga 2 jam. Pasien menggambarkan pusingnya sebagai rasa berputar di
sekeliling ruangan, yang diperberat saat berjalan cepat atau menggerakkan kepala secara tiba-tiba.Pasien juga mengeluhkan sakit kepala unilateral berdenyut pada sisi kanan kepala yang biasanya muncul bersamaan atau segera setelah serangan pusing, serta fotofobia dan mual ringan. Ia tidak mengalami gangguan pendengaran atau tinnitus. Pasien memiliki riwayat migrain sejak usia 20 tahun, namun tidak selalu disertai aura. Pemeriksaan neurologis dan otoskopi dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda stroke atau kelainan serebelum. Tes Dix-Hallpike negatif. Berdasarkan kriteria ICHD-3 dan ICVD,
apakah diagnosis paling tepat pada pasien ini?
Penyakit Meniere
Migrain vestibular
Vertigo posisional paroksismal jinak
Persistent postural-perceptual dizziness
Probable migrain vestibular
Pria 27 tahun mengeluh penurunan tajam penglihatan mendadak pada mata kanan sejak 3 hari. Disertai nyeri saat pergerakan bola mata. Pemeriksaan visus
menunjukkan visus 1/60. Funduskopi tampak diskus optikus hiperemik, batas papil samar, namun tidak ditemukan perdarahan peripapiler Apakah diagnosis paling tepat pada pasien ini?
Papil Oedema
Neuritis Optik
Atrofi Optik
Neuropati Optik Iskemik Anterior (AION)
Pseudo papilledema
Seorang wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan berputar hebat saat bangun tidur. Pasien mengatakan sensasi berputar muncul tiba-tiba saat memiringkan kepala ke kanan, berlangsung selama beberapa detik, dan disertai mual namun tanpa tinitus atau gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nistagmus geotropik saat dilakukan Dix-Hallpike test ke arah kanan. Tidak ditemukan kelainan neurologis sentral lainnya. Apa patofisiologi yang mendasari kondisi pasien tersebut dan kanal semisirkular mana yang kemungkinan terkena?
Cupulolithiasis pada kanal semisirkular posterior kanan
Canalolithiasis pada kanal semisirkular posterior kanan
Cupulolithiasis pada kanal semisirkular horizontal kanan
Canalolithiasis pada kanal semisirkular horizontal kanan
Canalolithiasis pada kanal semisirkular anterior kanan
Seorang pria usia 30 tahun datang dengan keluhan diplopia horizontal yang dirasakan semakin memberat saat melihat ke samping kanan. Pemeriksaan
menunjukkan nistagmus internuklear dengan aduksi mata kanan lambat dan abduksi mata kiri disertai nistagmus. Tidak ditemukan kelainan visus. Pasien
memiliki riwayat neuritis optik dan juga melaporkan mengalami episode parestesia di tungkai beberapa bulan sebelumnya yang membaik spontan. Lesi pada struktur manakah yang paling mungkin menyebabkan kondisi ini?
Saraf okulomotorius
Saraf abdusen
Medial longitudinal fasciculus (MLF)
Saraf optikus
Chiasma Optikum
Seorang laki-laki usia 30 tahun ditemukan tidak sadar setelah kecelakaan lalu lintas. Di IGD, pasien tampak tidak responsif, GCS 6 (E1V1M4), tekanan
darah 140/80 mmHg, nadi 56x/menit, pernapasan tidak teratur. Pada pemeriksaan neurologis ditemukan: Pupil kanan mid-dilatasi, tidak bereaksi terhadap cahaya, pupil kiri normal, Refleks batang otak masih positif, Gerakan ekstremitas spontan tidak tampak. Pasien segera dilakukan stabilisasi jalan napas dan ventilasi, serta persiapan CT scan kepala. Dokter mencurigai adanya herniasi otak berdasarkan temuan pupil tersebut. Berdasarkan pemeriksaan pupil, manakah kemungkinan lokasi lesi/kompresi otak pada pasien ini?
Efek metabolik difus (ensefalopati metabolik)
Lesi diensefalik bilateral
Kompresi pedunkulus serebri akibat herniasi uncal
Kompresi pons bilateral
Lesi protalamik akibat perdarahan lentikulostriata
Seorang pria usia 55 tahun dibawa ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor 3 jam yang lalu. Pasien sempat sadar, kemudian mengeluh
nyeri kepala hebat, muntah, dan akhirnya mengalami penurunan kesadaran secara progresif. Pada pemeriksaan didapatkan GCS 10, pupil isokor refleks
cahaya lambat, dan terdapat lateralisasi motorik kanan. CT scan kepala menunjukkan lesi hiperdens berbentuk bulan sabit yang mengikuti kontur korteks serebri dan sulkus, serta midline shift 6 mm. Berdasarkan PNPK
Cedera Otak Traumatik Kemenkes 2022, manakah pernyataan berikut yang PALING TEPAT mengenai tata laksana kasus ini?
Dilakukan observasi ketat dengan follow-up CT scan dalam 6 jam karena GCS belum di bawah 9
Dilakukan pemberian manitol 20% segera untuk mengurangi TIK dan CT
scan ulang setelah 12 jam
Evakuasi hematoma subdural harus segera dilakukan karena
terdapat midline shift > 5 mm
Terapi konservatif dapat diberikan jika tidak terdapat anisokoria dan
penurunan GCS >2 poin
Diberikan kortikosteroid intravena dosis tinggi untuk menurunkan edema perilesional akut
Seorang pria usia 37 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri kepala hebat, demam ringan, dan kelemahan anggota gerak kanan sejak 1 minggu. Pasien
memiliki riwayat HIV/AIDS, namun tidak rutin kontrol dan belum menjalani pengobatan antiretroviral. Pemeriksaan neurologis menunjukkan hemiparesis
kanan dan peningkatan refleks fisiologis (hiperrefleksia) pada sisi tersebut. Status mental dalam batas normal. Pemeriksaan MRI otak sekuen FLAIR menunjukkan multiple lesi hipodens dengan edema perilesional yang menonjol di ganglia basalis dan korteks subkortikal, dengan efek massa ringan. Uji serologi menunjukkan IgG Toxoplasma positif, CD4 <100 sel/mm³.
Berdasarkan temuan tersebut, apakah tatalaksana awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Diberikan amfoterisin B liposomal dan deksametason
Dilakukan biopsi otak segera untuk konfirmasi diagnosis
Diberikan kombinasi pyrimethamine, sulfadiazine, dan leucovorin
Dilakukan pengobatan empiris dengan rifampisin dan isoniazid
Diberikan kortikosteroid tunggal untuk mengurangi edema perilesional
Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke poliklinik saraf dengan keluhan kejang berulang sejak 2 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh sakit kepala kronik yang disertai mual dan terkadang muntah. Ia bekerja sebagai peternak babi di daerah pedesaan dan mengaku sering mengonsumsi daging babi yang tidak dimasak dengan matang. Pemeriksaan neurologis tidak menunjukkan defisit fokal. Pemeriksaan funduskopi tampak lesi subretina yang mencurigakan. Pemeriksaan CT scan kepala menunjukkan lesi kistik multipel dengan scolex di dalamnya, disertai edema perilesional. Serologi EITB menunjukkan antibodi anti-sistiserkosis positif. Berdasarkan data klinis dan
pemeriksaan penunjang tersebut, bagaimana status diagnostik neurosistiserkosis pasien ini?
Probable neurosistiserkosis berdasarkan 2 kriteria mayor dan riwayat pajanan
Definitif neurosistiserkosis karena terdapat 1 kriteria mayor dan 2 minor
Probable neurosistiserkosis karena hasil EITB positif tanpa konfirmasi
histologis
Definitif neurosistiserkosis karena memenuhi 1 kriteria absolut
Tidak dapat ditegakkan diagnosis karena tidak dilakukan biopsi otak
Seorang gadis remaja 14 tahun sering kehilangan kesadaran selama beberapa
detik, EEG menunjukkan spike-wave 3 Hz. Dia sedang dalam masa pubertas dan kemungkinan memiliki anak di masa depan. Monoterapi apa yang paling direkomendasikan?
Sodium valproate
Lamotrigine
Etosuksimid
Fenitoin
Gabapentin
Pasien pria 35 tahun dengan generalized tonic-clonic seizure tetap mengalami kejang meski telah diobati dengan sodium valproate dosis optimal dan lamotrigine monoterapi berturut-turut selama masing-masing 6 bulan. Langkah selanjutnya yang direkomendasikan pada pasien ini sesuai pedoman
tatalaksana epilepsi ?
Kombinasi sodium valproate dan lamotrigine
Ganti ke fenitoin monoterapi
Tambahkan topiramat
Hentikan OAE dan evaluasi ulang diagnosis
Naikkan dosis Lamotrigin
Perempuan 38 tahun dirawat karena kelemahan otot yang memburuk sore hari, diplopia, disartria, dan kesulitan menelan. Tidak ditemukan antibodi anti-
AChR maupun anti-MuSK dalam darah. Tes repetitif stimulation 3 Hz menunjukkan penurunan amplitudo >10%. Dalam 2 hari terjadi penurunan fungsi pernapasan (peningkatan PaCO₂, penurunan VC). Apa penatalaksanaan darurat yang sesuai menurut pedoman pada pasien ini ?
Pemberian pyridostigmine dosis tinggi dan istirahat
Steroid pulse + IVIg/plasmapheresis dan monitor pernapasan
CT scan toraks dan tunda terapi sampai hasil keluar
Hentikan semua OAE dan mulai antibiotik karena curiga infeksi
Pemberian antibiotic segera
Seorang laki-laki 60 tahun dengan diabetes tipe 2 kontrol buruk mengeluh kesemutan dan mati rasa simetris pada kaki selama 6 bulan terakhir, pola
glove-and-stocking, kelemahan minimal, refleks menurun. EMG/NCV menunjukkan kecepatan konduksi saraf menurun. Apa strategi manajemen yang tepat pada pasien ini?
Hanya observasi
Kontrol gula ketat, pereda nyeri neuropatik (gabapentin atau
duloxetine), fisioterapi
Vitamin B dosis tinggi tanpa kontrol metabolik
Imunoterapi seperti IVIg
Manajemen intervensi nyeri
Seorang pria usia 57 tahun datang ke poliklinik neurologi dengan keluhan gemetar halus di tangan kanan dan kiri sejak 1 tahun terakhir. Ia juga
mengeluhkan kesulitan bergerak dan berjalan yang makin memburuk, serta sering terjatuh karena pusing saat berdiri. Sejak 4 bulan terakhir, pasien sering
tidak bisa menahan buang air kecil, dan kadang harus menggunakan popok. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 130/85 mmHg saat berbaring, dan 85/60 mmHg saat berdiri. Ditemukan bradikinesia, rigiditas aksial, dan tremor istirahat. Pasien tidak menunjukkan gangguan kognitif. Apa diagnosis
yang paling mungkin?
Penyakit Parkinson
Progressive Supranuclear Palsy
Multipel Sistem Atrofi
Kegagalan Otonom Murni
Degenerasi Ganglionik Kortikobasal
Seorang pria usia 35 tahun datang bersama istrinya karena mengalami gerakan tak terkendali pada lengan dan tungkai sejak 2 tahun terakhir. Gerakan tampak
seperti meliuk dan tidak terkoordinasi, muncul saat istirahat dan menghilang saat tidur. Istrinya juga menyatakan bahwa pasien menjadi cepat marah, sering menyendiri, dan mengalami penurunan daya ingat. Riwayat keluarga menunjukkan bahwa ibu pasien juga mengalami kondisi serupa di usia muda
dan meninggal pada usia 50 tahun. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya chorea, tongue protrusion sign, dan grip milkmaid phenomenon. Apa diagnosis
yang paling mungkin?
Penyakit Huntington
Penyakit Wilson
Skizofrenia Hebefrenik
Diskinesia Tardif
Penyakit Parkinson
Seorang pria usia 78 tahun dirawat di bangsal penyakit dalam karena pneumonia berat. Pada hari ketiga perawatan, ia menjadi gelisah, berteriak, tidak mengenali keluarganya, dan mencoba mencabut infus. Sebelumnya ia kooperatif dan orientasi baik. Pemeriksaan menunjukkan suhu 38,5°C, tekanan
darah 120/80 mmHg, dan pasien tampak kesulitan mempertahankan perhatian. Tidak ada riwayat demensia sebelumnya. Apa mekanisme patofisiologis yang paling berperan dalam kondisi pasien ini?
Penurunan aktivitas dopaminergik kortikal
Penurunan fungsi kolinergik di otak
Akumulasi plak beta amiloid
Degenerasi neuron pada substansia nigra
Aktivasi autoimun sistem saraf pusat
Seorang pria usia 72 tahun datang ke poliklinik neurologi dengan keluhan rasa baal dan kesemutan di kedua kaki yang menjalar ke betis sejak 6 bulan terakhir. Pasien juga sering terjatuh saat berjalan terutama saat malam hari. Ia merasa seperti menginjak kapas, meskipun tidak ada nyeri. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus selama 15 tahun yang tidak terkontrol. Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan sensasi getar dan posisi di ekstremitas bawah, serta
refleks Achilles menurun. Kekuatan otot normal. Apa langkah penatalaksanaan awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Pemberian amitriptilin dosis rendah
Pemberian vitamin B kompleks
Rujuk untuk fisioterapi intensif
Optimalisasi kontrol glukosa darah
Pemberian pregabalin 75 mg per hari
Seorang laki-laki usia 36 tahun datang dengan keluhan kejang fokal yang pertama kali terjadi satu bulan lalu. Pemeriksaan MRI menunjukkan lesi hiperintens di T2/FLAIR tanpa kontras enhancement pada regio frontal kanan. Hasil biopsi menunjukkan astrositoma difus. Pemeriksaan molekuler menunjukkan IDH-mutant, 1p/19q intact, dan wild-type TERT promoter.
Terapi awal yang paling sesuai untuk pasien ini adalah:
Observasi serial dengan MRI setiap 3 bulan
Radiasi otak total diikuti kemoterapi temozolomide
Reseksi maksimal diikuti kemoterapi prokarbazin, lomustine, dan
vincristine (PCV)
Reseksi maksimal diikuti radiasi dan kemoterapi temozolomide
Radiasi stereotaktik tunggal dengan pemantauan klinis
Seorang wanita 52 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala kronik dan gangguan penciuman progresif. Pada pemeriksaan didapatkan anosmia bilateral tanpa defisit neurologis fokal lainnya. MRI menunjukkan lesi
ekstraaksial homogen enhancing di dasar fossa anterior dengan gambaran “dural tail sign”. Mekanisme defisit neurologis pasien paling mungkin disebabkan oleh:
Kompresi tractus optikus bilateral
Invasi ke sinus kavernosus
Kompresi langsung regio olfaktori
Infiltrasi lamina cribrosa dan frontal inferior cortex
Disfungsi neurotransmiter pada gyrus cinguli
Seorang pasien laki-laki usia 58 tahun didiagnosis dengan glioblastoma IDH- wildtype berdasarkan hasil patologi dan sekuensing. Setelah dilakukan reseksi
subtotal, pasien mendapat radiasi 60 Gy dan temozolomide. Hasil analisis molekuler menunjukkan MGMT promoter methylated dan EGFR-amplifikasi.
Strategi terapi adjuvan yang paling sesuai setelah fase radiasi adalah:
Lanjutkan temozolomide selama 6 siklus
Ganti ke lomustine tunggal karena EGFR amplifikasi
Tambahkan bevacizumab sejak awal fase adjuvan
Ganti ke kombinasi temozolomide dan pembrolizumab
Hentikan terapi karena prognosis sudah buruk
Laki-laki 24 tahun datang dengan keluhan muntah dan ataksia. MRI kepala menunjukkan massa hiperdens di regio vermis serebelum dengan hidrocefalus obstruktif. Hasil patologi menunjukkan medulloblastoma klasik. Pemeriksaan molekuler menunjukkan non-WNT, non-SHH subtype dengan MYC amplification. Apa strategi terapi definitif pasca operasi reseksi total yang paling tepat untuk pasien ini?
Radiasi kraniospinal + boost lokal tanpa kemoterapi
Kemoterapi intensif dengan autologous stem cell transplant
Radiasi lokal saja karena usia >21 tahun
Kombinasi radiasi kraniospinal + kemoterapi adjuvan
Observasi pasca operasi dan MRI follow-up ketat
Seorang laki-laki usia 55 tahun datang dengan keluhan nyeri punggung bawah sejak 3 bulan yang lalu,menjalar ke tungkai kiri sampai kaki. Nyeri memberat saat duduk lama atau berjalan, berkurang saat pasien duduk dengan badan condong ke depan. Pemeriksaan fisik menunjukkan Lasegue negatif, dan tidak ada defisit neurologis fokal. Diagnosis yang paling mungkin adalah:
Hernia Nukleus Pulposus
Spinal Stenosis Lumbal
Spondilosis lumbal
Sakroiliitis
Radikulopati L5
Seorang pria 70 tahun mengeluh nyeri hebat seperti terbakar dan menusuk di daerah dada kanan sejak 3 bulan terakhir. Sebelumnya terdapat riwayat lesi
kulit seperti lenting di area yang sama, yang telah sembuh. Nyeri menetap meskipun kulit telah kembali normal. Pada pemeriksaan terdapat allodinia dan
hiperalgesia di dermatom T5 kanan. Terapi lini pertama yang sesuai untuk pasien ini adalah:
Asiklovir
Tramadol
Gabapentin
NSAID
Parasetamol
Perempuan 38 tahun datang dengan keluhan nyeri di daerah leher dan bahu sebelah kanan sejak 1 bulan yang lalu. Nyeri terasa tumpul, hilang timbul, dan
diperberat oleh aktivitas. Pasien menunjukkan adanya titik nyeri tekan (trigger point) pada otot trapezius kanan yang bila ditekan menjalar ke lengan kanan.
Terapi pilihan utama untuk kondisi ini adalah:
NSAID oral
Kortikosteroid sistemik
Injeksi titik picu (trigger point injection)
Tramadol
Akupunktur
Laki-laki 60 tahun dengan riwayat DM 10 tahun, mengeluh nyeri seperti terbakar dan kesemutan di kedua kaki. Ia tidak dapat tidur nyenyak karena nyeri. Pemeriksaan menunjukkan penurunan sensasi vibrasi, propriosepsi, dan refleks tungkai bawah. Apa mekanisme utama yang mendasari keluhan pasien ini?
Demielinisasi saraf motorik akibat hipoglikemia kronik
Kerusakan saraf oleh radikal bebas akibat hiperglikemia kronik
Gangguan mikrosirkulasi perifer karena neuropati otonom
Akumulasi asam laktat akibat anaerobik metabolisme
Kekurangan vitamin B12 karena nefropati diabetik
Seorang wanita 45 tahun mengeluh nyeri dan kesemutan pada ibu jari, telunjuk, dan jari tengah tangan kanan. Keluhan memberat saat malam hari dan
berkurang saat menggoyangkan tangan. Pemeriksaan memperlihatkan atrofi ringan otot thenar dan Phalen test positif. Manakah berikut ini yang paling
mendukung patofisiologi nyeri pasien ini?
Kompresi nervus ulnaris di Guyon canal
Kompresi nervus medianus di canalis carpi
Peradangan tendon fleksor di regio palmar
Radikulopati servikal C6
Entrapment nervus interosseus anterior
Seorang laki-laki, mengalami kecelakaan, dari pemeriksaan fisik didapatkan
ekstremitas atas dalam batas normal dan ekstremitas bawah pasien tidak dapat
mengangkat kedua tungkai. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien tersebut?
Deksametason 10 mg/kgBB
Deksametason 30 mg/kgBB
Deksametason 70 mg/kgBB
Metilprednisolon 30 mg/kgBB
Metilprednisolon 70 mg/kgBB
Bagaimana penggunaan antikoagulan pada kasus tersebut?
Diberikan antikoagulan pada defisit motorik ringan
Diberikan antikoagulan pada defisit motorik berat
Heparin infus
LMWH oral
Tidak diberikan antikoagulan
Pada Sindrom Brown Sequard dapat dijumpai gangguan nyeri dan suhu.
Manakah pernyataan dibawah ini yang benar?
Gangguan nyeri dan suhu setentang lesi ipsilateral
Gangguan nyeri dan suhu di bawah lesi ipsilateral
Gangguan nyeri dan suhu setentang lesi kontralateral
Gangguan nyeri dan suhu di bawah lesi kontralateral
Gangguan nyeri dan suhu di atas lesi kontralateral
Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala seperti terikat pada seluruh kepala, durasi hingga 3 hari, muncul 2-5 kali dalam 1 bulan. Namun tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan nyeri tekan pada otot perikranial dan CT scan kepala dalam batas normal. Hal apa yang dapat terjadi pada pasien?
Menjadi nyeri kepala kronik, jika stres tidak dihindari
Nyeri kepala akan berulang
Nyeri kepala akan sembuh sendiri
Mengganggu aktivitas sehari-hari
Dapat menimbulkan mortalitas
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang ke polikinik dengan keluhan nyeri kepala sebelah kiri, menjalar sampai ke daerah sekitar mata. Keluhan disertai dengan mata dan hidung berair. Durasi kurang dari 1 jam setiap kali serangan. Bagaimana prognosis pasien ini?
Mortalitas tinggi
Perubahan dari kronik ke episodik dan sebaliknya
Sembuh sendiri
Mengganggu aktivitas sehari-hari
Nyeri kepala akan berulang
Pasien laki-laki, 40 tahun, nyeri kepala hebat di sebelah kanan, terutama dirasakan disekitar mata kanan. Pasien juga mengeluhkan mata kanan berair dan kemerahan. Injeksi konjungtiva pada pasien disebabkan oleh?
Aktivasi saraf simpatis
Aktivasi sistem trigeminovaskula
Aktivasi sistem trigeminovaskular
Peningkatan tekanan intraokular akut
Paparan zat iritan pada permukaan mata
Perempuan, 25 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan sakit kepala sisi kiri sejak 5 hari yang lalu. Nyeri kepala berdenyut disertai mual/muntah dan takut terhadap cahaya. Intensitas nyeri sedang. Kira-kira 3 menit sebelum nyeri kepala pasien merasakan penglihatannya kabur. Aura dan proses nyeri
dimulai dari:
Aktivasi reseptor nyeri pada lapisan meningen
Penurunan CBF maksimal
Peningkatan CBF
Aktivasi sistem trigeminovaskular
Aktivasi saraf parasimpatis
Hasil garpu tala rinne, weber, swabach yang ditemukan pada tuli sensorineural
adalah...
Rinne positif, weber lateralisasi ke telinga yang sehat, scwabach
memanjang
Rinne positif, weber lateralisasi ke telinga yang sehat, scwabach
memendek
Rinne negatif, weber lateralisasi ke telinga yang sakit, scwabach
memanjang
Rinne negatif, weber lateralisasi ke telinga yang sehat, scwabach
memendek
Rinne positif, weber lateralisasi ke telinga yang sakit, scwabach
memendek
Laki-laki, 58 tahun, ke UGD dengan keluhan nyeri kepala secara tiba-tiba sekitar 2 jam sebelumnya. Tekanan darah 180/100 mmHg. Pada mata saat melakukan tatapan (gaze) ke kanan dijumpai tidak adanya gerakan adduksi mata kiri dan dijumpai adanya nistagmus pada gerakan abduksi mata kanan. Namun konvergensi masih baik. Pemeriksaan kranialis lainnya dan motorik
dalam batas normal. Dimanakah letak lesi pada kasus ini ?
Lobus frontal kiri
PPRF (Paramedian Pontine Reticular Formation) kiri
MLF (Medial Longitudinal Fasciculus) kiri
riMLF (Rostral Interstitial Nucleus of MLF) kiri
Nervus okulomotor kiri
Laki-laki, 50 tahun, dirujuk ke poliklinik saraf dengan gangguan lapang
pandang. Dari hasil pemeriksaan perimetri sebagai berikut: Dimanakah letak lesi pada pasien ini?
Nervus optikus kiri
Chiasma optikum
Lobus frontal kiri
Lobus temporal kiri
Lobus parietal kiri
Pasien datang dengan keluhan kebas pada kedua kaki. Pasien juga merasakan
ketika berjalan seperti melayang. Apakah diagnosis pada pasien ini?
Vertigo non vestibular
Vertigo vestibular sentral
Vertigo vestibular perifer
Vestibulopati bilateral
Benign Paroxysmal Postural Vertigo
Seorang pria berusia 50 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan nyeri kepala yang telah dialaminya sekitar 7 bulan dan semakin memberat dalam 1 bulan ini. Nyeri rasa ditusuk pada seluruh kepala, terutama pada pagi hari. Dijumpai muntah tanpa didahului mual. Tidak dijumpai riwayat kejang,
riwayat demam, dan trauma kepala. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Dari pemeriksaan N. III, IV dan VI dijumpai penyempitan lapangan pandang kanan atas. Funduskopi dijumpai papil oedem bilateral. Pemeriksaan motorik dalam batas normal. Dimanakah kemungkinan letak lesi pada kasus ini ?
Nervus optikus kiri
Chiasma optikum
Lobus temporalis kiri
Lobus parietalis kiri
Lobus oksipital kiri
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa tidur, lama untuk dapat tertidur. Pasien mendengar suara-suara dari luar saat mau tidur. Dilakukan pemeriksaan
polisomnografi didapatkan hasil normal. Apa diagnosa pasien tersebut?
Gangguan cemas
Insomnia paradoksikal
Insomnia idiopatik
Gangguan sleep-wake patterns
Gangguan tidur irama sirkadian
Laki-laki usia 50 tahun, dari anamnesis didapatkan adanya sulit tidur dan mudah terbangun saat tidur. Dikatakan oleh istrinya kadang-kadang muncul
gerakan-gerakan kaki yang berulang saat pasien tidur, terkadang menyebabkan pasien terbangun. Dari riwayat penyakit lain tidak didapatkan dan tidak sedang mengkonsumsi obat apapun. Apakan diagnosis kasus di atas?
Restless Leg Syndrome
Periodic Limb Movement Disorder
REM Behavioral Sleep Disorder
Sleep Related Leg Cramps
Sleep Walking Disorder
Pasien datang dengan keluhan sulit bicara yang dialami secara tiba-tiba, dari pemeriksaan ditemukan pasien masih dapat memahami pembicaraan, naming dan pengulangan terganggu. Dimanakah teritori arteri yang menyebabkan keluhan pasien tersebut?
MCA M2 superior kiri
MCA M2 inferior kiri
MCA M2 superior kanan
MCA M2 inferior kanan
MCA M1 kanan
Neurotransmitter yang paling terlibat dalam patofisiologi Demensia Alzheimer
adalah...
Asetilkolin
Norepinefrin
Serotonin
Dopamin
GABA
Laki-laki, usia 60 tahun datang dengan keluhan mudah lupa sejak 1 tahun terakhir, pasien sering lupa meletakkan barang-barang. Keluhan lain disangkal dan pasien masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Pada pemeriksaan didapatkan tes MoCA Ina: 24. Apa diagnosis paling tepat pada pasien ini?
Mild Probable Dementia Alzheimer
Mild Possible Dementia Alzheimer
Mild Probable Vascular Dementia
Mild Cognitive Impairement
Subjective Cognitive Decline
Pasien datang dengan keluhan perubahan perilaku. Pasien selama ini merupakan orang yang sopan dan aktif secara sosial, namun sekarang pasien menjadi lebih acuh dan menarik diri. Pasien biasanya menghabiskan waktu dengan tidak melakukan kegiatan apa-apa jika tidak diajak dan lebih lambat.
Dimana lokasi anatomi kelainan ini?
Orbitofrontal cortex
Prefrontal cortex
Orbitomedial prefrontal cortex
Temporal anterior
Temporoparietal junction
Pasien laki-laki, dibawa ke RS dengan keluhan lemah lengan dan tungkai kiri. Saat pemeriksaan pasien menyangkal dirinya mengalami kelemahan. Pasien
hanya menceritakan sisi sebelah kanan dari gambar yang diperlihatkan dan hanya membaca kata-kata pada sisi kanan pada artikel majalah. Apa kondisi
yang ditemukan pada pasien tersebut?
Hemineglect
Agnosia visual
Astereognosis
Hemianopsia
Apraksia ideomotor
Laki-laki, usia 70 tahun dibawa anaknya berobat dengan gangguan memori progresif dan sulit berjalan dimana pasien kesulitan mengangkat kaki dari lantai. Pada pasien juga dijumpai keluhan inkontinensia urin. Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan hasil sebagai berikut: Apakah langkah awal dalam penatalaksanaan pasien tersebut?
Pemberian levodopa
Pemberian kortikosteroid
Pemberian inhibitor asetilkolinesterase
Lumbal Punksi
Pemberian agonis dopamin
Laki-laki, usia 62 tahun datang dengan keluhan gemetar pada kedua tangan. Awalnya gemetar dirasakan pada satu tangan. Pada pemeriksaan dijumpai gerakan tubuh melambat dan keseimbangan mulai terganggu saat berjalan. Berdasarkan kasus diatas, pasien tersebut termasuk stadium berapa
berdasarkan Hoehn dan Yahr Stage?
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium IV
Stadium V
Laki-laki, 52 tahun yang merupakan pengguna narkoba suntikan, seropositif HIV dengan jumlah CD4 120 dan tidak patuh dengan ARV, mempunyai gejala neurologis yang progresif selama beberapa bulan, termasuk ataksia, paraparesis spastik, dan hilangnya sensoris bawah pinggangnya. Setelah anda memeriksanya anda menduga bahwa dia memiliki sesuatu myelopathy.
Apakah penyebab munculnya keluhan tersebut ?
Kekurangan tembaga adalah faktor yang paling penting untuk terjadinya
jenis myelopathy ini
Kekurangan vitamin B12 adalah penyebab paling penting dari jenis
myelopathy ini
Analisis patologis dari spinal cord menunjukkan demielinasi kolom
lateral dan posterior dengan perubahan mikrovaskular
Analisis patologis dari spinal cord menunjukkan degenerasi aksonal
sebagai temuan penting
HTLV-1 adalah penyebab paling umum yang terkait dengan jenis
myelopathy ini
Pasien perempuan usia 56 tahun datang dengan keluhan kelemahan pada Lengan kanan setelah terjatuh dari motor 6 bulan yang lalu. Dari pemeriksaan neurologis didapatkan atrofi pada m.Biseps dekstra, disertai hipestesi sesuai persarafan N.Muskulokutaneus dekstra. Dimanakah letak lesi pasien tersebut di atas?
Pleksus Brachialis trunkus superior korda posterior
Pleksus Brachialis trunkus superior korda lateral
Pleksus Brachialis trunkus medial korda posterior
Pleksus Brachialis trunkus medial korda lateral
Pleksus Brachialis trunkus inferior korda medial
Perempuan, 34 tahun mengeluhkan nyeri kepala bilateral sejak 10 tahun. Nyeri terasa seperti terikat di seluruh bagian kepala. Visual analog scale 3 – 6
sepanjang hari. pasien menyangkal adanya keluhan mual, muntah, fotofobia, fonofobia, gejala sebelum nyeri kepala maupun keluhan otonom. Pasien tidak
pernah terbangun saat malam hari akibat nyeri kepalanya. Pasien terkadang mengkonsumsi asetaminofen 1 – 2 kali/minggu. Nyeri kepala tidak memberat dengan aktivitas, batuk, bersin, perubahan posisi kepala, atau menstruasi. Riwayat keluarga : disangkal. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Apakah yang menyebabkan munculnya keluhan pada pasien ?
Sensitisasi neuron second order akibat pemanjangan input nosiseptif
miofasial.
Sensitisasi neuron first order input nosiseptif miofasial
Pemanjangan input neuropatik saraf trigeminovaskular
Peningkatan volume gray matter pada regio yang memproses nyeri
Pemanjangan supresi eksteroseptik pada musculus temporalis
Seorang laki-laki 5 tahun dengan keluhan nyeri kepala, pusing, gangguan keseimbangan, dismetria, dan disdiadokokinesia. Keluhan ini berlangsung
kronik progresif sejak 5 bulan. Gambaran imejing menunjukkan lesi tumor primer daerah serebelum. Pemeriksaan histopatologi mengesankan suatu
meduloblastoma. Manakah kriteria di bawah ini yang menunjukkan resiko tinggi angka rekurensi kasus medulloblastoma?
Ukuran tumor >2 cm
Lokasi tumor di fossa posterior
Tumor yang tidak direseksi dengan baik
Penurunan aktivitas reseptor C-tyrosine kinase
Usia <4 tahun dan >21 tahun saat terdiagnosis
Anak laki-laki, 15 tahun mengalami gangguan penglihatan. Pada pemeriksaan
penunjang ditemukan angiomatosis multipel pada retina serta kista ginjal dan
pankreas. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada kasus tersebut ?
Glioblastoma multiforme
Meningioma
Hemangioblastoma
Ependymoma
Pinealoma
Pasien wanita, 43 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala kronis progresif,
kelemahan separuh tubuh kanan dengan gambaran imaging. Apakah hormon
yang diduga berperan dalam patogenesisnya?
Progesteron
Tiroid
Testosteron
Prolaktin
Kortisol
Wanita 18 tahun datang dengan keluhan sering pingsan yang dialami sejak 1 tahun ini. Keluhan dirasakan terutama saat berdiri lama, dan terkadang saat bangun dari tidur ke posisi berdiri, atau saat penderita cemas. Awalnya pandangan terasa gelap, terkadang telinga berdenging, mata berkunang- kunang, dada terasa berdebar dan berkeringat, kemudian penderita terjatuh dan sadar kembali beberapa saat saja . Tidak ada tanda-tanda lidah tergigit, ngompol, ataupun mata mendelik ke salah satu sisi. Ibu penderita yang
menyaksikan, saat terjatuh, ada sesekali sentakan ringan pada tubuh pasien. TD 100/60 mmhg, HR : 80 x/menit reguler. riwayat kejang, sakit jantung
sebelumnya tidak ada. Manakah diantara pernyataan di bawah ini yang benar terkait dengan klinis pasien:
Merupakan bangkitan atonik terkait epilepsi
Produksi noreepineprin yang berlebihan dari sistem simpatis terhadap pembluh darah dan jantung
Terjadi karena kegagalan simpatis pembuluh darah dan respon
kompensasi otonom akibat ortostatik dan neurogenik
Lepasnya muatan listrik otak abnormal dan berlebihan paroksismal merupakan patofisiologi dasar klinis tersebut
Terjadi karena kegagalan parasimpatis dalam meningkatkan denyut jantung untuk mencukupi kebutuhan oksigen ke otak
Pasien laki-laki, 76 tahun diantar oleh keluarga karena sering lupa. Pasien tidak menyadari bahwa dia sering lupa. Sebelumnya pasien dikatakan sudah tidak bisa mengingat keluarganya. Pasien sudah tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tes pemeriksaan laboratorium dasar/awal untuk komorbiditas pada pasien ini antara lain:
Pemeriksaan plak amyloid, fungsi tiroid, kadar serum vitamin b12.
Pemeriksaan hematologi rutin, Kimia darah, analisis gas darah
Pemeriksaan elektrolit, plak amyloid dan protein tau
Pemeriksaan hematologi rutin, Kimia darah, elektrolit, albumin
Pemeriksaan hematologi rutin, Kimia darah, fungsi tiroid, kadar
serum vitamin b12 dan folat
Seorang perempuan, 28 tahun, datang ke Poliklinik Saraf dengan keluhan utama kelemahan anggota gerak kanan yang makin memberat sejak 14 hari yang lalu. Pasien pernah mengalami keluhan yang sama lima tahun yang lalu yang membaik dengan sendirinya. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hemiparesis kanan dengan refleks fisiologis di ekstremitas kanan meningkat dan terdapat tanda Babinsky pada kaki kanan. Pasien dicurigai mengalami multiple sclerosis.Berdasarkan gambaran klinisnya, di manakah lokasi lesi yang paling tepat?
Medulla spinalis
Radiks spinalis
serabut saraf
Batang otak
Subkorteks
Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke poliklinik saraf rumah sakit dengan keluhan kejang pada malam hari yang dialami pada satu bulan
terakhir. Telah dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien tersebut, salah satunya adalah MRI kepala.Apakah yang menjadi penyebab yang
paling memungkinkan dari keluhan pasien tersebut?
Hemangioma
Cavernous angioma
Venous malformation
Capillary telangiectasias
Arteriovenous malformation
Seorang laki-laki 26 tahun datang dengan keluhan kedua lengan tremor sejak 4 tahun yang lalu. Tremor dirasakan awalnya ringan pada lengan kanan kemudian semakin memberat dan diikuti dengan lengan kiri, terutama pada saat pasien menggerakkan siku. Keluhan dirasakan semakin memberat ketika pasien kelelahan, stress, dan pada kegiatan tertentu seperti saatmemegang garpu atau cangkir, sehingga pasien merasa terganggu dengan keluhan tersebut. Kakek pasien yang berusia 69 tahun juga mengalami
keluhan yang sama. Patofisiologi yang tidak tepat pada pasien ditas adalah:
Penyakit autosomal dominan
Penyakit autosomal resesif
Abnormalitas nukleus ruber
Abnormalitas nukleus oliva
Abnormalitas serebellum
Seorang laki-laki 62 tahun datang ke poli saraf dengan keluhan tremor. Keluhan ini berlangsung sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya tremor hanya dirasakan pada satu sisi tubuh yaitu tangan kanan. Tremor terjadi saat
istirahat. Penderita juga mulai mengeluhkan kaku pada seluruh tubuh. Pada pemeriksaan ditemukan GCS 15, tekanan darah 130/60mmHg, frekuensi nadi 84x/m, laju napas 14 kali per menit. Pada pemeriksaan fisik umum tampak ekpresi wajah datar. Pada pemeriksaan neurologis ditemukan resting tremor dengan frekuensi 4-7 gerakan per detik. Rigiditas cogwheel pada kedua tangan.. Pada kasus diatas dengan pemeriksaan PA, jenis sel neuron yang bisa ditemukan di substansia nigra adalah?
Bodi inklusi intranuklear.
Bodi inklusi intranuklear dan intrasitoplasmik.
Bodi inklusi intrasitoplasmik.
Neurofibrillary tangles.
Amyloid plaques.
Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dibawa ibunya ke poli saraf dengan keluhan kejang. Kejang dialami sejak usia 5 tahun berupa sentakan pada kedua lengan dan tungkai secara bersamaan, sangat sering terjadi dalam satu hari. Ibunya juga mengeluh kepala anaknya sering tertekuk ke depan disertai dengan badan lemas dan anaknya tiba-tiba terjatuh. Kadang sebelum terjatuh, anaknya menatap kosong, mata berkedip-kedip dan tidak berespons saat dipanggil. Riwayat kelahiran baik dan imunisasi lengkap. Tumbuh
kembang dan intelegensia baik sebelum onset kejang. Riwayat kejang demam, infeksi, trauma kepala tidak ada. Terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat kejang yang sama. Pemeriksaan neurologis lain dalam
batas normal. Hasil pemeriksaan MRI dalam batas normal. Hasil pemeriksaan EEG: Apakah gambaran EEG di atas?
Tampak gelombang epileptiform berupa spike and wave di daerah
bifrontal
Tampak gelombang epileptiform berupa generalized 4Hz spike and
wave
Tampak gelombang epileptiform berupa generalized slow spike and
wave
Tampak gelombang epileptiform berupa generalized
polyspike/spike and wave
Tampak gelombang EEG tidur berupa K-complex dan perlambatan
difus
Seorang pria 52 tahun dengan riwayat pengguna narkoba suntik, hepatitis C dan HIV yang telah terdiagnosa 10 tahun yang lalu diagnosis anda menyimpulkan pasien ini mengalami komplikasi berupa HAND. Apa terapi ARV yang dapat memperberat komplikasi pada pasien ini?
Maraviroc
Efavirens
Lamivudine
Tenofovir
Nevirapine
Seorang laki-laki berusia 22 tahun datang ke poliklinik saraf dengan keluhan kelemahan wajah dan ekstremitas atas, bertambah berat sejak beberapa
tahun. Pasien memiliki wajah yang hampir tidak ada ekspresi, kesulitan menutup mata dengan rapat dan mencucu. Dia juga memiliki kelemahan asimetri ekstremitas atas proksimal sehingga sulit mengangkat tangan ke atas kepala. Terdapat juga kelemahan peroneal. Pada pemeriksaan didapatkan atrofi otot, lebih jelas pada proksimal ekstremitas atas, tampak
adanya winged scapula. Lengan atas keliatan lebih kecil dibandingkan dengan lengan bawah. Kreatinin kinase 510IU/L (normal 220IU/L). Apakah kemungkinan diagnosis kasus di atas?
Distrofi muscular Becker
Distrofi muscular Duchenne
Distrofi muscular Emery-Dreifuss
Distrofi muscular fascioscapulohumeral
Distrofi miotonik
Perempuan 30 tahun datang ke Poliklinik Saraf dengan keluhan nyeri kepala. Nyeri kepala dirasakan terus-menerus setiap hari selama 1 bulan terakhir sehingga selalu diingat terus oleh penderita. Awalnya nyeri kepala dirasakan pada satu sisi yang menjalar sampai kesisi lainnya. Nyeri kepala dirasakan seperti terikat dengan intensitas nyeri sedang. RPD. Tidak ada dengan pemeriksaan fisik umum dan neurologis tidak ditemukan kelainan. Apakah diagnosis kasus diatas ?
Chronic Headache with acute
Probable New daily persistent headache
Probable Hypnic Headache
Probable Nummular Headache
Hypnic Headache
