Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

KKA SMK

Total questions: 25

Worksheet time: 13mins

Name
Class
Date
1.

Bu Rina, guru KKA di SMA Negeri 3 Lebak, Banten, baru saja mengikuti pelatihan nasional tentang Kecerdasan Artifisial. Ia pulang dengan semangat membara, ingin mengajarkan siswanya cara membuat chatbot sederhana menggunakan Python dan library NLP. Namun, ketika sampai di sekolah, ia dihadapkan pada kenyataan: hanya ada 3 laptop tua yang sering hang, listrik sering padam, dan 80% siswanya tidak punya smartphone untuk belajar daring. Kepala sekolah bilang, “Kita tidak mungkin buka mapel ini kalau begini kondisinya.” Tapi Bu Rina percaya bahwa justru di sinilah KKA paling dibutuhkan — agar anak-anak desa tidak semakin tertinggal. Ia lalu merancang pembelajaran unplugged: menggunakan kartu indeks, permainan peran, dan diskusi kelompok untuk mengajarkan konsep dasar algoritma, bias data, dan etika AI — tanpa menyentuh komputer sama sekali. Beberapa guru senior mencibir: “Itu bukan KKA namanya, itu cuma cerita moral pakai topeng teknologi.” Apa filosofi pendidikan paling mendalam yang mendasari keputusan Bu Rina?

a)

Ia ingin membuktikan bahwa guru desa juga bisa inovatif meskipun fasilitas minim.

b)

Ia percaya bahwa esensi KKA bukan pada alatnya, tapi pada cara berpikir — dan cara berpikir bisa diajarkan bahkan tanpa listrik.

c)

Ia sedang menunggu bantuan pemerintah, jadi sementara waktu mengisi dengan kegiatan pengisi.

d)

Ia ingin agar siswanya tidak iri melihat sekolah kota yang sudah pakai AI.

e)

Ia menghindari tanggung jawab karena takut dinilai gagal jika menggunakan komputer.

2.

Di sebuah SMA di Yogyakarta, siswa kelas XI diberi tugas membuat “AI Storyteller” yang bisa menceritakan legenda Jawa seperti Roro Jonggrang atau Timun Mas dalam gaya modern. Salah satu kelompok menggunakan ChatGPT, lalu meminta AI untuk “menyederhanakan cerita agar lebih menarik bagi Gen Z”. Hasilnya: Roro Jonggrang diubah menjadi influencer yang galak, Bandung Bondowoso jadi playboy kaya raya, dan akhir cerita diubah agar mereka “balikan lagi” karena “cinta sejati nggak kenal dendam”. Guru memberi nilai A karena “kreatif dan engaging”. Tapi seorang guru Bahasa Jawa protes keras: “Ini bukan adaptasi, ini pengkhianatan! Nilai-nilai luhur hilang!” Siswa pembuat proyek membela diri: “Kan cuma fiksi, Bu. Lagian, AI-nya yang bikin, kami cuma kasih prompt.” Di titik ini, apa refleksi etis paling krusial yang harus diajarkan guru KKA?

a)

Siswa harus belajar cara menulis prompt yang lebih baik agar hasil AI lebih akurat.

b)

Biarkan saja, karena budaya harus berkembang mengikuti zaman.

c)

Larang penggunaan AI untuk materi budaya, karena terlalu sensitif.

d)

Suruh siswa minta maaf kepada guru Bahasa Jawa dan ulang tugasnya.

e)

Teknologi netral; yang salah adalah penggunanya. Siswa perlu diajarkan bahwa mereka tetap bertanggung jawab atas output AI, terutama saat menyentuh warisan budaya.

3.

Pak Andi, kepala sekolah di Surabaya, ingin menjadikan sekolahnya sebagai pilot project KKA tingkat provinsi. Ia mengundang orang tua untuk sosialisasi. Seorang ayah, seorang pensiunan guru, berdiri dan berkata: “Saya setuju anak belajar teknologi. Tapi jangan jadikan mereka kelinci percobaan! Kurikulum ini belum matang, gurunya masih belajar, malah anak-anak yang jadi objek eksperimen. Saya takut mereka kehilangan jiwa kemanusiaannya, terlalu dekat dengan mesin!” Ruangan hening. Pak Andi tidak marah. Ia menjawab: “Bapak benar. Kami bukan ingin menciptakan manusia mesin, tapi manusia yang mengerti mesin — agar tidak diperbudak olehnya. Kami akan libatkan bapak dalam merancang batasan etisnya.” Apa nilai pendidikan paling dalam yang ditunjukkan oleh respons Pak Andi?

a)

Penghormatan terhadap kearifan generasi tua dan ajakan kolaborasi lintas generasi.

b)

Kepatuhan pada aturan kurikulum nasional.

c)

Keberanian menghadapi kritik tanpa defensif.

d)

Strategi diplomatis agar proyeknya tidak dibatalkan.

e)

Komitmen pada transparansi administratif.

4.

Sebuah SMA swasta ternama di Jakarta menggunakan sistem AI untuk memprediksi siswa yang “berpotensi stres” atau “berisiko putus sekolah” berdasarkan pola absensi, nilai, dan aktivitas di LMS. Sistem ini merekomendasikan intervensi dini: konseling, tambahan les, atau pemantauan ketat. Awalnya dipuji sebagai inovasi. Tapi kemudian terungkap: 90% siswa yang “berisiko” berasal dari keluarga ekonomi lemah atau daerah terpencil. Seorang siswa protes: “Jadi saya dikira bakal stres hanya karena ortu saya buruh? Itu bukan prediksi, itu prasangka!” Apa kritik sistemik paling tajam yang bisa diajukan terhadap sistem ini?

a)

Sistemnya kurang akurat, perlu data lebih banyak.

b)

Siswa terlalu sensitif; sistem ini demi kebaikan mereka.

c)

Harusnya AI tidak digunakan untuk hal personal seperti ini.

d)

AI tidak salah; yang salah adalah data historis yang penuh bias kelas sosial — dan sekolah gagal menyadarinya.

e)

Guru harus lebih aktif, jangan bergantung pada mesin.

5.

Di akhir pelajaran, seorang siswa bertanya pada Bu Santi: “Bu, saya belajar algoritma, flowchart, machine learning...

Tapi kata Om saya, nanti semua pekerjaan programmer akan digantikan AI. Jadi, untuk apa saya susah-susah belajar ini? Bukankah saya akan kalah dari mesin?” Kelas diam. Bu Santi tidak langsung menjawab. Ia balik bertanya: “Kalau kamu punya pisau dapur, apakah kamu jadi koki? Kalau kamu punya kuas, apakah kamu jadi pelukis?” Lalu ia berkata: “Yang kita pelajari bukan cara jadi mesin. Tapi cara memimpin mesin — agar kamu tidak jadi budaknya, tapi tuannya.” Apa dimensi pendidikan paling hakiki yang disentuh oleh dialog ini?

a)

Pembentukan subjektivitas manusia yang merdeka, kritis, dan berdaulat atas teknologi.

b)

Kesiapan kerja di industri 4.0.

c)

Penguasaan tools teknologi mutakhir.

d)

Pemenuhan capaian pembelajaran kurikulum.

e)

Pelatihan soft skill agar bisa bersaing.

6.

Andi menyerahkan tugas esai berjudul “Dampak Medsos pada Remaja”. Gurunya curiga karena gaya bahasanya terlalu dewasa. Setelah dicek dengan tools deteksi AI, ternyata 95% teks dihasilkan oleh ChatGPT. Saat ditanya, Andi berkata: “Saya tidak mencontek, Bu. Saya hanya berkolaborasi dengan AI — seperti tim riset yang pakai asisten. Saya yang tentukan prompt, edit, dan beri kesimpulan. Lagi pula, di dunia kerja nanti, semua orang pakai AI.” Guru bingung: hukum atau puji? Apa pendekatan paling edukatif dan visioner yang bisa diambil guru?

a)

Ubah aturan sekolah agar AI boleh digunakan bebas.

b)

Laporkan ke kepala sekolah sebagai pelanggaran berat.

c)

Beri nilai penuh karena hasilnya bagus dan relevan dengan dunia nyata.

d)

Beri nilai nol karena melanggar aturan akademik.

e)

Beri nilai separuh, lalu wajibkan Andi menulis refleksi: “Apa yang saya pelajari dari proses ini? Apa beda antara kolaborasi dan ketergantungan? Di mana batas orisinalitas saya?”

7.

Di sebuah SMA di Aceh, rencana pengajaran modul “Etika AI” menuai protes dari komite orang tua. Mereka khawatir konsep “mesin yang belajar sendiri” dan “AI yang membuat keputusan” bertentangan dengan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang Maha Mengetahui dan Maha Menentukan. Mereka minta topik itu dihapus. Guru KKA, seorang perempuan muda, tidak mundur. Ia mengajak dialog: “Mari kita bahas bersama: Apakah AI itu tuhan? Atau hanya alat? Dan bagaimana kita, sebagai umat beriman, bisa menggunakan alat ini tanpa melanggar akidah?” Ia lalu mengundang ustadz dan filosof untuk diskusi terbuka. Apa nilai strategis dari pendekatan ini?

a)

Menunjukkan bahwa sains dan agama bisa berdialog — dan pendidikan adalah ruang sakral untuk dialog itu.

b)

Menghindari konflik dengan pihak agama.

c)

Mencari pembenaran agar kurikulum tetap jalan.

d)

Menyerahkan sepenuhnya pada otoritas agama.

e)

Mengalihkan isu dengan acara seremonial.

8.

Ujian praktik KKA sedang berlangsung. Tiba-tiba listrik padam. Server down. Laptop mati. Siswa panik. “Gimana dong, Bu? File saya belum save!” teriak seorang siswa. Bu Dewi, guru KKA, tenang. Ia tersenyum dan berkata: “Tenang. Ambil kertas dan pensil. Gambar flowchart dari program yang sedang kamu kerjakan. Lalu jelaskan secara lisan: kenapa kamu memilih logika itu? Apa alternatif lain yang mungkin? Bagaimana jika ada input error?” Siswa awalnya menggerutu, tapi akhirnya larut dalam diskusi mendalam. Apa makna filosofis dari tindakan Bu Dewi?

a)

Ia ingin menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan pada teknologi.

b)

Ia sedang menguji daya tahan mental siswa.

c)

Ia tidak punya pilihan lain selain metode manual.

d)

Ia menunjukkan bahwa inti pemrograman bukan pada syntax, tapi pada logika — dan logika hidup di otak, bukan di harddisk.

e)

Ia ingin menghukum siswa karena tidak backup data.

9.

Bu Lestari, guru Seni Rupa berpengalaman 30 tahun, diminta koordinasi dengan guru KKA untuk proyek “Seni Generatif dengan AI”. Ia menolak: “Saya mengajar seni karena percaya pada sentuhan tangan, jiwa, dan rasa. AI tidak punya jiwa! Jangan rusak kemurnian seni dengan mesin!” Guru KKA mencoba menjelaskan: “Kami tidak mau gantikan tangan Anda, Bu. Tapi bagaimana kalau AI jadi ‘teman diskusi’? Misalnya, siswa buat sketsa manual, lalu pakai AI untuk eksplorasi warna atau komposisi — lalu kembali ke kanvas dengan ide baru?” Bu Lestari diam sejenak, lalu berkata: “Kalau begitu... bolehlah. Asal AI-nya jadi pelayan, bukan raja.” Apa prinsip kolaborasi paling bijak yang muncul dari dialog ini?

a)

Teknologi harus tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan dan seni.

b)

Semua guru harus belajar coding agar tidak ketinggalan zaman.

c)

Integrasi harus dipaksakan demi efisiensi kurikulum.

d)

Seni dan teknologi tidak boleh dicampur.

e)

Biarkan masing-masing mapel jalan sendiri-sendiri.

10.

SMA Negeri 1 Jayapura ingin membuka mapel KKA. Mereka punya guru yang kompeten, dukungan komite, dan antusiasme siswa. Tapi ditolak dinas karena “belum memenuhi standar infrastruktur nasional”. Sementara itu, sekolah elit di Jakarta dengan lab canggih mudah membuka KKA. Seorang siswa Papua menulis surat terbuka: “Kami bukan warga kelas dua. Jika negara ingin kami bersaing di era digital, beri kami kesempatan yang sama — bukan syarat yang mustahil!” Apa kritik kebijakan paling fundamental dari kasus ini?

a)

Siswa harus belajar mandiri lewat internet.

b)

Pemerintah daerah harusnya yang tanggung jawab, bukan pusat.

c)

Kebijakan “mapel pilihan berbasis kapasitas” menciptakan apartheid digital — di mana yang kaya makin maju, yang miskin makin tertinggal.

d)

Standar infrastruktur terlalu tinggi dan tidak realistis untuk daerah 3T.

e)

Guru di Papua kurang kompeten, jadi wajar ditolak.

11.

Bu Lestari, guru Seni Budaya di SMA Negeri 1 Solo, ingin mengajarkan desain motif batik kontemporer menggunakan kolaborasi manusia-AI. Ia meminta siswa membuat sketsa manual motif tradisional, lalu menggunakan Midjourney untuk mengeksplorasi variasi warna dan komposisi modern. Hasilnya luar biasa: karya siswa jadi lebih dinamis dan inovatif. Tapi seorang siswa protes: “Bu, ini bukan karya saya. Saya cuma kasih prompt, sisanya AI yang bikin. Saya jadi merasa seperti ‘direktur kreatif’ yang tidak punya tangan.” Orang tua juga khawatir: “Apakah ini masih seni? Atau sudah jadi industri?” Bu Lestari bingung. Apa pendekatan paling manusiawi dan pedagogis yang harus ia ambil?

a)

Suruh siswa mencantumkan “dibuat dengan bantuan AI” di setiap karya, lalu lanjutkan seperti biasa.

b)

Nilai berdasarkan hasil akhir saja, karena yang penting karya indah dan inovatif.

c)

Biarkan siswa bebas bereksperimen, karena di dunia kerja nanti mereka juga akan pakai AI.

d)

Hentikan penggunaan AI, kembali ke metode tradisional agar seni tetap “murni”.

e)

Ubah tugas: AI hanya boleh digunakan untuk inspirasi warna atau layout, bukan menghasilkan gambar akhir. Siswa wajib menyelesaikan karya secara manual, lalu menulis refleksi: “Di mana batas antara kolaborasi dan ketergantungan?”

12.

Pak Doni, guru Biologi, menggunakan ChatGPT untuk membuat soal latihan tentang ekosistem. Salah satu soal menyatakan: “Dalam rantai makanan, produsen selalu berada di tingkat trofik ketiga.” Siswa yang jeli protes, tapi sebagian besar menjawab salah karena percaya pada “kecerdasan” AI. Saat ujian, soal serupa muncul — dan nilai kelas anjlok. Orang tua marah: “Kenapa guru tidak cek dulu? AI bukan Tuhan!” Pak Doni merasa bersalah, tapi juga bingung: “Kalau saya harus cek semua output AI, buat apa pakai AI?” Apa prinsip etika kolaborasi manusia-AI yang paling mendasar yang dilanggar dalam kasus ini?

a)

AI tidak boleh dipakai dalam pendidikan karena tidak 100% akurat.

b)

Siswa harus diajarkan untuk tidak percaya pada AI, karena AI sering berhalusinasi.

c)

Manusia tetap bertanggung jawab penuh atas output AI — karena AI adalah alat, bukan otoritas. Kolaborasi bukan berarti delegasi total.

d)

Sekolah harus menyediakan tim validator AI khusus untuk mengecek semua konten.

e)

Guru harus meminta maaf dan memberi nilai ulang.

13.

Dina, siswa kelas XI, menolak menggunakan GitHub Copilot saat belajar pemrograman. “Saya ingin belajar dari nol, Bu. Kalau AI yang kasih kode, saya jadi malas mikir. Saya takut nanti di dunia kerja, saya cuma bisa ikutin AI, bukan bisa bikin solusi sendiri.” Gurunya menghargai sikapnya, tapi juga ingin mempersiapkan siswa untuk dunia nyata, di mana kolaborasi dengan AI sudah jadi norma. Apa respons guru yang paling mendidik dan visioner?

a)

Ajak Dina jadi “validator kode” — tugasnya bukan pakai Copilot, tapi mengevaluasi kode yang dihasilkan Copilot: apakah efisien? Apakah ada bug? Apakah logikanya benar?

b)

Beri Dina pilihan: boleh tidak pakai AI, tapi harus menyelesaikan tugas tambahan yang lebih kompleks tanpa bantuan apa pun.

c)

Paksa Dina pakai Copilot, karena kurikulum mewajibkan integrasi AI.

d)

Biarkan Dina belajar sendiri, karena setiap siswa punya gaya belajar berbeda.

e)

Jelaskan bahwa menolak AI sama saja menolak kemajuan zaman.

14.

SMA di pedalaman Papua ingin menggunakan platform analisis data berbasis AI untuk memantau perkembangan belajar siswa. Tapi kepala adat setempat protes: “Data anak-anak kami adalah milik komunitas, bukan milik mesin asing! Siapa yang jamin data mereka tidak dipakai untuk kepentingan korporasi?” Sekolah bingung: di satu sisi butuh data untuk perbaikan pembelajaran, di sisi lain harus menghormati hak adat dan privasi komunitas. Apa solusi paling etis dan kontekstual yang bisa diambil?

a)

Gunakan AI lokal yang servernya berada di Indonesia, dan libatkan kepala adat dalam penyusunan kebijakan privasi data.

b)

Batalkan penggunaan AI, karena terlalu sensitif.

c)

Jelaskan bahwa data hanya untuk kepentingan pendidikan, bukan komersial.

d)

Suruh orang tua tanda tangan persetujuan, lalu lanjutkan.

e)

Gunakan AI tanpa memberi tahu siapa pun, agar tidak ribut.

15.

Seorang guru menggunakan AI generatif untuk membuat ilustrasi “tokoh inspiratif Indonesia”. Hasilnya: 90% gambar menampilkan pria, berkulit terang, berjas, dan berlatar belakang kota. Tidak ada gambar perempuan petani, nelayan lokal, atau tokoh adat. Siswa protes: “Ini bukan Indonesia yang saya kenal!” Guru tersebut kaget, lalu menyadari bahwa AI hanya mencerminkan bias data pelatihannya. Apa langkah paling mendalam yang harus diambil guru ini sebagai bagian dari pembelajaran?

a)

Abaikan, karena AI hanya alat, bukan pembuat kebijakan.

b)

Hanya gunakan AI untuk hal teknis, bukan kreatif atau budaya.

c)

Laporkan ke pengembang AI agar memperbaiki modelnya.

d)

Ganti prompt: “Buat gambar tokoh inspiratif dari berbagai latar belakang etnis, gender, dan profesi di Indonesia.”

e)

Jadikan ini bahan diskusi kelas: “Mengapa AI menghasilkan gambar seperti ini? Apa pesan tersembunyi dari data? Siapa yang tidak terwakili?” Lalu minta siswa membuat “counter-narrative” dengan menggambar manual tokoh yang diabaikan AI.

16.

Bu Rina, guru Bahasa Indonesia, sudah lelah. Ia harus belajar Grammarly untuk koreksi esai, ChatGPT untuk buat RPP, Canva AI untuk desain media, dan Quizizz AI untuk buat soal. “Saya merasa jadi operator AI, bukan guru,” keluhnya. Ia rindu mengajar dengan hati, bukan dengan prompt. Tapi kepala sekolah bilang: “Ini era digital, Bu. Guru harus adaptif.” Apa refleksi kebijakan paling krusial dari kasus ini?

a)

Integrasi AI harus selektif — hanya untuk tugas administratif dan repetitif, bukan menggantikan interaksi manusiawi antara guru dan siswa.

b)

Guru harus diberi pelatihan lebih intensif agar tidak ketinggalan zaman.

c)

Sekolah harus menyediakan asisten AI khusus untuk guru, agar guru fokus pada pedagogi, bukan teknis.

d)

Guru yang tidak mau belajar AI sebaiknya pensiun saja.

e)

Semua guru harus wajib ikut sertifikasi AI.

17.

Andi, siswa kelas XII, ketahuan menyerahkan esai yang 90% dibuat ChatGPT. Saat ditegur, ia berkata: “Bu, Moderna pakai AI untuk bikin vaksin COVID-19 — dan itu menyelamatkan jutaan nyawa. Kenapa saya tidak boleh pakai AI untuk bikin esai? Bukankah ini juga kolaborasi? Apa bedanya?” Guru terdiam. Apa respons paling filosofis dan mendidik yang bisa diberikan?

a)

“Tujuan pendidikan bukan hanya hasil, tapi proses: belajar berpikir, merangkai ide, dan menemukan suara dirimu sendiri. AI bisa bantu, tapi tidak boleh menggantikan proses itu.”

b)

“Karena kamu masih belajar, sedangkan ilmuwan sudah ahli.”

c)

“Karena esai adalah tugas akademik, bukan produk industri.”

d)

“Kalau semua siswa pakai AI, guru jadi tidak tahu kemampuan aslimu.”

e)

“Karena aturan sekolah melarang plagiarisme, termasuk dari AI.”

18.

Di sebuah SMA di NTT, guru ingin mengadakan proyek kolaborasi AI: siswa harus membuat video pendek dengan Runway ML. Tapi 70% siswa tidak punya kuota internet, dan sekolah hanya punya 3 laptop. Guru memaksa siswa kerja kelompok, tapi yang punya HP jadi dominan, yang tidak punya hanya jadi penonton. Apa prinsip keadilan paling mendasar yang dilanggar dalam kasus ini?

a)

Teknologi harus tersedia untuk semua, atau tidak boleh dipakai sama sekali.

b)

Kolaborasi AI harus dirancang inklusif: jika tidak semua siswa bisa akses, gunakan metode alternatif (misalnya, guru yang demo di depan kelas, lalu siswa diskusi dan refleksi secara manual).

c)

Siswa yang tidak punya fasilitas harus belajar mandiri di rumah.

d)

Sekolah harus meminta sumbangan orang tua untuk beli kuota.

e)

Proyek ini hanya untuk siswa yang mampu, agar tidak membebani yang lain.

19.

Pak Arif ingin menggunakan AI chatbot untuk mengajarkan empati kepada siswa: siswa berdialog dengan bot tentang konflik sosial, lalu bot memberi saran solusi. Tapi Bu Santi, guru BK, protes: “Empati bukan soal logika atau solusi. Empati adalah soal merasakan. AI tidak punya hati, jadi tidak bisa mengajarkan hati.” Pak Arif bingung. Apa batas paling mendasar dari kolaborasi manusia-AI dalam pendidikan?

a)

AI hanya bisa mengajarkan kognisi (berpikir), bukan afeksi (merasa) — karena AI tidak punya emosi, kesadaran, atau pengalaman hidup. Pendidikan karakter harus tetap dipimpin manusia.

b)

AI bisa mengajarkan apa saja, asal data latihannya cukup besar.

c)

AI bisa belajar emosi dari data teks, jadi bisa diajarkan.

d)

Biarkan siswa memilih: yang ingin belajar empati dari AI, silakan; yang ingin dari guru, juga boleh.

e)

Gunakan AI untuk teori, guru untuk praktik.

20.

Dalam sebuah FGD kebijakan, seorang guru bertanya: “Pemerintah mendorong kolaborasi manusia-AI, tapi dalam praktik, kami merasa didorong untuk digantikan oleh AI: RPP otomatis, soal otomatis, koreksi otomatis. Di mana peran kami sebagai pendidik? Apakah kami hanya jadi ‘supervisor’ mesin?” Pejabat menjawab: “Ini efisiensi, Pak. Guru tetap penting.” Tapi guru itu tidak puas. Apa tuntutan kebijakan paling mendasar yang harus disuarakan guru?

a)

Beri guru gaji lebih besar karena beban kerja bertambah.

b)

Kembalikan otoritas pedagogis penuh kepada guru — AI hanya boleh jadi asisten, bukan pengambil keputusan. Kebijakan harus menjamin bahwa guru tetap menjadi “sutradara”, bukan “figuran”, dalam proses pembelajaran.

c)

Sediakan lebih banyak pelatihan AI untuk guru.

d)

Kurangi jam mengajar guru agar punya waktu belajar AI.

e)

Biarkan pasar yang menentukan: guru yang bisa kolaborasi, bertahan; yang tidak, tersingkir.

21.

Di sebuah sekolah menengah di Bali, siswa diminta untuk membuat proyek tentang dampak teknologi terhadap budaya lokal. Salah satu kelompok menggunakan AI untuk menghasilkan video yang menampilkan perubahan budaya dengan cepat. Namun, guru mereka mengingatkan: “Apakah ini benar-benar mencerminkan pandangan masyarakat? Atau hanya interpretasi mesin?” Apa pertanyaan kritis yang harus diajukan siswa untuk mengeksplorasi kedalaman proyek mereka?

a)

Apakah AI dapat memahami konteks budaya dengan baik?

b)

Bagaimana cara kita memastikan bahwa suara masyarakat lokal terwakili dalam proyek ini?

c)

Apakah hasil AI lebih baik daripada hasil karya manusia?

d)

Apakah kita harus mengandalkan teknologi untuk memahami budaya kita?

22.

Seorang guru di Jakarta ingin mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek dengan teknologi AI. Ia meminta siswa untuk merancang aplikasi yang dapat membantu masyarakat. Namun, beberapa siswa merasa tidak percaya diri karena kurangnya pengetahuan teknis. Apa pendekatan paling mendidik yang bisa diambil guru untuk mendorong partisipasi semua siswa?

a)

Fokus pada hasil akhir, bukan proses belajar.

b)

Berikan pelatihan dasar tentang teknologi AI sebelum proyek dimulai.

c)

Biarkan siswa yang lebih pintar memimpin proyek dan yang lain mengikuti.

d)

Gunakan metode tradisional tanpa teknologi untuk proyek ini.

23.

Di sebuah SMA di Sumatera, guru KKA mengadakan diskusi tentang etika penggunaan AI dalam pendidikan. Seorang siswa bertanya: “Jika AI bisa membuat keputusan, apakah kita masih perlu berpikir kritis?” Apa jawaban paling mendidik yang bisa diberikan guru untuk menjelaskan pentingnya berpikir kritis di era AI?

a)

AI tidak bisa menggantikan intuisi dan pengalaman manusia.

b)

Berpikir kritis tidak penting jika AI sudah ada.

c)

Semua keputusan harus diserahkan kepada AI untuk efisiensi.

d)

AI hanya alat; kita yang harus menentukan bagaimana menggunakannya.

24.

Di sebuah SMA di Kalimantan, seorang siswa mengajukan pertanyaan: “Jika AI bisa membantu kita belajar lebih cepat, apakah kita masih perlu belajar dengan cara tradisional?” Apa jawaban paling mendidik yang bisa diberikan guru untuk menjelaskan pentingnya metode belajar yang beragam?

a)

AI hanya alat bantu; proses belajar tetap penting untuk pengembangan diri.

b)

AI tidak bisa menggantikan pengalaman belajar langsung dari guru.

c)

Belajar tradisional sudah ketinggalan zaman, sebaiknya semua siswa beralih ke AI.

d)

Semua metode belajar sama pentingnya, tergantung pada kebutuhan siswa.

25.

Seorang siswa di SMA di Sulawesi mengeluh: “Mengapa kita harus belajar tentang etika AI? Bukankah itu hanya untuk orang dewasa?” Apa penjelasan yang paling tepat dari guru untuk menunjukkan relevansi etika AI bagi siswa?

a)

Hanya orang dewasa yang perlu memikirkan etika, siswa tidak perlu khawatir.

b)

Etika AI penting untuk memahami dampak teknologi pada kehidupan sehari-hari.

c)

Etika AI tidak relevan, yang penting adalah belajar teknologinya saja.

d)

Belajar etika AI hanya untuk memenuhi kurikulum, tidak lebih dari itu.