NEW
Font size
WorksheetsMaintenance Management For Inspector & M Expert
Total questions: 80
Worksheet time: 40mins
Apa peran utama Plant dalam breakdown scheduled pada perawatan unit?
Menyusun jadwal perawatan dan berkoordinasi dengan Produksi untuk pelepasan unit
Menyediakan spare part sesuai kebutuhan
Menilai faktor eksternal yang memicu kerusakan unit
Mengatur downtime dan fleet cadangan
Jika terjadi unscheduled breakdown seperti engine overheating, langkah pertama yang dilakukan oleh Produksi adalah
Memanggil Vendor untuk perbaikan
Menghentikan unit dan melapor ke Plant
Menyusun jadwal maintenance unit
Mengevaluasi desain lapangan
Mengapa koordinasi antara Produksi, Plant, Engineering, Warehouse, dan Vendor sangat penting dalam penanganan breakdown?
Agar desain lapangan dapat diubah sesuai kebutuhan
Agar downtime unit minimal dan target produksi tetap tercapai
Agar stok spare part selalu habis
Agar Vendor dapat menentukan jadwal perbaikan
Dalam laporan KPI bulanan:
Downtime total = 120 jam
Target downtime = 80 jam
Biaya perawatan turun 15% dari anggaran
Apa analisis paling tepat?
Pilar Best Performance kuat, tetapi High Availability lemah
Pilar Lowest Possible Reliable Cost tercapai, namun mengorbankan High Availability
Semua pilar tercapai karena biaya turun lebih penting dari downtime
Best Performance gagal, karena downtime tinggi menunjukkan service buruk
Warehouse melaporkan stok critical part (engine component) rendah karena kebijakan efisiensi biaya. Akibatnya, saat breakdown, unit harus menunggu 5 hari sampai part tersedia. Dampak langsung yang muncul adalah
Pilar High Availability terganggu, meskipun cost terjaga
Pilar Best Performance meningkat karena inspeksi lebih intensif
Pilar Lowest Possible Reliable Cost gagal karena biaya naik
Semua pilar tetap tercapai karena biaya spare part rendah
Sebuah unit beroperasi dengan kondisi preventive maintenance tertunda demi menekan biaya. Setelah 200 jam operasi, terjadi major failure dengan biaya repair Rp 1 miliar, padahal biaya PM hanya Rp 100 juta. Kesimpulan yang paling tepat adalah
Pilar High Availability tercapai karena unit tetap beroperasi lebih lama
Pilar Lowest Possible Reliable Cost gagal karena biaya total justru lebih tinggi
Pilar Best Performance tercapai karena unit tetap bisa dipakai
Semua pilar tercapai karena repair berhasil dilakukan
Dalam rapat evaluasi, ditemukan bahwa:
Performa unit sesuai SOP (Best Performance tercapai)
Downtime unit minimal (High Availability tercapai)
Namun biaya perawatan melebihi budget 25%
Apa implikasinya bagi visi Plant?
Visi tetap tercapai karena performance & availability lebih penting dari biaya
Visi belum tercapai karena cost reliability juga bagian dari pilar utama
Visi tercapai setengahnya, karena hanya dua pilar yang berhasil
Visi gagal total karena cost adalah indikator utama
Apa hubungan utama antara People dan Process dalam Plant Mission?
People menentukan biaya, Process menentukan downtime
People merancang dan menjalankan Process yang terstandar, berbasis data, dan memiliki mekanisme evaluasi
People fokus pada hasil, Process fokus pada biaya
People berperan pasif, Process yang aktif dalam maintenance
Nilai Integrity, Quality, Agile, Productivity, Discipline, dan HSE Consciousness dalam misi plant disebut sebagai
Pilar operasional yang lahir dari proses konsisten
Program pelatihan karyawan
Indikator KPI individu mekanik
Target produksi tahunan
Plant Mission menekankan bahwa keberhasilan maintenance ditentukan oleh
SDM yang inovatif & kolaboratif, proses yang konsisten, serta nilai operasional yang terintegrasi
Jumlah unit produksi yang beroperasi penuh setiap hari
Vendor yang selalu menyediakan spare part original
Engineering yang membuat desain tambang lebih efisien
Ciri utama Reactive Maintenance (Responsive Work) adalah
Perbaikan dilakukan hanya berdasarkan interval jam operasi
Pekerjaan selalu terencana dengan dokumentasi lengkap
Respon cepat memperbaiki kerusakan (fire-fighting) dengan fokus restore, bukan pencegahan
Penerapan RCA dan predictive monitoring berbasis sensor
Manfaat utama tahap Planned Maintenance dibanding Reactive Maintenance adalah
Turunnya pekerjaan darurat, meningkatnya pekerjaan terencana, dan efisiensi tenaga kerja serta material
Downtime unit meningkat karena pekerjaan lebih banyak
Tidak perlu spare part dasar karena semua sudah terjadwal
Tidak memerlukan fungsi planner dan scheduler
Tahap Improved Precision (Organizational Discipline) dicirikan oleh
Fokus pada temporary fixes untuk segera memulihkan unit
Implementasi TPM, RCM, condition-based maintenance, dan analisa akar masalah
Mengandalkan laporan manual tanpa data sensor
Penggunaan spare part non-original untuk menekan biaya
Filosofi utama pada tahap Planned Maintenance adalah
“Fix it before it breaks” dengan perawatan berdasarkan interval atau jam operasi
“Run to failure” karena downtime tidak bisa dicegah
“Continuous improvement” berbasis RCA dan redesign
“Temporary repair first” untuk mengurangi biaya awal
Mengapa Safety disebut fondasi utama dalam kerangka kerja maintenance excellence?
Karena safety hanya berhubungan dengan HSE, bukan maintenance
Karena tanpa disiplin safety, aktivitas maintenance berisiko menimbulkan kecelakaan, kerusakan lebih besar, dan kehilangan jam kerja
Karena safety memastikan spare part selalu tersedia
Karena safety otomatis menjamin kinerja keuangan perusahaan
Jika sebuah organisasi memilih menggunakan vibration analysis, oil analysis, dan thermography dalam maintenance, maka strategi yang sedang diterapkan adalah
Corrective Maintenance
Preventive Maintenance
Predictive Maintenance (PdM)
Reliability-Centered Maintenance (RCM)
Sebuah perusahaan ingin menurunkan frekuensi kegagalan differential. Setelah analisa, ditemukan bahwa desain bearing kurang sesuai. Tindakan paling tepat sesuai kerangka strategi adalah
Melakukan perbaikan berulang setiap breakdown
Melakukan preventive maintenance lebih sering
Melakukan design-out maintenance (perbaikan desain) untuk menghilangkan akar penyebab
Mengurangi inspeksi agar downtime berkurang
Dalam tahapan Plant Maintenance, kegiatan Closing & Reporting menjadi krusial karena
Menjamin spare part selalu tersedia tanpa perencanaan
Menyediakan data history untuk root cause analysis, KPI, dan perbaikan berkelanjutan
Membebaskan teknisi dari kewajiban safety
Mengurangi biaya dengan cara menghapus laporan administrasi
Mengapa pandangan tradisional maintenance yang hanya fokus pada reduce cost dianggap tidak berkelanjutan?
Karena biaya memang tidak bisa ditekan dalam jangka panjang
Karena pengurangan biaya tanpa peningkatan performa akan mengabaikan faktor keselamatan, kualitas, dan reliability
Karena cost bukan variabel penting dalam maintenance
Karena reduce cost tidak memerlukan data historis
Sebuah perusahaan memutuskan untuk memangkas anggaran preventive maintenance agar terlihat hemat biaya. Dalam jangka panjang, langkah ini kemungkinan besar akan berdampak pada.
Menurunnya biaya per unit karena jumlah pekerjaan lebih sedikit
Meningkatnya kerusakan mendadak, downtime tinggi, dan total biaya produksi justru naik
Safety meningkat karena lebih sedikit aktivitas lapangan
Kualitas produk tetap stabil karena fokus ada pada produksi
Pandangan maju dalam maintenance menghubungkan investasi pada perbaikan pemeliharaan dengan
Efisiensi administrasi dan pengurangan staff
Perbaikan biaya yang sejalan dengan peningkatan safety, kapasitas alat, dan kualitas produk
Hanya penurunan biaya jangka pendek tanpa peningkatan kualitas
Fokus tunggal pada pengadaan part lebih murah
Seorang Kabag plant diminta menurunkan biaya tahunan sebesar 10%. Pilihan mana yang paling sesuai dengan pandangan maju?
Mengurangi jadwal preventive service dan training mekanik agar biaya langsung turun
Meningkatkan predictive maintenance (PdM) untuk mencegah failure, sehingga biaya total produksi berkurang meski investasi awal naik
Mengabaikan laporan near-miss safety karena tidak berdampak pada biaya langsung
Menunda overhaul critical unit untuk menghemat anggaran tahun berjalan
Planner membandingkan dua laporan biaya:
Biaya perawatan = stabil, lebih kecil, terprediksi
Biaya perbaikan = fluktuatif, lebih besar, tidak terduga
Apa kesimpulan strategis yang paling benar?
Perbaikan sebaiknya dijadikan prioritas karena langsung mengembalikan fungsi alat
Perawatan lebih unggul karena sifat proaktifnya mampu menekan biaya perbaikan jangka panjang
Perbaikan lebih ekonomis karena hanya dilakukan ketika kerusakan nyata terjad
Perawatan tidak relevan untuk alat yang sudah tua dan sering rusak
Salah satu konsekuensi dominan dari dominasi aktivitas repair dibanding maintenance dalam operasional adalah
Downtime unit menurun karena perbaikan cepat dilakukan
Umur alat meningkat karena sering diganti komponen utama
Produktivitas menurun karena jadwal produksi terganggu oleh kerusakan tak terduga
Biaya operasional menurun karena tidak ada program perawatan rutin
Dalam konteks manajemen risiko, mengapa perusahaan harus lebih fokus pada maintenance dibandingkan repair?
Karena repair hanya dilakukan jika alat masih baru
Karena maintenance bersifat pencegahan, sehingga mampu menjaga keandalan dan meminimalkan risiko downtime kritis
Karena maintenance selalu lebih murah daripada repair dalam semua kondisi
Karena repair dapat dilakukan tanpa memerlukan perencanaan jangka panjang
Sebuah perusahaan masih sering melakukan “pemadaman kebakaran” ketika alat rusak. Catatan riwayat perawatan lemah, lembur sering dianggap normal, dan anggaran maintenance sering dipangkas. Berdasarkan deskripsi tersebut, perusahaan berada pada level
Level 1 – Reactive / Fire Fighting
Level 2 – Early Awareness
Level 3 – Systematic Improvement
Level 4 – Predictive Focus
Pada level mana preventive maintenance mulai diperkenalkan, tetapi penerapannya belum konsisten dan dukungan manajemen masih lemah?
Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Ciri khas Level 3 dalam evolusi maintenance adalah
Sistem informasi sudah terintegrasi penuh dan operator dilatih melakukan autonomous maintenance
Preventive maintenance mulai diperkenalkan tetapi masih belum konsisten
Komitmen pada continuous improvement, sistem Work Order berjalan efektif, dan tujuan formal maintenance mulai dipublikasikan
Maintenance dipandang rendah, lembur dianggap wajar, dan catatan riwayat lemah
Level 4 ditandai dengan penerapan predictive maintenance dan analisis kegagalan yang sistematis. Apa perbedaan utamanya dibandingkan Level 3?
Level 3 sudah melibatkan operator dalam perawatan dasar, sedangkan Level 4 belum
Level 4 memiliki KPI yang dipantau rutin, best practices diterapkan, dan pendanaan maintenance terkait langsung dengan beban kerja
Level 3 sudah memiliki sistem informasi terintegrasi penuh, sedangkan Level 4 baru memulainya
Level 4 masih sangat bergantung pada pola kerja reaktif
Pada Level 5, salah satu transformasi utama adalah
Preventive maintenance dijalankan dengan disiplin, namun predictive belum diterapkan
Administrasi maintenance tetap ditangani penuh oleh tim maintenance
Operator dilatih untuk melakukan monitoring dan perawatan dasar, sementara staf maintenance berfokus pada peningkatan performa peralatan
Anggaran maintenance sering dipangkas untuk efisiensi biaya
Apa tujuan utama dari penerapan B-MMS di lingkungan BSS?
Mengurangi biaya operasional dengan cara meminimalisir spare part
Menjamin efektivitas dan efisiensi kegiatan maintenance melalui sistem yang konsisten dan terstandar
Memastikan semua perbaikan dilakukan secara reaktif agar downtime cepat teratasi
Menggantikan fungsi manajemen produksi dengan pendekatan berbasis maintenance
Penerapan B-MMS memiliki dua fokus utama, yaitu…
Menambah jumlah pekerjaan dan menekan biaya maintenance
Meningkatkan kuantitas serta kualitas proses maintenance, dan menjaga kedisiplinan serta konsistensi pelaksanaan
Membangun sistem baru dan mengurangi keterlibatan operator
Mengurangi downtime dengan cara melakukan perbaikan darurat
Mengapa B-MMS disebut bukan sekadar sistem administrasi?.
Karena lebih fokus pada pencatatan jam kerja teknisi
Karena berfungsi sebagai kerangka kerja strategis yang menghubungkan maintenance dengan target bisnis perusahaan
Karena hanya digunakan untuk perencanaan spare part
Karena tidak memerlukan dokumentasi proses kerja
Manfaat langsung dari penerapan B-MMS adalah
Menjamin seluruh aktivitas perawatan terukur, terdokumentasi, dan sesuai standar prosedur yang berlaku
Memungkinkan perusahaan mengurangi dokumentasi agar teknisi lebih fokus pada pekerjaan teknis
Menghapus kebutuhan koordinasi lintas departemen karena semua sudah otomatis lewat sistem
Menurunkan downtime hingga nol persen tanpa perlu program maintenance tambahan
Bagaimana kontribusi B-MMS terhadap pencapaian target produksi perusahaan?
Dengan meningkatkan utilisasi aset melalui sistem perawatan yang disiplin sehingga mendukung produktivitas, keamanan, dan keberlanjutan operasional
Dengan memperpendek siklus hidup aset agar cepat diganti dengan unit baru yang lebih efisien
Dengan mengurangi peran preventive maintenance karena sistem sudah fokus pada perbaikan reaktif cepat
Dengan mengalihkan tanggung jawab maintenance sepenuhnya kepada vendor eksternal untuk efisiensi biaya jangka pendek
Mengapa pondasi kebersihan dan housekeeping dianggap dasar utama dalam konsep maintenance?
Karena menjadi pengganti preventive maintenance
Karena mencegah kerusakan akibat kontaminan sekaligus memudahkan inspeksi visual
Karena dapat mengurangi kebutuhan corrective maintenance secara permanen
Karena menjamin tidak terjadinya breakdown sama sekali
Kelemahan utama jika Preventive Maintenance dilakukan terlalu sering adalah
Menurunnya efektivitas corrective maintenance
Meningkatnya risiko unplanned downtime
Biaya perawatan menjadi berlebih tanpa menambah manfaat signifikan
Tidak perlunya lagi penggunaan sistem CMMS
Manfaat utama Predictive Maintenance dibanding Preventive Maintenance adalah
Menghapus kebutuhan corrective maintenance sepenuhnya
Menunda perawatan sampai mesin benar-benar rusak
Mengurangi biaya dengan mendeteksi dini kerusakan melalui data kondisi aktual mesin
Mengurangi jumlah operator yang dibutuhkan di lapangan
Indikator kinerja yang tepat untuk Corrective Maintenance adalah
PM Compliance dan Planned vs Actual
Mean Time To Repair (MTTR), jumlah breakdown, dan kasus berulang
Penurunan unplanned downtime dan ROI sensor
Availability, Performance, dan Quality
Atap dalam konsep rumah maintenance menggambarkan
Proses harian perawatan dasar oleh operator
Target strategis: Availability tinggi, performa optimal, dan biaya perawatan terkendali
Pilar operasional: preventive, predictive, corrective
Dokumentasi hasil pekerjaan maintenance
Mengapa tahap Plan dalam siklus PDCA penting bagi Departemen Plant?
Karena langsung mengeksekusi pekerjaan backlog agar downtime segera berkurang
Karena menyusun prioritas backlog, perencanaan, dan budgeting agar pekerjaan terstruktur dan biaya terkendali
Karena bertujuan meniadakan kebutuhan evaluasi di tahap berikutnya
Karena memastikan spare part selalu tersedia tanpa keterkaitan dengan anggaran
Aktivitas utama pada tahap Do adalah
Pengelolaan database maintenance dan technical analysis
Penyusunan anggaran dan alokasi SDM
Maintenance execution yang didukung oleh inventory, purchasing, dan integrasi SAP
Evaluasi KPI downtime, MTTR, serta planned vs actual
Manfaat utama tahap Check dibandingkan tahap lainnya adalah
Menghapus kebutuhan backlog melalui inspeksi visual
Menghubungkan KPI, technical analysis, dan database management untuk evaluasi strategi
Menentukan ketersediaan spare part untuk preventive maintenance
Melakukan continuous improvement berbasis inovasi metode dan perilaku
Fokus utama tahap Action dalam PDCA adalah
Perbaikan mesin secara darurat dan overhaul sistem
Pengembangan database dan analisis akar masalah
Continuous Improvement melalui inovasi teknologi, metode, dan perilaku tim
Registrasi dan kalibrasi peralatan untuk kepatuhan audit
Supporting Activities seperti Manpower Management dan Maintenance Standardization & Digitalization berperan penting karena
Tanpa aktivitas ini, pekerjaan backlog akan selesai lebih cepat
Aktivitas ini menjadi fondasi agar proses utama PDCA berjalan terukur, terkendali, dan berkelanjutan
Aktivitas ini berfungsi menggantikan tahapan evaluasi dan tindak lanjut
Aktivitas ini hanya berkaitan dengan hubungan eksternal seperti vendor dan auditor
Mengapa penentuan schedule maintenance sangat krusial dalam Planning & Control?
Karena hanya berfungsi sebagai formalitas administrasi jadwal
Karena mencegah pekerjaan berjalan insidentil dan memudahkan pemantauan serta evaluasi
Karena membuat downtime dapat dihapus sepenuhnya dari operasional
Karena memastikan pekerjaan selalu dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan jam kerja operator
Apa tujuan utama dari penetapan prioritas kegiatan dalam maintenance?
Agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara bersamaan tanpa konflik
Agar peralatan kritikal, safety, dan utama produksi mendapat perhatian lebih dibanding alat pendukung
Agar pengadaan spare part bisa dipercepat tanpa pertimbangan anggaran
Agar downtime hanya terjadi pada saat low season produksi
Fungsi dari estimasi waktu pekerjaan maintenance yang akurat adalah
Mengurangi biaya pengadaan spare part dan material habis pakai
Mencegah overlapping job serta meminimalkan gangguan jadwal produksi
Menghilangkan kebutuhan koordinasi dengan departemen produksi
Mengurangi kebutuhan manpower berkompetensi tinggi
Mengapa koordinasi lintas departemen penting dalam Planning & Control?
Karena produksi ingin downtime sebanyak mungkin demi keamanan alat
Karena tanpa koordinasi, target produksi dan kebutuhan maintenance berisiko gagal dicapai keduanya
Karena hanya tim maintenance yang berhak menentukan waktu shutdown
Karena logistik selalu memiliki stok spare part yang cukup
Peran strategis Maintenance Planning & Control adalah
Sekadar menulis jadwal maintenance rutin agar tercatat dengan baik
Menyatukan penjadwalan, pengelolaan sumber daya, dan koordinasi lintas departemen berbasis data dan analisis
Menghapus kebutuhan corrective maintenance melalui preventive yang ketat
Menjamin bahwa seluruh pekerjaan selalu selesai lebih cepat dari estimasi waktu
Mengapa keseimbangan antara availability dan cost menjadi kunci dalam Maintenance Budget & Control?
Karena availability tinggi otomatis menurunkan biaya perawatan tanpa perencanaan tambahan
Karena fokus pada availability saja dapat membuat biaya membengkak, sementara fokus pada biaya saja bisa menurunkan ketersediaan alat secara drastis
Karena biaya maintenance hanya dipengaruhi oleh harga spare part, bukan oleh strategi pemeliharaan
Karena availability tidak berhubungan langsung dengan anggaran maintenance
Mengapa anggaran preventive dan predictive maintenance lebih mudah direncanakan dibanding corrective maintenance?
Karena preventive dan predictive mengikuti jadwal tetap, sedangkan corrective bergantung pada kerusakan yang tidak selalu dapat diprediksi
Karena corrective maintenance selalu lebih murah sehingga tidak memerlukan perencanaan detail
Karena preventive dan predictive hanya membutuhkan tenaga kerja, sementara corrective lebih banyak melibatkan vendor
Karena corrective maintenance tidak perlu dicatat dalam laporan bulanan
Pada grafik hubungan availability dan cost terhadap umur alat, titik optimum menjadi momen penting untuk evaluasi. Apa alasan utamanya?
Agar alat selalu digunakan sampai rusak total
Untuk mengetahui kapan downtime paling sering terjadi.
Supaya biaya maintenance dan ketersediaan alat tetap seimbang.
Karena rebuild hanya bisa dilakukan setelah scrap.
Jika biaya rebuild lebih tinggi daripada membeli unit baru dan availability unit terus menurun, apa keputusan terbaik berdasarkan konsep Equipment Disposal Management?
Melanjutkan rebuild agar alat bisa dipakai terus.
Menghentikan rebuild dan mengganti unit dengan yang baru.
Mengurangi jadwal maintenance agar biaya turun.
Menunggu sampai unit rusak total baru diganti.
Apa risiko utama jika Equipment Disposal Management tidak dijalankan secara planned & controlled?
Biaya maintenance lebih efisien.
Produktivitas meningkat karena alat dipakai terus.
Terjadi breakdown mendadak, biaya membengkak, dan tim maintenance terbebani.
Replacement alat bisa dilakukan dengan lebih cepat.
Apa tujuan utama dari maintenance execution dalam konteks manajemen pemeliharaan?
Menyusun rencana kerja jangka panjang.
Melaksanakan aksi nyata sesuai SOP agar alat siap digunakan.
Mengurangi jumlah backlog yang menumpuk.
Mencatat laporan biaya dalam sistem CMMS.
Keenam faktor utama (planning, execution, tools, support & facility, analysis, manpower) disebut saling bergantung. Jika salah satu lemah, apa dampak terbesarnya?
Tingkat safety meningkat.
Biaya maintenance otomatis lebih kecil.
Kualitas pemeliharaan turun dan mempengaruhi produksi.
Downtime langsung bisa dihilangkan.
Mengapa washing unit dianggap fondasi Back to Basic Maintenance?
Karena hanya meningkatkan estetika alat.
Karena washing memperpanjang umur komponen dan akurasi inspeksi.
Karena washing mengurangi kebutuhan periodic service
Karena washing tidak membutuhkan biaya besar.
Apa tujuan paling utama dari P2H (Pemeriksaan Sebelum Operasi)?
Meningkatkan nilai jual alat.
Menjamin unit aman dan layak operasi sejak awal shift.
Mengurangi kebutuhan greasing pada pitstop inspection.
Menunda perbaikan agar backlog bisa terkumpul.
Perbedaan utama pitstop inspection dengan P2H adalah
Dilakukan oleh operator, bukan mekanik.
Fokus pada greasing unit.
Pemeriksaan teknis mendalam oleh mekanik setelah 50 jam operasi.
Hanya dilakukan saat unit breakdown.
Mengapa periodic service disebut kombinasi preventive action + corrective action?.
Karena hanya fokus pada inspeksi visual.
Karena dilakukan setelah unit breakdown.
Karena melibatkan penggantian part + penyesuaian teknis terjadwal.
Karena lebih murah daripada corrective maintenance.
Apa keunggulan utama CBM dibanding periodic maintenance?
Lebih murah karena tidak perlu inspeksi.
Berbasis kondisi aktual alat, bukan hanya jadwal rutin.
Hanya dilakukan jika unit breakdown.
Tidak memerlukan tenaga kerja berpengalaman.
Fungsi utama counter measure dalam CBM adalah
Mencegah masalah yang sama terulang setelah ditemukan kerusakan.
Mengganti seluruh komponen alat meski masih layak.
Mengurangi kebutuhan periodic service.
Menunda perbaikan sampai unit scrap.
Risiko paling besar jika backlog tidak dikelola dengan baik adalah
Spare part lebih hemat karena jarang dipakai.
Downtime mendadak, biaya membengkak, dan risiko keselamatan meningkat.
Operator lebih mudah melakukan inspeksi.
Warehouse lebih longgar karena stok cepat habis.
Peran Planner dalam Backlog Management yang paling krusial adalah
Menginput seluruh temuan backlog ke dalam CMMS agar terdokumentasi dan dapat dimonitor.
Mengklasifikasikan backlog berdasarkan tingkat urgensi dan criticality serta melakukan validasi sebelum dijadwalkan.
Mengkoordinasikan ketersediaan spare part dengan warehouse agar pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai rencana.
Menentukan jadwal pelaksanaan backlog berdasarkan jam operasi unit dan kesiapan manpower.
Indikator Achievement Backlog mengukur
Jumlah WO baru yang masuk setiap minggu.
Persentase WO backlog yang terselesaikan dibanding WO backlog yang direncanakan.
Total jam kerja mekanik dibanding total jam kerja tersedia.
Persentase breakdown yang berhasil ditangani dalam sehari.
Jika nilai Achievement Backlog < 70%, hal ini mengindikasikan
Suku cadang terlalu boros digunakan.
Perencanaan backlog dan eksekusi pekerjaan mengalami kendala.
Jam kerja mekanik terlalu panjang
Kerusakan berulang
Response Time didefinisikan sebagai
Waktu total perbaikan unit sejak kerusakan ditemukan hingga selesai.
Waktu sejak laporan breakdown diterima hingga mekanik tiba di lokasi.
Waktu rata-rata pengadaan spare part dari warehouse ke pit.
Waktu mekanik bekerja efektif di lapangan.
Jika Response Time sering > 1 jam, akar masalah yang paling mungkin adalah
Overload backlog dalam sistem.
Posisi mekanik, sistem pelaporan, atau logistik tidak efisien.
Oli boros dipakai di lapangan.
Utilisasi jam kerja mekanik terlalu rendah.
Fungsi utama indikator Oil Consumption adalah
Mengukur kualitas perencanaan backlog.
Mendeteksi dini kebocoran atau abnormalitas mesin.
Menentukan biaya spare part bulanan.
Mengukur utilisasi jam kerja mekanik.
Mechanic Effective Working Hours mengukur…
Persentase jam kerja mekanik yang digunakan untuk kegiatan produktif.
Jumlah backlog yang berhasil ditutup dalam satu minggu.
Total biaya R&M per jam operasi alat.
Waktu rata-rata perbaikan sejak start hingga finish.
Jika nilai Mechanic Effective Working Hours < 60%, hal yang paling mungkin terjadi adalah…
Mekanik terlalu boros menggunakan oli.
Banyak waktu hilang karena menunggu part atau instruksi.
Biaya perawatan melebihi anggaran.
Response time terlalu cepat sehingga jam kerja berkurang.
R & M Cost dihitung dengan membandingkan
Total biaya repair & maintenance dengan total jam kerja alat.
Total backlog dengan total jam kerja mekanik.
Total response time dengan jumlah WO backlog.
Total biaya spare part dengan total jam kerja mekanik.
Kenaikan tiba-tiba pada R & M Cost biasanya disebabkan oleh
Oli boros dipakai operator.
Recurring failure, backlog tidak tertangani, atau strategi maintenance kurang tepat.
Response time lebih cepat dari target.
Utilisasi mekanik terlalu tinggi.
Jika konsumsi oli meningkat tiba-tiba di luar spesifikasi normal, interpretasi yang tepat adalah
Kemungkinan terjadi kebocoran atau kerusakan engine
Mekanik terlalu lama standby tanpa pekerjaan.
Backlog menumpuk dan tidak tertangani.
Response time meningkat lebih dari 1 jam.
MTTR digunakan untuk mengukur
Rata-rata waktu alat beroperasi sebelum mengalami kerusakan
Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki alat hingga kembali beroperasi normal.
Total biaya perbaikan per jam operasi alat.
Jumlah backlog yang terselesaikan dibanding backlog yang masuk.
Indikator MTBF didefinisikan sebagai
Waktu rata-rata alat dalam kondisi breakdown sebelum diperbaiki.
Waktu rata-rata antara satu kerusakan dengan kerusakan berikutnya selama operasi.
Rata-rata jam kerja mekanik dibanding total jam kerja tersedia.
Biaya maintenance per jam operasi unit.
Jika MTTR tinggi, maka dampak langsungnya adalah
Availability meningkat karena perbaikan lama.
Availability menurun karena downtime makin panjang.
MTBF otomatis meningkat.
Oil consumption lebih efisien.
MTBF sering dijadikan indikator
Reliability unit, semakin tinggi MTBF semakin jarang unit rusak.
Efisiensi biaya perbaikan per jam operasi.
Efektivitas backlog management.
Kesiapan mekanik dalam merespon laporan breakdown.
Sebuah unit memiliki MTBF rendah dan MTTR tinggi. Interpretasi yang paling tepat adalah
Mesin jarang rusak dan perbaikan cepat.
Mesin sering rusak dan perbaikan lama → reliability rendah & availability turun.
Biaya maintenance pasti rendah.
Backlog otomatis nol.
