WorksheetsSumatif BAB 3
Total questions: 20
Worksheet time: 3mins
1. Perilaku menghambur-hamburkan harta, baik untuk hal yang haram maupun yang sia-sia, meskipun ia mampu, disebut sebagai perilaku tercela.
Hasad
Takabbur
Berfoya-foya (Israf/Tabzir)
Sum’ah
Riya'
2. Sifat berfoya-foya dapat dihindari dengan menumbuhkan sikap mental yang selalu merasa cukup dan ridha terhadap apa yang dimiliki, meskipun sedikit. Sifat mental ini dikenal sebagai:
Tabzir
Qana’ah
Ghibtah
Tawadhu'
Ikhlas
3. Seseorang yang bersedekah di tempat umum dengan harapan agar dipuji dan dianggap dermawan oleh orang lain, padahal niat utamanya bukan karena Allah, menunjukkan perbuatan tercela yang disebut:
Israf
Sum’ah
Riya’
Takabbur
Hasad
4. Apa dampak paling buruk dari perbuatan Riya' terhadap amal ibadah seseorang?
Diterimanya amal kebaikan oleh Allah SWT
Membatalkan pahala dan menjadikan amal sia-sia
Memperoleh balasan di dunia saja
Mendapat popularitas di kalangan masyarakat
Menarik rezeki yang melimpah
5. Perbedaan mendasar antara Riya’ dan Sum’ah terletak pada waktunya. Sum’ah adalah perbuatan tercela di mana seseorang:
Menceritakan amal kebaikan yang sudah dilakukan agar didengar dan mendapat pujian setelah selesai beramal.
Menghabiskan harta secara berlebihan untuk mencari perhatian.
Merasa gembira ketika amal baiknya diketahui orang lain tanpa ada niat untuk memberitahukannya.
Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Melakukan amal semata-mata untuk dipertontonkan kepada orang lain saat beramal.
6. Sikap meninggikan diri, merasa lebih mulia dari orang lain, dan menolak kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang, adalah definisi dari:
Qana’ah
Riya'
Takabbur
Hasad
Tawadhu'
7. Lawan dari sifat Takabbur adalah Tawadhu'. Bagaimana implementasi Tawadhu’ yang benar dalam kehidupan sehari-hari?
Menggunakan pakaian yang sangat sederhana dan lusuh meskipun memiliki harta yang cukup.
Mengakui kelebihan diri sendiri sambil meremehkan prestasi orang lain.
Selalu diam dan tidak pernah berpendapat dalam suatu diskusi.
Merendahkan diri secara berlebihan agar dikasihani orang lain.
Menerima nasihat dan kebenaran dari siapapun, serta tidak memandang rendah orang lain berdasarkan status sosial.
8. Apa perbedaan utama antara Hasad (iri/dengki) dan Ghibtah (iri yang terpuji)?
Ghibtah lebih berbahaya daripada Hasad karena dapat memicu persaingan tidak sehat.
Ghibtah adalah keinginan untuk memiliki nikmat yang sama tanpa mengharapkan nikmat itu hilang dari orang lain.
Hasad hanya terjadi pada masalah harta, sedangkan Ghibtah hanya pada masalah ilmu.
Hasad dianjurkan dalam Islam untuk memotivasi diri menjadi lebih baik.
Hasad dilakukan secara terang-terangan, sementara Ghibtah dilakukan secara tersembunyi.
9. Sikap Takabbur tidak hanya ditunjukkan dengan perkataan, tetapi juga dengan tindakan, salah satunya adalah:
Mendahulukan orang lain untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman.
Senang bergaul dengan orang-orang miskin dan menerima hadiah sederhana dari mereka.
Menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu agama secara rutin.
Sangat sulit menerima kritik atau masukan dari orang lain karena merasa diri paling benar dan berilmu.
Cepat meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan mengakui kelemahan diri.
10. Salah satu penyebab utama timbulnya sifat Hasad (dengki) adalah:
Selalu bersikap lapang dada dan menerima keadaan.
Kekurangan iman terhadap keadilan dan kebijaksanaan Allah dalam membagi rezeki dan nikmat.
Memiliki tingkat Tawadhu' yang tinggi.
Keyakinan yang kuat pada takdir dan pembagian rezeki dari Allah.
Meningkatkan ibadah dan amal shaleh.
11. Bagaimana cara seorang Muslim menghindari sifat Riya' dalam beramal?
Menghindari semua jenis ibadah agar tidak terjebak Riya'.
Menghabiskan harta untuk pamer demi memuaskan keinginan nafsu.
Melakukan amal hanya di hadapan orang yang dikenal.
Memperbanyak amal yang sifatnya terang-terangan (tidak perlu disembunyikan).
Menjaga keikhlasan niat, yaitu beramal semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
12. Apabila seseorang melakukan ibadah puasa dan setelahnya menceritakan kepada orang lain dengan niat agar dirinya dikenal sebagai ahli ibadah, maka perbuatan ini disebut:
Hasad
Sum’ah
Ikhlas
Riya'
Tabzir
13. Salah satu dampak negatif sifat Hasad dalam hubungan sosial adalah:
Mendorong sikap rendah hati (Tawadhu').
Menimbulkan permusuhan, kebencian, dan fitnah terhadap orang yang didengki.
Mendorong untuk bersaing secara sehat dalam kebaikan.
Meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki sendiri.
Menciptakan kedamaian dan kerukunan antar individu.
14. Dalam konteks penggunaan harta, Al-Qur'an dan Hadis menganjurkan umat Muslim untuk bersikap:
Tawazun (seimbang) atau moderat, yaitu tidak kikir dan tidak pula berfoya-foya.
Membelanjakan seluruh harta untuk amal shaleh hingga diri sendiri terlantar.
Hemat hanya untuk diri sendiri, dan pelit untuk orang lain.
Sangat berlebihan (boros/Israf) sebagai tanda kekayaan.
Sangat kikir (pelit) agar harta tidak berkurang.
15. Sifat Takabbur dapat dihindari dengan merenungkan bahwa:
Dirinya lebih mulia dan lebih berhak mendapatkan pujian daripada orang lain.
Orang lain pasti akan selalu memuji dan menghormati dirinya.
Semua nikmat dan kelebihan yang dimiliki adalah mutlak hasil usaha dan kecerdasan diri sendiri.
Setiap manusia diciptakan dari materi yang sama dan semua kelebihan adalah karunia (pemberian) dari Allah SWT.
Harta dan jabatan adalah penentu kemuliaan seseorang di sisi Allah.
16. Mengapa Berfoya-foya (Israf/Tabzir) dapat menghalangi seseorang mencapai hidup penuh manfaat?
Karena meningkatkan produktivitas ekonomi negara.
Karena memperkuat niat Ikhlas dalam beramal.
Karena mendorong sikap berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
Karena membuat pelakunya lalai terhadap hak-hak orang lain dan cenderung menumpuk dosa.
Karena menunjukkan tingginya rasa syukur kepada Allah.
17. Dalam konteks amal kebaikan, istilah Ikhlas merupakan lawan langsung dari:
Ghibtah
Riya’ dan Sum’ah
Hasad
Tabzir
Takabbur
18. Sifat tercela yang membuat pelakunya merasa senang melihat kesulitan orang lain dan berharap nikmat orang lain segera hilang adalah:
Israf
Ghibah
Takabbur
Hasad
Sum’ah
19. Di antara sikap berikut, manakah yang paling mencerminkan perilaku Takabbur?
Enggan untuk duduk bersama atau makan satu meja dengan orang yang dianggap lebih rendah statusnya.
Memberikan sumbangan dengan jumlah yang sangat besar di luar batas kemampuan.
Merasa sedih ketika melihat temannya mendapatkan rezeki yang melimpah.
Selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikan dari pandangan orang lain.
Menggunakan pakaian yang sederhana meskipun mampu membeli yang mewah.
20. Tujuan utama seorang Muslim menghindari Berfoya-foya, Riya’, Sum’ah, Takabbur, dan Hasad adalah untuk:
Selalu bersikap diam dan menyendiri agar tidak ada yang melihat amalnya.
Memperoleh pujian dari ulama dan tokoh masyarakat.
Mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi dan kekayaan yang melimpah di dunia.
Mewujudkan hidup yang seimbang, hati yang bersih (ikhlas), dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Menjadi yang paling unggul dan mengalahkan semua pesaing dalam segala bidang.
