wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Asesmen Akhir Masjid Agung Palembang

Total questions: 10

Worksheet time: 5mins

Name
Class
Date
1.

Seorang sejarawan mengacu pada dokumen-dokumen arsip yang menyatakan secara eksplisit tahun penyelesaian pembangunan tahap awal Masjid Agung Palembang.

Pada tahun berapakah Masjid Agung Palembang pertama kali didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama?

a)

1659 M

b)

1738 M

c)

1821 M

d)

1905 M

2.

Nama populer 'Masjid Suro' diyakini berasal dari bahan dasar yang digunakan pada konstruksi pertamanya, yang merupakan bahan lokal dan mudah didapatkan.

Sebelum direnovasi menjadi bangunan permanen, bahan utama yang digunakan pada konstruksi awal Masjid Agung Palembang adalah...

a)

Kayu

b)

Batu bata merah

c)

Beton bertulang

d)

Besi tempa

3.

Pengamat seni rupa melihat tiang penyangga utama (soko guru) di dalam Masjid Agung Palembang yang besar dan kokoh. Tiang ini serupa dengan yang ditemukan di masjid-masjid tradisional Jawa dan Sumatera.

Selain fungsi struktural, soko guru dalam arsitektur masjid tradisional Nusantara seperti Masjid Agung Palembang sering melambangkan...

a)

Kekuatan militer Kesultanan Palembang di empat wilayah utama.

b)

Empat madzhab utama dalam fiqih Islam (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali).

c)

Keseimbangan antara dimensi fisik dan metafisik dalam Islam.

d)

Empat arah mata angin atau empat sahabat Nabi.

4.

Selain Sultan, ulama dan tokoh agama memiliki peran besar dalam perkembangan Masjid Agung sebagai pusat spiritual. Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada waktu shalat.

Di bawah kepemimpinan Kesultanan, peran utama Masjid Agung Palembang pada abad ke-18 meliputi dua fungsi utama, yaitu...

a)

Pusat perdagangan rempah-rempah dan gudang penyimpanan Kesultanan.

b)

Markas militer Kesultanan dan tempat penyimpanan senjata.

c)

Pusat ibadah shalat Jumat dan lokasi pengajaran (Majelis Taklim) bagi masyarakat.

d)

Gedung pertemuan para utusan asing dan penginapan para pedagang.

5.

Masjid Agung Palembang mengalami beberapa kali perubahan nama resmi dan perluasan, mencerminkan perkembangan sejarahnya.

Urutan kronologis yang paling tepat mengenai nama yang pernah disandang oleh Masjid Agung Palembang adalah...

a)

Masjid Suro (Awal) → Masjid Sultan (Diresmikan) → Masjid Agung (Pasca-Kolonial)

b)

Masjid Raya (Awal) → Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II → Masjid Agung

c)

Masjid Sultan (Awal) → Masjid Suro (Populer) → Masjid Jami'

d)

Masjid Keraton (Awal) → Masjid Agung (Diresmikan) → Masjid SMB I

6.

Kompleks Masjid Agung sangat dekat dengan Sungai Musi, jalur utama kehidupan di Palembang. Di masa lalu, area ini dilengkapi dengan 'pemandian' yang besar untuk kesucian.

Hubungan fungsional antara lokasi Masjid Agung yang dekat dengan Sungai Musi dengan aktivitas keagamaan masyarakat Kesultanan Palembang adalah...

a)

Sebagai jalur evakuasi utama bagi jamaah saat terjadi banjir di Palembang.

b)

Memfasilitasi akses mudah terhadap air wudu dan mandi wajib (ghusl), yang esensial bagi kesucian ibadah dalam skala besar.

c)

Memanfaatkan lumpur sungai sebagai bahan baku tambahan untuk merekatkan batu bata.

d)

Menggunakan air sungai sebagai sarana dekorasi berupa air mancur di halaman masjid.

7.

Atap Masjid Agung Palembang berbentuk limas bertingkat. Berbeda dengan Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang juga dibangun pada masa Kesultanan, yang mengadopsi kubah.

Perbedaan mendasar antara pemilihan atap limas pada Masjid Agung Palembang dan atap kubah pada masjid di daerah lain di Sumatera (misalnya Aceh) dapat dihubungkan dengan...

a)

Kubah lebih mahal dan Kesultanan Palembang saat itu tidak memiliki cukup dana.

b)

Pengaruh budaya pra-Islam lokal di Palembang (Hindu-Buddha) yang diakulturasi, dibandingkan dengan pengaruh arsitektur Timur Tengah (kubah) yang lebih dominan di wilayah lain.

c)

Atap limas lebih tahan terhadap gempa bumi dan cuaca tropis dibandingkan kubah.

d)

Sultan Palembang adalah keturunan Jawa, sedangkan Sultan Aceh adalah keturunan Persia.

8.

Setelah kekalahan Kesultanan Palembang pada tahun 1821, Belanda mengambil alih dan merekonstruksi Masjid Agung, termasuk menara yang unik. Belanda telah menghancurkan banyak simbol kedaulatan Kesultanan lainnya.

Mengapa Pemerintah Kolonial Belanda memilih untuk mempertahankan dan bahkan memodifikasi Masjid Agung Palembang, alih-alih merobohkannya, pasca penaklukan Kesultanan?

a)

Masjid tetap dipertahankan sebagai alat kontrol sosial dan politik untuk mengawasi dan mengendalikan sentimen keagamaan serta legitimasi kepemimpinan lokal yang baru di bawah Belanda.

b)

Masjid diubah fungsinya menjadi kantor pemerintahan kolonial dan tidak lagi sebagai tempat ibadah.

c)

Masyarakat Palembang mengancam pemberontakan besar jika masjid tersebut dihancurkan total.

d)

Belanda tidak punya cukup dana untuk merobohkan dan membangun ulang masjid yang begitu besar.

9.

Desain menara Masjid Agung yang unik (pagoda) sering menjadi perdebatan antara melambangkan akulturasi murni atau sisa intervensi kolonial. Namun, kini menara tersebut telah menjadi ikon Palembang. Dalam konteks Indonesia modern yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, nilai historis apa yang paling penting untuk ditonjolkan dari menara Masjid Agung Palembang?

a)

Menara sebagai replika murni menara masjid kuno di Sumatera yang hilang.

b)

Menara sebagai representasi kekuatan ekonomi Palembang yang mampu membiayai konstruksi menara megah.

c)

Menara sebagai pengingat akan kejatuhan Kesultanan Palembang dan kebangkitan nasionalisme Indonesia.

d)

Menara sebagai simbol penerimaan budaya yang berbeda (Tiongkok) dalam arsitektur Islam, mencerminkan multikulturalisme Palembang yang lestari.

10.

Masjid Agung adalah situs Warisan Budaya yang terletak di pusat Kota Palembang yang padat. Pelestarian menghadapi tantangan dari pembangunan modern, polusi, dan peningkatan volume pengunjung.

Prioritas strategi konservasi jangka panjang yang paling mendesak bagi Masjid Agung Palembang sebagai situs Warisan Budaya adalah...

a)

Mengubah menara pagoda kembali ke bentuk asli menara Kesultanan yang telah dihancurkan.

b)

Memperluas area parkir hingga ke halaman masjid agar dapat menampung lebih banyak bus pariwisata.

c)

Menerapkan zonasi konservasi ketat di sekeliling area masjid dan membatasi pembangunan vertikal untuk menjaga integritas visual (visual envelope) dan lingkungan.

d)

Mengganti semua bahan bangunan masjid dengan material modern yang lebih tahan lama, seperti baja dan kaca.