Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Konsep wilayah dan Pola Desa

Total questions: 20

Worksheet time: 20mins

Name
Class
Date
1.

Berdasarkan peta tersebut, fenomena yang terjadi dan teori yang paling tepat menjelaskannya adalah...

a)

Terjadi integrasi spasial yang merata di seluruh Jawa Barat sesuai Teori Tempat Sentral

b)

Terjadi aglomerasi industri di koridor tertentu yang dapat dijelaskan dengan Teori Kutub Pertumbuhan.

c)

Terjadi penyebaran industri dari pusat ke daerah pinggiran sesuai Teori Lokasi Industri Weber.

d)

Terjadi pembentukan wilayah homogen berdasarkan kesamaan fisik yang dijelaskan Teori Segitiga Pertumbuhan.

e)

Terjadi disintegrasi wilayah yang disebabkan oleh kurangnya sumber daya alam di wilayah timur dan selatan.

2.

Pemerintah berencana membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di suatu pulau terpencil yang kaya akan biji nikel. Tujuannya adalah menarik investasi smelter dan industri turunannya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Dampak negatif yang paling mungkin terjadi dan perlu diantisipasi secara serius dalam perencanaan tata ruang KEK tersebut adalah...

a)

Peningkatan angka partisipasi sekolah dasar di wilayah sekitarnya

b)

Terjadi "backwash effect" atau efek pemerosotan dimana sumber daya (modal, tenaga terampil) dari wilayah sekitar tersedot ke KEK.

c)

Penurunan harga lahan di sekitar kawasan KEK.

d)

Berkurangnya keanekaragaman hayati laut di sekitar pulau.

e)

Meningkatnya ketergantungan pada impor barang modal.

3.

Analisislah pernyataan berikut:
"Pembangunan jalan nasional yang menghubungkan Kota P (sebagai pusat pemerintahan) dengan Kota Q (sebagai kota pelabuhan) justru memperlambat pertumbuhan desa-desa yang dilaluinya, karena masyarakat desa lebih memilih bekerja ke kota."
Konsep dari Teori Pusat-Pinggiran (Core-Periphery) yang paling sesuai untuk menganalisis pernyataan di atas adalah...

a)

Tahap Pra-Kondisi Lepas Landas (Precondition for Take Off)

b)

Efek Penyebaran (Spread Effect)

c)

Efek Pemerosotan (Backwash Effect)

d)

Pembentukan Wilayah Fungsional

e)

Interaksi Keruangan

4.

Diketahui data dua wilayah pada tahun 2023:

  • Wilayah A (Kota Metropolis): Laju Pertumbuhan Ekonomi 6,5%, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 82,1, dan kepadatan penduduk 8.000 jiwa/km².

  • Wilayah B (Kabupaten Hinterland): Laju Pertumbuhan Ekonomi 4,2%, IPM 68,5, dan kepadatan penduduk 250 jiwa/km².

Jika pemerintah ingin mempersempit kesenjangan antarwilayah, kebijakan yang paling efektif dan berkelanjutan adalah...

a)

Memindahkan seluruh industri dari Wilayah A ke Wilayah B untuk pemerataan.

b)

Meningkatkan alokasi dana bagi hasil (DBH) dan dana alokasi umum (DAU) untuk Wilayah B.

c)

Fokus membangun infrastruktur digital dan pusat-pusat pertumbuhan baru (growth poles) berbasis potensi lokal di Wilayah B.

d)

Membatasi migrasi penduduk dari Wilayah B ke Wilayah A dengan memberlakukan peraturan ketat.

e)

Mensubsidi harga semua kebutuhan pokok di Wilayah B.

5.

Konsep "Smart City" yang diterapkan di pusat-pusat pertumbuhan seperti Jakarta dan Bandung tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pembangunan manusia dan tata kelola yang baik.
Berdasarkan konsep pusat pertumbuhan, keberhasilan "Smart City" sangat bergantung pada...

a)

Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk membeli perangkat teknologi terbaru.

b)

Kemampuan kota tersebut sebagai "kutub pertumbuhan" untuk menciptakan inovasi dan menyebarkan manfaatnya ke wilayah sekitarnya

c)

Penghapusan seluruh sektor informal untuk menciptakan ketertiban kota.

d)

Pembatasan jumlah penduduk yang boleh tinggal di dalam kawasan kota

e)

Penerapan sistem pemerintahan yang sentralistik dan terpusat.

6.

Perhatikan pernyataan kebijakan tata ruang berikut:

  1. 1. Penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya.

  2. 2. Pembangunan rumah susun (rusunawa) untuk masyarakat berpenghasilan rendah di pusat kota.

  3. 3. Pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

  4. 4. Pembatasan ketinggian bangunan di kawasan cagar budaya.

Kebijakan manakah yang secara langsung merupakan penerapan dari konsep wilayah fungsional?

a)

1 dan 2

b)

1 dan 3

c)

2 dan 3

d)

2 dan 4

e)

3 dan 4

7.

Proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur direncanakan menjadi pusat pertumbuhan baru yang dapat menarik investasi dan mendorong perkembangan ekonomi di seluruh Kalimantan.
Berdasarkan Teori Tempat Sentral von Thünen (yang dimodifikasi untuk pusat pemerintahan/ekonomi), zona apakah yang paling mungkin terbentuk di sekitar IKN pada fase awal pembangunannya?

a)

Zona untuk permukiman mewah dan pusat pemerintahan.

b)

Zona untuk industri berat dan manufaktur.

c)

Zona untuk pertanian lahan kering dan perkebunan.

d)

Zona untuk cagar alam dan hutan lindung.

e)

Zona untuk logistik dan gudang penyimpanan material konstruksi.

8.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Bandara Internasional Y di suatu kota telah memicu tumbuhnya kawasan industri logistik, pusat konvensi, dan kawasan bisnis di sekitarnya. Namun, desa-desa yang berada di luar radius 15 km dari bandara justru mengalami penurunan jumlah penduduk usia produktif.
Dari penelitian tersebut, kesimpulan yang paling tepat adalah...

a)

Bandara hanya memberikan dampak positif (spread effect) bagi semua wilayah.

b)

Bandara berperan sebagai "growth pole" tetapi juga menimbulkan dampak negatif (backwash effect).

c)

Bandara tidak efektif sebagai pusat pertumbuhan karena tidak merata dampaknya.

d)

Desa-desa tersebut tidak memiliki potensi untuk dikembangkan.

e)

Pembangunan bandara seharusnya dihentikan untuk mencegah migrasi.

9.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kriteria utama untuk menetapkan suatu kawasan sebagai pusat pertumbuhan yang ideal adalah...

a)

Memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dapat dieksploitasi semaksimal mungkin.

b)

Memiliki akses yang mudah ke pasar internasional.

c)

Mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berwawasan lingkungan (green growth) bagi wilayah yang lebih luas.

d)

Memiliki jumlah penduduk yang sangat besar untuk menjamin ketersediaan tenaga kerja

e)

Terletak di pesisir pantai untuk memudahkan ekspor-impor.

10.

Seorang planner ditugaskan untuk merencanakan pengembangan wilayah di suatu kabupaten yang terbagi menjadi daerah pesisir (penangkapan ikan), dataran rendah (sawah), dan pegunungan (hortikultura).
Strategi pengembangan wilayah manakah yang paling mencerminkan pendekatan pembangunan berimbang dan sesuai dengan konsep wilayah fungsional?

a)

Memusatkan semua pembangunan di ibu kota kabupaten sebagai satu-satunya pusat pertumbuhan.

b)

Mengembangkan setiap zona berdasarkan keunggulan komparatifnya dan menciptakan keterkaitan (linkage) yang kuat antar zona.

c)

Mengalihkan semua lahan pertanian di dataran rendah untuk dijadikan kawasan industri

d)

Memindahkan seluruh penduduk dari daerah pegunungan ke daerah pesisir untuk efisiensi pelayanan.

e)

Fokus hanya pada pengembangan sektor pariwisata dan mengabaikan sektor-sektor lainnya.

11.

Sebuah desa di lereng Gunung X memiliki pola permukiman mengelompok (nucleated settlement). Analisis geomorfologi menunjukkan wilayah tersebut memiliki topografi yang relatif kasar. Faktor utama yang paling mungkin menyebabkan terbentuknya pola mengelompok ini adalah...

a)

Ketersediaan sumber air yang melimpah di beberapa titik tertentu

b)

Kebijakan kepala desa yang mewajibkan warga tinggal berdekatan.

c)

Adanya tradisi turun-temurun untuk mempertahankan lahan leluhur.

d)

Sistem pertanian ladang berpindah yang membutuhkan koordinasi.

e)

Adanya pusat kegiatan ekonomi bersama di tengah-tengah permukiman.

12.
  1. Desa Maju Jaya yang terletak di pinggir jalur utama provinsi mengalami transformasi pola keruangan. Lahan persawahan di sepanjang jalan raya banyak beralih fungsi menjadi bengkel, warung makan, dan tempat peristirahatan. Dampak negatif paling kompleks dari fenomena alih fungsi lahan ini terhadap keberlanjutan desa adalah...

a)
  1. Peningkatan volume lalu lintas yang menyebabkan kemacetan.

b)

Berkurangnya hasil panen padi untuk konsumsi desa.

c)

Terfragmentasinya landscape pertanian dan hilangnya lahan produktif jangka panjang.

d)

Munculnya pencemaran udara dan suara dari aktivitas kendaraan.

e)

Perubahan mata pencaharian dari petani menjadi pedagang.

13.

Konsep "Desa Kota" (Desakota) yang dicetuskan oleh Terry McGee menggambarkan wilayah transisi antara desa dan kota. Ciri khas wilayah ini adalah...

a)

Aktivitas ekonomi homogen yang didominasi oleh sektor pertanian primer.

b)

Pola permukiman tersebar (dispersed settlement) dengan kepadatan rendah.

c)

Percampuran antara aktivitas pertanian dan non-pertanian dengan penggunaan lahan campuran.

d)

Struktur sosial yang masih sangat tradisional dan tertutup dari pengaruh luar.

e)

Berfungsi sebagai penyangga ekologis murni bagi wilayah kota di sekitarnya.

14.

Sebuah desa di pesisir dengan pola permukiman linear memanjang sepanjang garis pantai berencana mengembangkan wisata bahari. Jika pemerintah desa ingin meminimalisir dampak negatif terhadap pola keruangan dan sosial asli, strategi pembangunan yang paling tepat adalah...

a)

Membangun resort dan hotel berbintang di sepanjang pantai untuk menarik wisatawan mancanegara.

b)

Memfokuskan pembangunan infrastruktur di belakang zona permukiman existing dan memberdayakan homestay milik warga.

c)

Merelokasi seluruh permukiman warga ke daerah yang lebih dalam untuk membebaskan kawasan pantai.

d)

Mengalihkan seluruh mata pencaharian nelayan menjadi pekerja di sektor pariwisata.

e)
  1. Membangun pusat perbelanjaan modern di tengah-tengah permukiman linear.


15.

Perbedaan mendasar antara pola keruangan desa yang memiliki fungsi sebagai "hinterland" (daerah belakang) bagi sebuah kota, dengan desa yang tidak, terletak pada...

a)

Tingkat kepadatan penduduknya.

b)

Intensitas interaksi dan ketergantungan ekonomi dengan kota tersebut.

c)

Pola permukimannya, apakah mengelompok atau menyebar

d)

Sistem pemerintahan dan adat istiadat yang berlaku.

e)

Jenis tanaman yang dibudidayakan di lahan pertanian.

16.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, penerapan konsep "integrated rural-urban development" (pembangunan perdesaan-perkotaan terpadu) untuk mengatasi pola keruangan desa yang terisolir adalah dengan...

a)

Membangun perumahan mewah di desa untuk menarik penduduk kota.

b)

Meningkatkan konektivitas transportasi dan akses informasi serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi di perdesaan.

c)

Memindahkan seluruh industri dari kota ke desa untuk menyerap tenaga kerja.

d)

Mengalokasikan dana APBN yang lebih besar untuk bantuan langsung tunai.

e)

Melarang urbanisasi untuk mempertahankan jumlah penduduk desa.

17.

Data menunjukkan sebuah desa di dataran rendah dengan pola permukiman tersebar (dispersed settlement) mulai menunjukkan gejala perubahan menjadi pola mengelompok di sekitar jalan utama. Faktor eksternal yang paling mungkin memicu perubahan pola ini adalah...

a)

Penemuan sumber air baru di dekat jalan utama.

b)

Pembangunan pasar desa dan pusat layanan kesehatan di poros jalan tersebut.

c)

Bertambahnya jumlah anggota keluarga sehingga rumah perlu diperluas.

d)

Kesuburan tanah yang mulai menurun di lahan-lahan yang jauh dari jalan.

e)

Konflik sosial antar keluarga yang menyebabkan mereka menjauhi satu sama lain

18.

Pola permukiman linear di sepanjang jalan utama sebuah desa dapat menimbulkan permasalahan tata ruang ke depan, KECUALI...

a)

Kesulitan dalam penyediaan infrastruktur jaringan (listrik, air bersih) secara efisien

b)

Risiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas karena aktivitas warga berbaur dengan jalan.

c)

Pembangunan yang memanjang (ribbon development) dapat menghambat perluasan jalan.

d)

Terjadinya efisiensi dalam penggunaan lahan untuk permukiman dan pertanian.

e)

Rentan terhadap pencemaran udara dan kebisingan dari kendaraan.

19.

Konsep agropolitan menekankan pada pembangunan desa yang mandiri dengan mencontoh karakteristik kota. Jika sebuah desa ingin menerapkan konsep ini untuk memperkuat pola keruangannya, langkah prioritas yang harus dilakukan adalah...

a)

Membangun menara pencakar langit sebagai landmark desa.

b)

Memperkuat sektor ekonomi unggulan berbasis potensi lokal dan mengembangkannya di lokasi strategis desa.

c)

Menaikkan status desa menjadi kelurahan.

d)

Mengimpor tenaga ahli dari kota untuk mengelola semua sumber daya desa.

e)

Mengalihfungsikan seluruh lahan pertanian menjadi kawasan industri.

20.

Sebuah desa dengan pola keruangan memusat (nucleated) di daerah dataran tinggi berencana mengembangkan kawasan wisata alam. Dampak positif dari pola memusat ini terhadap pengembangan wisata adalah...

a)

Memudahkan pengelolaan sampah dan limbah karena terkonsentrasi di satu area.

b)

Memiliki lahan yang sangat luas di pinggiran untuk ekspansi pembangunan resort

c)

Meminimalisir konflik lahan dengan masyarakat adat.

d)

Menjamin ketersediaan air bersih yang melimpah untuk kebutuhan wisatawan.

e)

Memberikan pengalaman wisata yang lebih otentik dan terpusat tentang kehidupan komunitas desa.