Font size
WorksheetsTKA 1
Total questions: 8
Worksheet time: 8mins
Manakah dari pernyataan berikut yang merupakan kalimat deskripsi?
(1) Sampah plastik terdiri dari berbagai jenis bahan.
(2) Penggunaan plastik sekali pakai sangat tinggi di masyarakat.
(3) Banyak orang tidak menyadari dampak sampah plastik.
(4) Sampah plastik dapat didaur ulang menjadi barang baru.
(2), (3), (4)
(1), (3), (4)
(1), (2), (4)
(1), (2), (3)
Dari pernyataan-pernyataan berikut, manakah yang merupakan kalimat opini?
(1) Sampah plastik dapat merusak ekosistem laut.
(2) Kita harus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
(3) Kebijakan pemerintah tidak cukup untuk mengatasi masalah sampah.
(4) Sampah plastik adalah masalah yang serius bagi lingkungan.
(1), (3), (4)
(1), (2), (4)
(1), (2), (3)
(2), (3), (4)
Kalimat "Keluarga kami harus boyongan ke luar pulau" menggunakan kata serapan yang bermakna…
Pergi meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama.
Pindah tempat tinggal secara besar-besaran dengan membawa semua barang.
Pindah tempat kerja mengikuti tugas dinas orang tua.
Berpindah-pindah tempat karena tuntutan pekerjaan.
Kalimat "Sampah plastik dapat mendatangkan masalah bagi lingkungan" menggunakan kata serapan yang bermakna…
Menghasilkan dampak positif bagi masyarakat.
Menimbulkan atau menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan.
Memberikan solusi terhadap masalah yang ada.
Menarik perhatian terhadap suatu isu.
(1) Udara di Bogor terasa dingin. (2) Kali ini dinginnya melebihi hari-hari sebelumnya. (3) Dinginnya suhu udara di Bogor mencapai 24ºC. (4) Data tingkat suhu udara ini, terdapat di papan informasi pengukur suhu di jalan-jalan besar di kota Bogor.
Dua kalimat pendapat pada teks tersebut ditandai dengan nomor ....
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
Hujan deras mengguyur kota metropolitan itu ketika Rani menatap layar
laptopnya dengan mata sembab. Email yang baru saja diterimanya menandakan
berakhirnya kariernya sebagai jurnalis investigatif di media ternama tersebut.
"Restrukturisasi organisasi," demikian eufemisme yang digunakan perusahaan
untuk menyamarkan gelombang pemutusan hubungan kerja massal. Kata-kata kaku dalam surat itu terasa lebih menusuk daripada hujan yang membasahi atap
kosnya.
Ironis memang, ia yang selama bertahun-tahun mengungkap ketidakadilan
sosial, kini menjadi korban sistem kapitalistik yang sama. Pikirannya melayang
pada artikel terakhirnya tentang eksploitasi pekerja informal—sebuah tulisan
yang tidak pernah diterbitkan karena dianggap "terlalu sensitif" oleh redaktur. Ia
masih ingat betapa sulitnya mewawancarai para pekerja yang hidup tanpa
jaminan kesehatan, upah layak, atau perlindungan hukum. Kini, pengalaman
pahit mereka seakan menyatu dengan dirinya. Rani tersenyum getir, menyadari
betapa naifnya dulu, mengira bahwa kebenaran akan selalu menemukan
jalannya.
Di sudut ruangan, foto kelulusannya dari fakultas komunikasi tergantung
miring. Senyum optimis gadis muda itu kini terasa asing bagi Rani. Masa depan
yang dulu tampak cemerlang kini terbungkus ketidakpastian. Namun, ia tahu
perjalanan hidup tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ingatannya kembali
pada malam-malam panjang di ruang redaksi: aroma kopi basi, suara mesin
ketik, dan perdebatan sengit tentang kebenaran jurnalistik. Semua itu pernah
menjadi dunianya, tempat ia menaruh seluruh idealisme.
Dalam keheningan malam itu, hujan terus merintik, seakan ikut meratapi
kegelisahannya. Meski hatinya penuh keraguan, sesuatu dalam dirinya berbisik:
mungkin inilah saatnya untuk menulis dengan cara yang berbeda—lebih jujur,
lebih bebas, dan tanpa belenggu korporasi.
Pernyataan manakah yang benar berkaitan dengan relevansi cerpen tersebut
terhadap kondisi sosial kontemporer?
Jawaban bisa lebih dari satu!
Menggambarkan fenomena prekarisasi kerja di era digital yang semakin
masif
Mencerminkan dilema antara idealisme profesional dan tuntutan komersial
media
Menunjukkan dampak psikologis dari ketidakstabilan identitas terhadap
individu
Mengkritisi sistem pendidikan tinggi yang tidak mempersiapkan lulusan
menghadapi realitas kerja
Fenomena Urban Heat Island di Jakarta
Jakarta mengalami peningkatan suhu rata-rata 2–3°C dibandingkan
daerah pinggiran kota. Fenomena ini disebut Urban Heat Island (UHI), yakni kondisi
di kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi daripada daerah pedesaan di
sekitarnya. Penyebab utama UHI adalah minimnya ruang terbuka hijau, dominasi
bangunan beton dan aspal yang menyerap panas, serta tingginya aktivitas kendaraan
bermotor yang menghasilkan emisi panas.
Dampak UHI tidak hanya berupa ketidaknyamanan termal, tetapi juga
memicu berbagai masalah kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa setiap
kenaikan 1°C suhu ambient berkorelasi dengan peningkatan 5% kasus dehidrasi dan
heat stroke. Selain itu, UHI memengaruhi pola curah hujan lokal dan menciptakan
fenomena heat dome yang menghambat pembentukan awan hujan di atas wilayah
metropolitan.
Upaya mitigasi yang telah diterapkan pemerintah DKI Jakarta meliputi
program penghijauan vertikal pada gedung-gedung tinggi, pembangunan taman kota,
dan kebijakan green building. Namun, efektivitas program tersebut masih terbatas
karena laju pembangunan infrastruktur yang lebih cepat dibandingkan upaya
konservasi lingkungan. Diperlukan sinergi antara pemerintah, swasta, dan
masyarakat untuk menciptakan solusi berkelanjutan menghadapi tantangan UHI di
Jakarta.
1. Berdasarkan teks, dapat disimpulkan bahwa ide pokok utama dari fenomena
Urban Heat Island di Jakarta adalah ..
Jakarta mengalami peningkatan suhu 2-3°C dibandingkan daerah pinggiran
Minimnya ruang terbuka hijau menjadi penyebab utama masalah lingkungan
perkotaan.
Fenomena UHI merupakan masalah kompleks yang memerlukan
penanganan komprehensif dan berkelanjutan
Pemerintah DKI Jakarta telah menerapkan berbagai program mitigasi untuk
mengatasi UHI.
UHI berdampak pada kesehatan masyarakat dan perubahan pola curah
hujan lokal.
Jejak di Atas Kabut
Laras menatap layar laptop dengan mata berkaca-kaca. Email terakhir dari
Kak Dian masih terbuka di hadapannya, "Maaf, Lars. Aku harus pergi. Jangan cari aku.
Ingatlah hanya kebaikan-kebaikanku." Tiga bulan sudah berlalu sejak kakaknya
menghilang tanpa jejak, meninggalkan pesan singkat itu dan kamar yang kosong.
Hujan sore itu memukul jendela kamar dengan keras, seolah
mengingatkan Laras pada malam terakhir mereka bertengkar. "Kamu selalu
mementingkan diri sendiri, Kak!" teriaknya waktu itu. Kini kata-kata itu terasa seperti
pisau yang menikam dadanya sendiri. Ia tak pernah menyangka itu akan menjadi
kalimat terakhir yang ia ucapkan pada Dian.
Ponsel berdering. Mama. "Lars, Papa dapat info dari temannya di
kepolisian. Ada seseorang yang mirip Dian terlihat di Malang, dekat kampus lama
kita. Besok kita ke sana, ya?" Laras mengangguk walaupun Mama tak bisa melihat.
Harapan tipis itu kembali menyala, meski sudah berkali-kali padam Perjalanan ke Malang terasa panjang. Laras menatap jalanan yang basah,
mengingat kembali masa kecil mereka. Dian selalu melindunginya dari anak-anak
nakal di kampung. Kakaknya itu memang pendiam, tetapi selalu hadir saat ia
membutuhkan. Lalu, mengapa sekarang Dian justru pergi saat keluarga mereka
paling membutuhkannya?
Di
sebuah
warung
kopi
dekat
kampus,
pemilik
warung
mengangguk-angguk saat melihat foto Dian. "Oh, dia. Sering duduk di pojokan itu,
mbak. Selalu sendirian, kayak mikirin sesuatu berat. Terakhir lihat seminggu lalu."
Jantung Laras berdebar. Jejak pertama setelah sekian lama.
Senja menjelang saat mereka akhirnya menemukan Dian di sebuah taman
kecil belakang kampus, duduk di bangku tua sambil menatap danau. Rambutnya
yang dulu selalu rapi kini acak-acakan, pipinya cekung. Laras berlari menghampiri,
memeluknya erat tanpa kata.
"Maafkan aku, Lars," bisik Dian sambil menangis. "Aku tidak tahu harus
bagaimana lagi. Semua terasa terlalu berat. Bisnis Papa bangkrut, kuliah tertunda,
dan aku merasa gagal melindungi kalian." Laras semakin mempererat pelukannya. Ia
baru menyadari bahwa selama ini Dian memikul beban yang tak pernah ia ketahui.
Kakaknya yang selalu terlihat kuat ternyata juga manusia biasa yang bisa rapuh.
3. Konflik batin utama yang dialami tokoh Dian dapat disimpulkan sebagai ...
ketidakmauan menghadapi kegagalan bisnis keluarga
dilema antara tanggung jawab keluarga dan kebutuhan pribadi
konflik dengan adiknya yang tidak memahami situasi keluarga
beban ekspektasi sebagai anak tertua yang harus sempurna
ketakutan mengecewakan orang tua dan adik
