wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Matrikulasi PSPA UMKT 01 tahun 2025

Total questions: 85

Worksheet time: 1hrs 1mins

Name
Class
Date
1.

Seorang apoteker melakukan evaluasi terapi pada Ibu Ani (55 tahun). Berdasarkan target terapeutik diabetes standar (HbA1c , Glukosa Preprandial mg/dL, Glukosa Postprandial mg/dL), manakah di antara parameter berikut yang masih belum mencapai sasaran yang direkomendasikan? Dimana data lab pasien HbA1c: 7.5%, Glukosa Preprandial: 120 mg/dL, Glukosa Postprandial 2 jam setelah makan: 205 mg/dL).

a)

HbA1c saja

b)

HbA1c dan Glukosa Postprandial

c)

Semua parameter (HbA1c, Glukosa Preprandial, dan Glukosa Postprandial)

d)

Glukosa Preprandial saja

2.

Nyonya Kartika, seorang pasien diabetes berusia tahun, memiliki riwayat hipertensi dan Penyakit Ginjal Kronis (CKD) tahap . Beliau juga pernah mengalami hipoglikemia berat satu kali dalam enam bulan terakhir. Dalam evaluasi terakhir, hasil HbA1c-nya adalah 7,4%. Berdasarkan kondisi Tuan Iwan yang kompleks, target HbA1c yang direkomendasikan cenderung dilonggarkan hingga untuk menghindari risiko hipoglikemia. Manakah kesimpulan evaluasi yang PALING TEPAT bagi Nyonya Kartika?

a)

Kontrolnya berada dalam batas yang dapat diterima karena nilai 7.4% sudah sesuai dengan target HbA1c yang dilonggarkan untuk pasien berisiko tinggi (≤8.0%).

b)

Kontrolnya masih buruk dan terapi harus segera diubah karena HbA1c yang aman bagi pasien CKD harus selalu di bawah 7.0%.

c)

Nilai 7.4% adalah target yang ideal bagi semua pasien diabetes, tanpa memandang usia atau komorbiditas.

d)

Kontrolnya belum optimal dan harus segera diturunkan di bawah 7.0% untuk mencegah perburukan CKD.

3.

Nyonya Sari (58 tahun) datang ke apotek untuk konsultasi terkait tekanan darahnya. RPS menunjukkan Nyonya Sari telah didiagnosis hipertensi dan baru-baru ini didapatkan nilai Risiko ASCVD (Atherosclerotic Cardiovascular Disease) sebesar 14%. Hasil pengukuran tekanan darahnya pada kunjungan hari ini adalah 135/88 mmHg.Berdasarkan target tekanan darah yang perlu dievaluasi oleh apoteker, manakah kesimpulan evaluasi yang PALING TEPAT mengenai status tekanan darah Nyonya Sari?

a)

Tekanan darah Nyonya Sari belum terkontrol, karena sistolik (135 mmHg) melebihi target <130 mmHg, yang seharusnya diterapkan pada semua pasien hipertensi.

b)

Tekanan darah Nyonya Sari sudah terkontrol, karena dengan Risiko ASCVD <15%, targetnya adalah <140/90 mmHg, dan hasil tekanan darahnya berada di bawah target tersebut.

c)

Tekanan darah Nyonya Sari belum terkontrol, karena nilai diastoliknya (88 mmHg) melebihi target yang sangat ketat (<80 mmHg) yang berlaku untuk semua kategori risiko.

d)

Risiko ASCVD-nya harus diabaikan; yang paling penting adalah mencapai target <130/80 mmHg, sehingga tekanan darah Nyonya Sari harus segera diturunkan.

4.

Nyonya Lina (55 tahun) adalah pasien diabetes melitus tipe 2. Riwayat Penyakit Sekarang menunjukkan bahwa selama 1 tahun terakhir, beliau mengonsumsi obat hipertensi Amlodipine 5 mg secara tidak rutin. Akibatnya, tekanan darahnya sering mencapai ≈160 mmHg, dan gula darahnya juga sering tinggi. Pada pemeriksaan mata, dokter mendiagnosis adanya kelainan pada mata di bagian retina. bManakah faktor utama yang paling berkontribusi terhadap munculnya dan potensi perburukan komplikasi mata yang dialami Nyonya Lina?

a)

Hanya usia pasien yang sudah memasuki 50-an. Komplikasi ini wajar terjadi seiring bertambahnya usia.

b)

Kombinasi antara kontrol glikemik yang buruk (gula darah tinggi) dan kontrol tekanan darah yang buruk (tekanan darah ≈160 mmHg karena ketidakpatuhan Amlodipine).

c)

Kerusakan mata ini murni disebabkan oleh dosis Amlodipine 5 mg yang terlalu rendah, bukan karena ketidakpatuhan minum obat.

d)

Gejala ini diakibatkan oleh pemeriksaan mata yang tidak rutin dilakukan setiap 1−2 tahun, bukan karena tekanan darah atau gula darah yang tinggi.

5.

Tuan Rudi (65 tahun) adalah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penurunan fungsi ginjal. Ia rutin mengonsumsi Metformin dan disuntik Insulin kerja cepat sesuai anjuran. Pagi ini, hanya 20 menit setelah menyuntik Insulin, ia tiba-tiba mengeluh pusing, berkeringat dingin, gemetar, dan dan langsung jatuh oleng Setelah dicek, gula darahnya adalah 55 mg/dL. Berdasarkan waktu timbulnya gejala manakah obat yang PALING TEPAT dicurigai sebagai penyebab utama gejala tersebut hipoglikemia akut yang dialami Tuan Rudi?

a)

Metformin, karena dosisnya mungkin tidak disesuaikan dengan penurunan fungsi ginjal Tuan Rudi, menyebabkan penumpukan obat di dalam darah.

b)

Kombinasi Metformin dan Insulin, karena semua obat diabetes bekerja sinergis dan memiliki risiko hipoglikemia yang sama tinggi.

c)

Insulin, karena sifatnya sebagai agen penurun gula darah yang poten, dengan waktu kerja cepat yang sesuai dengan timbulnya gejala menit setelah injeksi

d)

Tidak ada obat diabetes yang dicurigai, gejala tersebut adalah tanda khas dari kondisi jantung/ginjal yang memburuk pada pasien lansia.

6.

Seorang pasien menerima resep yang berisi tiga obat: Propylthiouracil, Atorvastatin, dan Metformin. Apoteker perlu memastikan bahwa setiap obat digunakan untuk indikasi yang tepat dan target terapinya tercapai. Manakah opsi yang paling akurat menjelaskan indikasi, target, dan mekanisme kerja utama dari obat Propylthiouracil dalam terapi pasien tersebut?

a)

Diindikasikan untuk penyakit Diabetes Melitus; Targetnya adalah mengontrol glukosa preprandial 80−130 mg/dL; Mekanisme kerjanya adalah menurunkan produksi insulin

b)

Diindikasikan untuk kondisi kelebihan hormon tiroid; Targetnya adalah mengurangi produksi hormon tiroid yang berlebihan; Mekanisme kerjanya adalah menghambat sintesis hormon tiroid.

c)

Diindikasikan untuk penyakit Hipotiroidisme; Targetnya adalah menggantikan hormon tiroid yang hilang; Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan metabolisme tubuh.

d)

Diindikasikan untuk penyakit Dislipidemia (kolesterol tinggi); Targetnya adalah menurunkan risiko ASCVD ≥15%; Mekanisme kerjanya adalah menghambat pembentukan kolesterol di hati.

7.

Tuan Riko (55 tahun) adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang baru saja beralih dari terapi oral ke terapi Insulin. Apoteker menjelaskan bahwa regimen Insulin Tuan Riko terdiri dari dua komponen utama: Insulin Basal (untuk mengontrol gula darah sepanjang hari) dan Insulin Prandial (untuk mengontrol lonjakan gula darah setelah makan). Apoteker menyajikan empat pernyataan mengenai klasifikasi Insulin. Manakah pernyataan yang BENAR?

a)

Insulin Glargine (merek: Lantus) adalah Insulin kerja pendek (Rapid-acting) dan diklasifikasikan sebagai Insulin Prandial.

b)

Insulin Detemir (merek: Levemir) adalah Insulin kerja menengah (Intermediate-acting) dan diklasifikasikan sebagai Insulin Prandial.

c)

Insulin Lispro adalah Insulin kerja sangat cepat (Rapid-acting) dan diklasifikasikan sebagai Insulin Prandial (Bolus).

d)

Insulin Glargine dan Insulin Lispro keduanya adalah Insulin Basal karena keduanya memiliki durasi kerja yang panjang.

8.

Nyonya Sari (62 tahun) adalah pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Setelah menjalani pemeriksaan rutin, diketahui ia mengalami Penyakit Ginjal Kronis (CKD) dimana hasil GFR 40 ml/menit . Dokter meminta rekomendasi apoteker mengenai obat anti-diabetes oral baru yang tidak hanya efektif mengontrol gula darah tetapi juga memberikan manfaat perlindungan renal.  Berdasarkan lokasi dan mekanisme kerja obat diabetes, manakah golongan obat yang PALING AMAN dan DIREKOMENDASIKAN untuk Nyonya Sari, terutama karena memberikan perlindungan ginjal?

a)

Sulfonylureas, karena obat ini bekerja di Pankreas dan meningkatkan sekresi insulin, dan memiliki risiko hipoglikemia tinggi.

b)

Biguanide (seperti Metformin), karena obat ini bekerja di Hati dan menurunkan produksi glukosa hepatik, tetapi harus dihentikan jika fungsi ginjal sangat menurun.

c)

SGLT2 inhibitors (Contoh: Dapagliflozin), karena obat ini bekerja di Ginjal dengan menghambat reabsorpsi glukosa, dan terbukti memberikan manfaat perlindungan ginjal yang signifikan pada pasien CKD.

d)

Thiazolidinedione (TZD), karena obat ini bekerja di Otot dengan meningkatkan sensitivitas insulin, tetapi dapat memperburuk gagal jantung kongestif.

9.

Tuan Deni (45 tahun) baru didiagnosis Hipertiroidisme. Ia mengeluh gejala yang sangat mengganggu, yaitu jantung berdebar kencang (palpitasi), tangan gemetar (tremor), dan sering merasa sangat kepanasan. Dokter memutuskan untuk segera meresepkan Propranolol bersamaan dengan obat anti-tiroidnya. Berdasarkan tujuan cepat (mengontrol gejala hiper-metabolik) dan cara kerjanya (memblokir efek hormon tiroid berlebihan pada jantung dan sistem saraf), manakah identifikasi golongan obat dan jenis selektivitas yang paling tepat untuk Propranolol ini?

a)

Golongan Penghambat Sintesis Hormon Tiroid

b)

Golongan Penghambat Kanal Kalsium (CCB) Non-dihidropiridin.

c)

Golongan Beta-Blocker (Non-selektif (β1 dan β2).

d)

Golongan Beta-Blocker (Kardio-selektif dominan β1 saja)

10.

Tuan Ali (40 tahun) adalah seorang apoteker yang sedang meninjau beberapa pernyataan klinis terkait terapi gangguan tiroid dan obat-obat terkait. Terdapat empat poin analisis yang harus ia evaluasi kebenarannya:

1)    PTU (Propylthiouracil) digunakan untuk pasien hamil yang sudah memasuki minggu ke-16 hingga minggu ke-18 kehamilan.

2)    Efek samping serius yang perlu dimonitor dari Methimazole dan Propylthiouracil meliputi Hepatotoksisitas (kerusakan hati) yang ditandai dengan peningkatan SGOT/SGPT, dan Agranulositosis ditandai dengan demam, sakit tenggorokan dan penurunan jumlah Neutrofil.

3)    Agranulositosis didefinisikan secara klinis sebagai penurunan jumlah Neutrofil di bawah 500 sel/mm3.

4)    Levotiroksin digunakan untuk mengobati Hipertiroidisme, dan efektivitasnya dimonitor dengan mengamati penurunan kadar TSH.

a)

Pernyataan 1, 2, dan 4 benar.

b)

Pernyataan 1 dan 3 benar.

c)

Pernyataan 2 dan 3 benar.

d)

Pernyataan 1, 2, dan 3 benar.

11.

Tuan Arya (55 tahun) baru saja dirawat di rumah sakit. Hasil laboratoriumnya menunjukkan peningkatan Serum Kreatinin (2.0 mg/dL) dari nilai dasarnya (1.2 mg/dL) dalam waktu 48 jam, yang mengindikasikan AKI (Acute Kidney Injury). Tuan Arya rutin mengonsumsi obat yang eliminasi utamanya melalui ginjal. Apoteker sedang berdiskusi mengenai perlunya penyesuaian dosis obat Tuan Arya. Manakah pernyataan yang paling akurat mengenai evaluasi status ginjal dan penyesuaian dosis dalam kasus ini?

a)

Penyesuaian dosis obat harus segera dilakukan karena kriteria AKI telah terpenuhi (peningkatan SCr ≥0.3 mg/dL dalam 48 jam), yang menunjukkan penurunan fungsi ginjal permanen.

b)

Penyesuaian dosis obat tidak mutlak diperlukan saat ini, karena AKI bersifat akut; penyesuaian dosis obat yang eliminasi ginjalnya tinggi hanya menjadi wajib jika kondisi ginjal bertahan lebih dari 90 hari dan berkembang menjadi CKD.

c)

Peningkatan SCr Tuan Arya belum memenuhi kriteria AKI, karena peningkatan harus mencapai minimal 50% dari SCr dasar dalam 7 hari, sehingga penyesuaian dosis ditunda.

d)

Obat diabetes dengan risiko hipoglikemia tinggi seperti Sulfonylureas dan Insulin harus segera dihentikan karena AKI selalu menyebabkan gagal ginjal berat dan hipoglikemia.

12.

Tuan Danu (68 tahun), seorang pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi, memiliki diagnosis tambahan Penyakit Ginjal Kronis (CKD) Tahap 4 (GFR 25 mL/menit). Ia mengonsumsi Metformin, Lisinopril, dan Ibuprofen sesekali untuk nyeri lutut. Hasil laboratoriumnya menunjukkan Hemoglobin (9.2 g/dL) dan Serum Kreatinin (2.8 mg/dL). Apoteker melakukan tinjauan terapi dan menyusun beberapa pernyataan mengenai intervensi dan pemantauan yang diperlukan. Manakah kombinasi pernyataan yang secara keseluruhan BENAR mengenai peran apoteker dalam manajemen Tuan Danu?

1)    Apoteker harus merekomendasikan untuk menghentikan Ibuprofen karena termasuk golongan NSAID yang dapat menyebabkan nefrotoksisitas dan memperburuk CKD Tuan Danu.

2)    Apoteker harus memeriksa Drug Information Handbook (DIH) untuk memastikan dosis Metformin telah disesuaikan atau dihentikan, karena obat ini berisiko Asidosis Laktat pada CKD lanjut.

3)    Jika Tuan Danu memulai terapi dialisis, apoteker harus menganalisis apakah obat Tuan Danu merupakan obat yang terdialisis (dialyzable); jika ya, mungkin diperlukan penambahan atau perubahan waktu dosis setelah sesi dialisis.

4)    Apoteker harus mengidentifikasi perlunya terapi Erythropoiesis Stimulating Agent (ESA/Epo) karena Tuan Danu mengalami Anemia sebagai komplikasi CKD (Hb 9.2 g/dL, target inisiasi ESA adalah Hb<10 g/dL).

a)

Pernyataan 1, 2, dan 3 benar.

b)

Pernyataan 1 dan 4 benar.

c)

Pernyataan 2, 3, dan 4 benar.

d)

Pernyataan 1, 2, 3, dan 4 benar.

13.

Tuan Budi (70 tahun) adalah pasien rawat inap dengan diagnosis Penyakit Ginjal Kronis (CKD). Dokter meminta apoteker untuk mengevaluasi semua obat yang akan diresepkan untuk memastikan dosisnya aman. Obat-obatan Tuan Budi memiliki eliminasi yang signifikan melalui ginjal. Berdasarkan praktik klinis farmasi, manakah parameter yang PALING KRITIS harus dicari dan diverifikasi oleh apoteker dalam rekam medik pasien untuk menentukan perlunya penyesuaian dosis obat?

a)

Nilai Serum Kreatinin (SCr), karena SCr adalah penanda biokimia langsung dari penurunan fungsi ginjal pada CKD.

b)

Memastikan apakah diagnosisnya adalah CKD atau AKI, karena penyesuaian dosis obat permanen hanya diwajibkan untuk CKD (jika kondisi ginjal bertahan ≥90 hari), sedangkan AKI seringkali reversibel.

c)

Perkiraan Laju Filtrasi Glomerulus (GFR), yang didapatkan dari perhitungan Cockcroft-Gault atau MDRD, karena penyesuaian dosis obat didasarkan pada GFR dan bukan hanya SCr.

d)

Kadar Elektrolit Serum (Kalium dan Natrium), untuk menilai risiko komplikasi aritmia akibat penurunan ekskresi oleh ginjal.

14.

Tuan Hadi (72 tahun) adalah pasien dengan riwayat Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi yang kini didiagnosis Penyakit Ginjal Kronis (CKD) Tahap 4 (GFR 20 mL/menit). Selama sebulan terakhir, ia sering mengeluh lemas dan cepat lelah. Hasil lab terbaru menunjukkan Hemoglobin (Hb) 8.8 g/dL dan kadar Kalium serum 5.5 mEq/L (Normal: 3.5−5.0 mEq/L). Ia rutin mengonsumsi Metformin, Lisinopril, dan juga Ibuprofen yang dibeli bebas untuk nyeri sendi lutut. Apoteker melakukan tinjauan kritis terhadap rekam medik Tuan Hadi. Manakah kombinasi analisis yang paling tepat dan mencakup intervensi kritis yang harus dilakukan apoteker?

1)    Toksisitas Obat dan Nefrotoksisitas: Penggunaan Ibuprofen harus segera dihentikan karena termasuk golongan NSAID yang dapat menyebabkan nefrotoksisitas dan memperburuk kondisi CKD Tuan Hadi.

2)    Penyesuaian Dosis Obat: Apoteker harus segera menghitung ulang GFR Tuan Hadi menggunakan formula Cockcroft-Gault/MDRD dan memeriksa apakah dosis Metformin sudah disesuaikan atau perlu dihentikan karena adanya penurunan fungsi ginjal yang berat.

3)    Anemia sebagai Komplikasi CKD: Apoteker harus mengidentifikasi perlunya terapi Erythropoiesis Stimulating Agent (ESA) karena Anemia (Hb 9 g/dL) disebabkan oleh pengurangan jumlah nefron yang berfungsi yang menyebabkan penurunan produksi ginjal EPO.

4)    Komplikasi Elektrolit: Tuan Hadi mengalami Hiperkalemia (5.5 mEq/L), yang kemungkinan diperburuk oleh obat Lisinopril (ACEI) dan penurunan ekskresi Kalium akibat CKD.

a)

Pernyataan 1 dan 4 benar.

b)

Pernyataan 2, 3, dan 4 benar.

c)

Pernyataan 1, 2, dan 4 benar.

d)

Pernyataan 1, 2, 3, dan 4 benar.

15.

Tuan Herman (60 tahun) adalah pasien dengan riwayat Diabetes Melitus dan Gout yang baru dirawat dengan infeksi tulang serius, dan fungsi ginjalnya mulai menurun (AKI dicurigai).Data Obat Tuan Herman: Gentamicin (Aminoglycoside) - Injeksi IV untuk infeksi, Allopurinol - Rutin diminum untuk Gout dan Ibuprofen (NSAID) - Digunakan sesekali untuk nyeri. Dokter berencana menambahkan Methotrexate (MTX) dosis tinggi untuk kondisi autoimun yang dicurigai. Apoteker harus segera meninjau semua obat yang berpotensi menyebabkan atau memperburuk AKI. Manakah analisis risiko nefrotoksik yang paling tepat dan komprehensif untuk Tuan Herman?

a)

Hanya Gentamicin yang perlu dihentikan, karena obat ini menyebabkan Nekrosis Tubular Akut. Obat lain seperti Allopurinol dan Ibuprofen memiliki risiko nefrotoksik yang rendah dan dapat dilanjutkan.

b)

Gentamicin harus dihentikan. Ibuprofen harus dihentikan karena menyebabkan Vasokonstriksi arteri ginjal. Methotrexate dosis tinggi harus dihindari karena berisiko Nefropati Kristal dan Allopurinol juga berpotensi menyebabkan Nefropati Kristal.

c)

Allopurinol harus segera dihentikan. Gentamicin dan Ibuprofen aman dilanjutkan selama diberikan hidrasi yang cukup.

d)

Ibuprofen harus segera dihentikan. Methotrexate dosis tinggi aman ditambahkan karena dosisnya akan dihitung berdasarkan GFR saat ini.

16.

Tuan Doni (60 tahun) didiagnosis AKI dan saat ini mengalami volume overload (kelebihan cairan). Pemeriksaan menunjukkan Klirens Kreatinin (CrCl) Tuan Doni adalah 18 mL/menit. Dokter meresepkan Furosemide IV. Sebagai Apoteker, manakah pernyataan yang paling tepat mengenai tujuan dan dosis awal Furosemide dalam konteks AKI Tuan Doni?

a)

Tujuan Furosemide diberikan untuk mempercepat pemulihan fungsi ginjal dan meningkatkan GFR pasien. Dosis Awal: Dosis harus dimulai dari 40−80 mg IV setiap 12 jam.


b)

Tujuan Furosemide diberikan hanya untuk mengatasi volume overload dan edema, bukan untuk pemulihan fungsi ginjal. Dosis Awal: Dosis harus dimulai dari 40−80 mg IV setiap 12 jam.

c)

Tujuan: Furosemide diberikan untuk mencegah komplikasi anemia dan mengatur elektrolit. Dosis Awal: Dosis harus dimulai dari 40 mg IV setiap 12 jam karena CrCl nya 18 mL/menit.

d)

Tujuan: Furosemide diberikan untuk mengatasi Oliguria (<0.5 mL/kg/jam). Dosis Awal: Dosis harus dimulai dari 10−20 mg IV setiap 12 jam.

17.

Tuan Arya (30 tahun) adalah pasien Asma persisten yang rutin menggunakan inhaler pengontrol (controller). Ia datang ke Apotek dengan keluhan munculnya bercak putih seperti sariawan di lidah dan rongga mulutnya, yang disebabkan oleh deposit obat. Apoteker memeriksa rekam medik dan mengidentifikasi bahwa Tuan Arya menggunakan Budesonide Inhaler/Fluticasone, Manakah kombinasi yang paling tepat yang mengidentifikasi golongan obat, efek samping, dan konseling pencegahan yang harus disampaikan Apoteker?

a)

Obat/Golongan: Salbutamol (SABA). Efek Samping: Kandidiasis Oral. Pencegahan: Ganti obat menjadi LAMA karena risiko toksisitas jantung.

b)

Obat/Golongan: Tiotropium (LAMA). Efek Samping: Mulut Kering. Pencegahan: Tingkatkan dosis harian untuk mencapai reversibilitas aliran udara.

c)

Obat/Golongan: Budesonide/fluticasone (Kortikosteroid Inhalasi/ICS), yang merupakan Anti-inflamasi. Efek Samping: Kandidiasis Oral (Sariawan Putih). Pencegahan: Pasien harus berkumur dan membuang airnya setelah setiap kali penggunaan untuk membersihkan residu obat.

d)

Obat/Golongan: Budesonide/fluticasone (ICS). Efek Samping: Sesak napas akut. Pencegahan: Minum air sebelum menggunakan inhaler untuk melarutkan residu obat.

18.

Seorang pasien laki-laki berusia 55 tahun datang ke klinik untuk kontrol rutin. Pasien didiagnosis menderita Hipertensi Stage 2 dengan tekanan darah saat ini 160/100 mmHg. Pasien juga memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis, yaitu Asma yang dikontrol dengan salbutamol inhaler saat serangan. Pasien belum pernah menerima terapi antihipertensi sebelumnya. Berdasarkan riwayat dan kondisi pasien, golongan obat antihipertensi manakah yang dikontraindikasikan (seharusnya dihindari) untuk diresepkan kepada pasien ini?

a)

Diuretik Thiazide misalnya: Hidroklorotiazid/HCT.

b)

Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors/ACEI misalnya: Captopril

c)

Angiotensin II Receptor Blockers/ARB misalnya: Valsartan

d)

Beta-Blockers Selektif misalnya: Atenolol

e)

Beta-Blockers Non-Selektif misalnya: Propranolol

19.

Seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun dengan riwayat Asma sedang-persisten dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena serangan asma akut. Pasien menerima terapi awal berupa nebulisasi salbutamol dan Deksametason (golongan kortikosteroid sistemik) untuk meredakan inflamasi akut. Setelah serangan teratasi, dokter merencanakan pemulangan pasien dan melanjutkan terapi Asma. Diketahui pasien juga memiliki riwayat Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) yang terkontrol dengan Metformin. Saat diperiksa, kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) pasien melonjak hingga 350 mg/dL. Apoteker menyarankan dokter untuk mengganti Deksametason tablet dengan Budesonide inhaler. Apa alasan utama rekomendasi pergantian Deksametason sistemik menjadi Budesonide inhaler pada pasien ini?

a)

Budesonide inhaler memiliki potensi anti-inflamasi yang lebih kuat dibandingkan Deksametason.

b)

  Budesonide inhaler tidak berinteraksi dengan Metformin, sementara Deksametason berinteraksi.

c)

Budesonide inhaler memiliki efek sistemik yang minimal, sehingga tidak signifikan meningkatkan kadar gula darah pasien DM Tipe 2.

d)

Penggunaan inhaler lebih cepat meredakan gejala asma dibandingkan penggunaan obat oral seperti Deksametason.

e)

Budesonide memiliki durasi kerja yang lebih panjang daripada Deksametason, sehingga lebih efektif mengontrol asma sedang-persisten.

20.

Seorang pasien laki-laki berusia 65 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan utama sesak napas (dispnea) yang semakin memberat saat beraktivitas dan batuk produktif (berdahak) yang dialami hampir setiap hari selama dua bulan terakhir. Pasien memiliki riwayat merokok berat selama 40 tahun (sekitar 30 bungkus-tahun) dan telah berhenti merokok 5 tahun lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosis pasien menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dengan hasil spirometri menunjukkan FEV1/FVC < 0.70 pasca-bronkodilator. Berdasarkan pedoman terapi PPOK (GOLD/Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease), manakah golongan bronkodilator lini pertama yang paling tepat untuk diberikan kepada pasien ini?

a)

Short-Acting Beta-Agonist (SABA) seperti Salbutamol

b)

Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA) seperti Ipratropium

c)

Long-Acting Beta-Agonist (LABA) seperti Salmeterol

d)

Long-Acting Muscarinic Antagonist (LAMA) seperti Tiotropium

e)

Kombinasi Kortikosteroid Inhalasi (ICS) dan LABA

21.

Seorang pasien laki-laki berusia 68 tahun dengan riwayat PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) datang ke Apotek untuk mengambil resep. Selain obat bronkodilator kerja panjang (Long-Acting Muscarinic Antagonist/LAMA), dokter juga meresepkan Asetilsistein (N-Acetylcysteine/Fluimucil) tablet 600 mg, diminum 2 kali sehari. Pasien sering mengeluhkan batuk dengan produksi sputum (dahak) yang sangat kental dan sulit dikeluarkan. Apa mekanisme aksi Asetilsistein sehingga dapat memberikan manfaat pada pasien PPOK tersebut?

a)

Merelaksasi otot polos bronkus, menyebabkan bronkodilatasi.

b)

Menghambat aktivitas enzim fosfodiesterase, meningkatkan cAMP.

c)

Bekerja sebagai anti-inflamasi kuat di saluran napas.

d)

Memutus ikatan disulfida dalam mukoprotein dahak, sehingga mengencerkan dahak (efek mukolitik).

e)

Menekan pusat batuk di otak, mengurangi frekuensi batuk.

22.

Seorang pasien laki-laki berusia 70 tahun dengan riwayat PPOK datang ke UGD dengan keluhan sesak napas yang meningkat tajam (eksaserbasi). Pasien juga mengeluhkan batuk yang bertambah parah dan kesulitan mengeluarkan dahak selama 3 hari terakhir. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan: Peningkatan Sesak Napas (dari biasanya), Produksi dahak (sputum) meningkat dari harian normal, Perubahan warna dahak menjadi hijau kental (sebelumnya putih bening) dan Suhu tubuh: 37,1 °C (tidak demam). Pasien telah menggunakan bronkodilator lebih sering dari biasanya, namun gejala tidak membaik. Dokter mempertimbangkan penambahan terapi antibiotik. Berdasarkan kondisi klinis pasien di atas, apa indikasi yang paling rasional untuk penambahan terapi antibiotik?

a)

Pasien didiagnosis mengalami PPOK

b)

Pasien mengalami peningkatan sesak napas yang signifikan.

c)

Pasien tidak mengalami demam (suhu tubuh 37,1 °C).

d)

Pasien menunjukkan dua dari tiga gejala kardinal eksaserbasi PPOK, yaitu peningkatan dispnea dan perubahan volume/purulensi sputum.

e)

Pasien mengalami kegagalan terapi bronkodilator kerja pendek (SABA).

23.

Seorang pasien perempuan berusia 68 tahun dengan riwayat PPOK datang ke klinik dengan gejala eksaserbasi akut sejak 4 hari lalu. Pasien mengeluhkan sesak napas yang memburuk, batuk yang lebih intens, dan dahak yang awalnya bening kini berubah menjadi kuning kental dalam jumlah yang banyak. dokter meresepkan Amoksisilin/Klavulanat (Amoxicillin/Clavulanate) atau azithromicin. Berapakah durasi terapi antibiotik yang direkomendasikan untuk pasien PPOK dengan eksaserbasi akut infeksi bakteri  sesuai dengan pedoman terapi di GOLD?

a)

3 hari

b)

5 hari

c)

7 hari

d)

10 hari

e)

14 hari

24.

Seorang mahasiswa apoteker diminta untuk merangkum perbedaan esensial antara Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dalam hal patofisiologi, reversibilitas, dan fokus farmakoterapi lini pertama, untuk persiapan ujian. Manakah pernyataan di bawah ini yang paling tepat dan lengkap dalam membandingkan kedua penyakit tersebut?

a)

Asma bersifat ireversibel, utamanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. Fokus terapi utamanya adalah Bronkodilator Kerja Panjang (LAMA/LABA).

b)

PPOK bersifat reversibel sebagian, dicirikan oleh inflamasi dominan Eosinofil. Obat lini pertama yang paling efektif sebagai controller adalah Kortikosteroid Inhalasi (ICS).

c)

Asma dicirikan oleh inflamasi kronis yang didominasi oleh Eosinofil dan bersifat reversibel. Fokus terapi controller utamanya adalah Kortikosteroid Inhalasi (ICS).

d)

PPOK dicirikan oleh keterbatasan aliran udara yang persisten (ireversibel) dan inflamasi dominan Netrofil. Fokus terapi lini pertama untuk gejala utamanya adalah Bronkodilator Kerja Panjang (LAMA atau LABA)

e)

     Asma dan PPOK memiliki patofisiologi dan respons terapi yang sama, yaitu bronkospasme. Oleh karena itu, kedua kondisi harus ditangani dengan Kombinasi ICS/LABA sebagai terapi controller tunggal.

25.

Seorang mahasiswa apoteker sedang mempelajari pedoman terapi untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Dalam pedoman tersebut, sering ditemukan singkatan obat inhalasi kerja panjang seperti LAMA dan LABA. Manakah pilihan berikut yang secara tepat menyebutkan kepanjangan singkatan LAMA dan contoh obat yang termasuk dalam golongan tersebut, yang merupakan lini utama terapi controller pada PPOK?

a)

Long-Acting Beta-Agonist; Contoh: Salmeterol

b)

Long-Acting Muscarinic Antagonist; Contoh: Ipratropium

c)

Short-Acting Muscarinic Antagonist; Contoh: Ipratropium

d)

Long-Acting Macrolide Antibiotic; Contoh: Azitromisin

26.

Seorang pasien laki-laki berusia 58 tahun dengan riwayat PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) dibawa ke UGD karena mengalami eksaserbasi akut. Dokter memberikan terapi nebulisasi kombinasi yang mengandung Ipratropium Bromida dan Salbutamol. Pasien bertanya kepada apoteker mengenai cara kerja kedua obat tersebut dan efek samping apa yang harus diwaspadai. Apoteker juga harus mengingat bahwa ada obat Asma yang membutuhkan pemantauan organ ketat, seperti Zileuton. Manakah pilihan berikut yang secara tepat menjelaskan Mekanisme Kerja Utama kombinasi Ipratropium Bromida dan Salbutamol DAN ESO serius dari obat Zileuton?

a)

Ipratropium (SAMA) memblokir reseptor beta-2; Salbutamol (SABA) mengaktifkan reseptor muskarinik. Sementara itu, Zileuton termasuk golongan Antagonis Leukotrien dengan ESO utamanya adalah Nefrotoksisitas.

b)

Ipratropium (SAMA) memblokir reseptor muskarinik; Salbutamol (SABA) mengaktifkan reseptor beta-2. Sementara itu, Zileuton termasuk golongan Penghambat 5-LO dengan ESO utamanya adalah Hipokalemia.

c)

Ipratropium (SAMA) adalah mukolitik; Salbutamol (SABA) adalah anti-inflamasi. Sementara itu, Zileuton termasuk golongan Penghambat 5-LO dengan ESO utamanya adalah Peningkatan Gula Darah.

d)

Ipratropium (SAMA) memblokir reseptor muskarinik; Salbutamol (SABA) mengaktifkan reseptor beta-2. Sementara itu, Zileuton termasuk golongan Penghambat 5-LO dengan ESO utamanya adalah Hepatotoksisitas (peningkatan ALT/AST).

e)

Ipratropium (SAMA) meningkatkan klirens mukosiliar; Salbutamol (SABA) memblokir reseptor leukotrien. Sementara itu, Zileuton termasuk golongan Antikolinergik dengan ESO utamanya adalah Retensi urin.

27.

Ny. Aminah (78 tahun) baru saja didiagnosis menderita Penyakit Alzheimer Stadium Ringan-Sedang. Anaknya, Tn. Rahmat, datang menemui Apoteker dengan membawa resep Donepezil (Penghambat Kolinesterase). Tn. Rahmat bertanya, "Apakah obat ini akan menyembuhkan ibu saya? Saya berharap ibu bisa kembali mengingat semua hal dan menjalani hidup normal seperti dulu. Apa sebenarnya tujuan jangka panjang dari terapi Donepezil ini?". Sebagai Apoteker, manakah jawaban yang paling tepat dan akurat menjelaskan prinsip dan tujuan utama dari farmakoterapi (Donepezil) untuk Penyakit Alzheimer?

a)

Tujuan utama terapi adalah untuk menyembuhkan penyakit, mengembalikan fungsi memori yang hilang, dan mencapai pemulihan total dalam waktu 6 bulan.

b)

Terapi Donepezil bertujuan untuk meningkatkan berat badan dan nafsu makan pasien, yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas hidup.

c)

Prinsip terapi adalah memperlambat perkembangan penurunan kognitif dan fungsional, serta memelihara kemampuan fungsional pasien (misalnya, kemampuan mandiri berpakaian dan mandi) selama mungkin, bukan untuk menyembuhkan.

d)

Donepezil hanya berfungsi untuk mengobati gejala perilaku yang mengganggu (agitasi dan halusinasi), sedangkan gejala kognitif tidak bisa diatasi.

e)

Tujuan terapi adalah untuk menggantikan sel saraf yang mati di otak sehingga pasien dapat berinteraksi sosial dengan lebih baik.

28.

Tn. Budi (75 tahun) didiagnosis menderita Penyakit Alzheimer Stadium Ringan. Dokter memulai terapi dengan Donepezil sekali sehari. Setelah satu bulan, Tn. Budi tidak menunjukkan keluhan efek samping (ESO) serius dan fungsi kognitifnya belum mencapai perbaikan maksimal. Dokter memutuskan untuk meningkatkan dosis menjadi sekali sehari. Tn. Budi dan istrinya bingung dan bertanya kepada Apoteker: "Mengapa dosis harus dinaikkan secara bertahap (titrasi) dari ke ? Bukankah lebih baik langsung diberikan dosis agar efeknya cepat terasa? Sebagai Apoteker, manakah penjelasan yang paling tepat dan akurat mengenai prinsip titrasi dosis Donepezil dari ke dalam tatalaksana Alzheimer?

a)

Titrasi dilakukan untuk memastikan pasien mencapai rentang dosis toksik secepat mungkin, karena dosis jauh lebih efektif dalam menyembuhkan Alzheimer.

b)

Titrasi dosis dilakukan untuk meningkatkan absorbsi obat di usus, karena Donepezil sulit diserap tubuh.

c)

Prinsip titrasi lambat (biasanya setelah 4-6 minggu) dilakukan untuk meminimalkan risiko efek samping yang berkaitan dengan peningkatan asetilkolin, terutama gejala gastrointestinal (mual, muntah, diare), sambil mencapai dosis efektif terapeutik.

d)

Dosis hanya digunakan untuk mengobati gejala perilaku, sedangkan dosis adalah untuk mengobati gejala kognitif.

e)

Titrasi tidak diperlukan; dosis harus langsung dinaikkan ke karena Donepezil memiliki jendela terapeutik yang sangat lebar.

29.

Nn. Sari (22 tahun) adalah pasien Epilepsi dengan kejang tonik-klonik umum yang sudah terkontrol dengan baik menggunakan Fenitoin dua kali sehari selama dua tahun terakhir. Ia telah bebas kejang total. Karena ingin mencoba menghentikan obat dan merasa "bosan" minum pil, Nn. Sari menghentikan Fenitoin secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter atau Apoteker, berharap ia sudah sembuh. Tiga hari kemudian, ia dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena mengalami kejang berkepanjangan dan berulang. Tindakan Nn. Sari menghentikan Fenitoin secara tiba-tiba melanggar prinsip fundamental dalam farmakoterapi Epilepsi. Larangan atau prinsip terpenting apakah yang dilanggar oleh Nn. Sari yang menjadi penyebab langsung kegagalan terapi dan kejang berulang (Status Epileptikus)?

a)

Pasien dilarang keras mengonsumsi alkohol saat menggunakan Fenitoin, karena dapat memicu kejang.

.

b)

Prinsip terapi epilepsi adalah menggunakan obat dosis tertinggi ( dua kali sehari) sejak awal.

c)

Prinsip terapi mengharuskan pasien mengganti obat setiap enam bulan sekali untuk mencegah resistensi obat.

d)

Pasien dilarang keras menghentikan obat anti-kejang (AED) secara tiba-tiba (abrupt cessation); penghentian obat harus selalu dilakukan secara bertahap (tapering off) dan di bawah pengawasan dokter, bahkan setelah lama bebas kejang.

e)

Fenitoin adalah kontraindikasi mutlak pada pasien wanita usia subur

30.

Nn. Shinta (25 tahun) adalah pasien Epilepsi yang mengonsumsi Karbamazepin (sebagai obat anti-kejang/AED) untuk mengontrol kejang tonik-kloniknya. Ia juga berencana menikah dan ingin menggunakan Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK) yang mengandung estrogen dan progestin sebagai metode kontrasepsi utama. Nn. Shinta menanyakan kepada Apoteker apakah ada risiko jika ia mengonsumsi Karbamazepin bersamaan dengan pil KB-nya. Sebagai Apoteker, interaksi obat penting manakah yang harus Anda sampaikan kepada Nn. Shinta, dan apa konsekuensi klinis yang paling mungkin terjadi?

a)

Karbamazepin adalah inhibitor kuat enzim CYP450, sehingga akan meningkatkan kadar hormon kontrasepsi, menyebabkan efek samping estrogenik berlebihan seperti mual dan nyeri payudara.

b)

Karbamazepin adalah induktor enzim sitokrom P450 (CYP3A4) yang kuat, yang akan meningkatkan metabolisme komponen hormon (estrogen dan progestin) dalam KOK, sehingga menurunkan kadar dan efektivitas kontrasepsi, meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan.

c)

Karbamazepin mengurangi kadar asam folat, sehingga harus ditingkatkan dosis pil KB yang mengandung asam folat.

d)

Kontrasepsi oral akan meningkatkan kadar Karbamazepin, yang berpotensi menyebabkan toksisitas neurologis seperti ataksia atau diplopia.

e)

Tidak ada interaksi klinis yang signifikan yang perlu dikhawatirkan; kedua obat dapat digunakan secara bersamaan dengan aman

31.

Tn. David (45 tahun) dibawa ke UGD karena mengalami Status Epileptikus (kejang tonik-klonik umum yang berlangsung menit atau berulang tanpa pemulihan). Tim UGD harus segera menghentikan kejang untuk mencegah kerusakan otak. Dalam tatalaksana lini pertama Status Epileptikus, obat manakah dari golongan berikut yang direkomendasikan secara luas untuk diberikan secara Intravena (IV) guna menghentikan kejang akut dengan cepat, serta apa mekanisme kerja utamanya?

a)

Fenitoin IV, karena menghambat voltage-gated sodium channels.

b)

Benzodiazepin IV (misalnya Lorazepam atau Diazepam), karena meningkatkan aktivitas GABA (neurotransmiter inhibitorik) di otak.

c)

Furosemid IV, karena mengurangi edema serebral.

d)

Levetiracetam IV, karena ini adalah AED yang paling aman.

e)

Kortikosteroid IV, karena mengurangi inflamasi.

32.

Tn. Wira (68 tahun) didiagnosis menderita Penyakit Parkinson. Dokter menjelaskan bahwa gejala motoriknya (tremor, kaku, dan lambat bergerak) disebabkan oleh defisiensi atau kekurangan kadar suatu Neurotransmiter Utama di area otak yang mengatur gerakan. Untuk mengatasi defisiensi ini, terapi farmakologi utama dirancang untuk mengintervensi kadar neurotransmiter yang kurang tersebut di otak. Apa prinsip umum dan tujuan utama dari farmakoterapi lini pertama untuk Penyakit Parkinson, dan bagaimana obat-obatan tersebut mencapai tujuan tersebut?

a)

kelebihan Asetilkolin adalah penyebab utama Parkinson.

b)

Prinsip terapi adalah meningkatkan kadar Neurotransmiter Utama yang Hilang yaitu Dopamin di otak yang mengatur gerakan, karena defisiensi zat ini menyebabkan ketidakseimbangan motorik.

c)

Prinsip terapi adalah menghambat reseptor Glutamat di otak untuk mengurangi eksitasi yang berlebihan, yang merupakan penyebab utama tremor.

d)

Prinsip terapi adalah memberikan obat yang berfungsi menghancurkan sel saraf yang tersisa di otak agar pertumbuhan sel baru lebih cepat.

e)

Prinsip terapi adalah memblokir reseptor serotinon dan norepinefrin untuk meredakan gejala non-motorik.

33.

Tn. Haris (58 tahun) adalah pasien Kanker Paru stadium lanjut dan mengeluhkan nyeri kronis parah dengan skala . Untuk mengelola nyeri terobosannya, dokter telah meresepkan Morfin Oral Lepas Cepat (Immediate Release), yang dapat diminum setiap jam jika diperlukan (PRN). Setelah hari, Tn. Haris datang ke Apotek ditemani anaknya. Anak Tn. Haris melaporkan bahwa ayahnya sering mengantuk, sulit buang air besar, dan meskipun sudah minum Morfin, nyerinya hanya turun sebentar ke skala , dan ia harus minum obat setiap 3 jam untuk meredakannya. Sebagai Apoteker yang bertugas, manakah dari opsi berikut yang paling tepat mencakup parameter evaluasi efektivitas utama dan efek samping (ESO) krusial yang harus Anda monitor dan berikan intervensi untuk golongan opioid?

a)

Evaluasi Efektivitas: Pengurangan frekuensi urinasi. ESO yang Dimonitor: Hipoglikemia dan Hipotensi.

b)

Evaluasi Efektivitas: Skala nyeri (VAS) harus turun, ESO yang Dimonitor: Hipertermia.

c)

Evaluasi Efektivitas: Penurunan skala nyeri ke tingkat yang dapat diterima (misalnya ) dan penurunan penggunaan dosis PRN. ESO yang Dimonitor: Depresi pernapasan, konstipasi, dan sedasi.

d)

Evaluasi Efektivitas: Peningkatan berat badan dan kadar hemoglobin. ESO yang Dimonitor: Perubahan warna kulit dan tinitus.

e)

Evaluasi Efektivitas: Pengurangan dosis obat kemoterapi. ESO yang Dimonitor: Kejang.

34.

Ny. Lia (38 tahun) datang ke klinik dengan serangan sakit kepala parah yang dicurigai sebagai Migrain. Nyeri ini sangat hebat (skala 8/10) dan sudah berlangsung lama (lebih dari 6 jam). Ny. Lia sudah mencoba minum obat pereda nyeri bebas (OTC), tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Untuk menghentikan serangan yang membandel dan kuat ini, tim medis perlu segera memberikan obat abortif yang memiliki efek kuat untuk menyebabkan penyempitan pembuluh darah di kepala. Ny. Lia tidak memiliki riwayat masalah jantung atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Berdasarkan kegagalan terapi lini pertama dan kebutuhan obat yang kuat, manakah dari golongan obat berikut yang paling cocok dan tepat direkomendasikan sebagai terapi akut untuk menghentikan serangan Migrain Ny. Lia?

a)

Alkaloid Ergot (Ergotamin/Dihidroergotamin)

b)

Antagonis Reseptor NMDA (misalnya Memantine)

c)

Beta-Blockers (misalnya Propranolol)

d)

Penghambat Enzim Asetilkolinesterase (misalnya Donepezil)

e)

NSAID (misalnya ibuprofen)

35.

An. Ratih (6 tahun) didiagnosis mengalami kejang umum dan memulai terapi dengan Asam Valproat (Valproic Acid). Dokter menekankan pentingnya pemantauan rutin untuk memastikan obat efektif dan aman. Ibu An. Ratih khawatir karena mendengar Asam Valproat dapat memiliki efek samping serius. Sebagai Apoteker, manakah dari kombinasi Efek Samping Serius dan Parameter Laboratorium berikut yang paling krusial untuk dimonitor secara ketat selama An. Ratih menjalani terapi Asam Valproat, terutama pada anak-anak?

a)

ESO Serius yang Diwaspadai: Hipotensi dan Ataksia. Parameter Laboratorium: Kadar elektrolit (Natrium).

b)

ESO Serius yang Diwaspadai: Hepatotoksisitas (Kerusakan Hati) dan Pankreatitis. Parameter Laboratorium: Enzim Hati (ALT/AST) dan Amilase/Lipase.

c)

ESO Serius yang Diwaspadai: Sindrom Stevens-Johnson (SJS) dan Lupus. Parameter Laboratorium: Sel darah putih (Leukosit).

d)

ESO Serius yang Diwaspadai: Anemia dan Gangguan Penglihatan. Parameter Laboratorium: Glukosa darah puasa.

e)

ESO Serius yang Diwaspadai: Efek Antikolinergik dan Peningkatan Berat Badan. Parameter Laboratorium: Tes fungsi ginjal (Kreatinin).

36.

Tn. Alex ( tahun) didiagnosis dan mengeluhkan gejala heartburn (rasa panas di dada) yang sering berulang. Dokter meresepkan Ranitidine (golongan ). Tn. Alex bertanya kepada Apoteker: "Bagaimana cara kerja obat ini di lambung saya?" Sebagai Apoteker, manakah penjelasan yang paling tepat dan akurat mengenai mekanisme molekuler Ranitidine (H2 RA) dalam menghambat sekresi asam lambung?

a)

Ranitidine bekerja sebagai Prodrug yang diaktifkan oleh lingkungan asam dan secara langsung menghambat kerja pompa proton (H+/K+ ATPase) di sel parietal.

b)

Ranitidine memblokir reseptor yang terletak di sel parietal lambung. Pemblokiran ini menyebabkan reseptor H2 tidak aktif, sehingga tidak dapat mengaktifkan adenylyl cyclase. Akibatnya, kadar siklik AMP (cAMP) menurun, dan protein kinase tidak teraktivasi, yang akhirnya mengurangi sekresi asam.

c)

Ranitidine bekerja dengan membentuk lapisan pelindung di permukaan mukosa lambung untuk mencegah asam kontak langsung dengan dinding lambung dan meningkatkan pergerakan saluran cerna.

d)

Ranitidine memblokir reseptor muskarinik (M1)di sel parietal. Pemblokiran ini mencegah pengikatan asetilkolin, sehingga mengganggu kerja Prostaglandin-Synthetase di mukosa lambung.

e)

Ranitidine menetralkan asam lambung yang sudah terbentuk (mekanisme buffer) dan mengikat asam empedu, sehingga mengurangi iritasi pada esofagus.

37.

Tn. Wisnu ( tahun) didiagnosis dan mengeluhkan gejala yang tidak khas (atipikal), yaitu: batuk kronis yang memburuk di malam hari, hiper-saliva (produksi air liur berlebihan), dan rasa panas di dada (heartburn) yang kambuh lebih dari kali seminggu. Dokter memulai terapi dengan Omeprazole ( sebelum makan). Setelah minggu terapi, Tn. Wisnu melaporkan bahwa gejala heartburn masih kambuh kali seminggu dan batuknya tidak membaik. Sebagai Apoteker, manakah analisis yang paling tepat mengenai status terapi Tn. Wisnu saat ini, dan intervensi farmakologis apa yang harus direkomendasikan jika terapi lini pertama ini dianggap gagal?

a)

Terapi sudah efektif karena durasinya sudah minggu. Intervensi yang harus dilakukan adalah mengganti Omeprazole dengan (Ranitidine).

b)

Terapi dianggap gagal karena Omeprazole () tidak memberikan kontrol gejala yang memadai setelah hingga minggu. Intervensi yang direkomendasikan adalah meningkatkan Omeprazole menjadi dosis ganda (dua kali sehari atau dua kali sehari) sebelum makan.

c)

Terapi tidak dapat dianggap gagal karena pasien mengalami gejala atipikal. Intervensi yang direkomendasikan adalah menambahkan Sukralfat untuk membentuk lapisan pelindung.

d)

Terapi dianggap gagal karena Omeprazole harus diminum setelah makan. Intervensi yang direkomendasikan adalah mengulang Omeprazole dengan edukasi waktu minum yang benar.

38.

Nyonya Siti (50 tahun) adalah pasien GERD yang baru saja memulai terapi PPI. Ia memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 32 kg/m2 (Obesitas) dan sering mengeluhkan gejala heartburn yang memburuk saat ia berbaring di malam hari. Nyonya Siti bertanya kepada Apoteker: "Selain minum obat dari dokter, apa lagi yang harus saya lakukan untuk membantu agar gejala saya cepat hilang dan saya tidak perlu minum obat ini dalam jangka panjang?" Berdasarkan pedoman klinis, manakah kombinasi dua rekomendasi non-farmakologi yang paling efektif dan harus ditekankan oleh Apoteker untuk Nyonya Siti?

a)

Mengganti PPI dengan H2 RA dan menghindari makanan pedas dan asam.

b)

Makan dalam porsi besar dan berhenti merokok.

c)

Menurunkan berat badan jika kelebihan berat badan/obesitas, dan meninggikan kepala tempat tidur (misalnya dengan busa/ganjal) jika gejala memburuk saat berbaring.

d)

Makan sebelum tidur dan minum banyak cairan dingin saat heartburn.

39.

Nyonya Hana ( tahun) sedang hamil minggu dan datang ke Apotek dengan keluhan yang parah, terutama rasa panas di dada (heartburn) yang hampir terjadi setiap hari. Ia sudah mencoba modifikasi gaya hidup (makan porsi kecil, menghindari makanan pedas) tetapi gejalanya tidak membaik. Nyonya Hana meminta rekomendasi obat yang aman untuk kandungannya. Sebagai Apoteker, Anda harus merekomendasikan obat yang memiliki risiko teratogenisitas minimal dan disetujui sebagai terapi lini pertama untuk pada ibu hamil. Manakah pilihan obat yang paling tepat untuk direkomendasikan kepada Nyonya Hana?

a)

Omeprazole karena obat ini adalah lini pertama yang paling efektif untuk parah dan memiliki risiko minimal, sehingga dapat langsung digunakan.

b)

Misoprostol, karena obat ini melindungi mukosa lambung dan merupakan kategori risiko yang aman pada trimester kedua kehamilan.

c)

Antasida karena obat ini bekerja secara lokal di lambung dan dianggap sebagai terapi lini pertama yang paling aman pada kehamilan.

d)

Cisapride karena obat ini sangat efektif mengurangi gejala heartburn dengan cara mempercepat pengosongan lambung.

e)

Ranitidine karena ini adalah obat keras yang hanya boleh diberikan berdasarkan resep dokter.

40.

Tn. Darma (65 tahun) didiagnosis Osteoarthritis (OA) lutut parah dan telah menggunakan obat pereda nyeri non-steroid (NSAID), yaitu Ibuprofen 400 mg 2 kali sehari, selama 6 bulan terakhir untuk mengatasi nyeri sendi. Tn. Darma datang ke Apotek dengan keluhan baru: nyeri ulu hati yang semakin sering dan tembus ke punggung. Ia juga mengakui bahwa sekitar 1 bulan yang lalu ia pernah BAB berwarna hitam seperti darah tetapi saat ini warna BAB sudah normal. Tn. Darma meminta antibiotik, berpikir bahwa mungkin ia mengalami infeksi yang menyebabkan semua keluhan ini. Sebagai Apoteker, manakah analisis yang paling tepat mengenai kondisi Tn. Darma dan intervensi yang paling rasional untuk terapi nyeri jangka panjangnya?

a)

Memberikan antibiotik sesuai permintaan pasien, karena BAB hitam selalu disebabkan oleh infeksi bakteri.

b)

Melanjutkan Ibuprofen, tetapi menambahkan obat Anti-Refluks (Antasida) untuk mengatasi nyeri ulu hati, karena Ibuprofen adalah obat terbaik untuk OA.

c)

Tn. Darma berisiko tinggi mengalami Ulkus Peptikum/riwayat Perdarahan GI akibat penggunaan NSAID kronis. Apoteker harus segera merekomendasikan penghentian Ibuprofen dan menggantinya dengan obat antinyeri yang lebih aman untuk GI, seperti atau COX−2 selective inhibitor dengan perlindungan memberikan terapi omeprazole

d)

Mengedukasi pasien bahwa nyeri ulu hati adalah efek samping wajar dari NSAID dan merekomendasikan H2 Receptor Antagonist (Ranitidine) tanpa mengubah dosis Ibuprofen.

41.

Seorang dokter meminta saran kepada Apoteker mengenai regimen terapi yang tepat untuk Tn. Bambang ( tahun). Tn. Bambang didiagnosis Ulkus Peptikum yang dikonfirmasi positif Infeksi Helicobacter pylori. Tn. Bambang memiliki riwayat alergi terhadap Amoxicillin (golongan Penisilin) yang ditandai dengan ruam kulit parah. Sebagai Apoteker, manakah rekomendasi regimen eradikasi yang paling tepat dan aman untuk Tn. Bambang, lengkap dengan rincian obat, dosis, frekuensi, dan durasi yang benar?

a)

2× sehari+Klaritromisin 500 mg 2× sehari+Metronidazole 500 mg 3× sehari selama 14 hari. Justifikasi: Metronidazole adalah pengganti Amoxicillin yang direkomendasikan pada alergi Penisilin.

b)

Terapi Kuadrupel Berbasis Bismuth: PPI dosis standar 2× sehari+Bismuth subsalisilat 525 mg 4× sehari+Tetracycline 500 mg 4× sehari+Metronidazole 250 mg 4× sehari selama 10−14 hari. Justifikasi: Regimen ini adalah lini kedua/alternatif yang tidak mengandung obat golongan Penisilin sama sekali.

c)

Terapi Tripel Lini Pertama Dosis Turun: PPI dosis standar 1× sehari+Klaritromisin 500 mg 2× sehari+Amoxicillin 500 mg 2× sehari selama 7 hari. Justifikasi: Amoxicillin dosis rendah dapat mengurangi reaksi alergi.

d)

Terapi Konkomitan: PPI dosis standar 2× sehari+Klaritromisin 500 mg 2× sehari+Amoxicillin 1000 mg 2× sehari+Ciprofloxacin 500 mg 2× sehari selama 10 hari. Justifikasi: Penambahan Ciprofloxacin meningkatkan spektrum antibakteri.

42.

Nyonya Lisa (55 tahun) baru saja menjalani sesi Kemoterapi dan mengalami mual dan muntah (CINV) yang sangat hebat. Dokter meresepkan dua jenis obat anti-mual yang bekerja pada reseptor yang berbeda di otak dan saluran cerna untuk mencegah dan mengatasi gejala ini. Obat pertama bekerja dengan memblokir reseptor Serotonin (5HT3 ), Obat kedua bekerja dengan memblokir reseptor Dopamin (D2) di CTZ. Manakah pilihan yang paling tepat mendeskripsikan dua golongan obat yang mungkin diresepkan dokter kepada Nyonya Lisa dan menjelaskan mekanisme kerja utama dari golongan yang memblokir 5HT3 ?

a)

Obat 5HT3 Inhibitor adalah Metoclopramide dan obat Dopamin Antagonis adalah Ondansetron. Mekanisme 5HT3 Inhibitor adalah menghambat pelepasan Histamin di lambung.

b)

Obat 5HT3 Inhibitor adalah Promethazine dan obat Dopamin Antagonis adalah Ondansetron. Mekanisme 5HT3 Inhibitor adalah memblokir reseptor asetilkolin di pusat muntah.

c)

Obat 5HT3 Inhibitor adalah Ondansetron dan obat Dopamin Antagonis adalah Metoclopramide. Mekanisme utama 5HT3 Inhibitor adalah memblokir reseptor 5HT3 di CTZ dan saraf vagal, sehingga mencegah stimulasi pusat muntah oleh Serotonin yang dilepaskan akibat kemoterapi.

d)

Obat 5HT3 Inhibitor adalah Ranitidine dan obat Dopamin Antagonis adalah Domperidone. Mekanisme 5HT3 Inhibitor adalah menetralkan asam lambung yang memicu muntah.

e)

Obat 5HT3 Inhibitor adalah Dimenhydrinate dan obat Dopamin Antagonis adalah Ondansetron. Mekanisme 5HT3 Inhibitor adalah mencegah efek samping GI akibat kemoterapi.

43.

Tn. Jaka (60 tahun) adalah pasien Kemoterapi yang menerima regimen anti-emetik kombinasi. Obat yang diresepkan adalah Ondansetron (golongan 5HT3  Inhibitor) untuk mual akut dan Metoclopramide (golongan Dopamin Antagonis) dosis tinggi. Sebagai Apoteker, Anda menyadari bahwa kedua obat ini memiliki potensi Efek Samping Obat (ESO) yang serius, terutama pada pasien lansia dan yang menerima dosis tinggi. Apoteker harus segera mengedukasi perawat dan dokter mengenai risiko ESO serius yang paling krusial untuk dimonitor dari kedua obat tersebut. Manakah pasangan Obat dan ESO Krusial yang harus dimonitor secara ketat oleh tim kesehatan?

a)

Ondansetron: Memantau Kadar Glukosa Darah dan Metoclopramide: Memantau Hepatotoksisitas (ALT/AST).

b)

Ondansetron: Memantau Peningkatan Tekanan Darah (Hipertensi) dan Metoclopramide: Memantau Risiko Konstipasi Parah.

c)

Ondansetron: Memantau Potensi Perpanjangan Interval QT (Risiko Aritmia Torsades de Pointes) dan Metoclopramide: Memantau Potensi Gejala Ekstrapiramidal (EPS)

d)

Ondansetron: Memantau Retensi Urin dan Metoclopramide: Memantau Gejala Alergi (Ruam kulit/SJS).

e)

   Ondansetron: Memantau Hipokalemia dan Metoclopramide: Memantau Kandidiasis Oral.

44.

Seorang Apoteker Klinis sedang merencanakan terapi anti-mual dan muntah (Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting/CINV) untuk Nyonya Dewi (45 tahun) yang akan menjalani sesi kemoterapi pertama. Dokter baru saja menetapkan protokol kemoterapi yang mencakup Cisplatin dosis tinggi. Apoteker mengetahui bahwa pemilihan obat anti-emetik (Ondansetron,Aprepitant,Dexamethasone, dll.) tidak boleh dilakukan secara acak, melainkan harus didasarkan pada risiko mual dan muntah yang ditimbulkan oleh agen kemoterapi. Manakah urutan alur pemikiran dan prinsip identifikasi yang paling tepat yang harus dilakukan Apoteker untuk menentukan regimen anti-emetik yang sesuai untuk Nyonya Dewi?

a)

Menanyakan riwayat mual muntah pasien di masa lalu, lalu memberikan regimen anti-emetik yang mengandung Ondansetron dan Metoclopramide sebagai standar universal.

b)

Mengidentifikasi apakah pasien memiliki alergi terhadap obat-obatan anti-mual, dan langsung meresepkan PPI untuk mencegah peningkatan asam lambung yang memicu muntah.

c)

Mengidentifikasi obat kemoterapi (misalnya Cisplatin) dan dosisnya untuk mengetahui tingkat potensi emetogeniknya (tinggi, sedang, rendah, atau minimal). Setelah potensi emesisnya diketahui, Apoteker baru dapat memilih regimen obat anti-mual dan muntah yang sesuai (misalnya, kombinasi 3-4 obat untuk potensi tinggi).

d)

Menggunakan algoritma berbasis biaya: selalu memilih obat anti-mual yang paling murah terlebih dahulu (misalnya Dimenhydrinate), dan jika gagal, baru beralih ke Ondansetron.

e)

Meminta dokter untuk mengganti Cisplatin dengan obat kemoterapi lain yang memiliki risiko emesis lebih rendah (potensi minimal), seperti Rituximab.

45.

Tn. Haryo (58 tahun) sedang menjalani terapi kombinasi Spironolactone 100 mg dan Furosemide 40 mg untuk mengatasi Asites akibat Sirosis Hati. Tujuan utama terapi ini manakah menjadi parameter monitoring klinis yang harus Anda sampaikan kepada perawat dan dokter?

a)

Parameter Monitoring: Tekanan Darah dan Kadar Glukosa Darah. Target Penurunan BB: Maksimal 2 kg/hari, terlepas dari ada/tidaknya edema perifer.

b)

Parameter Monitoring: Enzim Hati (ALT/AST) dan Kadar Asam Urat. Target Penurunan BB: 0.5 kg/hari tanpa edema perifer.

c)

Parameter Monitoring: Penurunan Berat Badan (BB) dan Keseimbangan Elektrolit (Kalium,Natrium,Kreatinin). Target Penurunan BB yang Aman: ≤0.5 kg/hari jika pasien TIDAK memiliki edema perifer Serta ≤1.0 kg/hari jika pasien memiliki edema perifer.

d)

Parameter Monitoring: Kecepatan Pengosongan Lambung dan Kadar INR (Koagulasi). Target Penurunan BB: Harus mencapai 1 kg/hari dalam 3 hari pertama.

e)

Parameter Monitoring: PTT dan Kadar Hemoglobin. Target Penurunan BB: Tidak ada batasan, selama output urin meningkat.

46.

Tn. Bima (62 tahun), seorang pasien Sirosis Hati, baru-baru ini didiagnosis menderita Hipertensi Portal dan telah ditemukan adanya Varises Esofagus pada pemeriksaan endoskopi. Namun, ia belum pernah mengalami perdarahan varises. Dokter berencana memulai terapi dengan Propranolol dosis rendah. Sebagai Apoteker, manakah pernyataan yang paling tepat menjelaskan golongan obat, indikasi utama (tujuan terapi), dan mekanisme aksi utama dari Propranolol pada kasus Tn. Bima?

a)

Golongan Obat: Diuretik Hemat Kalium. Tujuan Terapi: Mengurangi Asites. Mekanisme: Memblokir reseptor Aldosteron di ginjal.

b)

Golongan Obat: Beta-Blocker Non-Selektif. Tujuan Terapi: Pencegahan Primer Perdarahan Varises Esofagus. Mekanisme: Menurunkan tekanan portal dengan menghambat reseptor β1 (menurunkan cardiac output) dan β2 (menyebabkan vasokonstriksi splanknik) di pembuluh darah portal.

c)

Golongan Obat: Antagonis Reseptor Angiotensin (ARB). Tujuan Terapi: Menurunkan tekanan darah sistemik dan memperbaiki fungsi ginjal. Mekanisme: Memblokir Angiotensin II.

d)

Golongan Obat: Prokinetik. Tujuan Terapi: Mempercepat pengosongan lambung dan mencegah muntah. Mekanisme: Meningkatkan motilitas saluran cerna.

e)

Golongan Obat: Inhibitor Pompa Proton (PPI). Tujuan Terapi: Menyembuhkan Ulkus Peptikum. Mekanisme: Menghambat H+/K+ ATPase di sel parietal.

47.

Tn. Aji ( tahun), pasien Sirosis Hati dengan Asites, dilarikan ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan demam, nyeri perut hebat, dan asites yang memburuk. Cairan asites diambil melalui parasentesis dan hasil laboratorium menunjukkan jumlah Neutrofil > 250 sel/mm3 (tidak normal) yang mengkonfirmasi diagnosis Peritonitis Bakterial Spontan. Dokter harus segera memulai terapi antibiotik empiris intravena, untuk mencegah sepsis dan gagal ginjal. Sebagai Apoteker, manakah rekomendasi antibiotik lini pertama yang paling tepat dan durasi terapi yang direkomendasikan untuk kasus tanpa komplikasi ini?

a)

Amoxicillin/Asam Klavulanat selama hari karena merupakan antibiotik oral terbaik untuk semua infeksi intra-abdomen.

b)

Metronidazole selama 7 hari Karena disebabkan oleh anaerob, dan metronidazole adalah pilihan terbaik.

c)

Sefalosporin Generasi Ketiga misalnya Ceftriaxone 1 gram atau Cefotaxime 2 gram setiap 8 jam selama 5 hari. Cefalosporin generasi ketiga memiliki spektrum yang luas terhadap patogen gram negatif penyebab dan durasi hari terbukti efektif.

d)

Vankomisin selama hari karena digunakan untuk menargetkan infeksi yang dicurigai resisten Methicillin Resistant Staphylococcus eureus (MRSA).

e)

Amoxicillin oral selama hari, karena Antibiotik oral yang disingkat efektif untuk infeksi bakteri ringan.

48.

Tn. Dani (40 tahun) baru saja keluar dari rumah sakit dan mengalami kesulitan buang air besar selama 3 hari (konstipasi akut). Karena ia membutuhkan efek cepat dan tidak ingin minum obat oral, Apoteker merekomendasikan Microlax (yang mengandung Bisacodyl sebagai bahan aktif yang mempengaruhi motilitas usus, manakah penjelasan yang paling tepat mengenai golongan obat dan mekanisme kerja utama dari Bisacodyl?

a)

Golongan Obat: Laksatif Pembentuk Ruah (Bulk-forming Laxative). Mekanisme: Obat diserap dan menarik air ke usus besar, meningkatkan volume feses.

b)

Golongan Obat: Laksatif Stimulan. Mekanisme: Obat merangsang secara langsung saraf di dinding usus besar, menyebabkan peningkatan motilitas usus (peristaltik) dan meningkatkan sekresi air/elektrolit ke dalam lumen usus.

c)

Golongan Obat: Laksatif Emolien (Stool Softener). Mekanisme: Obat bekerja sebagai deterjen untuk melembutkan massa feses.

d)

Golongan Obat: Laksatif Osmotik. Mekanisme: Obat tidak diserap dan bekerja menarik air ke usus melalui tekanan osmotik, sehingga melunakkan feses.

e)

Golongan Obat: Laksatif Saline. Mekanisme: Obat menghasilkan magnesium atau fosfat yang menyebabkan kontraksi usus secara refleks.

49.

Tn. Surya (25 tahun) datang ke Apotek dan mengeluh Buang Air Besar (BAB) cair 2 kali sehari, masih ada ampas  tanpa disertai demam atau darah/lendir dalam fesesnya. Ia khawatir diarenya akan mengganggu pekerjaannya, sehingga ia meminta obat Loperamide (Lodia) yang menurutnya sangat ampuh. Sebagai Apoteker, manakah respons yang paling tepat mengenai rasionalitas pemberian Loperamide, dosis awal, dan dosis maksimum yang aman dalam satu hari?

a)

Rasionalitas: Loperamide harus diberikan karena BAB sudah terjadi 3 kali, dan dosis awal yang tepat adalah 1 tablet (2 mg), dengan dosis maksimum 10 tablet (20 mg) dalam sehari.

b)

Rasionalitas: Loperamide TIDAK RASIONAL diberikan saat ini karena frekuensi BAB masih rendah (3 kali) dan tinja sudah mulai berampas. Loperamide hanya rasional untuk diare cair akut yang hebat. Dosis Awal: 4 mg (2 tablet). Dosis Maksimum Harian: 10 tablet.

c)

Rasionalitas: Loperamide harus diberikan segera. Dosis Awal yang tepat adalah 4 tablet (8 mg), dan dosis maksimum harian adalah 12 tablet (24 mg) untuk memastikan diare berhenti total.

d)

Rasionalitas: Loperamide aman untuk semua jenis diare. Dosis awal 2 mg (1 tablet), dan dosis selanjutnya 2 mg setiap BAB cair, tanpa batasan maksimum harian.

e)

Rasionalitas: Loperamide hanya digunakan jika tinja sudah berdarah dan pasien mengalami demam tinggi.

50.

Bapak Slamet (45 tahun) pernah sembuh total dari TB 5 tahun lalu. Sekarang, TB-nya aktif lagi (relaps). Kekambuhan ini terkait dengan sifat bakteri TB yang dorman (tidur/tidak aktif). Sifat dorman (tidur) dari bakteri Mycobacterium tuberculosis memungkinkan kekambuhan (relaps) setelah 5 tahun. Dalam kondisi ini, bakteri:

a)

Mutasi menjadi strain yang resisten obat setelah 5 tahun tanpa terdeteksi.

b)

Berhenti membelah diri (tidur), sehingga tidak terbunuh tuntas oleh OAT terapi awal, dan dapat aktif kembali jika daya tahan tubuh (imun) pasien menurun.

c)

Menempel pada sel-sel tubuh yang sehat, membuat obat tidak bisa menjangkaunya sama sekali.

d)

Sepenuhnya mati 5 tahun lalu, tetapi Bapak Slamet tertular kembali dari kontak dekat (reinfeksi).

51.

Ibu Siti (35 tahun) baru saja didiagnosis TB Paru dan memulai regimen pengobatan OAT lini pertama kategori 1 (2HRZE/4HR) karena hasil tes kepekaan (sensitivitas) menunjukkan bakteri TB-nya sensitif terhadap obat-obat tersebut. Sebagai Apoteker klinis, Anda berperan penting dalam memonitor perkembangan pasien ini, baik secara klinis maupun laboratoris, untuk memastikan pengobatan efektif. Pada akhir Bulan ke-2 (fase intensif), pemeriksaan laboratorium yang paling utama dilakukan untuk  mengevaluasi efektivitas terapi adalah:

a)

Tes Fungsi Hati (SGOT/SGPT).

b)

Pemeriksaan Gula Darah Puasa.

c)

Pemeriksaan BTA Sputum (Konversi Sputum).

d)

Pemeriksaan laju Endap Darah

52.

Di samping hasil laboratorium, apoteker juga harus memonitor perbaikan klinis pasien. Manakah dari tanda-tanda klinis berikut yang paling kuat menunjukkan perbaikan yang diharapkan pada pasien Ibu Siti?

a)

Sering merasa mual dan muntah.

b)

Batuk berkurang atau berhenti, peningkatan nafsu makan, dan berat badan (BB) naik.

c)

Frekuensi sesak napas yang semakin sering dan demam tinggi.

d)

Kulit dan mata menguning (ikterik).

53.

Di samping hasil laboratorium, apoteker juga harus memonitor perbaikan klinis pasien. Manakah dari tanda-tanda klinis berikut yang paling kuat menunjukkan perbaikan yang diharapkan pada pasien Ibu Siti?

a)

Sering merasa mual dan muntah.

b)

Batuk berkurang atau berhenti, peningkatan nafsu makan, dan berat badan (BB) naik.

c)

Frekuensi sesak napas yang semakin sering dan demam tinggi.

d)

Kulit dan mata menguning (ikterik).

54.

Pemeriksaan konversi BTA Sputum harus dilakukan lagi pada akhir Bulan ke-5 dan Bulan Terakhir (ke-6). Apa tujuan utama pemeriksaan BTA sputum pada akhir Bulan ke-6?

a)

Mengetahui apakah Ibu Siti sudah bisa hamil.

b)

Mendeteksi komplikasi TB pada ginjal.

c)

Mengukur kadar obat dalam darah pasien.

d)

Menetapkan status "Sembuh" atau "Pengobatan Lengkap" untuk memastikan kuman telah benar-benar tereliminasi.

55.

Ibu Tika (40 tahun) adalah pasien yang pernah mendapatkan pengobatan TB Paru standar (OAT Kategori 1) selama 6 bulan, namun hasilnya gagal. Tiga bulan yang lalu, hasil pemeriksaan dahak (sputum) Ibu Tika menunjukkan bahwa bakteri TB-nya sudah memiliki resistensi terhadap obat Rifampisin (R) dan Isoniazid (H). Dokter mendiagnosisnya dengan TB Resisten Obat (TB RO) dan memulai regimen pengobatan baru. Hari ini, petugas Puskesmas mendatangi rumah Ibu Tika untuk memastikan kepatuhan minum obat dan memberikan anggota keluarhganya dirumah untuk meminum Levofloxacin, setiap hari selama minimal 6 bulan. Pertanyaan Sebagai Apoteker, Anda diminta menganalisis mengapa Levofloxacin diwajibkan dikonsumsi setiap hari selama minimal 6 bulan dalam keluarga yang ada dirumah?

a)

Levofloxacin adalah obat lini pertama pengganti Isoniazid yang memiliki efek samping lebih ringan, sehingga aman diminum dalam jangka waktu lama.

b)

Levofloxacin dipilih karena dapat mematikan semua bakteri yang dorman (tidur) dalam waktu 6 bulan, mengatasi kekambuhan dari TB yang sensitif obat.

c)

Levofloxacin adalah komponen kunci dalam regimen TB RO, digunakan untuk menggantikan OAT yang sudah resisten (Rifampisin dan Isoniazid) dan memerlukan durasi minimal 6 bulan untuk mencapai sterilisasi pada strain bakteri yang resisten.

d)

Levofloxacin berfungsi sebagai agen pencegahan (profilaksis) untuk melindungi keluarga Ibu Tika dari penularan TB.

56.

Bapak Budi (50 tahun) sedang menjalani fase intensif pengobatan Tuberkulosis (TB) dan menerima paket OAT standar (HRZE). Setelah memasuki bulan kedua pengobatan, Bapak Budi mengeluh kepada Apoteker bahwa ia mulai merasa kesulitan membedakan warna hijau dan merah, dan penglihatannya terasa kabur, terutama di malam hari. Apoteker mencurigai keluhan ini adalah efek samping (Efek Samping Obat/ESO) dari salah satu obat yang diminumnya. Obat OAT lini pertama manakah yang paling mungkin menyebabkan keluhan gangguan penglihatan yang dialami Bapak Budi, dan tindakan apa yang harus segera dilakukan oleh tenaga kesehatan apoteker?

a)

Pirazinamid (Z); Dosis diturunkan menjadi separuh dari dosis awal.

b)

Isoniazid (H); Berikan suplemen Vitamin B6 (Piridoksin) dosis tinggi, dan lanjutkan obat.

c)

Rifampisin (R); Hentikan obat selama 3 hari (libur obat), lalu berikan dosis penuh kembali.

d)

Etambutol Obat harus segera diusulkan untuk dihentikan oleh dokter  karena ini adalah kategori ESO berat yang bisa menyebabkan kebutaan permanen jika dilanjutkan.

57.

Bapak Rio (32 tahun) adalah pasien yang baru terdiagnosis HIV positif dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm³. Ia memulai terapi Antiretroviral (ARV) dan juga menerima resep obat harian tambahan, yaitu Kotrimoksazol (kombinasi Sulfametoksazol dan Trimetoprim) steiap hari. Keluarga Bapak Rio merasa bingung karena Kotrimoksazol biasanya diberikan untuk infeksi bakteri biasa, namun Bapak Rio harus meminumnya setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Sebagai Apoteker, Anda harus menjelaskan kepada keluarga Bapak Rio tentang peran vital Kotrimoksazol dalam kasus ini.

a)

Mengobati infeksi jamur lokal (kandidiasis) yang umum pada pasien HIV.

b)

Mempercepat peningkatan jumlah sel CD4 agar pasien segera sembuh dari HIV.

c)

Mencegah (profilaksis) infeksi oportunistik serius, terutama Pneumocystis jirovecii Pneumonia (PCP) dan Toksoplasmosis.

d)

Mengobati diare kronis yang disebabkan oleh bakteri non-spesifik.

58.

Seorang pasien, Saudara Dani (38 tahun), didiagnosis menderita Tuberkulosis (TB) Paru aktif dan pada saat yang sama, hasil tes menunjukkan ia positif HIV (koinfeksi TB-HIV). Dokter memulai pengobatan OAT (Obat Anti-Tuberkulosis) segera pada hari ini. Sebagai Apoteker, Anda mengetahui bahwa inisiasi Terapi Antiretroviral (ARV) pada pasien koinfeksi harus dilakukan sesegera mungkin untuk menekan replikasi virus HIV, namun tetap harus memperhatikan risiko interaksi obat. Menurut panduan terbaru (WHO/Kemenkes) untuk koinfeksi TB-HIV, kapan waktu inisiasi Terapi Antiretroviral (ARV) yang paling tepat harus dilakukan jika ada TB.

a)

ARV ditunda hingga pasien menyelesaikan seluruh pengobatan TB (6 bulan) untuk menghindari interaksi obat.

b)

ARV dimulai pada hari yang sama dengan inisiasi OAT untuk menekan virus secepatnya.

c)

ARV dimulai setelah fase intensif OAT selesai (setelah 2 bulan) untuk mengurangi risiko IRIS.

d)

ARV harus dimulai sesegera mungkin, idealnya dalam 2–8 minggu pertama pengobatan TB, setelah pasien pengobatan TB

59.

Nona Rina (25 tahun), pasien HIV, datang ke klinik dengan CD4 sel/mm$^3$. Ia mengeluh sariawan (kandidiasis oral) yang terlokalisir pada titik dan terasa mengganggu. Ini adalah episode sariawan pertamanya. Sebagai Apoteker, terapi anti-jamur lini pertama dan regimen dosis apa yang paling tepat disarankan untuk mengatasi kandidiasis oral ringan Nona Rina?

a)

Voriconazole suspensi 100 mg 2× sehari selama 14 hari.

b)

Nistatin suspensi tiap 6 jam sebanya 4−6 mL (kumur lalu telan) durasi terapi selama 7−14 hari.

c)

Ketoconazole tablet 200 mg per hari selama 7 hari.

d)

Fluconazole tablet 150 mg dosis tunggal.

60.

Seorang apoteker menerima resep untuk Nyonya A, seorang wanita berusia 32 tahun yang sedang hamil 20 minggu (trimester kedua). Resep tersebut mencantumkan Doksisiklin 100 mg dua kali sehari untuk pengobatan sifilis stadium awal. Doksisiklin adalah antibiotik yang efektif untuk sifilis, tetapi apoteker harus mengevaluasi keamanannya untuk pasien hamil ini. Apa tindakan terbaik yang harus dilakukan apoteker terkait resep Doksisiklin ini, dan mengapa?

a)

Menyiapkan dan menyerahkan Doksisiklin seperti yang diresepkan, karena sifilis harus segera diobati dan Doksisiklin adalah pilihan yang baik.

b)

Menghubungi dokter penulis resep dan menyarankan penggantian dengan Penisilin G, karena Doksisiklin kontraindikasi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan karena risiko diskolorasi gigi dan gangguan pertumbuhan tulang pada janin.

c)

Menghubungi dokter dan menyarankan penurunan dosis Doksisiklin menjadi 50 mg untuk meminimalkan efek samping pada janin.

d)

Menyerahkan resep dan menyarankan pasien untuk menghentikan konsumsi obat segera setelah gejala sifilis mereda untuk menghindari bahaya pada janin.

61.

Setelah 1 bulan mengonsumsi MTX, Nona D (pasien RA) mengeluhkan mual, muntah, dan sariawan yang cukup mengganggu. Apoteker menjelaskan bahwa ini adalah efek samping umum dari MTX. Suplemen pendamping apa yang harus direkomendasikan apoteker untuk meminimalkan efek samping MTX?

a)

Vitamin D.

b)

Asam Folat (Folic Acid).

c)

Vitamin B12.

d)

Kalsium karbonat.

62.

1.     Setelah serangan gout akut Bapak G mereda, dokter memulai terapi jangka panjang untuk mencegah serangan berulang. Obat pilihan lini pertama untuk Terapi Penurun Asam Urat (ULT) pada sebagian besar pasien gout kronis adalah:

a)

Probenesid (agen urikosurik).

b)

Allopurinol (penghambat Xantin Oksidase).

c)

Prednison (kortikosteroid).

.

d)

Kolkhisin dosis tinggi harian

63.

Bapak Hadi bertanya kepada Apoteker mengenai cara kerja obat tersebut. Sebagai Apoteker, Anda menjelaskan bahwa Allopurinol bekerja dengan menghambat suatu enzim kunci dalam jalur metabolisme purin. Enzim apakah yang dihambat oleh Allopurinol?

a)

Allopurinol menghambat Enzim Siklooksigenase (COX), sehingga menghalangi konversi Asam Arakidonat menjadi Prostaglandin.

b)

Allopurinol menghambat Enzim Angiotensin-Converting Enzyme (ACE), sehingga menghalangi konversi Angiotensin I menjadi Angiotensin II.

c)

Allopurinol menghambat Enzim Monoamine Oksidase (MAO), sehingga menghalangi pemecahan Neurotransmiter.

d)

Allopurinol menghambat Enzim Xantin Oksidase (XO), sehingga menghalangi dua tahapan konversi yaitu: Hipoxantin menjadi Xantin, dan Xantin menjadi Asam Urat.

64.

Regimen kemoterapi ACT yang ditunjukkan dalam gambar diklasifikasikan sebagai jenis terapi apa dalam pengobatan kanker payudara?

a)

Terapi Neoadjuvant

b)

Terapi Adjuvant

c)

Terapi Paliatif

d)

Terapi Sekunder

65.

Berdasarkan regimen ini, pasien akan menerima total berapa kali pemberian obat kemoterapi (infus) sebelum menjalani operasi?

a)

3 kali

b)

4 kali

c)

1 kali

d)

8 kali

66.

jika seorang pasien memiliki BB 40 Kg, TB 65 cm mendapatkan terapi Cyclophosphamide 600 mg/m2 sesuai gambar, maka berapa dosisnya yang akan diterima pasien tersebut dari setiap siklus?pasien tidak mengalami gangguan fungsi ginjal.

a)

750 mg

b)

990 mg

c)

1020 mg

d)

812,4 mg

67.

Jika seorang pasien memulai siklus pertama pada 10 Oktober 2025, kapan pasien dijadwalkan untuk memulai siklus ketiga kemoterapinya?

a)

31 Oktober 2025

b)

10 November 2025

c)

20 November 2025

d)

1 Desember 2025

68.

Bagaimana hubungan antara dosis obat yang tertera (60mg/m2) dengan luas permukaan tubuh pasien (m2)?

a)

Dosis total yang diterima pasien diperoleh dengan mengalikan dosis per M2 dengan total luas permukaan tubuh pasien.

b)

Dosis obat dihitung per satuan berat badan (kg), bukan per luas permukaan tubuh (m2)

c)

Luas permukaan tubuh digunakan untuk menentukan cara pemberian obat (IV atau PO)

d)

Dosis adalah dosis standar yang sama untuk semua pasien tanpa perlu perhitungan lebih lanjut.

69.

1.     Dosis Doxorubicin dalam regimen ACT adalah 60 mg/m2. Jika seorang pasien memiliki Berat Badan 40 kg dan Tinggi Badan 65 cm, berapakah dosis Doxorubicin yang akan diterima pasien dalam setiap siklus?

a)

75,8 mg

b)

81,2 mg

c)

95,5 mg

d)

102 mg

70.

Seorang ibu muda, Ny. Rina (28 tahun), datang ke apotek dengan keluhan nyeri hebat pada puting payudara (mastalgia) setiap kali selesai menyusui bayinya yang berusia 3 bulan. Setelah diperiksa oleh bidan, ia didiagnosis mengalami sedikit lecet pada puting. Bidan menyarankan ia membeli obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui. Ny. Rina kemudian membeli satu strip tablet Ibuprofen 400 mg. Saat berkonsultasi dengan apoteker, Ny. Rina bertanya dengan cemas, "Pak/Bu Apoteker, apakah obat ini benar-benar aman untuk bayi saya? Saya takut jika obat ini masuk ke ASI dan membahayakan bayi saya. Apakah ada saran lain mengenai cara pemakaian atau alternatif obat lain? Sebagai seorang apoteker, informasi konseling penting apa yang harus Anda berikan kepada Ny. Rina terkait keamanan penggunaan Ibuprofen?

a)

Ibuprofen tidak aman, karena akan dikeluarkan dalam jumlah besar melalui ASI dan dapat menyebabkan kerusakan ginjal pada bayi. Sebaiknya segera ganti dengan parasetamol.

b)

Ibuprofen sangat aman, karena ia tidak diekskresikan sama sekali ke dalam ASI.

.

c)

Ibuprofen umumnya aman untuk digunakan selama menyusui, karena nilai Relative Infant Dose (RID) Ibuprofen biasanya kurang dari 10%, yang mengindikasikan bahwa dosis yang diterima bayi sangat minimal.

d)

Ibuprofen boleh digunakan, tetapi hanya dengan dosis maksimal 200 mg per hari, dan harus berhenti menyusui selama 12 jam setelah minum obat

71.

Seorang apoteker menerima resep tablet Simvastatin untuk Ny. Dewi, yang baru mengetahui dirinya hamil 6 minggu (trimester pertama). Simvastatin adalah obat penurun kolesterol (golongan Statin). Ketika apoteker memeriksa keamanan obat ini di literatur (seperti Drug Information Handbook), ia menemukan bahwa Simvastatin diklasifikasikan dalam Kategori Kehamilan X. Berdasarkan klasifikasi Kategori Kehamilan X, apa interpretasi yang paling tepat mengenai penggunaan Simvastatin pada Ny. Dewi, dan apa tindakan yang harus apoteker lakukan?

a)

Kategori X berarti studi pada hewan menunjukkan risiko, tetapi manfaatnya pada Ny. Dewi mungkin lebih besar daripada risiko sehingga obat dapat dilanjutkan.

b)

Kategori X berarti tidak ada risiko pada janin dalam studi terkontrol, sehingga Simvastatin aman untuk dilanjutkan.

c)

Kategori X berarti obat ini dikontraindikasikan (sangat dilarang) pada wanita hamil karena studi pada manusia atau hewan menunjukkan adanya kelainan janin, dan risiko penggunaan obat jelas melebihi manfaatnya. Apoteker harus segera menghubungi dokter untuk mengganti terapi.

d)

Kategori X berarti obat harus diberikan dengan dosis yang sangat rendah, dan penggunaannya hanya ditunda hingga trimester kedua kehamilan.

72.

Seorang apoteker di rumah sakit menerima resep untuk Ny. Siti, pasien rawat inap yang sedang hamil minggu. Ny. Siti menderita kondisi epilepsi berat yang sulit dikontrol. Dokter memutuskan untuk meresepkan Fenitoin, obat antikonvulsan yang efektif. Apoteker memeriksa keamanan obat tersebut dalam Drug Information Handbook dan menemukan bahwa Fenitoin diklasifikasikan dalam Kategori Kehamilan D. Apa interpretasi yang paling akurat dari Kategori Kehamilan D, dan bagaimana apoteker harus menyikapi resep ini?

a)

Kategori D berarti studi pada hewan tidak menunjukkan risiko dan belum ada studi pada manusia, sehingga obat tersebut relatif aman untuk digunakan.

b)

Kategori D berarti obat ini benar-benar dikontraindikasikan (dilarang keras) dan harus segera dihentikan tanpa pengecualian apa pun.

c)

Kategori D berarti obat ini memiliki bukti positif adanya risiko pada janin manusia, tetapi penggunaannya dapat dipertimbangkan jika manfaat potensial bagi ibu (mengatasi kondisi serius yang mengancam jiwa atau penyakit serius yang tidak dapat diatasi obat lain yang lebih aman) jelas melebihi risiko pada janin.

d)

Kategori D berarti obat dapat diberikan pada dosis standar, tetapi pasien harus berhenti menyusui setelah melahirkan.

73.

Ny. Fitri, hamil 18 minggu, mengalami sakit kepala migrain yang cukup parah. Dokter ingin meresepkan Amoksisilin untuk mengobati infeksi saluran napas atas yang juga dideritanya. Apoteker memeriksa keamanan Amoksisilin di literatur, dan mendapati obat tersebut termasuk dalam Kategori Kehamilan B. Apa interpretasi yang paling tepat mengenai Kategori Kehamilan B, dan bagaimana apoteker harus menyikapi resep ini?

a)

Kategori B berarti obat ini mutlak aman (Kategori A).

b)

Kategori B berarti obat ini memiliki bukti positif adanya risiko pada janin manusia (Kategori D).

c)

Kategori B berarti studi reproduksi pada hewan gagal menunjukkan risiko pada janin, dan belum ada studi terkontrol yang memadai pada wanita hamil, namun dianggap relatif aman karena data risiko pada manusia juga tidak ada.

d)

Kategori B berarti obat ini dikontraindikasikan (dilarang keras) karena terbukti menyebabkan kelainan janin (Kategori X).

74.

Ny. Alya (24 tahun) dan suaminya baru saja menikah satu bulan. Mereka berencana untuk segera memiliki anak, sehingga Ny. Alya berkonsultasi ke apotek untuk meminta saran suplemen yang harus ia konsumsi saat ini. Apoteker menjelaskan pentingnya suplementasi Asam Folat. Apa tujuan utama pemberian Asam Folat pada wanita usia subur yang merencanakan kehamilan, dan berapa dosis harian yang umumnya direkomendasikan untuk pasien seperti Ny. Alya?

a)

Untuk mengobati anemia karena kekurangan zat besi; dosis yang dianjurkan adalah per hari.

b)

Untuk mengurangi risiko Morning Sickness (mual muntah kehamilan); dosis yang dianjurkan adalah per hari.

c)

Untuk mencegah Neural Tube Defects (NTDs) atau cacat tabung saraf pada janin (seperti Spina Bifida dan Anensefali); dosis yang dianjurkan adalah (atau ) per hari untuk populasi umum.

d)

Untuk meningkatkan produksi ASI setelah melahirkan; dosis yang dianjurkan adalah per hari.

75.

Ny. Bunga, hamil minggu, datang ke unit gawat darurat dengan tekanan darah dan hasil pemeriksaan urin menunjukkan protein , mengarah pada diagnosis Preeklampsia ringan. Dokter memutuskan untuk memulai terapi antihipertensi oral untuk mengontrol tekanan darah. Mengingat Metildopa tidak tersedia di apotek rumah sakit saat itu, apoteker diminta memberikan rekomendasi obat antihipertensi first-line alternatif yang aman dan efektif untuk kondisi Ny. Bunga. Obat antihipertensi oral manakah, selain Metildopa, yang paling direkomendasikan sebagai terapi lini pertama (first-line) untuk Ny. Bunga?

a)

Captopril

b)

Candesartan

c)

Nifedipin

d)

Furosemid

76.

Seorang pasien datang ke apotek dengan keluhan utama 'batuk-batuk saja' (batuk kering) yang mengganggu dan tidak disertai dahak. Pasien membutuhkan obat yang mekanisme kerjanya menekan refleks batuk. Berdasarkan keluhan dan tujuan pengobatan, manakah kandungan obat batuk dan mekanisme kerja yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Dekstrometorfan bekerja sebagai antitusif dengan menaikkan ambang rangsang pusat refleks batuk di medula oblongata.

b)

Difenhidramin bekerja sebagai antihistamin dengan memblokir reseptor H1, yang meredakan gejala alergi.

c)

Guaifenesin  bekerja sebagai ekspektoran dengan meningkatkan volume dan hidrasi sekresi saluran napas.

d)

Ambroxol, bekerja sebagai mukolitik dengan memecah ikatan lendir kental agar dahak menjadi lebih encer.

77.

Seorang pasien membeli obat batuk bermerek Bisolvon atau Mucopec yang memiliki kandungan aktif Ambroxol. Keluhan utama pasien adalah batuk berdahak kental yang sulit dikeluarkan. Apa mekanisme kerja utama Ambroxol dalam mengatasi keluhan pasien ini?

a)

Bekerja sebagai ekspektoran dengan meningkatkan volume dan hidrasi sekresi saluran napas sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan.

b)

Bekerja sebagai bronkodilator dengan merelaksasi otot polos bronkus untuk melebarkan saluran pernapasan.

c)

Bekerja sebagai mukolitik dengan memecah ikatan disulfida dalam sputum, yang membuat dahak kental menjadi lebih encer (likuid).

d)

Bekerja sebagai antitusif (penekan batuk) dengan meningkatkan ambang rangsang pusat batuk di otak.

78.

Seorang pasien menerima resep obat 'Mucil 600 mg effervescent' yang mengandung Asetilsistein (N-acetylcysteine). Pasien tersebut mengalami batuk berdahak sangat kental yang sulit dikeluarkan. Dalam golongan obat apakah Asetilsistein diklasifikasikan, dan apa mekanisme kerjanya yang paling spesifik?

a)

Antitusif; bekerja dengan menghambat produksi lendir di paru-paru.

b)

Bronkodilator; bekerja dengan merelaksasi otot bronkus untuk membuka saluran napas yang tersumbat oleh dahak.

c)

Ekspektoran; bekerja dengan menstimulasi sekresi cairan di saluran napas sehingga dahak menjadi lebih mudah dibatukkan.

d)

Mukolitik; bekerja dengan memecah ikatan disulfida pada glikoprotein lendir, sehingga dahak yang sangat kental menjadi sangat cair.

79.

Seorang pasien dengan batuk kering ditawari oleh temannya yang seorang dokter umum di Jawa Barat melalui aplikasi kesehatan (Halodoc di hpnya) untuk membeli obat batuk bermerek "Longatin". Apakah kandungan aktif Longatin dan bagaimanakah mekanisme kerjanya secara ringkas?

a)

Kandungan: noscapine,. Mekanisme: Antitusif Perifer, bekerja langsung pada ujung saraf aferen di saluran pernapasan untuk menghambat refleks batuk.

b)

Kandungan: noscapine. Mekanisme: Mukolitik, memecah ikatan dahak yang kental.

c)

Kandungan: Guaifenesin. Mekanisme: Ekspektoran, meningkatkan volume dan hidrasi lendir agar mudah dikeluarkan.

d)

Kandungan: Dextromethorphan. Mekanisme: Antitusif Sentral, menekan pusat batuk di medula oblongata.

80.

Seorang apoteker menganalisis kandungan obat batuk Paratusin yang dibeli pasien dan menemukan adanya noscapine (sejenis antitusif) dan Guaifenesin (ekspektoran). Pasien bertanya, apakah kombinasi kandungan tersebut sudah sesuai untuk jenis batuknya? Apa kesimpulan farmakologis yang paling tepat mengenai kombinasi Oxeladin dan Guaifenesin?

a)

Kombinasi ini: antitusif (noscapine) menekan refleks batuk yang diperlukan untuk mengeluarkan dahak yang sudah diencerkan oleh ekspektoran (Guaifenesin).

b)

Kombinasi ini cocok untuk semua jenis batuk karena noscapine mengatasi batuk kering, dan Guaifenesin mengatasi batuk berdahak, sehingga mencakup semua gejala.

c)

Kombinasi ini rasional hanya jika pasien memiliki batuk berdahak kental disertai demam tinggi.

d)

Kombinasi ini sangat rasional karena Noscapine menekan batuk ringan dan Guaifenesin membantu memecah dahak yang tersisa.

81.

Seorang pasien menebus resep Rhinos (kombinasi Phenylpropanolamine dan Pseudoefedrin dan Chlorphenamine Maleate dan bertanya kepada apoteker mengenai 'sifat' (manfaat) obat ini untuk mengatasi hidungnya yang tersumbat. Manakah kandungan dan mekanisme kerja yang paling tepat untuk sifat dekongestan pada Rhinos?

a)

Dekongestan (Pseudoefedrin atau Phenylpropanolamine); bekerja sebagai agonis adrenergik, menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah di mukosa hidung, sehingga mengurangi pembengkakan dan sumbatan

b)

Antitusif (Chlorphenamine Maleate); bekerja menekan pusat batuk di otak sehingga pasien tidak sering batuk karena iritasi tenggorokan.

c)

Antihistamin (Chlorphenamine Maleate); bekerja memblokir reseptor H1 sehingga mengurangi produksi lendir hidung akibat reaksi alergi.

d)

Mukolitik (Pseudoefedrin); bekerja memecah dahak di saluran napas agar cairan lendir hidung menjadi lebih encer.

82.

Seorang pasien menerima obat Rhinos SR yang mengandung Pseudoefedrin untuk mengatasi hidung tersumbatnya. Karena Pseudoefedrin bekerja sebagai stimulan sistem saraf simpatik, manakah poin krusial yang harus disampaikan Apoteker kepada pasien, khususnya terkait efek samping yang umum ditimbulkan oleh obat ini?

a)

Obat ini akan menyebabkan perubahan warna urine menjadi oranye atau merah muda, tetapi ini adalah hal yang normal dan tidak berbahaya.

b)

Obat ini dapat menyebabkan kantuk berat (ngantuk) dan pasien harus menghindari mengemudi setelah mengonsumsinya.

c)

Obat ini berisiko menyebabkan Insomnia (sulit tidur), antung berdebar (palpitasi) dan peningkatan tekanan darah, sehingga pasien harus mengonsumsinya pada pagi atau siang hari dan berhati-hati bagi penderita hipertensi.

d)

Obat ini dapat menyebabkan peningkatan produksi air liur dan cairan hidung, sehingga pasien perlu sedia tisu lebih banyak.

83.

Setelah 1 bulan mengonsumsi MTX, Nona D (pasien RA) mengeluhkan mual, muntah, dan sariawan yang cukup mengganggu. Apoteker menjelaskan bahwa ini adalah efek samping umum dari MTX. Suplemen pendamping apa yang harus direkomendasikan apoteker untuk meminimalkan efek samping MTX?

a)

Vitamin D.

b)

Asam Folat (Folic Acid).

c)

Vitamin B12.

d)

Kalsium karbonat

84.

 

Setelah serangan gout akut Bapak G mereda, dokter memulai terapi jangka panjang untuk mencegah serangan berulang. Obat pilihan lini pertama untuk Terapi Penurun Asam Urat (ULT) pada sebagian besar pasien gout kronis adalah:

a)

Probenesid (agen urikosurik).

b)

Allopurinol (penghambat Xantin Oksidase).

c)

Prednison (kortikosteroid).

d)

Kolkhisin dosis tinggi harian

85.

Seorang apoteker menerima resep untuk Tn. Budi (45 tahun) yang didiagnosis menderita pirai (gout). Hasil laboratorium menunjukkan kadar asam urat Tn. Budi sangat tinggi, dan ia sering mengalami serangan akut. Dokter memutuskan untuk memberikan terapi jangka panjang untuk membantu mencegah serangan di masa depan. Selain itu, Tn. Budi juga sedang menjalani pengobatan untuk infeksi bakteri berat di kakinya, dan dokter ingin memastikan bahwa konsentrasi antibiotik (Amoksisilin) dalam darah Tn. Budi tetap tinggi untuk durasi yang lebih lama. Obat yang diresepkan dokter kepada Tn. Budi adalah Probenesid. Berdasarkan kasus Tn. Budi, termasuk dalam indikasi utama apakah obat Probenesid diklasifikasikan, dan apa fungsi lain yang diinginkan dokter terkait pemberiannya bersama Amoksisilin?

a)

Antipiretik dan Analgesik; Mengurangi demam dan nyeri sendi akut.

b)

Penghambat Xantin Oksidase; Menurunkan produksi asam urat dari awal (terkait pirai), dan meningkatkan penyerapan Amoksisilin di usus.

c)

Urikosurik dan Penghambat Sekresi Tubulus Ginjal; Meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal (terkait pirai), dan memperlambat pembuangan antibiotik tertentu (Amoksisilin).

d)

Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS); Mengatasi peradangan sendi secara cepat (terkait pirai), dan meningkatkan metabolisme Amoksisilin di hati.