wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

biofar 1/1

Total questions: 81

Worksheet time: 41mins

Name
Class
Date
1.

Biopharmaceutics is a branch of pharmaceutical science that studies the relationship between…

a)

physicochemical characteristics of drugs, dosage forms, and biological processes in the human body

b)

chemical processes of drugs, tablet forms, and enzymatic reactions in blood

c)

chemical reactions of drugs, drug doses, and the human respiratory system

d)

drug chemistry structure, color of dosage forms, and the mechanism of action of topical drugs

2.

Secara sederhana, biopharmaceutics berfokus pada bagaimana obat…

a)

disiapkan, diberikan, diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dieliminasi oleh tubuh

b)

didesinfeksi, diuji, disimpan, dan dikemas sebelum digunakan oleh pasien

c)

dimodifikasi, dikonsumsi, disimpan, dan disebarkan melalui sistem saraf pusat

d)

reaksi, dicampur, dan dikeringkan sebelum dimasukkan ke dalam bentuk dosis padat

3.

Salah satu fokus utama biopharmaceutics adalah memahami bagaimana faktor-faktor mempengaruhi…

a)

bioavailability dan efektivitas terapeutik

b)

keamanan pasien dan efek samping obat

c)

laju metabolisme obat dan tingkat toksisitas

d)

stabilitas penyimpanan dan palatabilitas bentuk dosis

4.

Tujuan utama biopharmaceutics adalah mengontrol pelepasan obat ke dalam sirkulasi sistemik sehingga…

a)

terapi optimal dicapai dalam kondisi tertentu

b)

placebo yang lebih stabil diproduksi

c)

penyerapan cepat di saluran pencernaan dihindari

d)

efek toksik minimal pada dosis tinggi dicapai

5.

Untuk kelas A, kondisi operasionalnya adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding dengan atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

6.

Untuk kelas B, kondisi operasional adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas A

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding dengan atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

7.

Untuk kelas C, kondisi operasionalnya adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas A

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding dengan atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

8.

Untuk kelas D, kondisi operasionalnya adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas A

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

9.

Untuk kelas E, kondisi operasionalnya adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas A

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding dengan atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

10.

Untuk kelas F, kondisi operasionalnya adalah…

a)

dalam operasi

b)

latar belakang untuk kelas A

c)

tidak distandarisasi secara internasional, biasanya sebanding dengan atau lebih rendah dari D

d)

tidak distandarisasi

11.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas A adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 352.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

12.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas B adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 352.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

13.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas C adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 3.520.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

14.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas D adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 352.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

15.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas E adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 352.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

16.

Jumlah partikel (≥0,5 µm/m³) untuk kelas F adalah…

a)

≤ 3.520

b)

≤ 352.000

c)

≤ 35.200.000

d)

tidak ditentukan

17.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas A adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 290.000

d)

tidak ditentukan

18.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas B adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 290.000

d)

tidak ditentukan

19.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas C adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 29.000

d)

tidak ditentukan

20.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas D adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 290.000

d)

tidak ditentukan

21.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas E adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 290.000

d)

tidak ditentukan

22.

Jumlah partikel (≥5 µm/m³) untuk kelas F adalah…

a)

≤ 20

b)

≤ 2.900

c)

≤ 290.000

d)

tidak ditentukan

23.

Contoh area/aplikasi untuk kelas A adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

penimbangan bahan awal, persiapan awal sebelum pindah ke kelas yang lebih tinggi

e)

penyimpanan gudang, karantina bahan baku sebelum masuk kelas D

24.

Contoh area/aplikasi untuk kelas B adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

penimbangan bahan awal, persiapan awal sebelum pindah ke kelas yang lebih tinggi

e)

penyimpanan gudang, karantina bahan mentah sebelum masuk kelas D

25.

Contoh area/aplikasi untuk kelas C adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

penimbangan bahan awal, persiapan awal sebelum pindah ke kelas yang lebih tinggi

e)

penyimpanan gudang, karantina bahan baku sebelum masuk kelas D

26.

Contoh area/aplikasi untuk kelas D adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

penimbangan bahan awal, persiapan awal sebelum pindah ke kelas yang lebih tinggi

e)

penyimpanan gudang, karantina bahan mentah sebelum masuk kelas D

27.

Contoh area/aplikasi untuk kelas E adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

penimbangan bahan awal, persiapan awal sebelum pindah ke kelas yang lebih tinggi

e)

penyimpanan gudang, karantina bahan mentah sebelum masuk kelas D

28.

Contoh area/aplikasi untuk kelas F adalah…

a)

area kritis: pengisian aseptik, penutupan vial/ampul, kerja di LAF (Laminar Air Flow)

b)

area pendukung untuk kegiatan aseptik (operator yang bekerja di sekitar LAF)

c)

tahap formulasi awal, pengenceran, pencampuran sebelum sterilisasi

d)

area utilitas: ruang pencucian, penyimpanan peralatan, ruang pemakaian awal

e)

penyimpanan gudang, kuarantin bahan baku sebelum masuk kelas D

29.

Alur produksi parenteral untuk kelas F/E adalah…

a)

penerimaan bahan, pencucian wadah, pemakaian pakaian awal

b)

penimbangan bahan, persiapan awal

c)

kompounding/formulasi, pengenceran sebelum sterilisasi

d)

ruang latar (aseptik)

e)

area pengisian aseptik kritis, dilakukan di LAF/isolator

30.

Alur produksi parenteral untuk kelas D adalah…

a)

penerimaan bahan, pencucian wadah, pemakaian pakaian awal

b)

penimbangan bahan, persiapan awal

c)

penggabungan/formulasi, pengenceran sebelum sterilisasi

d)

ruang latar (aseptik)

e)

area pengisian aseptik kritis, dilakukan di LAF/isolator

31.

Alur produksi parenteral untuk kelas C adalah…

a)

penerimaan bahan, pencucian wadah, pemakaian pakaian awal

b)

penimbangan bahan, persiapan awal

c)

kompounding/formulasi, pengenceran sebelum sterilisasi

d)

ruang latar (aseptik)

e)

area pengisian aseptik kritis, dilakukan di LAF/isolator

32.

Alur produksi parenteral untuk kelas B adalah…

a)

penerimaan bahan, pencucian wadah, pemakaian gaun awal

b)

penimbangan bahan, persiapan awal

c)

kompounding/formulasi, pengenceran sebelum sterilisasi

d)

ruang latar (aseptik)

e)

area pengisian aseptik kritis, dilakukan di LAF/isolator

33.

Alur produksi parenteral untuk kelas A adalah…

a)

penerimaan bahan, pencucian wadah, pemakaian pakaian awal

b)

penimbangan bahan, persiapan awal

c)

penggabungan/formulasi, pengenceran sebelum sterilisasi

d)

ruang latar (aseptik)

e)

area pengisian aseptik kritis, dilakukan di LAF/isolator

34.

Persiapan injeksi adalah bentuk dosis yang dirancang untuk…

a)

diberikan langsung ke dalam tubuh melalui jalur parenteral

b)

diambil secara oral melalui saluran pencernaan

c)

diinhalasi melalui sistem pernapasan atau sebagai aerosol

d)

diteteskan langsung ke kulit atau membran mukosa

35.

Rute administrasi untuk injeksi disebut rute parenteral karena itu…

a)

diberikan melalui injeksi atau infus, tidak melalui saluran pencernaan

b)

selalu diberikan secara oral untuk efek sistemik yang cepat

c)

hanya digunakan untuk persiapan topikal dan transdermal

d)

diberikan melalui inhalasi untuk mencapai efek yang cepat

36.

Bentuk fisik umum dari bentuk dosis injeksi adalah…

a)

larutan atau suspensi steril

b)

salep nonsteril

c)

tablet kunyah

d)

patch transdermal

37.

Formulasi dosis injeksi biasanya dikemas dalam…

a)

Vial, ampul, atau syringe siap pakai

b)

Botol sirup, strip tablet, atau kapsul gelatin

c)

Sachet bubuk, tabung salep, atau blister tablet

d)

Kontainer plastik, inhaler, atau botol tetes mata

38.

Tujuan utama penggunaan bentuk dosis injeksi adalah…

a)

Terapi yang memerlukan efek cepat dan langsung di dalam tubuh

b)

Pengobatan dengan efek lambat dan bertahap

c)

Administrasi hanya untuk penggunaan eksternal

d)

Mengurangi efek sistemik dari obat oral

39.

Bioavailability refers to…

a)

Jumlah dan laju obat yang diserap ke dalam aliran darah setelah pemberian

b)

Proses eliminasi obat melalui urine dan keringat

c)

Berapa lama obat berinteraksi dengan reseptor di jaringan target

d)

Seberapa banyak obat yang diubah menjadi metabolit aktif di hati

40.

Persiapan injeksi memberikan bioavailabilitas yang sangat tinggi karena…

a)

Obat diberikan langsung ke dalam aliran darah

b)

Obat diserap perlahan melalui saluran pencernaan

c)

Obat harus melewati metabolisme hati terlebih dahulu

d)

Obat mengalami degradasi di lambung sebelum bertindak

41.

Keuntungan utama dari bentuk dosis injeksi dibandingkan bentuk oral adalah…

a)

Penghindaran metabolisme first-pass di hati

b)

Percepatan pemecahan obat di hati

c)

Pengurangan penyerapan obat sistemik

d)

Perpanjangan waktu paruh obat di saluran pencernaan

42.

Ketersediaan hayati dari bentuk sediaan injeksi sangat bergantung pada…

a)

Rute yang digunakan, seperti intravena, subkutan, atau intramuskular

b)

Warna, pH, dan stabilitas kimia obat dalam wadahnya

c)

Ukuran partikel obat yang digunakan dalam tablet

d)

Dosis dan volume cairan lambung pasien

43.

Injeksi intravena memiliki bioavailabilitas sebesar…

a)

100% karena obat masuk langsung ke sirkulasi

b)

50% karena sebagian obat dimetabolisme di hati

c)

80% karena sebagian obat tertahan di jaringan otot

d)

30% karena sebagian obat tidak diserap

44.

Rute parenteral mengacu pada pemberian obat…

a)

Di luar saluran pencernaan

b)

Melalui saluran pencernaan

c)

Melalui sistem pernapasan

d)

Melalui permukaan kulit

45.

Memberikan obat melalui rute parenteral berarti obat tersebut tidak masuk…

a)

Melalui mulut atau sistem pencernaan

b)

Melalui hidung atau mulut dengan inhalasi

c)

Secara topikal ke kulit

d)

Langsung melalui aliran darah

46.

Dalam rute parenteral, obat diberikan melalui…

a)

Injeksi langsung ke dalam tubuh

b)

Pencernaan oral untuk efek sistemik

c)

Aplikasi transdermal ke kulit

d)

Inhalasi melalui sistem pernapasan

47.

Contoh jalur pengiriman dalam rute parenteral termasuk…

a)

Suntikan, infus, atau implan

b)

Oral, rektal, atau sublingual

c)

Topikal, transdermal, atau inhalasi

d)

Nasal, oftalmik, atau otik

48.

Injeksi intravena (IV) diberikan melalui…

a)

Sebuah vena, dengan bioavailabilitas 100% dan efek cepat

b)

Sebuah otot, dengan bioavailabilitas sedang dan efek lambat

c)

Kulit, dengan penyerapan bertahap dan efek lokal

d)

Jaringan adiposa, dengan efek sistemik yang berkepanjangan

49.

Injeksi intramuskular (IM) diberikan melalui…

a)

Otot, dengan penyerapan lebih lambat daripada IV

b)

Sebuah vena, menghasilkan efek tercepat pada sirkulasi

c)

Kulit luar, dengan penyerapan sangat cepat

d)

Ruang peritoneum, untuk efek jaringan lokal

50.

Injeksi subkutan (SC) diberikan melalui…

a)

Jaringan lemak di bawah kulit, dengan penyerapan lebih lambat dibandingkan IM dan IV

b)

Lapisan otot, dengan penyerapan lebih cepat dibandingkan IV

c)

Ruang peritoneum, dengan distribusi langsung ke hati

d)

Dermis, untuk efek lokal yang cepat

51.

Intradermal injections are administered in…

a)

The dermis, used for allergy tests and vaccinations

b)

The thigh muscle, used for long-term therapy

c)

Blood vessels, used for rapid systemic effect

d)

The peritoneal cavity, used for fluid therapy

52.

Intra-articular injections are administered…

a)

Directly into a joint for local treatment

b)

Under the skin for slow systemic effect

c)

Into a vein for a rapid effect

d)

Into muscle for even drug distribution

53.

Intraspinal or epidural injections are administered…

a)

Into the epidural space or spinal cord for anesthesia or pain management

b)

Into muscle tissue to speed drug distribution

c)

Under the skin for allergy treatment

d)

Into a joint to reduce inflammation

54.

Intraperitoneal (IP) injections are administered…

a)

Into the peritoneal cavity, often used in chemotherapy or animal experiments

b)

Through blood vessels for rapid systemic effect

c)

Under the skin for hormone delivery

d)

Into the thigh muscle for vaccination

55.

In the absorption process of an intravenous (IV) injection, the drug…

a)

Enters the bloodstream directly without an absorption step

b)

Is slowly absorbed through muscle tissue

c)

Must first pass through the digestive tract

d)

Undergoes initial metabolism in the liver

56.

The rate of absorption for IM and SC injections depends on…

a)

The degree of vascularization of the tissue at the injection site

b)

The solution’s pH and taste

c)

The particle size and color of the preparation

d)

The patient’s body temperature at injection

57.

After an injection, drug distribution occurs…

a)

Rapidly, depending on blood flow to tissues

b)

Slowly, only at the injection site

c)

Through renal filtration first

d)

Only after the drug is metabolized in the liver

58.

Drug metabolism for injectable dosage forms does not undergo…

a)

First-pass metabolism in the liver

b)

Direct activation of hepatic enzymes

c)

Conversion to active metabolites in the intestine

d)

Conjugation reactions in the gastrointestinal tract

59.

The primary organ responsible for excretion of drugs administered by injection is…

a)

The kidneys, though bile or lungs may also be involved

b)

The liver, with elimination via the large intestine

c)

The skin, via passive diffusion

d)

The stomach, via enzymatic secretion

60.

Which of the following formulation factors affect injection preparations?

a)

Solution pH, isotonicity, stability, dosage form, and additives.

b)

Type of needle, injection technique, and patient body temperature.

c)

Storage time in the refrigerator and the time of drug administration.

d)

Patient blood volume and body position during injection.

61.

The pH of solutions for injection should be…

a)

Close to physiological pH (±7.4) to prevent irritation or necrosis.

b)

Below physiological pH to enable faster absorption.

c)

More acidic than blood pH to prolong the drug effect.

d)

Perfectly neutral (pH 7.0) for all types of preparations.

62.

Why is isotonicity important in the formulation of injections?

a)

For patient comfort and safety during administration.

b)

To prevent drug oxidation during storage.

c)

To increase the rate of drug metabolism.

d)

So the drug dissolves more easily in water.

63.

The stability of injection preparations must be maintained so that they…

a)

Do not easily degrade due to oxidation, light, and temperature.

b)

Can react quickly with liver enzymes.

c)

Always remain bright in color and attractive.

d)

Dissolve more quickly in the body.

64.

The dosage form of an injection that is absorbed the fastest is…

a)

Solution.

b)

Suspension.

c)

Emulsion.

d)

Dry powder.

65.

Injection preparations in suspension form have the characteristic…

a)

Slower absorption and provide a depot effect.

b)

Fast absorption due to fine particles.

c)

Short duration with strong systemic effect.

d)

Unstable to light and oxidation.

66.

The absorption rate of emulsions in injection preparations depends on…

a)

Globule size and emulsion stability.

b)

Color and viscosity of the solution.

c)

Dose and pH of the preparation.

d)

Type of container and storage method.

67.

Additives in injections such as preservatives, buffers, and antioxidants must…

a)

Be safe for injection and not cause toxic reactions.

b)

Give the preparation a distinctive aroma.

c)

Be used in the smallest amount possible for stability.

d)

Be chosen based on the cheapest market price.

68.

Which of the following is an advantage of biopharmaceutics?

a)

High bioavailability, rapid effect, and can be given to unconscious patients.

b)

Invasive, difficult to reverse, and long-acting.

c)

Causes pain, infection, and has high bioavailability.

d)

Rapid effect, invasive, and can be given to patients who have difficulty swallowing.

69.

Which of the following is a limitation of biopharmaceutics?

a)

High bioavailability, rapid effect, and can be used for unconscious patients.

b)

Invasive, hard to reverse, impractical, and more costly.

c)

Safe to use without medical supervision.

d)

Produces slow effects and does not cause pain.

70.

Which of the following characterizes biopharmaceutics of parenteral preparations?

a)

Sterile and pyrogen-free, rapid effect, 100% bioavailability, no first-pass effect.

b)

Administered orally, slow effect, and undergoes first-pass effect.

c)

Not sterile, slow absorption, and low bioavailability.

d)

Only in tablet, capsule, and syrup forms.

71.

Physical forms of parenteral preparations include…

a)

Solutions, suspensions, emulsions, or sterile powders for reconstitution.

b)

Tablets, capsules, and syrups for oral use.

c)

Gels, ointments, and creams for external use.

d)

Aerosols, inhalers, and eye drops.

72.

Passive diffusion in drug absorption is characterized by…

a)

Movement of drug molecules from high to low concentration without energy, directly through the cell membrane.

b)

An active process involving enzymes and energy to move molecules.

c)

Drug uptake by cells via formation of small vesicles around particles.

d)

Drug movement from low to high concentration with the help of carrier proteins.

73.

Active transport differs from passive diffusion because it…

a)

Requires energy (ATP) and carrier systems to move drug molecules across membranes against a concentration gradient.

b)

Does not require energy and occurs naturally following the concentration gradient.

c)

Occurs only for lipid-soluble and small drugs.

d)

Uses large pores in the membrane to pass drug particles without energy.

74.

Endocytosis in drug absorption occurs when…

a)

Cells take up particles by forming vesicles around them, which then enter the cell to release the drug.

b)

Drug molecules diffuse freely from high to low concentration without additional energy.

c)

ATP energy is used to push the drug across the membrane against its concentration gradient.

d)

Drugs are absorbed only through large skin pores without cellular processes.

75.

Absorption is the process by which a drug or active substance is taken into…

a)

Systemic circulation after administration via various routes.

b)

The gastrointestinal tract to be converted into active metabolites.

c)

The liver before entering the bloodstream.

d)

The outer skin layer as the drug’s site of action.

76.

In intravenous (IV) injection, the absorption phase does not occur because…

a)

The drug enters systemic circulation directly with 100% bioavailability.

b)

The drug must first pass through the liver for metabolism.

c)

Absorption occurs through muscle tissue.

d)

Energy is required to cross the membrane.

77.

For intramuscular (IM), subcutaneous (SC), and intradermal (ID) routes, the absorption rate depends on…

a)

The degree of vascularization at the injection site.

b)

Needle size and solution volume.

c)

Type of syringe used.

d)

Patient body temperature and blood pressure.

78.

The correct order of absorption rates based on tissue vascularization is…

a)

IM > SC > ID.

b)

SC > IM > ID.

c)

ID > SC > IM.

d)

The same for all injection routes.

79.

A large injection volume will cause…

a)

Slower absorption.

b)

Faster drug absorption.

c)

No effect on absorption rate.

d)

Increased drug concentration in tissue.

80.

A formulation factor that affects the drug absorption rate is…

a)

Solutions are absorbed faster; suspensions slower.

b)

Suspensions are absorbed fastest; solutions slowest.

c)

Emulsions are fastest for all routes.

d)

Solid forms are faster than liquids.

81.

The pH and solubility of a drug at the injection site can affect…

a)

The speed and efficiency of drug absorption.

b)

The color and odor of the injection.

c)

The volume of liquid used.

d)

The temperature of the preparation at administration.