WorksheetsUntitled Quiz
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Bahan utama yang digunakan sebagai perintang warna dalam teknik membatik tradisional adalah
Lilin (malam)
Tali rafia
Daun-daunan
Cat akrilik
Alat yang digunakan untuk mengaplikasikan malam (lilin) panas ke atas kain dalam proses batik tulis disebut
Cap
Gawangan
Canting
Wajan
Teknik batik yang menggunakan alat stempel (cap) untuk menerapkan malam secara berulang sehingga prosesnya lebih cepat disebut
Batik Tulis
Batik Cap
Batik Lukis
Batik Jumputan
Proses peluruhan atau penghilangan malam (lilin) dari kain batik setelah proses pewarnaan selesai disebut
Mordanting
Nyolot
Fiksasi
Lorodan
Di Indonesia, teknik tie-dye lebih dikenal dengan sebutan
Batik
Songket
Jumputan
Tenun
Prinsip dasar dari teknik tie-dye atau jumputan adalah merintangai warna agar tidak menyerap ke kain dengan cara
Mengikat, melipat, atau menjepit
Menutup kain dengan lilin
Menyulam kain dengan benang
Mencetak dengan daun
Berikut ini adalah alat dan bahan yang umum digunakan untuk tie-dye (jumputan), KECUALI
Pewarna tekstil (wantex)
Canting dan malam
Karet gelang atau tali
Kelereng atau batu
Shibori adalah teknik perintangan warna yang sangat artistik dan sistematis (melipat, menjepit, melilit) yang berasal dari negara
India
Indonesia
Jepang
Tiongkok
Teknik Shibori yang menggunakan metode lipat kain secara geometris (misal: segitiga atau persegi) lalu dijepit dengan dua bilah kayu/akrilik disebut
Kumo (cubit)
Arashi (lilit pipa)
Nui (jahit)
Itajime (jepit)
Seorang perajin melilitkan kain pada sebatang pipa paralon, mengerutkannya, lalu mengikatnya sebelum dicelup. Teknik Shibori yang ia gunakan adalah
Arashi
Itajime
Kanoko
Kumo
Teknik surface design yang memanfaatkan pigmen warna alami dari daun, bunga, atau batang tumbuhan secara langsung ke kain disebut
Batik
Ecoprint
Shibori
Sulam
Dalam ecoprint, teknik mentransfer pigmen daun ke kain dengan cara meletakkan daun di atas kain lalu memukulnya dengan palu disebut teknik
Pounding (pukul)
Steaming (kukus)
Itajime (jepit)
Lorodan (rebus)
Teknik ecoprint yang dilakukan dengan cara menata daun di atas kain, menggulungnya dengan kencang (seringkali menggunakan pipa), lalu mengukusnya selama beberapa jam disebut teknik
Pounding
Resist dyeing
Steaming / Blanket
Nui Shibori
Zat kimia seperti tawas, tunjung, atau kapur sirih yang digunakan dalam proses ecoprint dan pewarnaan alam berfungsi sebagai
Peluntur warna
Mordant (pembangkit warna) dan Fiksator (pengunci warna)
Pelarut lilin
Pengental pewarna
Teknik menghias permukaan kain dengan menggunakan jarum dan benang secara manual (dengan tangan) untuk menciptakan berbagai macam pola hias disebut
Bordir
Batik
Sablon
Sulam
Tusuk rantai, tusuk silang (cross-stitch), dan tusuk pipih adalah contoh-contoh tusuk dasar yang digunakan dalam teknik
Sulam
Bordir komputer
Ecoprint
Batik cap
Alat yang berfungsi untuk meregangkan kain agar kencang sehingga memudahkan proses menyulam dengan tangan adalah
Gawangan
Canting
Pembidang (Ram)
Palu
Perbedaan utama antara teknik Sulam dan Bordir adalah
Sulam menggunakan benang, bordir menggunakan cat
Sulam dilakukan dengan tangan, bordir menggunakan mesin
Sulam untuk baju, bordir untuk tas
Sulam dari Indonesia, bordir dari Jepang
Bordir yang menggunakan mesin jahit manual (bukan otomatis) di mana operator harus menggerakkan kain secara manual untuk membentuk desain disebut
Sulam tangan
Bordir komputer
Bordir manual (goyang)
Bordir aplikasi
Batik, Shibori, Tie-dye, dan Ecoprint dapat dikategorikan sebagai teknik surface design yang berjenis
Penambahan material (benang)
Pencetakan (printing)
Tenun
Pewarnaan rintang (Resist Dyeing) atau kontak langsung
