NEW
Font size
WorksheetsWorksheet TJKT: Etika, Refleksi, dan Praktik Pedagogis
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Untuk menumbuhkan budaya refleksi yang mendalam dan berorientasi pada pengembangan diri, metode refleksi yang paling efektif Anda terapkan berikutnya adalah...
Membuat format refleksi baru dengan 50 pertanyaan tertutup.
Mengganti refleksi dengan tugas merangkum.
Mewajibkan siswa membuat video vlog yang hanya berisi pujian atas keberhasilan mereka.
Menerapkan metode refleksi Traffic Light (Stop, Ready & Start, Continue) yang spesifik ke dalam konteks TJKT: (Stop: Hal teknis apa yang harus berhenti dilakukan karena tidak efisien/berbahaya, Ready & Start: Konfigurasi baru apa yang akan dipelajari, Continue: Kompetensi apa yang harus dipertahankan), dan memfasilitasi diskusi kelompok kecil tentang hasil refleksi mereka.
Hanya meminta refleksi dari siswa yang hasilnya kurang memuaskan.
Aktivitas pembelajaran TJKT yang paling efektif untuk menanamkan nilai integritas sesuai dengan Pendidikan Nilai adalah...
Mengadakan kuis mendadak tentang definisi integritas.
Mewajibkan siswa menandatangani pakta integritas setiap awal semester.
Memberikan studi kasus simulasi di mana siswa berperan sebagai administrator jaringan yang memiliki akses penuh ke data pengguna dan dihadapkan pada dilema etika (misalnya, mengakses data pribadi teman sekelas), kemudian meminta mereka membuat Kode Etik Administrator Jaringan berdasarkan prinsip moral dan tanggung jawab profesional.
Meminta siswa mencari dan menghafal 10 tokoh IT yang berintegritas.
Mengajak siswa untuk sering-sering berdiskusi tentang kasus korupsi di Indonesia.
Berdasarkan prinsip Pendidikan yang Berpusat pada Peserta Didik dan Refleksi diri, tindakan perbaikan kurikulum dan pembelajaran yang paling strategis Anda ambil adalah...
Mengubah semua modul praktik menjadi studi kasus yang hanya fokus pada troubleshooting tanpa dasar teori.
Mengabaikan masukan industri karena mereka tidak tahu kesulitan mengajar di sekolah.
Merevisi RPP dengan mengalihkan fokus dari teaching the content menjadi teaching to think (mengembangkan daya nalar), yaitu dengan menerapkan Problem-Based Learning (PBL) berbasis troubleshooting pada kasus-kasus jaringan yang kompleks, bervariasi, dan asing bagi siswa (melatih adaptasi/kodrat zaman).
Mengajak perwakilan industri untuk mengajar di kelas Anda setiap minggu.
Menambah jam pelajaran teori untuk memperkuat dasar-dasar konsep yang dianggap lemah oleh industri.
Sebagai guru profesional yang memahami peran guru dan otonomi pendidikan di sekolah, bagaimana respons Anda yang paling mencerminkan integritas dan profesionalisme?
Memberikan nilai sempurna agar hubungan dengan orang tua harmonis.
Menolak secara tegas dan meminta orang tua tidak mengintervensi urusan sekolah.
Menjelaskan dengan bijak bahwa sekolah harus menjamin proses penilaian yang objektif, transparan, dan berkeadilan bagi semua siswa. Mengundang orang tua untuk berkolaborasi dengan menjadi narasumber tamu atau mentor untuk siswa lain, tetapi tetap menegaskan bahwa standar kelulusan dan penilaian harus melalui prosedur sekolah.
Memberikan tugas tambahan yang sangat sulit kepada anak tersebut sebagai pembuktian kemampuan.
Mengabaikan permintaan orang tua dan tidak memberikan respon apa pun.
Sesuai dengan filosofi pendidikan sebagai proses menuntun dan Pendidikan Nilai, tindakan segera dan jangka panjang yang paling holistik Anda lakukan adalah...
Membubarkan kelompok tersebut dan membuat kelompok baru.
Memberikan hukuman skorsing kepada semua anggota kelompok yang melakukan pengasingan.
Mengambil langkah segera untuk memediasi konflik, menugaskan siswa yang diasingkan sebagai ahli pada satu bagian teknis yang sederhana namun krusial (memberi peran) untuk mengembalikan rasa percaya diri dan menunjukkan kontribusinya. Kemudian, mengadakan diskusi kelas tentang pentingnya kolaborasi, empati, dan peran setiap individu dalam tim profesional TJKT.
Menambah tugas teknis yang paling sulit kepada siswa yang melakukan bullying sebagai pelajaran.
Mengundang orang tua dari siswa yang di-bully untuk mengambil alih bimbingan anaknya.
Anda saat menghadapi kegagalan teknis di depan siswa, yang paling mencerminkan prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha (memberi teladan) adalah...
Menghentikan demonstrasi dan meminta asisten lab untuk segera memperbaiki alat, lalu melanjutkan setelah alat siap.
Menyalahkan alat yang sudah tua dan meminta siswa untuk mencoba sendiri tanpa demonstrasi.
Menjelaskan secara transparan kepada siswa bahwa kegagalan teknis adalah bagian alami dari pekerjaan teknisi jaringan. Kemudian, menunjukkan langkah-langkah troubleshooting cepat untuk mengidentifikasi masalah pada alat dan beralih ke alat cadangan dengan tenang dan profesional, menunjukkan sikap problem-solver yang adaptif.
Mengubah materi hari itu menjadi teori karena alat tidak berfungsi.
Meminta siswa yang paling pandai untuk mengambil alih demonstrasi.
Berdasarkan konsep Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik dan Diferensiasi, bagaimana Anda mengatur pembelajaran agar semua siswa mencapai kompetensi minimal TJKT?
Mengajarkan semua materi dengan kecepatan Kelompok A agar mereka tidak bosan, mengabaikan Kelompok B.
Menahan materi agar Kelompok A menunggu Kelompok B.
Memberikan PR yang sangat banyak kepada Kelompok B untuk mengejar ketertinggalan.
Memberikan tugas praktik dengan tingkat kompleksitas yang berbeda (Diferensiasi Konten/Proses): Kelompok A diberi proyek eksplorasi konfigurasi multi-area OSPF (tantangan), sementara Kelompok B diberi bimbingan mendalam (scaffolding) tentang subnetting dengan media visual interaktif (coaching).
Hanya menguji pemahaman subnetting dasar untuk seluruh kelas agar semua dapat lulus.
Sebagai guru yang memegang prinsip Tut Wuri Handayani (menuntun dan mengembangkan kodrat), bagaimana Anda menanggapi keputusan krusial siswa tersebut?
Langsung melarangnya karena ijazah SMK lebih penting daripada pekerjaan freelance.
Mendorongnya untuk keluar sekolah karena ia sudah menemukan minatnya di luar TJKT.
Melakukan dialog mendalam untuk memahami motivasi dan rencananya. Kemudian, memberikan bimbingan dan pendampingan untuk mencari opsi yang memungkinkan ia tetap menyelesaikan pendidikan (misalnya melalui program Paket C, kelas blended learning, atau penyesuaian jam praktik) sambil terus mengembangkan potensinya di bidang coding (menghormati kodrat dan menuntunnya).
Meminta ia pindah jurusan ke RPL (Rekayasa Perangkat Lunak).
Mengancam akan memberikan nilai buruk jika ia memutuskan untuk keluar.
Aksi nyata yang paling efektif dan berkelanjutan untuk mempromosikan dan menginternalisasi Kode Etik Guru di lingkungan kerja TJKT Anda adalah...
Mencetak Kode Etik Guru dan menempelkannya di setiap ruang guru dan laboratorium.
Menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan rekan-rekan guru untuk menganalisis studi kasus etika profesional TJKT (misalnya, penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pembelian perangkat lab) dan membuat pedoman perilaku guru TJKT yang kontekstual.
Meminta kepala sekolah untuk menegur guru yang melanggar Kode Etik.
Membuat Aksi Nyata berupa inisiasi pembentukan Komunitas Belajar Profesional TJKT di sekolah, yang secara rutin melakukan Refleksi Kritis terhadap praktik mengajar TJKT berdasarkan nilai-nilai Kode Etik dan prinsip Ki Hadjar Dewantara, dengan fokus pada perbaikan dan peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Mengajukan usulan agar sanksi bagi pelanggar Kode Etik diperberat.
Sebagai guru yang menyeimbangkan antara Kodrat Alam/Zaman (inovasi) dan nilai luhur (fundamental/konsep dasar), tindakan pedagogis yang paling tepat Anda lakukan adalah...
Memarahi siswa dan memaksa dia menggunakan CLI karena itu adalah aturan.
Memberikan nilai 0 untuk tugas tersebut karena tidak mengikuti instruksi.
Membiarkan siswa tersebut menggunakan GUI dan siswa lain menggunakan CLI, sehingga tidak terjadi konflik.
Memfasilitasi siswa tersebut untuk mempresentasikan perbandingan kelebihan dan kekurangan antara CLI dan GUI (merdeka belajar). Kemudian, menuntun siswa untuk memahami bahwa penguasaan CLI adalah dasar filosofis yang memungkinkan pemahaman mendalam tentang troubleshooting dan adaptasi terhadap berbagai platform jaringan, serta memberikan tugas yang membutuhkan penguasaan CLI (misalnya scripting otomatisasi) sebagai tantangan lanjutan.
Melaporkan siswa tersebut kepada koordinator jurusan karena dianggap melawan kebijakan guru.
