Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

ASA GANJIL 2025/2026-AKIDAH AKHLAK-X-SITTI NURNIATI PEMA

Total questions: 35

Worksheet time: 2hrs 32mins

Name
Class
Date
1.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilihlah 2 jawaban yang tepat pada soal berikut !

Berdasarkan stimulus di atas, Yang termasuk sifat wajib Allah SWT kelompok Nafsiyah dan Salbiyah adalah….

a)

Mutakalliman



b)

Qidam

c)

Qudrat

d)

Ilmu

e)

Wujud

2.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilihlah 2 jawaban yang tepat pada soal berikut ini !

Berdasarkan stimulus di atas, Yang termasuk sifat wajib Allah SWT kelompok Ma‘ani adalah….

a)

Qudrat



b)

Muridan

c)

Aliman

d)

Hayat

e)

Wujud

3.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilihlah 2 jawaban yang tepat pada soal berikut ini !

Berdasarkan stimulus di atas, Pasangan yang tepat antara sifat wajib dan sifat mustahil Allah SWT adalah….

a)

Qidam ↔ mautun



b)

Baqa’ ↔ Fana’

c)

C. Ilmu ↔ Jahlun

d)

Qudrat ↔ Karahah

e)

Sama’ ↔ Bukmun

4.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilihlah 3 jawaban yang tepat pada soal berikut ini !

Berdasarkan stimulus di atas, Pernyataan berikut yang menjelaskan makna sifat Jaiz bagi Allah adalah….

a)

Allah boleh menciptakan sesuatu atau tidak menciptakannya.



b)

Allah wajib melakukan apa yang dikehendaki manusia.

c)

Allah bebas berkehendak sesuai hikmah dan kebijaksanaan-Nya.

d)

Allah wajib memberikan nikmat kepada semua makhluk.

e)

Allah tidak terikat oleh kehendak selain diri-Nya.

5.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilihlah 1 jawaban yang tepat pada soal berikut ini !

Allah itu tidak membutuhkan bantuan makhluk-makhluknya karena Allah itu punya sifat ....

a)

Wujud

b)

Qiyamuhu binafsihi

c)

Iradat

d)

Qidam

e)

Wahdaniyah

6.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Sifat Allah yang menunjukkan bahwa Allah Maha Hidup dan tidak akan mati disebut….

a)

Sama’



b)

Hayat

c)

Bashar

d)

Kalam

e)

Iradah

7.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Pilih benar atau salah untuk pernyataan sesuai stimulus di atas!

Sifat Jaiz menunjukkan bahwa Allah wajib melakukan semua kehendak makhluk.

a)

BENAR

b)

SALAH

8.

Stimulus I : Mengenal Sifat-sifat Allah SWT

Setiap Muslim wajib mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah SWT agar imannya semakin kuat dan keyakinannya tidak goyah oleh perubahan zaman. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui Al-Qur’an dan ciptaan-Nya di alam semesta agar manusia dapat mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, sifat wajib bagi Allah, yaitu sifat-sifat yang pasti ada pada Allah dan mustahil tidak ada. Sifat wajib ini mencakup empat kelompok, yaitu Nafsiyah, yang menunjukkan keberadaan Allah seperti wujud; Salbiyah, yang meniadakan kekurangan dari-Nya seperti qidam (tidak berpermulaan), baqa’ (tidak berkesudahan); qiyamuhu binafsih (tidak membutuhkan yang lain) dan mukhalafatul lilhawaditsi ( tidak sama dengan makhluknya) Ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Allah seperti qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam; serta Ma’nawiyah, yaitu sifat yang menjelaskan keadaan Allah yang memiliki sifat Ma’ani, seperti kaunuhu qadiran (bahwasanya Allah Maha Kuasa).

Kedua, sifat mustahil bagi Allah, yaitu kebalikan dari sifat wajib. Misalnya, jika Allah wajib bersifat wujud, maka mustahil Allah bersifat ‘adam (tidak ada); jika Allah wajib ilmu (Maha Mengetahui), maka mustahil Allah jahil (bodoh).

Ketiga, sifat jaiz bagi Allah, yaitu sifat yang mungkin dilakukan oleh Allah, yaitu fi’lul mumkin aw tarkuhu, artinya Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Jelaskan bagaimana keyakinan terhadap sifat Mukhalafatu lil hawadits dapat mempengaruhi sikap seorang muslim dalam menghadapi perkembangan teknologi dan budaya modern!

(a)  

9.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

pilihlah 3 jawaban yang tepat pada soal berikut ini !

Berdasarkan stimulus di atas, Yang termasuk perilaku yang mencerminkan sifat hikmah adalah….

a)

Menyelesaikan masalah dengan tenang dan rasional



b)

Bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya

c)

Memberi nasihat dengan kata-kata lembut

d)

Mengambil keputusan dengan tergesa-gesa

e)

Menghindari sikap emosional dalam perdebatan

10.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Perhatikan perilaku berikut!

1.     Menjaga pandangan dari hal yang dilarang

2.     Mengendalikan diri dari dari perbuatan dosa

3.     Berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar

4.     Tidak mengambil hak orang lain

5.     Menghindari ghibah dan fitnah

Yang termasuk perilaku yang mencerminkan sifat iffah adalah…... ( pilih 2 jawaban yang benar)

a)

1, 2, dan 5



b)

1, 3, dan 5

c)

2, 3, dan 4

d)

1,  2 dan 4

e)

3, 4, dan 5

11.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Berdasarkan stimulus di atas, Ciri-ciri orang yang memiliki sifat syaja‘ah adalah….(pilih 3 jawaban yang tepat)

a)

Tegas dalam menegakkan kebenaran



b)

Tidak takut dalam membela keadilan

c)

Bertindak gegabah dalam menghadapi masalah

d)

Menyampaikan pendapat dengan suara lantang

e)

Berani mengatakan kebenaran walau di hadapan kekuasaan yang besar

12.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Berikut ini Perilaku Seorang siswa menunjukkan syaja’ah adalah...… (pilih 2 jawaban yang tepat)

a)

Berani mengakui kesalahan di depan guru

b)

Berani membela siswa yang diperlakukan tidak adil

c)

Membalas perlakuan buruk dengan kekerasan

d)

Menyembunyikan kebenaran karena takut dimarahi

e)

Menghadapi masalah dengan emosi

13.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Seseorang dikatakan memiliki sifat ‘adalah apabila ia…...(pilih 1 jawaban yang benar)

a)

Menilai orang lain berdasarkan kedekatan pribadi

b)

Memihak pada sahabat meski salah

c)

Menegakkan keadilan tanpa pandang bulu

d)

Memaafkan meski merasa dirugikan

e)

Mengalah demi kepentingan pribadi

14.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Manakah pernyataan berikut yang tidak sesuai dengan makna sifat hikmah? (pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Berpikir dengan tenang dan logis

b)

Menunda keputusan agar lebih matang

c)

Bertindak tanpa pertimbangan

d)

Menyelesaikan masalah secara adil

e)

Menggunakan akal sesuai petunjuk wahyu

15.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Pilih benar atau salah untuk pernyataan sesuai stimulus di atas!

Hikmah berarti kecerdasan dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan kebenaran

a)

BENAR

b)

SALAH

16.

Stimulus 2, : Meneladani Akhlak Terpuji

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia menghadapi berbagai pilihan dan ujian moral. Ada saatnya seseorang harus menahan diri dari godaan, ada kalanya harus berani menyampaikan kebenaran, dan di lain waktu perlu bersikap adil dalam menilai orang lain. Semua itu merupakan cerminan dari akhlak terpuji yang tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat kepada Allah SWT.

Salah satu akhlak terpuji adalah hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam berpikir, berkata, dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang yang berhikmah tidak tergesa-gesa, mampu melihat akibat dari setiap tindakan, dan mengambil keputusan dengan akal sehat serta bimbingan wahyu.

Selanjutnya, iffah berarti menjaga kehormatan diri dengan menahan nafsu dari hal-hal yang dilarang. Seseorang yang beriffah mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan dari ghibah, dan menahan pandangan dari hal yang tidak pantas.

Kemudian, syaja‘ah adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan menolak kezaliman. Orang yang memiliki syaja‘ah tidak takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Ia berani berkata benar walau di hadapan kekuasaan yang besar.

Terakhir, ‘adalah adalah keadilan, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Orang yang adil tidak memihak karena hawa nafsu, tidak menzalimi, dan senantiasa berlaku objektif dalam menilai.

Keempat sifat ini—hikmah, iffah, syaja‘ah, dan ‘adalah—merupakan induk dari seluruh akhlak terpuji. Jika keempatnya tertanam dalam diri seseorang, maka lahirlah pribadi beriman yang bijaksana, berani, terhormat, dan adil dalam segala aspek kehidupan.

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas berdasarkan stimulus di atas!

Bagaimana penerapan sifat iffah dapat membantu seorang pemimpin atau tokoh masyarakat dalam mengambil keputusan yang adil dan bijaksana? Jelaskan secara singkat disertai contohnya!

(a)  

17.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Yang termasuk contoh perilaku hubbuddunya dalam kehidupan sehari-hari adalah…. (pilih 2 jawaban yang tepat)

 

a)

Lebih senang bekerja daripada shalat

b)

Menyumbang agar mendapat pujian

c)

Menyimpan harta tanpa menunaikan zakat

d)

Berbagi rezeki kepada fakir miskin

e)

Zuhud terhadap dunia

18.

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Berasarkan stimulus di atas, Sifat hasad dapat menimbulkan dampak negatif, di antaranya…. (pilih 2 jawaban yang tepat)

a)

Menumbuhkan kebencian antar teman

b)

Meningkatkan semangat belajar

c)

Menyebabkan hati tidak tenang

d)

Membiasakan sifat rendah hati

e)

Menambah rasa syukur kepada Allah

19.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Seseorang merasa dirinya lebih pandai dan merendahkan orang lain. Perilaku ini menunjukkan sifat…. (pilih 2 jawaban yang tepat)

a)

Riya’

b)

Hasad

c)

Sombong

d)

Hubbuddunya

e)

Ujub

20.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Perhatikan pernyataan berikut:
1️⃣ Beramal agar dilihat orang lain.
2️⃣ Merasa amalnya sudah cukup tanpa perlu bertaubat.
3️⃣ Menyesali perbuatan buruk dan berjanji tidak mengulanginya.
4️⃣ Selalu sombong dan meremehan  orang lain.
5️⃣ Bangga atas pencapaian tanpa mengingat pertolongan Allah.

Yang termasuk riya’ dan ujub pada pernyataan di atas adalah…. (pilih 2 jawaban yang tepat)

a)

1 dan 2

b)

1 dan 5

c)

2 dan 3

d)

1 dan 4

e)

4 dan 5

21.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Sifat yang membuat seseorang beramal bukan karena Allah, tetapi agar dipuji manusia disebut…. (pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Hubbuddunya

b)

Hasad

c)

Riya’

d)

Ujub

e)

Sombong

22.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi. untuk mencegah perilaku tersebut salah satunya harus banyak-banyak mengingat kematian agarvtidak terlena dengan kehidupan akhirat.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Berdasarkan stimulus di atas Sifat hubbuddunya dapat dicegah dengan cara….

a)

Banyak mengingat mati

b)

Berlomba mengumpulkan harta

c)

Meninggalkan ibadah wajib

d)

Menghindari sedekah

e)

Menyombongkan diri atas nikmat

23.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Pilih benar atau salah untuk pernyataan sesuai stimulus di atas!

Sifat sombong adalah merasa rendah diri terhadap orang lain.

a)

BENAR

b)

SALAH

24.

STIMULUS 3 : Bahaya Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang terjebak dalam sikap dan perilaku yang merusak hati tanpa mereka sadari. Di antara akhlak tercela yang sering muncul adalah hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, dan riya’.

Hubbuddunya adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga seseorang lebih mementingkan harta, jabatan, dan kenikmatan sementara daripada nilai-nilai akhirat. Akibatnya, seseorang rela mengorbankan kejujuran dan ibadah hanya demi keuntungan duniawi.

Hasad adalah rasa iri yang mendorong seseorang tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Sifat ini menjauhkan hati dari ketenangan dan menumbuhkan kebencian dalam persaudaraan.

Ujub muncul ketika seseorang merasa kagum dan bangga berlebihan terhadap dirinya sendiri, seolah semua keberhasilan berasal dari kemampuan pribadinya, bukan karena pertolongan Allah SWT. Sifat ini menutup pintu syukur dan menumbuhkan kesombongan.

Sombong merupakan perasaan lebih tinggi dari orang lain, baik karena harta, ilmu, keturunan, maupun kedudukan. Orang yang sombong sering merendahkan orang lain dan menolak kebenaran, sebagaimana yang pernah dilakukan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.

Riya’ adalah beramal dengan niat agar dilihat dan dipuji orang lain. Amal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah SWT karena dilakukan bukan ikhlas karena-Nya.

Kelima sifat tercela ini jika tidak dikendalikan akan menggelapkan hati, menghilangkan keberkahan amal, dan menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim perlu melakukan mujahadah dan riyadhah an-nafs—berjuang melawan hawa nafsu dan melatih diri agar senantiasa bersih hati, ikhlas, dan rendah hati dalam beramal.

Jelaskan perbedaan antara ujub dan riya’ !

(a)  

25.

Stimulus 4 : “Cahaya di Balik Penyesalan”

Suatu malam yang sunyi, Rafi termenung di beranda rumahnya. Ia baru saja menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuatnya: sering meninggalkan salat, berkata kasar kepada orang tua, dan bergaul dengan teman yang menjerumuskannya. Hatinya gelisah dan pikirannya kacau. Ia merasa jauh dari Allah SWT. Namun dalam kegelisahan itu, Rafi teringat ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Sejak saat itu, Rafi mulai memahami hakikat taubat, yaitu kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan tekad untuk memperbaiki diri. Ia belajar bahwa taubat bukan hanya ucapan istighfar di bibir, tetapi perubahan hati, niat, dan perbuatan.

Rafi mempelajari bahwa ada macam-macam taubat:

  • Taubat dari dosa besar, seperti meninggalkan salat, berzina, dan meminum khamr.

  • Taubat dari dosa kecil, seperti berbohong atau menunda ibadah.

  • Taubat para salihin, yaitu meninggalkan hal-hal yang melalaikan hati dari Allah.

Ia juga memahami rukun taubat: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Adapun syarat taubat adalah ikhlas karena Allah dan dilakukan sebelum ajal tiba.

Dalam menjalani tata cara taubat, Rafi memperbanyak istighfar, salat dua rakaat taubat, berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi.

Kini, Rafi mulai menapaki tingkatan taubat, dari sekadar menyesal atas dosa, menuju taubat nasuha yang lahir dari cinta kepada Allah. Ia merasakan keutamaan taubat: hati yang tenang, hidup yang lebih bermakna, dan hubungan dengan Allah yang semakin dekat. Ia sadar, Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali.

Rafi menyadari kesalahannya dan mulai memperbaiki diri dengan melakukan taubat nasuha. Berdasarkan kisah tersebut, perbuatan yang menunjukkan rukun taubat ditunjukkan oleh…. (Pilih 2 jawaban yang tepat)

a)

Menyesali dosa yang telah dilakukan

b)

Berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa

c)

Meminta maaf kepada orang lain atas kesalahan

d)

Berbuat dosa dengan alasan ingin mencoba lagi

e)

Menunda taubat sampai waktu tua

26.

Stimulus 4 : “Cahaya di Balik Penyesalan”

Suatu malam yang sunyi, Rafi termenung di beranda rumahnya. Ia baru saja menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuatnya: sering meninggalkan salat, berkata kasar kepada orang tua, dan bergaul dengan teman yang menjerumuskannya. Hatinya gelisah dan pikirannya kacau. Ia merasa jauh dari Allah SWT. Namun dalam kegelisahan itu, Rafi teringat ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Sejak saat itu, Rafi mulai memahami hakikat taubat, yaitu kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan tekad untuk memperbaiki diri. Ia belajar bahwa taubat bukan hanya ucapan istighfar di bibir, tetapi perubahan hati, niat, dan perbuatan.

Rafi mempelajari bahwa ada macam-macam taubat:

  • Taubat dari dosa besar, seperti meninggalkan salat, berzina, dan meminum khamr.

  • Taubat dari dosa kecil, seperti berbohong atau menunda ibadah.

  • Taubat para salihin, yaitu meninggalkan hal-hal yang melalaikan hati dari Allah.

Ia juga memahami rukun taubat: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Adapun syarat taubat adalah ikhlas karena Allah dan dilakukan sebelum ajal tiba.

Dalam menjalani tata cara taubat, Rafi memperbanyak istighfar, salat dua rakaat taubat, berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi.

Kini, Rafi mulai menapaki tingkatan taubat, dari sekadar menyesal atas dosa, menuju taubat nasuha yang lahir dari cinta kepada Allah. Ia merasakan keutamaan taubat: hati yang tenang, hidup yang lebih bermakna, dan hubungan dengan Allah yang semakin dekat. Ia sadar, Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali.

Taubat yang dilakukan dengan penuh penyesalan, disertai tekad kuat untuk tidak mengulangi dosa, disebut….(pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Taubat nasuha

b)

Taubat biasa

c)

Taubat pura-pura

d)

Taubat sementara

e)

Taubat dzahiriyah

27.

Stimulus 4 : “Cahaya di Balik Penyesalan”

Suatu malam yang sunyi, Rafi termenung di beranda rumahnya. Ia baru saja menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuatnya: sering meninggalkan salat, berkata kasar kepada orang tua, dan bergaul dengan teman yang menjerumuskannya. Hatinya gelisah dan pikirannya kacau. Ia merasa jauh dari Allah SWT. Namun dalam kegelisahan itu, Rafi teringat ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Sejak saat itu, Rafi mulai memahami hakikat taubat, yaitu kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan tekad untuk memperbaiki diri. Ia belajar bahwa taubat bukan hanya ucapan istighfar di bibir, tetapi perubahan hati, niat, dan perbuatan.

Rafi mempelajari bahwa ada macam-macam taubat:

  • Taubat dari dosa besar, seperti meninggalkan salat, berzina, dan meminum khamr.

  • Taubat dari dosa kecil, seperti berbohong atau menunda ibadah.

  • Taubat para salihin, yaitu meninggalkan hal-hal yang melalaikan hati dari Allah.

Ia juga memahami rukun taubat: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Adapun syarat taubat adalah ikhlas karena Allah dan dilakukan sebelum ajal tiba.

Dalam menjalani tata cara taubat, Rafi memperbanyak istighfar, salat dua rakaat taubat, berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi.

Kini, Rafi mulai menapaki tingkatan taubat, dari sekadar menyesal atas dosa, menuju taubat nasuha yang lahir dari cinta kepada Allah. Ia merasakan keutamaan taubat: hati yang tenang, hidup yang lebih bermakna, dan hubungan dengan Allah yang semakin dekat. Ia sadar, Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali.

Berikut ini yang termasuk tata cara taubat yang benar adalah…. (pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Menyesali dosa namun tetap melakukannya lagi

b)

Memperbanyak istighfar dan salat taubat

c)

Membanggakan amal taubatnya kepada orang lain

d)

Menganggap dosa kecil tidak perlu ditaubati

e)

Menyalahkan orang lain atas dosa yang dilakukan

28.

Stimulus 4 : “Cahaya di Balik Penyesalan”

Suatu malam yang sunyi, Rafi termenung di beranda rumahnya. Ia baru saja menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuatnya: sering meninggalkan salat, berkata kasar kepada orang tua, dan bergaul dengan teman yang menjerumuskannya. Hatinya gelisah dan pikirannya kacau. Ia merasa jauh dari Allah SWT. Namun dalam kegelisahan itu, Rafi teringat ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Sejak saat itu, Rafi mulai memahami hakikat taubat, yaitu kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan tekad untuk memperbaiki diri. Ia belajar bahwa taubat bukan hanya ucapan istighfar di bibir, tetapi perubahan hati, niat, dan perbuatan.

Rafi mempelajari bahwa ada macam-macam taubat:

  • Taubat dari dosa besar, seperti meninggalkan salat, berzina, dan meminum khamr.

  • Taubat dari dosa kecil, seperti berbohong atau menunda ibadah.

  • Taubat para salihin, yaitu meninggalkan hal-hal yang melalaikan hati dari Allah.

Ia juga memahami rukun taubat: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Adapun syarat taubat adalah ikhlas karena Allah dan dilakukan sebelum ajal tiba.

Dalam menjalani tata cara taubat, Rafi memperbanyak istighfar, salat dua rakaat taubat, berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi.

Kini, Rafi mulai menapaki tingkatan taubat, dari sekadar menyesal atas dosa, menuju taubat nasuha yang lahir dari cinta kepada Allah. Ia merasakan keutamaan taubat: hati yang tenang, hidup yang lebih bermakna, dan hubungan dengan Allah yang semakin dekat. Ia sadar, Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali.

Pilih benar atau salah untuk pernyataan sesuai stimulus di atas!

Syarat taubat yang diterima Allah SWT adalah dilakukan dengan ikhlas dan sebelum ajal datang

a)

BENAR

b)

SALAH

29.

Stimulus 4 : “Cahaya di Balik Penyesalan”

Suatu malam yang sunyi, Rafi termenung di beranda rumahnya. Ia baru saja menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuatnya: sering meninggalkan salat, berkata kasar kepada orang tua, dan bergaul dengan teman yang menjerumuskannya. Hatinya gelisah dan pikirannya kacau. Ia merasa jauh dari Allah SWT. Namun dalam kegelisahan itu, Rafi teringat ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).” (QS. At-Tahrim: 8)

Sejak saat itu, Rafi mulai memahami hakikat taubat, yaitu kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan tekad untuk memperbaiki diri. Ia belajar bahwa taubat bukan hanya ucapan istighfar di bibir, tetapi perubahan hati, niat, dan perbuatan.

Rafi mempelajari bahwa ada macam-macam taubat:

  • Taubat dari dosa besar, seperti meninggalkan salat, berzina, dan meminum khamr.

  • Taubat dari dosa kecil, seperti berbohong atau menunda ibadah.

  • Taubat para salihin, yaitu meninggalkan hal-hal yang melalaikan hati dari Allah.

Ia juga memahami rukun taubat: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Adapun syarat taubat adalah ikhlas karena Allah dan dilakukan sebelum ajal tiba.

Dalam menjalani tata cara taubat, Rafi memperbanyak istighfar, salat dua rakaat taubat, berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi.

Kini, Rafi mulai menapaki tingkatan taubat, dari sekadar menyesal atas dosa, menuju taubat nasuha yang lahir dari cinta kepada Allah. Ia merasakan keutamaan taubat: hati yang tenang, hidup yang lebih bermakna, dan hubungan dengan Allah yang semakin dekat. Ia sadar, Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali.

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas sesuai stimulus di atas!

Seorang siswa menyadari bahwa kebiasaannya menyontek telah merugikan dirinya dan orang lain. Sebutkan 3 rukun taubat.agar taubatnya dianggap sah dan diterima oleh Allah SWT!

(a)  

30.

Stimulus 5 : Doa dari Dua Hati yang Tulus

Namanya Alya, siswi kelas XI di Madrasah Aliyah. Sejak kecil, ia dididik oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Ayahnya bekerja keras sebagai nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue untuk membantu ekonomi keluarga. Meski hidup sederhana, kedua orang tuanya selalu berpesan, “Jangan lupa hormati guru, karena mereka yang membimbingmu mengenal ilmu dan akhlak.”

Suatu hari, di sekolah, Alya merasa kecewa karena nilai ulangan akidah akhlaknya menurun. Ia sempat menggerutu, “Padahal aku sudah belajar semalam suntuk.” Ketika guru Akidah Akhlak memanggilnya untuk berdiskusi, Alya menunduk dan enggan menatap. Namun, saat pulang ke rumah, ibunya menasihatinya dengan lembut,

“Nak, ilmu tidak akan berkah jika hatimu tidak rendah hati kepada guru. Mintalah maaf, dan belajarlah dengan niat yang tulus.”

Keesokan harinya, Alya menemui gurunya dan berkata dengan penuh penyesalan,

“Maafkan saya, Bu. Saya sudah bersikap kurang sopan kemarin. Saya ingin memperbaiki sikap saya.”

Sang guru tersenyum dan membalas,

“Terima kasih, Alya. Ilmu akan mudah masuk ke hati yang bersih dan penuh hormat.”

Sejak saat itu, Alya menjadi lebih rajin, santun, dan berusaha memahami pelajaran dengan sungguh-sungguh. Ia membantu orang tuanya di rumah tanpa disuruh, dan selalu mencium tangan keduanya setiap berangkat dan pulang sekolah.

Beberapa bulan kemudian, Alya berhasil meraih peringkat pertama di kelas. Ia menangis haru sambil memeluk orang tuanya dan gurunya. Dalam hati, ia menyadari satu hal penting:

“Kesuksesan bukan hanya karena kepandaian, tetapi karena adab yang baik kepada orang tua dan guru yang membuka pintu keberkahan ilmu.”

Pilihlah 2 jawaban yang tepat pada soal berikut ini!

Perilaku Alya yang mencerminkan adab terhadap orang tua dan guru ditunjukkan oleh….

a)

Mengucapkan permintaan maaf kepada guru dengan tulus

b)

Membantah guru karena merasa sudah belajar

c)

Membantu orang tua di rumah tanpa disuruh

d)

Mengeluh karena nilai ulangan menurun

e)

Meremehkan nasihat ibunya

31.

Stimulus 5 : Doa dari Dua Hati yang Tulus

Namanya Alya, siswi kelas XI di Madrasah Aliyah. Sejak kecil, ia dididik oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Ayahnya bekerja keras sebagai nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue untuk membantu ekonomi keluarga. Meski hidup sederhana, kedua orang tuanya selalu berpesan, “Jangan lupa hormati guru, karena mereka yang membimbingmu mengenal ilmu dan akhlak.”

Suatu hari, di sekolah, Alya merasa kecewa karena nilai ulangan akidah akhlaknya menurun. Ia sempat menggerutu, “Padahal aku sudah belajar semalam suntuk.” Ketika guru Akidah Akhlak memanggilnya untuk berdiskusi, Alya menunduk dan enggan menatap. Namun, saat pulang ke rumah, ibunya menasihatinya dengan lembut,

“Nak, ilmu tidak akan berkah jika hatimu tidak rendah hati kepada guru. Mintalah maaf, dan belajarlah dengan niat yang tulus.”

Keesokan harinya, Alya menemui gurunya dan berkata dengan penuh penyesalan,

“Maafkan saya, Bu. Saya sudah bersikap kurang sopan kemarin. Saya ingin memperbaiki sikap saya.”

Sang guru tersenyum dan membalas,

“Terima kasih, Alya. Ilmu akan mudah masuk ke hati yang bersih dan penuh hormat.”

Sejak saat itu, Alya menjadi lebih rajin, santun, dan berusaha memahami pelajaran dengan sungguh-sungguh. Ia membantu orang tuanya di rumah tanpa disuruh, dan selalu mencium tangan keduanya setiap berangkat dan pulang sekolah.

Beberapa bulan kemudian, Alya berhasil meraih peringkat pertama di kelas. Ia menangis haru sambil memeluk orang tuanya dan gurunya. Dalam hati, ia menyadari satu hal penting:

“Kesuksesan bukan hanya karena kepandaian, tetapi karena adab yang baik kepada orang tua dan guru yang membuka pintu keberkahan ilmu.”

Nasihat ibu Alya kepada anaknya menunjukkan bahwa keberkahan ilmu akan datang jika….(pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Sering belajar hingga larut malam

b)

Bersikap hormat dan rendah hati kepada guru

c)

Mendapat nilai tinggi dalam setiap ujian

d)

Banyak bertanya di kelas

e)

Tidak pernah absen sekolah

32.

Stimulus 5 : Doa dari Dua Hati yang Tulus

Namanya Alya, siswi kelas XI di Madrasah Aliyah. Sejak kecil, ia dididik oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Ayahnya bekerja keras sebagai nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue untuk membantu ekonomi keluarga. Meski hidup sederhana, kedua orang tuanya selalu berpesan, “Jangan lupa hormati guru, karena mereka yang membimbingmu mengenal ilmu dan akhlak.”

Suatu hari, di sekolah, Alya merasa kecewa karena nilai ulangan akidah akhlaknya menurun. Ia sempat menggerutu, “Padahal aku sudah belajar semalam suntuk.” Ketika guru Akidah Akhlak memanggilnya untuk berdiskusi, Alya menunduk dan enggan menatap. Namun, saat pulang ke rumah, ibunya menasihatinya dengan lembut,

“Nak, ilmu tidak akan berkah jika hatimu tidak rendah hati kepada guru. Mintalah maaf, dan belajarlah dengan niat yang tulus.”

Keesokan harinya, Alya menemui gurunya dan berkata dengan penuh penyesalan,

“Maafkan saya, Bu. Saya sudah bersikap kurang sopan kemarin. Saya ingin memperbaiki sikap saya.”

Sang guru tersenyum dan membalas,

“Terima kasih, Alya. Ilmu akan mudah masuk ke hati yang bersih dan penuh hormat.”

Sejak saat itu, Alya menjadi lebih rajin, santun, dan berusaha memahami pelajaran dengan sungguh-sungguh. Ia membantu orang tuanya di rumah tanpa disuruh, dan selalu mencium tangan keduanya setiap berangkat dan pulang sekolah.

Beberapa bulan kemudian, Alya berhasil meraih peringkat pertama di kelas. Ia menangis haru sambil memeluk orang tuanya dan gurunya. Dalam hati, ia menyadari satu hal penting:

“Kesuksesan bukan hanya karena kepandaian, tetapi karena adab yang baik kepada orang tua dan guru yang membuka pintu keberkahan ilmu.”

Salah satu bentuk adab terhadap guru menurut kisah Alya adalah….(pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Mengingatkan guru dengan nada tinggi

b)

Menyalahkan guru atas nilai yang rendah

c)

Meminta maaf ketika berbuat salah

d)

Tidak menyapa guru di luar sekolah

e)

Menghindar saat guru menegur

33.

Stimulus 6 : Seruan Nabi Luth di Tengah Kegelapan Kaum Sodom

Nabi Luth a.s. adalah salah satu utusan Allah SWT yang diutus kepada penduduk Sodom, sebuah negeri yang dikenal makmur namun penuh dengan kerusakan moral dan perilaku menyimpang. Kaum Sodom melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya, yaitu hubungan sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki, yang kemudian dikenal sebagai perbuatan liwath (sodomi). Selain itu, mereka juga suka merampok, mencaci, dan memperolok orang-orang saleh.

Melihat kondisi kaumnya, Nabi Luth merasa sangat sedih. Dengan penuh kesabaran, beliau menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, meninggalkan perbuatan keji, dan kembali kepada fitrah manusia yang suci.

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)

Namun, seruan itu ditolak mentah-mentah. Kaum Sodom justru mengejek Nabi Luth, menuduhnya membawa ajaran aneh, bahkan mengancam akan mengusir beliau dari negeri mereka. Mereka semakin tenggelam dalam dosa dan maksiat.

Karena keingkaran mereka yang sudah melampaui batas, Allah SWT menurunkan azab yang sangat dahsyat. Malaikat diutus dalam rupa manusia untuk menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya, kecuali istrinya yang ikut binasa karena membela perbuatan kaumnya. Pada malam hari, Allah membalikkan negeri Sodom dan menurunkan hujan batu dari langit menimpa mereka.

Itulah akhir kehidupan kaum Nabi Luth — sebuah pelajaran besar bagi umat manusia agar menjauhi perilaku menyimpang dan menjaga kehormatan diri sesuai fitrah yang Allah tetapkan. Dakwah Nabi Luth menjadi bukti kasih sayang Allah, bahwa sebelum azab datang, selalu ada peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Perhatikan pernyataan berikut ini!

1.     Kaum Sodom melakukan perbuatan menyimpang berupa hubungan sesama jenis.

2.     Nabi Luth a.s. berdakwah dengan cara kekerasan agar kaumnya bertaubat.

3.     Allah menurunkan azab yang sangat kepada kaum Nabi Luth.

4.     Nabi Luth a.s. tetap sabar dan tegas dalam berdakwah.

5.     Azab Allah diturunkan karena kaum Nabi Luth menolak kebenaran dan melampaui batas.

Pernyataan yang benar ditunjukkan oleh nomor.... (pilih 2 jawaban yang tepat

a)

 1, 2, dan 3

b)

 1, 3, dan 4

c)

 1, 4, dan 5

d)

 2, 3, dan 4

e)

 3, 4, dan 5

34.

Stimulus 6 : Seruan Nabi Luth di Tengah Kegelapan Kaum Sodom

Nabi Luth a.s. adalah salah satu utusan Allah SWT yang diutus kepada penduduk Sodom, sebuah negeri yang dikenal makmur namun penuh dengan kerusakan moral dan perilaku menyimpang. Kaum Sodom melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya, yaitu hubungan sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki, yang kemudian dikenal sebagai perbuatan liwath (sodomi). Selain itu, mereka juga suka merampok, mencaci, dan memperolok orang-orang saleh.

Melihat kondisi kaumnya, Nabi Luth merasa sangat sedih. Dengan penuh kesabaran, beliau menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, meninggalkan perbuatan keji, dan kembali kepada fitrah manusia yang suci.

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)

Namun, seruan itu ditolak mentah-mentah. Kaum Sodom justru mengejek Nabi Luth, menuduhnya membawa ajaran aneh, bahkan mengancam akan mengusir beliau dari negeri mereka. Mereka semakin tenggelam dalam dosa dan maksiat.

Karena keingkaran mereka yang sudah melampaui batas, Allah SWT menurunkan azab yang sangat dahsyat. Malaikat diutus dalam rupa manusia untuk menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya, kecuali istrinya yang ikut binasa karena membela perbuatan kaumnya. Pada malam hari, Allah membalikkan negeri Sodom dan menurunkan hujan batu dari langit menimpa mereka.

Itulah akhir kehidupan kaum Nabi Luth — sebuah pelajaran besar bagi umat manusia agar menjauhi perilaku menyimpang dan menjaga kehormatan diri sesuai fitrah yang Allah tetapkan. Dakwah Nabi Luth menjadi bukti kasih sayang Allah, bahwa sebelum azab datang, selalu ada peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Apakah bentuk azab yang Allah SWT turunkan kepada kaum Nabi Luth a.s.? (pilih 1 jawaban yang tepat)

a)

Banjir besar seperti kaum Nabi Nuh

b)

Gempa bumi yang mengguncang

c)

Negeri mereka dibalik dan dihujani batu

d)

Angin topan yang sangat kencang

e)

Wabah penyakit menular

35.

Stimulus 6 : Seruan Nabi Luth di Tengah Kegelapan Kaum Sodom

Nabi Luth a.s. adalah salah satu utusan Allah SWT yang diutus kepada penduduk Sodom, sebuah negeri yang dikenal makmur namun penuh dengan kerusakan moral dan perilaku menyimpang. Kaum Sodom melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya, yaitu hubungan sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki, yang kemudian dikenal sebagai perbuatan liwath (sodomi). Selain itu, mereka juga suka merampok, mencaci, dan memperolok orang-orang saleh.

Melihat kondisi kaumnya, Nabi Luth merasa sangat sedih. Dengan penuh kesabaran, beliau menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, meninggalkan perbuatan keji, dan kembali kepada fitrah manusia yang suci.

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)

Namun, seruan itu ditolak mentah-mentah. Kaum Sodom justru mengejek Nabi Luth, menuduhnya membawa ajaran aneh, bahkan mengancam akan mengusir beliau dari negeri mereka. Mereka semakin tenggelam dalam dosa dan maksiat.

Karena keingkaran mereka yang sudah melampaui batas, Allah SWT menurunkan azab yang sangat dahsyat. Malaikat diutus dalam rupa manusia untuk menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya, kecuali istrinya yang ikut binasa karena membela perbuatan kaumnya. Pada malam hari, Allah membalikkan negeri Sodom dan menurunkan hujan batu dari langit menimpa mereka.

Itulah akhir kehidupan kaum Nabi Luth — sebuah pelajaran besar bagi umat manusia agar menjauhi perilaku menyimpang dan menjaga kehormatan diri sesuai fitrah yang Allah tetapkan. Dakwah Nabi Luth menjadi bukti kasih sayang Allah, bahwa sebelum azab datang, selalu ada peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Pilih benar atau salah untuk pernyataan sesuai stimulus di atas!

"Nabi Luth a.s. menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah dan meninggalkan perbuatan keji, namun hanya sebagian kecil yang beriman kepadanya."

a)

BENAR

b)

SALAH