Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UTS_SPI_GASAL_SMSTR 1

Total questions: 10

Worksheet time: 15mins

Name
Class
Date
1.

Sejarawan modern menegaskan bahwa peradaban Islam bukan sekadar akumulasi peristiwa politik atau pembangunan monumental, melainkan sebuah proses kontinuitas nilai-nilai normatif (yang bersumber dari wahyu), praktik sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan, serta transformasi budaya yang saling mempengaruhi dalam jangka panjang. Oleh karena itu kajian peradaban harus memadukan sumber teks, arkeologi, sosiologi, dan historiografi untuk menangkap makna perubahan yang kompleks.

Berdasarkan bacaan, pernyataan manakah yang paling tepat menggambarkan hakikat sejarah peradaban Islam?

a)

Kajian multidisipliner tentang perkembangan nilai-nilai normatif, institusi, ilmu, dan praktik sosial umat Islam yang berakar pada wahyu dan terefleksi dalam perubahan budaya serta lembaga sepanjang waktu.

b)

Kajian yang menekankan hanya pada kronik politik dan pergantian penguasa, tanpa perlu menggabungkan kajian sosial, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dalam analisis peradaban.

c)

Pendekatan yang memprioritaskan bukti arkeologis dan arsitektur monumental semata sebagai indikator utama kemajuan peradaban, terlepas dari konteks teks wahyu dan praktik sosial.

d)

Studi yang membatasi peradaban pada aspek ritual keagamaan dan tata ibadah saja, sehingga pengaruh sosial dan ilmiah dipandang sebagai hal sekunder.

e)

Telaah yang hanya menyorot kesinambungan tradisi lisan tanpa menguji verifikasi sumber tertulis, administratif, dan bukti material lainnya.

2.

Dalam kajian tentang Arab pra-Islam ditemukan tradisi sastra tinggi (syair), adat istiadat kesukuan yang kuat, dan jaringan perdagangan antar wilayah. Ketika Islam hadir, terjadi koreksi nilai—dari fanatisme suku menuju prinsip persaudaraan antarsesama manusia—yang menandai pergeseran kebudayaan sekaligus mendasari struktur peradaban baru.

Manakah pernyataan berikut yang paling akurat menjelaskan relasi antara kebudayaan dan peradaban menurut konteks bacaan?

a)

Kebudayaan mencakup nilai, seni, dan praktik mental masyarakat; peradaban mencakup struktur institusional, organisasi politik, ekonomi, dan capaian ilmiah—dan transformasi nilai oleh Islam menghubungkan kedua ranah tersebut untuk membentuk tatanan masyarakat baru.

b)

Kebudayaan dan peradaban adalah sinonim mutlak sehingga tidak perlu dibedakan dalam analisis perubahan masyarakat pra- dan pasca-Islam.

c)

Peradaban hanya merujuk pada kemajuan material (arsitektur, infrastruktur) sementara kebudayaan hanya urusan sastra, sehingga transformasi nilai tidak berpengaruh pada peradaban

d)

Kebudayaan bersifat statis dan tidak berubah oleh gerakan keagamaan, sedangkan peradaban adalah akibat langsung dari kekuasaan politik semata.

e)

Peradaban sama sekali terlepas dari kebudayaan; perubahan kebudayaan tidak pernah memengaruhi struktur peradaban.

3.

Banyak ilmuwan klasik Islam merujuk ayat-ayat dan hadis yang mendorong pencarian ilmu, keadilan, dan pemeliharaan martabat manusia sebagai dasar etis riset dan pembelajaran. Institusi penerjemahan, perpustakaan, dan madrasah muncul sebagai wujud nyata sinergi antara tekstualitas wahyu dan tradisi rasionalitas.

Dari bacaan, fungsi Al-Qur’an dan Hadis dalam konstelasi peradaban Islam paling tepat dijelaskan sebagai...

a)

Sumber normatif-etis yang memotivasi pengembangan ilmu dan lembaga pendidikan, serta membingkai praktik sosial dan hukum sehingga peradaban Islam menggabungkan wahyu dengan tradisi rasional.

b)

Sumber yang hanya mengatur urusan pribadi sehingga kontribusinya terhadap sains dan tata negara bersifat minimal atau tidak relevan.

c)

Dokumen legitimasi politik yang semata-mata dipakai oleh penguasa untuk memperkuat otoritas tanpa memberi arah pada pengembangan ilmu.

d)

Kumpulan teks ritual yang tidak berhubungan dengan aktivitas intelektual dan kelembagaan pendidikan di masyarakat Islam.

e)

Sumber yang hanya memiliki peran simbolis dalam budaya literasi, tetapi tidak menginspirasi institusi ilmiah.

4.

Transmisi lisan merupakan basis awal historiografi Islam, namun perkembangan ilmu sejarah menuntut verifikasi sanad dan kritik matan, penelusuran arsip administratif, kajian numismatik, serta pembandingan sumber-sumber lokal dan asing untuk merekonstruksi peristiwa dengan kredibilitas akademik.

Langkah metodologis yang paling sesuai untuk menghasilkan tulisan sejarah peradaban Islam yang kredibel menurut bacaan adalah...

a)

Menggabungkan verifikasi sumber lisan (sanad/matan) dengan analisis dokumen administratif, bukti material, dan kajian komparatif sehingga interpretasi historis dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

b)

Mengutamakan narasi populer dan riwayat tanpa perlu mengkritik sanad karena tradisi lisan dianggap sudah cukup otentik.

c)

Bergantung semata pada teks-teks klasik tanpa membutuhkan bukti arkeologi atau dokumentasi administratif karena teks memang mewakili realitas.

d)

Menolak penggunaan sumber non-Muslim sebagai bias sehingga membatasi cakupan bukti dalam penulisan sejarah.

e)

Hanya menulis berdasar korelasi kronologis sederhana tanpa melakukan kritik sumber karena fokus pada alur cerita.

5.

Dakwah Nabi di Mekkah pada tahap awal bersifat selektif dan personal—mendatangi keluarga, teman dekat, dan jaringan sosial—karena kondisi sosial-politik yang sensitif; strategi ini menyiapkan perubahan moral yang lambat namun fundamental terhadap praktik jahiliyah.

Strategi dakwah Nabi di Mekkah seperti dijelaskan bacaan terutama bertujuan untuk...

a)

Menginisiasi perubahan nilai secara bertahap melalui pendekatan personal dan jaringan sosial sehingga fondasi moral masyarakat dapat direformasi tanpa memicu kekerasan sosial yang luas.

b)

Menetapkan kekuasaan politik langsung atas Mekkah sejak awal tanpa mempertimbangkan jaringan sosial.

c)

Melakukan kampanye massa besar-besaran yang langsung mengunggulkan struktur kesukuan pra-Islam.

d)

Menyebarkan ajaran tanpa memperhatikan konsekuensi sosial dan politik sehingga perubahan berlangsung spontan.

e)

Menggantikan seluruh tradisi sastra dan kebudayaan Mekkah seketika tanpa proses adaptasi.

6.

Piagam Madinah merumuskan prinsip-prinsip kerjasama lintas komunitas, pembagian tanggung jawab pertahanan, jaminan kebebasan beragama bagi sekutu non-Muslim, serta mekanisme penyelesaian sengketa—menjadikan Madinah sebagai prototype negara-polis yang inklusif.

Makna historis Piagam Madinah dalam konteks pembentukan masyarakat baru paling tepat adalah...

a)

A. Sebuah kontrak sosial awal yang mendesain mekanisme tata politik dan sosial inklusif antara berbagai kelompok sehingga menciptakan koeksistensi yang teratur dan berkepastian hukum.

b)

B. Dokumen yang hanya mengatur urusan ritual internal kaum Muslim tanpa menyentuh relasi dengan kelompok lain.

c)

C. Perjanjian militer semata yang tidak memuat ketentuan sosial atau hukum sipil.

d)

D. Piagam yang mengharuskan homogenitas keyakinan sebagai syarat persatuan politik.

e)

E. Instrumen yang menempatkan kelompok non-Muslim pada status subordinat tanpa hak-hak politik.

7.

Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin sering digambarkan sebagai kombinasi kharismatik dan institusional: pengambilan keputusan melalui musyawarah (syura), perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat, serta upaya membentuk fungsi administratif seperti diwan untuk mengelola keuangan negara.

Ciri kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang paling menonjol menurut bacaan adalah...

a)

Model kepemimpinan yang menggabungkan prinsip musyawarah, legitimasi moral, dan pembentukan struktur administrasi negara demi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan tata pemerintahan.

b)

Kepemimpinan absolut tanpa mekanisme partisipatif masyarakat.

c)

Kepemimpinan yang hanya berorientasi pada ekspansi militer tanpa administrasi sipil.

d)

Pemerintahan berbasis hak waris yang menggeser mekanisme syura.

e)

Gaya kepemimpinan yang mengabaikan aspek kesejahteraan dan akuntabilitas publik.

8.

Pemerintahan Umayyah mengonsolidasikan wilayah yang luas dengan memperkenalkan sentralisasi administrasi dan penggunaan bahasa Arab sebagai lingua franca birokrasi, sehingga memperlancar komunikasi pemerintahan dan integrasi budaya di wilayah taklukan.

Dampak kebijakan administratif dan linguistik Umayyah terhadap peradaban Islam adalah...

a)

Mempercepat integrasi administrasi lintas wilayah, menyederhanakan komunikasi birokratik, dan memperkuat identitas budaya Islam melalui penyebaran bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan literasi.

b)

Menyebabkan fragmentasi administratif karena penolakan bahasa Arab di daerah taklukan.

c)

Mengabaikan pembentukan jaringan administrasi sehingga pengelolaan wilayah menjadi kacau.

d)

Membatasi penyebaran budaya lokal dengan menghentikan semua aktivitas administratif setempat.

e)

Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa elit semata tanpa pengaruh luas pada birokrasi.

9.

Pada masa Abbasiyah muncul lembaga-lembaga ilmiah seperti Bait al-Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan dan penelitian, serta madrasah yang memformalkan pendidikan agama dan ilmu rasional, menghasilkan sinergi antara pemikiran teologis dan intelektualitas ilmiah.

Peran Bait al-Hikmah dan madrasah pada masa Abbasiyah paling tepat digambarkan sebagai...

a)

Institusi yang memfasilitasi integrasi pengetahuan klasik dan Islam, memupuk tradisi terjemahan, penelitian, dan pendidikan formal sehingga menjadikan dunia Islam sebagai pusat intelektual internasional.

b)

Lembaga yang hanya berfokus pada hafalan teks-teks agama tanpa ruang untuk ilmu rasional.

c)

Institusi yang menolak tradisi intelektual non-Islam sehingga membatasi perkembangan ilmu.

d)

Pusat administratif tanpa kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan.

e)

Organisasi militer yang menyamar sebagai lembaga pendidikan.

10.

Setelah puncak Abbasiyah muncul kekuatan regional seperti Saljuk yang mendukung pendirian madrasah Nizamiyah, Fatimiyah yang mengembangkan jaringan intelektual Ismailiyah, dan Mamluk yang berhasil mempertahankan wilayah Muslim dari ancaman eksternal—masing-masing memberi warna politis dan intelektual pada peradaban Islam.

Kontribusi dinasti-dinasti regional tersebut terhadap kelangsungan peradaban Islam adalah…

a)

Memperkaya ragam institusi keilmuan, memperkuat tradisi pendidikan formal, menyokong stabilitas politik di wilayahnya masing-masing, dan memainkan peran penting dalam menjaga kedaulatan serta kelangsungan tradisi intelektual Islam.

b)

Menghentikan tradisi pendidikan dan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan kemunduran budaya secara menyeluruh.

c)

Menggantikan tradisi ilmiah Abbasiyah dengan kebijakan yang sama sekali bersifat militeristik sehingga ilmu terabaikan.

d)

Menolak adanya pluralitas intelektual sehingga membentuk rezim-teokrasi tunggal tanpa kontribusi ilmiah.

e)

Berfokus semata pada ekspansi wilayah tanpa membangun institusi pendidikan dan intelektual.