WorksheetsASESMEN AKHIR SEMESTER GANJIL MAPEL B. INDONESIA KELAS 4
Total questions: 50
Worksheet time: 25mins
Kalimat yang memerlukan objek disebut kalimat... .
aktif
pasif
transitif
intransitif
Kalimat yang tidak memerlukan objek disebut kalimat... .
pasif
transitif
intransitif
subjektif
Contoh kalimat transitif adalah... .
Okta bernyanyi
Bagas bermain
Riska menangis
Eko memetik jambu
Contoh kalimat intransitif adalah... .
Tegar bernyanyi
Okta memetik jambu
Bagas membeli buah di pasar
Riska menyanyikan lagu Apuse
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Saudara senenek atau saudara misan adalah... .
Bibi
Tante
Sepupu
Keponakan
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Hobi yang dimiliki Rio adalah... .
membaca
berenang
mengoleksi kartu permainan
memelihara kura-kura
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Yang memiliki hobi mengumpulkan kaus kaki adalah... .
Rio
Lita
Bobi
Tara
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Hobi yang dimiliki oleh Tara adalah... .
membaca
berenang
berkebun
menggambar
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Yang takut dengan kura-kura adalah... .
Rio
Tara
Ardi
Bobi
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Suka dan Tidak Suka
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan.
Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio.
Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya.
Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.”
Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman.
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman.
“Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.”
Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah.
Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya.
Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.”
“Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi.
“Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi.
Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.”
“Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.”
“Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidakbisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri.
“Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.”
Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya.
Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kura-kura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
Yang memiliki fobia dengan laba-laba adalah... .
Rio
Deri
Ardi
Om Danu
Ciri utama kalimat intransitif adalah... .
memiliki dua objek
tidak memiliki objek
tidak memiliki predikat
predikatnya diikuti keterangan
Di bawah ini yang merupakan kalimat transitif adalah... .
Adik tidur
Bunga mekar
Mereka bernyanyi
Dedi membaca buku
Di bawah ini yang merupakan kalimat intransitif adalah... .
Adik menangis
Paman menjual mobil
Ayah membaca koran
Kakak menyiram tanaman
Jika ingin mengubah kalimat transitif menjadi kalimat intransitif, bagian yang harus dihilangkan dari kalimat tersebut adalah... .
objeknya
subjeknya
predikatnya
keterangan tempat
Pada kalimat "Kakak membawa payung", kata payung berfungsi sebagai... .
objek
subjek
predikat
keterangan
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Yang sering dilakukan Tigor saat menyiram tanaman adalah... .
mandi
membuat hujan
membasahi semua benda
bermain tanah yang basah
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Berdasarkan bacaan diatas, nama tanaman milik Kak Tiur adalah... .
Molen
Anggrek
Sukulen
Suku mawar
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Menurut bacaan diatas, yang tidak membolehkan Tigor menyiram tanaman secara berlebihan adalah... .
Inang
Bapak
Kak Tiur
Tetangga
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Menurut bacaan diatas, nama suku keluarga Tigor adalah... .
Suku Len
Suku Marga
Suku Jawa
Suku Batak
Bacalah cerita berikut denga cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Menurut bacaan diatas, nama marga Tigor dan Kak Tiur adalah... .
Jaya
Satwa
Siregar
Margaria
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Kepala Suku Len
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi!
Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air. Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja.
Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini. Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik.
Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.
Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur. Tiba-tiba …
“Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur.
“Kenapa?” Tigor heran sekali.
“Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,” Kak Tiur menjelaskan.
“Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.
“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor.
Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”
Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong.
Eh, kenapa Molen mengendus-endus?
Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.”
“Meooong …,” jawab Molen.
Dalam cerita diatas, Molen adalah... .
nama kucing Tigor
masakan dari Inang
nama tanaman Kak Tiur
makanan kesukaan Tigor
Kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya disebut... .
sinonim
antonim
pantonim
homonim
Kalimat yang dibuat dengan cara menggabungkan dua kalimat atau lebih disebut... .
kalimat konjungsi
kalimat majemuk
kalimat pasif
kalimat imperatif
Perhatikan kalimat berikut!
"Okta sedang (lihat) foto-foto masa kecilnya"
Kata berawalan me- yang tepat pada kata lihat di atas adalah... .
melihat
menlihat
memlihat
menglihat
Perhatikan kalimat berikut!
"Riska baru saja (nulis) laporan tentang pekerjaan"
Kata berawalan me- yang tepat pada kata nulis di atas adalah... .
menulis
mentulis
memtulis
mengnulis
Perhatikan kalimat berikut!
"Tegar sedang (dengar) lagu-lagu akustikan di youtube"
Kata berawalan me- yang tepat pada kata dengar di atas adalah... .
medengar
mendengar
memdengar
mengdengar
Konjungsi yang sering digunakan dalam kalimat majemuk setara antara lain adalah... .
dan
yaitu
adalah
Mereka
Di bawah ini yang merupakan contoh kalimat majemuk setara adalah... .
Kami bermarga Siregar
Sami menyalakan kipas angin
Kak Lita mematikan kipas angin di dekat televisi
Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Awas!
Rudi berangkat lebih pagi. Kelompoknya piket hari ini. Mereka sudah berbagi tugas. Tugas Rudi menyapu kelas. Aduh, lampu lalu lintas sudah berganti kuning. Rudi tahu dia harus bersiap-siap untuk berhenti. Rudi tidak sabar menunggu lampu lalu lintas di depannya berganti hijau. Rasanya sungguh lama. Sudah tidak ada kendaraan lagi dari sebelah kanan dan kiri. Jalan di depannya kosong. Ah, aman, pikir Rudi. Dia mengayuh pedal dan bersiap untuk melaju sekencang-kencangnya. Tiba-tiba .... Teeeeeeeet! Bunyi klakson memekakkan telinga. Sebuah sepeda motor tiba-tiba melaju mendekatinya. Rudi sangat terkejut, tetapi dia sigap mengerem. Pengendara sepeda motor juga mengerem, tetapi dia terjatuh. Untunglah, pengendara sepeda motor itu tidak terluka. Sepeda motornya juga tidak rusak. ‘Kamu tidak apa-apa?’ seorang ibu bertanya kepada Rudi. ‘Kenapa kamu sudah maju? Di sebelah sana lampu lalu lintas masih hijau, berarti di sini masih merah!’ kata pengendara sepeda motor dengan kesal. ‘Itu berbahaya!’ Rudi hanya bisa berkata, ‘Maaf, Bang.’ Dia masih terkejut dan sekarang mulai merasa takut. ‘Sudah, sabar. Yang penting tidak ada yang terluka,’ kata ibu itu menengahi. ‘Kalian tidak pakai helm, itu juga berbahaya!’. "Hati-hati, ya, Nak," pesan ibu itu.
Latar belakang tempat cerita diatas adalah... .
rumah
sekolah
jalan raya
komplek perumahan
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Awas!
Rudi berangkat lebih pagi. Kelompoknya piket hari ini. Mereka sudah berbagi tugas. Tugas Rudi menyapu kelas. Aduh, lampu lalu lintas sudah berganti kuning. Rudi tahu dia harus bersiap-siap untuk berhenti. Rudi tidak sabar menunggu lampu lalu lintas di depannya berganti hijau. Rasanya sungguh lama. Sudah tidak ada kendaraan lagi dari sebelah kanan dan kiri. Jalan di depannya kosong. Ah, aman, pikir Rudi. Dia mengayuh pedal dan bersiap untuk melaju sekencang-kencangnya. Tiba-tiba .... Teeeeeeeet! Bunyi klakson memekakkan telinga. Sebuah sepeda motor tiba-tiba melaju mendekatinya. Rudi sangat terkejut, tetapi dia sigap mengerem. Pengendara sepeda motor juga mengerem, tetapi dia terjatuh. Untunglah, pengendara sepeda motor itu tidak terluka. Sepeda motornya juga tidak rusak. ‘Kamu tidak apa-apa?’ seorang ibu bertanya kepada Rudi. ‘Kenapa kamu sudah maju? Di sebelah sana lampu lalu lintas masih hijau, berarti di sini masih merah!’ kata pengendara sepeda motor dengan kesal. ‘Itu berbahaya!’ Rudi hanya bisa berkata, ‘Maaf, Bang.’ Dia masih terkejut dan sekarang mulai merasa takut. ‘Sudah, sabar. Yang penting tidak ada yang terluka,’ kata ibu itu menengahi. ‘Kalian tidak pakai helm, itu juga berbahaya!’. ‘Hati-hati, ya, Nak,’ pesan ibu itu."
Alasan Rudi memutuskan maju saat lampu lalu lintas belum berwarna hijau adalah... .
dikejar kucing
ada ujian mendadak
karena kelompoknya piket
tidak sabar menunggu lampu hijau
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Awas!
Rudi berangkat lebih pagi. Kelompoknya piket hari ini. Mereka sudah berbagi tugas. Tugas Rudi menyapu kelas. Aduh, lampu lalu lintas sudah berganti kuning. Rudi tahu dia harus bersiap-siap untuk berhenti. Rudi tidak sabar menunggu lampu lalu lintas di depannya berganti hijau. Rasanya sungguh lama. Sudah tidak ada kendaraan lagi dari sebelah kanan dan kiri. Jalan di depannya kosong. Ah, aman, pikir Rudi. Dia mengayuh pedal dan bersiap untuk melaju sekencang-kencangnya. Tiba-tiba .... Teeeeeeeet! Bunyi klakson memekakkan telinga. Sebuah sepeda motor tiba-tiba melaju mendekatinya. Rudi sangat terkejut, tetapi dia sigap mengerem. Pengendara sepeda motor juga mengerem, tetapi dia terjatuh. Untunglah, pengendara sepeda motor itu tidak terluka. Sepeda motornya juga tidak rusak. ‘Kamu tidak apa-apa?’ seorang ibu bertanya kepada Rudi. ‘Kenapa kamu sudah maju? Di sebelah sana lampu lalu lintas masih hijau, berarti di sini masih merah!’ kata pengendara sepeda motor dengan kesal. ‘Itu berbahaya!’ Rudi hanya bisa berkata, ‘Maaf, Bang.’ Dia masih terkejut dan sekarang mulai merasa takut. ‘Sudah, sabar. Yang penting tidak ada yang terluka,’ kata ibu itu menengahi. ‘Kalian tidak pakai helm, itu juga berbahaya!’. ‘Hati-hati, ya, Nak,’ pesan ibu itu."
Pesan yang disampaikan oleh seorang ibu yang berada di tempat kejadian adalah... .
agar berhati-hati
agar tidak lupa makan
supaya tidak terlambat sekolah
jangan kebut-kebutan di jalan
Jika argumentasi disampaikan dalam bentuk tertulis atau dalam sebuah paragraf disebut dengan paragraf... .
induktif
deduktif
argumentasi
implementasi
Berikut ini merupakan ciri-ciri paragraf argumentasi, kecuali... .
Mengandung pendapat, keyakinan, dan pandangan terhadap sebuah permasalahan
Ada data akurat yang dipakai untuk meyakinkan orang lain
Menjelaskan permasalahan dengan cara yang jelas
Penggunaan konjungsi yang tidak jelas
"Sasa (rambut) pirang".
Imbuhan ‘ber-’ pada kata yang ada dalam kurung yang benar adalah... .
berambut
merambut
benrambut
menrambut
"Tina dan Tini (main) petak umpet".
Imbuhan ‘ber-’ pada kata yang ada dalam kurung yang benar adalah... .
bermain
permainan
bermainan
memainkan
Bacalah cerita berikut dengan cermat!
Jauh dan Dekat
Ada banyak cara orang bepergian. Paling mudah, tentu saja dengan berjalan kaki. Namun, untuk menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki sungguh melelahkan. Kita membutuhkan kendaraan. Dengan demikian, perjalanan bisa ditempuh dengan lebih cepat. Kendaraan juga disebut alat transportasi. Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh mesin dan kendaraan yang digerakkan oleh makhluk hidup, termasuk manusia. Kendaraan yang digerakkan oleh mesin antara lain mobil, sepeda motor, pesawat terbang, dan kereta api. Sementara itu, delman, gerobak, kereta kuda digerakkan oleh hewan, sedangkan sepeda digerakkan oleh kaki pengendaranya. Menariknya, orang-orang juga mengendarai hewan secara langsung, tidak duduk di atas kereta atau gerobak yang ditarik hewan. Hewan yang dijadikan tunggangan ataupun sebagai penarik kereta biasanya memiliki kelebihan seperti kuat berjalan jauh, kuat membawa beban, atau mampu berlari kencang. Berdasarkan tempat pemakaiannya, ada kendaraan yang digunakan di daratan, di perairan, dan di udara. Alat transportasi di sungai antara lain sampan, perahu cepat, atau kapal. Ada jenis kendaraan yang mampu melintas di udara, seperti helikopter dan pesawat terbang, kecil ataupun besar. Ada pula kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut pesawat luar angkasa."
Cara paling mudah untuk bepergian sesuai dengan teks diatas adalah dengan... .
bersepeda
berjalan kaki
mengendarai motor
mengendarai mobil
Bacalah teks berikut dengan cermat!
Jauh dan Dekat
Ada banyak cara orang bepergian. Paling mudah, tentu saja dengan berjalan kaki. Namun, untuk menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki sungguh melelahkan. Kita membutuhkan kendaraan. Dengan demikian, perjalanan bisa ditempuh dengan lebih cepat.
Kendaraan juga disebut alat transportasi. Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh mesin dan kendaraan yang digerakkan oleh makhluk hidup, termasuk manusia. Kendaraan yang digerakkan oleh mesin antara lain mobil, sepeda motor, pesawat terbang, dan kereta api. Sementara itu, delman, gerobak, kereta kuda digerakkan oleh hewan, sedangkan sepeda digerakkan oleh kaki pengendaranya.
Menariknya, orang-orang juga mengendarai hewan secara langsung, tidak duduk di atas kereta atau gerobak yang ditarik hewan. Hewan yang dijadikan tunggangan ataupun sebagai penarik kereta biasanya memiliki kelebihan seperti kuat berjalan jauh, kuat membawa beban, atau mampu berlari kencang. Mungkin kalian sudah tahu kuda, sapi, atau kerbau dijadikan tunggangan ataupun penarik kereta. Di negara lain orang-orang juga menaiki keledai, unta, bahkan gajah.
Berdasarkan tempat pemakaiannya, ada kendaraan yang digunakan di daratan, di perairan, dan di udara. Kendaraan darat misalnya sepeda, mobil, truk, kereta api, atau hewan seperti kuda dan unta.
Di sebagian daerah yang memiliki banyak sungai, bepergian lewat air terkadang lebih disukai. Walaupun sudah ada jalan raya, banyak orang di sana yang tetap memilih lewat sungai. Alat transportasi di sungai antara lain sampan, perahu cepat, atau kapal. Kapal yang berukuran besar bahkan bisa mengarungi lautan.
Ada jenis kendaraan yang mampu melintas di udara. Ada helikopter dan pesawat terbang, kecil ataupun besar. Ada pula kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut pesawat luar angkasa.
Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh .... dan .... .
batrai dan diesel
udara dan mesin
makhluk hidup dan air
mesin dan makhluk hidup
Bacalah teks berikut dengan cermat!
Jauh dan Dekat
Ada banyak cara orang bepergian. Paling mudah, tentu saja dengan berjalan kaki. Namun, untuk menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki sungguh melelahkan. Kita membutuhkan kendaraan. Dengan demikian, perjalanan bisa ditempuh dengan lebih cepat.
Kendaraan juga disebut alat transportasi. Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh mesin dan kendaraan yang digerakkan oleh makhluk hidup, termasuk manusia. Kendaraan yang digerakkan oleh mesin antara lain mobil, sepeda motor, pesawat terbang, dan kereta api. Sementara itu, delman, gerobak, kereta kuda digerakkan oleh hewan, sedangkan sepeda digerakkan oleh kaki pengendaranya.
Menariknya, orang-orang juga mengendarai hewan secara langsung, tidak duduk di atas kereta atau gerobak yang ditarik hewan. Hewan yang dijadikan tunggangan ataupun sebagai penarik kereta biasanya memiliki kelebihan seperti kuat berjalan jauh, kuat membawa beban, atau mampu berlari kencang. Mungkin kalian sudah tahu kuda, sapi, atau kerbau dijadikan tunggangan ataupun penarik kereta. Di negara lain orang-orang juga menaiki keledai, unta, bahkan gajah.
Berdasarkan tempat pemakaiannya, ada kendaraan yang digunakan di daratan, di perairan, dan di udara. Kendaraan darat misalnya sepeda, mobil, truk, kereta api, atau hewan seperti kuda dan unta.
Di sebagian daerah yang memiliki banyak sungai, bepergian lewat air terkadang lebih disukai. Walaupun sudah ada jalan raya, banyak orang di sana yang tetap memilih lewat sungai. Alat transportasi di sungai antara lain sampan, perahu cepat, atau kapal. Kapal yang berukuran besar bahkan bisa mengarungi lautan.
Ada jenis kendaraan yang mampu melintas di udara. Ada helikopter dan pesawat terbang, kecil ataupun besar. Ada pula kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut pesawat luar angkasa.
Berikut ini merupakan kendaraan yang digunakan di daratan sesuai dengan teks diatas adalah... .
kapal
sampan
kereta api
pesawat terbang
Bacalah teks berikut dengan cermat!
Jauh dan Dekat
Ada banyak cara orang bepergian. Paling mudah, tentu saja dengan berjalan kaki. Namun, untuk menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki sungguh melelahkan. Kita membutuhkan kendaraan. Dengan demikian, perjalanan bisa ditempuh dengan lebih cepat.
Kendaraan juga disebut alat transportasi. Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh mesin dan kendaraan yang digerakkan oleh makhluk hidup, termasuk manusia. Kendaraan yang digerakkan oleh mesin antara lain mobil, sepeda motor, pesawat terbang, dan kereta api. Sementara itu, delman, gerobak, kereta kuda digerakkan oleh hewan, sedangkan sepeda digerakkan oleh kaki pengendaranya.
Menariknya, orang-orang juga mengendarai hewan secara langsung, tidak duduk di atas kereta atau gerobak yang ditarik hewan. Hewan yang dijadikan tunggangan ataupun sebagai penarik kereta biasanya memiliki kelebihan seperti kuat berjalan jauh, kuat membawa beban, atau mampu berlari kencang. Mungkin kalian sudah tahu kuda, sapi, atau kerbau dijadikan tunggangan ataupun penarik kereta. Di negara lain orang-orang juga menaiki keledai, unta, bahkan gajah.
Berdasarkan tempat pemakaiannya, ada kendaraan yang digunakan di daratan, di perairan, dan di udara. Kendaraan darat misalnya sepeda, mobil, truk, kereta api, atau hewan seperti kuda dan unta.
Di sebagian daerah yang memiliki banyak sungai, bepergian lewat air terkadang lebih disukai. Walaupun sudah ada jalan raya, banyak orang di sana yang tetap memilih lewat sungai. Alat transportasi di sungai antara lain sampan, perahu cepat, atau kapal. Kapal yang berukuran besar bahkan bisa mengarungi lautan.
Ada jenis kendaraan yang mampu melintas di udara. Ada helikopter dan pesawat terbang, kecil ataupun besar. Ada pula kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut pesawat luar angkasa.
Kendaraan yang digerakkan oleh mesin sesuai dengan teks diatas adalah... .
gerobak
sepeda motor
kereta kuda
delman
Bacalah teks berikut dengan cermat!
Jauh dan Dekat
Ada banyak cara orang bepergian. Paling mudah, tentu saja dengan berjalan kaki. Namun, untuk menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki sungguh melelahkan. Kita membutuhkan kendaraan. Dengan demikian, perjalanan bisa ditempuh dengan lebih cepat.
Kendaraan juga disebut alat transportasi. Berdasarkan tenaga penggeraknya, kendaraan terbagi menjadi dua yaitu kendaraan yang digerakkan oleh mesin dan kendaraan yang digerakkan oleh makhluk hidup, termasuk manusia. Kendaraan yang digerakkan oleh mesin antara lain mobil, sepeda motor, pesawat terbang, dan kereta api. Sementara itu, delman, gerobak, kereta kuda digerakkan oleh hewan, sedangkan sepeda digerakkan oleh kaki pengendaranya.
Menariknya, orang-orang juga mengendarai hewan secara langsung, tidak duduk di atas kereta atau gerobak yang ditarik hewan. Hewan yang dijadikan tunggangan ataupun sebagai penarik kereta biasanya memiliki kelebihan seperti kuat berjalan jauh, kuat membawa beban, atau mampu berlari kencang. Mungkin kalian sudah tahu kuda, sapi, atau kerbau dijadikan tunggangan ataupun penarik kereta. Di negara lain orang-orang juga menaiki keledai, unta, bahkan gajah.
Berdasarkan tempat pemakaiannya, ada kendaraan yang digunakan di daratan, di perairan, dan di udara. Kendaraan darat misalnya sepeda, mobil, truk, kereta api, atau hewan seperti kuda dan unta.
Di sebagian daerah yang memiliki banyak sungai, bepergian lewat air terkadang lebih disukai. Walaupun sudah ada jalan raya, banyak orang di sana yang tetap memilih lewat sungai. Alat transportasi di sungai antara lain sampan, perahu cepat, atau kapal. Kapal yang berukuran besar bahkan bisa mengarungi lautan.
Ada jenis kendaraan yang mampu melintas di udara. Ada helikopter dan pesawat terbang, kecil ataupun besar. Ada pula kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut pesawat luar angkasa.
Kendaraan yang sampai ke luar angkasa, disebut... .
sampan
helikopter
speedboat
pesawat luar angkasa
Berikut ini yang bukan alat transportasi/kendaraan di sungai antara lain... .
sampan
perahu cepat
kapal
pesawat terbang
Perhatikan kalimat berikut!
“Tegar (kerja) di Sci Media”
Imbuhan ‘ber-’ pada kata yang ada dalam kurung yang benar adalah... .
pekerja
bekerja
bengkerja
memperkerja
Perhatikan kalimat berikut!
"Eko (kunjung) ke rumah saudaranya di Bandung"
Imbuhan ‘ber-’ pada kata dalam kurung yang benar adalah... .
berkunjung
mengunjungi
berkunjungan
mengunjungkan
Perhatikan gambar berikut!
Gambar rambu lalu lintas diatas merupakan larangan... .
parkir
berkendara
menyeberang
menyeberang
Kegiatan tanya jawab antara dua orang atau lebih dengan tujuan mencari informasi tertentu disebut... .
kuis
diskusi
moderator
wawancara
Tujuan melakukan wawancara adalah... .
mendapatkan pujian
mengisi waktu luang
memperoleh informasi
mendapatkan teman baru
Dalam teks argumentasi penulis menyatakan pendapat dengan memberikan penjelasan dan fakta agar memengaruhi dan meyakinkan pembaca. fakta artinya... .
dugaan
bohong
khayalan
kenyataan
Alat yang digunakan sebagai penunjuk arah disebut... .
kompas
tikungan
jalan raya
rambu lalu lintas
Saat membutuhkan bantuan orang lain, yang harus kamu lakukan adalah... .
meminta maaf
meminta tolong
mengatakan permisi
mengejek teman yang ingin membantu
Perhatikan kalimat berikut!
“Lia sedang mencari buku yang hilang.”
kata mencari berasal dari kata dasar ‘cari’ yang mendapat imbuhan... .
me-
men-
meng-
meny-
