wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Latihan Soal

Total questions: 40

Worksheet time: 20mins

Name
Class
Date
1.

Konsili Vatikan II: "Gereja Umat Allah" Konsili Vatikan II adalah momen penting dalam sejarah Gereja Katolik yang memperbarui pandangan tentang Gereja dan misinya. Salah satu dokumen penting yang dihasilkan adalah Lumen Gentium, yang berarti "Terang Bangsa-bangsa." Dalam dokumen ini, Gereja ditegaskan sebagai "Umat Allah", komunitas yang dipanggil untuk berpartisipasi dalam misi keselamatan Kristus. Lumen Gentium menekankan bahwa Gereja terdiri dari semua orang beriman, baik hierarki (uskup, imam, diakon) maupun awam (umat biasa). Semua anggota Gereja memiliki martabat yang sama di hadapan Allah dan dipanggil untuk berbagi dalam misi Kristus, meskipun dengan peran yang berbeda. Para hierarki memimpin dan mengajar, sementara kaum awam menyebarkan Injil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini, umat Katolik berperan dalam membangun Kerajaan Allah di dunia. Dalam Lumen Gentium ditegaskan bahwa seluruh umat, baik awam maupun hierarki, harus bekerja sama untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan kedamaian sebagai tanda Kerajaan Allah. Menurut konsili dogmatik Lumen Gentium, konsep Gereja sebagai Umat Allah dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai ialah ... (Nilai: 1 poin)

a)

dengan menyerahkan semua urusan keagamaan kepada para imam dan biarawan.

b)

dengan menjalankan peran masing-masing sesuai panggilan, baik sebagai hierarki maupun awam, dalam mewujudkan nilai-nilai Kristiani di masyarakat.

c)

menjauh dari masyarakat yang berbeda agama.

d)

dengan hanya mengikuti kegiatan keagamaan di gereja tanpa terlibat aktif dalam masyarakat.

e)

dengan menunggu instruksi langsung dari Gereja untuk setiap tindakan.

2.

Gereja sebagai Umat Allah hidup di tengah bangsa-bangsa dunia, sebagai warga Kerajaan sorgawi. Semua orang beriman, yang tersebar di seluruh dunia, terhubung dalam Roh Kudus. Gereja memajukan dan menampung kemampuan serta adat-istiadat bangsa-bangsa, sambil memurnikannya. Gereja berusaha merangkum segenap umat manusia di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya.

Maka dari itu, Gereja sebagai Umat Allah dimaknai sebagai ... (Nilai: 1 poin)

a)

Gereja tidak bersifat universal dan eksklusif, hanya orang-orang yang sudah dibaptis yang layak masuk surga

b)

Gereja merupakan komunitas orang tidak berdosa, hanya dialah yang cocok disebut sebagai Umat Allah

c)

Gereja merupakan satu kesatuan yang di dalamnya menjunjung tinggi martabat manusia tanpa memandang latar belakangnya.

d)

Sifat Gereja Universal yang berarti tidak ada keselamatan di luar Gereja, maka dari itu Gereja harus menguasai seluruh dunia

e)

Gereja sebagai Umat Allah bersifat duniawi, karena di dalam dunia semua umat dapat bersatu

3.

Gereja memiliki banyak pengertian, salah satunya adalah sebagai ajaran. Arti dari Gereja sebagai ajaran ialah ... (Nilai: 1 poin)

a)

Gereja adalah rumah Allah, tempat beribadat, Misa, atau merayakan Ekaristi umat Katolik atau umat Kristiani.

b)

Gereja adalah lembaga rohani yang menyalurkan kebutuhan manusia dalam relasinya dengan Allah lewat ibadat-ibadat.

c)

Gereja adalah lembaga untuk mempertahankan dan mempropagandakan ajaran yang dirangkum dalam Katekismus. Calon anggota harus mengetahui ajaran Gereja.

d)

Gereja adalah bangunan yang merupakan tempat berkumpul umat untuk diajarkan

4.

Bacalah ayat Kitab Suci berikut! Kisah Para Rasul 2:41–47 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

arti hidup mengumat berdasar bacaan di atas yaitu ...

a)

hidup mengumat pada dasarnya merupakan hakikat Gereja itu sendiri, sebab hakikat Gereja adalah persaudaraan cinta kasih seperti yang dicerminkan oleh hidup umat perdana

b)

hidup mengumat pada dasarnya merupakan kepentingan masing-masing umat meyakininya, hidup mengumat berfokus pada hidup umat itu sendiri tanpa memperhatikan aspek lain

c)

hidup mengumat pada dasarnya merupakan praktik hidup yang berfokus pada persekutuan yang dicerminkan melalui praktik hidup orang-orang Farisi

d)

hidup mengumat pada dasarnya bukanlah sebuah penghayatan, hidup mengumat hanya sebuah praktik saja yang diwariskan Yesus kepada pengikutnya

e)

hidup mengumat berfokus pada kelompok-kelompok umat yang ada, sehingga menimbulkan perpecahan di sekitar

5.

Di Paroki Keluarga Kudus Banteng, ada usulan untuk menghapus peran lektor dan organist, agar tugas-tugas itu menjadi tanggung jawab imam. Jika usulan ini diterima, konsekuensi negatif utama yang mungkin terjadi terhadap hakikat Gereja dan kehidupan jemaat berdasarkan prinsip Umat Allah adalah …

a)

martabat imam akan meningkat karena ia memegang semua fungsi pelayanan

b)

pertumbuhan Gereja akan lambat karena kurangnya dana dari umat

c)

prinsip "Tubuh Kristus" akan terlanggar, karena Gereja gagal memelihara dan menggunakan aneka karunia umat, sehingga persatuan cinta kasih menjadi tidak otentik dan pelayanan menjadi tidak utuh

d)

umat akan lebih mudah menjalankan perintah Kitab Suci karena beban pelayanan berkurang

e)

jemaat akan lebih disiplin dan tertib karena tidak ada perbedaan fungsi dalam pelayanan

6.

Konsep teologis yang membenarkan sikap Gereja Katolik pasca Konsili Vatikan II untuk membuka dialog dengan semua manusia, terutama mengenai Gereja sebagai Persekutuan Terbuka, yaitu …

a)

Transubstansi

b)

Gereja dan Negara tidak bisa dipersatukan

c)

Gereja Universal

d)

Gereja berorientasi pada Allah

e)

Konsékrasi

7.

Pada tanggal 3 Februari 2019, Paus Fransiskus mengadakan kunjungan ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk membangun dialog antaragama dan toleransi. Paus menegaskan bahwa iman kepada Allah mempersatukan kita. Pada tanggal 4 Februari 2019, di Abu Dhabi, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayeb, menandatangani “The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together.” Dokumen ini menjadi peta jalan untuk membangun perdamaian dan hidup harmonis di antara umat beragama. Paus meminta agar dokumen ini disebarluaskan kepada semua umat beriman.

Garis besar dari isi dokumen tersebut adalah ...

a)

peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia

b)

pedoman yang membangun perdamaian sejati harus dimulai dengan menciptakan batas-batas yang jelas dan memutus interaksi sosial antar-umat beragama untuk mencegah munculnya perselisihan yang diakibatkan oleh perbedaan

c)

pedoman untuk perdamaian yang hanya bersifat teoritis dan hanya perlu diimplementasikan di tingkat pemerintahan tertinggi, sementara umat di akar rumput tidak perlu mengetahuinya karena mereka sudah memiliki kearifan lokal sendiri

d)

pedoman meneguhkan prioritas utama untuk mencapai hidup harmonis adalah memastikan salah satu agama mayoritas di dunia memiliki dominasi mutlak, sehingga perbedaan pandangan dapat dihilangkan secara efektif

e)

pedoman peta jalan yang pada dasarnya tidak bernilai karena semua umat beragama pada akhirnya akan mencapai persatuan hanya melalui kegiatan kontemplatif dan doa bersama, bukan melalui tindakan praktis dan dialog yang terencana

8.

Gereja dipanggil untuk menjadi persekutuan terbuka yang menjalin dialog dan kerja sama dengan semua pihak, termasuk agama lain. Panggilan ini berakar pada teladan umat perdana yang hidup dalam persaudaraan kasih. Kitab Suci mencatat konsekuensi dari kebersamaan mereka: "Segala sesuatu yang mereka miliki adalah kepunyaan bersama... Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kis. 2:44, 46). Sikap hidup umat perdana yang berbagi dan bertekun sehati menuntut konsekuensi bagi Gereja modern. Jika Gereja modern ingin mengaplikasikan semangat persatuan dan solidaritas ini secara otentik di tengah lingkungan yang majemuk, tindakan yang tepat sesuai dengan Kitab Suci dan prinsip Gereja sebagai persekutuan terbuka adalah …

a)

menjual seluruh aset Paroki untuk dibagikan kepada anggota Gereja yang miskin saja, sebagai perintah harfiah dari Kitab Suci tanpa mempertimbangkan realitas gerejawi masa kini

b)

membangun tembok tinggi di sekitar gedung Gereja untuk memastikan bahwa persekutuan di dalam berlangsung "dengan sehati" tanpa gangguan dari luar

c)

memperluas semangat "kepunyaan bersama" dan "memecahkan roti dengan tulus hati" menjadi aksi nyata keadilan sosial, dengan melibatkan dan melayani semua warga yang membutuhkan (terlepas dari latar belakang agama) sebagai wujud dialog perbuatan

d)

mengutamakan perdebatan teologis dengan penganut agama lain di lingkungan Bait Allah untuk memastikan kebenaran Injil dipahami secara seragam

e)

menyerahkan seluruh tugas pelayanan sosial kepada organisasi non-pemerintah dan hanya fokus pada pertemuan doa di rumah-rumah secara bergilir

9.

Gereja dituntut memiliki kesatuan secara hakikat, prinsip dan keyakinan tanpa melupakan arti kekudusan dan makna sakremantal di dalamnya, sifat gereja yang dimaksud ialah ... .

a)

Kudus

b)

Satu

c)

Katolik

d)

Apostolik

e)

Terbuka

10.

Gereja itu satu menurut asalnya. "Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus". Gereja itu satu menurut Pendiri-Nya. "Sebab Putera sendiri yang menjelma telah mendamaikan semua orang dengan Allah, dan mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu tubuh". Gereja itu satu menurut jiwanya. "Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu, dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus, sehingga menjadi prinsip kesatuan Gereja". Berdasarkan kutipan tersebut, sifat Gereja yang dimaksud adalah ... .

a)

Kudus

b)

Apostolik

c)

Satu

d)

Katolik

e)

Trinitas

11.

Ikatan persekutuan dalam Gereja Katolik ditegakkan melalui tiga pilar: pengakuan iman yang satu, perayaan ibadat bersama, dan suksesi apostolik. Pilar-pilar ini memastikan kesatuan dan keotentikan Gereja di seluruh dunia. Namun, Konsili Vatikan II menuntut Gereja untuk menjadi persekutuan terbuka yang berdialog dengan dunia. Manakah pernyataan berikut ini yang menegaskan konsekuensi dari tiga pilar yang memperkuat kesatuan Gereja ...

a)

Suksesi Apostolik akan rusak karena Gereja harus menyamakan struktur kepemimpinannya dengan semua agama lain.

b)

Pengakuan iman yang satu akan dibatalkan, karena Gereja harus mengadopsi semua doktrin agama lain demi toleransi.

c)

Perayaan ibadat bersama akan ditiadakan karena dianggap menjadi penghalang bagi persatuan umat manusia.

d)

Ikatan persekutuan akan terancam bubar karena keanggotaan Gereja harus diperluas tanpa batas tanpa adanya penanda keyakinan yang jelas.

e)

Kesatuan Gereja akan diperkuat karena iman yang diwariskan para rasul dan sakramen berfungsi sebagai jangkar yang kokoh yang memungkinkan Gereja berdialog tanpa takut kehilangan jati diri.

12.

Bacalah bacaan berikut ini! Luka-luka kesatuan “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum. Dalam abad-abad sesudahnya, timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua pihak.” (UR 3). Perpecahan-perpecahan yang melukai kesatuan tubuh Kristus (bidah, apostasi, dan skisma) tidak terjadi tanpa dosa manusia: “Di mana ada dosa, di situ ada keanekaragaman, di situ ada perpecahan, sekte-sekte, dan pertengkaran. Di mana ada kebajikan, di situ ada kesepakatan, di situ ada kesatuan; karena itu semua umat beriman bersatu hati dan bersatu jiwa.” (Origenes, hom. in Ezech. 9:1; KGK 817). “Tetapi mereka yang lahir dan dibesarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disatukan dalam Kristus. Oleh karena itu, mereka memandang dengan tepat diri mereka umat Kristiani, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan.” (UR 3; 818). Kitab Suci mencatat bahwa perpecahan dalam Gereja sudah timbul sejak awal, yang dibekas tajam oleh Rasul Paulus (misalnya dalam surat 1 Korintus mengenai perpecahan di Korintus). Konflik ini meluas pada abad-abad sesudahnya. Secara historis, perpecahan besar mencakup Skisma Timur-Barat (1054) dan Reformasi Protestan (abad ke-16), yang menyebabkan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisah dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik. Dokumen Gereja menegaskan bahwa perpisahan ini kadang-kadang terjadi bukan tanpa kesalahan kedua pihak. Berdasarkan narasi historis dan Kitab Suci tersebut, pernyataan yang paling akurat mengenai tanggung jawab perpisahan dalam sejarah Gereja adalah ... .

a)

Perpecahan selalu dan hanya merupakan hasil dari kesalahan mutlak pihak-pihak yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma.

b)

Perpisahan jemaat-jemaat besar, seperti Skisma Timur-Barat atau Reformasi, hanya terjadi akibat manipulasi politik murni tanpa adanya kesalahan di pihak Gereja Katolik.

c)

Menurut ajaran Gereja, perpecahan besar seperti yang terjadi pada abad-abad sesudahnya kadang-kadang terjadi bukan tanpa kesalahan kedua pihak (Gereja Katolik dan pihak yang berpisah).

d)

Perpecahan hanya bersifat sementara, karena semua jemaat yang berpisah secara otomatis kembali bersatu dalam Gereja Katolik pada masa Konsili Vatikan II.

e)

Perpecahan Gereja baru dimulai pada abad ke-20 dan tidak pernah terjadi pada zaman para rasul.

13.

Roma 1:1-7 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.

Surat Pertama rasul Paulus diatas menegaskan bahwa setiap dari kita dipanggil kepada ... .

a)

kesatuan

b)

kekudusan

c)

kerasulan

d)

kekatolikan

e)

kenabian

14.

Bacalah kisah berikut! Carlo Acutis (1991–2006) adalah seorang remaja Italia yang dijuluki "Pewarta Injil Zaman Milenial". Ia menunjukkan devosi yang mendalam terhadap Ekaristi, yang ia sebut sebagai "jalan tol menuju Surga." Carlo menggunakan bakatnya dalam pemrograman komputer untuk membuat katalog pameran daring tentang Mukjizat Ekaristi dan penampakan Bunda Maria. Ia ingin menggunakan internet untuk menjangkau orang dan mendekatkan mereka kepada Kristus. Carlo meninggal karena leukemia pada usia 15 tahun dan dikanonisasi oleh Paus Leo XIV pada tahun 2025. Hidupnya menjadi bukti bahwa kekudusan dapat dicapai oleh siapa saja, termasuk oleh seorang remaja di dunia modern. Teladan St. Carlo Acutis yang paling relevan bagi pelajar Katolik di era Internet of Things (IoT) saat ini, terkait dengan panggilan kekudusan, adalah ...

a)

Menghindari total penggunaan internet dan telepon pintar.

b)

Meniru tampilan fisik dan gaya berpakaian Carlo Acutis.

c)

Menggunakan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai Injil dan kasih, sambil memprioritaskan doa dan Ekaristi.

d)

Fokus hanya pada kegiatan doa dan amal di lingkungan terdekat.

e)

Menjadi pengguna teknologi paling ahli di sekolah untuk memonopoli informasi.

15.

Bacalah ajaran Gereja berikut! “Kita mengimani bahwa Gereja tidak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putera Allah, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya. Ia menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya sendiri dan menyempurnakannya dengan kurnia Roh Kudus. Maka dalam Gereja, semua anggota dipanggil untuk kekudusan, yang menurut amanat rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu”. Kekudusan Gereja dinyatakan dalam buah-buah rahmat, yang dihasilkan oleh Roh Kudus dalam kaum beriman. Kekudusan itu terungkap pada masing-masing orang, yang dalam jalan hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih, sehingga memberi teladan baik kepada sesama. Pelaku kekudusan ini nampak dalam pelaksanaan nasihat-nasihat Injil. Pelaksanaan nasihat-nasihat itu memberikan kesaksian dan tanda tentang kekudusan itu.

Maksud dari Gereja yang Kudus ialah ... .

a)

Gereja itu kudus karena Kristus, Putera Allah, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya.

b)

Nasihat-nasihat Roh Kudus bukanlah panggilan kekudusan, melainkan panggilan atas berkat yang diberikan kepada setiap manusia.

c)

Setiap dari kita sudah kudus, terlebih apabila kita sudah dibaptis dan meyakini bahwa dengan kekudusan yang sudah ada dalam diri kita adalah kebenaran karena kita sudah diberi karunia orang Kudus.

d)

Corak hidup Kristiani perlu menampakkan panggilan kekatolikan, panggilan kekatolikan akan semakin meneguhkan iman kita dan kita menjadi semakin kudus di hadapan Allah.

e)

Nasihat Injili semakin memperberat panggilan kekudusan setiap Katolik, karena itu hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah ditahbiskan, sehingga nasihat Injili bukan satu-satunya panggilan kekudusan.

16.

Kekudusan Gereja bukanlah sifat yang seragam, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja yang berasal dari Kristus. Gereja sudah suci, meskipun tidak sempurna. Penggalan dokumen di atas menegaskan mengenai sifat Gereja yang Kudus yang dituliskan dalam dokumen Konsili Vatikan II dengan judul ...

a)

Lumen Gentium

b)

Gaudium et Spes

c)

Nostra Aetate

d)

Unitatis Redintegratio

e)

Apostolicam Actuositatem

17.

Seorang pelajar Katolik bernama Yota menyadari bahwa panggilan kekudusannya tidak harus sama dengan panggilan seorang biarawan atau imam. Dalam konteks kehidupan SMA yang diwarnai oleh tuntutan akademis dan tekanan sosial, upaya yang paling tepat untuk mencerminkan kekudusan yang diperjuangkan oleh Yota adalah ...

a)

Menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk kegiatan gerejawi formal dan mengabaikan tanggung jawab belajar.

b)

Meniru praktik devosi harian para biarawan dan merasa gagal jika tidak mampu melakukannya.

c)

Berjuang untuk mempertahankan integritas akademis, menggunakan media sosial secara bijaksana, dan mencari keadilan dalam pertemanan meskipun ada godaan untuk malas.

d)

Menganggap kekudusan sebagai status yang sekali dicapai, sehingga tidak perlu berjuang setelah menerima Sakramen Krisma.

e)

Menjauhi teman yang memiliki keyakinan berbeda karena khawatir pergaulan tersebut akan merusak kesucian.

18.

Bacalah pernyataan dari dokumen berikut! 1) Lumen Gentium (LG) art. 39: “Gereja, yang oleh Kristus diselenggarakan sebagai persekutuan hidup, cinta kasih, dan kebenaran, digunakan oleh-Nya pula sebagai alat untuk penebusan semua orang, dan diutus ke seluruh dunia sebagai cahaya dunia dan garam bumi.” 2) Lumen Gentium (LG) art. 40: “Semua anggota Gereja... diundang untuk mencapai kesucian dan kesempurnaan status mereka masing-masing.” Kesimpulan yang tepat terkait pernyataan LG art. 39 dan LG art. 40 yaitu ...

a)

Tugas Gereja sebagai “garam bumi” (LG 39) hanya diemban oleh para rohaniawan, sehingga umat awam dibebaskan dari panggilan untuk kesucian (LG 40).

b)

Kehidupan Gereja yang Kudus (LG 39) sudah sempurna, sehingga umat awam (LG 40) tidak perlu lagi berjuang, cukup mengandalkan kekudusan yang berasal dari Kristus.

c)

Tugas Gereja sebagai “cahaya dunia dan garam bumi” (LG 39) hanya dapat diwujudkan secara efektif ketika setiap anggota Gereja (LG 40) mewujudkan kesucian melalui pengudusan tugas dan lingkungan hidupnya masing-masing.

d)

Panggilan untuk kesucian (LG 40) mengharuskan semua umat meninggalkan profesi dan keluarga mereka demi bergabung dengan persekutuan cinta kasih secara eksklusif di dalam biara.

e)

Kekudusan Gereja hanya berkaitan dengan ritual Sakramen (LG 39) dan tidak memiliki kaitan langsung dengan tuntutan moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari (LG 40).

19.

Nama ini menjadi sifat yang sudah dipakai sejak awal abad ke II M, pada masa Santo Ignatius dari Antiokia. Ciri katolik ini mengandung arti Gereja yang utuh dan lengkap. Sifat Gereja itu ialah ...

a)

Satu

b)

Kudus

c)

Katolik

d)

Apostolik

e)

Universal

20.

Berdasar penggalan dokumen tersebut, Gereja Katolik disebut Gereja yang Katolik karena ...

a)

Gereja itu hanya untuk satu bangsa atau suku, sehingga tidak menerima warga dari bangsa lain.

b)

Gereja katolik karena dapat hidup di tengah orang beriman dan memeroleh warganya dari semua bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh Kudus mempunyai pengaruh yang tidak terbatas pada anggota Gereja dan terarah kepada seluruh dunia.

c)

Gereja harus memisahkan diri dari dunia dan mempertahankan sifat eksklusif, sebab pengaruh dan daya pengudusan hanya berlaku bagi anggota yang sudah dibaptis.

d)

Gereja hanya boleh menggunakan satu bahasa dan tata cara ibadat yang kaku, menghambat penyesuaian di tengah keberagaman budaya.

e)

Gereja wajib membatasi kegiatan pada wilayah sempit dan menolak dialog dengan kelompok di luar perbatasannya.

21.

Gereja disebut Katolik karena dapat hidup di tengah segala bangsa dan memeroleh warganya dari semua bangsa (universalis). Universalitas ini diwujudkan melalui inkulturasi, yaitu proses adaptasi ajaran dan liturgi Gereja ke dalam kebudayaan setempat, tanpa mengorbankan inti Injil. Pernyataan berikut yang paling tepat terkait dampak positif inkulturasi sebagai konsekuensi dari sifat Gereja yang Katolik dan universal adalah ...

a)

Inkulturasi berfungsi sebagai alasan untuk menolak semua tradisi lokal dan mempertahankan praktik Gereja dari satu budaya tertentu

b)

Inkulturasi adalah alat untuk memaksakan doktrin Katolik kepada setiap budaya, sehingga menghilangkan keunikan lokal

c)

Inkulturasi memungkinkan Gereja menjadi "sakramen yang terlihat" bagi setiap bangsa, karena Injil lebih dipahami dan dihidupi oleh umat setempat, sekaligus memperkaya universalitas Gereja

d)

Inkulturasi mengakibatkan perpecahan Gereja menjadi banyak sekte independen dengan keyakinan berbeda

e)

Inkulturasi hanya bermanfaat untuk menarik perhatian wisatawan dan tidak memiliki hubungan teologis dengan sifat universal Gereja

22.

Sebagai wujud sifat Katolik, Gereja dituntut bersikap terbuka dan inklusif. Sikap yang paling mencerminkan 'dialog perbuatan' Gereja terhadap masyarakat yang berbeda agama yaitu, ...

a)

Mengadakan seminar teologis untuk mengoreksi doktrin agama lain.

b)

Mendirikan klinik kesehatan gratis untuk semua warga, termasuk non-Katolik.

c)

Membangun tembok tinggi di sekitar gedung Gereja untuk melindungi kegiatan internal.

d)

Mengumpulkan dana sumbangan hanya untuk anggota Gereja yang dibaptis.

e)

Membuat semua tata bahasa dan perayaan dalam bahasa Latin.

23.

Bacalah narasi berikut! Gereja bersifat dinamis, artinya terus bergerak dan berkembang. Dinamisme Gereja diwujudkan melalui sikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat istiadat, dan agama mana pun. Gereja juga dituntut untuk bekerja sama dengan pihak mana pun yang berkehendak baik demi mewujudkan nilai-nilai luhur. Di wilayah yang kental dengan adat istiadat lokal dan keberagaman agama, Paroki Santa Maria melaksanakan katekese bagi kaum muda. Pelaksanaan katekese ini harus sejalan dengan sifat Gereja yang dinamis. Paroki Santa Maria harus menjadi persekutuan terbuka yang menghormati kebudayaan, adat istiadat, dan agama bangsa mana pun, serta bekerja sama untuk mewujudkan nilai-nilai luhur. Paroki sadar bahwa Gereja adalah benih Kerajaan Allah yang harus berkembang, sehingga harus menghindari perpecahan dan mewujudkan persaudaraan cinta kasih seperti teladan umat perdana (Kis. 2:41-47). Pernyataan berikut menunjukkan kegagalan atau pelanggaran terhadap sifat Gereja yang dinamis dan terbuka berdasarkan narasi tersebut yaitu ...

a)

Paroki menggunakan drama musikal dengan tari tradisional dalam perayaan Hari Raya Paskah

b)

Paroki mendirikan koperasi simpan pinjam yang melibatkan tokoh masyarakat non-Katolik dan melayani semua warga RT

c)

Paroki menolak memperbarui materi katekese yang sudah 30 tahun dan melarang penggunaan media sosial karena dianggap sekuler

d)

Paroki mengadakan lokakarya bersama pemuka agama lain untuk mencari solusi masalah sampah

e)

Paroki mengajak kaum muda Katolik untuk berprestasi di sekolah dan menguduskan profesi mereka

24.

Gereja Katolik mementingkan hubungan historis antara para rasul dan uskup. Oleh karena itu, Gereja Katolik tidak hanya mengandalkan Kitab Suci, tetapi juga Tradisi suci dan magisterium Gereja. Pernyataan tersebut mencirikan Gereja yang bersifat ... .

a)

Katolik

b)

Apostolik

c)

Kudus

d)

Satu

e)

Historis

25.

Bacalah bacaan berikut: Tuhan Yesus memanggil para rasul untuk mewartakan Injil. Setelah wafat dan kebangkitan-Nya, Ia mendirikan Gereja sebagai sakramen keselamatan dan mengutus para rasul ke seluruh dunia. Gereja mengemban tugas menyebarkan iman dan keselamatan Kristus, diwariskan oleh para rasul kepada dewan uskup dan imam. Gereja bersifat Apostolik berdasarkan bacaan tersebut yaitu ...

a)

Gereja yang diberikan kepada Petrus

b)

Gereja yang didirikan di atas Batu Karang

c)

Gereja dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru

d)

Gereja yang diperintahkan ke penjuru dunia

e)

Gereja yang diutus langsung oleh Allah

26.

Gereja disebut Apostolik karena didirikan di atas dasar para Rasul dan diteruskan melalui Suksesi Apostolik. Suksesi Apostolik adalah pewarisan jabatan dan wewenang para Rasul kepada para Uskup melalui Sakramen Tahbisan. Ikatan ini penting untuk menjamin kesinambungan ajaran Gereja. Pernyataan berikut yang paling tepat menganalisis fungsi teologis terpenting dari Suksesi Apostolik bagi Gereja Katolik yaitu ...

a)

Suksesi Apostolik memastikan Paus dan para Uskup memiliki kekayaan finansial yang cukup untuk memimpin Gereja.

b)

Suksesi Apostolik adalah tradisi historis yang kini hanya berfungsi sebagai upacara simbolis.

c)

Suksesi Apostolik bertindak sebagai garansi historis dan doktrinal yang memastikan bahwa otoritas, ajaran, dan Sakramen Gereja saat ini adalah sah dan otentik, karena berasal dari Kristus melalui para Rasul.

d)

Suksesi Apostolik hanya berlaku untuk imam paroki dan tidak ada hubungan dengan otoritas Paus atau Uskup.

e)

Suksesi Apostolik adalah metode utama Gereja untuk merekrut kaum muda Katolik menjadi biarawan atau biarawati.

27.

Dalam setiap acara tahbisan uskup, Duta Besar Vatikan atau wakilnya membacakan surat penetapan oleh Sri Paus untuk calon uskup baru. Paus, sebagai kepala Gereja universal, menunjuk seorang imam menjadi uskup Gereja lokal. Membacakan surat penetapan tersebut penting karena ...

a)

Penetapan tersebut menjamin bahwa setiap Uskup adalah seorang salesmen terbaik Vatikan yang mampu mengumpulkan dana untuk Gereja universal.

b)

Penetapan oleh Paus adalah jaminan Suksesi Apostolik yang sah dan memastikan bahwa Gereja lokal tetap dalam kesatuan dengan Kolese Uskup sedunia dan Kepala Kolese (Paus).

c)

Paus hanya berhak memilih Uskup dari kebangsaannya sendiri agar administrasi Gereja global lebih mudah.

d)

Surat penetapan adalah tradisi yang bisa diabaikan karena umat beriman memiliki hak untuk memilih Uskup mereka sendiri.

e)

Penetapan oleh Paus diperlukan agar Uskup baru wajib menjalankan semua ritual yang sama di setiap keuskupan.

28.

Bacalah bacaan berikut! Struktur hierarkis Gereja Katolik telah berkembang sejak Gereja perdana. Sebelum abad kedua, Gereja sudah memiliki kepemimpinan yang terdiri dari episkopos (penilik), presbyteros (penatua), dan diakonos (pelayan). Strata kepemimpinan ini kemudian menjadi tiga tingkat utama: uskup, imam, dan diakon. Para uskup memimpin komunitas umat beriman dan memelihara ajaran dari para rasul. Mereka bertanggung jawab atas wilayah keuskupan dan bekerja sama dengan para imam dan diakon. Konsili Vatikan II menegaskan kembali struktur ini, menyatakan bahwa para uskup adalah penerus para rasul sebagai dewan. Melalui suksesi apostolik, para uskup mewarisi kuasa untuk memimpin, mengajar, dan menguduskan umat. Konsili Vatikan II juga menegaskan peran imam dan diakon sebagai pembantu para uskup. Dasar terbentuknya struktur hierarki Gereja yang terdiri dari Uskup, Imam, dan Diakon adalah ...

a)

tradisi suksesi Apostolik yang diwariskan dari para rasul melalui penumpangan tangan kepada para Uskup

b)

Konsili Vatikan I yang menetapkan susunan hierarki

c)

kebijakan Gereja pada abad kedua yang membagi Gereja menjadi tiga tingkatan kepemimpinan

d)

Konsili Vatikan II yang menegaskan perlunya pengembangan struktur baru yang terdiri dari uskup, imam, dan diakon

e)

keputusan para imam pada abad pertama untuk mendirikan hierarki yang lebih terstruktur dalam Gereja

29.

Dalam sejarah Gereja Katolik, para rasul adalah mereka yang dipilih oleh Yesus Kristus untuk mewartakan Injil dan mendirikan Gereja. Mereka memegang kedudukan tertinggi karena menerima kuasa perutusan dari Kristus. Kuasa ini diteruskan kepada generasi berikutnya melalui suksesi apostolik kepada para uskup. Santo Petrus adalah salah satu rasul yang memiliki peran khusus sebagai pemimpin pertama Gereja. Jabatan ini diteruskan kepada para penerusnya, sehingga terbentuklah kepemimpinan Paus yang memimpin Gereja Katolik hingga saat ini. Paus dianggap sebagai penerus langsung Santo Petrus. Dalam sejarah Gereja Katolik, ada banyak nama sebutan penerus Santo Petrus, kecuali ...

a)

Vikaris Yesus Kristus

b)

Uskup Roma

c)

Patriark Barat

d)

Imam Paroki Vatikan

30.

Bacalah bacaan berikut! Servus Servorum Dei Kepemimpinan dalam Gereja adalah panggilan khusus di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur dominan. Kepemimpinan Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat atau prestasi tertentu. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yoh 15:16). Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi tidak demikian dalam Gereja. Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani, walaupun mempunyai wewenang dari Kristus sendiri. Kepemimpinan ini adalah melayani, bukan untuk dilayani, sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus. Paus disebut “servus servorum Dei” (hamba dari hamba-hamba Allah). Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan melalui sakramen tahbisan, dan tidak dapat dihapuskan oleh manusia. Sebaliknya, kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia. Berdasarkan bacaan tersebut, corak kepemimpinan Gereja yang dimaksud yaitu ... .

a)

kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri

b)

kepemimpinan dalam Gereja bersifat monarki absolut karena Gereja mewarisi tradisi dan budaya Romawi

c)

kepemimpinan gereja bersifat hierarkis, artinya Paus menempati kepemimpinan tertinggi dalam Gereja Katolik

d)

kepemimpinan gereja bercorak monarki, Paus adalah Raja dan pelayan semua orang Katolik

e)

kepemimpinan gereja Katolik bersifat melayani mereka yang percaya saja namun tidak melihat

31.

Dalam dokumen Lumen Gentium, Gereja Katolik menegaskan struktur kepemimpinan yang berlandaskan ajaran Kristus dan para Rasul. Hierarki Gereja Katolik dibentuk berdasarkan suksesi apostolik untuk menjaga kesatuan dan kelangsungan ajaran iman. Struktur hierarki dalam Gereja adalah sebagai berikut:

- Paus: Uskup Roma dan penerus Santo Petrus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik.

- Para Uskup: Penerus langsung para Rasul, mengajarkan dan memimpin umat di wilayah keuskupan.

- Dewan Para Uskup: Badan kolegial seluruh uskup di bawah kepemimpinan Paus.

- Imam: Pembantu uskup yang memimpin ibadat dan mengembalakan umat di paroki.

- Diakon: Pelayan Gereja yang membantu imam dan uskup dalam pelayanan.

Daftar struktur hierarki yang tepat ialah ... .

a)

Paus, Para Rasul, Imam, Uskup, Diakon, Dewan Para Uskup

b)

Paus, Dewan Para Uskup, Uskup, Imam, Diakon, Para Rasul

c)

Paus, Para Uskup, Dewan Para Uskup, Imam, Diakon

d)

Paus, Diakon, Imam, Uskup, Dewan Para Uskup, Para Rasul

e)

Dewan Para Uskup, Paus, Uskup, Imam, Diakon

32.

Dalam dokumen Lumen Gentium, bagaimana Gereja Katolik menggambarkan peran setiap anggota dalam mencapai kesucian?

a)

Kesucian hanya dapat dicapai melalui praktik ritual yang ketat.

b)

Setiap anggota Gereja dipanggil untuk berkontribusi sesuai dengan karunia dan panggilan masing-masing.

c)

Hanya para rohaniawan yang bertanggung jawab untuk mencapai kesucian.

d)

Setiap anggota Gereja memiliki peran yang sama dalam mencapai kesucian.

33.

Menurut ajaran Gereja, apa tantangan utama bagi umat Katolik dalam menjaga kesatuan dan kekudusan Gereja di tengah perpecahan?

a)

Fokus pada pengajaran doktrin yang kaku dan menolak perubahan dalam praktik ibadat.

b)

Menjalin dialog dan kerja sama dengan semua pihak, termasuk yang berbeda keyakinan, untuk membangun persatuan.

c)

Menjaga tradisi tanpa mempertimbangkan perkembangan zaman dan kebutuhan umat.

d)

Memisahkan diri dari masyarakat yang berbeda agama untuk menjaga kesucian dan identitas Gereja.

34.

Dalam konteks Gereja Katolik, apa yang dimaksud dengan "inkulturasi" dan bagaimana hal ini berkontribusi terhadap sifat Katolik Gereja?

a)

Proses penyesuaian ajaran Gereja dengan budaya lokal tanpa mengubah inti ajaran.

b)

Upaya untuk menghilangkan semua tradisi lokal demi keseragaman ajaran Gereja.

c)

Proses di mana Gereja menolak semua bentuk budaya lokal dan hanya menggunakan tradisi Eropa.

d)

Strategi untuk memperkuat identitas Gereja dengan menolak dialog antaragama.

35.

Menurut ajaran Gereja, bagaimana seharusnya umat Katolik berperan dalam masyarakat yang pluralistik?

a)

Hanya berfokus pada kegiatan internal Gereja tanpa memperhatikan masyarakat sekitar.

b)

Menyerahkan semua urusan sosial kepada pemerintah dan tidak terlibat langsung.

c)

Berpartisipasi aktif dalam dialog dan kerja sama dengan semua pihak demi kebaikan bersama.

d)

Menjaga jarak dari kelompok lain untuk melindungi identitas Katolik.

36.

Dalam konteks Konsili Vatikan II, apa makna dari "persekutuan terbuka" bagi Gereja Katolik?

a)

Gereja harus menutup diri dari pengaruh luar untuk menjaga kemurnian ajaran.

b)

Gereja hanya boleh berkomunikasi dengan umat Katolik dan menolak dialog dengan non-Katolik.

c)

Gereja diharapkan untuk berinteraksi dan berdialog dengan semua orang, termasuk yang berbeda keyakinan.

d)

Gereja harus mengadopsi semua ajaran dari agama lain untuk mencapai kesatuan.

37.

Dalam konteks ajaran Gereja Katolik, apa yang dimaksud dengan "suksesi apostolik" dan mengapa hal ini penting bagi keberlangsungan Gereja?

a)

Tradisi lisan yang diwariskan dari para rasul kepada umat Katolik tanpa dokumen tertulis.

b)

Proses di mana ajaran Gereja diturunkan dari generasi ke generasi melalui para uskup yang ditahbiskan.

c)

Pengakuan iman yang dilakukan oleh setiap anggota Gereja saat dibaptis.

d)

Proses pemilihan Paus yang dilakukan setiap lima tahun sekali.

38.

Dalam ajaran Gereja Katolik, apa yang menjadi dasar dari "inkulturasi" dan bagaimana hal ini mempengaruhi cara Gereja berinteraksi dengan budaya lokal?

a)

Proses di mana Gereja hanya berfokus pada penyebaran ajaran tanpa memperhatikan konteks budaya.

b)

Strategi untuk menolak semua bentuk budaya lokal demi menjaga kemurnian ajaran Gereja.

c)

Upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani ke dalam budaya lokal tanpa mengubah inti ajaran Gereja.

d)

Proses di mana Gereja mengadopsi semua tradisi lokal tanpa mempertimbangkan ajaran Kristiani.

39.

Menurut ajaran Gereja, bagaimana seharusnya umat Katolik bersikap terhadap perbedaan agama di masyarakat?

a)

Menjauh dari interaksi dengan penganut agama lain untuk menjaga kemurnian iman.

b)

Berpartisipasi dalam dialog dan kerja sama untuk membangun perdamaian dan saling pengertian.

c)

Menyerahkan semua urusan antaragama kepada pemerintah dan tidak terlibat langsung.

d)

Hanya fokus pada kegiatan internal Gereja tanpa memperhatikan masyarakat sekitar.

40.

Dalam konteks Gereja Katolik, apa yang dimaksud dengan "kekudusan" dan bagaimana hal ini tercermin dalam kehidupan umat beriman?

a)

Kekudusan adalah konsep yang tidak relevan dalam konteks kehidupan sehari-hari umat Katolik.

b)

Kekudusan hanya dapat dicapai melalui ritual dan sakramen tertentu yang dilakukan secara rutin.

c)

Kekudusan adalah keadaan tanpa dosa yang hanya dapat dicapai oleh para rohaniawan.

d)

Kekudusan adalah panggilan bagi semua anggota Gereja untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus dan berkontribusi dalam misi Gereja.