WorksheetsLATIHAN PARK 2 BINDO
Total questions: 22
Worksheet time: 12mins
Fajar baru saja mengintip di balik deretan bukit ketika Nadine keluar dari pondok kayu kecil itu. Udara masih lembap, dan embun menggantung di ujung rumput seperti berjuta kristal kecil. Suasana begitu hening hingga langkah kakinya terdengar sendiri di tanah yang dingin. Hanya suara kokok ayam dari kejauhan dan dengungan lembut serangga pagi yang perlahan membangunkan alam. Sesekali, burung-burung kecil berloncatan dari dahan ke dahan, mengisi keheningan dengan kicauan pelan yang belum sepenuhnya bertenaga. Nadine menarik napas panjang; ketenangan itu membuatnya merasa seolah dunia memberi ruang baginya untuk berpikir jernih, sebelum hiruk pikuk kehidupan kembali datang.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah … .
Fajar yang hening dengan suara hewan yang perlahan mulai terdengar.
Tenang, namun dipenuhi suara angin kencang yang menerpa pepohonan.
Di sudut pasar yang mulai sepi, Raka berhenti ketika melihat seorang nenek memeluk keranjang kosongnya. Angin senja menggeser rambut putih nenek itu, dan Raka bisa melihat jelas betapa letihnya tatapan mata perempuan tua tersebut. Ia merogoh saku—hanya ada dua ribu rupiah tersisa, uang yang sebenarnya ia simpan untuk ongkos pulang. Namun, ingatan tentang pesan ibunya tiba-tiba muncul: “Sedekah itu bukan tentang berapa banyak yang kamu punya, tapi seberapa tulus kamu memberi.” Raka pun menyerahkan uang kecil itu. Nenek itu menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. Aneh, meski kini ia tak punya apa-apa, Raka justru merasa hatinya penuh.
Tema cerpen tersebut adalah … .
Kebaikan akan membawa balasan yang setimpal dalam bentuk materi.
Sedekah yang tulus tetap bernilai meskipun diberikan dalam kondisi terbatas.
Alya duduk di tepi jendela, menatap rintik hujan yang berlomba jatuh ke tanah. Ia tahu kegagalan lomba itu menyakitkan, tetapi ia tidak lagi ingin menyalahkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Napas panjang ia hembuskan, seolah melepaskan beban yang sejak semalam mengekang dadanya. “Mungkin memang belum waktunya,” gumamnya pelan, namun dengan nada yang tidak lagi getir. Meski kecewa, Alya mulai merasa lebih ikhlas menerima kenyataan.
Watak tokoh Alya dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Ceroboh dan acuh
Ikhlas dan menerima kenyataan dengan tenang.
Pagi itu, Reno berlari kecil menuju lapangan sekolah dengan napas terengah. Hari ini adalah seleksi terakhir untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua tim futsal, dan diam-diam ia sangat menginginkannya. Dari kejauhan, ia melihat teman-temannya sudah mulai latihan, namun pandangannya hanya tertuju pada bola yang tergeletak di tengah lapangan. "Aku harus bisa. Aku nggak boleh gugup lagi, batinnya." Ketika peluit ditiup, Reno mencoba fokus, tetapi jantungnya berdetak terlalu cepat. Setiap kali bola mendekat, tangannya sedikit bergetar. Ia khawatir teman-temannya akan menyadari rasa takut itu. Sesuatu yang hanya Reno sendiri yang benar-benar rasakan pagi itu.
Sudut pandang kutipan cerpen tersebut adalah … .
(a)
Aruna duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah, memandangi dua piagam lomba yang terlipat rapi di pangkuannya. Angin sore berembus lembut, namun pikirannya justru terasa semrawut. Ia tahu semua orang menganggapnya berbakat, tetapi belakangan ia merasa seolah hanya menjalani sesuatu yang tidak benar-benar ia inginkan. Setiap kali melihat namanya tercetak di piagam, perasaan bangga itu justru bercampur dengan beban yang sulit dijelaskan. Ia bertanya-tanya apakah ia harus terus mengikuti harapan banyak orang atau mulai jujur pada dirinya sendiri tentang apa yang benar-benar ia sukai. Di tengah hiruk pikuk halaman sekolah, Aruna merasa terjebak antara keinginan untuk membuat orang lain bangga dan keinginan untuk bebas menentukan jalannya sendiri.
Konflik yang terjadi berdasarkan kutipan cerpen tersebut adalah … .
Konflik batin Aruna dengan keinginannya sendiri.
Konflik antara Aruna dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Alya menatap kotak donasi yang biasanya penuh, namun siang itu hanya berisi beberapa lembar recehan kusut. Padahal acara penggalangan dana untuk panti asuhan tinggal dua hari lagi. Ia sudah berkeliling ke toko-toko sekitar sekolah, tetapi banyak yang menolak dengan alasan kondisi sedang sepi pembeli. Saat hendak menyerah, seorang temannya datang membawa kabar buruk: panitia inti membatalkan keikutsertaan mereka karena merasa target donasi mustahil tercapai. Alya terdiam, dadanya terasa sesak. Ia tidak hanya takut acara gagal, tetapi juga khawatir anak-anak panti yang menunggu bantuan tak bisa mendapatkan apa pun. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang ibu tua datang mendekat sambil membawa kantong belanja yang tampak berat. “Nak, ibu dengar kalian mau bantu panti asuhan… tapi kenapa wajahmu murung begitu?” tanya ibu itu. Alya menggigit bibir, bingung apakah harus jujur bahwa seluruh rencana hampir hancur.
Kutipan tersebut termasuk struktur cerpen bagian … .
(a)
Di halaman sekolah yang ramai, Lila memperhatikan dua temannya yang sedang berselisih pendapat tentang tugas kelompok. Suasana menjadi tegang, dan beberapa siswa mulai menjauh. Lila mendekat perlahan, mencoba memahami alasan masing-masing tanpa memihak. Ia tahu bahwa setiap orang punya cara berpikir yang berbeda. Setelah menenangkan diri, ia mengajak keduanya duduk bersama, memberi ruang bagi mereka untuk saling mendengarkan. Meski tidak mudah, Lila tetap bersikap sabar karena ia percaya bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk bertengkar.
Nilai dalam cerpen tersebut adalah ….
Nilai toleransi
Nilai kemandirian
Di bawah rindangnya pohon mangga di belakang sekolah, Nara duduk sambil menatap gelang persahabatan yang mulai pudar warnanya. Ia teringat saat-saat ia dan Dito membuatnya bersama—hari ketika mereka berjanji untuk tetap saling mendukung. Namun, akhir-akhir ini, Dito sering menjauh setelah bergabung dengan tim basket baru. Meski begitu, ketika melihat Nara kesulitan membawa buku-buku tebal, Dito tetap datang menolong tanpa diminta. Saat itu Nara menyadari bahwa meskipun banyak hal berubah, persahabatan sejati tidak hilang begitu saja; ia hanya butuh sedikit pengertian.
Amanat yang tepat berdasarkan kutipan cerpen tersebut adalah ... .
Perubahan dalam hidup selalu menghilangkan hubungan persahabatan.
Perubahan dalam hidup tidak selalu berarti menghilangkan hubungan persahabatan.
Pilihlah 3 unsur ekstrinsik puisi!
Senja berubah menjadi selimut emas yang menutupi langit angin berlari pelan mengusap pipiku dengan lembut bayang pohon menjulur sebagai pena gelap sore hari sementara cahaya merah memudar bagaikan tirai yang ditarik perlahan
Larik yang menunjukkan majas simile berdasarkan kutipan puisi tersebut adalah … .
Senja berubah menjadi selimut emas yang menutupi langit.
Sementara cahaya merah memudar bagaikan tirai yang ditarik perlahan.
Tanah airku tidak kulupakan Kampung halaman yang bahagia Tempat ayah bunda Dari dahulu kala Tanah airku aman dan makmur Pulau kelapa yang amat subur Pulau melati pujaan bangsa Sejak dahulu kala (Tanah Air-Muhammad Yamin) Tema yang tepat berdasarkan puisi tersebut adalah ... .
Cinta tanah air dan kebanggaan terhadap negeri sendiri.
Kerinduan yang mendalam dan tak terungkapkan.
Keluarga adalah rumah tempat doa berbunyi tanpa suara, tempat aku menemukan diriku
Makna kata rumah yang tepat berdasarkan puisi tersebut adalah ....
Tempat berlindung secara emosional yang penuh kasih sayang dan ketenangan.
Bangunan fisik tempat seseorang tinggal sehari-hari.
Senja memerah di ujung langit, cahayanya menyentuh kulitku dengan hangat lembut, bayang pohon memanjang di tanah yang mulai gelap, sementara angin sejuk menyapu pipiku perlahan.
Imaji yang tepat berdasarkan kutipan puisi tersebut adalah ....
penglihatan dan pendengaran
perabaan dan penglihatan
Langkah-langkah malam bergema semakin dekat, menekan dadaku dalam sunyi, angin berdesis di antara pepohonan, seolah membawa kabar yang mengancam, bayangan panjang bergetar di tanah seperti rahasia gelap yang siap menerkam, sementara hatiku berdegup kencang, mencari cahaya yang tak kunjung muncul.
Suasana kutipan puisi tersebut adalah … .
Hening dan penuh kesedihan
Tegang dan penuh kecemasan
Mereka duduk di kursi megah, Melontar janji seperti bintang jatuh, Berpendar sesaat lalu lenyap di angkasa. Rakyat hanya menjadi bayangan, Yang bersuara dalam sunyi tanpa didengar. Keadilan terbungkus rapat, Disembunyikan di balik tirai kekuasaan, Namun aku tak akan diam, Tinta dan suara adalah senjataku.
Sikap penyair berdasarkan kutipan puisi tersebut adalah … .
Mendukung kebijakan penguasa
Kritis terhadap pemegang kekuasaan
“Cahaya di Jendela Kecil” Di jendela kecil sebuah kelas, mata-mata muda menatap masa depan. Huruf-huruf tumbuh seperti biji harapan, disiram oleh sabar seorang guru. Di halaman sekolah, langkah-langkah kecil belajar percaya diri. Mereka merangkai mimpi dari pelajaran yang sederhana, namun berarti. Wahai anak-anak negeri, peluklah ilmu seperti pelita, sebab kelak ia menerangi jalan saat dunia menjadi gelap dan bimbang. Tanpa pendidikan, kita berjalan tanpa arah; dengan pendidikan, kita berdiri tegak dan membuka pintu menuju masa depan. Amanat yang tepat berdasarkan kutipan puisi tersebut adalah … .
Pendidikan adalah cahaya yang membimbing kita menuju masa depan yang lebih baik.
Pendidikan harus diajarkan dengan cara menghafal banyak hal.
Tentukan kutipan cerpen di bawah ini yang mengandung majas!
Pilihlah 3 unsur fisik puisi!
Gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung dengan menggunakan kata pembanding adalah majas (a)
Cara pengarang menempatkan dirinya dalam cerita saat menyampaikan peristiwa, tokoh, dan alur kepada pembaca pada teks cerpen disebut...
(a)
Jenis puisi pendek yang berisi nasihat, ajaran hidup, atau pesan moral adalah...
(a)
Buatlah sebuah puisi dengan tema liburan!
