WorksheetsKesehatan Prakonsepsi dan Fertilitas
Total questions: 50
Worksheet time: 50mins
Seorang perempuan usia 23 tahun datang ke klinik untuk konseling sebelum merencanakan kehamilan. Ia memiliki siklus menstruasi tidak teratur selama 7 bulan terakhir, sering begadang, dan jarang berolahraga. Ia belum pernah melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi. Apa fokus utama dalam penilaian kesehatan reproduksi prakonsepsi pada kasus ini?
Riwayat imunisasi lengkap
Evaluasi nutrisi dan status gizi
Pemeriksaan fungsi dan kesehatan reproduksi
Kepatuhan penggunaan kontrasepsi
Penghitungan masa subur secara mandiri
Pasangan suami istri usia 30 dan 34 tahun datang untuk konsultasi pra-kehamilan. Suami memiliki riwayat merokok sejak 10 tahun lalu dan istri memiliki riwayat obesitas ringan. Keduanya belum pernah diberikan edukasi tentang risiko gaya hidup terhadap fertilitas. Apa intervensi yang paling tepat diberikan?
Menganjurkan konsumsi vitamin C harian
Memberikan edukasi perubahan gaya hidup sehat pra-kehamilan
Menyarankan segera program hamil tanpa evaluasi medis
Memberikan suplemen hormonal untuk meningkatkan fertilitas
Menyarankan pemeriksaan TORCH sebagai prioritas utama
Perempuan 19 tahun dengan riwayat anemia datang untuk persiapan kehamilan. Hemoglobin terakhir 9 g/dL dan ia belum mengonsumsi suplemen zat besi. Pola aktivitasnya normal dan tidak ada penyakit penyerta. Apa tindakan awal yang paling tepat?
Menyarankan segera melakukan program hamil
Memberikan vaksin HPV sebelum kehamilan
Memberikan suplementasi zat besi dan edukasi nutrisi
Menyuruh pasien menghentikan aktivitas fisik sementara
Melakukan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal segera
Seorang perempuan usia 26 tahun yang masih menggunakan kontrasepsi pil ingin merencanakan kehamilan dalam 3–6 bulan ke depan. Ia belum pernah pemeriksaan kesehatan pra-kehamilan dan belum mendapat skrining penyakit menular. Apa langkah awal yang perlu dilakukan?
Menghentikan kontrasepsi pil tanpa pemeriksaan lanjutan
Pemeriksaan kesehatan pra-konsepsi dan skrining laboratorium
Melakukan pemeriksaan ultrasonografi rutin tiap bulan
Memberikan suplemen hormonal peningkat ovulasi
Menunda pemeriksaan sampai hamil terjadi
Ibu usia 33 tahun dengan riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya ingin merencanakan kehamilan anak kedua. IMT 31 kg/m² dan jarak kehamilan terakhir baru 1 tahun. Apa rekomendasi paling tepat?
Segera hamil karena usia reproduksi mulai meningkat
Melakukan diet ekstrem untuk mempercepat penurunan berat badan
Konsultasi pra-kehamilan dan stabilisasi kondisi sebelum hamil
Menghindari kontrol kesehatan karena riwayat kehamilan sebelumnya normal
Mulai konsumsi aspirin dosis rendah tanpa evaluasi medis
Perempuan 24 tahun datang untuk konseling. Tidak ada riwayat penyakit kronis dan aktivitas fisik cukup baik. Ia ingin mengetahui apa yang harus dipersiapkan sebelum hamil agar bayi sehat. Komponen apa yang harus dimasukkan dalam konseling?
Hanya edukasi tentang masa subur
Gaya hidup sehat, skrining kesehatan, imunisasi, dan suplementasi
Pemeriksaan USG rutin sebelum konsepsi
Menghentikan seluruh aktivitas olahraga
Mengonsumsi herbal peningkat fertilitas
Pasangan usia 29 dan 31 tahun telah menikah selama 2 tahun dan belum memiliki anak. Suami diminta melakukan analisis semen. Hasil pemeriksaan: volume 1 mL, motilitas progresif 20%, morfologi normal 3%. Apa interpretasi yang tepat?
Normal
Oligospermia
Azoospermia
Oligoasthenoteratozoospermia
Teratospermia
Seorang perempuan 26 tahun menjalani pemantauan kurva temperatur basal tubuh selama 3 siklus. Grafik menunjukkan peningkatan suhu sekitar 0,4°C setelah pertengahan siklus. Apa interpretasi hasil tersebut?
Tidak terjadi ovulasi
Terdapat infeksi sistemik
Ovulasi kemungkinan terjadi
Kadar estrogen menurun drastis
Ketidakseimbangan hormon tiroid
Pasien 24 tahun melakukan pemeriksaan mukus serviks menjelang masa subur. Konsistensi lendir jernih, licin, elastis, dan dapat ditarik memanjang lebih dari 8 cm. Apa interpretasi paling tepat?
Masa infertil
Kualitas lendir serviks buruk
Tanda ovulasi mendekat
Hasil pemeriksaan tes fern pada pasien menunjukkan pola kristalisasi menyerupai daun pakis. Apa makna hasil tersebut?
Progesteron meningkat
Tidak adanya ovulasi
Estrogen dalam kadar tinggi
Mukus serviks terlalu pekat
Terjadi infeksi bakteri serviks
Pada uji pasca koitus (PCT), ditemukan sperma dengan motilitas aktif di lendir serviks 6 jam pasca hubungan seksual. Apa interpretasi paling tepat?
Interaksi sperma-serviks baik
Tidak memungkinkan terjadinya fertilisasi
Pasangan memerlukan inseminasi
Mukus serviks bersifat toksik
Ovulasi gagal terjadi
Dokter menyarankan histerosalpingografi pada perempuan 32 tahun dengan infertilitas selama 3 tahun. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menilai:
Motilitas sperma
Kelainan kromosom
Faktor genetik infertil
Patensi dan anatomi tuba falopi
Ketebalan endometrium pasca ovulasi
Perempuan infertil diberikan tindakan hidrotubasi. Apa tujuan tindakan tersebut?
Memeriksa kualitas ovum
Meningkatkan motilitas sperma
Membuka sumbatan ringan pada tuba
Mengontrol keseimbangan hormonal
Mengukur keasaman lendir serviks
Pasien 30 tahun menjalani inseminasi artifisial karena gangguan motilitas sperma ringan. Manfaat utama prosedur ini adalah:
Menghindari hubungan seksual
Mendekatkan sperma ke ovum
Mengubah sifat genetik sperma
Mengatasi ketidaksuburan permanen
Menggantikan proses ovulasi
Seorang perempuan prakonsepsi menjalani skrining penyakit infeksi. Hasil: HBsAg (+), HIV (−), TORCH IgG positif, IgM negatif. Apa interpretasi yang tepat?
Pasien mengalami infeksi akut
Pasien aman untuk segera hamil
Pasien memerlukan penundaan kehamilan
Pasien memiliki kekebalan terhadap TORCH
Pasien membutuhkan terapi antiretroviral
Hasil pemeriksaan prakonsepsi menunjukkan TSH 7,5 mIU/L. Apa rekomendasi terbaik?
Segera program hamil
Rujuk untuk terapi gangguan tiroid
Menghindari vaksinasi
Mengonsumsi herbal peningkat fertilitas
Tidak ada tindakan yang diperlukan
Seorang perempuan dengan HIV terkendali (viral load rendah) ingin kehamilan. Ia telah menjalani terapi ARV dengan baik. Apa prinsip konseling utama?
Kehamilan tidak diperbolehkan
Hentikan ARV sebelum program hamil
Lanjutkan terapi dan rencanakan kehamilan terkontrol
Lakukan coitus tanpa pengawasan
Menunda hingga 5 tahun ke depan
Pasangan bertanya mengenai jarak ideal antar kehamilan untuk mengurangi risiko komplikasi. Rekomendasi yang tepat adalah:
< 6 bulan
6–12 bulan
12–18 bulan
18–24 bulan
> 60 bulan
Dalam asuhan prakonsepsi berbasis bukti, suplementasi apa yang direkomendasikan wanita sehat sebelum hamil?
Vitamin D dosis tinggi
Asam folat minimal 400 mcg/hari
Antibiotik profilaksis
Hormon progesteron
Kalsium 2000 mg/hari
Dalam manajemen kebidanan prakonsespi, langkah awal yang harus dilakukan bidan adalah:
Menetapkan diagnosis fertilitas
Menyusun rencana persalinan
Melakukan pengkajian komprehensif
Melakukan tindakan inseminasi
Memberikan obat empiris
Pasangan usia 28 dan 30 tahun telah menikah selama 1 tahun dan melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi, namun belum terjadi kehamilan. Apa istilah yang sesuai?
Subfertilitas
Infertilitas primer
Infertilitas sekunder
Disfungsi seksual
Amenore fungsional
Seorang perempuan pernah hamil 6 tahun lalu namun mengalami keguguran. Saat ini telah mencoba hamil kembali selama 18 bulan tanpa hasil. Klasifikasi infertilitasnya adalah:
Infertilitas primer
Infertilitas sekunder
Infertilitas idiopatik
Infertilitas situasional
Infertilitas perilaku
Pasangan usia reproduktif datang bertanya mengenai prevalensi infertilitas secara global. Informasi yang paling tepat adalah:
<1% pasangan mengalami infertilitas
2–5% pasangan mengalami infertilitas
5–10% pasangan mengalami infertilitas
10–15% pasangan mengalami infertilitas
>50% pasangan mengalami infertilitas
Di klinik fertilitas ditemukan angka infertilitas meningkat pada perempuan usia ≥35 tahun. Hal ini terutama disebabkan oleh:
Meningkatnya aktivitas fisik
Penurunan kualitas ovum
Konsumsi protein berlebih
Paparan cahaya matahari
Peningkatan volume uterus
Seorang laki-laki 32 tahun memiliki riwayat varikokel dan merokok 1 bungkus/hari sejak 10 tahun terakhir. Apa faktor risiko terbesar terhadap infertilitas?
Tinggi badan
Kebiasaan konsumsi daging
Riwayat varikokel dan merokok
Frekuensi berolahraga
Posisi tidur
Perempuan usia 27 tahun dengan siklus menstruasi tidak teratur (35–90 hari) dicurigai memiliki gangguan ovulasi dan tanda-tanda maskulin. Kemungkinan penyebab terbanyak adalah:
PCOS (Polikistik Ovarium Sindrom)
Endometriosis
Mioma submukosa
Malformasi uterus
Hipotiroidisme berat
Seorang laki-laki riwayat gondongan (mumps) saat usia remaja tanpa terapi adekuat. Komplikasi yang paling mungkin berkontribusi pada infertilitas adalah:
Gagal ginjal
Hipertrofi prostat
Radang epididimis (orchitis)
Hernia inguinalis
Pembesaran limpa
Perempuan dengan endometriosis mengalami infertilitas. Mekanisme yang paling mungkin adalah:
Penurunan progesteron dan peningkatan prolaktin
Adhesi pelvis mengganggu pergerakan ovum dan implantasi
Hipersekresi FSH memicu kegagalan ovarium
Menstruasi tidak efektif
Perbaikan fungsi tuba falopi
Gangguan spermatogenesis akibat paparan panas berkepanjangan (misal sauna, bekerja dekat mesin panas). Mekanisme yang terjadi:
Peningkatan volume semen
Penurunan kualitas sperma
Peningkatan motilitas sperma
Pembentukan antibodi anti-sperma
Peningkatan kadar testosterone
Pasangan melapor hubungan seksual teratur (2–3x/minggu) selama 14 bulan tanpa kontrasepsi, tanpa keluhan sistemik lain. Keluhan utama yang menunjukkan infertilitas adalah:
Sering stres
Belum terjadi kehamilan
Siklus menstruasi 28 hari
Nafsu makan meningkat
Nyeri kepala ringan
Perempuan 35 tahun melaporkan nyeri panggul kronis dan dismenore berat, serta sulit hamil selama 2 tahun. Kemungkinan kondisi klinis yang mendasari:
Endometriosis
Fibroadenoma payudara
Hipoglikemia
Hernia umbilikalis
Gastritis kronis
Seorang laki-laki 33 tahun mengeluh masalah infertilitas. Pemeriksaan menunjukkan testis kecil, rambut tubuh minimal, dan kadar testosteron rendah. Kondisi yang mungkin terjadi:
Klinefelter syndrome
Turner syndrome
Addison disease
Kallmann syndrome
Thalassemia minor
Perempuan dengan riwayat infeksi panggul (PID) berulang kini sulit hamil. Penyebab infertilitas kemungkinan akibat:
Gangguan hormonal
Kelainan serviks
Obstruksi tuba falopi
Amenore sekunder
Peningkatan fertilitas
Pasien perempuan 31 tahun rutin mengonsumsi alkohol dan aktif merokok. Ia mencoba hamil selama 11 bulan tanpa keberhasilan. Faktor yang mempengaruhi infertilitas:
Konsumsi air putih banyak
Aktivitas harian ringan
Gaya hidup berisiko
Usia reproduktif muda
Pola tidur teratur
Setelah pemeriksaan lengkap pada pasangan infertil tidak ditemukan kelainan anatomis, hormonal, atau spermatogenesis abnormal. Diagnosis yang tepat:
Infertilitas sekunder
Infertilitas idiopatik
Dispareunia psikogenik
Tanda ovulasi tertunda
Gangguan seksual nonorganik
Seorang wanita usia 29 tahun sudah menikah selama 1 tahun dan belum hamil. Siklus menstruasi teratur, tidak ada riwayat penyakit kronis. Bidan merencanakan skrining awal infertilitas. Pemeriksaan pertama yang dianjurkan adalah:
Histerosalpingografi
Pemeriksaan analisis semen pasangan
Laparoskopi
USG transvaginal 3D
Pemeriksaan hormon AMH
Wanita 34 tahun datang dengan riwayat infertilitas 2 tahun. Pemeriksaan yang dipilih untuk menilai ovulasi secara sederhana dan dapat dilakukan pasien di rumah adalah:
Pemeriksaan TORCH
Pengukuran suhu basal tubuh
Histeroskopi
Analisis semen
CT scan pelvis
Pasangan infertil menjalani pemeriksaan semen. Hasil menunjukkan motilitas progresif rendah dan morfologi abnormal. Pemeriksaan ini termasuk bagian dari:
Pemeriksaan hormon reproduksi
Penilaian faktor ovulasi
Penilaian faktor tuba
Penilaian faktor pria
Penilaian faktor uterus
Wanita 28 tahun menjalani histerosalpingografi (HSG). Setelah prosedur, ia bertanya tentang tujuan utama pemeriksaan tersebut. Bidan menjelaskan bahwa HSG dilakukan untuk:
Mengukur kadar hormon FSH dan LH
Menilai kelancaran tuba falopi dan rongga uterus
Mengidentifikasi kelainan genetik
Menilai kualitas ovulasi
Mengevaluasi kualitas sperma pasangan
Seorang pria menjalani analisis semen. Hasil menunjukkan volume normal, tetapi sperma tidak ditemukan. Kondisi ini disebut:
Azoospermia
Oligospermia
Teratospermia
Asthenospermia
Necrozoospermia
Pasangan infertil dengan tuba falopi paten, kualitas sperma normal dan ovulasi adekuat dianjurkan menjalani inseminasi intrauterin (IUI). Keuntungan prosedur ini dibanding hubungan seksual terencana adalah:
Lebih cepat mendapatkan hasil TORCH
Spermatozoa ditempatkan langsung ke dalam uterus
Menghilangkan kebutuhan stimulasi ovulasi
Menjamin keberhasilan 100%
Tidak memerlukan monitoring folikel
Pasangan menjalani program fertilitas dengan teknik bayi tabung (IVF). Pada tahapan IVF, fertilisasi terjadi di:
Dalam tuba falopi alami
Rongga uterus
Inkubator laboratorium
Serviks
Ovarium
Wanita 33 tahun memiliki faktor risiko infertilitas karena endometriosis. Bidan berwenang memberikan edukasi dan kemudian:
Melakukan operasi pelvis
Memberikan terapi hormonal definitif
Merujuk ke fasilitas layanan kesuburan tingkat lanjut
Melakukan IVF mandiri
Melakukan histeroskopi operatif
Pasangan mengalami stres karena kegagalan program hamil mandiri. Kewenangan bidan dalam manajemen infertilitas meliputi:
Memberikan dukungan psikososial dan konseling
Melakukan operasi laparoskopi
Menentukan protokol IVF
Menetapkan diagnosis azoospermia
Memberikan terapi hormon gonadotropin
Wanita 31 tahun baru menjalani pemeriksaan skrining HIV, hepatitis B, dan sifilis sebelum merencanakan kehamilan. Tujuan pemeriksaan ini adalah:
Menentukan tanggal ovulasi
Menilai faktor infeksi yang dapat memengaruhi fertilitas dan kehamilan
Menilai fungsi ovarium
Menentukan indikasi operasi tuba
Menetapkan jenis IVF
Bidan menemukan hasil pemeriksaan pasangan infertil menunjukkan tuba falopi obstruktif bilateral. Tindakan sesuai kewenangan bidan adalah:
Melakukan rekonstruksi tuba
Merujuk ke spesialis fertilitas
Melakukan IUI
Melakukan program terapi hormonal
Melakukan prosedur IVF mandiri
Seorang wanita dengan menstruasi tidak teratur dicurigai mengalami anovulasi. Pemeriksaan lanjutan yang paling sesuai adalah:
Pemeriksaan gula darah puasa
Pemeriksaan hormon progesteron hari ke-21 siklus
Pemeriksaan kultur urine
Pemeriksaan fungsi hati
Pemeriksaan analisis sperma pasangan
Pasangan dengan hasil pemeriksaan normal namun belum hamil lebih dari 1 tahun dikategorikan sebagai:
Infertilitas faktor pria
Infertilitas faktor wanita
Infertilitas idiopatik
Infertilitas sekunder
Infertilitas primer berat
Wanita dengan riwayat keguguran berulang dan hasil skrining menunjukkan antibodi rubella negatif. Rekomendasi yang tepat adalah:
Melanjutkan program hamil tanpa tindakan
Mendapatkan vaksinasi rubella dan menunda kehamilan 1–3 bulan
Menjalani prosedur IUI
Menghindari konsumsi asam folat
Melakukan operasi tuba
Seorang bidan mengembangkan program edukasi prakonsespi berbasis bukti. Prinsip evidence-based practice adalah:
Mengandalkan pengalaman pribadi tanpa data ilmiah
Menggabungkan bukti ilmiah, preferensi pasien, dan kompetensi klinis
Mengutamakan opini pakar saja
Menggunakan metode tradisional
Mengabaikan hasil penelitian terbaru
