NEW
Font size
WorksheetsUTS Anak Autisme
Total questions: 10
Worksheet time: 3mins
Nayra, 10 tahun, sangat cerdas dalam pelajaran sains tetapi terlihat kesulitan berinteraksi dengan teman di kelas. Ia jarang menatap lawan bicara dan sering tidak memahami kapan harus bergiliran berbicara. Saat kelas menjadi ramai, Nayra menutup telinganya dan memilih duduk di pojok ruangan. Ia menolak memakai pakaian berbahan tertentu karena merasa “gatal dan menusuk”. Perubahan kecil dalam jadwal membuat Nayra menangis lama. Interpretasi kasus yang terjadi pada Nayra adalah?
ASD tingkat sedang karena gangguan sosial dan sensori yang signifikan
Sensitivitas Nayra hanyalah kebiasaan pribadi tanpa kaitan ASD
Perilaku Nayra hanya karena ia tipe anak pemalu
Reaksi muncul akibat kurang disiplin di rumah.
Ruma, 7 tahun, selalu berjalan memutari kelas sebelum duduk dan marah bila ritualnya dihentikan. Ia mampu berbicara, tetapi bahasanya sangat literal dan kaku. Ruma lebih suka menyusun mainan berdasarkan pola tertentu daripada bermain dengan teman. Suara gesekan kursi membuatnya menutup telinga. Guru melihat perilaku ini konsisten di berbagai situasi.
Interpretasi kasus Ruma tersebut adalalah
Pola bahasanya mengalami gangguan bicara murni
Perilaku perfeksionis dari anak ASD
Kondisi ASD tingkat sedang karena gangguan sosial, repetitif dan sensori
Ritual anak ASD yang menjadi kebiasaan
Fafa, 11 tahun, sensitif terhadap cahaya terang dan sering memejamkan mata di kelas. Ia menolak makanan bertekstur renyah karena merasa sakit di mulut. Fafa sering berbicara terlalu dekat dengan temannya. Perubahan jadwal membuatnya gelisah dan menangis. Ia dapat belajar dengan baik bila lingkungan diatur sesuai kebutuhannya.
Interpretasi kasus fafa tersebut adalah
Fafa mengalami disfungsi sensori murni
Fafa mengalami gangguan sensori dominan, karena kondisi ASD
Fafa menjadi pemalu karena ASD
Fafa mengalami gangguan makan
Laras, 9 tahun, sangat tertarik pada ensiklopedia hewan dan bercerita panjang tanpa melihat respon orang lain. Ia sulit memahami ekspresi emosi temannya. Dalam permainan, ia menjadi kaku dan ingin aturan dipatuhi persis versinya. Suara gaduh membuatnya menutup telinga. Orang tua mengatakan ia sangat bergantung pada rutinitas. Interpretasi kondisi ini ialah
Laras mengalami pribadi yang introvert
Perilaku yang laras tunjukkan akibat kurangnya perhatian pada anak GSA
ASD tingkat ringan dengan kesulitan sosial dan sensori
Minat pada ensiklopedia pada Laras karena kelekatannya pada topik tertentu yang bukan bagian dari karakteristik GSA
Bara, 8 tahun, marah jika ada perubahan kecil pada posisi barang di kamarnya. Ia tidak nyaman disentuh tiba-tiba. Ketika jadwal berubah, Bara mengalami meltdown panjang. Ia tampak bingung saat diminta menjelaskan perasaannya. Suara dan cahaya mudah membuatnya overstimulasi.
Interpretasi dari kondisi bara adalah
Bara mengalami gangguan perilaku.
Bara termasuk. kategori ASD sedang dengan gangguan emosi dan sensori
Meltdown adalah cara anak ASD mencari perhatian
Bara mengalami sensitifitas
Dila, 6 tahun, menutup telinga saat mendengar suara keras tetapi tidak merespons namanya. Ia suka menabrak sofa dan mencari sensasi tubuh. Pakaian tertentu membuatnya menangis. Di kelas, suara kipas dan kursi membuatnya sulit fokus. Orang tua merasa tantangan terbesarnya adalah sensori.
Interpretasi dari kasus Dila ialah?
Dila mengalami gangguan pendengaran murni
Dila memiliki kondisi hiperaktifitas
Dila termasuk anak dengan kondisi kombinasi sensory seeking dan defensiveness pada ASD
Dila mengalami gangguan sensori dan kecemasan
Rafli, 8 tahun, sangat terganggu oleh cahaya terang dan bau makanan. Ia menghindari sentuhan ringan tetapi nyaman dipeluk erat. Ketika ruangan ramai, ia menutup telinga lalu duduk di bawah meja. Temannya mengira ia tidak mau bermain. Guru kesulitan melibatkan Rafli dalam kelompok.
Interpretasi kondisi Rafli ialah
Rafli mengalami gangguan sensori murni
Rafli mengalami gangguan pendengaran karena sensitifitas sensori
Rafli mengalami sensitfitas sensori dan memengaruhi keterampilan sosialnya
Rafli mengalami kondisi tidak senang berteman
Nara, 5 tahun, adalah anak dengan GSA tingkat sedang yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap tekstur makanan dan mudah teralihkan oleh bau makanan di kelas. Setelah orang tuanya menerapkan diet CF–GF, guru melihat perubahan positif: Nara menjadi lebih tenang pada pagi hari dan tidak lagi tampak “gelisah” seperti biasanya. Ia lebih mudah duduk di kursinya, tidak sering berkeliling ruangan, dan tampak lebih fokus saat mengikuti instruksi sederhana. Sebelumnya, Nara sering mengalami lonjakan energi setelah makan roti manis atau susu coklat yang dibawakan dari rumah, dan guru menduga itu memperparah perilaku hiperaktif ringan yang dimilikinya. Setelah diet CF–GF diterapkan, Nara tidak lagi menunjukkan perilaku “sugar rush”, dan waktu konsentrasinya meningkat selama kegiatan belajar. Interpretrasi kasus Nara Ialah
Perilaku Nara membaik karena ia sudah semakin dewasa, didukung oleh penguatan di sekolah
Peningkatan fokus Nara terjadi karena guru menggunakan pendekatan ABA
Diet CF–GF dapat membantu sebagian anak GSA menjadi lebih stabil secara sensori dan terhindar dari sugar rush, sehingga meningkatkan fokus dan toleransi terhadap aktivitas kelas.
Perubahan perilaku Nara didukung oleh pola asuh orang tua di rumah dan self-management yang diperkuat pada Nara
Gilang, 7 tahun, hanya makan makanan berwarna putih dan bertekstur lembut. Ia menolak makanan renyah karena terasa “keras di mulut”. Gilang menangis bila diminta mencoba makanan baru. Berat badan stagnan selama berbulan. Ia juga menghindari bau makanan kuat.
Interpretasi Kondisi gilang yaitu
Penolakan terjadi karena tidak didukung oleh pendekatan ABA
Selektivitas dipicu oleh gangguan sensori oral pada anak GSA
Gilang lekat dengan warna tertentu, sehingga berimplikasi pada preferensi makanan
Gilang mengalami gangguan penciuman
Nasya, 12 tahun, mengalami haid pertama di sekolah dan sangat panik. Ia kesulitan memasang pembalut karena tidak bisa mengikuti instruksi. Sensasi tekstur pembalut membuatnya menangis. Ia takut sekolah karena takut mengalami hal sama. Guru melihat masalah utamanya adalah sensori.
Interpretasi kasus Nasya adalah
Kepanikan wajar bagi anak yang memasuki fase pubertas pertama
Nasya belum dilatih untuk memahami kondisi tubuhnya saat mendapatkan pubertas pertama
Pubertas pada GSA memunculkan sensori kuat, sehingga perlu pelatihan terstruktur
Nasya juga memiliki kecenderungan takut darah
