WorksheetsSOAL Tourniquet, MAP, CRT, Resusitasi cairan
Total questions: 14
Worksheet time: 7mins
Seorang pasien perempuan berusia 28 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan demam tinggi 5 hari, mual, dan nyeri perut. TD 100/70 mmHg, nadi 98x/menit, suhu 38,9ºC. Hasil laboratorium: trombosit 95.000/mm³, Hb 12 g/dL, leukosit 4.200/mm³. Perawat akan melakukan tourniquet test untuk mengkaji kemungkinan demam berdarah. Apa prosedur yang dilakukan perawat pada kasus diatas?
Memasang tensimeter dengan tekanan 100 mmHg selama 5 menit dan menghitung petechiae
Memasang tensimeter antara tekanan sistolik dan diastolik selama 3 menit, hitung petechiae minimal 10-20 per inci persegi
Memasang tensimeter antara tekanan sistolik dan diastolik selama 5 menit, hasil positif jika terdapat ≥10-20 petechiae per inci persegi
Memasang tensimeter dengan tekanan diastolik selama 5 menit dan menghitung semua bintik merah
Memasang tensimeter dengan tekanan sistolik penuh selama 3 menit dan observasi perdarahan
Seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun hari ke-4 perawatan dengan diagnosis suspek DHF. TD 110/75 mmHg, nadi 88x/menit, suhu 37,8ºC, trombosit 110.000/mm³. Setelah dilakukan tourniquet test selama 5 menit dengan tekanan 92 mmHg, ditemukan 25 petechiae pada area 2,5 x 2,5 cm lengan bawah. Pasien mengeluh pusing ringan dan masih dapat makan. Interpretasi hasil tourniquet test tersebut adalah:
Negatif, karena jumlah petechiae kurang dari 30
Meragukan, perlu dilakukan pengulangan test
Positif, menunjukkan fragilitas (kerusakan) pembuluh darah
Normal, karena trombosit masih di atas 100.000/mm³
Tidak valid, karena tekanan yang digunakan terlalu rendah
Seorang pasien perempuan berusia 42 tahun dirawat di ruang rawat inap dengan diagnosis syok hipovolemik ec dehidrasi berat. Hasil pengukuran tanda vital: TD 80/50 mmHg, nadi 120x/menit lemah, RR 28x/menit, suhu 37,2ºC, akral dingin, CRT 4 detik. Pasien tampak lemah dan gelisah. Perawat perlu menghitung MAP untuk memantau perfusi jaringan.
50 mmHg
55 mmHg
60 mmHg
Seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun hari ke-2 perawatan post resusitasi cairan karena syok septik. TD 95/60 mmHg, nadi 100x/menit, RR 24x/menit, suhu 37,5°C, produksi urin 25 ml/jam, akral hangat. Hasil pemeriksaan MAP menunjukkan nilai 71,6 mmHg. Kesadaran composmentis, pasien dapat berkomunikasi dengan baik. Interpretasi nilai MAP tersebut menunjukkan:
A. Perfusi jaringan buruk, perlu resusitasi cairan agresif segera
B. Perfusi organ vital tidak adekuat, tingkatkan kecepatan cairan
C. Perfusi jaringan adekuat, pertahankan manajemen cairan
D. Risiko hipervolemia, kurangi kecepatan cairan
E. Perfusi berlebihan, stop pemberian cairan maintenance
Seorang pasien perempuan berusia 30 tahun dirawat dengan diagnosis DHF grade II hari ke-5 demam. TD 100/70 mmHg, nadi 96x/menit, suhu 37,5°C, trombosit 80.000/mm³, hematokrit 42%. Pasien mengeluh lemas dan pusing saat bangun. Perawat melakukan pengkajian CRT dengan menekan kuku jari tangan selama 5 detik kemudian melepaskannya. Prosedur pengukuran CRT yang BENAR adalah:
Menekan kuku selama 5 detik, hitung waktu hingga warna merah muda kembali sempurna
Menekan kuku hingga memutih selama 5 detik, hitung waktu kembalinya warna dari saat dilepas hingga kembali normal
Menekan ujung jari selama 3 detik, observasi perubahan warna kulit sekitar
Menekan telapak tangan hingga pucat, hitung waktu kembalinya sirkulasi
Menekan kuku hingga nyeri, lepaskan dan hitung detik hingga tidak nyeri
Seorang pasien laki-laki berusia 38 tahun dirawat dengan diagnosis DHF grade II disertai hemokonsentrasi. TD 90/60 mmHg, nadi 110x/menit, akral dingin, hasil CRT 4 detik, urin output 20 ml/jam. Hematokrit 48%, trombosit 75.000/mm³, suhu 37,8ºC. Pasien tampak gelisah dan mengeluh haus terus menerus. Interpretasi hasil CRT tersebut menunjukkan:
Perfusi perifer normal, tidak perlu intervensi khusus
Perfusi perifer baik, lanjutkan observasi rutin
Perfusi perifer terganggu, indikasi syok kompensasi memerlukan resusitasi cairan
Seorang pasien perempuan berusia 45 tahun hari ke-3 perawatan DHF grade II. TD 85/55 mmHg, MAP 65 mmHg, nadi 115x/menit, CRT 3,5 detik, akral dingin, produksi urin 25 ml/jam, hematokrit 45%. Hasil tourniquet test positif dengan 22 petechiae. Pasien mengeluh pusing dan lemas, kesadaran composmentis. Diagnosa keperawatan PRIORITAS yang tepat adalah:
Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Hipertemia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia sekunder akibat kebocoran plasma
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
Seorang pasien laki-laki berusia 32 tahun BB 60 kg baru masuk ruang rawat inap dengan diagnosis DHF grade II disertai tanda syok awal. TD 90/60 mmHg, nadi 118x/menit, CRT 3 detik, akral dingin lembab, gelisah, hematokrit 46%. Dokter menginstruksikan resusitasi cairan kristaloid. Pasien belum mendapat cairan IV sebelumnya. Intervensi resusitasi cairan kristaloid fase awal yang TEPAT adalah:
A. Berikan cairan kristaloid 500 ml dalam 2 jam, evaluasi respon
B. Berikan cairan kristaloid 5-7 ml/kgBB/jam maintenance kontinyu
C. Berikan bolus cairan kristaloid 10-20 ml/kgBB (600-1200 ml) dalam 1 jam pertama, evaluasi respon hemodinamik
D. Berikan cairan koloid 10 ml/kgBB dalam 30 menit pertama
E. Berikan cairan kristaloid 2000 ml dalam 4 jam secara perlahan
Seorang pasien perempuan berusia 40 tahun telah mendapat resusitasi cairan kristaloid 700 ml dalam 1 jam terakhir untuk tatalaksana syok DHF. Evaluasi menunjukkan: TD 100/70 mmHg (sebelumnya 85/55 mmHg), nadi 98x/menit (sebelumnya 120x/menit), CRT 2 detik (sebelumnya 4 detik), akral hangat, produksi urin 40 ml/jam, pasien lebih tenang. Evaluasi respon resusitasi cairan menunjukkan:
Respon buruk, tingkatkan kecepatan hingga 30 ml/kgBB/jam
Belum ada perbaikan, ulangi bolus cairan 10 ml/kgBB
Respon baik terhadap resusitasi, turunkan kecepatan cairan menjadi maintenance 5-7 ml/kgBB/jam
Seorang pasien laki-laki berusia 48 tahun hari ke-4 perawatan DHF grade II dalam fase kritis. TD 95/65 mmHg, MAP 75 mmHg, nadi 105x/menit, CRT 2,5 detik, hematokrit 44%, trombosit 70.000/mm³, produksi urin 35 ml/jam. Mendapat cairan maintenance RL 7 ml/kgBB/jam. Tourniquet test positif, tidak ada perdarahan aktif. Implementasi pemantauan yang PALING KOMPREHENSIF adalah:
Monitor tanda vital setiap 4 jam dan observasi perdarahan
Monitor tanda vital, intake-output, dan laboratorium harian
Monitor tanda vital dan hemodinamik (MAP, CRT) tiap 1-2 jam, balance cairan, tanda perdarahan, hematokrit serial setiap 6-12 jam, tanda kebocoran plasma
Monitor kesadaran, produksi urin per shift, dan keluhan pasien
Monitor tekanan darah setiap jam dan catat semua asupan cairan
MAP dihitung dengan rumus: MAP = (80 + 2x50)/3. Berapakah hasilnya?
60 mmHg
70 mmHg
80 mmHg
90 mmHg
CRT 4 detik (>3 detik) menunjukkan gangguan perfusi, indikasi syok.
Benar
Salah
Prioritas: penurunan curah jantung karena hipovolemia pada DHF.
Benar
Salah
Resusitasi awal DHF syok: bolus 10-20 ml/kgBB dalam 1 jam pertama.
Benar
Salah
