wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Latihan UP-PPG Batch-4 2025

Total questions: 15

Worksheet time: 17mins

Name
Class
Date
1.
Seorang guru Qur’an Hadis akan mengajarkan pengertian Al-Qur’an, wahyu, ilham, dan ta’lim. Guru ingin tujuan ranah sikap yang terukur untuk menumbuhkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia (bukan sekadar paham definisi). Rumusan tujuan yang paling tepat adalah…
a)
Peserta didik membiasakan adab saat membaca/mendengar ayat serta menolak perilaku merendahkan wahyu dalam interaksi kelas.
b)
Peserta didik mampu membedakan wahyu, ilham, dan ta’lim, lalu menyusun refleksi tertulis tentang “bagaimana saya akan menata sikap terhadap Al-Qur’an” disertai dua indikator perilaku yang akan dipraktikkan selama sepekan.
c)
Peserta didik menjelaskan definisi Al-Qur’an dan wahyu, kemudian membuat slogan tentang pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup agar teman-teman termotivasi untuk lebih rajin membaca.
d)
Peserta didik menyajikan peta konsep perbedaan wahyu–ilham–ta’lim, lalu menghubungkan masing-masing konsep dengan contoh sikap (mis. adab, kehati-hatian menyampaikan ayat, dan komitmen beramal) untuk dinilai menggunakan rubrik.
e)
Peserta didik menyatakan setuju bahwa Al-Qur’an itu mulia dan berjanji jadi lebih baik, namun tanpa indikator perilaku karena penilaian sikap dianggap cukup berdasarkan pengakuan lisan.
2.
Guru merancang pembelajaran nuzul al-Qur’an dengan PBL. Siswa sering menghafal “sejarah turunnya Al-Qur’an” tetapi gagal memahami struktur keilmuan (tahapan nuzul, konteks, dan makna pedagogisnya). Langkah analisis materi ajar yang paling tepat agar tujuan pembelajaran sesuai karakteristik siswa adalah…
a)
Memetakan tahapan nuzul dan merumuskan masalah pemantik yang menuntut analisis alasan serta implikasi turunnya bertahap.
b)
Menetapkan tujuan agar siswa menghafal urutan tahap (lauhul mahfuzh–baitul ‘izzah–Nabi), lalu memberi latihan cepat; jika waktu cukup, barulah guru menambahkan cerita latar agar kelas terasa menarik, meski tanpa menguji alasan turunnya bertahap.
c)
Menyederhanakan materi menjadi “Al-Qur’an turun 23 tahun”, lalu tujuan pembelajaran difokuskan pada kemampuan mengulang informasi pokok supaya siswa tidak terbebani istilah-istilah yang dianggap sulit.
d)
Mengawali PBL dengan kasus “mengapa hukum turun bertahap?” tetapi tanpa terlebih dahulu memetakan konsep tahapan nuzul; guru berharap siswa menemukan sendiri strukturnya dari internet sehingga pembelajaran lebih mandiri.
e)
Memindahkan materi tahapan nuzul ke bacaan mandiri, sedangkan di kelas siswa menonton video motivasi tentang cinta Al-Qur’an; diskusi hanya menilai perasaan siswa setelah menonton.
3.
Pada materi ayat/surat Makkiyah dan Madaniyah, guru ingin pembelajaran berbasis masalah agar siswa tidak berhenti pada label “sebelum–sesudah hijrah”, tetapi mampu menilai penggunaan kriteria (waktu turunnya, sasaran khitab, konteks dakwah). Rancangan PBL yang paling tepat adalah…
a)
Menyajikan kasus “tafsir potongan ayat di media sosial memicu salah paham,” lalu siswa menguji beberapa contoh ayat/surat memakai lebih dari satu kriteria (waktu hijrah, sasaran khitab, tema/ciri) dan menyusun argumen kriteria paling kuat untuk menjelaskan konteks.
b)
Memberikan definisi Makkiyah–Madaniyah dan meminta siswa menyalin tabel ciri-ciri ke buku catatan agar rapi, karena keteraturan catatan dianggap cukup untuk memahami.
c)
Menugaskan tiap kelompok memilih satu surat, kemudian mereka membuat presentasi yang menjelaskan mengapa surat itu dikategorikan Makkiyah/Madaniyah dengan menimbang beberapa kriteria sekaligus, serta menguji dampak kategorisasi itu pada cara menyampaikan pesan ayat dalam dakwah kekinian.
d)
Membagi kelas menjadi dua kubu debat “waktu hijrah vs ciri panggilan”, tetapi penilaian hanya dari banyaknya argumen yang keluar, bukan dari ketepatan data atau kekuatan justifikasi.
e)
Melakukan kuis cepat klasifikasi Makkiyah/Madaniyah berbasis aplikasi; skor diambil dari kecepatan menjawab agar siswa termotivasi bersaing, meski alasan pemilihan kriteria tidak dibahas.
4.
Dalam pembelajaran Qashash dalam Al-Qur’an, guru menyajikan kisah secara naratif tetapi siswa merasa “jauh dari realitas sekarang”. Sebagian siswa juga mulai melempar candaan yang berpotensi merendahkan tokoh dalam kisah. Anda diminta menentukan strategi PBL yang menjaga suasana belajar aman dan tetap bermakna. Respons paling efektif adalah…
a)
Menetapkan adab diskusi, lalu mengubah kisah menjadi masalah kontekstual dan menuntun kelompok menghasilkan solusi/aksi yang dinilai dengan rubrik.
b)
Menghentikan pembelajaran dan memberi teguran keras; setelah kelas hening, guru melanjutkan ceramah sampai tuntas agar materi tidak melebar, meskipun siswa tidak sempat mengaitkan pesan kisah dengan problem kehidupan.
c)
Membiarkan candaan terjadi supaya suasana cair, lalu meminta siswa menuliskan “hikmah” satu paragraf secara individu tanpa diskusi agar konflik tidak muncul.
d)
Mengganti materi qashash dengan daftar konsep akidah–syariah–akhlak karena cerita sering memancing komentar; fokus pada poin-poin ringkas dianggap lebih aman daripada mengolah narasi.
e)
Menugaskan siswa mencari kisah apa pun dari internet dan mempresentasikan yang paling menarik; aturan adab dan validitas sumber diserahkan ke masing-masing kelompok agar kreativitas tidak dibatasi.
5.
Guru mengajar Qashash dalam Al-Qur’an dengan PBL. Ia ingin asesmen mencakup input, proses, dan hasil pada ranah sikap–pengetahuan–keterampilan. Paket teknik asesmen yang paling tepat adalah…
a)
Diagnostik awal singkat, observasi proses (rubrik kolaborasi & adab), dan penilaian produk (rubrik argumentasi pesan kisah + rencana aksi) disertai refleksi.
b)
Ulangan pilihan ganda di akhir pertemuan, lalu nilai akhir diambil dari rata-rata skor; untuk sikap cukup diberi catatan umum karena observasi proses dianggap terlalu subjektif dan memakan waktu.
c)
Penilaian proyek hanya dari estetika poster kisah; guru beranggapan jika poster bagus maka pemahaman dan sikap otomatis ikut baik, sehingga rubrik argumentasi tidak diperlukan.
d)
Tes lisan alur kisah di depan kelas untuk mengukur pengetahuan, sementara keterampilan diambil dari kelancaran presentasi; proses diskusi tidak dinilai karena yang penting adalah hasil akhir.
e)
Mengandalkan penilaian diri saja dengan formulir refleksi, karena siswa dianggap paling tahu perkembangan dirinya; guru tidak menyiapkan instrumen diagnostik atau rubrik produk agar beban administrasi berkurang.
6.
Seorang guru Qur’an Hadis menemukan peserta didik sering membagikan kutipan “hadis” dari media sosial tanpa memeriksa sumber. Guru akan mengawali materi Konsep Dasar Ulum al-Hadis (pengertian hadis, perbedaan Al-Qur’an–Hadis Nabawi–Hadis Qudsi, serta struktur hadis: sanad–matan–mukharrij) dengan tujuan ranah pengetahuan yang menumbuhkan berpikir kritis. Rumusan tujuan pembelajaran yang paling sesuai adalah …
a)
Peserta didik merancang kriteria sederhana untuk menguji sebuah kutipan (jenisnya, unsur sanad–matan, dan konteks pemakaian), lalu menggunakan kriteria itu untuk menilai kelayakan kutipan sebelum dibagikan beserta alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
b)
Peserta didik menyebutkan definisi Ulum al-Hadis, menyatakan perbedaan Al-Qur’an dan hadis, serta menuliskan kembali istilah sanad dan matan secara tepat dari buku paket agar hafalan konsep dasar menjadi kuat.
c)
Peserta didik menunjukkan sikap hormat kepada hadis dengan berkomitmen hanya membagikan konten keagamaan yang menenangkan, tanpa perlu membahas prosedur klasifikasi atau penilaian sanad karena dikhawatirkan menimbulkan perdebatan.
d)
Peserta didik mempraktikkan presentasi singkat tentang hadis Nabawi dan hadis Qudsi dengan intonasi yang baik, kemudian menerima umpan balik terkait kejelasan suara dan penggunaan media agar keterampilan komunikasi meningkat.
e)
Peserta didik mengerjakan latihan pilihan ganda tentang istilah-istilah Ulum al-Hadis sampai mencapai nilai minimum, lalu mengulang latihan yang sama untuk memastikan penguasaan pengetahuan faktual dan terminologis.
7.
Dalam menyusun alur materi tentang hadis dha’if agar bermakna, guru ingin menghindari pendekatan yang hanya menghafal istilah. Guru juga ingin siswa memahami alasan ilmiah di balik penilaian kualitas hadis serta konsekuensi penggunaannya dalam praktik beragama. Urutan penyajian materi yang paling tepat adalah …
a)
Mengawali dari kasus hadis viral yang dipakai membenarkan suatu praktik → merumuskan pertanyaan penilaian (sanad, matan, konteks) → menelaah contoh indikator kedhaifan pada sanad/matan → menimbang dampak pemakaian pada konteks fadhā’il dan pada hukum → menyusun bagan keputusan beserta alasan dan refleksi etika literasi digital.
b)
Mengawali dari kasus yang sama, lalu guru memberikan “paket jawaban” kualitas hadis dan meminta siswa menjustifikasi keputusan itu dengan mencari satu-dua kutipan pendapat ulama di internet; diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa semua yang viral sebaiknya ditinggalkan, tanpa membedakan tujuan pemakaian (fadhā’il/hukum).
c)
Memulai dengan peta konsep kategori sahih–hasan–dha’if, kemudian siswa menganalisis dua contoh sanad dan dua contoh matan yang bermasalah menggunakan rubrik sederhana; akan tetapi pembelajaran berhenti pada identifikasi indikator teknis dan belum diarahkan pada pertimbangan konsekuensi penggunaan dalam kehidupan beragama.
d)
Memulai dari definisi hadis dha’if, lalu memberi beberapa contoh “hadis bermasalah” untuk diklasifikasi kelompok menggunakan daftar ciri; setelah itu siswa membuat ringkasan satu halaman, tetapi pembelajaran tidak menuntut pembenaran argumen berbasis bukti rujukan dan konteks pemakaian.
e)
Mengawali dengan penguatan afektif agar siswa tidak mudah menuduh palsu; selanjutnya siswa berdiskusi tentang dampak negatif hoaks keagamaan, tetapi analisis sanad–matan hanya dibahas sekilas karena dianggap terlalu sulit.
8.
Anda diminta merancang PBL untuk materi “Perbedaan Al-Qur’an, Hadis Nabawi, dan Hadis Qudsi” pada kelas VIII. Kelas heterogen; sebagian siswa kuat hafalan tetapi lemah bernalar, sebagian lain kritis namun kurang sistematis. Langkah tindakan yang paling tepat adalah …
a)
Menyajikan masalah awal berupa tiga kutipan yang “mirip wahyu”, lalu meminta kelompok mengklasifikasi berdasarkan kriteria (sumber lafaz, status tilawah, fungsi sebagai hujjah) dan menguji keputusan dengan rujukan tepercaya; di akhir, kelompok menyampaikan argumen dan menanggapi sanggahan berbasis bukti.
b)
Menggunakan strategi jigsaw: tiap kelompok ahli mendalami satu sumber (Al-Qur’an/Hadis Nabawi/Hadis Qudsi) lalu menyusun kriteria pembeda, setelah itu kelompok campuran memecahkan studi kasus; namun guru tidak menyiapkan mekanisme cek silang rujukan sehingga keputusan akhir sering ditentukan oleh kelompok yang paling dominan berbicara.
c)
Memberi LKPD kriteria pembeda yang sangat rinci, kemudian siswa mengerjakan klasifikasi puluhan kutipan secara cepat untuk membangun otomatisasi; diskusi argumen dibatasi karena dikhawatirkan menyita waktu, sehingga penalaran dan pembuktian tidak tampak.
d)
Mengawali dengan ceramah singkat, lalu siswa membuat poster “perbedaan tiga sumber” dari satu kasus yang sama; proses penelusuran bukti diserahkan pada siswa tanpa batasan sumber, sehingga beberapa kelompok mengambil rujukan tidak akurat namun tetap mendapat nilai karena desainnya kuat.
e)
Mengawali dari kisah adab terhadap wahyu dan refleksi, kemudian guru meminta siswa menyimpulkan perbedaan ketiga sumber dari cerita; pembelajaran nyaman tetapi tidak menuntut penggunaan kriteria analitis yang eksplisit.
9.
Dalam materi “Pemahaman tentang Struktur Hadis (sanad, matan, mukharrij)”, Anda menyadari contoh yang digunakan kurang relevan dengan kebiasaan belajar siswa era digital (mereka lebih sering menemukan hadis lewat poster/short video). Anda ingin menerapkan strategi PjBL. Keputusan tindakan yang paling tepat adalah …
a)
Menugaskan proyek kelompok membuat infografis verifikasi hadis dari satu konten viral: menelusuri sumber pada kitab/aplikasi tepercaya, mengidentifikasi sanad–matan–mukharrij, lalu mempresentasikan hasil beserta catatan keterbatasan; penilaian mencakup proses, akurasi rujukan, dan kualitas argumentasi.
b)
Menugaskan proyek membuat video edukasi “cara mengenali sanad dan matan” memakai satu hadis pilihan siswa; guru memberi rubrik presentasi dan kreativitas, tetapi verifikasi mukharrij dan rujukan sumber hanya menjadi opsi tambahan agar tidak membebani kelompok.
c)
Menggunakan proyek “peta rantai periwayatan”: guru menyediakan satu hadis dari kitab, lalu siswa menggambar alur sanad dan menuliskan matannya; kegiatan terstruktur, namun kurang mengaitkan dengan literasi digital (hadis viral) yang menjadi masalah awal.
d)
Menugaskan kelompok mengumpulkan beberapa poster hadis dari internet, kemudian melakukan peer-review untuk memperbaiki redaksi matan; fokus proyek lebih pada penyuntingan teks daripada latihan menelusuri sumber mukharrij dan membaca struktur sanad secara utuh.
e)
Mengadakan kampanye kelas “cek sebelum sebar”: siswa membuat slogan dan aturan etika berbagi; prosesnya nyaman dan partisipatif, tetapi unsur pembelajaran struktur hadis (sanad–matan–mukharrij) tidak selalu teruji secara eksplisit pada artefak proyek.
10.
Anda mengembangkan pembelajaran Kajian Tafsir al-Qur’an dengan metode tafsir tematik (maudhu’iy) bertema “Menjaga Lingkungan” di kelas VIII MTs. Setelah siswa menautkan ayat-ayat tentang khalifah, fasād, dan amanah serta membandingkannya dengan praktik kearifan lokal, Anda perlu merumuskan indikator tujuan ranah sikap. Indikator yang paling tepat adalah …
a)
Menunjukkan tanggung jawab sebagai khalifah dengan menghargai dalil Al-Qur’an sekaligus kearifan lokal yang sejalan, lalu menyepakati perubahan perilaku nyata (mis. mengurangi sampah) berdasarkan hasil kajian ayat.
b)
Menerima bahwa menjaga lingkungan itu penting dan menyatakan setuju terhadap tema pembelajaran, meskipun belum mampu menjelaskan alasan normatif maupun mengaitkannya dengan konteks masyarakat setempat.
c)
Menjelaskan pengertian tafsir tematik dan menyebutkan minimal tiga langkah penyusunannya secara runtut, kemudian menuliskannya kembali dalam buku catatan dengan bahasa sendiri.
d)
Mengikuti aturan kelas tentang kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan selama pembelajaran berlangsung, tanpa perlu menghubungkan tindakan tersebut dengan hasil kajian ayat maupun tradisi setempat.
e)
Mengkritisi praktik tradisi lokal yang dianggap tidak sesuai, lalu menolak menggunakannya sebagai bahan diskusi karena dikhawatirkan mengaburkan kemurnian penafsiran Al-Qur’an.
11.
Waktu pembelajaran Kajian Tafsir al-Qur’an hanya 2 × 40 menit. Anda ingin menyusun alur materi yang tetap logis: dari konsep dasar menuju penerapan metode tafsir tematik pada isu aktual. Urutan langkah pengajaran yang paling aplikatif untuk kondisi tersebut adalah …
a)
Mulai dari tujuan dan pertanyaan pemantik isu → jelaskan ringkas konsep/metode tafsir tematik → siswa mengumpulkan ayat relevan dengan bantuan aplikasi/terjemah → diskusi munāsabah/asbāb an-nuzūl secukupnya → simpulan dan rencana tindak.
b)
Mulai dengan memaparkan seluruh langkah tafsir tematik secara detail beserta perdebatan ulama kontemporer, kemudian baru meminta siswa memilih tema dan mencari ayat sebagai tugas rumah agar waktu kelas tidak habis.
c)
Mulai dengan meminta siswa menafsirkan ayat secara bebas tanpa arahan metode, lalu setelah muncul beragam jawaban guru menilai mana yang paling benar dan menutup pelajaran tanpa merumuskan simpulan bersama.
d)
Mulai dengan menjelaskan asbāb an-nuzūl dan munāsabah berbagai surah secara panjang, setelah itu bila masih ada waktu baru dikenalkan istilah tafsir tematik serta contoh isu yang relevan bagi kehidupan siswa.
e)
Mulai dari latihan menghafal istilah (maudhū’iy, munāsabah, nāsikh–mansūkh), dilanjutkan kuis cepat; penerapan pada isu aktual ditunda sampai pertemuan berikutnya agar istilah benar-benar dikuasai.
12.
Kelas Anda heterogen: ada siswa cepat memahami teks Arab, ada yang lebih kuat visual, dan ada yang membutuhkan banyak contoh konkret. Anda diminta merancang pembelajaran terstruktur (berbasis diferensiasi) untuk proyek mini tafsir tematik tentang “Etika Bermedia”. Rancangan yang paling tepat adalah …
a)
Menetapkan produk proyek (infografik/slide/rekaman audio) dengan rubrik yang sama → memberi pilihan sumber (tafsir ringkas, terjemah, video penjelas) sesuai profil belajar → membagi peran kelompok (pengumpul ayat, penelusur konteks, penyusun argumen, editor) → sesi checkpoint untuk revisi berbasis umpan balik → presentasi dan refleksi.
b)
Membagi kelas menjadi kelompok acak, lalu meminta semua kelompok menulis esai panjang tafsir tematik dengan format yang sama, tanpa pilihan media, agar penilaian lebih mudah dan hasil antarkelompok dapat dibandingkan.
c)
Memberi kebebasan penuh: siswa memilih tema, ayat, metode, media, dan cara penilaian sendiri; guru hanya memeriksa di akhir agar kreativitas tidak terbatasi oleh struktur pembelajaran.
d)
Menyederhanakan proyek menjadi latihan individu menjawab soal pilihan ganda tentang istilah tafsir kontemporer; diferensiasi dilakukan hanya dengan mengurangi jumlah soal bagi siswa yang lambat.
e)
Mengutamakan penggunaan aplikasi AI untuk menyusun tafsir, lalu siswa diminta menyalin hasilnya; guru menilai dari kerapian format dan banyaknya ayat yang dicantumkan agar proyek cepat selesai.
13.
Anda mendapati materi “Tafsir Kontemporer” yang tersedia di buku ajar terlalu normatif dan tidak menyentuh persoalan remaja (mis. cyberbullying, privasi, hoaks). Agar pembelajaran adaptif dengan pendekatan TPACK, tindakan yang paling tepat adalah …
a)
Memetakan konsep inti tafsir kontemporer → memilih kasus nyata dunia digital siswa → merancang diskusi berbasis masalah dengan sumber digital tepercaya (tafsir ringkas, artikel, video) → menugasi siswa membuat rekomendasi etis berbasis ayat dan mempublikasikannya di platform kelas dengan moderasi guru.
b)
Mengganti seluruh materi dengan ceramah panjang tentang bahaya teknologi modern, lalu menutup pelajaran dengan nasihat moral agar siswa takut melakukan kesalahan di media sosial.
c)
Meminta siswa mencari sendiri definisi tafsir kontemporer di internet, kemudian mengumpulkan copy–paste ringkasan; guru menilai dari jumlah referensi dan panjang tulisan.
d)
Menghindari isu dunia digital karena rawan debat; fokus pada perbandingan istilah tafsir klasik semata, sedangkan teknologi hanya dipakai untuk menampilkan slide agar pembelajaran terlihat modern.
e)
Menggunakan kuis daring berisi hafalan istilah dan tokoh mufasir kontemporer; pembahasan kasus remaja ditunda sampai siswa menguasai terminologi secara sempurna.
14.
Dalam pembelajaran “Studi Makkiyah–Madaniyah dalam Penafsiran Al-Qur’an”, hasil formatif sebelumnya menunjukkan banyak siswa mampu menghafal ciri, tetapi belum dapat menganalisis implikasinya terhadap penafsiran ayat. Instrumen asesmen yang paling tepat untuk pertemuan berikutnya adalah …
a)
Tugas kinerja: siswa menganalisis dua potongan ayat (Makkiyah vs Madaniyah) dengan rubrik (indikasi konteks turun, gaya bahasa, tujuan dakwah), lalu menulis argumen mengapa klasifikasi itu memengaruhi fokus penafsiran.
b)
Tes objektif 40 butir yang menanyakan ciri Makkiyah–Madaniyah dan tahun turunnya surah; skor digunakan sebagai nilai akhir karena lebih reliabel dan cepat dikoreksi.
c)
Penilaian sikap melalui observasi kedisiplinan dan kerapian catatan; diasumsikan bahwa siswa yang rapi akan otomatis mampu menganalisis perbedaan Makkiyah–Madaniyah dengan baik.
d)
Kuis lisan acak yang meminta siswa menyebutkan daftar surah Makkiyah dan Madaniyah sebanyak-banyaknya; siswa yang mampu menghafal paling banyak dianggap paling memahami materi.
e)
Portofolio berupa kumpulan tangkapan layar hasil pencarian Google tentang daftar Makkiyah–Madaniyah; penilaian menekankan kelengkapan tautan dan desain halaman.
15.
Anda membaca RPP rekan sejawat untuk materi “Makkiyah–Madaniyah”. RPP sudah memuat konten dan langkah diskusi, tetapi pemilihan teknologi kurang tepat: guru menayangkan banyak slide teks sehingga siswa pasif dan waktu habis. Refleksi perencanaan yang paling konstruktif untuk perbaikan berkelanjutan adalah …
a)
Meninjau ulang kesesuaian tujuan–aktivitas–media, lalu mengganti slide teks menjadi aktivitas analisis sumber (mis. padlet/lembar kerja digital) dan menyiapkan prompt diskusi agar teknologi memperkuat interaksi, bukan menggantikannya.
b)
Menghapus seluruh penggunaan teknologi karena terbukti mengganggu fokus; kembali ke ceramah penuh agar materi selesai, meskipun siswa tidak sempat berlatih menganalisis.
c)
Menambah jumlah slide dan animasi agar tampilannya lebih menarik; jika siswa masih pasif, berarti motivasi mereka rendah sehingga perlu diberi hukuman poin.
d)
Mempertahankan RPP apa adanya karena sudah sesuai buku paket; evaluasi hanya dilakukan bila ada komplain dari orang tua atau kepala madrasah.
e)
Meminta siswa membuat rangkuman slide secara individu dan mengumpulkannya; refleksi dianggap selesai jika semua tugas terkumpul tepat waktu.