Font size
WorksheetsSOAL UAS – LEVEL SULIT (HOTS)
Total questions: 106
Worksheet time: 53mins
Perbedaan paling mendasar antara kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) dalam organisasi formal adalah bahwa:
Kekuasaan selalu bersumber dari jabatan struktural
Kewenangan dapat muncul tanpa legitimasi organisasi
Kekuasaan tidak selalu diakui secara formal
Kewenangan bersifat informal dan personal
Kekuasaan identik dengan tanggung jawab hukum
Seorang staf senior yang berpengaruh kuat meskipun tidak memiliki jabatan struktural tinggi mencerminkan jenis kekuasaan:
Legitimate power
Reward power
Coercive power
Expert power
Authority power
Menurut French & Raven, kekuasaan yang paling berisiko menimbulkan resistensi bawahan dalam jangka panjang adalah:
Legitimate power
Expert power
Referent power
Reward power
Coercive power
Dalam konsep delegasi wewenang, prinsip yang tidak boleh dialihkan oleh manajer adalah:
Pelaksanaan tugas
Pengambilan keputusan teknis
Tanggung jawab akhir
Apabila seorang manajer mendelegasikan tugas tanpa memberikan wewenang yang memadai, maka dampak paling mungkin adalah:
Meningkatnya disiplin kerja
Terjadinya konflik kepentingan
Penurunan akuntabilitas organisasi
Tidak efektifnya pelaksanaan tugas
Meningkatnya loyalitas bawahan
Konsep unity of command sangat penting dalam delegasi kekuasaan karena bertujuan untuk:
Meningkatkan fleksibilitas kerja
Menghindari tumpang tindih wewenang
Memperluas rentang kendali
Mendorong partisipasi bawahan
Mempercepat pengambilan keputusan strategis
Dalam organisasi modern yang datar (flat organization), kekuasaan cenderung:
Terpusat pada manajemen puncak
Berbasis hierarki formal
Bersifat personal dan berbasis kompetensi
Diperoleh melalui senioritas
Didominasi oleh reward power
Menurut Robbins, legitimasi kewenangan seorang manajer dapat melemah apabila:
Struktur organisasi terlalu kompleks
Wewenang tidak diiringi kepercayaan bawahan
Delegasi dilakukan secara bertahap
Pilih jawaban yang benar dari pilihan berikut:
D. Pengendalian dilakukan ketat
E. Sistem penghargaan diperkuat
Dalam konteks etika bisnis, penggunaan kekuasaan dianggap menyimpang apabila:
Digunakan untuk mencapai target organisasi
Didasarkan pada jabatan formal
Mengabaikan prinsip keadilan dan moral
Didukung oleh struktur organisasi
Dilakukan secara transparan
Delegasi kekuasaan yang efektif akan menghasilkan:
Sentralisasi keputusan
Ketergantungan bawahan
Peningkatan kontrol manajer
Pengembangan kompetensi bawahan
Pengurangan beban tanggung jawab manajer
Apabila seorang manajer enggan mendelegasikan wewenang karena takut kehilangan kekuasaan, maka masalah utama yang terjadi adalah:
Kurangnya sistem pengendalian
Rendahnya kepercayaan interpersonal
Lemahnya struktur formal
Kelebihan beban kerja bawahan
Konflik horizontal
Dalam teori organisasi klasik, keseimbangan antara kewenangan dan tanggung jawab diperlukan agar:
Organisasi lebih fleksibel
Karyawan lebih disiplin
Tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan
Tujuan organisasi mudah diubah Pengawasan dapat dihilangkan
Legitimate power
Expert power
Referent power
Coercive power
Structural power
Seorang pemimpin yang dihormati karena integritas, keteladanan, dan nilai pribadi mencerminkan bentuk kekuasaan:
Legitimate power
Expert power
Referent power
Coercive power
Structural power
Dalam praktik manajemen modern, delegasi kekuasaan paling efektif apabila disertai dengan:
Pengawasan ketat
Standar kerja kaku
Pelatihan dan kejelasan peran
Sentralisasi keputusan
Pembatasan akses informasi
Menurut hasil penelitian manajemen kontemporer, organisasi yang mampu mengelola kekuasaan secara sehat cenderung menunjukkan:
Tingkat konflik tinggi
Kepemimpinan otoriter
Kinerja dan kepercayaan organisasi yang lebih baik
Pengambilan keputusan lambat
Struktur birokrasi kaku
Dalam perspektif strategis, peran utama manajemen sumber daya manusia adalah:
Mengelola administrasi kepegawaian
Menyelaraskan kepentingan karyawan dan organisasi
Menjamin kepatuhan terhadap aturan ketenagakerjaan
Mendukung keunggulan bersaing organisasi
Meningkatkan kesejahteraan individu
Konsep Human Capital menekankan bahwa karyawan dipandang sebagai:
Biaya operasional yang harus ditekan
Faktor produksi yang mudah diganti
Aset strategis yang menciptakan nilai tambah
Sumber konflik dalam organisasi
Elemen pendukung teknologi
Analisis jabatan memiliki peran krusial dalam MSDM karena menjadi dasar bagi:
Perencanaan strategis organisasi
Rekrutmen, seleksi, dan penilaian kinerja
Pengambilan keputusan investasi
Penyusunan visi dan misi perusahaan
Pengendalian operasional
Kegagalan proses rekrutmen paling sering disebabkan oleh:
Kurangnya pelatihan karyawan baru
Ketidaksesuaian spesifikasi jabatan dengan kebutuhan organisasi
Tingginya biaya seleksi
Sistem kompensasi yang tidak kompetitif
Rendahnya motivasi pelamar
Dalam proses seleksi karyawan, metode yang memiliki validitas prediktif paling tinggi menurut penelitian MSDM adalah:
Wawancara tidak terstruktur
Tes psikologi
Referensi kerja
Wawancara terstruktur berbasis kompetensi
Tes kesehatan
Pelatihan dan pengembangan SDM dibedakan berdasarkan:
Biaya dan durasi program
Tingkat pendidikan karyawan
Fokus jangka pendek dan jangka panjang
Metode pengajaran
Tingkat jabatan
Tujuan utama penilaian kinerja karyawan dalam MSDM modern adalah:
Menentukan sanksi dan hukuman
Mengendalikan perilaku karyawan
Memberikan umpan balik untuk perbaikan kinerja
Menekan biaya tenaga kerja
Meningkatkan disiplin kerja
Sistem kompensasi yang efektif seharusnya:
Berorientasi pada senioritas
Sama untuk semua karyawan
Dikaitkan dengan kinerja dan kontribusi
Mengurangi motivasi intrinsik
Fokus pada upah minimum
Dalam teori motivasi Herzberg, faktor yang berfungsi sebagai motivator adalah:
Gaji
Kondisi kerja
Hubungan antarpegawai
Pengakuan dan pencapaian
Kebijakan perusahaan
Hubungan industrial yang harmonis dapat tercipta apabila:
Perusahaan menekan peran serikat pekerja
Kepentingan manajemen lebih dominan
Terjadi keseimbangan kepentingan antara perusahaan dan pekerja
Pemerintah tidak terlibat
Upah ditetapkan sepihak
Turnover karyawan yang tinggi biasanya menunjukkan:
Efektivitas rekrutmen meningkat
Kepuasan kerja dan komitmen rendah
Sistem kompensasi terlalu tinggi
Peluang promosi berlebihan
Struktur organisasi fleksibel
Dalam MSDM strategis, talent management difokuskan pada:
Pengurangan jumlah karyawan
Pengendalian biaya SDM
Identifikasi, pengembangan, dan retensi karyawan kunci
Peningkatan disiplin kerja
Penegakan aturan perusahaan
Pendekatan performance-based pay berpotensi gagal apabila:
Target kinerja jelas
Penilaian kinerja objektif
Sistem pengukuran kinerja tidak adil
Insentif dikaitkan dengan hasil kerja
Karyawan dilibatkan dalam penetapan target
Menurut literatur MSDM kontemporer, keunggulan kompetitif berbasis SDM sulit ditiru oleh pesaing karena:
SDM memiliki karakteristik unik dan sulit direplikasi
Teknologi mudah diakses oleh semua perusahaan
Modal finansial lebih menentukan keunggulan
Strategi pemasaran lebih penting daripada SDM
A. Mudah diduplikasi B. Bersifat jangka pendek C. Mengandalkan teknologi E. Bergantung pada regulasi pemerintah
A. Mudah diduplikasi
B. Bersifat jangka pendek
C. Mengandalkan teknologi
D. Terbentuk dari kombinasi kompetensi, budaya, dan komitmen
E. Bergantung pada regulasi pemerintah
Peran MSDM dalam menghadapi era digital terutama tercermin dalam:
Pengurangan tenaga kerja
Otomatisasi administrasi
Pengembangan kompetensi digital dan adaptif
Sentralisasi keputusan
Pengendalian ketat karyawan
Dalam konteks perilaku organisasi, faktor individu dipandang penting karena:
Menentukan struktur organisasi
Menjadi sumber utama variasi perilaku kerja
Menghilangkan konflik organisasi
Menyeragamkan persepsi karyawan
Menggantikan peran manajemen
Persepsi individu dalam organisasi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Contoh faktor internal adalah:
Budaya organisasi
Sistem penghargaan
Pengalaman dan sikap individu
Gaya kepemimpinan
Struktur organisasi
Perbedaan persepsi antarindividu terhadap stimulus yang sama dapat menyebabkan:
Konsistensi perilaku
Pengambilan keputusan seragam
Kesalahpahaman dan konflik kerja
D. Peningkatan koordinasi E. Standarisasi sikap
A
B
C
D
E
Dalam teori kepribadian Big Five, dimensi yang paling berkaitan dengan kinerja kerja tinggi dan perilaku disiplin adalah:
Extraversion
Agreeableness
Openness to experience
Conscientiousness
Neuroticism
Sikap kerja karyawan yang paling berhubungan langsung dengan tingkat turnover adalah:
Kepuasan kerja
Motivasi intrinsik
Komitmen organisasi
Persepsi keadilan
Keterlibatan kerja
Menurut teori self-efficacy Bandura, karyawan dengan self-efficacy tinggi cenderung:
Menghindari tugas sulit
Cepat menyerah saat gagal
Memiliki keyakinan mampu menyelesaikan tugas
Bergantung pada arahan atasan
Kurang termotivasi
Perilaku individu dalam organisasi tidak selalu rasional karena dipengaruhi oleh:
Prosedur formal
Informasi sempurna
Bias kognitif dan emosi
Motivasi kerja individu akan meningkat apabila:
Beban kerja diperberat
Tujuan kerja jelas dan menantang
Pengawasan diperketat
Tugas disederhanakan
Risiko kerja dihilangkan
Dalam teori kebutuhan Maslow, kebutuhan yang paling relevan memengaruhi loyalitas karyawan adalah:
Fisiologis
Keamanan
Sosial
Penghargaan
Aktualisasi diri
Karyawan yang memiliki locus of control internal cenderung:
Menyalahkan lingkungan atas kegagalan
Pasif terhadap perubahan
Bertanggung jawab atas hasil kerja
Bergantung pada keberuntungan
Menolak tantangan
Stres kerja yang berada pada tingkat moderat dapat berdampak positif berupa:
Burnout
Penurunan kinerja
Peningkatan motivasi dan kewaspadaan
Sikap dan perilaku individu dalam organisasi dipengaruhi oleh kesesuaian antara:
Struktur dan strategi
Individu dan lingkungan kerja (person-job fit)
Teknologi dan budaya
Tujuan dan pengendalian
Aturan dan prosedur
Kepuasan kerja bersifat multidimensional karena dipengaruhi oleh:
Gaji semata
Hubungan atasan saja
Kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik
Lingkungan fisik saja
Struktur organisasi
Perilaku disfungsional individu dalam organisasi paling sering muncul akibat:
Motivasi tinggi
Kepemimpinan partisipatif
Ketidakadilan dan tekanan kerja berlebihan
Komunikasi terbuka
Penghargaan berbasis kinerja
Menurut riset perilaku organisasi kontemporer, organisasi yang efektif dalam mengelola faktor individu akan cenderung:
Mengandalkan kontrol ketat
Menyeragamkan perilaku karyawan
Mencapai kinerja dan kepuasan kerja yang lebih tinggi
Dalam perspektif manajemen modern, motivasi dipandang penting karena:
Menjamin kepatuhan karyawan
Menjadi alat pengendalian perilaku
Menentukan intensitas, arah, dan ketekunan perilaku kerja
Menghilangkan konflik organisasi
Menyeragamkan kinerja karyawan
Menurut teori kebutuhan Maslow, seorang karyawan yang telah terpenuhi kebutuhan fisiologis dan keamanan cenderung termotivasi oleh:
Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan keamanan
Kebutuhan sosial
Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan prestasi
Perbedaan utama antara motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik adalah:
Sumber energi kerja
Jenis imbalan yang diterima
Asal dorongan perilaku kerja
Tingkat kepuasan kerja
Pengaruh lingkungan
Dalam teori dua faktor Herzberg, yang termasuk faktor motivator adalah:
Gaji
Kondisi kerja
Hubungan dengan atasan
Pengakuan dan pencapaian
Kebijakan perusahaan
Menurut teori kebutuhan McClelland, individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung:
Menghindari risiko
Menyukai tugas rutin
Mencari umpan balik atas kinerja
Bergantung pada otoritas
Menghindari tanggung jawab
Teori harapan (Expectancy Theory – Vroom) menekankan bahwa motivasi akan tinggi apabila:
Imbalan bersifat finansial
Karyawan memiliki kebutuhan tinggi
Hubungan usaha–kinerja–imbalan dianggap kuat
Pengawasan dilakukan ketat
Tujuan ditetapkan manajemen
Seorang pemimpin yang mampu menginspirasi, membangun visi, dan mendorong perubahan signifikan mencerminkan gaya kepemimpinan:
Transaksional
Birokratis
Otokratis
Transformasional
Laissez-faire
Kepemimpinan transaksional paling efektif diterapkan dalam situasi:
Perubahan lingkungan tinggi
Tugas rutin dan struktur kerja jelas
Organisasi berbasis inovasi
Tim kreatif independen
Lingkungan kerja tidak stabil
Perbedaan mendasar antara manajer dan pemimpin adalah bahwa pemimpin lebih menekankan pada:
Pengendalian dan pengawasan
Perencanaan dan pengorganisasian
Pemberian instruksi
Pengaruh dan inspirasi
Kepatuhan prosedur
Dalam teori kepemimpinan situasional Hersey & Blanchard, gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan:
Kepribadian pemimpin
Struktur organisasi
Tingkat kematangan dan kesiapan bawahan
Sistem kompensasi
Lingkungan eksternal
Kegagalan motivasi karyawan sering terjadi karena:
Gaji terlalu tinggi
Penghargaan tidak sesuai dengan kinerja
Tujuan organisasi jelas
Kepemimpinan partisipatif
Komunikasi terbuka
Pemimpin yang efektif dalam organisasi modern dituntut untuk:
Mengandalkan otoritas formal
Menghindari konflik
Mengembangkan kepercayaan dan keterlibatan
Menggunakan kekuasaan koersif
Menyeragamkan perilaku bawahan
Hubungan antara motivasi dan kepemimpinan dapat dijelaskan bahwa:
Motivasi menggantikan peran kepemimpinan
Kepemimpinan tidak memengaruhi motivasi
Kepemimpinan efektif mampu meningkatkan motivasi bawahan
Motivasi hanya bersumber dari individu
Kepemimpinan bersifat administratif
Dalam konteks etika organisasi, pemimpin yang baik seharusnya:
Fokus pada hasil semata
Menggunakan segala cara untuk mencapai target
Menjadi teladan nilai dan integritas
Menekan bawahan agar patuh
Menghindari pengambilan risiko
Hasil penelitian kepemimpinan kontemporer menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada manusia dan motivasi intrinsik cenderung menghasilkan:
Kinerja jangka pendek
Kepatuhan semu
Kinerja berkelanjutan dan kepuasan kerja tinggi
Konflik meningkat
Ketergantungan bawahan
Perbedaan utama antara kelompok kerja (work group) dan tim kerja (work team) terletak pada:
Jumlah anggota
Struktur organisasi
Tingkat sinergi dan tanggung jawab kolektif
Lama pembentukan kelompok
Hubungan formal antaranggota
Dalam teori pembentukan kelompok Tuckman, tahap yang paling rawan konflik adalah:
Forming
Storming
Norming
Performing
Adjourning
Kelompok kerja informal seringkali memiliki pengaruh besar terhadap organisasi karena:
Memiliki struktur resmi
Dikendalikan oleh manajemen
Mampu membentuk norma perilaku anggota
Berorientasi pada tujuan formal
Memiliki sistem penghargaan
Fenomena social loafing dalam kelompok kerja merujuk pada:
Konflik antaranggota
Ketergantungan pada pemimpin
Penurunan usaha individu saat bekerja dalam kelompok
Peningkatan kreativitas tim
Kompetisi internal
Kelompok kerja dengan tingkat kohesivitas tinggi cenderung:
Selalu menghasilkan kinerja tinggi
Menolak norma kelompok
Lebih patuh terhadap norma kelompok
Mengalami konflik destruktif
Mengabaikan tujuan organisasi
Dalam konteks pengambilan keputusan kelompok, groupthink paling mungkin terjadi apabila:
Anggota memiliki latar belakang beragam
Terdapat tekanan untuk konformitas
Proses diskusi terbuka
Adanya pemimpin yang demokratis
Adanya evaluasi alternatif secara kritis
Pemimpin bersikap netral Kelompok sangat kohesif dan homogen Proses diskusi terbuka Terdapat mekanisme evaluasi
Pemimpin bersikap netral
Kelompok sangat kohesif dan homogen
Proses diskusi terbuka
Terdapat mekanisme evaluasi
Jawaban: C
Perbedaan utama antara komunikasi vertikal dan horizontal dalam organisasi adalah:
Media yang digunakan
Tingkat formalitas pesan
Arah aliran informasi
Kecepatan komunikasi
Tujuan komunikasi
Komunikasi ke bawah (downward communication) paling efektif digunakan untuk:
Menyampaikan keluhan bawahan
Koordinasi antarnunit setara
Penyampaian kebijakan dan instruksi kerja
Penyelesaian konflik horizontal
Negosiasi informal
Hambatan komunikasi dalam organisasi sering disebabkan oleh:
Penggunaan teknologi komunikasi
Perbedaan persepsi dan kerangka acuan
Standar operasional yang jelas
Struktur organisasi datar
Komunikasi informal
Peran komunikasi informal (grapevine) dalam organisasi adalah:
Menggantikan komunikasi formal
Menyebarkan informasi resmi
Mempercepat penyebaran informasi nonformal
Kelompok kerja yang efektif umumnya ditandai oleh:
Kepemimpinan otoriter
Minimnya konflik
Tujuan jelas dan peran anggota terdefinisi
Komunikasi satu arah
Struktur hierarki ketat
Dalam organisasi modern berbasis tim, komunikasi yang paling dibutuhkan adalah:
Satu arah
Tertutup
Dua arah dan partisipatif
Formal dan kaku
Terpusat pada atasan
Konflik dalam kelompok kerja dapat berdampak positif apabila:
Bersifat personal
Tidak dikelola manajemen
Berfokus pada tugas dan ide
Mengabaikan perbedaan pendapat
Menghambat komunikasi
Dalam konteks lintas budaya, komunikasi organisasi menjadi kompleks karena:
Bahasa formal digunakan
Perbedaan nilai, norma, dan simbol
Struktur organisasi sama
Tujuan organisasi jelas
Teknologi komunikasi canggih
Hasil riset perilaku organisasi menunjukkan bahwa organisasi dengan kelompok kerja efektif dan komunikasi terbuka cenderung:
Mengalami konflik tinggi
Mengandalkan kontrol ketat
Memiliki kinerja dan kepuasan kerja lebih tinggi
Mengurangi partisipasi karyawan
Menyeragamkan perilaku individu
Fokus utama manajemen operasi dalam organisasi adalah:
Pengelolaan sumber daya manusia
Pengendalian keuangan perusahaan
Transformasi input menjadi output bernilai tambah
Penyusunan strategi pemasaran
Pengambilan keputusan strategis jangka panjang
Perbedaan mendasar antara manajemen operasi dan manajemen produksi terletak pada:
Jenis teknologi yang digunakan
Fokus pada barang dan jasa
Skala organisasi
Orientasi jangka pendek
Tingkat otomatisasi
Produktivitas didefinisikan sebagai:
Jumlah output yang dihasilkan
Perbandingan antara input dan output
Total biaya produksi
Efisiensi tenaga kerja
Kecepatan proses kerja
Peningkatan produktivitas tidak selalu diikuti peningkatan kualitas apabila:
Teknologi diperbarui
Proses distandarisasi
Fokus hanya pada kuantitas output
Karyawan dilatih
Pengendalian mutu diterapkan
Dalam sistem operasi, layout proses paling tepat digunakan pada:
Produksi massal
Produk standar
Volume tinggi, variasi rendah
Volume rendah, variasi tinggi
Produksi berulang
Konsep Just in Time (JIT) bertujuan utama untuk:
Meningkatkan persediaan
Mengurangi pemborosan dan persediaan
Mempercepat pengiriman bahan baku
Menekan upah tenaga kerja
Meningkatkan fleksibilitas jadwal
Dalam manajemen operasi jasa, karakteristik utama yang membedakannya dari manufaktur adalah:
Tingkat otomasi
Intensitas tenaga kerja
Ketidakberwujudan (intangibility) dan interaksi pelanggan
Standarisasi proses
Lokasi fasilitas
Hasil penelitian manajemen menunjukkan bahwa usaha kecil dan organisasi nirlaba yang dikelola secara profesional cenderung:
Sulit berkembang
Rentan konflik
Memiliki keberlanjutan dan kinerja lebih baik
Kehilangan fleksibilitas
Menurut literatur kewirausahaan, usaha kecil yang adaptif biasanya ditandai oleh:
Struktur kaku
Minim inovasi
Pembelajaran berkelanjutan dan orientasi peluang
Fokus pada stabilitas internal
Penerapan fungsi manajemen pada usaha kecil seringkali:
Tidak diperlukan
Sama persis dengan perusahaan besar
Bersifat informal namun tetap esensial
Digantikan oleh intuisi pasar
Dalam manajemen organisasi nirlaba, konflik tujuan sering muncul karena:
Orientasi laba yang kuat
Banyaknya pemangku kepentingan dengan kepentingan berbeda
Struktur organisasi sederhana
Lingkungan stabil
Keberhasilan jangka panjang usaha kecil sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemilik dalam:
Mengandalkan intuisi semata
Menghindari risiko
Mengelola perubahan dan inovasi
Menekan biaya tenaga
Kepemimpinan dalam usaha kecil umumnya bersifat:
Birokratis
Transaksional murni
Personal dan langsung
Formal dan hierarkis
Dalam konteks manajemen organisasi, akuntabilitas publik sangat penting terutama bagi:
Organisasi nirlaba
Perusahaan multinasional
Usaha kecil keluarga
Startup teknologi
Hasil penelitian manajemen operasi menunjukkan bahwa organisasi dengan sistem operasi unggul cenderung:
Menunjukkan kinerja, kualitas, dan kepuasan pelanggan lebih baik
Berorientasi jangka pendek
Memiliki biaya tinggi
Menghindari inovasi
Peran utama manajemen informasi dalam organisasi modern adalah:
Mengelola perangkat keras teknologi
Mendukung pengambilan keputusan manajerial
Menyediakan data sebanyak mungkin
Mengendalikan perilaku karyawan
Organisasi yang mampu mengintegrasikan manajemen informasi dan manajemen internasional secara efektif cenderung:
Mengalami konflik budaya tinggi
Lambat merespons pasar
Memiliki kinerja global yang lebih unggul
Bergantung pada satu pasar
Menurut penelitian kontemporer, keunggulan kompetitif global semakin bergantung pada:
Sumber daya alam
Skala produksi
Upah tenaga kerja murah
Informasi, pengetahuan, dan teknologi
Dalam konsep Total Quality Management (TQM), kualitas didefinisikan sebagai:
Kesesuaian dengan standar internal
Keunggulan produk dibanding pesaing
Minimnya cacat produk
Pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan
Kegagalan peningkatan produktivitas sering disebabkan oleh:
Investasi teknologi berlebihan
Keterlibatan karyawan rendah
Standar kerja jelas
Proses terintegrasi
Dalam hierarki sistem informasi, Decision Support System (DSS) terutama digunakan untuk:
Pencatatan transaksi rutin
Pengendalian operasional harian
Pengambilan keputusan semi-terstruktur
Penyusunan strategi jangka panjang
Kegagalan implementasi sistem informasi dalam organisasi paling sering disebabkan oleh:
Keterbatasan perangkat lunak
Biaya investasi tinggi
Kecepatan jaringan rendah
Resistensi pengguna dan kurangnya dukungan manajemen
Dalam konteks globalisasi, tantangan utama manajemen internasional adalah:
Perbedaan teknologi
Variasi budaya, hukum, dan ekonomi antarnegara
Ukuran pasar domestik
Standarisasi produk
Menurut teori manajemen internasional, perusahaan multinasional harus menyeimbangkan antara:
Sentralisasi dan efisiensi biaya
Global integration dan local responsiveness
Inovasi dan stabilitas
Kontrol dan fleksibilitas teknologi
Strategi internasional yang menekankan standarisasi produk global untuk efisiensi biaya dikenal sebagai:
Multidomestic strategy
Transnational strategy
International strategy
Global strategy
Dalam manajemen usaha kecil, peran pemilik usaha paling dominan sebagai:
Investor pasif
Pengambil keputusan utama sekaligus pelaksana
Pengawas eksternal
Konsultan bisnis
