WorksheetsPERENCANAAN
Total questions: 91
Worksheet time: 51mins
Dalam sistem transportasi perkotaan, konsep “derived demand” paling tepat menggambarkan bahwa:
Permintaan perjalanan timbul karena adanya pembangunan jaringan jalan
Permintaan perjalanan merupakan tujuan akhir, bukan akibat aktivitas lain
Permintaan perjalanan merupakan turunan dari kebutuhan aktivitas sosial-ekonomi
Permintaan perjalanan hanya dipengaruhi oleh biaya perjalanan
Dalam perencanaan transportasi, “accessibility” lebih tepat diukur sebagai:
Jumlah kendaraan yang melewati ruas per satuan waktu
Kemampuan pengguna mencapai peluang aktivitas dengan biaya/waktu tertentu
Panjang jaringan jalan per luas wilayah
Kecepatan rata-rata lalu lintas di jam puncak
Salah satu ciri transportasi sebagai sistem dinamis adalah:
Kondisi jaringan selalu stabil sepanjang waktu
Permintaan perjalanan konstan setiap hari
Interaksi antara supply-demand berubah sesuai kebijakan/pertumbuhan wilayah
Kapasitas jalan meningkat otomatis seiring pertumbuhan penduduk
Jika permintaan meningkat namun kapasitas jaringan tetap, maka menurut teori fundamental lalu lintas, kondisi berikut paling mungkin terjadi:
Kecepatan meningkat karena densitas naik
Arus meningkat terus tanpa batas
Arus mencapai puncak lalu turun akibat densitas mendekati kemacetan
Densitas menurun karena volume naik
Masalah transportasi perkotaan yang termasuk externalities negatif adalah:
Fenomena induced demand paling tepat dijelaskan oleh:
Penurunan permintaan ketika biaya perjalanan naik
Peningkatan penggunaan jalan setelah kapasitas diperbesar
Penurunan volume karena pelebaran jalan
Permintaan tidak dipengaruhi perubahan jaringan
Salah satu kelemahan utama kebijakan pelebaran jalan sebagai solusi kemacetan adalah:
Menurunkan jumlah perjalanan
Meningkatkan penggunaan kendaraan pribadi dalam jangka menengah
Mengurangi aksesibilitas wilayah pinggir kota
Menurunkan kebutuhan parkir
Perencanaan transportasi tidak dapat dilepaskan dari tata guna lahan karena:
Transportasi hanya memengaruhi harga tanah
Transportasi hanya akibat pertumbuhan ekonomi
Transportasi dan tata guna lahan saling memengaruhi secara dua arah
Tata guna lahan tidak dapat diprediksi
Jika suatu kota mengalami urban sprawl, masalah transportasi yang paling mungkin meningkat adalah:
Penurunan jarak perjalanan rata-rata
Penurunan ketergantungan kendaraan pribadi
Peningkatan panjang perjalanan dan emisi
Peningkatan efisiensi angkutan umum
Konsep “sustainable transport” menuntut keseimbangan antara:
Kecepatan – kapasitas – volume
Ekonomi – lingkungan – sosial
Kebutuhan parkir – luas jalan – tarif tol
Kepadatan – volume – kecepatan
Dalam konteks permasalahan transportasi, equity lebih tepat dimaknai sebagai:
Pemerataan kendaraan pribadi untuk semua warga
Pemerataan akses layanan transportasi lintas kelompok sosial
Peningkatan kapasitas jalan di wilayah elit
Pemberian subsidi hanya untuk kendaraan listrik
Salah satu indikator bahwa sistem transportasi mengalami inefisiensi ekonomi adalah:
Meningkatnya aksesibilitas pusat kota
Menurunnya waktu tempuh rata-rata
Tingginya biaya kemacetan dalam nilai waktu dan konsumsi BBM
Tingginya volume pejalan kaki di pusat kota
Kebijakan yang paling tepat untuk mengatasi kemacetan dari sisi demand management adalah:
Membangun flyover baru
Pelebaran jalan arteri
Penerapan congestion pricing dan pengendalian parkir
Menambah simpang bersinyal
Salah satu karakteristik utama transportasi yang membedakannya dari sektor lain adalah:
Transportasi dapat disimpan seperti barang
Produk transportasi adalah perpindahan dan tidak dapat disimpan
Permintaan transportasi selalu tetap sepanjang hari
Transportasi tidak dipengaruhi teknologi
Jika perencanaan transportasi hanya fokus pada peningkatan kapasitas tanpa memperhatikan tata guna lahan, konsekuensi paling mungkin adalah:
Munculnya trip suppression
Terjadi induced demand dan penyebaran kota semakin luas
Penurunan kebutuhan perjalanan
Aksesibilitas turun secara permanen
Dalam konteks perencanaan transportasi, permasalahan transportasi paling tepat didefinisikan sebagai:
Ketidakmampuan moda transportasi memenuhi standar teknis kendaraan
Ketidakseimbangan antara kebutuhan pergerakan dan kapasitas sistem yang tersedia, dipengaruhi faktor ruang-waktu
Ketidakcukupan pendanaan untuk proyek transportasi
Kurangnya minat masyarakat menggunakan transportasi publik
Tujuan utama perencanaan transportasi pada skala makro adalah:
Menentukan desain geometrik jalan paling efisien
Mengoptimalkan operasi simpang bersinyal
Mengalokasikan sumber daya dan investasi transportasi untuk mencapai aksesibilitas dan efisiensi sistem secara berkelanjutan
Menentukan tarif angkutan umum
Konsep aksesibilitas paling relevan sebagai tujuan transportasi karena:
Mengurangi kecepatan tempuh rata-rata
Mengukur jumlah kendaraan yang dapat melewati ruas jalan
Mengukur kemudahan mencapai peluang (pekerjaan, pendidikan, layanan) dalam batasan biaya/waktu tertentu
Menghilangkan kemacetan sepenuhnya
Dalam perencanaan transportasi, target “mengurangi kemacetan” lebih tepat dikategorikan sebagai:
Tujuan (goal) normatif
Sasaran (objective) terukur yang diturunkan dari tujuan
Visi non-teknis
Kebijakan taktis jangka pendek tanpa indikator
Pernyataan yang paling tepat menggambarkan trade-off antara tujuan efisiensi dan pemerataan (equity):
Efisiensi selalu meningkatkan equity
Equity mengharuskan biaya transportasi meningkat untuk semua kelompok
Peningkatan efisiensi total dapat menguntungkan sebagian kelompok dan merugikan kelompok lain secara spasial atau sosial
Equity tidak relevan dalam perencanaan transportasi
Jika pemerintah menetapkan sasaran “menurunkan emisi CO₂ sektor transportasi 25% dalam 10 tahun”, indikator yang paling tepat adalah:
Jumlah penumpang per bus
Ton CO₂ per kapita per tahun dari sektor transportasi
Kecepatan rata-rata kendaraan pada jam puncak
Rasio kendaraan pribadi terhadap kendaraan umum
Permasalahan transportasi yang paling bersifat sistemik (bukan sekadar operasional) adalah:
Lampu lalu lintas rusak pada simpang utama
Kapasitas jalan menurun karena lubang
Urban sprawl yang meningkatkan jarak perjalanan dan ketergantungan kendaraan pribadi
Banyak kendaraan parkir liar pada jam sibuk
Salah satu alasan mengapa “meningkatkan kapasitas jalan” sering gagal menyelesaikan kemacetan jangka panjang adalah karena:
Mobil akan menjadi lebih lambat seiring waktu
Terjadi induced demand (permintaan terinduksi) yang menambah volume lalu lintas setelah kapasitas ditambah
Jalan tidak bisa diperlebar secara teknis
Transportasi publik otomatis menurun kapasitasnya
Tujuan transportasi yang paling konsisten dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) adalah:
Memaksimalkan volume kendaraan pribadi
Meminimalkan biaya konstruksi tanpa memperhatikan dampak lingkungan
Memaksimalkan aksesibilitas dengan meminimalkan externalities (emisi, noise, kecelakaan) dan konsumsi energi
Memaksimalkan kecepatan kendaraan pada semua ruas
Masalah transportasi yang termasuk external cost (biaya eksternal) adalah:
Biaya ban kendaraan
Tarif parkir
Biaya kemacetan yang ditanggung pengguna jalan lain akibat satu kendaraan tambahan
Harga bahan bakar yang dibayar pengemudi
Jika sebuah kota berfokus pada sasaran “mengurangi waktu tempuh rata-rata,” risiko kebijakan yang mungkin timbul adalah:
Infrastruktur menjadi lebih murah
Peningkatan aksesibilitas untuk kelompok rentan otomatis terjadi
Muncul kebijakan yang mempercepat kendaraan pribadi namun menurunkan walkability dan equity
Mengurangi kebutuhan perjalanan
Konsep “mobility” berbeda dengan “accessibility” karena:
Mobility mengukur jarak, accessibility mengukur waktu
Mobility menekankan kemudahan bergerak (kecepatan/kelancaran), accessibility menekankan kemudahan mencapai aktivitas
Dalam pendekatan perencanaan berbasis tujuan, urutan logis yang benar adalah:
Program → Sasaran → Tujuan → Indikator
Indikator → Tujuan → Sasaran → Program
Tujuan → Sasaran → Indikator → Program/kebijakan
Sasaran → Tujuan → Program → Indikator
Kota ingin menetapkan sasaran “meningkatkan keselamatan jalan.” Indikator yang paling kuat secara analitis adalah:
Jumlah kecelakaan total per tahun
Jumlah korban fatal per 100 juta kendaraan-km (atau per 100 juta perjalanan)
Jumlah polisi lalu lintas
Banyaknya rambu jalan
Dalam perencanaan transportasi, pernyataan yang paling tepat tentang konflik tujuan adalah:
Semua tujuan dapat dicapai bersamaan tanpa kompromi
Konflik tujuan harus dihindari dengan memilih satu tujuan saja
Konflik tujuan dapat dikelola melalui analisis multi-kriteria dan penetapan bobot prioritas sesuai kebijakan
Konflik tujuan tidak dapat dianalisis secara kuantitatif
Dalam kebijakan transportasi, penerapan congestion pricing di pusat kota paling kuat didukung oleh konsep:
Induced demand
Internalisasi biaya eksternal
Economies of scale
Peak spreading effect
Jika pemerintah menetapkan tarif parkir tinggi di CBD, tetapi kapasitas jalan tetap ditambah, dampak paling mungkin adalah:
Penurunan perjalanan total permanen
Efek kebijakan melemah karena induced demand
Elastisitas perjalanan menjadi nol
Modal share transit meningkat tanpa intervensi tambahan
Salah satu kelemahan utama kebijakan berbasis fuel subsidy terhadap tujuan transportasi berkelanjutan adalah:
Menurunkan produktivitas tenaga kerja
Mengurangi aksesibilitas kelompok rentan
Mendorong penggunaan kendaraan pribadi dan menambah emisi
Mempercepat peralihan ke EV
Jika tujuan kebijakan adalah menurunkan emisi namun tetap menjaga akses masyarakat miskin, strategi paling sesuai:
Peningkatan tarif BBM tanpa kompensasi
Pembatasan kendaraan total tanpa alternatif
Road pricing + subsidi tarif angkutan umum berbasis target
Pembangunan flyover masif
Dalam policy evaluation, metode yang lebih tepat untuk menilai kebijakan dengan banyak tujuan (emisi, equity, waktu tempuh, keselamatan) adalah:
Cost-Benefit Analysis (CBA) saja
Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA)
IRR
Kebijakan yang paling efektif untuk mengatasi “tragedy of the commons” pada jalan perkotaan adalah:
Peningkatan kapasitas jalan
Subsidi BBM
Pricing atau regulasi penggunaan jalan
Kampanye keselamatan jalan
Jika sebuah kota memperluas jalan dari 4 lajur menjadi 6 lajur, tetapi volume lalu lintas kembali penuh dalam 1–2 tahun, ini menjelaskan fenomena:
Latent supply
Induced demand
Mode shift
Peak pricing effect
Konsep accessibility-based planning menilai keberhasilan transportasi terutama berdasarkan:
Kecepatan kendaraan
LoS kendaraan
Kemudahan mencapai peluang (pekerjaan, pendidikan, layanan)
Kapasitas simpang
Kebijakan integrasi transportasi dan tata ruang yang paling kuat mencegah urban sprawl adalah:
Pembangunan jalan tol pinggiran
Transit-Oriented Development (TOD)
Relokasi terminal barang ke pinggir
Peningkatan parkir di CBD
Dalam kebijakan tarif angkutan umum, skema yang paling berpotensi meningkatkan keterjangkauan bagi rumah tangga berpendapatan rendah adalah:
Flat fare tinggi
Tarif bersubsidi berbasis kategori (means-tested)
Kebijakan Low Emission Zone (LEZ) paling tepat dikategorikan sebagai:
Kebijakan investasi infrastruktur
Regulasi berbasis standar/larangan
Kebijakan informasi
Kebijakan insentif fiskal
Jika tujuan kebijakan adalah mengurangi kemacetan tetapi tetap menjaga penerimaan politik (acceptability), strategi yang paling realistis biasanya:
Congestion pricing tanpa kompensasi
Larangan mobil total mendadak
Congestion pricing + transparansi penggunaan pendapatan untuk transit
Penambahan jalan layang
Dalam kerangka economic appraisal, externalitas negatif utama dari kendaraan pribadi yang sering tidak tercermin dalam biaya pengguna adalah:
Harga kendaraan
Biaya tol
Biaya polusi, noise, dan kecelakaan pihak ketiga
Pajak kendaraan tahunan
Kebijakan yang paling konsisten dengan prinsip “polluter pays” adalah:
Subsidi parkir
Carbon tax atau emission-based vehicle tax
Diskon BBM
Gratis tol untuk semua kendaraan
Dampak paling mungkin dari penerapan kebijakan minimum parking requirement pada pembangunan baru adalah:
Meningkatkan jumlah lahan parkir yang dibangun
Mengurangi kemacetan secara signifikan
Menurunkan harga properti
Meningkatkan penggunaan transportasi umum
A. Harga tanah turun C. Transit ridership meningkat otomatis D. Mengurangi urban sprawl
Harga tanah turun
Mendorong penggunaan mobil dan mengurangi densitas efektif
Transit ridership meningkat otomatis
Mengurangi urban sprawl
Kebijakan Vehicle Quota System (misalnya sertifikat kepemilikan kendaraan terbatas) paling kuat mempengaruhi:
Kecepatan arus bebas
Volume puncak jangka pendek saja
Permintaan kepemilikan kendaraan (long-run demand)
Kapasitas simpang
Dalam kebijakan transportasi berkelanjutan, trade-off paling klasik adalah antara:
Ekonomi vs geometri jalan
Efisiensi ekonomi vs pemerataan (equity)
Emisi vs keselamatan
Transit vs pedestrian
Salah satu risiko besar dari kebijakan berbasis massive road expansion sebagai solusi kemacetan adalah:
Mengurangi mobilitas
Mengunci ketergantungan kendaraan (lock-in effect)
Meningkatkan densitas transit
Menurunkan emisi secara langsung
Jika elasticitas permintaan perjalanan terhadap biaya perjalanan adalah -0,3, maka kenaikan biaya 10% akan menyebabkan:
Turun 30%
Naik 3%
Turun 3%
Tidak berubah
Dalam kebijakan fare integration antar moda (bus-rail), manfaat kebijakan yang paling kuat adalah:
Menambah kapasitas jalan
Mengurangi generalized cost dan meningkatkan seamless travel
Mengurangi kebutuhan subsidi
Mengurangi panjang perjalanan rata-rata
Jika pemerintah ingin meningkatkan penggunaan transit tanpa memperbesar subsidi operasional, kebijakan yang paling konsisten adalah:
Menurunkan tarif tanpa strategi lain
Meningkatkan kecepatan dan reliabilitas (bus lane, signal priority)
Menaikkan tarif parkir di pinggir kota
Menambah flyover
Kebijakan yang termasuk Travel Demand Management (TDM) adalah:
Pembangunan tol baru
Penambahan lajur
Flexible work hours + telecommuting
Pelebaran simpang
Jika terjadi konflik antara kebijakan pusat dan daerah (misalnya standar emisi vs kebijakan parkir), prinsip governance yang paling relevan adalah:
Fiscal decentralization
Vertical policy integration
Market deregulation
Monopoly pricing
Dalam analisis kebijakan, indikator paling tepat untuk menilai kebijakan pro-equity adalah:
Kecepatan rata-rata kendaraan pribadi
LoS jalan raya
Distribusi perubahan aksesibilitas antar kelompok pendapatan
Jumlah flyover baru
Jika tujuan kebijakan adalah mengurangi VKT (Vehicle Kilometers Traveled) secara sistemik, kebijakan paling efektif dalam jangka panjang adalah:
Pelebaran jalan
Subsidi BBM
Integrasi tata ruang kompak + transit berkualitas + pricing
Penambahan parkir
Dalam sebuah kota besar, kebijakan pembatasan kendaraan berdasarkan ganjil-genap diterapkan untuk menurunkan kemacetan. Dalam kerangka perencanaan transportasi, strategi ini termasuk kategori:
Supply management
Demand management
Infrastructure expansion
Land-use intensification
Salah satu kelemahan utama pelebaran jalan sebagai solusi kemacetan (dibanding manajemen permintaan) adalah:
Tidak meningkatkan kapasitas
Memicu induced demand sehingga manfaat kapasitas cepat hilang
Tidak dapat diterapkan di kota kecil
Mengurangi keselamatan pengguna jalan
Jika suatu kota mengutamakan kebijakan Transit Oriented Development (TOD), tujuan utamanya adalah:
Menurunkan kecepatan kendaraan pribadi
Mengalihkan perjalanan ke moda non-motorized dan transit melalui integrasi tata guna lahan
Meningkatkan jumlah kendaraan yang bisa lewat per jam
Menghapus kebutuhan transportasi publik
Kebijakan road pricing paling efektif apabila:
Permintaan perjalanan bersifat elastis terhadap harga
Permintaan perjalanan bersifat inelastis terhadap harga
Tidak ada transportasi umum yang memadai
Harga BBM diturunkan
Penerapan bus rapid transit (BRT) dibandingkan MRT paling sering dipilih karena:
A. BRT selalu lebih cepat daripada MRT
B. BRT membutuhkan biaya investasi lebih rendah dan waktu pembangunan lebih singkat
C. BRT dapat menghapus kebutuhan kendaraan pribadi sepenuhnya
D. BRT tidak memerlukan ruang jalan khusus
Dalam upaya mengatasi kemacetan, strategi yang berpotensi menciptakan dampak paling tidak berkelanjutan adalah:
Pembangunan jalan baru dalam jangka panjang
Pengembangan integrasi transit
Penerapan tarif parkir progresif
Peningkatan fasilitas pejalan kaki
Sebuah studi menunjukkan bahwa setelah implementasi peningkatan layanan angkutan umum, volume kendaraan turun hanya sedikit, tetapi travel time turun signifikan. Penjelasan paling logis:
A. Perjalanan berpindah rute (redistribusi lalu lintas)
B. Volume kendaraan meningkat
C. Tidak ada perubahan perilaku
D. Angkutan umum memperlambat kendaraan
Alternatif yang paling relevan untuk mengurangi kemacetan akibat parkir on-street di pusat kota adalah:
Memperlebar jalan
Menghapus parkir on-street dan menyediakan parkir terpusat dengan tarif tinggi
Membuat lebih banyak parkir di badan jalan
Menambah lampu lalu lintas
Konsep "Travel Demand Management (TDM)" mengutamakan:
Meningkatkan kapasitas jalan
Mengurangi atau mengatur permintaan perjalanan melalui kebijakan dan insentif
Membangun flyover di semua simpang
Mengubah kendaraan menjadi listrik
Dalam kerangka pemilihan solusi, strategi yang paling kuat untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi tanpa memperburuk aksesibilitas adalah kombinasi:
Pelebaran jalan + subsidi BBM
Road pricing + peningkatan angkutan umum
Pembangunan jalan tol + parkir murah
Peningkatan kapasitas jalan + penghapusan bus kota
Pada simpang padat, penerapan Adaptive Traffic Signal Control (ATSC) dapat dianggap sebagai:
A. Infrastruktur baru
B. Supply management berbasis teknologi
C. Demand management
D. Land-use policy
Jika suatu kota menerapkan kebijakan pembatasan parkir maksimum (parking maximum) pada gedung komersial, dampak paling diharapkan adalah:
Meningkatnya kepemilikan kendaraan
Menurunnya permintaan perjalanan dengan mobil pribadi menuju kawasan tersebut
Bertambahnya perjalanan mobil pribadi
Turunnya nilai lahan pusat kota
Strategi yang berfokus pada peningkatan aksesibilitas (bukan sekadar mobilitas) adalah:
Pembangunan jalan lingkar
Pengembangan mixed-use dan TOD
Flyover bertingkat
Jika kemacetan dominan terjadi karena bottleneck simpang, solusi yang paling rasional terlebih dahulu adalah:
Membuat jalan baru jauh dari simpang
Perbaikan manajemen simpang (signal optimization, channelization)
Membangun kawasan baru
Membatasi usia kendaraan
Solusi berbasis non-motorized transport (NMT) paling efektif jika:
Jarak perjalanan rata-rata < 3 km dan jaringan aman tersedia
Kota memiliki topografi ekstrem dan jarak perjalanan sangat jauh
Tidak ada permintaan perjalanan
Jalan tol diperbanyak
Penerapan carpool/HOV lane bertujuan utama untuk:
Menambah kapasitas kendaraan
Menurunkan jumlah kendaraan dengan meningkatkan okupansi rata-rata
Mengurangi kecepatan kendaraan
Membuat jalan lebih sempit
Jika suatu kebijakan berhasil menurunkan kemacetan tetapi meningkatkan ketidakadilan sosial (hanya menguntungkan kelompok tertentu), itu menunjukkan trade-off pada aspek:
Efisiensi teknis
Equity
Kecepatan desain
Koefisien variasi lalu lintas
Dalam konteks jaringan transportasi perkotaan, strategi terbaik untuk menurunkan Vehicle Kilometers Traveled (VKT) adalah:
Penerapan contra-flow bus lane merupakan alternatif yang tepat terutama pada kondisi:
Jalan sepi dan volume kecil
Koridor dengan permintaan tinggi dan keterbatasan ruang jalan
Kota tanpa angkutan umum
Jalan tol luar kota
Konsep yang paling tepat untuk menjelaskan mengapa membangun jalan baru sering gagal mengurangi kemacetan jangka panjang adalah:
Bottleneck theory
Induced demand
Random utility model
Gravity model
Penerapan electronic road pricing paling efektif dalam menurunkan kemacetan bila disertai:
Subsidi parkir
Kebijakan integrasi transportasi umum dan fasilitas last-mile
Pelebaran jalan tanpa batas
Menghapus jalur bus
Jika suatu kota ingin mengurangi kemacetan akibat perjalanan komuter dari pinggiran, strategi paling sistemik adalah:
Pembangunan flyover di pusat kota
Pengembangan pusat aktivitas baru di pinggiran + transit regional
Meningkatkan parkir pusat kota
Memperpanjang jam kerja pusat kota
Kebijakan yang paling berisiko memindahkan kemacetan dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa mengurangi totalnya adalah:
Signal coordination koridor
Penerapan sistem satu arah tanpa evaluasi jaringan
Penguatan transit feeder
Pembatasan parkir di CBD
Dalam analisis alternatif, solusi yang sering memberi benefit-cost ratio tinggi pada kondisi keterbatasan dana adalah:
MRT baru
Manajemen lalu lintas + peningkatan operasional angkutan umum
Jalan tol elevasi
Terowongan bawah tanah
Jika tujuan utama adalah menurunkan emisi dan kemacetan sekaligus, solusi yang paling konsisten adalah:
Pelebaran jalan dan parkir murah
Kombinasi TDM + transit + NMT + integrasi tata guna lahan
Meningkatkan kepemilikan mobil listrik tanpa transit
Menambah jalan tol lingkar tanpa regulasi kendaraan
Dalam konteks perencanaan transportasi, intervensi manusia yang paling tepat dikategorikan sebagai demand management adalah...
Pembangunan jalan tol baru untuk memperbesar kapasitas
Penerapan tarif parkir progresif di pusat kota
Pelebaran simpang bersinyal untuk mengurangi antrean
Penambahan flyover untuk mengurangi konflik lalu lintas
Kebijakan yang paling berpotensi menghasilkan induced demand (permintaan terbangkitan) adalah...
Pembatasan kendaraan berdasarkan pelat ganjil-genap
Peningkatan layanan bus rapid transit (BRT)
Peningkatan kapasitas jalan perkotaan secara signifikan
Penerapan congestion pricing di kawasan CBD
Dalam model 4 tahap (trip generation-distribution-mode choice-assignment), intervensi manusia berupa perubahan pola kerja WFH paling dominan mempengaruhi tahap...
Trip assignment
Trip generation
Mode choice
Trip distribution
Salah satu masalah utama jika perencana transportasi terlalu mengandalkan kecepatan rata-rata kendaraan sebagai indikator keberhasilan kebijakan adalah...
Tidak relevan untuk proyek skala kota
Selalu menyebabkan biaya operasional tinggi
Bisa mengabaikan aksesibilitas dan equity (keadilan)
Tidak dapat digunakan pada jalan arteri
Konsep transport justice paling kuat terkait dengan...
Menekan biaya pembangunan jalan
Memaksimalkan volume lalu lintas yang dapat dilayani
Menjamin akses mobilitas kelompok rentan
Meningkatkan level of service kendaraan pribadi
Intervensi berupa Transit Oriented Development (TOD) secara teori paling efektif untuk...
Menurunkan kecepatan berjalan kaki pejalan kaki
Mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi melalui integrasi lahan-transport
Dalam analisis dampak sosial, pembangunan jalan baru yang memotong kawasan permukiman dapat menyebabkan...
Konsolidasi sosial meningkat
Segregasi spasial dan disrupsi jaringan sosial
Penurunan harga tanah secara universal
Peningkatan akses pejalan kaki otomatis
Kebijakan yang paling tepat dikategorikan sebagai intervensi harga (pricing intervention) adalah...
Penambahan jalur sepeda
Pembatasan usia kendaraan
Congestion charging berbasis waktu dan lokasi
Pengembangan terminal terpadu
Dalam konteks analisis biaya-manfaat, proyek yang terlihat “menguntungkan” secara ekonomi dapat ditolak secara sosial jika...
NPV positif tetapi mengurangi kualitas layanan logistik
BCR tinggi namun menimbulkan displacement komunitas lokal
IRR rendah dan memerlukan pembiayaan pemerintah
Payback period terlalu pendek
Fenomena ketika perbaikan jaringan jalan di satu koridor menyebabkan kemacetan berpindah ke koridor lain disebut...
Braess Paradox
Modal shift
Trip chaining
Traffic calming
