wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Page 1

Total questions: 69

Worksheet time: 52mins

Name
Class
Date
1.

Seorang balita dengan status gizi buruk, imunisasi tidak lengkap, dan tinggal di rumah dengan ventilasi <10% luas lantai mengalami ISPA berulang. Berdasarkan teks, faktor yang paling berperan sebagai pemicu awal terjadinya ISPA pada kondisi tersebut adalah:

a)

Paparan asap rokok yang merusak silia saluran pernapasan

b)

Penurunan kekebalan tubuh akibat status nutrisi yang buruk

c)

Kepadatan penghuni rumah yang menghambat pertukaran udara

d)

Kurangnya sinar matahari yang menurunkan suhu ruangan

e)

Paparan droplet dari individu yang terinfeksi

2.

ISPA melibatkan invasi langsung mikroba ke mukosa saluran pernapasan. Mekanisme lingkungan rumah yang paling logis mempercepat proses invasi ini adalah:

a)

Ventilasi rendah yang meningkatkan konsentrasi karbon dioksida

b)

Kelembapan tinggi yang mendukung viabilitas mikroorganisme

c)

Kepadatan penghuni yang meningkatkan produksi sekret

d)

Pencahayaan rendah yang menurunkan suhu udara

e)

Pertukaran udara yang tidak seimbang antar-ruangan

3.

Dalam konteks pemberantasan ISPA, hubungan imunisasi campak dengan penurunan kejadian pneumonia paling tepat dijelaskan melalui konsep:

a)

Kekebalan pasif alami yang diperoleh sejak lahir

b)

Eliminasi langsung virus pneumonia oleh antibodi campak

c)

Pencegahan komplikasi infeksi saluran pernapasan bawah

d)

Imunisasi silang yang menurunkan kolonisasi bakteri

e)

Penurunan inflamasi mukosa akibat antigen serupa

4.

Upaya promosi kesehatan ISPA melalui KIE dinilai efektif bila mampu memutus rantai transmisi. Intervensi KIE yang paling tepat untuk tujuan tersebut adalah:

a)

Edukasi peningkatan asupan nutrisi balita

b)

Kampanye ASI eksklusif selama 66 bulan

c)

Penyuluhan bahaya merokok di dalam rumah

d)

Informasi imunisasi dasar lengkap sesuai usia

e)

Edukasi etika batuk dan bersin pada keluarga

5.

Pernyataan bahwa pencahayaan rumah yang baik dapat membunuh bakteri penyebab ISPA menunjukkan hubungan antara faktor lingkungan dan:

a)

Penghambatan transmisi droplet

b)

Penurunan virulensi mikroorganisme

c)

Eliminasi mikroorganisme melalui radiasi alami

d)

Optimalisasi pertukaran udara pasif

e)

Penurunan produksi lendir saluran napas

6.

Ventilasi rumah minimal 10% dari luas lantai berkontribusi terhadap pencegahan ISPA terutama melalui mekanisme:

a)

Peningkatan suhu udara di dalam rumah

b)

Optimalisasi perfusi gas dalam sistem pernapasan

c)

Pengurangan kelembapan melalui evaporasi

d)

Penurunan konsentrasi droplet infeksius

e)

Eliminasi langsung patogen dari mukosa

7.

Pada keluarga yang membakar sampah di sekitar rumah, risiko ISPA meningkat terutama karena:

a)

Gas karbon monoksida yang menurunkan kadar oksigen darah

b)

Partikel debu yang mengiritasi dan membawa patogen

c)

Asap yang menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan

d)

Bau menyengat yang memicu refleks batuk kronik

e)

Paparan zat kimia yang menekan sistem imun

8.

Perilaku mencuci tangan dengan sabun dalam pencegahan ISPA berperan utama pada tahap:

a)

Eliminasi agen infeksius di lingkungan

b)

Pencegahan kolonisasi mikroorganisme

c)

Pemutusan transmisi tidak langsung patogen

d)

Penguatan respon imun adaptif

e)

Penurunan virulensi mikroorganisme

9.

Pernyataan bahwa ISPA sering berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi menunjukkan bahwa strategi pemberantasan ISPA paling efektif dilakukan pada tingkat:

a)

Kuratif individual

b)

Rehabilitatif komunitas

c)

Preventif primer populasi

d)

Preventif sekunder fasilitas kesehatan

e)

Promotif keluarga berisiko

10.

Peran Puskesmas sebagai teladan dalam menjaga lingkungan dan SOP bertujuan utama untuk:

a)

Mengurangi angka kesakitan tenaga kesehatan

b)

Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan

c)

Mencegah Puskesmas menjadi sumber penularan ISPA

d)

Menjamin efisiensi pelayanan kesehatan primer

e)

Meningkatkan cakupan program imunisasi

11.

Berdasarkan sejarah epidemiologi HIV/AIDS, perpanjangan masa inkubasi AIDS hingga >15>15 tahun pada era modern terutama disebabkan oleh:

a)

Penurunan virulensi virus HIV

b)

Adaptasi sistem imun manusia terhadap HIV

c)

Efektivitas terapi antiretroviral dalam menekan replikasi virus

d)

Perubahan pola transmisi HIV di masyarakat

e)

Peningkatan deteksi dini antibodi HIV

12.

Dominannya kasus HIV pada ibu rumah tangga di Indonesia menunjukkan bahwa strategi pencegahan HIV yang paling gagal diterapkan secara sistemik adalah

a)

Pencegahan primer berbasis perilaku individu berisiko

b)

Pencegahan sekunder melalui skrining populasi umum

c)

Pencegahan tersier melalui pengobatan ARV jangka panjang

d)

Pencegahan berbasis keluarga dan relasi pasangan

e)

Pencegahan melalui promosi kesehatan massal

13.

Dalam konsep epidemiological triangle, lingkungan berisiko pada HIV/AIDS seperti lokalisasi dan kampung narkoba berperan terutama sebagai

a)

Reservoir biologis virus HIV

b)

Agen pemicu mutasi virus

c)

Faktor yang meningkatkan kerentanan host

d)

Media langsung transmisi droplet

e)

Pengganti peran host dalam penularan

14.

Berdasarkan rantai transmisi HIV/AIDS, intervensi yang paling efektif memutus mata rantai pada lebih dari satu komponen sekaligus adalah

a)

Edukasi penggunaan kondom

b)

Pengobatan ARV yang patuh dan berkelanjutan

c)

Screening HIV sukarela

d)

Isolasi sosial penderita HIV

e)

Edukasi bahaya HIV melalui media massa

15.

Pernyataan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari memiliki implikasi langsung terhadap kebijakan kesehatan masyarakat berupa

a)

Penghapusan skrining HIV pada layanan primer

b)

Penguatan upaya destigmatisasi dan diskriminasi

c)

Pembatasan aktivitas sosial ODHI V

d)

Peningkatan isolasi penderita HIV/AIDS

e)

Pengetatan protokol sanitasi umum

16.

Upaya pencegahan primer HIV/AIDS yang disebutkan dalam teks memiliki kelemahan konseptual utama karena:

a)

Terlalu menitikberatkan pada intervensi medis

b)

Bergantung pada perubahan perilaku individu semata

c)

Tidak melibatkan peran keluarga

d)

Tidak didukung oleh strategi global WHO

e)

Sulit diterapkan pada populasi umum

17.

Fakta bahwa pengetahuan dan sikap penderita HIV tidak selalu berkorelasi dengan perilaku pencegahan menunjukkan bahwa intervensi yang paling dibutuhkan adalah:

a)

Edukasi kesehatan tambahan

b)

Pendekatan hukum dan sanksi sosial

c)

Intervensi psikososial dan perilaku

d)

Isolasi penderita HIV

e)

Peningkatan dosis ARV

18.

Penggunaan ARV long-acting (cabotegravir–rilpivirine) memiliki implikasi strategis utama dalam pencegahan HIV karena:

a)

Menggantikan seluruh terapi oral HIV

b)

Menurunkan biaya nasional pengobatan HIV

c)

Meningkatkan kepatuhan dan menurunkan risiko transmisi

d)

Menghilangkan kebutuhan monitoring viral load

e)

Mencegah resistensi virus secara absolut

19.

Strategi nasional 95-95-95 yang diturunkan menjadi target RAN Indonesia menunjukkan bahwa tantangan utama pencapaian target tersebut adalah

a)

Kurangnya inovasi terapi HIV

b)

Keterbatasan sumber daya tenaga kesehatan

c)

Stigma, geografis luas, dan koordinasi multisektor

d)

Tingginya mutasi virus HIV

e)

Rendahnya efektivitas ARV

20.

Peningkatan angka kematian akibat penyakit menular yang dikaitkan dengan kondisi lingkungan tidak sehat menunjukkan bahwa determinan utama masalah kesehatan tersebut berada pada level

a)

Faktor agen penyakit semata

b)

Faktor host secara biologis

c)

Interaksi agen–host tanpa peran lingkungan

d)

Determinan lingkungan dan sistem kesehatan

e)

Faktor genetik populasi

21.

Sifat agen penyakit seperti infeksivitas, patogenisitas, virulensi, dan imunogenisitas paling berpengaruh langsung terhadap

a)

Kecepatan penyembuhan penderita

b)

Pola distribusi penyakit di masyarakat

c)

Derajat keparahan dan potensi penularan penyakit

d)

Keberhasilan intervensi promosi kesehatan

e)

Ketepatan penegakan diagnosis klinis

22.

Konsep carrier pada penyakit menular memiliki implikasi epidemiologis penting karena:

a)

Carrier selalu menunjukkan gejala klinis

b)

Carrier hanya berperan pada penyakit vektor

c)

Carrier dapat menjadi sumber penularan tanpa disadari

d)

Carrier hanya ditemukan pada penyakit kronis

e)

Carrier tidak berpengaruh terhadap kejadian luar biasa

23.

Tuberkulosis digolongkan sebagai penyakit air borne terutama karena:

a)

Agen keluar melalui saliva dan feses

b)

Penularan terjadi melalui droplet nuclei saluran napas

c)

Reservoir utama adalah lingkungan terbuka

d)

Agen bertahan hidup di air dalam waktu lama

e)

Penularan membutuhkan vektor serangga

24.

Tahapan pemberantasan penyakit menular yang paling krusial untuk mencegah perluasan wabah adalah:

a)

Pengumpulan dan analisis data penyakit

b)

Pelaporan penyakit menular

c)

Penyelidikan epidemiologi lapangan

d)

Tindakan permulaan menahan laju penularan

e)

Pendidikan kesehatan masyarakat

25.

Tujuan utama pemberantasan tuberkulosis bukan semata-mata menyembuhkan penderita, melainkan:

a)

Menghilangkan seluruh reservoir lingkungan

b)

Menurunkan resistensi host

c)

Menghentikan rantai transmisi di masyarakat

d)

Meningkatkan cakupan rujukan rumah sakit

e)

Mengurangi kebutuhan vaksinasi BCG

26.

Perbedaan pendekatan diagnosis TB pada usia ≥15 tahun dan <15 tahun terutama disebabkan oleh:

a)

Perbedaan virulensi Mycobacterium tuberculosis

b)

Perbedaan sistem imun anak dan dewasa

c)

Perbedaan kemampuan menghasilkan dahak

d)

Perbedaan efektivitas obat anti tuberkulosis

e)

Perbedaan risiko TB ekstra paru

27.

Penerapan pengobatan TB dalam dua fase (intensif dan lanjutan) bertujuan utama untuk:

a)

Mempercepat eliminasi gejala klinis

b)

Mencegah terjadinya resistensi obat

c)

Menyesuaikan dosis dengan berat badan

d)

Mengurangi efek samping obat

e)

Mempermudah pemantauan pasien

28.

Vaksinasi BCG dalam konteks pemberantasan TB lebih tepat dipahami sebagai upaya:

a)

Eliminasi total Mycobacterium tuberculosis

b)

Pencegahan penularan langsung antar individu

c)

Pencegahan bentuk TB berat pada anak

d)

Pengganti pengobatan OAT

e)

Proteksi jangka panjang terhadap TB paru dewasa

29.

Program penyehatan lingkungan pemukiman dalam pemberantasan TB menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan masyarakat yang digunakan adalah:

a)

Kuratif–individual

b)

Preventif–medis semata

c)

Promotif–edukatif

d)

Holistik lintas sektor dan berkelanjutan

e)

Rehabilitatif berbasis fasilitas

30.

Implikasi utama pengklasifikasian pelayanan dasar kesehatan sebagai urusan pemerintahan konkuren menurut UU No. 23 Tahun 2014 adalah bahwa:

a)

Pemerintah pusat sepenuhnya mengendalikan kebijakan dan implementasi teknis

b)

Pemerintah daerah hanya berperan sebagai pelaksana kebijakan pusat

c)

Kewenangan pelayanan kesehatan dapat dialihkan sepenuhnya ke pemerintah desa

d)

Pemerintah pusat dan daerah berbagi kewenangan sesuai prinsip desentralisasi asimetris

e)

Pelayanan kesehatan tidak dapat dijadikan prioritas pembangunan daerah

31.

Perbedaan mendasar antara UKP dan UKM dalam konteks sistem kesehatan nasional paling tepat dijelaskan melalui:

a)

Sasaran layanan dan jenis pembiayaan kesehatan

b)

Tingkat fasilitas kesehatan penyelenggara

c)

Orientasi intervensi dan dampak populasi

d)

Kewenangan pemerintah pusat dan daerah

e)

Sumber daya manusia kesehatan yang terlibat

32.

Dalam kerangka UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, peran pemerintah pusat yang tidak dapat didelegasikan kepada pemerintah daerah adalah:

a)

Pengelolaan sistem rujukan tingkat daerah

b)

Penerbitan izin operasional puskesmas

c)

Penetapan standar pelayanan kesehatan nasional

d)

Distribusi tenaga kesehatan antar kabupaten

e)

Pemantauan capaian SPM kabupaten/kota

33.

Puskesmas berperan sebagai koordinator utama jejaring pelayanan kesehatan primer karena:

a)

Memiliki kewenangan pelayanan spesialis dasar

b)

Menjadi unit teknis pusat di tingkat kecamatan

c)

Menjalankan fungsi integrasi UKP dan UKM

d)

Berfungsi sebagai rujukan utama FKTL

e)

Mengelola pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional

34.

Karakteristik utama pelayanan kesehatan primer terintegrasi adalah:

a)

Berbasis rujukan vertikal ke rumah sakit

b)

Berfokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif

c)

Mengutamakan pelayanan individual dibanding komunal

d)

Menggabungkan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif

e)

Dikelola sepenuhnya oleh pemerintah pusat

35.

Perbedaan substansial antara SPM Kesehatan Provinsi dan SPM Kesehatan Kabupaten/Kota terletak pada:

a)

Sumber pendanaan pelayanan

b)

Jenis fasilitas pelayanan kesehatan

c)

Pendekatan siklus hidup masyarakat

d)

Fokus pada krisis kesehatan dan KLB vs pelayanan rutin populasi

e)

Standar kompetensi tenaga kesehatan

36.

Salah satu konsekuensi kebijakan jika target SPM ditetapkan tidak realistis adalah:

a)

Meningkatnya capaian indikator kesehatan daerah

b)

Validitas evaluasi kinerja daerah menjadi bias

c)

Optimalisasi penggunaan anggaran kesehatan

d)

Penguatan sistem pencatatan dan pelaporan

e)

Penurunan kebutuhan SDM kesehatan

37.

Tantangan paling sistemik dalam implementasi SPM kesehatan daerah yang berdampak lintas sektor adalah:

a)

Koordinasi lintas sektor yang lemah sehingga program tidak sinkron

b)

Ketersediaan data kesehatan yang terlalu berlimpah tanpa standarisasi

c)

Pendanaan daerah selalu berlebih sehingga sulit dialokasikan

d)

Surplus SDM kesehatan di semua wilayah

e)

Tidak adanya kebutuhan kemitraan dengan sektor pendidikan dan sosial

38.

Pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan primer secara konseptual diwujudkan melalui:

a)

FKTL berbasis komunitas

b)

Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)

c)

Sistem rujukan horizontal

d)

Akreditasi fasilitas kesehatan

e)

Standar pelayanan minimal

39.

Dalam perspektif tata kelola kesehatan, hubungan antara otonomi daerah dan sistem rujukan pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa:

a)

Otonomi daerah meniadakan kewajiban sistem rujukan nasional

b)

Sistem rujukan sepenuhnya ditentukan oleh daerah

c)

Sistem rujukan menjadi instrumen integrasi pusat dan daerah

d)

Rujukan hanya berlaku pada pelayanan kesehatan lanjutan

e)

Sistem rujukan bersifat opsional bagi daerah terpencil

40.

Pembangunan kesehatan diposisikan sebagai investasi pembangunan sumber daya manusia karena secara konseptual:

a)

Kesehatan menentukan jumlah penduduk usia produktif

b)

Derajat kesehatan memengaruhi pertumbuhan ekonomi makro secara langsung

c)

Kesehatan meningkatkan produktivitas sosial dan ekonomi lintas siklus kehidupan

d)

Kesehatan menjadi indikator keberhasilan sektor kesehatan semata

e)

Kesehatan hanya berdampak pada kualitas tenaga kerja formal

41.

Pendekatan Lifecycle Approach dalam pembangunan kesehatan memiliki implikasi strategis bahwa intervensi kesehatan:

a)

Diprioritaskan pada kelompok usia produktif

b)

Difokuskan pada penyakit tidak menular

c)

Dilakukan secara terpisah pada setiap kelompok umur

d)

Dirancang berkesinambungan antar fase kehidupan

e)

Dibatasi pada upaya promotif dan preventif

42.

Integrasi mandat Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang menekankan promotif-preventif tanpa mengesampingkan kuratif-rehabilitatif mencerminkan prinsip:

a)

Efisiensi pembiayaan kesehatan

b)

Kontinum pelayanan kesehatan

c)

Pelayanan kesehatan rujukan berjenjang

d)

Pemerataan fasilitas kesehatan

e)

Jaminan kesehatan semesta

43.

Perbedaan mendasar antara indikator “disability or incapacity” dan “discomfort or illness” dalam penilaian derajat kesehatan masyarakat terletak pada:

a)

Aspek objektivitas pengukuran

b)

Dampak ekonomi yang ditimbulkan

c)

Gangguan fungsi peran sosial

d)

Persepsi subjektif versus keterbatasan fungsional

e)

Hubungan dengan pelayanan kesehatan

44.

Indikator reserve or positive health menurut H.L. Blum paling tepat digunakan untuk menilai:

a)

Angka kesakitan kumulatif

b)

Tingkat pemanfaatan fasilitas kesehatan

c)

Kapasitas adaptif individu dan masyarakat terhadap stresor

d)

Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

e)

Efektivitas program kuratif

45.

Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dalam konteks RPJP-K paling tepat dipahami sebagai:

a)

Target sektoral Kementerian Kesehatan

b)

Indikator spesifik status kesehatan masyarakat

c)

Dampak langsung digitalisasi layanan kesehatan

d)

Hasil utama pembangunan ekonomi

e)

Ukuran mutu rumah sakit rujukan

46.

Keterkaitan antara misi “Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan” dengan strategi lintas sektor paling nyata tercermin dalam:

a)

Penguatan pelayanan rujukan nasional

b)

Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan

c)

Regulasi lintas sektor yang mendorong lingkungan sehat

d)

Penambahan fasilitas kesehatan tingkat lanjut

e)

Perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional

47.

Percepatan penurunan stunting melalui kombinasi intervensi spesifik dan sensitif mencerminkan pendekatan kebijakan yang:

a)

Berbasis kuratif dan rehabilitatif

b)

Terfokus pada sektor kesehatan saja

c)

Bersifat evidence based dan multisektoral

d)

Mengutamakan pembiayaan kesehatan

e)

Menitikberatkan pada pelayanan rumah sakit

48.

Isu utama pembangunan kesehatan di era disrupsi 4.0 yang berpotensi memperlebar ketimpangan kesehatan adalah:

a)

Peningkatan prevalensi penyakit kronis

b)

Ketimpangan akses digital dan konektivitas antarwilayah

c)

Rendahnya literasi digital tenaga dan masyarakat kesehatan

d)

Bias algoritma dalam sistem kesehatan berbasis data

e)

Percepatan inovasi biomedis yang menurunkan biaya layanan

49.

Pemberdayaan SDM kesehatan di era disrupsi 4.0 menuntut pergeseran paradigma dari sekadar peningkatan jumlah tenaga menjadi:

a)

Pemusatan produksi tenaga kesehatan

b)

Penguasaan teknologi tanpa kolaborasi

c)

Perencanaan, pendayagunaan, dan kolaborasi interprofesional adaptif

d)

Spesialisasi sempit berbasis profesi

e)

Ketergantungan pada teknologi asing

50.

Perbedaan konseptual paling mendasar antara terapi komplementer dan terapi alternatif dalam praktik keperawatan terletak pada implikasi terhadap:

a)

Jenis bahan yang digunakan

b)

Filosofi pengobatan tradisional

c)

Posisi terapi terhadap pengobatan konvensional

d)

Tingkat penerimaan masyarakat

e)

Biaya dan ketersediaan layanan

51.

Jika seorang perawat mengajarkan mindful eating kepada klien dengan diabetes melitus tipe 2 sebagai bagian dari asuhan keperawatan komunitas, maka intervensi tersebut termasuk dalam kategori:

a)

Pendekatan nutrisi murni

b)

Pendekatan psikologis murni

c)

Kombinasi psikologis dan nutrisi

d)

Mind–body therapies

e)

Biological based therapies

52.

Dalam klasifikasi NCCAM, terapi reiki dan terapi sentuhan digolongkan sebagai energy therapies karena:

a)

Menggunakan alat elektromagnetik medis

b)

Mengandalkan manipulasi struktur tubuh

c)

Berbasis bahan alami dari tumbuhan

d)

Berfokus pada energi internal dan eksternal tubuh

e)

Merupakan bagian dari sistem pengobatan budaya

53.

Seorang perawat komunitas melakukan terapi pijat punggung (backrub) menggunakan VCO pada pasien stroke bedrest untuk mencegah dekubitus. Berdasarkan peran perawat dalam terapi komplementer, perawat tersebut bertindak terutama sebagai:

a)

Edukator

b)

Konselor

c)

Koordinator

d)

Peneliti

e)

Pelaksana (direct care provider)

54.

Risiko utama penggunaan terapi komplementer yang paling membutuhkan kewaspadaan klinis perawat pada klien penyakit kronis dengan terapi obat jangka panjang adalah:

a)

Penurunan kepatuhan klien

b)

Efek placebo berlebihan

c)

Interaksi dan reaksi merugikan akibat polifarmasi

d)

Ketergantungan psikologis klien

e)

Hambatan komunikasi terapeutik

55.

Integrasi terapi komplementer ke dalam asuhan keperawatan mencerminkan penerapan prinsip keperawatan:

a)

Berbasis medis dan teknologi

b)

Holistik, komprehensif, dan kontinu

c)

Spesialisasi dan subspesialisasi

d)

Kuratif dan rehabilitatif

e)

Evidence based medis murni

56.

Terapi musik untuk lansia hipertensi paling tepat diklasifikasikan menurut NCCAM sebagai:

a)

Biological based therapy

b)

Manipulative and body-based therapy

c)

Energy therapy

d)

Mind–body therapy

e)

System of care

57.

Alasan utama terapi komplementer dapat diterapkan secara luas di komunitas dibandingkan terapi konvensional adalah karena:

a)

Tidak memerlukan regulasi profesional

b)

Lebih cepat menyembuhkan penyakit

c)

Memungkinkan partisipasi aktif dan kemandirian klien

d)

Menggantikan fungsi pelayanan kesehatan formal

e)

Tidak memiliki efek samping

58.

Seorang perawat melakukan edukasi relaksasi napas dalam pada klien hipertensi dan kecemasan kronis di rumah. Tindakan ini menunjukkan integrasi terapi komplementer pada level:

a)

Pencegahan sekunder saja

b)

Pencegahan tersier saja

c)

Promotif dan preventif primer

d)

Promotif, preventif, dan suportif terapeutik

e)

Rehabilitatif eksklusif

59.

Pernyataan berikut yang PALING TEPAT menggambarkan posisi terapi komplementer dalam sistem pelayanan kesehatan modern adalah:

a)

Sebagai pengganti utama terapi medis

b)

Sebagai terapi pilihan terakhir masyarakat

60.

Perbedaan konseptual paling tajam antara definisi belajar menurut Hilgard dan Hurlock terletak pada penekanan terhadap:

a)

Peran lingkungan sosial

b)

Latihan sebagai syarat belajar

c)

Perubahan perilaku yang bersifat permanen

d)

Perolehan kompetensi kognitif

e)

Proses biologis dalam belajar

61.

Komponen belajar menurut Brown (2007) yang PALING menjelaskan mengapa edukasi kesehatan harus diulang dan divariasikan metodenya adalah:

a)

Belajar adalah proses memperoleh sesuatu

b)

Belajar melibatkan fokus aktif dan sadar

c)

Belajar relatif permanen tetapi dapat dilupakan

d)

Belajar melibatkan penyimpanan informasi

e)

Belajar merupakan perubahan tingkah laku

62.

Dalam konteks perawat komunitas, definisi mengajar menurut John Brubacher paling tepat diaplikasikan ketika perawat:

a)

Menyampaikan materi melalui ceramah satu arah

b)

Memberikan informasi tertulis kepada masyarakat

c)

Mengatur situasi agar masyarakat memecahkan masalah kesehatannya sendiri

d)

Memberikan instruksi baku yang harus diikuti

e)

Menilai keberhasilan belajar melalui post-test

63.

Konsep mengajar sebagai proses tripolar berarti bahwa pembelajaran di komunitas harus selalu melibatkan:

a)

Media, metode, dan evaluasi

b)

Pengajar, peserta didik, dan materi

c)

Pendidikan, pengalaman belajar, dan perubahan perilaku

d)

Tujuan, proses, dan hasil

e)

Kognitif, afektif, dan psikomotor

64.

Seorang perawat komunitas memilih metode diskusi daripada ceramah karena ingin mendorong partisipasi aktif dan kesepakatan pemecahan masalah. Keputusan ini paling sesuai dengan ciri mengajar bahwa:

a)

Mengajar adalah kegiatan remedial

b)

Mengajar adalah seni dan sains

c)

Mengajar menyarankan, bukan mendikte

d)

Mengajar adalah proses profesional

e)

Mengajar adalah tugas khusus

65.

Berdasarkan Cone of Experience Edgar Dale, media yang PALING efektif untuk edukasi cuci tangan pada masyarakat dengan literasi rendah adalah:

a)

Leaflet bergambar

b)

Video edukasi

c)

Ceramah interaktif

d)

Demonstrasi langsung

e)

Simbol visual poster

66.

Manfaat media pembelajaran yang PALING relevan dalam mencegah perbedaan penafsiran pesan kesehatan antar anggota masyarakat adalah:

a)

Menimbulkan kegairahan belajar

b)

Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu

c)

Memungkinkan belajar individual

d)

Memberikan rangsangan yang sama

e)

Mempersamakan pengalaman dan persepsi

67.

Pemilihan metode peer teaching dalam edukasi kesehatan komunitas terutama didasarkan pada prinsip bahwa:

a)

Peserta didik lebih mudah menerima informasi dari figur otoritas

b)

Proses belajar harus selalu formal

c)

Kesamaan pengalaman meningkatkan penerimaan pesan

d)

Evaluasi belajar menjadi lebih objektif

e)

Materi kesehatan bersifat universal

68.

Dalam proses belajar mengajar di komunitas, keberhasilan aspek proses PALING tepat dievaluasi melalui:

a)

Peningkatan skor pengetahuan

b)

Perubahan perilaku jangka panjang

c)

Tingkat partisipasi dan interaksi masyarakat

d)

Penurunan angka kesakitan

e)

Kepuasan terhadap media pembelajaran

69.

Jika seorang perawat komunitas mengabaikan faktor budaya dan bahasa lokal saat memberikan edukasi kesehatan, maka komponen pembelajaran yang PALING berisiko gagal adalah:

a)

Penetapan tujuan pembelajaran

b)

Pemilihan metode pembelajaran

c)

Retensi dan makna pesan kesehatan

d)

Penyusunan materi ajar

e)

Evaluasi hasil belajar