Font size
WorksheetsQuiz Rinitis Alergi
Total questions: 73
Worksheet time: 42mins
Rinitis alergi merupakan gangguan inflamasi yang diperantarai oleh IgE pada membran mukosa hidung. Manifestasi klinis yang TIDAK umum ditemukan pada rinitis alergi adalah:
Rinorea (ingus encer)
Bersin berulang
Gatal pada hidung dan mata
Hilangnya kemampuan penciuman secara total (anosmia permanen)
Hidung tersumbat
Patofisiologi utama rinitis alergi melibatkan pelepasan mediator inflamasi dari sel mast setelah terpapar alergen. Mediator utama yang bertanggung jawab terhadap gejala awal (bersin, gatal) adalah:
Leukotrien
Histamin
Prostaglandin
Bradikinin
Sitokin
Antihistamin generasi pertama seperti difenhidramin dan klorfeniramin memiliki efek samping yang signifikan yang membatasi penggunaannya. Efek samping yang paling khas adalah:
Takhikardia
Hipertensi
Mengantuk (sedasi)
Retensi urin
Gangguan pencernaan
Kelebihan utama antihistamin generasi kedua (misal: loratadin, cetirizin, feksofenadin) dibandingkan generasi pertama adalah:
Efek antiinflamasinya lebih kuat
Penetrasi ke susunan saraf pusat lebih rendah, sehingga lebih sedikit menyebabkan kantuk (sedasi)
Dapat menyembuhkan rinitis alergi secara permanen
Harganya lebih murah
Juga berfungsi sebagai dekongestan kuat
Mekanisme kerja antihistamin baik generasi pertama maupun kedua adalah dengan:
Meningkatkan pelepasan histamin dari sel mast
Berkompetisi menghambat reseptor-H1 histamin perifer dan sentral
Meningkatkan sintesis histamin
Menstimulasi reseptor beta-2 adrenergik
Menghambat fosfodiesterase
Salah satu contoh antihistamin yang memiliki efek sedasi kuat sehingga dapat pula digunakan sebagai obat tidur adalah:
Loratadin
Cetirizin
Feksofenadin
Desloratadin
Diphenhydramine HCl
Penggunaan obat dekongestan nasal seperti oksimetazolin atau fenilefrin tetes/spray hidung harus dibatasi maksimal 5-7 hari. Penggunaan yang lebih lama berisiko menyebabkan:
Rinitis infeksiosa
Rinitis medikamentosa (rebound congestion)
Atrofi mukosa hidung
Gangguan penciuman permanen
Hipertensi pulmonal
Dekongestan oral seperti pseudoefedrin bekerja dengan cara:
Menghambat reseptor muskarinik
Menghambat fosfodiesterase
Menyebabkan vasokonstriksi melalui stimulasi reseptor alfa-adrenergik
Menstabilkan membran sel mast
Menghambat siklooksigenase
Kontraindikasi utama dari penggunaan dekongestan oral (misal pseudoefedrin) adalah pada pasien dengan:
Hipotensi
Hipertensi, penyakit jantung koroner, dan glaukoma sudut tertutup
Diabetes mellitus tipe 2
Gastritis
Osteoporosis
Kombinasi antara antihistamin generasi pertama dengan dekongestan oral (misal CTM + pseudoefedrin) sering digunakan. Salah satu tujuan kombinasi ini adalah:
Meningkatkan efek sedasi
Mengatasi gejala hidung tersumbat yang kurang direspons oleh antihistamin saja
Mencegah terjadinya rinitis medikamentosa
Mengurangi risiko efek sampang kardiovaskular
Memperpendek durasi terapi
Manakah berikut ini yang merupakan obat antihistamin generasi kedua yang bersifat selektif dan kurang atau bahkan tidak menyebabkan mengantuk:
Cetrizine
Fexofenadine
Levocetrizine
Loratadine
Semua Benar
Manakah berikut ini yang merupakan obat antihistamin generasi pertama yang bersifat non-selektif dan menyebabkan efek sedasi (mengantuk):
Manakah berikut ini yang merupakan obat antihistamin generasi pertama yang bersifat non-selektif dan menyebabkan efek sedasi (mengantuk):
Chlorpheniramine Maleate (CTM)
Chlemastine Fumarate
Diphenhydramine HCl
Semua Benar
Semua Salah
Pada rinitis alergi persisten berat, terapi lini pertama yang direkomendasikan adalah:
Antihistamin oral generasi pertama
Dekongestan oral
Kortikosteroid intranasal (misal: mometason, flutikason)
Antihistamin intranasal
Antihistamin oral generasi pertama
Efek samping yang perlu diwaspadai dari penggunaan kortikosteroid intranasal dosis tinggi atau dalam jangka panjang adalah:
Rinitis medikamentosa
Iritasi lokal, epistaksis (mimisan), dan sangat jarang perforasi septum
Takikardia dan palpitasi
Sedasi berat
Gangguan fungsi hati
Obat antihistamin digunakan pada pengobatan rinitis alergi:
Hipertensi
Asma
Diabetes
Gagal ginjal
Rinitis alergi
Secara Umum rhinitis alergi dibagi menjadi:
Rinitis Alergi Musiman
Rinitis Alergi Persisten
Kombinasi tipe Rinitis Alergi Musiman dan Rinitis Alergi Persisten
Semua Benar
Semua Salah
Secara Umum antihistamin oral pada pengobatan rhinitis alergi terdiri atas 2 kategori yaitu:
Non-selektif (generasi pertama)
Selektif (generasi kedua)
Generasi pertama bersifat sedatif (menyebabkan kantuk)
Generasi kedua kurang atau bahkan tidak bersifat sedatif (menyebabkan kantuk)
Semua Benar
Manakah berikut ini yang benar terkait dosis Chlorpheniramine Maleat (CTM):
Dewasa 4 mg 3-4 kali sehari
Dewasa 12 mg 3-4 kali sehari
Dewasa 1,34 mg 3-4 kali sehari
Dewasa 50 mg 3-4 kali sehari
Dewasa 25 mg 3-4 kali sehari
Manakah berikut ini yang merupakan golongan obat dekongestan pada pengobatan rhinitis alergi:
Pseudoephedrine oral
Phenylephrine oral
Oxymetazoline Nasal
Semua Benar
Semua Salah
Secara farmakologi obat rhinitis alergi terdiri atas:
Antihistamin
Dekongestan
Nasal Kortikosteroid
Semua Benar
Semua Salah
Asma merupakan penyakit heterogeny yang ditandai berupa inflamasi kronik pada aliran nafas. Adapun tanda-tandanya berupa:
Mengi (Wheezing)
Nafas Pendek
Sesak
Batuk
Semua Benar
Obat yang termasuk dalam kelompok Short-Acting Beta-2 Agonists (SABA) dan digunakan sebagai terapi pelega (reliever) adalah:
Salmeterol
Formoterol
Salbutamol (Albuterol)
Budesonid
Tiotropium
Bentuk sediaan inhaler dosis terukur (MDI: Metered Dose Inhaler) memerlukan koordinasi yang baik antara penekanan kanister dan inhalasi. Alat bantu yang dapat meningkatkan deposisi obat di paru dan memudahkan penggunaan, terutama pada anak dan lansia adalah:
Spacer (alat bantu ruang hirup)
Nebulizer
Dry Powder Inhaler (DPI)
Soft Mist Inhaler
Nasal cannula
Long-Acting Beta-2 Agonists (LABA) seperti salmeterol harus HARUS digunakan bersama dengan Inhaled Corticosteroids (ICS) pada pengobatan asma. Hal ini karena:
LABA dapat meningkatkan efek samping ICS
Penggunaan LABA tanpa ICS meningkatkan risiko kematian asma dan kejadian asma berat
ICS mengurangi takhikardia yang disebabkan LABA
Kombinasi tersebut lebih murah
LABA menurunkan bioavailabilitas ICS
Contoh kombinasi tetap ICS/LABA yang banyak digunakan dalam terapi pemeliharaan asma adalah:
Salbutamol + Ipratropium bromida
Budesonid + Formoterol
Montelukast + Theophylline
Beclomethasone + Salbutamol
Flutikason + Salbutamol
Inhaled Corticosteroids (ICS) bekerja sebagai controller dengan cara:
Menenangkan inflamasi saluran napas, mengurangi hiperresponsif, dan mencegah gejala
Melebarkan bronkus secara cepat dalam hitungan menit
Mengencerkan dahak yang menyumbat saluran napas
Membunuh bakteri penyebab infeksi sekunder
Menghambat refleks batuk
Salah satu efek samping sistemik jangka panjang dari penggunaan kortikosteroid oral (misal prednison) pada asma berat adalah:
Hipertensi
Diabetes mellitus
Osteoporosis
Semua Benar
Obat yang termasuk antagonis muskarinik kerja panjang (LAMA) dan dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada asma adalah:
Ipratropium bromida (SAMA)
Tiotropium
Salbutamol
Theophylline
Zafirlukast
Obat yang bekerja dengan cara menghambat enzim fosfodiesterase, memiliki jendela terapi sempit, dan memerlukan pemantauan kadar darah adalah:
Montelukast
Theophylline
Omalizumab
Salmeterol
Prednisolon
Istilah DPI (Dry Powder Inhaler) mengacu pada:
Inhaler yang menggunakan propelan untuk menyemprotkan obat
Inhaler yang mengandung obat dalam bentuk bubuk kering dan diaktifkan oleh nafas dalam pasien
Alat untuk pemberian obat cair menjadi uap
Inhaler yang selalu membutuhkan spacer
Inhaler yang hanya berisi obat kortikosteroid
Pada pengobatan asma intermiten/Step 1 pada usia 12 tahun ke atas yang direkomendasikan adalah:
SABA sesuai kebutuhan (PRN)
LABA setiap hari
ICS setiap hari
Kombinasi ICS/LABA sesuai kebutuhan
Kortikosteroid oral sesuai kebutuhan
Algoritma Pengobatan Asma dibagi menjadi 6 Step (Langkah) berdasarkan tingkat keparahan asma, yaitu:
Step 1
Step 2
Step 3&4
Step 5&6
Semua Benar
Obat asma dapat berupa:
ICS
SABA
LABA
Kortikosteroid Oral Sistemik
Semua Benar
Berdasarkan tingkat keparahan asma dibagi menjadi:
Asma Intermiten
Asma Persisten Ringan (Mild)
Asma Persisten Sedang (Moderate)
Asma Persisten Berat/Parah (Severe)
Semua Benar
Mekanisme terjadinya secara patofisiologi yaitu adanya ikatan antara alergen dengan IgE pada permukaan Mast Sel yang menyebabkan mast sel terdeagranulasi dan melepaskan mediator, salah satunya adalah:
Kolinergik
Histamin
Epinefrin
Adrenalin
Penilefrin
Pada pengobatan asma persisten Ringan (Mild)/Step 2 pada usia 12 tahun ke atas yang direkomendasikan adalah:
SABA sesuai kebutuhan (PRN)
ICS dosis rendah dan SABA bila perlu (PRN)
ICS setiap hari
Kombinasi ICS/LABA sesuai kebutuhan
Kortikosteroid oral sesuai kebutuhan
Pada pengobatan asma istilah "SABA" yaitu singkatan dari:
Short-Acting β2-Agonist
Long-Acting β2-Agonist
Inhaled Corticosteroids
Leukotriene Receptor Antagonist
Kortikosteroid oral sistemik
Pada pengobatan asma istilah "LABA" yaitu singkatan dari:
Short-Acting β2-Agonist
Long-Acting β2-Agonist
Inhaled Corticosteroids
Leukotriene Receptor Antagonist
Kortikosteroid oral sistemik
Pada pengobatan asma istilah "ICS" yaitu singkatan dari:
Pada pengobatan asma istilah "ICS" yaitu singkatan dari:
Short-Acting β2-Agonist
Long-Acting β2-Agonist
Inhaled Corticosteroids
Leukotriene Receptor Antagonist
Kortikosteroid oral sistemik
Pada pengobatan asma istilah "LTRA" yaitu singkatan dari:
Short-Acting β2-Agonist
Long-Acting β2-Agonist
Inhaled Corticosteroids
Leukotriene Receptor Antagonist
Kortikosteroid oral sistemik
Manakah pernyataan berikut ini yang benar terkait Anemia?:
merupakan penyakit yang ditandai oleh kurangnya Hemoglobin (Hb) dan volume sel darah merah
Berkurangnya kapasitas-angkut oksigen dalam darah
Kadar Hb kurang dari 13g/dL (Laki-laki)
Kadar Hb kurang dari 12g/dL (Perempuan)
Semua Benar
Anemia dapat disebabkan karena kekurangan (defisiensi)?:
Vitamin B12
Asam Folat
Zat Besi (Fe)
Semua Benar
Semua Salah
Terapi lini pertama untuk anemia defisiensi besi adalah pemberian suplementasi besi (Ferrous/Fe) oral. Preparat garam besi yang umum digunakan adalah:
Ferrous Sulfate
Ferrous Gluconate
Ferrous Fumarate
Ferrous Maltol
Semua Benar
Efek samping yang paling sering menyebabkan ketidakpatuhan dalam terapi besi oral adalah:
Urin berwarna kemerahan
Gangguan GI seperti mual, konstipasi, dan nyeri ulu hati
Reaksi anafilaksis
Hipertensi
Neurotoksisitas
Untuk meningkatkan absorpsi besi oral, sebaiknya diberikan:
Bersamaan dengan susu atau antasida
Dalam keadaan perut kosong atau dengan vitamin C (asam askorbat)
Setelah makan berat yang kaya serat
Bersamaan dengan suplemen kalsium
Pada malam hari sebelum tidur
Indikasi utama pemberian besi parenteral (misal: besi sukrosa atau ferrik karboksimaltosa) adalah:
Semua pasien anemia defisiensi besi
Intoleransi berat terhadap besi oral, malabsorpsi, atau kehilangan darah yang cepat/berat
Anemia defisiensi B12
Pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium akhir
Sebagai terapi pertama karena lebih efektif
Berikut jenis anemia adalah:
Anemia Defisiensi Besi
Anemia Defisiensi B12
Anemia Defisiensi Asam Folat
Anemia Karena Inflamasi
Semua Benar
Manakah pernyataan berikut yang benar tentang Vit.B12:
Dapat dihasilkan secara intrinsik dalam tubuh pada lambung
Produksinya dapat dicegah/dihalangi oleh penggunaan obat Ranitidine
Defisiensi/Kurangnya Vit.B12 dalam tubuh menyebabkan anemia megaloblastik
Semua Benar
Semua Salah
Pyridoxine (Vitamin B6) merupakan terapi yang mungkin bermanfaat untuk jenis anemia sideroblastik tertentu, khususnya yang:
Diinduksi oleh alkohol
Bersifat herediter/kongenital
Diinduksi oleh timbal
Menyertai keganasan
Semua jawaban benar
Obat yang dapat menyebabkan anemia sideroblastik sebagai efek toksiknya adalah:
Suplemen besi oral
Kloramfenikol atau Isoniazid
Asam folat
Eritropoietin
Vitamin B12
Penyebab anemia megaloblastik yang paling sering adalah:
Defisiensi besi
Defisiensi vitamin B12 dan/atau asam folat
Penyakit ginjal kronik
Hemolisis
Anemia aplastik
Perbedaan utama manifestasi neurologi antara defisiensi B12 dan defisiensi asam folat adalah:
Defisiensi folat selalu menyebabkan neuropati
Defisiensi B12 dapat
Perbedaan utama manifestasi neurologi antara defisiensi B12 dan defisiensi asam folat adalah:
Defisiensi folat selalu menyebabkan neuropati
Defisiensi B12 dapat menyebabkan neuropati perifer dan degenerasi kombinasi subakut medula spinalis, sedangkan defisiensi folat umumnya tidak
Keduanya menyebabkan gejala neurologi yang identik
Hanya defisiensi folat yang menyebabkan demensia
Gejala neurologi lebih berat pada defisiensi folat
Penyebab malabsorpsi vitamin B12 yang paling klasik adalah:
Gastritis akut
Anemia pernisiosa (karena tidak adanya faktor intrinsik dari sel parietal lambung)
Penyakit Crohn ileum terminal
Penggunaan antasida jangka panjang
Sirosis hepatis
Terapi standar untuk anemia pernisiosa atau malabsorpsi B12 adalah:
Sianokobalamin atau hidroksokobalamin intramuskular/suntikan
Vitamin B12 dosis tinggi oral (hanya pada kasus ringan)
Suplementasi asam folat saja
Transfusi darah rutin
Pemberian eritropoietin
Asam folat oral digunakan untuk mengobati anemia megaloblastik akibat defisiensi folat. Suplementasi ini sangat penting pada kelompok berikut, KECUALI:
Pasien dengan anemia pernisiosa yang belum diterapi dengan B12 (dapat memperberat gejala neurologi)
Wanita hamil untuk mencegah NTD (Neural Tube Defects)
Pasien dengan malabsorpsi seperti penyakit celiac
Pasien yang mengonsumsi obat antagonis folat seperti metotreksat atau trimetoprim
Pecandu alkohol kronis
Pemeriksaan laboratorium khas pada anemia megaloblastik adalah:
MCV meningkat (makrositik), sel neutrofil hypersegmented
MCV menurun (mikrositik), feritin rendah
MCV normal (normositik), retikulosit meningkat
Schistosit pada apus darah tepi
Sel target pada apus darah tepi
Obat yang dapat menyebabkan defisiensi asam folat dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase adalah:
Omeprazol
Metformin
Metotreksat
Fenitoin
Kloramfenikol
Patofisiologi utama anemia pada penyakit kronis (misal infeksi, inflamasi, keganasan) adalah:
Defisiensi besi absolut
Gangguan dalam pemanfaatan besi untuk eritropoiesis karena peningkatan hepsidin
Penghancuran eritrosit secara langsung oleh sitokin
Defisiensi eritropoietin yang parah
Perdarahan saluran cerna
Profil besi yang khas pada anemia penyakit kronis adalah:
Besi serum rendah, TIBC rendah, feritin normal atau tinggi
Besi serum tinggi, TIBC tinggi, feritin rendah
Besi serum rendah, TIBC tinggi, feritin rendah
Besi serum normal, TIBC normal, feritin normal
Besi serum sangat tinggi, TIBC sangat rendah, feritin sangat tinggi
Manakah pernyataan berikut yang terkait Sel Darah Merah (Eritrosit)?:
Komposisi Utama sel darah merah adalah Hemoglobin
Kandungan Hemoglobin sel darah merah terdiri atas Protein dan Zat Besi (Fe)
Hemoglobin bertanggung jawab dalam pengangkutan gas oksigen (O2)
Warna merah pada darah yang berasal dari paru-paru disebabkan oleh kandungan oksigen yang terikat dengan Heme (Fe ) pada sel darah merah
Semua Benar
Erythropoiesis-Stimulating Agents (ESA) seperti Epoetin alfa dan Darbepoetin alfa digunakan secara utama pada:
Anemia defisiensi besi
Anemia aplastik kongenital
Anemia pada penyakit ginjal kronik dan terkait kemoterapi kanker (dengan pertimbangan ketat)
Semua jenis anemia untuk meningkatkan Hb dengan cepat
Th
Risiko utama penggunaan ESA yang mengharuskan pemantauan ketat adalah:
Hipotensi
Kejadian trombotik dan kemungkinan stimulasi pertumbuhan tumor
Gagal hati akut
Neuropati perifer
Reaksi alergi tipe I
Anemia aplastik dicirikan oleh:
Hiperplasia sumsum tulang
Pansitopenia dan hiposelularitas (kosong) pada sumsum tulang
Eritrosit berinti banyak di darah tepi
Peningkatan sel plasma di sumsum tulang
Penumpukan besi di organ
Obat yang diketahui dapat menyebabkan anemia aplastik idiosinkratik adalah:
Suplemen besi
Kloramfenikol
Vitamin B12
Asam folat
Eritropoietin
Terapi kuratif definitif untuk anemia aplastik berat pada pasien muda dengan donor cocok adalah:
Transplantasi sel punca hematopoietik (Transplantasi Sumsum Tulang)
Pemberian ESA dosis tinggi
Terapi kortikosteroid jangka panjang
Terapi besi parenteral
Splenektomi
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait pemberian vitamin B12 pada kasus anemia:
Dapat diberikan secara oral
Dapat diberikan secara parenteral
Pemberian oral awal pada dosis 1 mg sehari
Pemberian secara parenteral sianokobalamin dengan dosis 1000 mcg selama seminggu kemudian dilanjutkan sekali seminggu dan sekali sebulan untuk pemeliharaan
Semua Benar
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) pada kasus anemia:
Pada Pemberian oral yang digunakan besi (Fe) dalam bentuk garamnya misalnya Ferrous Sulfate
Zat Besi yang berasal dari makanan seperti ikan, daging dan unggas (misal hati dan ampela ayam) sangat mudah diserap
Dapat diberikan dalam bentuk parenteral
Pemberian Parenteral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral
Semua Benar
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) secara parenteral pada kasus anemia:
Pemberian Parenteral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral
Senyawa besi yang digunakan adalah Natrium Besi Glukonat
Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Pirofosfat Sitrat
Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Karboksimaltosa
Semua Benar
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) secara oral pada kasus anemia:
Pemberian oral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral
Senyawa besi yang digunakan adalah Natrium Besi Glukonat
Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Pirofosfat Sitrat
Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Karboksimaltosa
Pemberian supplemen zat besi diberikan 1 jam sebelum makan
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi asam folat secara oral pada kasus anemia defisiensi asam folat:
Dosis Pemberian asam folat 1 mg sehari selama 4 bulan
Bila terjadi malabsorbsi (gangguan penyerapan) dosisnya antara 1-5 mg sehari
Pemberian secara parenteral dapat dilakuan meskipun jarang dilakukan
Asam folat merupakan vitamin B yang dikenal dengan nama Vitamin B9
Semua Benar
