NEW
Font size
WorksheetsUAS Farmakoterapi II
Total questions: 60
Worksheet time: 32mins
Acne vulgaris secara patofisiologi terutama disebabkan oleh interaksi beberapa faktor, KECUALI:
Hiperkeratinisasi dan penyumbatan folikel sebaceous (sebum/minyak)
Peningkatan produksi sebum dipengaruhi Androgen (Testosteron)
Kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes (dulu P. acnes)
Respons inflamasi imunologis
Peningkatan kelembaban kulit akibat keringat berlebih
Manakah jenis lesi Acne vulgaris berikut yang termasuk dalam kategori non-inflamasi?:
Papula dan pustula
Nodul dan kista
Komedo terbuka (blackhead) dan komedo tertutup (whitehead)
Pustul dan nodul
Semua benar
Acne vulgaris didefinisikan sebagai penyakit kulit kronik yang ditandai atau dikarakteristikkan dengan adanya:
Papula dan pustula
Nodul dan kista
Komedo terbuka (blackhead) dan komedo tertutup (whitehead)
Inflamasi lesi termasuk papula-pustula, nodul-kista
Semua benar
Terapi yang tepat untuk jerawat kategori komedo non-inflamasi (Comedonal noninflammatory acne) adalah:
Retinoid topical (khususnya Adapalene)
Benzoyl peroxide
Azelaic acid
Asam salisilat
Semua benar
Klasifikasi acne berdasarkan derajat keparahan (Ringan, Sedang, Berat) menurut FDA terutama didasarkan pada:
Hanya jumlah lesi inflamasi
Jumlah dan tipe lesi (berupa komedo dan atau inflamasi papula-pustula, nodul-kista) serta luas area yang terlibat
Warna dan ukuran jaringan parut
Respons terhadap pengobatan antibiotik sebelumnya
Jenis kulit pasien (berminyak atau kering)
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait derajat/tingkat keparahan jerawat?:
Derajat ringan (mild) bila kurang dari 20 komedo atau kurang 15 papula atau kurang 30 total lesi dan tidak ada nodul
Derajat sedang (moderate) bila komedo 20-100 atau 15-50 lesi inflamasi atau total lesi 30-125 dan terdapat nodul
Derajat parah (severe) bila nodul lebih dari 5 atau komedo lebih dari 100 atau lesi inflamasi lebih dari 50 dan total lesi lebih dari 120
Semua Salah
Semua benar
Terapi farmakologi topikal lini pertama untuk acne vulgaris derajat ringan hingga sedang adalah:
Antibiotik oral
Isotretinoin oral
Retinoid topikal (seperti tretinoin, adapalene) atau benzoil peroksida
Kortikosteroid topikal potensi tinggi
Antijamur topikal
Manakah berikut ini yang BUKAN terapi non-farmakologi acne vulgaris;
Pada laki-laki ketika mencukur jenggot dan kumis menggunakan alat cukur yang aman (tidak mengiritasi) dan menggunakan sabun atau gel pencukur yang bersifat lembut
Menghindari faktor yang memperparah (misal iritasi mekanik, menggunakan kosmetik tertentu), mempertahankan keseimbangan indeks glikemik, mengontrol stres
Pasien sebaiknya hanya mencuci wajahnya sebanyak 2 kali dan menggunakan pembersih bersifat lembut yang bebas sabun (busa) dan tidak mengandung farfum
Menggunakan kosmetik yang mengandung lemak (oily-based) dan bersifat komedogenik
Expoliasi atau pengelupasan kulit (scrubing) sebaiknya dikurangi untuk mencegah kerusakan folikel
Jenis jerawat yang disebabkan oleh bakteri Cutibacterium acnes (dulu dikenal Propionibacterium acnes) adalah:
Acne vulgaris
Acne rosacea
Acne cosmetica
Acne mecanica
Semua benar
Jenis-jenis jerawat diantaranya:
Acne vulgaris
Acne rosacea
Acne cosmetica
Acne mecanica
Semua benar
Prinsip penggunaan antibiotik oral (seperti doksisiklin, minosiklin) pada acne adalah:
Digunakan sebagai monoterapi jangka panjang tanpa kombinasi
Diberikan untuk jangka pendek (biasanya 3-6 bulan), dikombinasi dengan agen topikal (seperti benzoil peroksida), dan dievaluasi setelah 6-8 minggu
Digunakan sebagai terapi pertama untuk acne komedonal ringan
Dosisnya ditingkatkan jika tidak ada perbaikan dalam 1 minggu
Tidak perlu dikhawatirkan terkait efek samping foto-sensitivitas
Manakah pernyataan berikut yang BUKAN terkait penggunaan antibiotik (baik oral maupun topikal) pada pengobatan acne vulgaris
Antibiotik topikal diaplikasikan sekali atau 2 kali sehari selama maksimal 2-3 bulan
Penggunaan antibiotik pada kasus acne vulgaris bila telah terjadi lesi inflamasi (infeksi)
Antibiotik Oral diawali dengan dosis 2 kali sehari selama 6-8 minggu
Dosis lanjutan setelah dosis awal antibiotik oral di berikan sekali sehari
Antibiotik oral dapat digunakan kapan saja dan tidak perlu memperhatikan dosis dan durasi penggunaannya.
Manakah berikut ini yang BUKAN merupakan antibiotik oral pada pengobatan acne vulgaris :
Doxycycline
Minocycline
Erythromycin
Trimethoprim-sulfametoxazole (Cotrimoxazole)
Kloramfenikol
Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit yang memiliki karakteristik utama berikut, KECUALI:
Gatal (pruritus) yang hebat
Penyakit menular yang mudah ditularkan melalui kontak kulit
Dermatitis kronis atau kambuhan (Recurrent and Remission)
Lesi eksematosa dengan morfologi dan distribusi sesuai usia
Riwayat atopi pribadi atau keluarga (asma, rinitis alergi)
Faktor non-farmakologi yang paling krusial dalam tatalaksana dermatitis atopik adalah:
Terapi sinar UV
Menghindari/mengurangi tingkat stres
Diet ketat bebas gluten
Olahraga intensif untuk meningkatkan kekebalan tubuh
Akupunktur
Riwayat manakah yang paling berkorelasi kuat dengan diagnosis dermatitis atopik pada seorang pasien?
Riwayat tuberkulosis dalam keluarga
Pasien sendiri memiliki riwayat asma dan rinitis alergi sejak kecil
Riwayat hipertensi pada orang tua
Riwayat penyakit jantung koroner
Riwayat migrain
Manakah berikut ini yang termasuk dalam aturan umum penggunaan kortikosteroid topikal?
Dioleskan merata dan digunakan 2 kali sehari
Dioleskan dalam kondisi kulit lembab (misalnya setelah mandi)
Penggunaan disesuaikan area pengolesan, misalnya untuk kulit yang tipis dipilih kortikosteroid topikal dengan potensi lemah (least potent)
Penggunaan pada anak-anak sebaiknya tidak lebih dari 2 minggu
Semua Benar
Manakah berikut ini yang merupakan kortikosteroid topikal potensi lemah (least potent)?:
Hidrokortison 1% krim
Betametasone dipropionate krim
Klobetasol dipropionate krim
Semua Benar
Semua Salah
Pemilihan potensi kortikosteroid topikal untuk dermatitis atopik didasarkan pada, KECUALI:
Usia pasien (anak-anak dan pasien lanjut usia)
Warna kulit pasien (terang atau gelap)
Lokasi anatomis (ketebalan kulit) misalnya pengolesan pada wajah berbeda dengan area lutut
Tingkat keparahan dan luasnya lesi
Respons pengobatan sebelumnya
Aturan umum penggunaan kortikosteroid topikal yang tepat adalah:
Digunakan sesering mungkin (hingga 4 kali sehari) pada area yang luas untuk mencapai hasil maksimal
Oleskan dengan gerakan memijat kuat hingga terserap sempurna
Digunakan dalam jumlah tipis dan dihentikan setelah lesi membaik, kemudian dilanjutkan dengan terapi pemeliharaan sesuai anjuran (terapi non-farmakologi misalnya menghindari pemicu dan mengontrol stress)
Penggunaan pada wajah dapat menggunakan potensi tinggi dalam waktu lama
Tidak perlu dikhawatirkan efek sistemik pada penggunaan area luas jangka panjang
Kekuatan (potensi) kortikosteroid topical akan dipengaruhi hal berikut :
Konsentrasi
Jenis Basis
Bentuk senyawanya (Base atau modifikasi/florinasi)
Semua Salah
Semua Benar
Patofisiologi utama psoriasis melibatkan:
Infeksi bakteri staphylococcus yang berulang
Aktivasi abnormal sistem imun (sel T) yang menyebabkan proliferasi keratinosit yang dipercepat dan inflamasi
Defisiensi vitamin D kronis
Produksi sebum berlebih
Penyumbatan kelenjar keringat
Terapi topikal lini pertama untuk psoriasis plak ringan hingga sedang adalah:
Antibiotik topikal
Analog vitamin D3 (kalsipotriol) dan/atau kortikosteroid topikal potensi sedang-tinggi
Antihistamin oral
Pelembab biasa
Sabun antibakteri
Fototerapi UVB narrow-band untuk psoriasis bekerja terutama dengan cara:
Membunuh bakteri di permukaan kulit
Mengelupas kulit yang menebal secara kimiawi
Menginduksi apoptosis sel T di kulit dan menekan respons imun lokal yang berlebihan
Meningkatkan produksi melanin untuk melindungi kulit
Menghangatkan kulit sehingga plak psoriatik terlepas
Terapi PUVA (Psoralen + UVA) termasuk dalam kategori:
Fotokemoterapi
Fototerapi murni
Terapi biologis
Terapi sitotoksik
Terapi hormonal
Agen biologis untuk psoriasis berat (seperti infliximab, adalimumab, ustekinumab) memiliki mekanisme kerja yang menargetkan:
Produksi sebum
Molekul spesifik dalam kaskade imun (misalnya TNF-α, IL-12/23, IL-17A)
Hormon androgen
Keseimbangan elektrolit kulit
Pertumbuhan jamur Malassezia
Faktor hormonal yang berperan signifikan dalam patogenesis acne vulgaris pada remaja adalah:
Penurunan hormon tiroid
Peningkatan aktivitas androgen (misalnya DHT) yang merangsang sebum
Defisiensi hormon estrogen
Kelebihan hormon kortisol
Penurunan hormon pertumbuhan
Komedo terbuka (blackhead) berbeda dengan komedo tertutup (whitehead) secara utama pada:
Adanya oksidasi melanin dan sebum yang menyumbat pori yang terbuka ke permukaan
Ukurannya yang selalu lebih besar
Potensi inflamasi yang lebih rendah
Respons yang lebih baik terhadap antibiotik oral
Lokasi yang hanya di daerah T-zone wajah
Pada acne derajat sedang (papulopustular moderat), terapi kombinasi topikal yang paling rasional adalah:
Kortikosteroid + Antijamur
Retinoid + Antibiotik Topikal (misalnya klindamisin) atau Benzoil Peroksida
Antihistamin + Pelembab
Asam Salisilat saja
Sabun sulfur saja
Pemilihan antibiotik oral doksisiklin untuk acne didasarkan pada pertimbangan berikut, KECUALI:
Spektrum antiinflamasi yang baik
Efektivitas terbaik pada pasien anak di bawah 8 tahun
Konsentrasi yang baik pada unit pilosebasea
Efek antibakteri terhadap C. acnes
Relatif lebih lipofilik dibanding tetrasiklin
Isotretinoin oral diindikasikan untuk acne dengan karakteristik:
Komedo saja tanpa inflamasi
Acne nodulokistik berat, resisten terhadap terapi konvensional, atau menyebabkan parut
Acne inflamasi ringan yang baru muncul 1 minggu
Acne yang hanya terjadi saat menstruasi
Semua jenis acne tanpa memandang keparahan
Efek samping utama yang HARUS dipantau dan disampaikan kepada pasien yang menggunakan isotretinoin oral adalah:
Hipertensi
Teratogenitas (cacat janin) dan kekeringan mukokutan (xerosis)
Gangguan pendengaran
Peningkatan kadar gula darah
Tremor
Aturan penting penggunaan benzoil peroksida topikal adalah:
Dapat digunakan bersamaan dengan retinoid topikal tanpa masalah
Dapat menyebabkan pemudahan warna pakaian atau linen (bleaching effect)
Tidak boleh digunakan lebih dari 2 hari berturut-turut
Harus dioleskan tebal-tebal untuk hasil maksimal
Efeknya baru terlihat setelah 6 bulan penggunaan
Peran terapi non-farmakologi seperti edukasi perawatan kulit pada acne vulgaris meliputi hal berikut, KECUALI:
Menghindari kebiasaan memencet jerawat
Membersihkan wajah dua kali sehari dengan pembersih lembut
Menggunakan produk non-comedogenic
Menggunakan scrub kasar (scrubing) setiap hari untuk mengelupas kulit
Menggunakan tabir surya untuk mencegah hiperpigmentasi pasca-inflamasi
Durasi awal yang umum untuk mengevaluasi respons terapi farmakologi acne vulgaris adalah:
3 hari
1 minggu
6-8 minggu
6 bulan
1 tahun
Mengapa kombinasi benzoil peroksida dengan antibiotik topikal (seperti klindamisin) lebih disukai daripada antibiotik topikal tunggal?
Untuk meningkatkan penetrasi ke lapisan kulit
Untuk mengurangi risiko berkembangnya resistensi bakteri C. acnes
Untuk memberikan efek pemutihan pada bekas jerawat
Untuk mengurangi biaya pengobatan
Untuk mengurangi rasa gatal
Manifestasi dermatitis atopik yang khas pada bayi (usia 2 bulan - 2 tahun) adalah:
Lesi likenifikasi di lipatan siku dan lutut
Lesi eritematous, eksudatif, dan berkerak terutama di area pipi dan kulit kepala
Lesi diskoid (berbentuk koin) di badan
Lesi vesikel kecil di telapak tangan dan kaki
Lesi papul gatal di area ketiak
"Atopic March" mengacu pada:
Perjalanan musiman penyakit dermatitis atopik
Kecenderungan progresi alamiah dari dermatitis atopik di masa bayi menuju asma dan rinitis alergi di kemudian hari
Perjalanan penyakit dari satu area kulit ke area lainnya
Tahapan keparahan lesi kulit dari akut ke kronis
Respons tubuh terhadap terapi kortikosteroid
Terapi emolien pada dermatitis atopik memiliki mekanisme kerja utama:
Membunuh bakteri Staphylococcus aureus
Memperbaiki dan mempertahankan fungsi sawar kulit, mengurangi transepidermal water loss (TEWL)
Menekan respons imun sel T
Mengurangi rasa gatal melalui efek anestesi lokal
Mengelupas kulit yang menebal (likenifikasi)
Pada dermatitis atopik berat yang tidak responsif, terapi sistemik yang dapat dipertimbangkan adalah:
Antibiotik spektrum luas jangka panjang
Immunosupresan seperti siklosporin A, atau agen biologis seperti dupilumab
Antivirus oral
Suplementasi zinc dosis tinggi
Diuretik
Prinsip "soak and seal" dalam perawatan dermatitis atopik akut berarti:
Mengompres lesi dengan air dingin lalu membiarkannya kering sendiri
Berendam mandi air hangat singkat, keringkan kulit dengan ditepuk-tepuk, lalu segera oleskan emolien dalam waktu 3 menit
Mengoleskan salep tebal lalu menutup lesi dengan plastik (oklusi)
Membersihkan luka dengan antiseptik lalu membalutnya
Menjemur kulit di bawah sinar matahari pagi
Kortikosteroid topikal potensi sangat tinggi (seperti klobetasol propionat) umumnya dihindari pada area berikut, KECUALI:
Wajah dan ketiak
Lipatan kulit dan daerah genital
Area kulit yang sangat tebal seperti telapak tangan atau kaki (untuk penggunaan singkat)
Area dengan lesi eksudatif luas
Pada bayi dan anak kecil
Infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus pada dermatitis atopik sering terjadi karena:
Adanya kerusakan sawar kulit dan lingkungan lesi yang lembab
Defisiensi imunoglobulin G spesifik
Penggunaan emolien yang berlebihan
Paparan sinar matahari yang kurang
Konsumsi makanan pedas
Terapi "proaktif" (maintenance) dengan kortikosteroid topikal atau calcineurin inhibitor pada DA berarti:
Menggunakan obat dengan frekuensi tinggi selama fase akut
Meneruskan pengobatan 2 kali seminggu pada area yang rentan kambuh, meskipun kulit sudah tampak normal, untuk mencegah flare
Mengganti obat setiap minggu untuk mencegah toleransi
Menggunakan dua jenis obat bersamaan sepanjang waktu
Hanya digunakan saat gatal sangat mengganggu
Pencetus (trigger) non-alergen yang paling umum memperburuk dermatitis atopik adalah:
Iritan (misal: sabun keras, deterjen, wol), kekeringan kulit, stres emosional
Konsumsi daging sapi
Olahraga berat
Minum air dingin
Berada di ruangan ber-AC
Calcineurin inhibitor topikal (tacrolimus, pimecrolimus) memiliki keunggulan dibanding kortikosteroid topikal dalam hal:
Biaya yang lebih murah
Tidak menyebabkan atrofi kulit, sehingga aman untuk area wajah dan lipatan dalam jangka panjang
Onset kerja yang lebih cepat (dalam hitungan jam)
Kekuatan antiinflamasi yang lebih tinggi dari steroid potensi tinggi
Dapat digunakan untuk mengobati infeksi sekunder
Fenomena Koebner pada psoriasis adalah:
Munculnya lesi baru di area bekas luka, goresan, atau trauma fisik pada kulit
Perubahan warna kuku menjadi kuning
Nyeri sendi yang menyertai lesi kulit
Resolusi spontan lesi di musim panas
Terbentuknya plak dengan sisik perak yang sangat tebal
Pilihan terapi topikal untuk psoriasis intertriginosa (di lipatan ketiak, selangkangan) adalah:
Kortikosteroid topikal potensi sangat tinggi dengan oklusi
Kortikosteroid topikal potensi rendah (seperti hidrokortison 1%) atau calcineurin inhibitor, karena kulit tipis dan risiko atrofi tinggi
Analog vitamin D3 dosis tinggi
Tar batubara
Asam salisilat konsentrasi tinggi
Terapi fotokemoterapi PUVA (Psoralen + UVA) memiliki efek samping jangka panjang yang serius, yaitu:
Peningkatan risiko kanker kulit (karsinoma sel skuamosa) dan penuaan dini kulit
Gangguan fungsi hati akut
Anemia aplastik
Neuropati perifer
Hipertensi pulmonal
Metotreksat sebagai terapi sistemik untuk psoriasis bekerja dengan cara:
Menghambat fosfodiesterase
Menghambat enzim dihidrofolat reduktase, sehingga menghambat proliferasi sel (efek antiproliferatif dan imunosupresif)
Menghambat absorbsi kalsium dari usus
Menghambat sintesis prostaglandin
Menghambat pompa proton lambung
Psoriasis artropati merupakan manifestasi ekstakutaneus psoriasis yang memerlukan penanganan khusus karena:
Dapat menyebabkan kerusakan dan deformitas sendi yang permanen
Selalu disertai demam tinggi
Hanya menyerang sendi-sendi kecil di jari
Dapat diobati dengan terapi topikal saja
Lebih sering terjadi pada anak-anak
Apremilast, sebagai agen oral kecil (small molecule) untuk psoriasis, bekerja dengan memodulasi:
Jalur TNF-α
Enzim fosfodiesterase-4 (PDE4) sehingga meningkatkan kadar cAMP intraseluler dan menurunkan inflamasi
Reseptor histamin H1
Saluran kalsium
Reseptor vitamin D
Terapi biologis yang secara spesifik menargetkan interleukin IL-17A adalah:
Adalimumab
Ustekinumab
Secukinumab dan Ixekizumab
Etanercept
Infliximab
Penggunaan asam salisilat topikal pada psoriasis berperan terutama sebagai:
Keratolitik, melunakkan dan mengelupas sisik yang menebal (hiperkeratosis)
Immunomodulator poten
Agen anti-gatal yang kuat
Pewarna untuk menyamarkan lesi
Pelembab oklusif
Dalam memilih terapi untuk psoriasis, pertimbangan "rule of tens" atau "rule of palms" digunakan untuk menilai:
Kedalaman lesi
Luas area tubuh yang terkena (1 telapak tangan ≈ 1% luas tubuh)
Jumlah lesi per sentimeter persegi
Skor keparahan gatal
Lama penyakit dalam tahun
Pengawasan (monitoring) rutin yang diperlukan pada pasien psoriasis yang menggunakan terapi sistemik konvensional seperti siklosporin A meliputi:
Tekanan darah dan fungsi ginjal (kreatinin serum) secara berkala
Pemeriksaan ketajaman penglihatan bulanan
Pemeriksaan rontgen dada setiap 3 bulan
Elektroensefalogram (EEG)
Biopsi sumsum tulang
Manakah basis yang digunakan sebagai pembawa kortikosteroid topical
Basis Salep
Basis Krim
Lotion
Basis gel
Semua Benar
Manakah antibiotik berikut yang dapat digunakan dalam bentuk sediaan topikal
Eritromisin
Klindamisin
Semua Salah
Semua Benar
Manakah berikut ini yang benar terkait terapi nonfarmakologi psoriasis:
Menggunakan sunscreen (SPF 30 atau lebih) bila ingin beraktivitas diluar ruangan dan menggunakan moisturizer
Terkena paparan sinar matahari langsung
Menggaruk dan mengelupaskan kulit yang bersisik
A dan C benar
Semua Salah
Manakah pernyataan berikut yang benar terkait tingkat/derajat keparahan psoriasis:
Ringan (mild)
Sedang (moderate)
Berat/Parah (severe)
Semua Benar
