Worksheetsfarter copd
Total questions: 134
Worksheet time: 1hrs 7mins
Apa definisi inti dari penyakit paru obstruktif kronik (COPD)?
Infeksi paru kronik yang selalu responsif terhadap antibiotik
Penyakit kronik dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel
Kelainan alergi dengan hiperrespons bronkus yang sepenuhnya reversibel
Gangguan akut dengan obstruksi aliran udara yang reversibel
Tren mortalitas COPD di Amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir adalah
Stabil tanpa perubahan berarti
Menurun tajam pada semua kelompok umur
Fluktuatif mengikuti musim dingin
Meningkat dan menjadi penyebab kematian keempat
Faktor risiko utama yang menjelaskan sekitar 75% kasus COPD di AS adalah
Defisiensi alfa-1 antitripsin
Polusi udara dalam ruangan dari biomassa
Merokok tembakau aktif
Paparan debu organik di tempat kerja
Manakah pernyataan terbaik tentang patogenesis COPD pada diagram yang ditunjukkan?
Pergeseran antioksidan berlebih mencegah remodeling saluran napas
Perbaikan jaringan sepenuhnya meniadakan destruksi parenkim
Hanya stres oksidatif memicu perubahan patologis
Inflamasi paru memicu ketidakseimbangan protease–antiprotease
Defisiensi alfa-1 antitripsin (AAT) berperan pada COPD terutama melalui
Ketidakseimbangan protease–antiprotease yang merusak parenkim
Supresi inflamasi sehingga menghambat fibrosis bronkial
Peningkatan produksi mukus dan bronkospasme reversibel
Aktivasi antioksidan yang memperkuat elastisitas alveolar
Merokok pasif atau paparan asap lingkungan meningkatkan risiko COPD karena
Menghambat protease sehingga mencegah kerusakan jaringan
Meningkatkan paparan partikel noxious yang mencederai paru
Mengurangi mediator inflamasi pada saluran napas
Meningkatkan kemampuan elastik paru secara bertahap
Pada populasi tanpa riwayat merokok, faktor risiko pekerjaan yang relevan meliputi
Paparan suhu rendah di ruang pendingin
Paparan kebisingan mesin intens
Paparan cahaya ultraviolet berkepanjangan
Paparan debu silika, asap iritan, dan uap industri
Pernyataan yang tepat tentang epidemiologi merokok dan COPD adalah
Wanita tidak pernah terpengaruh oleh perubahan kebiasaan merokok
Tren merokok menurun, sehingga prevalensi COPD tidak berubah
Pengurangan merokok selalu meniadakan risiko COPD pada semua orang
Risiko COPD bergantung pada jumlah paket-tahun dan status merokok saat ini
Ciri klinis bronkitis kronik yang mendukung diagnosis adalah
Wheezing intermiten saat olahraga intens
Hemoptisis berulang tanpa infeksi
Sesak napas akut yang hilang dengan bronkodilator cepat
Batuk produktif minimal 3 bulan per tahun selama 2 tahun
Dalam patologi, destruksi parenkim pada COPD menyebabkan
Peningkatan ikatan alveolar dan recoil elastik
Kehilangan attachments alveolar dan penurunan recoil elastik
Fibrosis bronkial yang meningkatkan lumen saluran napas
Peningkatan produksi surfaktan dan kepatuhan paru
Mengapa individu dengan asma dan hiperresponsivitas jalan napas memiliki risiko lebih tinggi terhadap COPD?
Karena penggunaan ICS selalu meningkatkan risiko pneumonia berat
Karena asma mencegah inflamasi sehingga terjadi penumpukan mukus
Karena paparan partikel inhalasi pada asma dapat mempercepat cedera paru
Karena bronkokonstriksi reversibel selalu menyebabkan emfisema
Skenario: Seseorang bekerja di pabrik semen dan merokok ringan. Strategi prioritas untuk menurunkan risiko COPD adalah
Meningkatkan aktivitas fisik tanpa perubahan paparan
Mengonsumsi antibiotik profilaksis mingguan
Menggunakan masker sesekali saat paparan tinggi
Berhenti merokok dan mengurangi paparan debu industri
Pada COPD, sel inflamasi yang dominan di jalan napas adalah apa?
Limfosit B dengan produksi IgE
Eosinofil dengan profil Th2 dominan
Neutrofil dengan aktivasi makrofag
Sel mast dengan degranulasi akut
Manakah pernyataan paling tepat terkait ketidakseimbangan protease–antiprotease pada COPD?
Memicu fibrosis cepat melalui peningkatan antiprotease
Menyebabkan destruksi jaringan elastik oleh protease berlebih
Meningkatkan peradangan dengan menekan antiprotease
Mengurangi elastisitas alveoli melalui inhibisi protease
Perbedaan kunci inflamasi pada COPD dibanding asma adalah apa?
Dominasi Th2 dengan peningkatan IgE
Dominasi sel mast dengan histamin tinggi
Dominasi neutrofil dan IL‑8 meningkat
Dominasi eosinofil dan IL‑5 meningkat
Gangguan pertukaran gas yang lazim pada COPD lanjut meliputi apa?
Hipoksemia dengan hiperkapnia progresif
PaO2 normal dengan PaCO2 menurun
Hipoksemia dan hipokapnia persisten
Hiperksemia dengan hipokapnia ringan
Apa mekanisme yang menjelaskan hiperinflasi dinamik pada COPD saat latihan?
Penurunan resistensi jalan napas saat ekspirasi
Perangkap udara akibat ekspirasi terhambat
Peningkatan difusi oksigen dalam kapiler
Konstriksi bronkus karena alergi akut
Mengapa COPD dapat menimbulkan hipertensi pulmonal kronik?
Hipoksemia menyebabkan vasodilatasi arteriol paru
Inflamasi menurunkan resistensi vaskular paru
Hipoksemia memicu vasokonstriksi kapiler paru
Hiperkapnia mengurangi tonus vaskular sistemik
Pada eksaserbasi COPD dengan retensi CO2, respons ginjal terhadap asidosis respiratorik adalah apa?
Retensi kalium untuk meningkatkan ventilasi
Ekskresi natrium untuk menurunkan PaCO2
Retensi bikarbonat untuk menetralkan asam
Ekskresi bikarbonat untuk menurunkan pH
Pada COPD, perubahan struktural yang sering ditemukan di jalan napas kecil adalah apa?
Metaplasia mukosa dengan produksi mukus tinggi
Penipisan epitel dengan ciliary motility meningkat
Hiperplasia kelenjar tanpa mukus kental
Hilangnya sel goblet tanpa perubahan mukus
Pada pasien dengan dugaan COPD, kriteria spirometri yang menegakkan diagnosis adalah nilai FEV1/FVC setelah bronkodilator yang menunjukkan hasil apa?
Lebih dari 0,80 pada uji awal
Meningkat menjadi 0,85 pascasedasi
Kurang dari 0,70 secara persisten
Sama dengan 0,75 setelah latihan
Gejala yang paling khas dan sering dilaporkan pada COPD meliputi kombinasi mana?
Edema tungkai, palpitasi, ikterus
Hemoptisis akut, nyeri pleuritik, sinkop
Batuk kronis, produksi sputum, dispnea
Demam tinggi, ruam kulit, diare
Pada pemeriksaan fisik COPD, tanda penggunaan otot bantu pernapasan biasanya terlihat kapan?
Saat berjalan dengan lengan terangkat
Saat menahan napas selama bicara
Saat inspirasi cepat saat tidur
Saat ekspirasi dengan pursed-lip
Dalam prosedur pascabronkodilator, kapan FEV1 sebaiknya diukur kembali setelah pemberian agonis β2 kerja cepat melalui inhaler?
90 menit atau 120 menit
5 menit atau 60 menit
2 menit atau 10 menit
15 menit atau 30–45 menit
Faktor risiko yang perlu dievaluasi pada pasien tanpa riwayat merokok tetapi dengan gejala COPD adalah apa?
Infeksi virus lama dan alergi makanan
Riwayat transfusi dan hipoglikemia
Hipertiroidisme dan diet rendah lemak
Defisiensi α1-antitripsin dan pajanan lingkungan
Temuan laboratorium yang dapat terlihat pada dekompensasi akut COPD termasuk kombinasi mana?
pH >7,45, PaO2 >95 mm Hg, PaCO2 <35 mm Hg
pH <7,35, PaO2 <80 mm Hg, PaCO2 >50 mm Hg
pH <7,20, PaO2 >120 mm Hg, PaCO2 <25 mm Hg
pH =7,40, PaO2 =100 mm Hg, PaCO2 =40 mm Hg
Pasien dengan COPD sering mengalami toleransi aktivitas menurun. Strategi sederhana untuk mengurangi dyspnea saat ekspirasi yang sering diajarkan adalah apa?
Hyperventilasi cepat saat inspirasi
Berbaring telentang selama aktivitas
Teknik pursed-lip saat menghembuskan napas
Menahan napas selama 10 detik setiap menit
Pada kriteria spirometri GOLD, apa definisi GOLD 1 (mild) setelah bronkodilator?
FEV1/FVC ≥70%, FEV1 <80%
FEV1/FVC <70%, FEV1 <80%
FEV1/FVC ≥70%, FEV1 ≥80%
FEV1/FVC <70%, FEV1 ≥80%
Skala mMRC menilai derajat dispnea dengan rentang skor berapa?
1 sampai 5
0 sampai 4
0 sampai 3
0 sampai 2
Pada CAT, berapa skor total maksimum dan apa interpretasi skor yang lebih tinggi?
Maks 20, lebih tinggi lebih sedikit gejala
Maks 30, lebih tinggi lebih sedikit gejala
Maks 40, lebih tinggi lebih banyak gejala
Maks 50, lebih tinggi lebih banyak gejala
Cut-off mMRC yang umum digunakan untuk membedakan 'lebih banyak gejala' adalah berapa?
mMRC ≥4
mMRC ≥2
mMRC ≥3
mMRC ≥1
Pada tabel penilaian gabungan, berapa jumlah eksaserbasi dalam 12 bulan terakhir yang menandakan risiko tinggi?
≥3 atau ≥2 rawat inap
≥1 tanpa rawat inap
≥1 dengan rawat inap
≥2 atau ≥1 rawat inap
Indeks BODE mencakup komponen mana berikut?
BMI, FEV1, mMRC, jarak 6MWT
BMI, CAT, mMRC, saturasi SpO2
FEV1, CAT, CCQ, jarak 6MWT
FEV1, mMRC, CCQ, PaO2
Indeks ADO terdiri dari komponen apa?
Usia, CAT, FEV1
Usia, CCQ, FEV1
Usia, mMRC, FEV1
BMI, mMRC, FEV1
Tujuan utama pengelolaan COPD secara umum adalah apa?
Mengurangi semua efek samping obat
Menghilangkan kebutuhan oksigen tambahan
Mencegah atau memperlambat progresi penyakit
Meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang
Pada penilaian CAT, berapa banyak item yang dinilai dan skala skor tiap item?
10 item, skor 0–5 per item
8 item, skor 0–4 per item
10 item, skor 0–4 per item
8 item, skor 0–5 per item
Pada diagram proses perawatan pasien COPD, urutan lima langkah inti yang benar adalah apa?
Follow-up, Implement, Assess, Plan, Collect
Implement, Plan, Collect, Assess, Follow-up
Plan, Collect, Follow-up, Assess, Implement
Assess, Collect, Implement, Plan, Follow-up
Collect, Assess, Plan, Implement, Follow-up
Selama tahap Collect pada manajemen COPD, informasi mana yang paling tepat dikumpulkan?
Rujukan ke rehabilitasi pulmoner bila sesuai
Regimen obat rinci dan durasi terapi
Karakteristik pasien dan riwayat eksaserbasi
Penentuan pencapaian tujuan terapi dan efek samping
Teknik pemberian inhaler dan pengenalan eksaserbasi
Langkah Plan dalam perawatan COPD biasanya mencakup tindakan apa?
Menetapkan tujuan spesifik pasien dan memilih terapi
Melakukan edukasi pasien mengenai seluruh rencana
Mengumpulkan spirometri dan kuesioner gejala
Menilai derajat obstruksi dan risiko eksaserbasi
Mengukur kepatuhan pasien terhadap rencana
Pada tahap Implement, tindakan utama yang ditekankan adalah apa?
Memberikan edukasi pasien dan teknik motivasional
Menentukan pencapaian tujuan dan memantau efek samping
Menilai kesiapan berhenti merokok dan kemampuan membayar
Menetapkan kategori GOLD dan tingkat risiko
Melakukan spirometri untuk konfirmasi diagnosis
Dalam Follow-up: Monitor and Evaluate, apa fokus yang paling tepat?
Menilai pencapaian tujuan, efek terkait terapi, dan kepatuhan
Mengajarkan teknik penggunaan inhaler pertama kali
Mengembangkan rencana obat awal dan strategi pencegahan
Mengumpulkan riwayat penyakit 12 bulan terakhir
Menentukan kebutuhan oksigen pada obstruksi berat
Urutan lengkap strategi 5 A untuk berhenti merokok adalah
Assess, Ask, Advise, Arrange, Assist
Advise, Ask, Assist, Assess, Arrange
Ask, Advise, Assess, Assist, Arrange
Ask, Assess, Advise, Arrange, Assist
Arrange, Assist, Advise, Assess, Ask
Tujuan utama pendekatan 5 A pada pasien perokok adalah
Mengurangi kebutuhan oksigen jangka panjang
Menilai fungsi paru dengan spirometri berkala
Mengganti nikotin dengan varenicline secepatnya
Meningkatkan identifikasi dan dukungan berhenti merokok
Meningkatkan efektivitas operasi reduksi volume
Pernyataan yang benar tentang manfaat berhenti merokok pada COPD adalah
Meningkatkan FEV1 secara permanen besar
Hanya bermanfaat pada COPD sangat ringan
Tidak memengaruhi mortalitas jangka panjang
Memperlambat penurunan fungsi paru dan progresi
Efeknya setara dengan bronkodilator kuat
Contoh intervensi "Assist" dalam 5 A adalah
Menanyakan status merokok setiap kunjungan
Menilai kesiapan pasien untuk berhenti
Meresepkan farmakoterapi dan konseling perilaku
Memberi nasihat singkat untuk berhenti merokok
Menjadwalkan follow-up untuk pantauan
Kapan "Arrange" dalam 5 A dilakukan
Saat menilai motivasi berhenti pasien
Sebelum memberi saran berhenti merokok
Ketika pasien belum siap berhenti sama sekali
Saat pertama kali menanyakan status merokok
Setelah intervensi awal untuk memantau pantang
Farmakoterapi lini pertama untuk berhenti merokok meliputi
Bupropion, NRT, vareniklin
Vareniklin, nortriptilin, clonidine
Bupropion, cytisine, gabapentin
NRT, buspiron, topiramate
Nortriptilin, clonidine, naltrexone
Durasi umum terapi bupropion untuk berhenti merokok adalah
7 hari pra-henti lalu stop total
Hingga 24 minggu pada semua pasien
Hanya 4 minggu tanpa titrasi
Sekitar 12 minggu dengan titrasi awal
3–6 bulan dengan dosis meningkat harian
Keluhan yang sering pada terapi nikotin inhaler adalah
Batuk produktif menetap
Nausea dan mimpi hidup
Nyeri dada dan palpitasi
Insomnia dan mulut kering
Iritasi mulut dan tenggorok
Efek samping yang umum terkait vareniklin adalah
Edema perifer progresif
Mulut kering dan konstipasi
Bronkospasme dan wheezing
Hipotensi dan pusing berat
Mual dan gangguan tidur
Komponen utama program rehabilitasi pulmoner yang efektif termasuk
Terapi antibiotik profilaksis harian
Bronkoskopi diagnostik berkala
Latihan fisik, edukasi, dukungan psikososial
Diet ketogenik ketat untuk semua pasien
Ventilasi mekanik jangka panjang rutin
Manfaat rehabilitasi pulmoner pada pasien COPD adalah
Menurunkan kebutuhan oksigen pada semua kasus
Meningkatkan FEV1 besar secara konsisten
Menggantikan kebutuhan bronkodilator inhalasi
Menyembuhkan obstruksi jalan napas sepenuhnya
Meningkatkan toleransi latihan dan kualitas hidup
Kriteria institusi terapi oksigen jangka panjang pada COPD meliputi
SaO2 ≤ 88% atau PaO2 ≤ 55 mm Hg saat istirahat
SaO2 ≥ 95% saat berjalan cepat
PaO2 65–75 mm Hg dengan hiperventilasi
SaO2 90% pada malam hari tanpa gejala
PaO2 50 mm Hg dengan alkalosis metabolik
Rekomendasi vaksin untuk pasien COPD biasanya mencakup
Vaksin rabies untuk semua perokok aktif
Influenza tahunan dan pneumokokus sesuai usia
Tidak ada vaksin khusus yang disarankan
Vaksin varicella rutin tanpa pengecualian
Hanya vaksin tetanus setiap 10 tahun
Pada pasien COPD kelompok A (gejala ringan, risiko eksaserbasi rendah), pilihan awal yang paling tepat adalah apa?
Mulai kombinasi LABA + LAMA segera
Tawarkan bronkodilator kerja pendek atau kerja panjang
Bronkodilator kerja pendek saja setiap hari
Mulai ICS tunggal sebagai terapi dasar
Pada kelompok B (lebih banyak gejala, risiko eksaserbasi rendah), terapi awal yang dianjurkan adalah apa?
Mulai ICS/LABA untuk pencegahan eksaserbasi
Mulai triple therapy LABA/LAMA/ICS
Mulai LAMA atau LABA untuk kontrol gejala
Mulai SABA sesuai kebutuhan tanpa controller
Pada kelompok C (gejala ringan, risiko eksaserbasi tinggi), strategi awal yang direkomendasikan adalah apa?
Antibiotik profilaksis untuk menekan eksaserbasi
ICS tunggal untuk menurunkan inflamasi
Mulai bronkodilator kerja panjang untuk pencegahan eksaserbasi
LABA monoterapi untuk gejala harian
Pada kelompok D (lebih banyak gejala, risiko eksaserbasi tinggi), pernyataan mana yang benar?
LABA lebih unggul dibanding LAMA tunggal
SABA harian merupakan strategi utama
LAMA lebih disukai untuk monoterapi awal
ICS tunggal direkomendasikan pada semua pasien
Kapan penambahan ICS dipertimbangkan pada COPD stabil?
Jika pasien tidak pernah merokok
Jika gejala ringan tanpa eksaserbasi
Jika eosinofil darah ≥300 sel/µL atau eksaserbasi berat
Jika FEV1 normal tetapi ada batuk
Untuk pasien dengan dyspnea yang menetap saat monoterapi LABA atau LAMA, langkah eskalasi yang dianjurkan adalah apa?
Tambah roflumilast untuk sesak
Tambah bronkodilator kerja panjang kedua menjadi LABA + LAMA
Stop semua obat dan mulai SAMA
Ganti ke ICS tunggal segera
Jika pasien dengan LABA + ICS tetap sesak, strategi yang tepat adalah apa?
Hentikan ICS dan mulai SABA harian
Turun ke LABA saja untuk sederhana
Tambah LAMA menjadi terapi triple
Tambah antibiotik profilaksis jangka panjang
Pada eksaserbasi berulang saat monoterapi LABA atau LAMA, langkah eskalasi utama adalah apa?
Turunkan ke SABA sesuai kebutuhan
Hentikan bronkodilator dan mulai teofilin
Tambah ICS ke LABA atau LAMA
Tambah antitusif rutin tiap malam
Jika pasien sudah menggunakan LABA + LAMA dan tetap mengalami eksaserbasi, kapan ICS ditambahkan?
Jika eosinofil darah ≥300 atau ≥100 dengan eksaserbasi
Jika CAT score rendah tetapi ada batuk
Jika gejala membaik namun FEV1 normal
Jika pasien berhenti merokok total
Kapan de-eskalasi ICS dipertimbangkan pada COPD stabil?
Jika dyspnea berat saat bronkodilator tunggal
Jika pneumonia berulang atau respons tidak adekuat
Jika pasien baru mulai merokok lagi
Jika eosinofil tinggi dan eksaserbasi berat
Evaluasi berkala sebelum memodifikasi terapi pada COPD stabil sebaiknya mencakup apa?
Riwayat eksaserbasi, teknik inhaler, kepatuhan, dan skor gejala
Tes genetik untuk defisiensi enzim
Foto toraks rutin tiap bulan
Uji alergi makanan tahunan
Manfaat utama bronkodilator pada COPD adalah apa?
Menghilangkan inflamasi dan kebutuhan vaksin
Menyembuhkan penyakit dengan memperbaiki FEV1 permanen
Meningkatkan kapasitas latihan dan menurunkan sesak
Mencegah semua eksaserbasi tanpa kombinasi lain
Untuk pasien dengan FEV1 ≤50% dan bronkitis kronis, serta eksaserbasi sering, tambahan mana yang dapat dipertimbangkan?
Roflumilast sebagai terapi anti-inflamasi PDE4
Vasodilator sistemik untuk perfusi
Azitromisin jangka pendek selama 3 hari
Teofilin dosis rendah sebagai pilihan utama
Pada eksaserbasi berulang pada LABA + ICS, jika ada pneumonia atau indikasi tidak tepat, langkah yang dianjurkan adalah apa?
Tambah teofilin untuk mengurangi infeksi
De-eskalasi ke LABA + LAMA tanpa ICS
Tetap dengan ICS meski tidak ada respons
Hentikan semua bronkodilator sementara
Untuk pasien perokok atau mantan perokok dengan eksaserbasi berulang, terapi tambahan yang bisa dipertimbangkan adalah apa?
Beta-bloker untuk menurunkan inflamasi
Kortikosteroid oral jangka panjang harian
Azitromisin tiga kali seminggu selama 12 bulan
Oksigen tambahan pada semua waktu
Mana contoh agen SABA untuk COPD yang diberikan melalui inhalasi aerosol dosis terukur (MDI)?
Tiotropium bromida SMI, sekali sehari
Salmeterol xinafoat DPI, dua kali sehari
Ipratropium bromida MDI, empat kali sehari
Levalbuterol tartrat MDI, tiga sampai empat kali sehari
Albuterol sulfat MDI, empat sampai enam kali sehari
Agen SAMA yang lazim sebagai inhaler MDI dengan frekuensi empat kali sehari adalah
Ipratropium bromida MDI, empat kali sehari
Glycopyrrolate nebulisasi, dua kali sehari
Aclidinium bromide DPI, dua kali sehari
Formoterol fumarate nebulisasi, dua kali sehari
Arformoterol tartrate nebulisasi, dua kali sehari
Mana pasangan LABA dan perangkat yang benar?
Arformoterol tartrate melalui SMI dua kali sehari
Olodaterol HCl melalui DPI sekali sehari
Formoterol fumarate melalui MDI dua kali sehari
Salmeterol xinafoat melalui DPI dua kali sehari
Indacaterol maleate melalui nebulizer dua kali sehari
LAMA yang umum diberikan sekali sehari melalui SMI adalah
Glycopyrrolate MDI, dua kali sehari
Aclidinium bromide DPI, dua kali sehari
Tiotropium bromida SMI, sekali sehari
Umeclidinium bromide DPI, dua kali sehari
Revefenacin nebulisasi, sekali sehari
Umeclidinium bromide biasanya diberikan dengan perangkat apa dan frekuensi apa?
DPI, sekali sehari
DPI, dua kali sehari
SMI, sekali sehari
MDI, dua kali sehari
Nebulisasi, tiga kali sehari
Contoh ICS yang tersedia sebagai suspensi nebulisasi adalah
Fluticasone propionate MDI, dua kali sehari
Beclomethasone dipropionate MDI, dua kali sehari
Fluticasone furoate DPI, sekali sehari
Budesonide suspensi nebulisasi, sekali atau dua kali sehari
Mometasone furoate DPI, dua kali sehari
Kombinasi SABA/SAMA dalam larutan inhalasi yang digunakan empat sampai enam kali sehari adalah
Glycopyrrolate dengan formoterol aerosol metered
Olodaterol dengan tiotropium spray metered
Fluticasone dengan salmeterol powder inhalation
Albuterol sulfat dengan ipratropium bromida larutan
Budesonide dengan formoterol aerosol metered
Kombinasi LABA/LAMA sekali sehari dengan perangkat SMI adalah
Aclidinium dengan formoterol DPI, dua kali sehari
Revefenacin dengan arformoterol nebulisasi, dua kali sehari
Umeclidinium dengan vilanterol DPI, sekali sehari
Tiotropium dengan olodaterol SMI, sekali sehari
Glycopyrrolate dengan formoterol MDI, dua kali sehari
Kombinasi ICS/LABA dua kali sehari dalam MDI adalah
Mometasone dengan formoterol MDI, sekali sehari
Fluticasone furoate dengan vilanterol DPI, sekali sehari
Beclomethasone dengan indacaterol DPI, dua kali sehari
Budesonide dengan formoterol MDI, dua kali sehari
Fluticasone propionate dengan salmeterol DPI, dua kali sehari
Kombinasi triple ICS/LAMA/LABA sekali sehari tersedia sebagai
Fluticasone furoate, umeclidinium, vilanterol DPI
Mometasone, glycopyrrolate, indacaterol SMI
Beclomethasone, aclidinium, formoterol DPI
Budesonide, formoterol, glycopyrrolate DPI
Fluticasone propionate, tiotropium, salmeterol MDI
Perangkat mana yang termasuk soft mist inhaler (SMI) dalam referensi ini?
Striverdi Respimat untuk LABA
Spiriva Respimat untuk LAMA
Semua jawaban benar
Stiolto Respimat untuk LABA/LAMA
Combivent Respimat untuk SABA/SAMA
Di antara opsi berikut, mana yang benar tentang frekuensi Revefenacin?
Nebulisasi sekali sehari
MDI dua kali sehari
SMI sekali sehari
Nebulisasi empat kali sehari
DPI dua kali sehari
Beta-agonis kerja singkat yang direkomendasikan sebagai obat rescue untuk gejala akut pada COPD adalah
Metilxantin kapsul lepas lambat
ICS oral tablet harian
LAMA via SMI sekali sehari
LABA nebulisasi dosis tinggi
SABA inhalasi via MDI atau DPI
Risiko efek samping lebih tinggi pada pasien COPD dibanding asma terutama karena
ICS selalu menyebabkan takikardia
LABA tidak pernah digunakan pada COPD
Komorbid lebih banyak pada pasien COPD
Dosis inhalasi selalu lebih tinggi
MDI kurang efektif dibanding nebulisasi
Dalam penggunaan antikolinergik kerja singkat, peningkatan jumlah hisapan menyebabkan
Efek bronkodilatasi meningkat tanpa batas
Respons dosis-respons terbatas
Efek ICS sinergis langsung
Kontraindikasi absolut untuk LABA
Risiko hipokalemia akut meningkat
Salah satu efek samping yang dapat terjadi pada inhalasi β2-agonis adalah
Takikardia dan tremor halus
Bradikardia dan hipotiroid
Hiperglikemia berat segera
Agranulositosis akut
Anafilaksis selalu terjadi
SABA via parenteral untuk COPD akut umumnya
Paling aman untuk lansia
Tidak dianjurkan karena tidak lebih efektif
Selalu lebih efektif daripada inhalasi
Lebih disukai pada rawat jalan
Wajib diberikan bersama ICS
Untuk pasien dengan eksaserbasi yang sering, strategi yang meningkatkan toleransi latihan dan mengurangi kekambuhan adalah
Penggunaan bronkodilator kerja panjang
Tambah teofilin oral rutin
Hanya SABA sesuai kebutuhan
Stop semua antikolinergik
Mengganti inhaler dengan nebulizer selalu
Di antara perangkat berikut, mana yang merupakan DPI untuk ICS atau kombinasi?
Arnuity Ellipta untuk fluticasone furoate
Semua jawaban benar
Trelegy Ellipta untuk triple terapi
Advair Diskus untuk fluticasone-salmeterol
Pulmicort Flexhaler untuk budesonide
Teofilin dengan pelepasan diperpanjang biasanya diberikan dengan frekuensi
Hanya saat eksaserbasi akut
Setiap 8 jam selalu
Sekali seminggu oral
Empat kali sehari tetap
Sekali atau dua kali sehari
Pernyataan yang tepat tentang ipratropium bromida untuk COPD adalah
Tidak tersedia dalam MDI
Onset lebih lambat daripada albuterol
Tidak pernah digunakan sebagai PRN
Selalu dikombinasi dengan ICS
Menimbulkan bronkospasme segera
Mana pernyataan yang paling tepat mengenai peran LABA dan LAMA pada pasien COPD dengan gejala persisten?
LAMA lebih efektif untuk gejala akut dibanding SABA
LABA hanya digunakan pada pasien dengan eosinofil tinggi
LABA lebih unggul untuk mencegah eksaserbasi dibanding LAMA
LABA dan LAMA sama efektif untuk kontrol gejala harian
Pada COPD, kapan terapi bronkodilator long-acting biasanya dipilih sebagai langkah awal dibanding step-up dari short-acting?
Saat pasien memiliki riwayat asma masa kecil
Saat pasien mengalami pneumonia bakterial akut
Saat pasien memiliki gejala persisten atau membutuhkan kontrol harian
Saat pasien baru pertama kali mencoba inhaler
Manakah alasan utama memantau kadar teofilin pada terapi COPD?
Untuk menyesuaikan dosis berdasarkan indeks massa tubuh pasien
Untuk mendeteksi variabilitas farmakokinetik dan risiko toksisitas
Untuk memastikan kombinasi LABA/LAMA digunakan secara konsisten
Untuk menilai kepatuhan pasien terhadap ICS harian
Gejala toksisitas teofilin yang perlu diwaspadai meliputi?
Dispepsia, mual, tremor, takikardia, hingga kejang
Bradikardia dan hipotermia ringan
Hipoglikemia dengan keringat dingin
Ruam kulit ringan tanpa gejala sistemik
Faktor yang dapat meningkatkan klirens teofilin sehingga butuh dosis lebih tinggi adalah?
Defisiensi alfa-1 antitripsin kongenital
Gagal jantung kanan dengan edema perifer berat
Merokok dan penggunaan obat seperti fenitoin
Hipotirodisme dengan bradikardia kronik
Pada pasien COPD stabil, penggunaan steroid sistemik jangka panjang sebaiknya?
Diprioritaskan pada pasien dengan BMI >30 kg/m2
Dilakukan jika pasien tidak toleran terhadap bronkodilator
Dihindari karena manfaat kecil dan risiko signifikan
Menjadi terapi lini pertama untuk mencegah eksaserbasi
Risiko yang meningkat dengan penggunaan ICS pada COPD adalah?
Hipotiroidisme subklinis
Anemia aplastik idiopatik
Hipertensi arteri pulmonal akut
Pneumonia dan kandidiasis oral
Kriteria umum memulai ICS pada COPD meliputi?
Riwayat eksaserbasi berulang dan eosinofil darah tinggi
FEV1 normal dan tidak ada eksaserbasi setahun terakhir
Riwayat pneumotoraks spontan tanpa eksaserbasi
PPOK ringan dengan gejala minimal
Pada pasien dengan eksaserbasi berulang meski sudah LABA/LAMA, strategi kombinasi yang disarankan adalah?
Menambah ICS menjadi terapi triple dengan satu perangkat
Beralih ke monoterapi LABA saja
Menghentikan bronkodilator dan memakai teofilin saja
Mengganti ke SABA prn tanpa pemeliharaan
Kapan ICS dapat dipertimbangkan untuk dihentikan pada pasien COPD?
Saat pasien mulai menggunakan roflumilast
Saat eosinofil darah konsisten >300 sel/µL
Saat tidak ada indikasi berbasis bukti dan tidak ada manfaat
Saat baru satu bulan terapi ICS dimulai
Roflumilast, sebagai inhibitor PDE-4, paling bermanfaat pada pasien COPD dengan profil berikut:
Emfisema murni tanpa sputum produktif
Bronkospasme intermiten tanpa riwayat eksaserbasi
Fenotipe bronkitis kronik dengan eksaserbasi berulang
Eosinofil sangat tinggi dan tersangka asma-overlap
Dosis teofilin biasanya dititrasi dengan target konsentrasi terapi sekitar:
>40 mg/L pada pasien perokok aktif
20–30 mg/L untuk efek bronkodilatasi maksimal
5–15 mg/L dengan pemantauan efek samping
1–3 mg/L untuk keamanan optimal
Pada pasien COPD dengan eosinofil 100–300 sel/µL dan eksaserbasi berulang, pilihan terapi yang rasional adalah?
Menghentikan semua bronkodilator dan memulai metilprednisolon
Menggunakan steroid oral jangka panjang
Menambah ICS sebagai bagian kombinasi dual atau triple
LABA/LAMA saja tanpa tambahan
Bukti klinis menunjukkan bahwa dibanding ICS/LABA, kombinasi LAMA/LABA dalam pencegahan eksaserbasi cenderung:
Setara efektif dengan risiko pneumonia lebih tinggi
Tidak efektif dan meningkatkan rawat inap
Lebih efektif dengan risiko pneumonia lebih rendah
Kurang efektif dengan risiko pneumonia lebih rendah
Pada pasien yang mengalami pneumonia berulang terkait ICS, keputusan terapi yang tepat adalah?
Mengganti ICS dengan teofilin dosis tinggi
Evaluasi manfaat-risiko dan pertimbangkan penghentian ICS
Melanjutkan ICS tanpa perubahan sambil observasi
Menaikkan dosis ICS untuk kontrol inflamasi
Manakah yang termasuk gejala kardinal AECOPD yang digunakan untuk staging?
Demam tinggi, menggigil, diare
Peningkatan sputum, dispnea, purulensi sputum
Batuk kering, nyeri pleura, hemoptisis ringan
Palpitasi, nyeri epigastrium, pusing
Pada derajat sedang AECOPD, berapa jumlah gejala kardinal yang biasanya ada?
Empat gejala kardinal
Tiga gejala kardinal
Satu gejala kardinal
Dua gejala kardinal
Apa tujuan utama terapi AECOPD di ruang perawatan?
Mengurangi gejala, mencegah rawat inap, mencegah KTD
Menghentikan seluruh obat bronkodilator kronik
Mengurangi frekuensi batuk malam hari
Meningkatkan nafsu makan dan berat badan
Faktor mana yang mendukung keputusan rawat inap untuk AECOPD?
Riwayat merokok masa lalu saja
BMI di atas 30 tanpa gejala lain
Riwayat alergi makanan ringan
Komorbiditas berat seperti CHF atau pneumonia
Pada penilaian AECOPD tanpa gagal napas, temuan yang diharapkan adalah?
Frekuensi napas normal, hipoksemia berat
Frekuensi napas >30, perubahan mental
Hipoksemia tidak membaik dengan O2
Frekuensi napas 20–30, tanpa penggunaan otot bantu
Kapan antibiotik diindikasikan pada AECOPD?
Adanya tiga gejala kardinal atau kebutuhan ventilasi
Jika sputum berkurang volumenya
Hanya bila ada demam tinggi saja
Setiap eksaserbasi tanpa pengecualian
Kapan kortikosteroid sistemik direkomendasikan pada AECOPD?
Pada derajat sedang–berat untuk mempercepat pemulihan
Hanya pada derajat ringan tanpa purulensi
Jika pasien sudah memakai ICS jangka panjang
Tidak pernah direkomendasikan
Terapi oksigen pada AECOPD bertujuan mencapai target saturasi berapa?
70–75 persen selama tidur
95–100 persen dengan aliran tinggi
88–92 persen dengan titrasi hati-hati
80–85 persen untuk mencegah hiperkapnia
Kandidat yang sesuai untuk NIV pada AECOPD adalah pasien dengan?
Keadaan mental tidak stabil berat
pH normal tanpa hiperkapnia
Tidak ada hipoksemia dan tidak sesak
Gagal napas akut non–life-threatening
Temuan yang menandai gagal napas akut life-threatening pada AECOPD adalah?
Frekuensi napas 16–18 per menit, saturasi normal
Hipoksemia tidak membaik dengan O2, acidosis pH <7,25
Peningkatan PaO2 di atas 90 mm Hg
Penurunan PaCO2 menjadi <20 mm Hg
Pada bronkodilator saat eksaserbasi, mengapa agonis β2 kerja pendek diprioritaskan?
Efek antimikroba langsung pada sputum
Mencegah retensi cairan sistemik
Onset cepat dan dapat dititrasi dosis
Mengurangi kebutuhan antibiotik sistemik
Apa peran antikolinergik dalam AECOPD jika gejala menetap?
Ditambahkan bersama β2 agonis untuk bronkodilatasi
Menggantikan semua β2 agonis segera
Digunakan hanya bila ada pneumonia
Tidak boleh digunakan pada gagal napas
Komponen penting perencanaan pulang setelah AECOPD adalah?
Penghentian semua obat pemeliharaan
Hanya kontrol bila gejala kembali
Edukasi inhaler, rencana berhenti merokok, vaksinasi
Larangan aktivitas fisik selama 1 bulan
Pada AECOPD dengan pH <7,25 dan ketidakstabilan hemodinamik, tindakan yang tepat adalah?
Lanjutkan terapi rumah tanpa observasi
Berikan diuretik loop rutin
Mulai nifedipin oral dosis rendah
Hindari NIV dan pertimbangkan intubasi
Apa temuan pemeriksaan fisik yang sering pada AECOPD?
Wheezing dan bunyi napas mengi kasar
Mur mur sistolik grade III
Clubbing jari progresif cepat
Nyeri tekan abdomen difus
Pemeriksaan penunjang yang lazim untuk menilai infeksi pada AECOPD adalah?
Sputum untuk Gram dan kultur
EEG untuk aktivitas otak
USG abdomen rutin
Angiografi koroner segera
Kapan pasien AECOPD mungkin memerlukan rawat inap intensif?
Hipoksemia persisten, perubahan mental, asidosis berat
Dispnea ringan saat latihan saja
Batuk ringan tanpa perubahan sputum
Riwayat merokok 10 tahun tanpa gejala
Pada pasien AECOPD dengan peningkatan purulensi sputum dan peningkatan produksi sputum, pilihan awal antibiotik untuk eksaserbasi tidak terkomplikasi biasanya adalah makrolida. Pilihan lain yang setara untuk skenario ini adalah?
Kotrimoksazol jangka pendek
Fluorokuinolon antipseudomonas
Doksisiklin oral selama 5–7 hari
Amoksisilin-klavulanat dosis tinggi
Pada pasien AECOPD berisiko kolonisasi kuman resisten (riwayat terapi kortikosteroid kronik dan rawat inap 90 hari), antibiotik yang disarankan mencakup fluorokuinolon dengan aktivitas pneumokokus. Contoh yang tepat adalah?
Siprofloksasin monoterapi
Levofloksasin atau moksifloksasin
Azitromisin intravena
Amoksisilin saja
Durasi terapi antibiotik yang dianjurkan untuk AECOPD yang merespons adalah
Berhenti saat gejala membaik hari ke-2
1–3 hari untuk semua pasien
Setidaknya 5–7 hari
10–14 hari wajib
Kortikosteroid sistemik pada AECOPD umumnya diberikan sebagai prednison oral (atau ekuivalen). Regimen yang lazim dan efektif untuk kebanyakan pasien adalah
40 mg sekali sehari selama 5 hari
Hanya jika gagal bronkodilator
10 mg dua kali sehari selama 14 hari
Taper 21 hari dimulai IV
Penggunaan terapi oksigen terkontrol pada AECOPD bertujuan untuk mencapai
Saturasi 100% tanpa risiko
SpO2 sekitar >90% (90–92%)
PaCO2 menurun cepat ke normal
PaO2 lebih dari 80 mmHg selalu
Indikasi NIMV pada AECOPD termasuk pasien dengan gagal pernapasan akut yang dapat dibalik. Kriteria yang mendukung inisiasi NIMV adalah
Hanya hipoksemia ringan
Hiperkapnia dengan asidosis respiratori
Asma stabil tanpa distress
Somnolen tanpa hiperkapnia
Penggunaan CRP sebagai panduan antibiotik pada AECOPD terutama bertujuan untuk
Memprediksi kebutuhan ventilator mekanik
Menentukan dosis steroid harian
Memilih jenis bronkodilator awal
Mengurangi pemberian antibiotik yang tidak perlu
Untuk follow-up setelah pulang, pasien harus menyelesaikan penilaian gejala seperti mMRC atau CAT. Waktu ideal pertama kali penilaian ini adalah
Ditunggu hingga 12–16 minggu
Sebelum atau saat kunjungan 1–4 minggu
Pada hari ke-14 setelah pulang
Hanya bila muncul gejala baru
Pada kunjungan 12–16 minggu pasca-pulang, salah satu fokus utama adalah
Menilai kesiapan berhenti merokok saja
Menilai kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari
Menghentikan semua inhaler sementara
Memberikan antibiotik pencegahan rutin
Dalam perawatan paliatif untuk COPD lanjut, diskusi yang efektif harus mencakup
Penolakan terhadap ventilasi noninvasif
Hanya pilihan terapi ICU
Nilai klinis, tujuan perawatan, dan preferensi pasien
Penetapan rawat inap berulang tanpa konsultasi
Tanda-tanda yang mendorong evaluasi kebutuhan hospice pada COPD lanjut termasuk
Gejala ringan yang mudah dikontrol
Penurunan fungsi dan eksaserbasi berulang
Peningkatan FEV1 konsisten
Tidak ada kebutuhan oksigen rumah
Selama AECOPD, selain gejala, parameter yang perlu dimonitor secara periodik untuk menilai respons terapi adalah
Urinalisis serial
Enzim hati harian
Hitung darah lengkap, ABG, saturasi oksigen
Tekanan darah saja
