wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

farter copd

Total questions: 134

Worksheet time: 1hrs 7mins

Name
Class
Date
1.

Apa definisi inti dari penyakit paru obstruktif kronik (COPD)?

a)

Infeksi paru kronik yang selalu responsif terhadap antibiotik

b)

Penyakit kronik dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel

c)

Kelainan alergi dengan hiperrespons bronkus yang sepenuhnya reversibel

d)

Gangguan akut dengan obstruksi aliran udara yang reversibel

2.

Tren mortalitas COPD di Amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir adalah

a)

Stabil tanpa perubahan berarti

b)

Menurun tajam pada semua kelompok umur

c)

Fluktuatif mengikuti musim dingin

d)

Meningkat dan menjadi penyebab kematian keempat

3.

Faktor risiko utama yang menjelaskan sekitar 75% kasus COPD di AS adalah

a)

Defisiensi alfa-1 antitripsin

b)

Polusi udara dalam ruangan dari biomassa

c)

Merokok tembakau aktif

d)

Paparan debu organik di tempat kerja

4.

Manakah pernyataan terbaik tentang patogenesis COPD pada diagram yang ditunjukkan?

a)

Pergeseran antioksidan berlebih mencegah remodeling saluran napas

b)

Perbaikan jaringan sepenuhnya meniadakan destruksi parenkim

c)

Hanya stres oksidatif memicu perubahan patologis

d)

Inflamasi paru memicu ketidakseimbangan protease–antiprotease

5.

Defisiensi alfa-1 antitripsin (AAT) berperan pada COPD terutama melalui

a)

Ketidakseimbangan protease–antiprotease yang merusak parenkim

b)

Supresi inflamasi sehingga menghambat fibrosis bronkial

c)

Peningkatan produksi mukus dan bronkospasme reversibel

d)

Aktivasi antioksidan yang memperkuat elastisitas alveolar

6.

Merokok pasif atau paparan asap lingkungan meningkatkan risiko COPD karena

a)

Menghambat protease sehingga mencegah kerusakan jaringan

b)

Meningkatkan paparan partikel noxious yang mencederai paru

c)

Mengurangi mediator inflamasi pada saluran napas

d)

Meningkatkan kemampuan elastik paru secara bertahap

7.

Pada populasi tanpa riwayat merokok, faktor risiko pekerjaan yang relevan meliputi

a)

Paparan suhu rendah di ruang pendingin

b)

Paparan kebisingan mesin intens

c)

Paparan cahaya ultraviolet berkepanjangan

d)

Paparan debu silika, asap iritan, dan uap industri

8.

Pernyataan yang tepat tentang epidemiologi merokok dan COPD adalah

a)

Wanita tidak pernah terpengaruh oleh perubahan kebiasaan merokok

b)

Tren merokok menurun, sehingga prevalensi COPD tidak berubah

c)

Pengurangan merokok selalu meniadakan risiko COPD pada semua orang

d)

Risiko COPD bergantung pada jumlah paket-tahun dan status merokok saat ini

9.

Ciri klinis bronkitis kronik yang mendukung diagnosis adalah

a)

Wheezing intermiten saat olahraga intens

b)

Hemoptisis berulang tanpa infeksi

c)

Sesak napas akut yang hilang dengan bronkodilator cepat

d)

Batuk produktif minimal 3 bulan per tahun selama 2 tahun

10.

Dalam patologi, destruksi parenkim pada COPD menyebabkan

a)

Peningkatan ikatan alveolar dan recoil elastik

b)

Kehilangan attachments alveolar dan penurunan recoil elastik

c)

Fibrosis bronkial yang meningkatkan lumen saluran napas

d)

Peningkatan produksi surfaktan dan kepatuhan paru

11.

Mengapa individu dengan asma dan hiperresponsivitas jalan napas memiliki risiko lebih tinggi terhadap COPD?

a)

Karena penggunaan ICS selalu meningkatkan risiko pneumonia berat

b)

Karena asma mencegah inflamasi sehingga terjadi penumpukan mukus

c)

Karena paparan partikel inhalasi pada asma dapat mempercepat cedera paru

d)

Karena bronkokonstriksi reversibel selalu menyebabkan emfisema

12.

Skenario: Seseorang bekerja di pabrik semen dan merokok ringan. Strategi prioritas untuk menurunkan risiko COPD adalah

a)

Meningkatkan aktivitas fisik tanpa perubahan paparan

b)

Mengonsumsi antibiotik profilaksis mingguan

c)

Menggunakan masker sesekali saat paparan tinggi

d)

Berhenti merokok dan mengurangi paparan debu industri

13.

Pada COPD, sel inflamasi yang dominan di jalan napas adalah apa?

a)

Limfosit B dengan produksi IgE

b)

Eosinofil dengan profil Th2 dominan

c)

Neutrofil dengan aktivasi makrofag

d)

Sel mast dengan degranulasi akut

14.

Manakah pernyataan paling tepat terkait ketidakseimbangan protease–antiprotease pada COPD?

a)

Memicu fibrosis cepat melalui peningkatan antiprotease

b)

Menyebabkan destruksi jaringan elastik oleh protease berlebih

c)

Meningkatkan peradangan dengan menekan antiprotease

d)

Mengurangi elastisitas alveoli melalui inhibisi protease

15.

Perbedaan kunci inflamasi pada COPD dibanding asma adalah apa?

a)

Dominasi Th2 dengan peningkatan IgE

b)

Dominasi sel mast dengan histamin tinggi

c)

Dominasi neutrofil dan IL‑8 meningkat

d)

Dominasi eosinofil dan IL‑5 meningkat

16.

Gangguan pertukaran gas yang lazim pada COPD lanjut meliputi apa?

a)

Hipoksemia dengan hiperkapnia progresif

b)

PaO2 normal dengan PaCO2 menurun

c)

Hipoksemia dan hipokapnia persisten

d)

Hiperksemia dengan hipokapnia ringan

17.

Apa mekanisme yang menjelaskan hiperinflasi dinamik pada COPD saat latihan?

a)

Penurunan resistensi jalan napas saat ekspirasi

b)

Perangkap udara akibat ekspirasi terhambat

c)

Peningkatan difusi oksigen dalam kapiler

d)

Konstriksi bronkus karena alergi akut

18.

Mengapa COPD dapat menimbulkan hipertensi pulmonal kronik?

a)

Hipoksemia menyebabkan vasodilatasi arteriol paru

b)

Inflamasi menurunkan resistensi vaskular paru

c)

Hipoksemia memicu vasokonstriksi kapiler paru

d)

Hiperkapnia mengurangi tonus vaskular sistemik

19.

Pada eksaserbasi COPD dengan retensi CO2, respons ginjal terhadap asidosis respiratorik adalah apa?

a)

Retensi kalium untuk meningkatkan ventilasi

b)

Ekskresi natrium untuk menurunkan PaCO2

c)

Retensi bikarbonat untuk menetralkan asam

d)

Ekskresi bikarbonat untuk menurunkan pH

20.

Pada COPD, perubahan struktural yang sering ditemukan di jalan napas kecil adalah apa?

a)

Metaplasia mukosa dengan produksi mukus tinggi

b)

Penipisan epitel dengan ciliary motility meningkat

c)

Hiperplasia kelenjar tanpa mukus kental

d)

Hilangnya sel goblet tanpa perubahan mukus

21.

Pada pasien dengan dugaan COPD, kriteria spirometri yang menegakkan diagnosis adalah nilai FEV1/FVC setelah bronkodilator yang menunjukkan hasil apa?

a)

Lebih dari 0,80 pada uji awal

b)

Meningkat menjadi 0,85 pascasedasi

c)

Kurang dari 0,70 secara persisten

d)

Sama dengan 0,75 setelah latihan

22.

Gejala yang paling khas dan sering dilaporkan pada COPD meliputi kombinasi mana?

a)

Edema tungkai, palpitasi, ikterus

b)

Hemoptisis akut, nyeri pleuritik, sinkop

c)

Batuk kronis, produksi sputum, dispnea

d)

Demam tinggi, ruam kulit, diare

23.

Pada pemeriksaan fisik COPD, tanda penggunaan otot bantu pernapasan biasanya terlihat kapan?

a)

Saat berjalan dengan lengan terangkat

b)

Saat menahan napas selama bicara

c)

Saat inspirasi cepat saat tidur

d)

Saat ekspirasi dengan pursed-lip

24.

Dalam prosedur pascabronkodilator, kapan FEV1 sebaiknya diukur kembali setelah pemberian agonis β2 kerja cepat melalui inhaler?

a)

90 menit atau 120 menit

b)

5 menit atau 60 menit

c)

2 menit atau 10 menit

d)

15 menit atau 30–45 menit

25.

Faktor risiko yang perlu dievaluasi pada pasien tanpa riwayat merokok tetapi dengan gejala COPD adalah apa?

a)

Infeksi virus lama dan alergi makanan

b)

Riwayat transfusi dan hipoglikemia

c)

Hipertiroidisme dan diet rendah lemak

d)

Defisiensi α1-antitripsin dan pajanan lingkungan

26.

Temuan laboratorium yang dapat terlihat pada dekompensasi akut COPD termasuk kombinasi mana?

a)

pH >7,45, PaO2 >95 mm Hg, PaCO2 <35 mm Hg

b)

pH <7,35, PaO2 <80 mm Hg, PaCO2 >50 mm Hg

c)

pH <7,20, PaO2 >120 mm Hg, PaCO2 <25 mm Hg

d)

pH =7,40, PaO2 =100 mm Hg, PaCO2 =40 mm Hg

27.

Pasien dengan COPD sering mengalami toleransi aktivitas menurun. Strategi sederhana untuk mengurangi dyspnea saat ekspirasi yang sering diajarkan adalah apa?

a)

Hyperventilasi cepat saat inspirasi

b)

Berbaring telentang selama aktivitas

c)

Teknik pursed-lip saat menghembuskan napas

d)

Menahan napas selama 10 detik setiap menit

28.

Pada kriteria spirometri GOLD, apa definisi GOLD 1 (mild) setelah bronkodilator?

a)

FEV1/FVC ≥70%, FEV1 <80%

b)

FEV1/FVC <70%, FEV1 <80%

c)

FEV1/FVC ≥70%, FEV1 ≥80%

d)

FEV1/FVC <70%, FEV1 ≥80%

29.

Skala mMRC menilai derajat dispnea dengan rentang skor berapa?

a)

1 sampai 5

b)

0 sampai 4

c)

0 sampai 3

d)

0 sampai 2

30.

Pada CAT, berapa skor total maksimum dan apa interpretasi skor yang lebih tinggi?

a)

Maks 20, lebih tinggi lebih sedikit gejala

b)

Maks 30, lebih tinggi lebih sedikit gejala

c)

Maks 40, lebih tinggi lebih banyak gejala

d)

Maks 50, lebih tinggi lebih banyak gejala

31.

Cut-off mMRC yang umum digunakan untuk membedakan 'lebih banyak gejala' adalah berapa?

a)

mMRC ≥4

b)

mMRC ≥2

c)

mMRC ≥3

d)

mMRC ≥1

32.

Pada tabel penilaian gabungan, berapa jumlah eksaserbasi dalam 12 bulan terakhir yang menandakan risiko tinggi?

a)

≥3 atau ≥2 rawat inap

b)

≥1 tanpa rawat inap

c)

≥1 dengan rawat inap

d)

≥2 atau ≥1 rawat inap

33.

Indeks BODE mencakup komponen mana berikut?

a)

BMI, FEV1, mMRC, jarak 6MWT

b)

BMI, CAT, mMRC, saturasi SpO2

c)

FEV1, CAT, CCQ, jarak 6MWT

d)

FEV1, mMRC, CCQ, PaO2

34.

Indeks ADO terdiri dari komponen apa?

a)

Usia, CAT, FEV1

b)

Usia, CCQ, FEV1

c)

Usia, mMRC, FEV1

d)

BMI, mMRC, FEV1

35.

Tujuan utama pengelolaan COPD secara umum adalah apa?

a)

Mengurangi semua efek samping obat

b)

Menghilangkan kebutuhan oksigen tambahan

c)

Mencegah atau memperlambat progresi penyakit

d)

Meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang

36.

Pada penilaian CAT, berapa banyak item yang dinilai dan skala skor tiap item?

a)

10 item, skor 0–5 per item

b)

8 item, skor 0–4 per item

c)

10 item, skor 0–4 per item

d)

8 item, skor 0–5 per item

37.

Pada diagram proses perawatan pasien COPD, urutan lima langkah inti yang benar adalah apa?

a)

Follow-up, Implement, Assess, Plan, Collect

b)

Implement, Plan, Collect, Assess, Follow-up

c)

Plan, Collect, Follow-up, Assess, Implement

d)

Assess, Collect, Implement, Plan, Follow-up

e)

Collect, Assess, Plan, Implement, Follow-up

38.

Selama tahap Collect pada manajemen COPD, informasi mana yang paling tepat dikumpulkan?

a)

Rujukan ke rehabilitasi pulmoner bila sesuai

b)

Regimen obat rinci dan durasi terapi

c)

Karakteristik pasien dan riwayat eksaserbasi

d)

Penentuan pencapaian tujuan terapi dan efek samping

e)

Teknik pemberian inhaler dan pengenalan eksaserbasi

39.

Langkah Plan dalam perawatan COPD biasanya mencakup tindakan apa?

a)

Menetapkan tujuan spesifik pasien dan memilih terapi

b)

Melakukan edukasi pasien mengenai seluruh rencana

c)

Mengumpulkan spirometri dan kuesioner gejala

d)

Menilai derajat obstruksi dan risiko eksaserbasi

e)

Mengukur kepatuhan pasien terhadap rencana

40.

Pada tahap Implement, tindakan utama yang ditekankan adalah apa?

a)

Memberikan edukasi pasien dan teknik motivasional

b)

Menentukan pencapaian tujuan dan memantau efek samping

c)

Menilai kesiapan berhenti merokok dan kemampuan membayar

d)

Menetapkan kategori GOLD dan tingkat risiko

e)

Melakukan spirometri untuk konfirmasi diagnosis

41.

Dalam Follow-up: Monitor and Evaluate, apa fokus yang paling tepat?

a)

Menilai pencapaian tujuan, efek terkait terapi, dan kepatuhan

b)

Mengajarkan teknik penggunaan inhaler pertama kali

c)

Mengembangkan rencana obat awal dan strategi pencegahan

d)

Mengumpulkan riwayat penyakit 12 bulan terakhir

e)

Menentukan kebutuhan oksigen pada obstruksi berat

42.

Urutan lengkap strategi 5 A untuk berhenti merokok adalah

a)

Assess, Ask, Advise, Arrange, Assist

b)

Advise, Ask, Assist, Assess, Arrange

c)

Ask, Advise, Assess, Assist, Arrange

d)

Ask, Assess, Advise, Arrange, Assist

e)

Arrange, Assist, Advise, Assess, Ask

43.

Tujuan utama pendekatan 5 A pada pasien perokok adalah

a)

Mengurangi kebutuhan oksigen jangka panjang

b)

Menilai fungsi paru dengan spirometri berkala

c)

Mengganti nikotin dengan varenicline secepatnya

d)

Meningkatkan identifikasi dan dukungan berhenti merokok

e)

Meningkatkan efektivitas operasi reduksi volume

44.

Pernyataan yang benar tentang manfaat berhenti merokok pada COPD adalah

a)

Meningkatkan FEV1 secara permanen besar

b)

Hanya bermanfaat pada COPD sangat ringan

c)

Tidak memengaruhi mortalitas jangka panjang

d)

Memperlambat penurunan fungsi paru dan progresi

e)

Efeknya setara dengan bronkodilator kuat

45.

Contoh intervensi "Assist" dalam 5 A adalah

a)

Menanyakan status merokok setiap kunjungan

b)

Menilai kesiapan pasien untuk berhenti

c)

Meresepkan farmakoterapi dan konseling perilaku

d)

Memberi nasihat singkat untuk berhenti merokok

e)

Menjadwalkan follow-up untuk pantauan

46.

Kapan "Arrange" dalam 5 A dilakukan

a)

Saat menilai motivasi berhenti pasien

b)

Sebelum memberi saran berhenti merokok

c)

Ketika pasien belum siap berhenti sama sekali

d)

Saat pertama kali menanyakan status merokok

e)

Setelah intervensi awal untuk memantau pantang

47.

Farmakoterapi lini pertama untuk berhenti merokok meliputi

a)

Bupropion, NRT, vareniklin

b)

Vareniklin, nortriptilin, clonidine

c)

Bupropion, cytisine, gabapentin

d)

NRT, buspiron, topiramate

e)

Nortriptilin, clonidine, naltrexone

48.

Durasi umum terapi bupropion untuk berhenti merokok adalah

a)

7 hari pra-henti lalu stop total

b)

Hingga 24 minggu pada semua pasien

c)

Hanya 4 minggu tanpa titrasi

d)

Sekitar 12 minggu dengan titrasi awal

e)

3–6 bulan dengan dosis meningkat harian

49.

Keluhan yang sering pada terapi nikotin inhaler adalah

a)

Batuk produktif menetap

b)

Nausea dan mimpi hidup

c)

Nyeri dada dan palpitasi

d)

Insomnia dan mulut kering

e)

Iritasi mulut dan tenggorok

50.

Efek samping yang umum terkait vareniklin adalah

a)

Edema perifer progresif

b)

Mulut kering dan konstipasi

c)

Bronkospasme dan wheezing

d)

Hipotensi dan pusing berat

e)

Mual dan gangguan tidur

51.

Komponen utama program rehabilitasi pulmoner yang efektif termasuk

a)

Terapi antibiotik profilaksis harian

b)

Bronkoskopi diagnostik berkala

c)

Latihan fisik, edukasi, dukungan psikososial

d)

Diet ketogenik ketat untuk semua pasien

e)

Ventilasi mekanik jangka panjang rutin

52.

Manfaat rehabilitasi pulmoner pada pasien COPD adalah

a)

Menurunkan kebutuhan oksigen pada semua kasus

b)

Meningkatkan FEV1 besar secara konsisten

c)

Menggantikan kebutuhan bronkodilator inhalasi

d)

Menyembuhkan obstruksi jalan napas sepenuhnya

e)

Meningkatkan toleransi latihan dan kualitas hidup

53.

Kriteria institusi terapi oksigen jangka panjang pada COPD meliputi

a)

SaO2 ≤ 88% atau PaO2 ≤ 55 mm Hg saat istirahat

b)

SaO2 ≥ 95% saat berjalan cepat

c)

PaO2 65–75 mm Hg dengan hiperventilasi

d)

SaO2 90% pada malam hari tanpa gejala

e)

PaO2 50 mm Hg dengan alkalosis metabolik

54.

Rekomendasi vaksin untuk pasien COPD biasanya mencakup

a)

Vaksin rabies untuk semua perokok aktif

b)

Influenza tahunan dan pneumokokus sesuai usia

c)

Tidak ada vaksin khusus yang disarankan

d)

Vaksin varicella rutin tanpa pengecualian

e)

Hanya vaksin tetanus setiap 10 tahun

55.

Pada pasien COPD kelompok A (gejala ringan, risiko eksaserbasi rendah), pilihan awal yang paling tepat adalah apa?

a)

Mulai kombinasi LABA + LAMA segera

b)

Tawarkan bronkodilator kerja pendek atau kerja panjang

c)

Bronkodilator kerja pendek saja setiap hari

d)

Mulai ICS tunggal sebagai terapi dasar

56.

Pada kelompok B (lebih banyak gejala, risiko eksaserbasi rendah), terapi awal yang dianjurkan adalah apa?

a)

Mulai ICS/LABA untuk pencegahan eksaserbasi

b)

Mulai triple therapy LABA/LAMA/ICS

c)

Mulai LAMA atau LABA untuk kontrol gejala

d)

Mulai SABA sesuai kebutuhan tanpa controller

57.

Pada kelompok C (gejala ringan, risiko eksaserbasi tinggi), strategi awal yang direkomendasikan adalah apa?

a)

Antibiotik profilaksis untuk menekan eksaserbasi

b)

ICS tunggal untuk menurunkan inflamasi

c)

Mulai bronkodilator kerja panjang untuk pencegahan eksaserbasi

d)

LABA monoterapi untuk gejala harian

58.

Pada kelompok D (lebih banyak gejala, risiko eksaserbasi tinggi), pernyataan mana yang benar?

a)

LABA lebih unggul dibanding LAMA tunggal

b)

SABA harian merupakan strategi utama

c)

LAMA lebih disukai untuk monoterapi awal

d)

ICS tunggal direkomendasikan pada semua pasien

59.

Kapan penambahan ICS dipertimbangkan pada COPD stabil?

a)

Jika pasien tidak pernah merokok

b)

Jika gejala ringan tanpa eksaserbasi

c)

Jika eosinofil darah ≥300 sel/µL atau eksaserbasi berat

d)

Jika FEV1 normal tetapi ada batuk

60.

Untuk pasien dengan dyspnea yang menetap saat monoterapi LABA atau LAMA, langkah eskalasi yang dianjurkan adalah apa?

a)

Tambah roflumilast untuk sesak

b)

Tambah bronkodilator kerja panjang kedua menjadi LABA + LAMA

c)

Stop semua obat dan mulai SAMA

d)

Ganti ke ICS tunggal segera

61.

Jika pasien dengan LABA + ICS tetap sesak, strategi yang tepat adalah apa?

a)

Hentikan ICS dan mulai SABA harian

b)

Turun ke LABA saja untuk sederhana

c)

Tambah LAMA menjadi terapi triple

d)

Tambah antibiotik profilaksis jangka panjang

62.

Pada eksaserbasi berulang saat monoterapi LABA atau LAMA, langkah eskalasi utama adalah apa?

a)

Turunkan ke SABA sesuai kebutuhan

b)

Hentikan bronkodilator dan mulai teofilin

c)

Tambah ICS ke LABA atau LAMA

d)

Tambah antitusif rutin tiap malam

63.

Jika pasien sudah menggunakan LABA + LAMA dan tetap mengalami eksaserbasi, kapan ICS ditambahkan?

a)

Jika eosinofil darah ≥300 atau ≥100 dengan eksaserbasi

b)

Jika CAT score rendah tetapi ada batuk

c)

Jika gejala membaik namun FEV1 normal

d)

Jika pasien berhenti merokok total

64.

Kapan de-eskalasi ICS dipertimbangkan pada COPD stabil?

a)

Jika dyspnea berat saat bronkodilator tunggal

b)

Jika pneumonia berulang atau respons tidak adekuat

c)

Jika pasien baru mulai merokok lagi

d)

Jika eosinofil tinggi dan eksaserbasi berat

65.

Evaluasi berkala sebelum memodifikasi terapi pada COPD stabil sebaiknya mencakup apa?

a)

Riwayat eksaserbasi, teknik inhaler, kepatuhan, dan skor gejala

b)

Tes genetik untuk defisiensi enzim

c)

Foto toraks rutin tiap bulan

d)

Uji alergi makanan tahunan

66.

Manfaat utama bronkodilator pada COPD adalah apa?

a)

Menghilangkan inflamasi dan kebutuhan vaksin

b)

Menyembuhkan penyakit dengan memperbaiki FEV1 permanen

c)

Meningkatkan kapasitas latihan dan menurunkan sesak

d)

Mencegah semua eksaserbasi tanpa kombinasi lain

67.

Untuk pasien dengan FEV1 ≤50% dan bronkitis kronis, serta eksaserbasi sering, tambahan mana yang dapat dipertimbangkan?

a)

Roflumilast sebagai terapi anti-inflamasi PDE4

b)

Vasodilator sistemik untuk perfusi

c)

Azitromisin jangka pendek selama 3 hari

d)

Teofilin dosis rendah sebagai pilihan utama

68.

Pada eksaserbasi berulang pada LABA + ICS, jika ada pneumonia atau indikasi tidak tepat, langkah yang dianjurkan adalah apa?

a)

Tambah teofilin untuk mengurangi infeksi

b)

De-eskalasi ke LABA + LAMA tanpa ICS

c)

Tetap dengan ICS meski tidak ada respons

d)

Hentikan semua bronkodilator sementara

69.

Untuk pasien perokok atau mantan perokok dengan eksaserbasi berulang, terapi tambahan yang bisa dipertimbangkan adalah apa?

a)

Beta-bloker untuk menurunkan inflamasi

b)

Kortikosteroid oral jangka panjang harian

c)

Azitromisin tiga kali seminggu selama 12 bulan

d)

Oksigen tambahan pada semua waktu

70.

Mana contoh agen SABA untuk COPD yang diberikan melalui inhalasi aerosol dosis terukur (MDI)?

a)

Tiotropium bromida SMI, sekali sehari

b)

Salmeterol xinafoat DPI, dua kali sehari

c)

Ipratropium bromida MDI, empat kali sehari

d)

Levalbuterol tartrat MDI, tiga sampai empat kali sehari

e)

Albuterol sulfat MDI, empat sampai enam kali sehari

71.

Agen SAMA yang lazim sebagai inhaler MDI dengan frekuensi empat kali sehari adalah

a)

Ipratropium bromida MDI, empat kali sehari

b)

Glycopyrrolate nebulisasi, dua kali sehari

c)

Aclidinium bromide DPI, dua kali sehari

d)

Formoterol fumarate nebulisasi, dua kali sehari

e)

Arformoterol tartrate nebulisasi, dua kali sehari

72.

Mana pasangan LABA dan perangkat yang benar?

a)

Arformoterol tartrate melalui SMI dua kali sehari

b)

Olodaterol HCl melalui DPI sekali sehari

c)

Formoterol fumarate melalui MDI dua kali sehari

d)

Salmeterol xinafoat melalui DPI dua kali sehari

e)

Indacaterol maleate melalui nebulizer dua kali sehari

73.

LAMA yang umum diberikan sekali sehari melalui SMI adalah

a)

Glycopyrrolate MDI, dua kali sehari

b)

Aclidinium bromide DPI, dua kali sehari

c)

Tiotropium bromida SMI, sekali sehari

d)

Umeclidinium bromide DPI, dua kali sehari

e)

Revefenacin nebulisasi, sekali sehari

74.

Umeclidinium bromide biasanya diberikan dengan perangkat apa dan frekuensi apa?

a)

DPI, sekali sehari

b)

DPI, dua kali sehari

c)

SMI, sekali sehari

d)

MDI, dua kali sehari

e)

Nebulisasi, tiga kali sehari

75.

Contoh ICS yang tersedia sebagai suspensi nebulisasi adalah

a)

Fluticasone propionate MDI, dua kali sehari

b)

Beclomethasone dipropionate MDI, dua kali sehari

c)

Fluticasone furoate DPI, sekali sehari

d)

Budesonide suspensi nebulisasi, sekali atau dua kali sehari

e)

Mometasone furoate DPI, dua kali sehari

76.

Kombinasi SABA/SAMA dalam larutan inhalasi yang digunakan empat sampai enam kali sehari adalah

a)

Glycopyrrolate dengan formoterol aerosol metered

b)

Olodaterol dengan tiotropium spray metered

c)

Fluticasone dengan salmeterol powder inhalation

d)

Albuterol sulfat dengan ipratropium bromida larutan

e)

Budesonide dengan formoterol aerosol metered

77.

Kombinasi LABA/LAMA sekali sehari dengan perangkat SMI adalah

a)

Aclidinium dengan formoterol DPI, dua kali sehari

b)

Revefenacin dengan arformoterol nebulisasi, dua kali sehari

c)

Umeclidinium dengan vilanterol DPI, sekali sehari

d)

Tiotropium dengan olodaterol SMI, sekali sehari

e)

Glycopyrrolate dengan formoterol MDI, dua kali sehari

78.

Kombinasi ICS/LABA dua kali sehari dalam MDI adalah

a)

Mometasone dengan formoterol MDI, sekali sehari

b)

Fluticasone furoate dengan vilanterol DPI, sekali sehari

c)

Beclomethasone dengan indacaterol DPI, dua kali sehari

d)

Budesonide dengan formoterol MDI, dua kali sehari

e)

Fluticasone propionate dengan salmeterol DPI, dua kali sehari

79.

Kombinasi triple ICS/LAMA/LABA sekali sehari tersedia sebagai

a)

Fluticasone furoate, umeclidinium, vilanterol DPI

b)

Mometasone, glycopyrrolate, indacaterol SMI

c)

Beclomethasone, aclidinium, formoterol DPI

d)

Budesonide, formoterol, glycopyrrolate DPI

e)

Fluticasone propionate, tiotropium, salmeterol MDI

80.

Perangkat mana yang termasuk soft mist inhaler (SMI) dalam referensi ini?

a)

Striverdi Respimat untuk LABA

b)

Spiriva Respimat untuk LAMA

c)

Semua jawaban benar

d)

Stiolto Respimat untuk LABA/LAMA

e)

Combivent Respimat untuk SABA/SAMA

81.

Di antara opsi berikut, mana yang benar tentang frekuensi Revefenacin?

a)

Nebulisasi sekali sehari

b)

MDI dua kali sehari

c)

SMI sekali sehari

d)

Nebulisasi empat kali sehari

e)

DPI dua kali sehari

82.

Beta-agonis kerja singkat yang direkomendasikan sebagai obat rescue untuk gejala akut pada COPD adalah

a)

Metilxantin kapsul lepas lambat

b)

ICS oral tablet harian

c)

LAMA via SMI sekali sehari

d)

LABA nebulisasi dosis tinggi

e)

SABA inhalasi via MDI atau DPI

83.

Risiko efek samping lebih tinggi pada pasien COPD dibanding asma terutama karena

a)

ICS selalu menyebabkan takikardia

b)

LABA tidak pernah digunakan pada COPD

c)

Komorbid lebih banyak pada pasien COPD

d)

Dosis inhalasi selalu lebih tinggi

e)

MDI kurang efektif dibanding nebulisasi

84.

Dalam penggunaan antikolinergik kerja singkat, peningkatan jumlah hisapan menyebabkan

a)

Efek bronkodilatasi meningkat tanpa batas

b)

Respons dosis-respons terbatas

c)

Efek ICS sinergis langsung

d)

Kontraindikasi absolut untuk LABA

e)

Risiko hipokalemia akut meningkat

85.

Salah satu efek samping yang dapat terjadi pada inhalasi β2-agonis adalah

a)

Takikardia dan tremor halus

b)

Bradikardia dan hipotiroid

c)

Hiperglikemia berat segera

d)

Agranulositosis akut

e)

Anafilaksis selalu terjadi

86.

SABA via parenteral untuk COPD akut umumnya

a)

Paling aman untuk lansia

b)

Tidak dianjurkan karena tidak lebih efektif

c)

Selalu lebih efektif daripada inhalasi

d)

Lebih disukai pada rawat jalan

e)

Wajib diberikan bersama ICS

87.

Untuk pasien dengan eksaserbasi yang sering, strategi yang meningkatkan toleransi latihan dan mengurangi kekambuhan adalah

a)

Penggunaan bronkodilator kerja panjang

b)

Tambah teofilin oral rutin

c)

Hanya SABA sesuai kebutuhan

d)

Stop semua antikolinergik

e)

Mengganti inhaler dengan nebulizer selalu

88.

Di antara perangkat berikut, mana yang merupakan DPI untuk ICS atau kombinasi?

a)

Arnuity Ellipta untuk fluticasone furoate

b)

Semua jawaban benar

c)

Trelegy Ellipta untuk triple terapi

d)

Advair Diskus untuk fluticasone-salmeterol

e)

Pulmicort Flexhaler untuk budesonide

89.

Teofilin dengan pelepasan diperpanjang biasanya diberikan dengan frekuensi

a)

Hanya saat eksaserbasi akut

b)

Setiap 8 jam selalu

c)

Sekali seminggu oral

d)

Empat kali sehari tetap

e)

Sekali atau dua kali sehari

90.

Pernyataan yang tepat tentang ipratropium bromida untuk COPD adalah

a)

Tidak tersedia dalam MDI

b)

Onset lebih lambat daripada albuterol

c)

Tidak pernah digunakan sebagai PRN

d)

Selalu dikombinasi dengan ICS

e)

Menimbulkan bronkospasme segera

91.

Mana pernyataan yang paling tepat mengenai peran LABA dan LAMA pada pasien COPD dengan gejala persisten?

a)

LAMA lebih efektif untuk gejala akut dibanding SABA

b)

LABA hanya digunakan pada pasien dengan eosinofil tinggi

c)

LABA lebih unggul untuk mencegah eksaserbasi dibanding LAMA

d)

LABA dan LAMA sama efektif untuk kontrol gejala harian

92.

Pada COPD, kapan terapi bronkodilator long-acting biasanya dipilih sebagai langkah awal dibanding step-up dari short-acting?

a)

Saat pasien memiliki riwayat asma masa kecil

b)

Saat pasien mengalami pneumonia bakterial akut

c)

Saat pasien memiliki gejala persisten atau membutuhkan kontrol harian

d)

Saat pasien baru pertama kali mencoba inhaler

93.

Manakah alasan utama memantau kadar teofilin pada terapi COPD?

a)

Untuk menyesuaikan dosis berdasarkan indeks massa tubuh pasien

b)

Untuk mendeteksi variabilitas farmakokinetik dan risiko toksisitas

c)

Untuk memastikan kombinasi LABA/LAMA digunakan secara konsisten

d)

Untuk menilai kepatuhan pasien terhadap ICS harian

94.

Gejala toksisitas teofilin yang perlu diwaspadai meliputi?

a)

Dispepsia, mual, tremor, takikardia, hingga kejang

b)

Bradikardia dan hipotermia ringan

c)

Hipoglikemia dengan keringat dingin

d)

Ruam kulit ringan tanpa gejala sistemik

95.

Faktor yang dapat meningkatkan klirens teofilin sehingga butuh dosis lebih tinggi adalah?

a)

Defisiensi alfa-1 antitripsin kongenital

b)

Gagal jantung kanan dengan edema perifer berat

c)

Merokok dan penggunaan obat seperti fenitoin

d)

Hipotirodisme dengan bradikardia kronik

96.

Pada pasien COPD stabil, penggunaan steroid sistemik jangka panjang sebaiknya?

a)

Diprioritaskan pada pasien dengan BMI >30 kg/m2

b)

Dilakukan jika pasien tidak toleran terhadap bronkodilator

c)

Dihindari karena manfaat kecil dan risiko signifikan

d)

Menjadi terapi lini pertama untuk mencegah eksaserbasi

97.

Risiko yang meningkat dengan penggunaan ICS pada COPD adalah?

a)

Hipotiroidisme subklinis

b)

Anemia aplastik idiopatik

c)

Hipertensi arteri pulmonal akut

d)

Pneumonia dan kandidiasis oral

98.

Kriteria umum memulai ICS pada COPD meliputi?

a)

Riwayat eksaserbasi berulang dan eosinofil darah tinggi

b)

FEV1 normal dan tidak ada eksaserbasi setahun terakhir

c)

Riwayat pneumotoraks spontan tanpa eksaserbasi

d)

PPOK ringan dengan gejala minimal

99.

Pada pasien dengan eksaserbasi berulang meski sudah LABA/LAMA, strategi kombinasi yang disarankan adalah?

a)

Menambah ICS menjadi terapi triple dengan satu perangkat

b)

Beralih ke monoterapi LABA saja

c)

Menghentikan bronkodilator dan memakai teofilin saja

d)

Mengganti ke SABA prn tanpa pemeliharaan

100.

Kapan ICS dapat dipertimbangkan untuk dihentikan pada pasien COPD?

a)

Saat pasien mulai menggunakan roflumilast

b)

Saat eosinofil darah konsisten >300 sel/µL

c)

Saat tidak ada indikasi berbasis bukti dan tidak ada manfaat

d)

Saat baru satu bulan terapi ICS dimulai

101.

Roflumilast, sebagai inhibitor PDE-4, paling bermanfaat pada pasien COPD dengan profil berikut:

a)

Emfisema murni tanpa sputum produktif

b)

Bronkospasme intermiten tanpa riwayat eksaserbasi

c)

Fenotipe bronkitis kronik dengan eksaserbasi berulang

d)

Eosinofil sangat tinggi dan tersangka asma-overlap

102.

Dosis teofilin biasanya dititrasi dengan target konsentrasi terapi sekitar:

a)

>40 mg/L pada pasien perokok aktif

b)

20–30 mg/L untuk efek bronkodilatasi maksimal

c)

5–15 mg/L dengan pemantauan efek samping

d)

1–3 mg/L untuk keamanan optimal

103.

Pada pasien COPD dengan eosinofil 100–300 sel/µL dan eksaserbasi berulang, pilihan terapi yang rasional adalah?

a)

Menghentikan semua bronkodilator dan memulai metilprednisolon

b)

Menggunakan steroid oral jangka panjang

c)

Menambah ICS sebagai bagian kombinasi dual atau triple

d)

LABA/LAMA saja tanpa tambahan

104.

Bukti klinis menunjukkan bahwa dibanding ICS/LABA, kombinasi LAMA/LABA dalam pencegahan eksaserbasi cenderung:

a)

Setara efektif dengan risiko pneumonia lebih tinggi

b)

Tidak efektif dan meningkatkan rawat inap

c)

Lebih efektif dengan risiko pneumonia lebih rendah

d)

Kurang efektif dengan risiko pneumonia lebih rendah

105.

Pada pasien yang mengalami pneumonia berulang terkait ICS, keputusan terapi yang tepat adalah?

a)

Mengganti ICS dengan teofilin dosis tinggi

b)

Evaluasi manfaat-risiko dan pertimbangkan penghentian ICS

c)

Melanjutkan ICS tanpa perubahan sambil observasi

d)

Menaikkan dosis ICS untuk kontrol inflamasi

106.

Manakah yang termasuk gejala kardinal AECOPD yang digunakan untuk staging?

a)

Demam tinggi, menggigil, diare

b)

Peningkatan sputum, dispnea, purulensi sputum

c)

Batuk kering, nyeri pleura, hemoptisis ringan

d)

Palpitasi, nyeri epigastrium, pusing

107.

Pada derajat sedang AECOPD, berapa jumlah gejala kardinal yang biasanya ada?

a)

Empat gejala kardinal

b)

Tiga gejala kardinal

c)

Satu gejala kardinal

d)

Dua gejala kardinal

108.

Apa tujuan utama terapi AECOPD di ruang perawatan?

a)

Mengurangi gejala, mencegah rawat inap, mencegah KTD

b)

Menghentikan seluruh obat bronkodilator kronik

c)

Mengurangi frekuensi batuk malam hari

d)

Meningkatkan nafsu makan dan berat badan

109.

Faktor mana yang mendukung keputusan rawat inap untuk AECOPD?

a)

Riwayat merokok masa lalu saja

b)

BMI di atas 30 tanpa gejala lain

c)

Riwayat alergi makanan ringan

d)

Komorbiditas berat seperti CHF atau pneumonia

110.

Pada penilaian AECOPD tanpa gagal napas, temuan yang diharapkan adalah?

a)

Frekuensi napas normal, hipoksemia berat

b)

Frekuensi napas >30, perubahan mental

c)

Hipoksemia tidak membaik dengan O2

d)

Frekuensi napas 20–30, tanpa penggunaan otot bantu

111.

Kapan antibiotik diindikasikan pada AECOPD?

a)

Adanya tiga gejala kardinal atau kebutuhan ventilasi

b)

Jika sputum berkurang volumenya

c)

Hanya bila ada demam tinggi saja

d)

Setiap eksaserbasi tanpa pengecualian

112.

Kapan kortikosteroid sistemik direkomendasikan pada AECOPD?

a)

Pada derajat sedang–berat untuk mempercepat pemulihan

b)

Hanya pada derajat ringan tanpa purulensi

c)

Jika pasien sudah memakai ICS jangka panjang

d)

Tidak pernah direkomendasikan

113.

Terapi oksigen pada AECOPD bertujuan mencapai target saturasi berapa?

a)

70–75 persen selama tidur

b)

95–100 persen dengan aliran tinggi

c)

88–92 persen dengan titrasi hati-hati

d)

80–85 persen untuk mencegah hiperkapnia

114.

Kandidat yang sesuai untuk NIV pada AECOPD adalah pasien dengan?

a)

Keadaan mental tidak stabil berat

b)

pH normal tanpa hiperkapnia

c)

Tidak ada hipoksemia dan tidak sesak

d)

Gagal napas akut non–life-threatening

115.

Temuan yang menandai gagal napas akut life-threatening pada AECOPD adalah?

a)

Frekuensi napas 16–18 per menit, saturasi normal

b)

Hipoksemia tidak membaik dengan O2, acidosis pH <7,25

c)

Peningkatan PaO2 di atas 90 mm Hg

d)

Penurunan PaCO2 menjadi <20 mm Hg

116.

Pada bronkodilator saat eksaserbasi, mengapa agonis β2 kerja pendek diprioritaskan?

a)

Efek antimikroba langsung pada sputum

b)

Mencegah retensi cairan sistemik

c)

Onset cepat dan dapat dititrasi dosis

d)

Mengurangi kebutuhan antibiotik sistemik

117.

Apa peran antikolinergik dalam AECOPD jika gejala menetap?

a)

Ditambahkan bersama β2 agonis untuk bronkodilatasi

b)

Menggantikan semua β2 agonis segera

c)

Digunakan hanya bila ada pneumonia

d)

Tidak boleh digunakan pada gagal napas

118.

Komponen penting perencanaan pulang setelah AECOPD adalah?

a)

Penghentian semua obat pemeliharaan

b)

Hanya kontrol bila gejala kembali

c)

Edukasi inhaler, rencana berhenti merokok, vaksinasi

d)

Larangan aktivitas fisik selama 1 bulan

119.

Pada AECOPD dengan pH <7,25 dan ketidakstabilan hemodinamik, tindakan yang tepat adalah?

a)

Lanjutkan terapi rumah tanpa observasi

b)

Berikan diuretik loop rutin

c)

Mulai nifedipin oral dosis rendah

d)

Hindari NIV dan pertimbangkan intubasi

120.

Apa temuan pemeriksaan fisik yang sering pada AECOPD?

a)

Wheezing dan bunyi napas mengi kasar

b)

Mur mur sistolik grade III

c)

Clubbing jari progresif cepat

d)

Nyeri tekan abdomen difus

121.

Pemeriksaan penunjang yang lazim untuk menilai infeksi pada AECOPD adalah?

a)

Sputum untuk Gram dan kultur

b)

EEG untuk aktivitas otak

c)

USG abdomen rutin

d)

Angiografi koroner segera

122.

Kapan pasien AECOPD mungkin memerlukan rawat inap intensif?

a)

Hipoksemia persisten, perubahan mental, asidosis berat

b)

Dispnea ringan saat latihan saja

c)

Batuk ringan tanpa perubahan sputum

d)

Riwayat merokok 10 tahun tanpa gejala

123.

Pada pasien AECOPD dengan peningkatan purulensi sputum dan peningkatan produksi sputum, pilihan awal antibiotik untuk eksaserbasi tidak terkomplikasi biasanya adalah makrolida. Pilihan lain yang setara untuk skenario ini adalah?

a)

Kotrimoksazol jangka pendek

b)

Fluorokuinolon antipseudomonas

c)

Doksisiklin oral selama 5–7 hari

d)

Amoksisilin-klavulanat dosis tinggi

124.

Pada pasien AECOPD berisiko kolonisasi kuman resisten (riwayat terapi kortikosteroid kronik dan rawat inap 90 hari), antibiotik yang disarankan mencakup fluorokuinolon dengan aktivitas pneumokokus. Contoh yang tepat adalah?

a)

Siprofloksasin monoterapi

b)

Levofloksasin atau moksifloksasin

c)

Azitromisin intravena

d)

Amoksisilin saja

125.

Durasi terapi antibiotik yang dianjurkan untuk AECOPD yang merespons adalah

a)

Berhenti saat gejala membaik hari ke-2

b)

1–3 hari untuk semua pasien

c)

Setidaknya 5–7 hari

d)

10–14 hari wajib

126.

Kortikosteroid sistemik pada AECOPD umumnya diberikan sebagai prednison oral (atau ekuivalen). Regimen yang lazim dan efektif untuk kebanyakan pasien adalah

a)

40 mg sekali sehari selama 5 hari

b)

Hanya jika gagal bronkodilator

c)

10 mg dua kali sehari selama 14 hari

d)

Taper 21 hari dimulai IV

127.

Penggunaan terapi oksigen terkontrol pada AECOPD bertujuan untuk mencapai

a)

Saturasi 100% tanpa risiko

b)

SpO2 sekitar >90% (90–92%)

c)

PaCO2 menurun cepat ke normal

d)

PaO2 lebih dari 80 mmHg selalu

128.

Indikasi NIMV pada AECOPD termasuk pasien dengan gagal pernapasan akut yang dapat dibalik. Kriteria yang mendukung inisiasi NIMV adalah

a)

Hanya hipoksemia ringan

b)

Hiperkapnia dengan asidosis respiratori

c)

Asma stabil tanpa distress

d)

Somnolen tanpa hiperkapnia

129.

Penggunaan CRP sebagai panduan antibiotik pada AECOPD terutama bertujuan untuk

a)

Memprediksi kebutuhan ventilator mekanik

b)

Menentukan dosis steroid harian

c)

Memilih jenis bronkodilator awal

d)

Mengurangi pemberian antibiotik yang tidak perlu

130.

Untuk follow-up setelah pulang, pasien harus menyelesaikan penilaian gejala seperti mMRC atau CAT. Waktu ideal pertama kali penilaian ini adalah

a)

Ditunggu hingga 12–16 minggu

b)

Sebelum atau saat kunjungan 1–4 minggu

c)

Pada hari ke-14 setelah pulang

d)

Hanya bila muncul gejala baru

131.

Pada kunjungan 12–16 minggu pasca-pulang, salah satu fokus utama adalah

a)

Menilai kesiapan berhenti merokok saja

b)

Menilai kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari

c)

Menghentikan semua inhaler sementara

d)

Memberikan antibiotik pencegahan rutin

132.

Dalam perawatan paliatif untuk COPD lanjut, diskusi yang efektif harus mencakup

a)

Penolakan terhadap ventilasi noninvasif

b)

Hanya pilihan terapi ICU

c)

Nilai klinis, tujuan perawatan, dan preferensi pasien

d)

Penetapan rawat inap berulang tanpa konsultasi

133.

Tanda-tanda yang mendorong evaluasi kebutuhan hospice pada COPD lanjut termasuk

a)

Gejala ringan yang mudah dikontrol

b)

Penurunan fungsi dan eksaserbasi berulang

c)

Peningkatan FEV1 konsisten

d)

Tidak ada kebutuhan oksigen rumah

134.

Selama AECOPD, selain gejala, parameter yang perlu dimonitor secara periodik untuk menilai respons terapi adalah

a)

Urinalisis serial

b)

Enzim hati harian

c)

Hitung darah lengkap, ABG, saturasi oksigen

d)

Tekanan darah saja

Similar Resources on Wayground