

Kelas 4 - Pelajaran 2 - Pangeran Siddharta menjadi pertapa
Presentation
•
Religious Studies
•
4th Grade
•
Easy
Rukaman Rukaman
Used 3+ times
FREE Resource
15 Slides • 8 Questions
1
Pertemuan 2 Sesi 4 Kelas 4

2
Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Buddhaya
3
Pangeran Siddharta Menjadi Petapa
4
Namaskara Gatha
Arahaṁ sammā sambuddho bhagavā. Buddhaṁ bhagavantaṁ abhivādemi.
Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava.
The Most Blessed Bhagava Who Has Achieved Perfect Enlightenment, I bow to the Buddha, the Blessed One
Svākkhāto bhagavatā dhammo. Dhammaṁ namassāmi.
Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagawa.
Aku bersujud di hadapan Dhamma.
Dhamma has been perfectly spoken by Bhagava, I bow to the Dhamma
Supaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho. Saṅghaṁ namāmi
Sanggha Siswa Sang Bhagawa telah bertindak sempurna.
Aku bersujud di hadapan Sanggha.
Sangha Bhagava Students have acted perfectly, I bow to the Sangha
5
Duduk Hening
Ayo kita melakukan duduk hening kurang lebih 5 sampai dengan 10 menit.
Mari kita duduk hening
Duduklah dengan santai, amati diri kita, atur pernapasan dan lakukan hal berikut.
“Napas masuk ....... semoga semua makhluk berbahagia”
“Napas keluar ........ semoga semua makhluk berbahagia”
“Napas masuk ....... tercapailah cita-citaku”
“Napas keluar ........ tercapailah cita-citaku”
6
Open Ended
Amati gambar disamping kemudian ungkapkan pendapatmu!
7
Open Ended
Amati gambar disamping kemudian buatlah pertanyaanmu!
8
Kepergian Pangeran Siddharta menjadi Pertapa
Demikianlah, mereka bertiga pergi bersama-sama. Berkat kebajikan kumpulan jasa-jasa dan keagungan Pangeran Siddharta, para dewa yang menjaga pintu gerbang kota dengan gembira membiarkan pintu gerbang tersebut tetap terbuka bagi Pangeran untuk keluar. Begitu Pangeran keluar dari pintu gerbang kota bersama Channa, Māra Vasavatta yang tidak senang dan selalu menentang dan menghalangi Pangeran Siddharta untuk melepaskan keduniawian.
9
Māra menahan Pangeran dengan berusaha menipu-Nya untuk memercayai bahwa pencegahan ini adalah demi kebaikan Pangeran sendiri.
Dari angkasa, dia mengucapkan:
“O Bodhisattva Pangeran yang sangat bersemangat, jangan pergi melepaskan keduniawian menjadi petapa. Pada hari ketujuh dari sekarang, Roda Pusaka Surgawi akan muncul untuk-Mu.” Dia juga menghalang-halangi dengan mengatakan, “Engkau akan menjadi raja dunia yang memerintah empat benua besar yang dikelilingi oleh dua ribu pulau kecil. Kembalilah, Yang Mulia!”
Pangeran menjawab, “Siapakah engkau, yang berbicara pada-Ku dan menghalang-halangi-Ku?”
Māra menjawab, “Yang Mulia, aku adalah Māra Vasavatta.”
10
Kemudian, Bodhisattva menjawab dengan tegas: “O Māra yang sangat kuat.
Aku sudah tahu bahkan sebelum engkau katakan, bahwa Roda Pusaka akan muncul untuk-Ku. Namun, Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi raja dunia yang memerintah empat benua. Pergilah engkau, O Māra, dari sini; jangan menghalang-halangi-Ku.”
Lalu, Māra menakut-nakuti Bodhisattva dengan kata-kata berikut, “O kawan, Pangeran Siddharta, ingatlah kata-kata-Mu itu. Mulai saat ini, aku akan membuat-Mu mengenalku dengan baik, ketika pikiran-Mu dipenuhi oleh nafsu-nafsu indria, kebencian, dan kekejaman.” Sejak saat itu, dia selalu mencari-cari peluang untuk menggagalkan Pangeran Siddharta dan siapa pun yang mempunyai keinginan baik.
11
Pada akhirnya, mereka mencapai tepi Sungai Anomā. Pangeran mengistirahatkan kuda-Nya di tepi sungai dan bertanya kepada Channa, “Apa nama sungai ini?” Ketika dijawab oleh Channa bahwa sungai tersebut adalah Sungai Anomā, Bodhisattva menganggap itu adalah pertanda baik, dan berkata, “Pertapaan-Ku tidak akan gagal, bahkan sebaliknya akan memiliki kualitas yang baik karena Anomā artinya bukan sesuatu yang rendah.” Kemudian, Pangeran menepuk Kanthaka dengan tumit-Nya untuk memberikan aba-aba kepadanya agar menyeberangi sungai, dan Kanthaka melompat ke sisi seberang sungai.
12
Setelah turun dari punggung kuda, ketika tiba di seberang sungai dan berdiri di atas pasir di tepi sungai, Pangeran menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, bawalah kuda Kanthaka bersama dengan semua perhiasan-Ku pulang. Aku akan menjadi petapa.” Ketika Channa mengatakan bahwa dia juga ingin melakukan
hal yang sama, Bodhisattva melarangnya sampai tiga kali dengan mengatakan,
“Engkau tidak boleh menjadi petapa. Channa sahabat-Ku, pulanglah ke kota.”
Dia menyerahkan Kanthaka dan semua perhiasan-Nya kepada Channa.
13
Setelah itu, dengan pedang di tangan kanan-Nya, Pangeran memotong rambut-Nya dan mencengkeramnya bersama mahkota-Nya dengan tangan kiri-Nya. Rambut-Nya yang tersisa sepanjang dua jari mengeriting ke arah kanan dan menempel di kulit kepala-Nya. Sisa rambut itu tetap sepanjang dua jari hingga akhir hidup-Nya meskipun tidak pernah dipotong lagi
Potongan rambut-Nya kemudian dilemparkan ke angkasa bersama mahkotaNya. Pada waktu itu, Sakka, raja para dewa, melihat rambut Bodhisattva dengan mata-dewanya. Sakka mengambilnya bersama dengan mahkota-Nya dengan menggunakan sebuah peti permata, berukuran satu yojanā, dan membawanya ke Surga Tāvatimsa. Ia kemudian menyimpannya di dalam Cetiya Culamani yang didirikannya dan dihias dengan tujuh jenis batu permata.
14
Saat itu, datanglah Dewa Brahmā Ghatikāra yang berasal dari alam Sorga Brahma Suddhavasa Akanittha, membawakan delapan perlengkapan, yaitu
(1) jubah luar,
(2) jubah atas yang disebut ekacci,
(3) jubah bawah,
(4) ikat pinggang,
(5) jarum dan benang,
(6) pisau yang digunakan untuk menyerut kayu pembersih gigi,
(7) mangkuk dan wadahnya, dan
(8) saringan air.
Kedelapan perlengkapan itu diserahkan kepada Pangeran Siddharta
15
Pangeran Siddharta melemparkan busana-Nya yang lama menggantinya dengan pakaian seorang petapa.
Brahma Ghatikara pun mengambil busana yang dilempar tersebut dan membawanya ke alam Sorga Akanittha dan mendirikan sebuah Cetiya berukuran dua belas Yojanā berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena Cetiya itu berisi busana, disebut Cetiya Dussa.
16
Peristiwa di Sungai Anoma
Demikianlah, mereka bertiga pergi bersama-sama. Berkat kebajikan kumpulan jasa-jasa dan keagungan Pangeran Siddharta, para dewa yang menjaga pintu gerbang kota dengan gembira membiarkan pintu gerbang tersebut tetap terbuka bagi Pangeran untuk keluar. Begitu Pangeran keluar dari pintu gerbang kota bersama Channa, Māra Vasavatta yang tidak senang dan selalu menentang dan menghalangi Pangeran Siddharta untuk melepaskan keduniawian. Māra menahan Pangeran dengan berusaha menipu-Nya untuk memercayai bahwa pencegahan ini adalah demi kebaikan Pangeran sendiri.
Dari angkasa, dia mengucapkan:
“O Bodhisattva Pangeran yang sangat bersemangat, jangan pergi melepaskan keduniawian menjadi petapa. Pada hari ketujuh dari sekarang, Roda Pusaka Surgawi akan muncul untuk-Mu.” Dia juga menghalang-halangi dengan mengatakan, “Engkau akan menjadi raja dunia yang memerintah empat benua besar yang dikelilingi oleh dua ribu pulau kecil. Kembalilah, Yang Mulia!”
Pangeran menjawab, “Siapakah engkau, yang berbicara pada-Ku dan menghalang-halangi-Ku?”
Māra menjawab, “Yang Mulia, aku adalah Māra Vasavatta.”
Kemudian, Bodhisattva menjawab dengan tegas: “O Māra yang sangat kuat.
Aku sudah tahu bahkan sebelum engkau katakan, bahwa Roda Pusaka akan muncul untuk-Ku. Namun, Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi raja dunia yang memerintah empat benua. Pergilah engkau, O Māra, dari sini; jangan menghalang-halangi-Ku.”
Lalu, Māra menakut-nakuti Bodhisattva dengan kata-kata berikut, “O kawan, Pangeran Siddharta, ingatlah kata-kata-Mu itu. Mulai saat ini, aku akan membuat-Mu mengenalku dengan baik, ketika pikiran-Mu dipenuhi oleh nafsu-nafsu indria, kebencian, dan kekejaman.” Sejak saat itu, dia selalu mencari-cari peluang untuk menggagalkan Pangeran Siddharta dan siapa pun yang mempunyai keinginan baik.
Pada akhirnya, mereka mencapai tepi Sungai Anomā. Pangeran mengistirahatkan kuda-Nya di tepi sungai dan bertanya kepada Channa, “Apa nama sungai ini?” Ketika dijawab oleh Channa bahwa sungai tersebut adalah Sungai Anomā, Bodhisattva menganggap itu adalah pertanda baik, dan berkata, “Pertapaan-Ku tidak akan gagal, bahkan sebaliknya akan memiliki kualitas yang baik karena Anomā artinya bukan sesuatu yang rendah.” Kemudian, Pangeran menepuk Kanthaka dengan tumit-Nya untuk memberikan aba-aba kepadanya agar menyeberangi sungai, dan Kanthaka melompat ke sisi seberang sungai.
Setelah turun dari punggung kuda, ketika tiba di seberang sungai dan berdiri di atas pasir di tepi sungai, Pangeran menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, bawalah kuda Kanthaka bersama dengan semua perhiasan-Ku pulang. Aku akan menjadi petapa.” Ketika Channa mengatakan bahwa dia juga ingin melakukan
hal yang sama, Bodhisattva melarangnya sampai tiga kali dengan mengatakan,
“Engkau tidak boleh menjadi petapa. Channa sahabat-Ku, pulanglah ke kota.”
Dia menyerahkan Kanthaka dan semua perhiasan-Nya kepada Channa.
Setelah itu, dengan pedang di tangan kanan-Nya, Pangeran memotong rambut-Nya dan mencengkeramnya bersama mahkota-Nya dengan tangan kiri-Nya. Rambut-Nya yang tersisa sepanjang dua jari mengeriting ke arah kanan dan menempel di kulit kepala-Nya. Sisa rambut itu tetap sepanjang dua jari hingga akhir hidup-Nya meskipun tidak pernah dipotong lagi
Potongan rambut-Nya kemudian dilemparkan ke angkasa bersama mahkotaNya. Pada waktu itu, Sakka, raja para dewa, melihat rambut Bodhisattva dengan mata-dewanya. Sakka mengambilnya bersama dengan mahkota-Nya dengan menggunakan sebuah peti permata, berukuran satu yojanā, dan membawanya ke Surga Tāvatimsa. Ia kemudian menyimpannya di dalam Cetiya Culamani yang didirikannya dan dihias dengan tujuh jenis batu permata. Saat itu, datanglah Dewa Brahmā Ghatikāra yang berasal dari alam Sorga Brahma Suddhavasa Akanittha, membawakan delapan perlengkapan, yaitu
(1) jubah luar,
(2) jubah atas yang disebut ekacci,
(3) jubah bawah,
(4) ikat pinggang,
(5) jarum dan benang,
(6) pisau yang digunakan untuk menyerut kayu pembersih gigi,
(7) mangkuk dan wadahnya, dan
(8) saringan air.
Kedelapan perlengkapan itu diserahkan kepada Pangeran Siddharta. Pangeran Siddharta melemparkan busana-Nya yang lama menggantinya dengan pakaian seorang petapa. Brahma Ghatikara pun mengambil busana yang dilempar tersebut dan membawanya ke alam Sorga Akanittha dan
mendirikan sebuah Cetiya berukuran dua belas Yojanā berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena Cetiya itu berisi busana, disebut Cetiya Dussa.
17
Kamu Perlu Tahu !
Marā Vasavatta adalah makhluk jahat bernama Vasavatta yang selalu mengganggu Pangeran Siddharta agar tidak menjadi Buddha.
Mata dewa adalah kemampuan melihat alam-alam halus yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
18
Open Ended
Tulislah informasi penting dari cerita diatas !
19
Open Ended
Siapa yang mengiringi Pangeran Siddharta meninggalkan istana?
20
Open Ended
Mengapa kepergian Pangeran Siddharta tidak diketahui?
21
Open Ended
Siapakah Marā Vasavati?
22
Open Ended
Mengapa Marā terus memengaruhi Pangeran Siddharta agar tidak pergi meninggalkan istana?
23
Open Ended
Siapakah Dewa Sakka?
Pertemuan 2 Sesi 4 Kelas 4

Show answer
Auto Play
Slide 1 / 23
SLIDE
Similar Resources on Wayground
17 questions
Indahnya Saling Menghargai dalam Keragaman
Presentation
•
4th Grade
17 questions
BPI "Diagram Makhrom"
Presentation
•
4th Grade
20 questions
Tanda Waqaf
Presentation
•
4th Grade
16 questions
MENYAMBUT USIA BALIGH
Presentation
•
4th Grade
16 questions
PUASA BAHAGIAN 2
Presentation
•
4th Grade
18 questions
T4 SIRAH-DAKWAH NABI MUHAMMAD
Presentation
•
4th Grade
18 questions
Kufur - Pendidikan Islam Tahun 4
Presentation
•
4th Grade
16 questions
KELAS 4 PELAJARAN 8 (RENDAH HATI)
Presentation
•
4th Grade
Popular Resources on Wayground
6 questions
PRIDE Always and Everywhere
Presentation
•
12th Grade
20 questions
Lab Safety Quiz
Quiz
•
6th Grade
26 questions
KOR Review Kahoot Questions
Quiz
•
8th Grade
21 questions
Continents and Oceans
Quiz
•
6th Grade
12 questions
Unit Zero lesson 2 cafeteria
Presentation
•
9th - 12th Grade
20 questions
Parts of Speech
Quiz
•
5th Grade
10 questions
Riddles Riddles fun Riddles
Quiz
•
6th - 12th Grade
16 questions
Subject & Predicate
Quiz
•
5th Grade
Discover more resources for Religious Studies
10 questions
Place Value Class Review
Quiz
•
4th Grade
14 questions
Tribes in Texas: Past & Present-4th Grade
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Place Value
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Multiplication and Division Facts
Quiz
•
4th Grade
10 questions
Soup, Salad, or Sandwich?
Quiz
•
1st Grade - Professio...
15 questions
Subject/Verb agreement
Quiz
•
4th Grade
21 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
4th Grade
10 questions
Eureka Math: Rounding
Quiz
•
4th Grade