Search Header Logo
Sejarah Peminatan Kelas X

Sejarah Peminatan Kelas X

Assessment

Presentation

History

1st - 3rd Grade

Hard

Created by

Eko Hermawan

FREE Resource

17 Slides • 0 Questions

1

KEHIDUPAN AWAL MANUSIA INDONESIA

Sejarah Peminatan Kelas X/Gasal

2

​POKOK BAHASAN

`​1. KOMPETENSI DASAR

​2. ZAMAN BATU

​3. ZAMAN PERUNDAGIAN

3

KOMPETENSI DASAR

3.10 Menganalisis kehidupan awal manusia Indonesia dalam aspek kepercayaan, sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi serta pengaruhnya dalam kehidupan masa kini

4.10 Menarik kesimpulan dari hasil analisis mengenai keterkaitan kehidupan awal manusia Indonesia pada aspek kepercayaan, sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi, serta pengaruhnya dalam kehidupan masa kini dalam bentuk tulisan dan/atau media lain

4

ZAMAN BATU (MESOLITIKUM)

Masyarakat pada masa Mesolitikum di Indonesia sudah mengenal kepercayaan dan penguburan mayat. Ditemukannya lukisan-lukisan atau gambar- gambar manusia, kadal, dan perahu di dinding-dinding gua Pulau Seram dan Papua merupakan contoh-contoh-contoh hasil peninggalan pada masa itu. adanya kepercayaan yang digambarkan dalam lukisan-lukisan di dinding gua tersebut menandakan bahwa masyarakat praaksara atau masyarakat purba sudah mengenal pemikiran tentang kehidupan sesudah mati roh akan pergi menuju kehidupan alam yang berbeda dengan alam manusia.

5

ZAMAN BATU (NEOLITIKUM)

Masyarakat Zaman Neolitik mempercayai adanya kekuatan “di luar” kekuatan manusia. Kepercayaan mereke dikenal dengan sebutan animisme, yaitu kepercayaan tentang adanya roh-roh yang memiliki kekuatan di alam gaib atau kepercayaan terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa.

Selain animisme, kepercayaan lain yang berkembang adalah dinamisme, yaitu kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan karena ditempati atau merupakan perwujudan dari roh. Roh-roh tersebut dapat melekat pada benda-benda alam, seperti: pohon, danau, bulan, matahari, dan batu-batu besar.

6

ZAMAN BATU (MEGALITIKUM)

Sistem kepercayaan masyarakat pada masa Megalitikum sangat berkaitan erat dengan sistem kebudayaan yang mengahasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif. Bangunan Megalitik ini dipergunakan sebagai sarana penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Penemuan bangunan Megalitik tersebar hampir di seuruh kepulauan Nusantara. Bahkan sampai sekarang pun masih ditemukan tradisi Megalitikum, seperti: di Pulau Nias, Sumba, Flores, dan Toraja

7

ZAMAN BATU (PERUNDAGIAN)

Pada masa Logam, sistem kepercayaan animisme dan dinamisme masih tetap dianut dan makin berkembang. Masyarakatnya masih mempercayai adanya kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan animisme serta dinamisme. Mereka meyakini adanya suatu roh atau jiwa yang melekat pada benda-benda hidup maupun mati.

Hal yang membedakannya dengan masa sebelumnya adalah alat yang digunakan untuk praktik kepercayaan. Pada masa Logam atau Perundagian, benda-benda yang digunakan untuk praktik kepercayaan biasanya terbuat dari bahan perunggu. Sistem kepercayaan yang dilakukan oleh manusia pasa Zaman Logam masih memelihara hubungan dengan orang yang meninggal

8

ZAMAN BATU (SOSIAL)

Perubahan besar dalam bidang sosial terjadi pada Zaman Batu Muda (Neolitikum). Perubahan tersebut dikenal dengan nama Revolusi Neolitik, yaitu perubahan dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan (food producing), dan dari kehidupan berpindah-pindah (nomaden) menjadi kehidupan menetap. Mereka menghasilkan makanan dengan cara bercocok tanam dan berternak. Jenis-jenis tanaman tiang mereka tanam pada mulanya, yaitu umbi-umbian, sukun, pisang, durian, rambutan, duku, kelapa, dan sagu. Selanjutnya, mereka mengenal tanaman padi-padian (jewawut). Hewan yang pada mulanya mereka jinakkan, yaitu: anjing, ayam, kerbau, dan babi.Pada zaman Paleolitikum manusia mulai hidup berkelompok. mereka hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanani saat itu, manusia hidup berkelompok dengan jumlah anggota yang masih terbatas atau kecil

9

ZAMAN PERUNDAGIAN (SOSIAL)

Pada Zaman Logam manusia Indonesia hidup atau tinggal menetap di desa-desa di daerah pegunungan, dataran rendah, dan tepi pantai. Mereka hidup dalam perkampungan yang makin teratur dan terpimpin. Bukti-bukti sisa tempat kediaman mereka ditemukan di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, Sumbawa, Sumba, dan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur serta Maluku. Melalui ragam hias pada nekara-nekara perunggu dapat disimpulkan bahwa rumah orang mampu pada Zaman Logam merupakan rumah besar bertiang dengan atap melengkung, di bawahnya (kolong) digunakan untuk tempat ternak. Rumah semacam ini biasanya didiami oleh beberapa keluarga

10

ZAMAN BATU (BUDAYA)

Manusia pada zaman ini sudah mampu membuat gerabah, yaitu benda pecah belah yang dibuat dari tanah liat yang dibakar. Pada Zaman Batu Madya telah berkembang kebudayaan Tulang Sampung (Sampung Bone Culture), kebudayaan Toala (flakes culture), dan kebudayaan Kapak Genggam Sumatra (pebble culture). Selain kebudayaan tulang, flakes (alat-alat serpih), dan kapak, pada masa Batu Madya telah berkembang pula seni lukis. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lukisan-lukisan pada dinding- dinding gua di Sulawesi Selatan. Kegiatan menggambar pada diding- dinding gua dilakukan oleh pendukung kebudayaan Mesolitikum ketika mereka mulai hidup menetap di gua- gua. Di gua itulah mereka membuat aat-alat batu dan tulang serta melukis pada dinding- dinding gua

11

ZAMAN PERUNDAGIAN (BUDAYA)

Pada Zaman Logam ini penduduk di Nusantara telah mampu mengolah dan melebur logam. Kepandaian ini diperoleh setelah mereka menerima pengaruh dari kebudayaan Dongson (Vietnam). Kebudayaan Perunggu di Asia Tenggara yang menyebar ke Nusantara sekitar 500 SM. Walaupun pada zaman ini alat-alat dari logam bnayak dibuat dan dipakai manusia, alat-alat batu dan gerabah masih tetap ada dan dipergunakan. Hasil-hasil kebudayaan dari Zaman Logam berupa : kapak corong, nekara, bejana perunggu, arca-arca, benda-benda dari besi, dan gerabah.

12

ZAMAN BATU (EKONOMI)

Pada masa Mesolitikum atau Zaman Batu Madya, sebagian manusia pendukung kebudayaan Mesolitikum tersebut masih tetap berburu dan mengumpulkan makanan, tetapi sebagian dari mereka sudah mulai bertempat tinggal menetap di gua-gua dan bercocok tanam secara sederhana.

Pada masa Neolitikum (Zaman Batu Muda) perubahan besar dalam kehidupan ekonomi terjadi. Perubahan tersebut dikenal denga Revolusi Neolitik, yaitu perubahan dari mengumpulkan makanan (food gathering) menjadi menghasilkan makanan (food producing), dan dari kehidupan berpindah-pindah (nomaden) menjadi menjadi kehidupan menetap

13

ZAMAN PERUNDAGIAN (EKONOMI)

Pembagian kerja semakin ketat dan membutuhkan keterampilan keterampilan tertentu. Oleh karena itu, muncul kelompok- kelompok masyarakat yang terampil (undagi) berdasarkan bidang masing-masing seperti ahli membuat rumah, ahli membuat gerabah, ahli logam, dan sebagainya. Mata pencaharian masyarakat pada Zaman Logam adalah pertanian. Mereka bertani dengan cara berladang dan bersawah. Hal ini terbukti dengan ditemukannya mata sabit, alat penyiang rumput, dan mata bajak. Pengaturan air untuk sawah (irigasi) sudah diadakan sehingga pertanian tidak sepenuh ya bergantung kepada hujan. Perkembangan perkampungan dan pertanian meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepemilikan tanah.

14

ZAMAN BATU (TEKNOLOGI)

Alat-alat batu dari pacitan ditemukan oleh Von Koenigswald, pada tahun 1935 di sungai Baksoko, desa Punung, Pacitan, Jawa Timur. Alat-alat batu dari pacitan iniberupa kapak genggam, yaitu kapak yang tak bertangkai yang digunakan dengan cara menggenggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, dan yang paling banyak berupa alat-alat kecil yang disebut alat serpih (flakes).

Alat-alat Zaman Batu dari Ngandong dekat Ngawi, Jawa Timur berupa kapak-kapak genggam dari batu dan alat-alat kecil yang disebut alat serpih (Flakes) alat-alat kecil (flakes) ditemukan di Pulau Sangiran, Jawa Timur Cabenge, Sulawesi Selatan. Slain itu pada masa itu, ditemukan pula alat-alat dari tulang dan tanduk alat-alat dari tulang tersebut berupa alat penusuk (belati) unjung tombak dengan gergaji yang kedua sisinya dan alat pengorek ubi dan keladi, serta tanduk menjangan yang diruncingkan dan duri ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak

15

ZAMAN PERUNDAGIAN (TEKNOLOGI)

Pembuatan alat-alat dari logam tersebut dikerjakan oleh orang-orang yang mempunyai keahlian khusus yang disebut dengan undagi. Teknik pembuatan benda perunggu, ada dua macam yaitu dengan cetak setangkup (bivalve) dan cetak lilin (a cire perdue).

Teknik bivalve, atau cetakan setangkup teknik cetakan ini menggunakan dua cetakan dari tanah atau batu yang dapat ditangkup seperti kulit tiram. Bentuk cetakan disesuaikan dengan bentuk sesuai yang diinginkan

Teknik a cire perdue, atau cetakan lilin . tenik a cire perdue dipergunakan untuk benda-benda yang bentuknya memilki bagian-bagian yang menonjol seperti arca, dan kapak perunggu. Cetakan seperti ini hanya dapat digunakan sekali saja. Disamping tradisi pembuatan alat-alat perunggu, manusia pada periode ini juga sudah mampu melebur biji-biji besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaan

16

E-MODUL​

​CERMATILAH DAN BACALAH MATERI E MODUL DI BAWAH INI!!!!

​https://drive.google.com/file/d/1uNabWCeJ1YmpBp9CErAPaT9T8NZYB5NY/view?usp=sharing

17

VIDEO PEMBELAJARAN

​CERMATILAH VIDEO DIBAWAH INI!!!

​https://youtu.be/fFQNNTW2vBc

pattern-tertiary

KEHIDUPAN AWAL MANUSIA INDONESIA

Sejarah Peminatan Kelas X/Gasal

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 17

SLIDE