
Individu di Sekolah
Presentation
•
Education
•
Professional Development
•
Practice Problem
•
Hard
Lovely Lelatobur
Used 1+ times
FREE Resource
41 Slides • 5 Questions
1
BAB 4
Individu di Sekolah
Lovely Ezverenzha Lelatobur
942022001
2
Konten Bab 4
Kebutuhan
Hirearki Kebutuhan; Kebutuhan dan Kepuasan
Pekerja; Kebutuhan akan Prestasi; Kebutuhan akan
Ekonomi
Kepercayaan
Kepercayaan tentang Kasualitas; Kepercayaan
tentang Kemampuan; Kepercayaan tentang
Keberimbangan; Kepercayaan tentang Hasil;
Kepercayaan tentang Kapabilitas
Tujuan
Teori Penetapan Tujuan
Motivasi instrinsik dan
ekstrinsik
Kesimpulan
Panduan Praktik
3
Pendahuluan
Organisasi hadir untuk melayani dan untuk mencapai tujuan-
tujuan organisasi.
Siswa, guru, dan administrator hadir dengan kebutuhan masing-
masing, serta pemahaman tentang peran mereka.
Untuk
mendapatkan
wawasan
tentang
siswa,
guru,
dan
administrator sekolah sebagai individu dalam sistem sosial – dikaji
dari kebutuhan, kepercayaan, tujuan, dan motivasi
4
Kebutuhan
01
5
Edwin A.Locke (1991), kebutuhan diekspresikan secara leluasa
dalam
percakapan
sehari-hari,
namun
dalam
konteks
biologisnya, merupakan tuntutan bagi kelangsungan hidup
dan kesejahteraan.
Konsep kebutuhan menerangkan mengapa manusia hidup dan
berperilaku, dan merupakan standar untuk menilai pakah
tindakan tersebut sehat atau tidak.
6
1.1. Hirarki Kebutuhan
•Psikolog humanistik Abraham Maslow (1970) mengembangkan
teori
kebutuhan
yang
berasal
dari
pengalamannya
sebagai
psikolog klinis (Campbell dan Pritchard, 1976; Steers dan Porter,
1983).
•Hirarki kebutuhan – serangkaian kebutuhan bawaaan manusia
yang diatur dalam urutan hirarkis (Kanfer, 1990).
7
8
Fill in the Blanks
Type answer...
9
Fill in the Blanks
Type answer...
10
Fill in the Blanks
Type answer...
11
Fill in the Blanks
Type answer...
12
Fill in the Blanks
Type answer...
13
Bagi para pendidik, kebutuhan akan kepemilikan/dimiliki baik dalam
ikatan persahabatan, kelompok kerja informal, keanggotaan profesional,
dan keanggotaan sekolah menghasilkan terjalinnya hubungan dengan
mitra kerja, rekan sebaya, atasan dan bawahan.
Kebutuhan harga diri dan status, menyebabkan seorang pendidik untuk
mencari control, otonomi, penghormatan dari dan kepada orang lain,
serta kompetensi profesional.
Kebutuhan aktualisasi diri memotivasi para pendidik untuk menjadi
manusia yang sebaik-baiknya .
14
Teori hirarki kebutuhan Maslow didasarkan
pada tiga postulat fundamental (Cherrington,
1991)
● Kebutuhan individual berciri universal dan
tertata pada sebuah hirarki
● Kebutuhan yang tak terpenuhi mendorong
individu untuk memusatkan perhatian secara
eksklusif pada kebutuhan tersebut
● Kebutuhan tingkat lebih rendah sebagian besar
harus dipenuhi sebelum kebutuhan tingkat
tinggi dirasakan dan dicapai
15
1.2. Kebutuhan & Kepuasan Pekerja
•Frederick Herzberg, Herberg, Mausner, dan Synderman (1959)
mengembangkan sebuah teori motivasi yang disebut motivation-
hygiene, (a.k.a teori dua fator, teori faktor ganda)
•Teori ini memiliki beberapa asumsi :
• Ada dua rangkaian faktor yang terpisah dalam menjelaskan
kepuasan dan ketidakpuasan kerja.
• Motivator
cenderung
membuahkan
kepuasan,
sedangkan
faktor-faktor hygiene cenderung membuahkan ketidakpuasan.
• Kepuasan dan ketidakpuasan kerja bukanlah lawan, namun
dua aspek yang terpisah dan berbeda.
16
Singkat kata, motivator cenderung membuahkan kepuasan
kerja,
sedangkan
hygiene
cenderung
membuahkan
ketidakpuasan kerja.
17
Faktor-faktor hygiene
sekaligus motivator memang penting namun
untuk alasan yang berbeda (Tabel 4.1) Sebagai contoh, gaji bukan hanya
pemberi ketidakpuasan tetapi juga bertindak sebagai motivator bagi
sebagian orang (Miner,2002).
Higiene
Motivator
Hubungan
antarpribadi
(dengan bawahan)
Hubungan
antarpribadi
(dengan rekan kerja)
Pengawasn (teknis)
Kebijakan dan administrasi
Kondisi-kondisi kerja
Kehidupan pribadi
Keselamatan kerja dan gaji
Ketidakpuasan
Prestasi
Pengakuan
Kerja itu sendiri
Tanggung jawab
Kemajuan
Kepuasan
18
•Teori motivasi prestasi lazim disebut teori pencapaian dicetuskan oleh David
McClelland (1961,1965,1985). Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas-tugas
berat, mengatasi kesulita dan hambatan, dan menjadi unggul adalah kebutuhan
akan prestasi.
•McClelland (1961,1985) mengajukan bahwa individu yang tinggi motivasi
berprestasinya memiliki karakteristik utama:
Memiliki keinginan kuat untuk memikul tanggung jawab pribadi demi
menjalankan tugas atau memecahkan masalah
Menetapkan tujuan-tujuan agak lumayan sulit dan mengambil tingkat resiko sedang.
Keinginan kuat akan umpan balik prestasi.
1.3.
Kebutuhan akan
Prestasi
19
Upaya menanamkan motivasi berprestasi seyogianya ditandai dengan:
Penciptaan
situasi
yang memungkinkan
individu bisa sukses.
Pemberian
penekanan pada
penetapan tujuan
yang masuk akal dan
bisa dicapai.
Penerimaan tanggung
jawab pribadi untuk
kinerja.
&
Penerimaan umpan
balik yang jelas
terhadap prestasi.
20
1.4. Kebutuhan akan Otonomi
Kebutuhan
akan
otonomi
adalah
keinginan
untuk
bertindak secara mandiri, bukan merasakan tekanan
dan imbalan eksternal yang menentukan perbuatan
(Deci dan Ryan, 1985; Deci, Vellerand, Pelletier, dan
Ryan, 1991; Ryan dan Deci, 200; Deci dan Ryan,
2006).
Kebutuhan akan otonomi dan penentuan nasib sendiri
bisa ditingkatkan dengan mendorong individu untuk :
• Menentukan pilihan-pilihannya sendiri.
• Merencanakan jalur-jalur aksinya sendiri.
• Menerima tanggung jawab atas konsekuensi dari
pilihan-pilihannya sendiri.
21
Kepercayaan
02
22
Kepercayaan
adalah
pemahaman
atau
generalisasi
umum tentang dunia; kepercayaan merupakan sesuatu
yang diyakini benar oleh individu.
23
2.1. Kepercayaan tentang Kausalitas:
Teori Atribusi
Bernard Weiner (1972, 1985, 1986, 1992, 1994a, 1994b) menggunakan
pandangan atribusi/pengalamatan yang berurusan dengan penjelasan
sebab-akibat yang dilakukan oleh individu tentang perilaku yang sudah
lewat, terutama yang bersangkuan dengan upaya dan ekspektasi prestasi.l
Weiner (1972, 1985, 1986, 1992, 1994a, 1994b, 2000) menyatakan bahwa
sebagian besar sebab yang dijadikan alamat kesuksesan dan kegagalan
oleh individu bisa dicirikan berdasarkan tiga aspek kasualitas -- lokus,
stabilitas, dan tanggung jawab.
Lokus (internal vs eksternal)
Stabilitas (stabil vs berubah-ubah)
Tanggung jawab (bisa dikontrol vs tidak bisa dikontrol)
24
Elemen
utama
dari
teori
atribusi
dapat
dirangkum
dengan
serangkaian pertanyaan
Sebab-Akibat
Apa saja penyebab dari hasil
tersebut? Upaya? Kemampuan?
Keberuntungan? Kesulitan?
Bantuan? Bias?
Stabilitas
Apakah penyebabnya stabil
atau berubah-ubah? Apakah
penyebabnya tetap seperti
kesulitan atau berubah-ubah
seperti upaya?
Pengendalian
Dapatkah saya mengendalikan
penyebab? Dapatkah saya
mengendalikan usaha saya?
Kemampuan saya? Kesulitan
dari tugas tersebut? Bantuan?
Peringkat? Bias?
Lokus
Apakah penyebabnya berasal
dari dalam diri atau dari luar?
Misalnya, apakah penyebabnya
ada di dalam diri atau di luar
diri (keberuntungan dan
kesulitan tugas) individu?
25
2.2. Kepercayaan tentang Kemampuan
Pandangan stabil (terkadang disebut pandangan entitas)
tentang kemampuan mengasumsikan bahwa kemampuan
adalah sifat yang stabil dan tidak dapat dikontrol, yaitu
karakteristik individu yang tidak dapat diubah (Dweck dan
Bempechat, 1983).
Pandangan
inkremental
tentang
kemampuan
(kadang-
kadang disebut pandangan pertumbuhan), di sisi lain,
mengasumsikan bahwa kemampuan tidak stabil dan dapat
dikontrol-sebuah cadangan pengetahuan dan keterampilan
yang terus berkembang.
26
2.3. Kepercayaan
tentang
Keberimbangan
2.3.1.
Teori Kesetaraan
2.3.2.
Keadilan
Organisasi
27
Teori keseteraan (Greenberg, 1993a; Tyler, 1994; Folger, 2005) menjelaskan
bahwa jika rasio input/output kurang lebih sama untuk orang-orang yang
kita bandingkan dengan diri kita sendiri, maka kita memandang perlakuan
kita sebagai adil. Namun, jika rasio tersebut tidak setara, kita percaya
bahwa kita tidak diperlakukan secara adil dan muncullah perasaan
ketidaksetaraan.
Baron (1998) menjelaskan bahwa perasaan tidak setara mengganggu
motivasi kerja, dan individu berusaha untuk mengurangi perasaan tersebut
dengan tiga cara:
1.Mereka
berusaha
meningkatkan
hasil-hasil
kerja
mereka-mereka
mencari keuntungan yang lebih besar seperti kenaikan gaji atau
imbalan lainnya.
2.Mereka
meninggalkan
pekerjaan-mereka
berhenti
dan
mencari
pekerjaan lain.
3.Mereka mengurangi input mereka-mereka mengeluarkan lebih sedikit
usaha dalam pekerjaan.
28
Keadilan organisasional adalah persepsi anggota organisasi tentang
keadilan dalam organisasi dan mencakup keadilan distributive; keadilan
distribusi sumber daya; dan keadilan prosedural untuk mendistribusikan
sumber daya.
Kesepuluh prinsip keadilan organisasional ini dirangkum dalam Gambar
4.5.
29
Prinsip-prinsip Keadilan Organisasi
Prinsip Kesetaraan
Imbalan harus sebanding dengan kontribusi.
Prinsip Persepsi
Persepsi individu tentang keadilan menentukan keadilan.
Prinsip Hak Suara
Partisipasi dalam pengambilan keputusan akan meningkatkankeadilan.
Prinsip Keadilan
Interpersonal
Perlakuan yang bermartabat dan penuh penghargaan meningkatkan
keadilan.
Prinsip Konsistensi
Perilaku yang adil secara konsisten mendorong rasa keadilan.
Prinsip Egalitarian
Kepentingan pribadi harus dinomorduakan demi kepentingan bersama
Prinsip Koreksi
Keputusan yang salah harus segera diperbaiki.
Prinsip Akurasi
Keputusan harus didasarkan pada informasi yang akurat.
Prinsip Representatif
Keputusan yang diambil harus mewakili mereka yangberkepentingan.
Prinsip Etis
Standar moral dan etis yang berlaku sebaiknya dipatuhi
30
2.4. Kepercayaan tentang Hasil : Teori
Ekspektasi
Teori
ekspektasi
bertumpu
pada
dua
premis
fundamental.
Pertama, individu membuat keputusan tentang perilaku mereka
sendiri
dalam
organisasi
dengan
menggunakan
kemampuan
mereka untuk berpikir, bernalar, dan mengantisipasi kejadian di
masa depan. Kedua, nilai dan sikap individu berinteraksi dengan
komponen lingkungan, seperti ekspektasi peran dan budaya
sekolah, untuk mempengaruhi perilaku.
Teori ekspektasi dibangun di atas asumsi-asumsi ini dengan tiga
konsep dasar --- ekspektasi, instrumentalitas, dan valensi
31
Ekspektasi
Sejauh mana seseorang percaya bahwa kerja keras akan menghasilkan
kinerja yang lebih baik. Pertanyaan ekpektasinya adalah: Jika saya bekerja
keras, apakah saya akan berhasil?
Instrumentalitas
Probabilitas yang dirasakan bahwa kinerja yang baik akan diperhatikan dan
dihargai. Pertanyaan instrumentalitas adalah: Jika saya berhasil, apa yang
akan saya terima sebagai imbalannya?
Valensi
Nilai atau daya tarik yang dirasakan dari sebuah imbalan. Konsep valensi
yaitu, apa yang orang anggap atau yakini bermanfaat bagi kesejahteraan
mereka atau memiliki nilai penting itu sendiri. Pertanyaan valensi adalah:
Bagaimana perasaan saya terhadap imbalan atas usaha saya?
32
Singkat kata, teori ekspektasi telah memunculkan kesimpulan berikut ini :
1. Teori ekspektasi adalah prediktor yang sangat baik untuk kepuasan kerja.
2. Teori ekspektasi memprediksi kinerja tetapi tidak sebaik memprediksi
kepuasan.
3. Teori ekspektasi menunjukkan bahwa orang bekerja keras ketika mereka
berpikir bahwa bekerja keras akan menghasilkan hasil yang diinginkan
33
2.5. Kepercayaan tentang Kapabilitas:
Self-Efficacy Theory
Efikasi
diri
adalah
penilaian
seseorang
tentang
kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan suatu
tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkat kinerja
tertentu (Bandura, 1986, 1991, 1997, 2005).
Semakin
kuat
orang
percaya
pada
kemampuan
mereka,
semakin besar dan gigih usaha mereka. Dari sinilah, manusia
yang memiliki keterampilan yang sama tetapi memiliki tingkat
keandalan-diri yang berbeda dapat menunjukkan kinerja yang
berbeda
karena
cara
mereka
menggunakan,
mengkombinasikan, dan mengurutkan keterampilan mereka
dalam konteks yang berubah-ubah (Gist dan Mitchell, 1992).
34
Efikasi diri dapat berubah seiring berjalannya waktu ketika informasi dan
pengalaman baru diperoleh. Ada emapt kesimpulan yang dapat diambil:
Individu
yang
memiliki
kepercayaan
yang
lebih
kuat
tentang
kemampuan mereka akan lebih sukses dan gigih dalam usaha mereka.
Individu cenderung menghindari tugas dan situasi yang melebihi
kapasitas mereka.
Individu mencari aktivitas yang mereka anggap mampu mereka
tangani.
Individu
mengembangkan
keandalan-diri
melalui
pengalaman
penguasaan, pemodelan, persuasi, dan pembangkitan fisiologis.
35
2.5.2. Efikasi-Diri Guru
Bandura (1977) mendefinisikan efikasi guru sebagai jenis hasil efikasi diri
dari proses kognitif di mana orang membangun keyakinan tentang kapasitas
mereka untuk berkinerja baik.
Keyakinan akan efikasi diri ini mempengaruhi seberapa besar usaha yang
dikeluarkan
seseorang,
berapa
lama
mereka
akan
bertahan
dalam
menghadapi kesulitan, ketahanan mereka dalam menghadapi kegagalan,
dan stres yang mereka alami dalam menghadapi situasi yang menuntut
(Bandura, 1997).
36
Megan Tschannen-Moran, Anita Woolfolk Hoy, dan Wayne K. Hoy (1998)
mengembangkan sebuah model efikasi guru, adalah keyakinan guru
terhadap kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang
diperlukan agar berhasil menyelesaikan tugas mengajar tertentu dalam
konteks tertentu.
Keberhasilan mengajar, usaha, dan ketekunan bergantung pada sejauh mana
seorang
guru
percaya
bahwa
ia
memiliki
kemampuan
yang
akan
menghasilkan pembelajaran yang sukses dalam situasi tertentu.
Ada dua pertanyaan kunci tentang keberhasilan bagi para guru:
1.Pertanyaan tentang Tugas Mengajar: Seberapa sulitkah tugas mengajar
yang ada dan dapatkah saya melakukannya?
2.Pertanyaan Kompetensi Mengajar: Mengingat tugas dan situasi yang ada,
apakah saya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan?
2.5.3. Model Efikasi yang Ditafsirkan untuk Pengajaran
37
TUJUAN
04
38
Tujuan adalah sasaran atau hasil yang ingin dicapai oleh seseorang.
Isi tujuan, bervariasi dari yang spesifik hingga abstrak. Contoh isi
tujuan yang konkret atau spesifik antara lain menurunkan berat
badan sebanyak 10 kilogram dalam dua bulan ke depan atau
mendapatkan nilai A pada ujian berikutnya. Contoh tujuan abstrak
adalah "melakukan yang terbaik.“
Intensitas tujuan, diilustrasikan dengan komitmen - sejauh mana
individu menganggapnya penting, bertekad untuk mencapainya,
dan mempertahankannya dalam menghadapi kemunduran dan
rintangan.
39
3.1. Teori Penetapan Tujuan
● Mengapakah tujuan sering kali meningkatkan kinerja kita?
Locke dan Latham (1990) mengusulkan bahwa kinerja tujuan
yang sukses memenuhi empat syarat:
○Pertama, tujuan harus spesifik.
○Kedua, tujuan harus menantang.
○Ketiga, tujuan harus bisa dicapai.
○Terakhir, individu harus berkomitmen pada tujuannya.
● Umpan balik juga penting dalam menjadikan penetapan tujuan,
membantu individu mengevaluasi kemajuan dirinya. Jika ia
gagal, maka ia dapat mengerahkan lebih banyak usaha atau
bahkan mencoba strategi lain.
40
Singkatnya, teori penetapan tujuan menunjukkan bahwa tujuan
yang spesifik dan menantang namun bisa dicapai, mampu dan
sering kali meningkatkan motivasi karena tujuan tersebut dapat
meningkatkan
fokus,
upaya,
dan
ketekunan
sekaligus
pengembangan strategi tugas khusus untuk mencapai tujuan.
41
Motivasi
intrinsik &
Ekstrinsik
04
42
Motivasi secara umum didefinisikan sebagai keadaan internal yang menstimulasi,
mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Motivasi berfokus pada lima aspek
dasar: pilihan, inisiasi, intensitas, kegigihan, dan reaksi (Graham dan Weiner,
1996).
Motivasi intrinsik adalah kecenderungan alamiah untuk mencari dan menerima
tantangan ketika kita mengejar minat pribadi dan melatih kemampuan (Deci dan
Ryan, 1985; Reeve, 1996; Deci, Koestner, dan Ryan, 1999; Deci dan Ryan, 2002;
Reeve, Deci, dan Ryan, 2004).
Motivasi ekstrinsik, sebaliknya, didasarkan pada imbalan dan hukuman. Motivasi
ekstrinsik adalah perspektif perilaku pada motivasi karena menjelaskan motivasi
dan
perilaku
dalam
hal
penghargaan
dan
hukuman.
Motivasi
ekstrinsik
menstimulasi kita untuk bertindak dengan insentif dan disinsentif (menghindari
hukuman).
43
44
Kesimpulan
Individu bekerja keras ketika kebutuhan akan keamanan dan keselamatan
tingkat rendahnya tepenuhi sedangkan kebutuhan tingkat tinggi tertantang
oleh adanya tugas.
Tujuan yang sulit, jika diterima, akan menghasilkan tingkat kinerja yang lebih
tinggi daripada tujuan yang mudah.
Individu sangat termotivasi ketika mereka percaya bahwa upaya ekstra akan
dihargai dengan hasil yang mereka inginkan.
Perasaan yang kuat akan kapabilitas untuk mengerjakan sebuah tugas bisa
meningkatkan kesuksesan.
45
Panduan untuk praktik
1.Rayakan keberhasilan staf pengajar Anda: Penguatan positif adalah motivator yang kuat.
2.Mengartikulasikan tujuan yang jelas, spesifik, dan dapat dicapai: Tujuan tersebut
memberikan target yang terfokus untuk usaha yang gigih.
3.Memupuk pandangan tambahan tentang kecerdasan: Meningkatkan pencapaian.
4.Bersikaplah adil dalam memutuskan dan mendistribusikan sumber daya sekolah: Para
peserta berharap untuk diperlakukan secara adil.
5.Melengkapi guru dengan keterampilan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk berhasil:
Guru bekerja lebih cerdas ketika mereka memiliki alat yang tepat.
6.Mengembangkan rasa percaya diri pada guru dan siswa: Kedua-duanya meningkatkan
prestasi akademik.
7.Berikan umpan balik yang membangun kepada guru dalam upaya mereka mencapai
tujuan: Bujukan verbal meningkatkan ketekunan.
8.Ciptakan situasi guru yang mengarah pada pengalaman sukses: Pengalaman sukses
adalah sumber yang paling berharga bagi efikasi diri guru.
9.Menyediakan model-model praktik yang berhasil bagi para guru: Model-model seperti itu
merupakan penentu yang kuat dari efikasi diri.
10. Doronglah para guru untuk menerima tanggung jawab demi pencapaian: Tanggung jawab
menghasilkan komitmen, ketekunan, dan kesuksesan.
46
Terima
kasih
BAB 4
Individu di Sekolah
Lovely Ezverenzha Lelatobur
942022001
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 46
SLIDE
Similar Resources on Wayground
36 questions
Diskusi CP Kombel Guru Kita
Presentation
•
Professional Development
39 questions
MATERI QUIZIZZ - SMP II LH
Presentation
•
Professional Development
41 questions
berpikir komputasional
Presentation
•
University - Professi...
41 questions
Akuntansi Keuangan
Presentation
•
University
41 questions
IMS Awareness CL4 - CL5
Presentation
•
Professional Development
40 questions
Materi Pengantar Quizizz
Presentation
•
Professional Development
40 questions
PERSAMAAN GARIS LURUS
Presentation
•
7th - 9th Grade
42 questions
Awareness FSSC 22000
Presentation
•
Professional Development
Popular Resources on Wayground
20 questions
"What is the question asking??" Grades 3-5
Quiz
•
1st - 5th Grade
20 questions
“What is the question asking??” Grades 6-8
Quiz
•
6th - 8th Grade
10 questions
Fire Safety Quiz
Quiz
•
12th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
34 questions
STAAR Review 6th - 8th grade Reading Part 1
Quiz
•
6th - 8th Grade
20 questions
“What is the question asking??” English I-II
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
47 questions
8th Grade Reading STAAR Ultimate Review!
Quiz
•
8th Grade