Search Header Logo
Slide PDF Presentasi 1

Slide PDF Presentasi 1

Assessment

Presentation

English

12th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Lestari Utami

Used 2+ times

FREE Resource

12 Slides • 0 Questions

1

media
media
media

BUILDING LEARNING

COMITMENT

(BLC)

Bahan ajar

BUILDING LEARNING COMMITMENT

Pelatihan Jarak Jauh Publikasi Ilmiah

Balai Dikalat Keagaaan Denpasar

2023

2

media

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan dan pelatihan antara lain bertujuan untuk memberikan

pengetahuan, membiasakan berperilaku dan bersikap yang baik dan benar.

Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila tercipta suasana

senang, segar tapi fokus (Fun, Fresh and Focus). Apalagi materi yang

diarahkan untuk pembentukan sikap dan prilaku. Fun atau menyenangkan,

apabila pelaku pembelajaran merasa gembira, bebas berekspresi, rileks, dapat

mengungkapkan pendapat, tanpa ada perasaan tertekan dan merasa dihargai.

Menyenangkan juga dalam arti merasa lepas, bebas dari tekanan baik fisik

maupun non fisik kita.

Peserta diklat semestinya menyiapkan fisik, mental, emosi selama

kegiatan diklat ini berlangsung sehingga dapat mengikuti seluruh program

secara baik. Suasana penting yang perlu disiapkan adalah kemampuan

berinteraksi dengan sesama teman peserta, dengan panitia maupun dengan

fasilitator. Untuk lebih berkemampuan mengembangkan potensi yang dimiliki

dan memperlancar hubungan serta bekerjasama dengan pihak-pihak dimana

peserta harus berhubungan, peserta perlu memahami siapa dirinya dan siapa

orang lain. Bagaimana aturan main yang harus diikuti, bagaimana cara

bekerjasama yang saling menguntungkan, cara berprilaku dan bersikap agar

peserta dapat mengikuti program dengan baik.

B. Deskripsi Singkat

Mata Diklat Building Learning Commitment ini membahas tentang mengenal

diri dan orang lain, Menjalin komunikasi yang harmonis, Membangun rasa

kebersamaan, Membuat kontrak pembelajaran dan melaksanakan komitmen

belajar

3

media

2

C. Manfaat Bahan Ajar bagi Peserta

1. Peserta dapat saling percaya (trust), memiliki sikap terbuka dan menghargai

keterbukaan (openness), rasa tanggung jawab (responsibility), dan merasa

bahwa dirinya merupakan bagian dari yang lain (interdependency).

Keberhasilan Building Learning Commitment akan mempengaruhi

keberhasilan program secara keseluruhan.

2. Peserta dapat berinteraksi dengan sesama peserta, peserta dengan panitia,

peserta dengan fasilitator terbina dengan baik dan semakin lancar, akrab,

serta saling mengerti sifat masing-masing, sehingga suasana diklat lebih

kondusif.

3. Peserta dapat lebih mengenal diri sendiri, mengenal diri orang lain dengan

lebih baik, memiliki komitmen, memiliki keterampilan bagaimana

bekerjasama

dalam

kelompok,

jiwa

kepemimpinan,

terampil

berkomunikasi,

disiplin

dan

tanggung

jawab,

sehingga

proses

pembelajaran dalam diklat dapat berjalan efektif dan menyenangkan bagi

seluruh peserta diklat.

C. Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti pembelajaran peserta diharapkan mampu merumuskan

komitmen belajar (Learning Commitment) yang disepakati dan dipatuhi

bersama selama diklat berlangsung.

D. Indikator Pencapaian

Setelah selesai pembelajaran peserta dapat :

1.Mengenal diri dan mengenal orang lain dengan lebih baik;

2.Menjalin komunikasi yang harmonis

3.Membangun rasa kebersamaan

4.Membuat kontrak pembelajaran dan melaksanakan komitmen belajar

E. Pokok Bahasan

1. Mengenal Diri Sendiri dan Orang Lain

2. Menjalin komunikasi yang harmonis

3. Membangun rasa kebersamaan

4. Membuat kontrak pembelajaran dan melaksanakan komitmen belajar

4

media

3

BAB II

BAHASAN BUILDING LEARNING COMMITMENT (BLC)

A. Mengenal Diri Sendiri dan Orang Lain

Dalam suatu kelompok di mana anggotanya baru pertama kalinya

bertemu dan belum saling mengenal satu sama lain, pikiran mereka akan

terpusat pada pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapakah orang lain di sini?

Apakah mereka dapat dipercaya? Dari manakah mereka? Siapa namanya?

Datang dari mana? Berapa umurnya? Dan berbagai pertanyaan akan

berkecamuk dalam pikiran mereka. Proses ini biasanya menyerap tenaga

peserta yang akan berpengaruh dalam proses pembelajaran dan kerjasama

diantara peserta.

Setiap kali kita bertemu dengan orang yang baru kita kenal, maka kesan

pertama kita akan orang tersebut banyak dipengaruhi oleh penampilan, cara ia

berbicara, tertawa, berpakaian dan sebagainya. Biasanya kesannya bisa positif

dan bisa negatif atas orang lain. Dan itu berpengaruh terhadap sikap dan

pandangan kita terhadap yang bersangkutan. Oleh karena itu, diperlukan

beberapa waktu untuk membuktikan apakah kesan atau pandangan kita itu

benar. Semakin baik peserta saling mengenal, semakin kompak mereka dan

semakin efektif proses kerjasama dan proses pembelajaran yang terjadi.

Adapun langkah-langkah dalam membina kekompakan tersebut dan peserta

siap untuk memulai proses pembelajaran, sebagai berikut:

1. Pencairan Kelas

Kegiatan awal yang perlu dilakukan adalah pencairan kelas atau “bina

suasana”. Kegiatan dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta memulai

pelajaran. Di sini dimaksudkan untuk mencairkan suasana agar hubungan

antar peserta dan peserta fasilitator terbina dengan baik, sehingga siap

untuk belajar. Dengan bina suasana ini dimaksudkan untuk menciptakan

suasana aman dan penuh kepercayaan diantara peserta dan widyaiswara.

Dengan merasa senang, bebas dari tekanan fisik maupun mental

emosional, memungkinkan peserta belajar lebih efektif dan menyerap serta

mengingat sejumlah besar materi dengan baik. Mengapa demikian?

5

media

4

Karena dalam keadaan seperti ini, peserta bisa memanfaatkan seluruh

potensi otaknya. Kuncinya adalahnya membangun ikatan emosional

dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan dan

menyingkirkan segala macam ancaman. Proses belajar dapat diibaratkan

sebuah mobil, akan dapat melaju dengan semua silinder, jika dimulai dari

gigi pertama (menyingkirkan ancaman) dan berusaha masuk ke kondisi

HOTS (Quantum Teaching, Bobby DePorter dkk). Higher Order

Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan Berfikir Orde Tinggi. Ini tidak

akan dapat dicapai dalam suasana penuh tekanan fisik dan emosional,

karena ketika otak menerima ancaman atau tekanan, kapasitas saraf untuk

berfikir rasional mengecil. “Otak dibajak secara emosional” (Goleman,

1995) menjadi mode bertempur atau kabur dan beroperasi pada tingkat

bertahan hidup. Oleh karena itu, bina suasana atau pencairan kelas adalah

sesuatu yang mutlak diperlukan agar proses pembelajaran berjalan secara

efektif.

2. Mengenal Diri

Pengenalan diri sendiri adalah suatu langkah awal untuk dapat

menjadi individu yang berhasil dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Individu yang berhasil dalam berinteraksi dengan lingkungannya adalah

individu yang di butuhkan, diharapkan disenangi oleh lingkungan karena

dapat memberi manfaat dan arti positif bagi kualitas kehidupan alam

semesta dan kualitas pribadinya.Usaha ini akan berhasil apabila usaha

tersebut dilakukan dengan menggunakan akal sehatnya. Maka melalui

penggunaan akal sehat individu manusia dapat melakukan usaha

pengenalan diri sendiri sehingga keberadaannya akan diterima baik oleh

lingkungan. Penerimaan oleh lingkungan itu merupakan salah satu

kebutuhan pokok manusia selaku makhluk sosial. Dalam mengenal diri

sendiri perlu direfleksikan kelebihan dan kekurangan masing-masing

peserta. Kelebihan (potensi positif) dan kekurangan (potensi negatif) ini

merupakan aset untuk pengembangan pribadi.

Dengan mengetahui potensi yang positif akan diketahui apa yang harus

dikembangkan atau dioptimalkan dan yang negatif akan dihilangkan atau

6

media

5

paling tidak dikurangi. Dengan mengenal diri secara lebih baik, peserta

dapat memahami dengan jelas apa faktor-faktor yang menunjang

keberhasilan dan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan yang pernah

dialami. Dengan mengenal dirinya secara lebih baik, peserta mengetahui

apa yang ingin dicapai atau yang dicita-citakan, sehingga dapat

menetapkan tujuan hidupnya secara lebih realistis. Penetapan tujuan ini

akan mendorong atau memotivasi seseorang berbuat lebih baik lagi.

Dengan jelasnya tujuan yang ingin dicapai seseorang akan jelas hendak

melangkah ke mana. Mengenal diri sendiri juga dapat dilakukan dengan

dengan teknik refleksi atau menggambar wajah diri sendiri dan menuliskan

kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan yang dimiliki

peserta

dapat

dianggap

sebagai

potensi

yang

dimiliki

untuk

mengembangkan diri. Sedangkan kelemahan yang dimiliki peserta diangga

sebagai aset yang harus diperbaiki sehingga dapat menunjang

pengembangan diri.

3. Mengenal Orang Lain

Kerjasama yang efektif dan kelompok yang sinergis akan terbentuk

kalau masing-masing anggota kelompok saling mengenal dengan baik.

Saling memahami apa kelebihan-kelebihan yang dimiliki dan apa

kekurangan-kekurangan anggota kelompok. Kelompok ini akan sinergis,

kalau diantara masing-masing anggota kelompok dapat menerima anggota

kelompok lainnya dengan segala kelebihan dan segala kekurangan serta

kommit untuk melaksanakan sesuatu sesuai dengan kemampuan-

kemampuan yang ada. Kelompok akan efektif bahkan sinergis kalau

diantara masing-masing anggotanya ada saling mempercayai satu dengan

lainnya (trust), memiliki sikap keterbukaan (opennes), memiliki rasa

tanggung jawab (responsibility) dan merasa bahwa dirinya bagian integrasi

dari yang lainnya (interdependency). Ini akan dapat dicapai kalau sesama

anggota kelompok saling mengenal dengan baik. Oleh karena itu, ada

upaya yang perlu dilakukan untuk mengenal orang lain agar kita bisa

memahami orang lain dengan baik. Stephen R Covey dalam bukunya “The

Seven Habbits of Highly Effective People” mengatakan bahwa

7

media

6

“berusahalah mengerti orang lain terlebih dahulu, baru kita berharap kita

bisa dimengerti orang lain” Teknik mengenal orang lain dapat dilakukan

dengan perkenalan antar sesama peserta diklat dan pembauran antar

sesama peserta diklat melalui sebuah diskusi dalam kelompok. Fasilitator

dapat memberikan sebuah permasalahan untuk didiskusikan dalam

kelompoknya. Hasil diskusi ini wajib dipresentasikan oleh perwakilan dari

masing-masing kelompok dan kelompok lain wajib memberikan

tanggapan. Diskusi yang terjadi memberikan kesempatan kepada peserta

diklat untuk berargumen sehingga dapat diketahui sifat-sifat peserta diklat.

Pengenalan orang lain diperlukan agar individu dapat menyesuaikan diri

dengan orang lain tersebut sehingga dapat meningkatkan kualitas indifidu

dan kelompok

B. Komunikasi yang Harmonis

1.Komunikasi

Komunikasi diambil dari bahasa latin communicatio, yang bersumber dari

istilah ”communis” yang berarti membuat kebersamaan atau membangun

kebersamaan antara dua orang atau lebih. Dalam kehidupan sehari-hari

selain menjadi makhluk individu, manusia juga sebagai makhluk sosial

yang sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain. Dari interaksi

itulah terjadi komunikasi untuk menyampaikan pesan, saling bertukar

informasi dengan orang lain untuk tujuan tertentu.

Theodore M. Newcomb, “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai

suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari

sumber kepada penerima”

Beberapa unsur yang ada untuk membangun sebuah komunikasi

Sumber – Yaitu pembuat informasi atau pengirim informasi. Pada

komunikasi antar manusia, sumber komunikasi bisa dari satu orang

atau dari beberapa orang (kelompok) misalnya sebuah organisasi atau

lembaga. Sumber komunikasi disebut juga komunikator.

8

media

7

Penerima – pihak yang menjadi tujuan untuk dikirimi pesan oleh

sumber (komunikator). Penerima bisa terdiri dari satu orang atau

lebih. Penerima disebut juga komunikan.

Pesan – adalah informasi yang disampaikan oleh pengirim pesan

kepada penerima (komunikan). Pesan tersebut bisa disampaikan

dengan bertatap muka (langsung) atau melalui media komunikasi

(tidak langsung).

Media – alat yang digunakan dalam berkomunikasi untuk

memindahkan pesan (informasi) dari sumber kepada penerima

Efek – Pengaruh yang dipikirkan dan dirasakan oleh penerima

sebelum dan sesudah menerima pesan. Yang kemudian akan

mempengaruhi sikap seseorang dalam menelaah pesan.

Umpan Balik – sebuah bentuk tanggapan balik dari penerima setelah

memperoleh pesan yang diterima.

2.Komunikasi Harmonis

Salah satu rahasia terciptanya suasana pembelajaran yang

menyenangkan ialah menciptakan komunikasi dengan mau menerima

umpan balik antar peserta diklat. Fasilitator harus mau mendengarkan dan

berbagi pengalaman dengan peserta diklat sehingga tujuan pembelajaran

tercapai. Permasalahan dalam pembelajaran harus didiskusikan dalam

pembelajaran harus didiskusikan dengan komunikasi yang efektif sehingga

pesan yang dimaksud oleh pengirim dapat diterima dengan baik oleh

penerima. Komunikasi yang efektif merupakan awal terciptanya

komunikasi yang harmonis, karena masing-masing anggota yang ingin

menyampaikan pesannya dapat diterima dengan baik oleh peserta lainnya

dengan

tidak

mengindahkan

norma-norma

kesopanan

dalam

berkomunikasi.

Komunikasi yang harmonis adalah komunikasi yang tetap

memperhatikan

norma-norma

kesopanan

yang

sehingga

tidak

menimbulkan kesalahpahaman diatara peserta serta mampu menciptakan

suasana pembelajaran yang harmonis.

9

media

12

mengatur perilaku positif para anggotanya. Norma kelompok diperlukan

agar dapat memberikan arah dan isi tentang bagaimana anggota kelompok

berinteraksi dan berprilaku. Norma kelompok tercipta karena adanya

tujuan kelompok.

Norma kelompok dapat dirumuskan atau dinyatakan dalam berbagai

bentuk. Pada kelompok yang relative tidak terlalu formal, mungkin norma

kelompok dinyatakan dalam bentuk consensus tak tertulis. Dalam

kelompok formal dapat berupa peraturan, pedoman pelaksanaan, anggaran

dasar dan anggaran rumah tangga, dsb. Norma kelompok selalu ada

apapun bentuknya, karena norma kelompok dimaksudkan agar dapat

mempengaruhi perilaku anggotanya. Perilaku anggota kelompok yang

mengacu pada norma kelompok, dikenal sebagai perilaku normatif. Tetapi,

dalam kenyataan, tidak semua anggota kelompok berperilaku normatif.

Hasil penelitian para ahli menunjukkan tentang kaitan antara

norma kelompok dengan penyesuaian perilaku, sebagai berikut :

“penyesuaian perilaku atau konformitas, adalah suatu modifikasi perilaku

anggota sejalan dengan norma kelompok.

Modifikasi perilaku ini dapat saja terjadi secara lahiriah saja

(kompliansi) atau terjadi karena diterima dengan separuh, artinya baik

lahiriah maupun batiniah (akseptasi)”

Selanjutnya Stanley E Seashore mengemukakan bahwa tingkat

keeratan hubungan dalam suatu kelompok menentukan norma kelompok

mengenai tingkat prestasi seseorang atau kelompok. Hasil Penelitian

seashore sampai kepada kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara tingkat

keeratan hubungan dengan tingkat-tingkat kepuasan anggota kelompok.

2.Komitmen Belajar

Komitmen

(commitment)atau

keikatan

adalah

janji

atau

kesanggupan yang pasti untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan

sesuatu. Kelas dalam suatu diklat dapat dianggap sebagai kelompok sosial

yang memiliki batasan atau aturan yang perlu ditaati oleh semua anggota

yang tergabung didalamnya, agar tujuan pembelajaran, yang merupakan

kepentingan bersama tercapai dengan sebaik-baiknya dan berkualitas. Di

10

media

13

dalamnya ada norma yang mengandung nilai. Sesuatu yang dilarang

norma berarti mengandung nilai buruk bagi kelompok. Yang di haruskan

dan dituntut untuk ditaati dan dilaksanakan, mengandung nilai baik.

Norma merupakan aturan main yang perlu di taati, dan semua anggota

kelompok harus komit terhadap norma yang disepakati bersama.

Pembinaan komitmen belajar (Building Learning Commitment)

berperan untuk mencairkan suasana yang kaku karena antar peserta diklat

belum saling mengenal, menyiapkan mereka agar dapat berkomunikasi,

dan bertukar pengalaman secara terbuka, menciptakan suasana belajar

yang menggembirakan dan menyenangkan, menetapkan nilai belajar yang

disepakati bersama, membina kelompok yang berfungsi efektif sinergis,

dan bertekad untuk mensukseskan proses pembelajaran yang berkualitas.

Hal ini akan tercapai apabila antar peserta diklat telah tumbuh perasaan

saling mempercayai, adanya sikap keterbukaan, bertanggung jawab, dan

tumbuh rasa saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, banyak dikembangkan beberapa

instrument yang dapat membantu seseorang mengenali diri sendiri, dari

berbagai aspek potensi. Disamping dengan usaha pengisian kuisioner,

usaha pengenalan diri juga dapat dilakukan melalui kegiatan perenungan

atau intropeksi atau bias juga melalui masukan/pendapat dari orang lain

yang dianggap cukup mengenal diri sendiri.

Antar individu akan terjadi rekatan (komitmen) apabila setiap orang

dapat mengenal dirinya sendiri dan mengenal orang lain (teman satu

kelasnya) dengan baik. Salah satu alat yang biasa dipakai adalah dengan

menggunakan simulasi coat of arms. Dengan saling mengenal kekuatan

dan kelemahan diri setiap orang akan bisa berkomunikasi dengan baik dan

proposional, dan akan mampu bekerjasama dengan tim yang solid.

11

media

14

BAB III

PENUTUP

A.Simpulan

Building Learning Commitment menyiapkan peserta diklat agar dapat

saling mempercayai (trust), memilki sikap keterbukaan (openness), memiliki rasa

tanggung jawab (responsibility), dan merasa bahwa dirinya merupakan bagian

integral dari yang lain (interdepedency). Dengan keempat sikap tersebut

diharapkan peserta memiliki tingkat kesiapan yang cukup untuk mengikuti proses

pembelajaran selanjutnya. Oleh karena itu biasanya Building Learning

Commitment ini diberikan pada awal mengikuti Diklat, sebagai proses pencairan

suasana agar tercipta kondisi kesiapan peserta.

Komitmen belajar disepakati bersama dan dipatuhi dalam pelaksanaan

kegiatan pembelajaran. Dengan mengenal diri sendiri dan mengenal orang lain,

diharapkan peserta dapat menempatkan diri yang meyesuaikan dengan situasi dan

kondisi pembelajaran selama diklat berlangsung

B.Saran

Denngan diberikannya Building Learning Commitment hendaknya tidak

hanya diterapkan pada saat pelatihan saja, namun hendaknya juga dilaksanakan

dalam kehidupan sehari- hari pasca diklat.

12

media

15

DAFTAR PUSTAKA

Augus Helen, 1996 Kiat Memimpin Lokakarya, Seminar dan Pelatihan, Gagasan

Informasi, Ilham, Arcan,

DePoter Bobbi & Mike Hernacki, 1999 Quantum Learning, Membiasakan

Belajar

Nyaman

dan

Menyenangkan, Terjemahan

: Alawiyah

Abdurrahman, Jakarta, KAIFA,

Elis, Steven K, 1998 How to Strive Training Assigment, Reading Massachussetts;

Addison Wesley Publishing Company, Inc,

Poni, Tonny, 1991 Developing Effective Training Skills, London : Mac Graw Hill

Book Company

Ramli, Haris. Dr., MSc, 2005 Dinamika Kelompok, Jakarta: Pusdiklat Departemen

Agama

Ramli, Haris. Dr., MSc, , 2006 H. M. Azam Romly, Drs., Building Learning

Commitment (BLC), Jakarta: Pusdiklat Departemen Agama

Sri Martini, Dra., MPA, Sumarno, Drs. 2002 Dinamika Kelompok, Jakarta,

Lembaga administrasi Negara RI

media
media
media

BUILDING LEARNING

COMITMENT

(BLC)

Bahan ajar

BUILDING LEARNING COMMITMENT

Pelatihan Jarak Jauh Publikasi Ilmiah

Balai Dikalat Keagaaan Denpasar

2023

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 12

SLIDE