

Modul Tari glipang
Presentation
•
Life Skills
•
9th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Yuliarti Ningsih
FREE Resource
6 Slides • 0 Questions
1
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 35
Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo
(Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pandang Pelaku)
Royyan Muhammad
Abstrak
Glipang is the traditional dancing in Pendil village at Probolinggo Regency. The art of dance is a result in the
creation of power though thought which was later coined by someone who realized in gestures with the
accompaniment of music folk who have a fascination for aesthetics as well as there is a value the sacredness in
the dance. Discussing art not only as a system of symbols, but also art as a text, commonly called the textual
and contextual approach. Textual approach or hermeneutik, can be used to examine about the meaning of the
symbolic in terms of makeup, clothing, accessories, used musical instruments that accompany, and the meaning
of each movement in the Glipang dance. The method in this research is using the qualitative approach, by
conducting interviews to informants who became the next generation or the grandson of the creator of the
Glipang dance. The results of this study that the Glimpang dance are combine of the Rudat act, Gethak mask
dancing, Hadrah, Samman, dan pencak silat. The philosophy of the Glipang dance is 'etembeng poteh matah,
mongok tolang potiah' which means than the whites of the eyes, better bone white. Rather than shame, it is
better to die.
Keywords: Glipang Dance Art, Symbolic Meaning, act.
esenian tradisional merupakan suatu unsur kesenian yang menjadi bagian hidup
masyarakat dalam suatu etnis tertentu. Kesenian tradisional adalah suatu karya
seni yang patuh pada asas, stereotip, dan memegang teguh ketentuan yang ada
sehingga kreatifitas sulit untuk dibentuk, berbeda dengan seni modern yang haus akan
perubahan dan amat menghargai inovasi dan kreasi. Kesenian tradisional ini adalah karya
yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat yang diwarisi secara turun-menurun ke
generasi berikutnya, dan generasi yang selanjutnya harus menjaga dan melestarikan agar
suatu identitas suku bangsa tetap dihargai oleh kelompok masyarakat lain.
Melihat contoh Tari Barubah yang berangkat dari gerak-gerak tari tradisi Minangkabau.
Dari beberapa gerak yang ada dengan melalui pemilihan, yang mana maksudnya untuk
mengekspresikan pengalaman-pengalaman estetis menjadi sebuah bentuk garapan tari yang
mementingkan penonjolan teknik-teknik dalam sebuah tari. Diketahui pada dasarnya tari
tradisi Minangkabau berpijak pada gerakan-gerakan pencak silat. Sehingga didalamnya tari
Minangkabau seolah-olah tari dan pencak silat menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Ditinjau lebih jauh tari dan pencak mempunyai ciri yang sama seperti sama-sama
K
2
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 36
mempunyai aspek oleh tubuh yang kuat. Keduanya dibentuk dan diwarnai oleh kebudayaan
yang melingkupinya. Mempunyai unsur gerak yang indah dan dalam pernyataan geraknya
memperlihatkan adanya struktur. Sebaiknya, perbedaan pokok antara keduanya terletak pada
tujuan akhirnya masing- masing (Sedyawati, 1981 : 69).
Sebagai salah satu unsur dan sistem nilai budaya, kesenian dapat dikaji oleh antropologi
budaya. Berbagai kesenian merupakan hasil dari petualangan manusia, dan sebagian besar
karya-karya tentang estetika pada masa kini, dimulai dari perbedaan umum diantara cabang-
cabang seni yang dihasilkan dalam kehidupan kita.
Penelitian yang dilakukan sebelumnya tentang Tari Glipang telah beberapa kali
dilakukan, tetapi meneliti tentang sebuah analisis bentuk, fungsi, dan makna dengan
pendekatan folklor yang dilakukan oleh Agus Hidayat pada tahun 2006. Melihat hasil
penelitian yang dilakukan oleh Agus Hidayat bahwa Tari Glipang Probolinggo merupakan
bentuk kesenian yang diwariskan secara turun-menurun sehingga kesenian ini masih dapat
bertahan. Walaupun pada era globalisasi, sekarang semua kehidupan masyarakat dipacu oleh
teknologi baik tata cara hidup, peralatan dan bentuk seni budayanya, yang dapat mengubah
nilai-nilai dan bentuk kebudayaan itu sendiri. Untuk mempertahankan dan mengeksiskan
kesenian tersebut, perlu adanya pemahaman dan pengenalan mengenai bentuk seni Tari
Glipang baik secara sosial, agama, politik, budaya, dan pendidikan. Kesenian Tari Glipang
ini mempunyai paguyuban, yang mengembangkan ilmu bela diri dan mengajarkan berbagai
jurus silat. Dengan keberhasilan Sari Truno mengajarkan ilmu bela diri, akhirnya mempu
mengatasi kesombongan sinder-sinder Belanda. Untuk mengenang jasa Sari Truno, maka
pewaris-pewaris mengembangkan ilmu bela diri dan diubah menjadi gerak tari yang
kemudian dinamakan “Glipang”, sebagian besar terdiri dari unsur-unsur gerak silat yang
diperbarui sedemiakian rupa. (Hidayat, 2006:4-5)
Peneliti tertarik untuk mengkaji makna pada simbol-simbol yang ada pada kesenian
tradisional, terutama untuk meneliti makna pada simbol-simbol yang ada pada kesenian Tari
Glipang dalam hal tata rias, busana, aksesoris, alat musik yang dipakai, serta makna dari
setiap gerakannya dari sudut pandang pencipta tari. Tarian ini didominasi oleh gerakan patah-
patah dan kostum yang digunakan merupakan suatu bentuk penggambaran kebudayaan Suku
Madura. Pemahaman tentang seni tari disini adalah seni tari yang lebih menekankan pada
simbol-simbol yang terkandung pada gerak anggota badan manusia yang berirama, dan
berjiwa harmonis. Dari pembahasan latar belakang di atas, maka dapat ditarik suatu rumusan
masalah dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : Bagaimana para pelaku seni
3
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 37
tari Glipang dalam memaknai kesenian tarian tersebut dalam hal tata rias, busana, aksesoris,
alat musik, dan setiap gerakannya?
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menjelaskan tentang makna simbolik menurut
sudut pandang pelaku dalam hal tata busana, tata rias, aksesoris yang dipakai, alat musik
yang mengiringi, dan setiap gerakan. Untuk menjelaskan perkembangan seni Tari Glipang
mulai awal disiptakan sampai sekarang.
Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif karena data yang didapat
berupa data pernyataan, ungkapan tulisan yang diamati berasal dari orang-orang (subjek) itu
sendiri. Peneliti melakukan hubungan rapport dengan informan. Peneliti berusaha
mengetahui dan memahami sesuatu yang menjadi fokus penelitian, agar bisa menjawab
permasalahan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menjawab pertanyaan
penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interviews) observasi (pengamatan).
Informan dalam penelitian ini adalah seorang pembicara asli yang berbicara dengan
mengulang kata-kata, frase, dan kalimat dalam bahasa atau dialeknya sebagai sumber
informasi (Spradley, 1997:35). Untuk menentukan informan, peneliti memilih orang-orang
yang mempunyai keahlian menari, memainkan alat musik Glipang, dan keluarga pencipta
Tari Glipang. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan rinci berkaitan dengan
penelitian, maka peneliti memilih dan menetapkan beberapa informan yang memenuhi
kriteria sebagai berikut: (1) memahami tentang sejarah dan asal-usul Tari Glipang di
Probolinggo; (2) mengetahui tentang perkembangan Tari Glipang hingga saat ini; (3)
mengetahui secara mendalam tentang makna dari setiap bentuk gerakan tari, busana, tata rias,
aksesoris dan alat musik yang dipakai; (4) tergabung dan terlibat aktif dalam setiap latihan
yang diadakan oleh Bapak Soeparmo di Sanggar “Andhika Jaya”.
Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati
(Moleong, 2004:3). Adapun teknik analisis yang diambil dan digunakan adalah Pengumpulan
data melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan maupun observasi
langsung.
Properti dan Gerak Tari
Tari Glipang merupakan tarian yang mempunyai ciri khas, yaitu tarian dengan mengolah
nafas, yang diartikan sebagai ungkapan rasa ketidakpuasan terhadap penjajah pada masa itu.
4
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 38
sehingga tercermin pada riasan yang sangar, kostum yang digunakan juga menggambarkan
seorang prajurit dan aksesoris yang dipakai.
a. Tata Rias. Tata rias pada tarian ini membedakan dengan tarian lainnya, yaitu dengan
karakter wajah sangar dan berkumis, dan godek. Untuk pemain musik tidak dirias, tetapi
hanya memakai kostum dan odeng. Instrumen pada riasan ini terdiri dari celak, sedo, dan
bedak.
b.Busana Penari Glipang. Warna pada busana penari Glipang ini merah dan hitam. Merah
yang melambangkan orang Madura yang berani dan tidak takut mati. Sedangkan warna
hitam melambangkan kegelapan pikiran yang pada akhirnya tidak bisa mengontrol hawa
nafsu.
c.Busana Kiprah. Busana yang dipakai saat ini berwarna merah dan biru, ada juga busana
warna kuning dan hijau. Aksesoris yang dipakai yaitu rompi, sabuk blandang, sampur,
lancor, celana, jarit, keris, gungseng.
d.Busana Baris Glipang. Busana baris terdiri dari ikat kepala (sorban), plat bahu, simbar,
baju piyama, samper, dan celana panjang merah.
e.Busana Papakan Glipang. Untuk penari laki, merupakan perpaduan dari busana Kiprah
dan Baris, yaitu baju piyama, celana panjang, dan samper. Aksesoris yang dipakai yaitu
odeng dan sabuk blandang. Busana perempuan yaitu baju kebaya, stagen, samper, dan
aksesoris sunggar bunga, dan gungseng.
f.Busana Pemain Musik. Busana yang dipakai pemain musik ini terdiri dari celana panjang
hitam, dengan baju piyama kuning, serta memakai odeng dan sabuk blangdang.
g.Alat Musik yang dipakai terdiri dari lima jenis alat musik yang berbeda, yaitu (1) Terbang
hadrah yang jumlahnya antara tiga sampai lima terbang hadarah, dengan berbentuk
lingkaran dengan diameter 30 cm. Makna dari jumlah terbang yang dipakai yaitu
menandakan bahwa rukun islam ada lima, dan jumlah tiga maksudnya adalah rukun islam,
rukun iman, dan rukun ikhsan. (2) Serepoh yang menyerupai terompet, yang berfungsi
sebagai pengiring irama nada syair yang dibawakan oleh penembang. Makna dari serepoh
ini adalah ketika teropmet sangkakala ditiup oleh malaikat, maka dunia ini akan berakhir
atau kiamat. Dan tiupan yang kedua bahwa manusia yang ada di alam kubur akan
dihidupkan kembali untuk dimintai pertanggungjawabannya selama hidup di dunia. (3)
Tongtongan biasanya digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan siskamling di desa. Ide
muncul dari benak pencipta bahwa tongtongan ini bisa dijadikan alat musik Glipang.
Makna alat ini adalah pemberitahuan kepada warga untuk berkumpul. (4) Ketipung
5
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 39
berfungsi untuk penanda setiap gerakan dan terdiri dari dua jenis yaitu ketipung laki, dan
perempuan. Makna dari alat ini adalah bahwa di dunia ini ada dua hal yang saling
berlawanan, misal ada siang dan malam, laki perempuan, ada buruk dan baik. Dan makna
yang lain bahwa seorang perempuan harus taaat kepada suami, dan perempuan tidak boleh
menjadi imam. Jumlah pemain ketipung ini ada dua, yaitu penabuh ketipung perempuan
dan penabung ketipung laki. (5) Jidor berfungsi sebagai penggema suara pada kesenian
Glipang karena suaranya yang menggema. Maknanya adalah melambangkan bahwa tuhan
itu ahad, dan agung, sehingga Jidor diletakkan paling atas daripada alat musik yang lain.
Jenis gerakan Tari Glipang ada tiga yaitu Kiprah, Baris, dan Papakan. Sedangkan
untuk Kiprah sendiri terbagi dari 16 yaitu : Jelen Telasan, Soge’en, Sergep, Penghormatan
Pertama, Silat Teng-teng, Ngongngang Salang, Suweng, Hadarah, Glipangan, Kembengan,
Semar, Samman, Nyengngok, Penghormatan Terakhir, Duduk di kursi, Kembeng Taleh.
Gerakan Baris ada dua, yaitu gerakan Melangkah, dan Kobe’en, dan yang terakhir yaitu
gerakan Papakan yang terdiri dari dua gerakan juga, yaitu Gerakan Bersukaria, dan Ngen-
angen.
Kesimpulan
Tari Glipang merupakan kesenian tradisional yang masih bertahan dan menjadi bagian dari
warga Probolinggo, terutama warga Pendil. Tarian ini masih memegang teguh aturan yang
ada dan berlaku pada masyarakat dan masih menggunakan alat yang tradisional. Ciri khas
kesenian ini yaitu tari olah nafas yang melambangkan rasa ketidakpuasan rakyat terhadap
penjajah. Gerakannya merupakan paduan dari gerakan Rudat, kesenian Topeng Gethak
Madura, seni hadrah, gerakan samman, dan pencak silat. Semboyan tarian ini adalah
“etembeng pote matah, mongok potiah tolang”, yang artinya bahwa daripada putih mata,
lebih baik putih tulang. Maksudnya adalah melambangkan watak Madura yang memegang
teguh harga diri, sehingga pantang menyerah, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.
Memaknai kesenian tari dalam hal tata rias, yaitu melambangkan karakter seorang
prajurit yang kuat, dan pantang menyerah melawan penjajah, dan siap tempur. Busana
dengan warna merah dan hitam melambangkan keberanian dan tidak pernah takut yang
menjadi simbol orang madura, yang tidak kenal ampun apabila ada orang yang
mengganggunya. Aksesoris selain untuk memperelok penampilan, mempunyai makna sendiri
seperti odeng sebagai ikat kepala, yang menjadi ciri khasnya madura. Dan sebagai identitas
seorang prajurit yang berani seperti rompi, sabuk blangdang, lancor, sampur, dan peralatan
6
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 40
perang seperti gungseng dan keris. Tari Baris juga menggunakan aksesoris plat bahu, sorban,
simbar, dan samper/jarit yang dimaknai sebagai bentuk ekspresi kegembiraan prajurit yang
menang dalam perang. Penari perempuan pada Tari Papakan hanya memakai aksesoris
sunggar bunga dan gungseng. Alat musik yang terdiri dari lima jenis alat musik yang berbeda
dimaknai sebagai simbol ajaran Agama Islam yang berisi ajakan atau anjuran untuk berbuat
baik, dan juga larangan yang tidak boleh dilakukan. Terakhir yaitu jenis dari Tari Glipang
yang memiliki gerakan dan karakter sendiri. Tari Kiprah yang merupakan tari olah
keprajuritan, Tari Baris yaitu tari tentang kegembiraan prajurit setelah menang dalam perang,
dan Tari Papakan yang menggambarkan tentang kisah seorang gadis yang bernama
Dhamarwulan dalam keadaan kebingungan mencari kekasihnya yaitu Minakjinggo. Kesenian
Tari Glipang ini juga berisi tentang ajakan dan anjuran yang berbasis ajaran islam, dan
merepresentasikan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu.
Daftar Pustaka
Hidayat, Agus (2006), “Seni Tari Glipang Probolinggo Analisis Bentuk, Fungsi dan Makna
dengan Pendekatan Folklor,” Skripsi. Malang: FKIP UMM.
Moleong, Lexy.J. (2001) Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sedyawati, Edi (1981) Pertumbuhan Seni Pertunjukkan. Jakarta : Sinar Harapan.
Spradley, James.P. (1997) Metode Etnografi. Yogyakarta : PT.Tiara Wacana.
Royyan Muhammad, “Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo (Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pangdang Pelaku”, hal.35-40.
AntroUnairDotNet, Vol.1/No.1/Juli-Desember 2112 hal. 35
Seni Tari Glipang di Kabupaten Probolinggo
(Studi Deskriptif Makna Simbolik Tari Glipang dari
Sudut Pandang Pelaku)
Royyan Muhammad
Abstrak
Glipang is the traditional dancing in Pendil village at Probolinggo Regency. The art of dance is a result in the
creation of power though thought which was later coined by someone who realized in gestures with the
accompaniment of music folk who have a fascination for aesthetics as well as there is a value the sacredness in
the dance. Discussing art not only as a system of symbols, but also art as a text, commonly called the textual
and contextual approach. Textual approach or hermeneutik, can be used to examine about the meaning of the
symbolic in terms of makeup, clothing, accessories, used musical instruments that accompany, and the meaning
of each movement in the Glipang dance. The method in this research is using the qualitative approach, by
conducting interviews to informants who became the next generation or the grandson of the creator of the
Glipang dance. The results of this study that the Glimpang dance are combine of the Rudat act, Gethak mask
dancing, Hadrah, Samman, dan pencak silat. The philosophy of the Glipang dance is 'etembeng poteh matah,
mongok tolang potiah' which means than the whites of the eyes, better bone white. Rather than shame, it is
better to die.
Keywords: Glipang Dance Art, Symbolic Meaning, act.
esenian tradisional merupakan suatu unsur kesenian yang menjadi bagian hidup
masyarakat dalam suatu etnis tertentu. Kesenian tradisional adalah suatu karya
seni yang patuh pada asas, stereotip, dan memegang teguh ketentuan yang ada
sehingga kreatifitas sulit untuk dibentuk, berbeda dengan seni modern yang haus akan
perubahan dan amat menghargai inovasi dan kreasi. Kesenian tradisional ini adalah karya
yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat yang diwarisi secara turun-menurun ke
generasi berikutnya, dan generasi yang selanjutnya harus menjaga dan melestarikan agar
suatu identitas suku bangsa tetap dihargai oleh kelompok masyarakat lain.
Melihat contoh Tari Barubah yang berangkat dari gerak-gerak tari tradisi Minangkabau.
Dari beberapa gerak yang ada dengan melalui pemilihan, yang mana maksudnya untuk
mengekspresikan pengalaman-pengalaman estetis menjadi sebuah bentuk garapan tari yang
mementingkan penonjolan teknik-teknik dalam sebuah tari. Diketahui pada dasarnya tari
tradisi Minangkabau berpijak pada gerakan-gerakan pencak silat. Sehingga didalamnya tari
Minangkabau seolah-olah tari dan pencak silat menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Ditinjau lebih jauh tari dan pencak mempunyai ciri yang sama seperti sama-sama
K
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 6
SLIDE
Similar Resources on Wayground
2 questions
video perubahan sosial
Lesson
•
9th Grade
3 questions
Produk Kreatif dan Kewirausahaan
Lesson
•
10th Grade
6 questions
LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Lesson
•
8th Grade
3 questions
Pengolahan Bahan Hasil Peternakan dan Perikanan Kelas 9
Lesson
•
9th Grade
7 questions
Kerajinan Berbasis Media Campuran Part 2 Kls 9 Smt 2
Lesson
•
9th Grade
5 questions
P5: Asesmen diagnostik Kewirausahaan
Lesson
•
9th Grade
8 questions
Etika bersosial media
Lesson
•
9th Grade
1 questions
Kurikulum Merdeka
Lesson
•
9th Grade
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
29 questions
Alg. 1 Section 5.1 Coordinate Plane
Quiz
•
9th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
11 questions
FOREST Effective communication
Lesson
•
KG
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for Life Skills
20 questions
Investing
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Career
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Paying for College
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Types of Credit
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Budgeting
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Insurance
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Managing Credit
Quiz
•
9th - 12th Grade
19 questions
Healthy Habits vs Unhealthy Habits
Quiz
•
9th - 10th Grade